Sensei
.
.
.
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
.
.
(Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author atau adegan di dalamnya. Silahkan klik tombol "Back") DLDR! DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN!
Selamat Membaca!
-Sensei-
Bel tanda ujian berakhir telah dibunyikan. Beberapa murid mendesah lega ketika ujian mereka telah berakhir dan Fisika yang menjadi pelajaran paling akhir telah usai mereka kerjakan. Siapa yang peduli dengan hasilnya? Sekarang yang terpenting mengistirahatkan pikiran mereka dari soal-soal Fisika yang menyeramkan.
"Aku berharap tidak mimpi buruk nanti malam."
"Soalnya susah sekali."
Liburan musim dingin akan segera di mulai dan mereka mendapatkan libur panjang sebelum sekolah kembali dimulai. Mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Mereka sudah merencanakan liburan menyenangkan mereka.
"Sakura, kamu akan liburan kemana nanti?" tanya Tenten.
Sakura yang berjalan menuju gerbang bersama kedua sahabatnya. Emeraldnya itu berputar mencoba berfikir. Dia belum merencanakan apapun untuk liburannya kali ini. Entahlah, mungkin dia akan diam dirumah dan menonton beberapa acara drama di televisi. Dia belum memikirkan rencananya liburan.
"Entahlah, mungkin kakek dan nenek akan mengajakku ke suatu tempat." Sakura mengangkat bahunya.
"Itu terdengar menyenangkan!" Tenten kemudian menolehkan kepalanya kearah Hinata. "Kalau kamu, Hinata?"
"A-aku tidak tahu." Hinata memainkan jarinya. "Mungkin, Neji-nii akan mengajakku berjalan-jalan."
"Menyenangkan sekali." Tenten meletakan kedua tangannya di belakang kepalanya. "Aku harus membantu kedua orang tuaku menjaga toko."
Sakura menepuk bahu Tenten dengan lembut dan tersenyum. Mungkin, dia akan mengajak Tenten dan Hinata berjalan-jalan bersama.
.
.
.
Sakura merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya dan memandang pergelangan tangannya. Disana, terdapat gelang mutiara pemberian gurunya. Semakin dia memandangnya, semakin dia mengingat gurunya.
Menggelengkan kepalanya, Sakura memiringkan tubuhnya dan memandang tangannya. Beberapa hari ini, ketika dia melihat gurunya, dia bisa melihat gelang yang sama terpasang di tangan kiri gurunya. Tidak terlalu mencolok karena gurunya mengenakan jam.
Mungkin beberapa orang menyadarinya, tetapi mereka memilih diam dari pada mengatakan sesuatu yang aneh. Apalagi semenjak dirinya terkenal sebagai cucu Senju Tsunade, hari-hari di sekolahnya menjadi lebih tenang. Dia menyukai hal itu.
Di sisi lain, Sasuke memandang tiket Capypa Land di tangannya. Bagaimana caranya dia mengajak Sakura keluar? Dia merasa aneh ketika harus mengajak gadis SMA keluar untuk berlibur. Entah mengapa, ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegub tidak karuan.
"Kenapa hanya di pandangi?" Itachi muncul dengan sekaleng jus di tangannya. "Tidak mau?"
"Bukan." Sasuke meletakan tiket Capypa Land diatas meja.
Tiket tersebut bisa membuat mereka menaiki wahana apa saja dengan sesuka hati mereka dan berkali-kali. Ditambah lagi, mereka mendapatkan bonus menginap di hotel mewah di Capypa Land. Dia hanya bingung, bagaimana caranya mengajak Sakura pergi.
Apakah Tsunade dan Dan akan mengizinkan Sakura pergi? Sasuke membutuhkan waktu lama untuk mengajak Sakura. Biar bagaimana pun, Tsunade adalah nenek Sakura dan dia akan mengajak cucu keluarga Senju berlibur.
"Kirimi saja dia pesan."
Sasuke memandang kakaknya dengan pandangan tidak percaya. Apakah kakaknya memiliki kemampuan membaca pikiran? Bagaimana mungkin kakaknya bisa membaca pikirannya? Ataukah semua itu terlihat jelas di wajahnya.
"Sakura pasti akan mengatakannya pada Tsunade-san, kamu tidak akan digigit, Sasuke."
Mungkin kakaknya benar.
.
Sakura sedang menikmati steak miliknya ketika ponselnya bergetar. Tsunade yang sedang memotong dagingnya memandang Sakura dengan pandangan memicing.
"Siapa itu, Sakura? Bukankah sudah nenek katakan untuk tidak memainkan ponselmu saat makan?"
Tsunade tidak suka jika kegiatan bersama keluarganya terganggu hanya karena hal sepele seperti ponsel. Dia ingin menikmati waktu bersama keluarga dengan sebaik mungkin.
"Maafkan aku, nenek." Sakura mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Seketika wajahnya memerah karena malu.
Dan yang sedang meneguk ocha hangatnya mengamati wajah cucunya. Ada yang aneh dengan ekspresi di wajah Sakura. Dia jadi penasaran, pesan singkat apa yang dikirimkan ke ponsel Sakura.
Sakura, apa sabtu besok kamu senggang? Jika iya, mau ke Capypa Land bersamaku?
"Kenapa, Sakura?" tanya Dan. "Dari pacarmu?"
Mendengar perkataan suaminya membuat Tsunade ikut memperhatikan Sakura. Wajah cucunya memerah dan terlihat gugup. Sepertinya memang benar, pesan yang dikirimkan merupakan pesan dari seseorang yang istimewa.
"Apa isi pesannya?" Tsunade ikut bicara.
"Eh?" Sakura semakin salah tingkah. Haruskah dia membacakan isi pesan dari wali kelasnya?
"Itu pesan dari Sasuke sensei." Sakura membacakan pesan yang dikirimkan oleh wali kelasnya itu.
Dan tidak bisa menahan senyumnya. Jadi, Uchiha Sasuke menyukai cucunya? Menarik.
"Kenapa Sasuke mengajakmu ke Capypa Land?" tanya Tsunade.
"Tentu saja untuk berlibur, Tsuna." Dan menggenggam tangan istrinya. "Izinkan saja Sakura pergi. Bukankah jika dengan Sasuke, dia akan aman?"
Tsunade terlihat berfikir. Dia memang tidak khawatir jika Sakura pergi bersama Sasuke. Dia yakin jika bersama pemuda es itu, Sakura akan aman. Lagi pula, Sakura juga butuh sebuah hiburan.
"Baiklah."
.
.
Sasuke memandang ponselnya dan tidak mempercayai apa yang dia baca. Sakura mengiriminya pesan jika sabtu dia kosong dan bisa ikut ke Capypa Land. Rasanya itu tidak mungkin mengingat Tsunade adalah salah satu orang yang posesif.
Meneguk kaleng birnya, Sasuke memandang acara televisi yang menampilkan acara talkshow comedy yang menurut Sasuke bahkan tidak lucu sama sekali. Pikirannya melayang kepada Sakura dan dia merasa seperti pemuda SMA yang sedang kasmaran.
Lagi-lagi ponselnya bergetar dan kali ini bukan dari Sakura, melainkan dari ibunya. Sudah seminggu dirinya tidak pulang ke rumah dan memilih untuk tidur di Gallery milik Itachi. Tidak ada alasan khusus, dia hanya ingin menghindari ayahnya saja.
Meski dia tahu, dia tidak akan pernah menang jika melawan ayahnya. Jadi, satu-satunya cara yang bisa dia lakukan adalah menghindar saja. Terkadang, dia lelah menghadapi sikap ayahnya yang menyebalkan. Dan menurut ibunya, dirinya juga sama menyebalkannya dengan ayahnya.
Mematikan televisinya, Sasuke bangkit dari duduknya dan membuang kaleng birnya. Kakaknya pasti masih sibuk dengan lukisannya. Akhir-akhir ini, banyak sekali orang yang datang ke Gallery lukis milik kakaknya meski hanya untuk melihat-lihat, atau meminta untuk dilukis. Sepertinya, peminat lukisan dan barang antik sedang merajalela di Jepang.
Mungkin, selama sekolah libur. Dia bisa membantu kakaknya untuk menjaga Gallery milik kakaknya. Dari pada harus mengurusi perusahaan yang tidak ada habisnya.
.
.
Tsunade membalikan tubuhnya hingga membelakangi suaminya. Hari sudah menjelang tengah malam, tetapi dia masih belum bisa memejamkan matanya barang sedetik pun. Dia hanya memikirkan Sakura, memikirkan apa yang akan terjadi di hari Sabtu besok saat Sakura pergi bersama Sasuke.
Dia yakin, Sasuke tidak akan menyakiti Sakura. Jika dia tidak yakin, dia tidak akan mempercayai pemuda itu untuk menjadi wali kelas cucunya. Tetapi ada sesuatu yang mengganggunya, kedekatan Sasuke terhadap Sakura yang sedikit mengganggunya.
Dia tidak salah jika menjadi lebih overprotective ataupun posesif terhadap Sakura. Gadis berambut merah muda itu adalah cucunya satu-satunya dari putri semata wayangnya. Apalagi, dia tidak pernah bertemu Sakura selama tujuh belas tahun. Wajar saja, jika seorang nenek mengkhawatirkan cucunya.
Tsunade tidak akan diam saja. Dia akan menyewa mata-mata untuk mengawasi kegiatan cucunya selama berada di Capypa Land.
.
.
Sakura memasukan beberapa baju dan keperluannya ke dalam tasnya. Dia memandang kalender di atas meja belajarnya dan tersenyum. Besok adalah hari Sabtu dan besok dia akan pergi ke Capypa Land bersama dengan wali kelasnya. Dia bisa membayangkan liburan yang menyenangkan disana.
Teman-temannya mengiriminya cerita melalui media sosial tentang kediaman mereka. Tenten mengiriminya foto saat gadis bercepol itu asik memanen beberapa sayur dan buah-buahan. Tenten bahkan menawarinya untuk menginap dan sahabatnya itu akan membuatkannya berbagai makanan dari sayur dan buah-buahan yang di panen.
Berbeda dengan Tenten, Hinata akan terbang ke Eropa untuk berlibur. Menurut gadis berambut indigo itu, kakak laki-lakinya mengajaknya untuk keliling Eropa dan menghabiskan liburannya disana. Sakura merasa iri dengan Hinata. Liburannya besok akan dihabiskan di taman bermain, tidak tahu dengan kelanjutan liburannya.
Neneknya, sibuk dengan segala tetek bengek urusan perusahaan. Sebagai seseorang yang sibuk, Tsunade kesulitan untuk meluangkan waktunya. Mungkin, dia akan menghabiskan waktunya di ruang baca bersama kakeknya. Menemani kakeknya juga merupakan kesenangan baginya.
Memastikan semua barang-barangnya sudah lengkap. Sakura merebahkan dirinya di ranjangnya dan memandang gelang pemberian gurunya. Gelang mutiara yang sangat indah. Belum pernah dirinya diberikan sesuatu yang indah seperti ini.
Sakura memeluk tangannya erat-erat. Kenapa dia merasa jantungnya berdegub kencang saat bersama dengan gurunya? Siapapun pasti akan jatuh cinta pada gurunya, tak terkecuali dirinya.
Dia berjanji, akan menjaga gelang itu dengan nyawanya.
oOo
Sasuke tidak mau menggunakan mobil menuju Capypa Land. Hari ini, dia ingin menjadi seseorang yang biasa. Bukan seorang Uchiha yang disegani oleh banyak orang. Itu juga yang menjadikannya alasan menjadi seorang guru.
Dia menyukai pekerjaannya menjadi guru. Karena baginya, saat dirinya menjadi guru saat itulah dia membuang semua Uchiha yang melekat pada dirinya. Dia menjadi dirinya apa adanya dan dia menyukainya. Tidak perlu menjadi seorang Uchiha yang harus menjaga segala sikap Ke-Uchihaannya.
Dengan kereta pertama, Sasuke menuju kediaman Senju dan hari masih cukup pagi. Dia menganggukan kepalanya kepada beberapa ibu-ibu yang kebetulan bertemu dengannya. Meski menjadi seorang guru, dia masih belum terbiasa untuk tersenyum. Mungkin, dia akan meminta kakaknya mengajarinya caranya untuk tersenyum.
Menekan bel yang ada di gerbang, maid segera menyambutnya dan mempersilahkannya masuk. Orang yang muncul pertama kali adalah Tsunade. Wanita yang hampir berusia enam puluh tahun itu tetap cantik dan awet muda dengan baju tidur berwarna putih yang terbuat dari sutra yang halus. Dia sudah terbiasa melihat barang seperti itu, karena ibunya memiliki banyak sekali di lemarinya.
"Selamat pagi, Sasuke." Tsunade menyapa. "Mau sarapan dulu? Pelayan sudah menyiapkan sarapan."
"Hn. Terima kasih, Tsunade-san."
Sasuke mengikuti langkah Tsunade menuju dapur. Jika sudah menyangkut Sakura, entah mengapa dia tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Sakura akan muncul sebentar lagi," ucap Tsunade. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."
Sasuke sudah memprediksi jika Tsunade akan menginterogasinya. Semalam suntuk dia tidak bisa tidur untuk memikirkan pertanyaan apa yang akan ditanyakan Tsunade dan jawaban apa yang harus dia berikan nantinya.
"Kenapa kamu mengajak Sakura ke Capypa Land?" Tsunade menyeruput kopinya.
"Hn. Karena aku ingin."
Tsunade mencoba bersabar mendengar jawaban Sasuke. Ingin rasanya, dia menjitak anak ayam yang ada di hadapannya ini.
"Mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku menyukai Sakura."
Suara batuk memenuhi ruang makan keluarga Senju. Tsunade tersedak kopinya hingga membuat bajunya basah. Perkataan Sasuke benar-benar membuatnya terkejut.
"Jadi benar, kau menyukai Sakura." Tsunade menyandarkan bahunya di sandaran kursi. "Aku sudah mengenalmu, Sasuke. Aku percaya kamu bisa menjaga Sakura, tapi jarak umurmu dan dirinya terpaut tujuh tahun."
"Umur bukan masalah."
"Dasar Uchiha." Tsunade mencibir Sasuke. "Jangan salah gunakan kepercayaanku untuk menyakitinya, Sasuke. Aku mempercayakan Sakura padamu karena aku tahu kamu bisa menjaganya dengan baik."
Sasuke sendiri sebenarnya merasa terkejut dengan perkataannya. Tiba-tiba saja dia mengatakan jika dia menyukai Sakura di hadapan neneknya sendiri. Tadinya, dia berfikir jika dia akan dibunuh oleh Tsunade, tapi kenyataannya salah. Dia bahkan masih hidup sampai detik ini.
Baru saja dirinya akan berterima kasih, Sakura muncul dengan gaun santai berwarna pink. Begitu melihatnya, dia bisa melihat pipi Sakura bersemu merah. Tsunade sedikit berdeham dan memanggil cucunya.
"Sebaiknya kita sarapan sebelum kalian pergi."
Sakura tidak banyak bicara. Dia terkejut ketika pelayan memanggilnya dan mengatakan jika Sasuke sudah berada di ruang makan dan neneknya juga menunggunya. Dia buru-buru turun ke ruang makan dan tidak sempat membenahi perasaannya.
Mereka makan dalam diam. Tsunade tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat Sasuke dan Sakura. Pasangan yang umurnya berbeda cukup jauh, tetapi sikap mereka layaknya pasangan remaja yang sedang kasmaran. Jika Sakura wajar saja, tetapi melihat bagaimana seorang Uchiha kasmaran merupakan kesenangan sendiri baginya.
"Sakura, kamu tidak mengambil tasmu?" tanya Tsunade ketika mereka sudah selesai makan.
"Sebaiknya aku mengambil tasku."
Sakura berlari menuju kamarnya dan mengambil tas ransel berwarna pink yang lucu. Sebelum keluar kamar, dia memastikan kembali penampilannya sempurna. Dia memakai lipgloss warna pink cerah dan sedikit bedak untuk membuat penampilannya natural. Dia berdandan layaknya gadis remaja pada umumnya.
Sasuke bersama dengan Tsunade sudah berada di ruang tamu ketika Sakura datang membawa tas ranselnya. Pria bermata onyx itu hampir tidak berkedip ketika melihat Sakura muncul. Dia jatuh cinta pada gadis SMA yang menggemaskan dan juga cantik.
"Ayo, Sasuke sensei."
Tsunade melepas kepergian keduanya hingga Sasuke dan Sakura hilang dari pandangannya. Sepertinya, dia tidak perlu menghubungi bodyguard untuk mengikuti keduanya. Tsunade yakin, Sasuke tidak akan berbuat macam-macam pada Sakura.
Sasuke yang memang dasarnya tidak banyak bicara semakin diam ketika bersama Sakura. Bukan apa-apa, dia hanya gugup dan tidak tahu topik apa yang harus dia buka untuk percakapan keduanya. Sakura juga sama, dia sibuk memikirkan degub jantungnya yang tidak menentu.
"Sasuke sensei, kita ke stasiun?" tanya Sakura.
"Hn."
Mereka sampai ke stasiun dan kereta yang dituju juga sudah datang. Kereta lumayan penuh karena hari libur sudah tiba. Untung saja, Sasuke sudah memesan tiket jauh-jauh hari. Itu juga kakaknya yang memesankan untuknya.
Sakura duduk di bangkunya dan memangku tas pinknya. Dia bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan disana nanti. Pastilah menyenangkan. Dia belum pernah datang ke taman bermain dan sudah tidak sabar untuk sampai disana. Dia ingin naik biang lala, roller coster, wahana kopi dan banyak lainnya.
Sebelum berangkat, Sakura sudah mencari tahu tentang Capypa Land. Dan begitu melihat tempatnya, Sakura benar-benar ingin cepat sampai disana dan menaiki semua wahana yang ada.
Sasuke melirik Sakura sebelum mendenguskan tawanya. Sakura menangkap Sasuke yang mendenguskan tawanya dan memandang wali kelasnya.
"Kenapa sensei tertawa?" tanya Sakura.
"Tidak. Wajahmu lucu sekali."
Sakura menggembungkan pipinya dan tidak bisa menahan senyumnya. Ternyata gurunya ini menyenangkan juga. Tidak sekaku saat mengajar. Mungkin saat mengajar, gurunya ini wajib menjaga imagenya. Tetapi, bukannya biasa memang begitu. Setiap guru wajib menjaga imagenya di depan muridnya.
"Sensei." Sasuke memandang Sakura yang tersenyum manis. "Mari kita bersenang-senang, ya!"
Sasuke buru-buru memalingkan wajahnya yang merona merah. Dia mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Hn."
.
.
Capypa Land cukup ramai dengan pengunjung yang hadir. Sakura memandang sekelilingnya, banyak sekali anak kecil yang bermain dan berfoto dengan boneka Capypa.
"Sakura, kita ke hotel dulu untuk melakukan check in." Sakura mengikuti langkah Sasuke menuju hotel yang tidak jauh dari taman bermain.
Hotel yang mereka tempati termasuk salah satu hotel bintang lima yang terkenal. Sasuke yang mengurus semuanya dan Sakura hanya mengikuti kemana gurunya pergi.
"Kita menempati kamar 2005," ucap Sasuke masuk ke dalam lift.
Sepanjang lift berjalan, Sakura mencoba berfikir. Kamar 2005, seperti apa kamarnya nanti ya? Sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba sesuatu membuatnya tersadar.
"Sasuke sensei, kenapa hanya satu kamar?" tanya Sakura dengan wajah yang terkejut.
"Hn. Kakakku yang memberikannya padaku. Aku juga tidak tahu."
Wajah Sakura memerah. Bayangan-bayangan hal aneh mulai menghinggapi pikirannya. Dia akan satu kamar dengan senseinya yang tampan, satu ranjang pula. Apa yang harus dia lakukan?
Mendadak dia seperti kehabisan napas. Dia belum pernah seperti ini dan hal ini membuatnya bingung. Bagaimana jika gurunya melakukan sesuatu yang macam-macam? Sakura menggelengkan kepalanya. Menepis segala pikiran negatif yang hinggap di kepalanya.
Sasuke tidak bisa menahan dengusan tawanya. Pintu lift terbuka dan mereka keluar dari lift. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara diantara mereka. Sasuke sengaja tidak membuka percakapan dan membiarkan muridnya itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Mereka sudah sampai di kamar tempat mereka akan menginap nanti. Sakura menelan ludahnya, seolah-olah ketika Sasuke membuka pintu dihadapannya. Akan ada monster yang menerkam mereka berdua.
"Sakura, ayo masuk."
Dengan ragu-ragu Sakura masuk ke dalam kamar hotel dan terpana ketika melihat isi kamar tersebut. Kamar hotel ini terlalu mewah bahkan seperti apartemen kecil yang dia lihat di dalam film. Kamar itu terdiri dari dua ranjang dan sofa kecil, juga ada televisi dan dapur mini lengkap dengan kulkasnya. Benar-benar luas.
Sakura tidak bisa menahan decak kagumnya. Sewa hotel ini pastilah sangat mahal. Tetapi, sekarang dia adalah senju. Bagi neneknya, menyewa kamar semewah ini bukanlah masalah besar. Apalagi dia mendengar, jika Uchiha merupakan klan yang kaya raya.
"Kenapa bengong?" Sasuke meletakan tasnya di ranjang dan mengambil kamera miliknya. "Tidak mau ke taman bermain?"
Menganggukan kepalanya dengan antusias. Sakura meletakan tasnya dan tersenyum ceria. Hari ini dia akan bersenang-senang.
.
Sasuke banyak memfoto hari ini. Sakura ingin sekali di foto dengan Capypa dan dia menuruti semua keinginan Sakura. Mereka naik berbagai wahana dan Sasuke tidak mau melewatkan setiap moment yang mereka ciptakan.
Sakura begitu bersinar dengan senyumannya. Wanitanya itu terlihat bahagia, mereka naik Roller coster dan Sasuke muntah-muntah setelahnya. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia menaiki permainan ekstrim ini. Membuat seluruh isi perutnya naik.
Sasuke duduk di salah satu bangku taman dan membungkukan tubuhnya. Semua isi perutnya terkuras habis setelah naik wahana setan itu. Sasuke berjanji, dia tidak akan naik wahana mengesalkan itu lagi.
"Sensei, maaf membuatmu menunggu." Sakura muncul membawa sebotol ocha hangat yang dia dapatkan di mesin penjual minuman. Membuka tutup botolnya, dia memberikannya pada Sasuke.
"Hn." Sasuke benar-benar malu dengan apa yang terjadi padanya. Bisa-bisanya imagenya jatuh hanya karena wahana setan itu. Memang pada awalnya, dia yang mengusulkan naik wahana roller coster. Dia ingin melihat wajah Sakura yang menggemaskan.
Namun apa daya, dia tidak bisa melihat wajah Sakura karena rasa mual langsung menyerangnya. Dia mati-matian mencoba menahan isi perutnya agar tidak keluar namun gagal. Tetap saja, isi perutnya keluar bahkan seluruh sarapannya juga ikut keluar.
"Sebaiknya kita istirahat saja, sensei," ucap Sakura.
"Aku baik-baik saja." Sasuke bangkit dari duduknya. "Kita makan dulu saja, setelah itu kita naik wahana lainnya lagi."
"Tapi, apa sensei baik-baik saja?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan khawatir.
Sasuke merasa malu sekali. Dia belum pernah dikhawatirkan oleh seseorang dan hanya karena permainan sepele seperti itu dia menjadi seperti anak kecil yang merepotkan. Sialan!
"Hn."
Sakura menggembungkan pipinya dan berjalan mengikuti gurunya. Dia tidak tahu jika gurunya bisa semengesalkan ini. Dia hanya ingin tahu apa gurunya baik-baik saja, tetapi imagenya lebih penting dari kesehatannya. Dia harus mencatat baik-baik dalam ingatannya.
Sasuke memesan berbagai makanan yang bahkan tidak bisa mereka habiskan berdua. Sakura bahkan sampai melongo karena meja mereka penuh dengan berbagai makanan yang menggugah selera. Gurunya mengatakan, jika mereka bisa membawa makanan ini ke hotel jika tidak habis.
Gadis bermata emerald itu bisa merasakan berat badannya naik karena terlalu banyak makan. Dia kesulitan berjalan karena perutnya terlalu kenyang. Seharusnya dia makan secukupnya tadi. Dia terbawa suasana dan makan banyak sekali hingga membuat perutnya mendadak buncit.
Mereka masuk ke toko cinderamata yang ada di sana. Sakura mulai berkeliling dan Sasuke mengikutinya dari belakang. Dia ingin memberikan oleh-oleh kepada sahabat-sahabatnya, Hinata dan Tenten. Sebagai ucapan terima kasih karena mau menemaninya selama ini. Mungkin, dia juga akan memberikan oleh-oleh untuk nenek dan kakeknya.
"Sakura, kamu yakin mau membeli semua ini?" Sasuke memandang keranjang belanja Sakura yang sudah penuh.
"Iya." Sakura menganggukan kepalanya dengan semangat. "Sensei tidak mau membeli oleh-oleh? Untuk Itachi-nii ataukah bibi Mikoto?"
Sasuke mendenguskan wajahnya. Membelikan oleh-oleh untuk mereka? Dia sudah bisa membayangkan ekspresi wajah kedua orang yang disayangnya itu ketika dirinya datang membawa oleh-oleh. Ibunya akan mencubiti pipinya dengan gemas dan menciuminya tiada henti dan kakaknya akan menertawainya.
Setiap kali ibunya berulang tahun, dirinya selalu membelikan kado untuk Ibunya. Dan setiap kali dia memberikan kado untuk ibunya, wanita paruh baya yang masih cantik itu akan menciumi pipinya hingga penuh dengan lipstick milik ibunya. Biar begitu, dia tidak pernah protes.
"Tidak."
Sakura mengangkat alisnya. Yah, gurunya memang sulit ditebak dan dia tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran gurunya. Pria berambut biru donker itu tidak bisa menahan senyum tipisnya. Dirinya mengambil kamera yang ada di lehernya dan memfoto Sakura.
Mungkin, dia bisa menempelkan beberapa foto Sakura di kamarnya.
.
.
.
Hari sudah menjelang sore dan mereka naik biang lala sebagai wahana terakhir. Sakura terlalu banyak belanja hingga membuat mereka kesulitan membawa banyaknya belanjaan Sakura.
Sasuke duduk dihadapan Sakura. Naik biang lala di saat sore hari ternyata bukan hal yang buruk. Mereka bisa melihat langit senja dan matahari yang terbenam dari atas biang lala.
"Sasuke sensei, indah sekali." Sakura menunjuk keluar jendela.
Sasuke mengikuti pandangan Sakura. Memang indah sekali, tidak ada yang bisa menolak pesona matahari yang tenggelam malu-malu menuju peraduannya. Onyxnya kemudian beralih menatap Sakura, gadis itu terlihat menikmati sekali pemandangannya yang ada di hadapannya.
"Sakura, sudah pernah mendengar mitos ini belum?"
Sakura menolehkan kepalanya. Gadis itu ganti memandang gurunya dengan pandangan bertanya.
"Mitos apa, sensei?"
"Katanya, jika lawan jenis berciuman saat berada tepat diatas puncak biang lala di sore hari. Mereka tidak akan terpisahkan."
Entah mengapa, perkataan gurunya membuat pipinya memerah. Perkataan gurunya lebih menjurus kepada ajakan untuk berciuman. Dan Sakura mengetahui hal itu.
"Sakura." Sasuke memegang wajah muridnya itu dan mendekatkan wajahnya sendiri.
Tepat ketika Sasuke menyatukan bibirnya, mereka berada di puncak biang lala.
.
.
.
.
Sakura menenggelamkan diri dalam selimutnya dengan wajah yang memerah. Dia bisa mendengar suara air mengalir dari kamar mandi dan wajah Sakura semakin memerah ketika membayangkan siapa yang berada di kamar mandi.
Dia bingung dengan wali kelasnya yang tiba-tiba mencium bibirnya dengan lembut. Siapa yang menyangka akan mendapatkan ciuman dari gurunya. Dia benar-benar terkejut dan malu sekali.
Sasuke keluar dari kamar mandi dan memandang Sakura bergelung dalam selimut. Dimatanya sekarang, Sakura seperti anak kucing yang kedinginan. Gadis itu tidak mau bicara dengannya setelah kejadian di biang lala.
"Sakura, mau makan apa?" tanya Sasuke.
"Terserah sensei saja."
Sasuke mendenguskan tawanya dan mengambil telepon hotel. Dia mungkin bisa memesan beberapa makanan untuk mereka. Matanya melirik Sakura yang terlihat begitu menggemaskan dan membuatnya ingin memakannya. Sejak kapan dirinya menjadi mesum seperti ini?
Mendudukan diri di ranjangnya, Sasuke mengeringkan rambutnya sendiri. Sakura meliriknya dan pipinya memerah. Sekarang dimatanya, wali kelasnya itu terlihat lebih seksi dan tampan.
Iie Iiie. Sakura menggelengkan kepalanya. Berfikir apa dia, bisa-bisanya dia berfikir sesuatu yang lain tentang wali kelasnya.
Tetapi, apa yang terjadi padanya membuatnya berfikir ulang. Kenapa gurunya menciumnya di biang lala tadi? Tanda tanya besar muncul diatas kepalanya.
"Ano.. sensei."
Sasuke melirik Sakura. Dia tahu apa yang ingin dikatakan Sakura.
"Ada apa, Sakura?"
"Kenapa sensei menciumku?"
Haruskah dia menjawabnya?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hahaha.. akhirnya bisa selesai juga.. maaf gabisa bales satu-satu, banyak banget ternyata yang review.. sempet speechlees juga sih. Gak nyangka kalo banyak yang suka.
Karena sekarang Saku udah jadi mahasiswa *ciee* jadi mungkin bakalan jarang update status. Harap di maklumi yaa..
pokoknya, semoga suka ya dengan chap ini.. gatau deh bagus atau nggak ini chap.. Saku mencoba membuatnya dengan sepenuh hati *emotkiss* :3
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
-Aomine Sakura-
