"Ingin tetap dilanjutkan, Sasuke-san?" Bisik Kakashi pada Sasuke.
Sasuke hening sejenak dan menatap kosong pada dinding. "Tunda sampai rapat berikutnya."
Kakashi kembali beranjak ke podium dan berbicara tegas. "Baiklah. Rapat hari ini cukup sampai di sini. Pembahasan selanjutnya akan dibicarakan pada rapat berikutnya. Rapat dibubarkan."
.
.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Story by Ayase Nanjo
.
.
Chapter 7
Confused
.
Enjoy!
.
.
Ah, akhirnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5. Waktunya pulang. Sakura meregangkan otot-ototnya di kursi kerjanya. Berjam-jam menatap layar komputer membuat matanya lelah dan bokongnya panas. Ia menyambar tasnya dan beranjak keluar ruang kerjanya setelah pamit dan melambaikan tangan pada rekan-rekannya.
Sepertinya sedikit snack sore akan membuat perutnya kegirangan. Minimarketdi dekat halte bus adalah tujuan selanjutnya setelah kakinya melangkah keluar dari wilayah kekuasaan Uchiha. Lagipula, daripada diam termenung menunggu bus, lebih baik menumpang ruangan dingin di minimarket, bukan?
Ia memilih-milih beberapa bungkus keripik kentang, satu botol minuman bersoda berperisa sarsaparilla, satu bar cokelat dengan kacang almond, satu sosis siap makan berukuran jumbo, dan satu cup ramen instan. Membayar dengan cepat, menyeduh ramennya, lalu duduk di kursi dalam ruangan yang menghadap ke jalanan. Sakura cukup terkejut dengan belanjaannya. Ia hanya berniat untuk mengemil, tapi justru membeli camilan yang cukup mengenyangkan.
Sakura makan dengan khidmat, ramennya hampir habis dan ia menyeruput kuahnya langsung dari cup tanpa memedulikan sekitar dan terlonjak kaget ketika seseorang menepuk bahunya. "Sakura?"
"Astaga! Kau mengagetkanku!–Eh? Gaara-senpai?"
"Maaf maaf. Kau kaget ya?" Pria berambut merah itu tertawa pelan hingga matanya menyipit, membentuk eye smile yang manis dan Sakura cukup tertegun melihatnya.
"Sedang apa Senpai di sini? Tidak mengajar?"
"Aku sedang libur, dan juga tadi ada urusan di sekitar sini, lalu membeli minum dan kebetulan melihatmu. Boleh duduk bersama?"
"Aa, silahkan." Ucap Sakura dan ia menarik salah satu kursi di sebelahnya, lalu Gaara duduk dan meminum sebotol teh berperisa leci di tangannya.
"Jadi… bagaimana rasanya kembali ke Konoha?" Tanya Gaara.
"Senang rasanya kembali ke rumah. Keripik kentang?" Sakura menyodorkan sebungkus keripik kentang rasa barbeque,tapi Gaara menolaknya dengan mengucap terima kasih. Sakura mengunyah keripiknya, lalu melanjutkan bicara. "Aku paling merindukan makanan Jepang. Sulit untuk mendapatkan rasa yang authentic di LA."
"Kau sama sekali tak berubah. Pikiranmu selalu tertuju pada makanan."
Sakura tertawa mendengar perkataan Gaara. Benar juga, dirinya selalu menyukai pembahasan tentang makanan dan hampir selalu mengunyah 24 jam.
"Ah, tapi ada yang berubah. Kau semakin cantik." Gaara mengulum senyum melihat Sakura yang menghentikan tawanya lalu tersipu.
Gaara terus menatap wajah Sakura. Dulu Sakura hanyalah seorang anak kecil yang gemar menonton sparing basket antara tim Gaara dan tim Sasuke di lapangan dekat rumah Sakura pada sore hari sembari memakan es krim. Ia teringat dengan Sakura yang selalu berteriak nyaring, "Gaara-senpai, semangat!" dan juga Sakura yang selalu bersungut-sungut ketika Sasuke menyeretnya pulang karena matahari sudah tenggelam.
Sekarang ia sudah dewasa, dan menjadi wanita cantik.
Dan sepertinya sifat Sakura yang kekanakan sudah hilang, menjelma menjadi sosok yang menawan dengan pakaian kantornya yang sedikit membentuk lekuk tubuhnya. Sakura benar-benar mempesona.
Ia juga teringat racauan Sakura pada Sasuke di restoran pada malam itu. Saat Sakura yang tak sadarkan diri terlelap bersender di bahunya, dan berkata bahwa dirinya kecewa tidak menjadikan Sakura kekasihnya sebelas tahun lalu. Gaara hanya tersenyum geli mengingatnya. Bukan Gaara tak menyukainya, memang hanya cinta monyet, tapi saat itu Sakura masih terlalu kecil untuk berpacaran, jadi Gaara berniat untuk menunggu satu atau dua tahun lagi.
Tapi ketika Gaara merasa sudah siap, Sakura justru pergi meninggalkan Konoha dan mereka tidak pernah saling berkomunikasi.
Jadi Gaara masih memendam perasaannya hingga saat ini.
Sakura kembali mengontrol diri dan bertanya heran pada Gaara yang melamun. "Apa ada sesuatu yang kau pikirkan, Senpai?"
"Aa, tidak. Hanya teringat janji untuk menjadikanmu kekasihku sebelas tahun lalu."
Sakura terlonjak kaget untuk kedua kalinya dan pipinya memerah malu. "Se-senpai masih ingat?"
"Tentu saja. Bagaimana aku bisa melupakannya?"
Ugh. Sakura malu sekali. Sakura merasa sangat konyol sekarang di hadapan Gaara. Dari seluruh tingkah kekanakannya, mengagumi Gaara secara terang-terangan adalah hal yang paling kekanakkan. Dan bodoh. Dan memalukan. Dan lebih parahnya lagi, Gaara mengingatnya!
"A-ah, itu… jangan dipikirkan, Senpai. Aku bercanda soal itu." Sakura terkekeh garing dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku sebenarnya memikirkannya. Kau tahu, aku tidak menjadikan kekasihmu saat itu karena kau masih terlalu kecil–maksudku kita. Jadi, karena kau sudah cukup umur, bagaimana jika kita bertemu lagi beberapa kali sampai kita saling mengenal lebih baik?"
"Ya?" Kata yang baru saja Sakura lontarkan bukan pernyataan, melainkan pertanyaan.
"Kencan denganku selama seminggu, bagaimana?"
Dan Sakura terbatuk-batuk hebat setelahnya. Kenapa Gaara tiba-tiba mengajaknya berkencan? Apa Gaara sudah kehilangan akal sehatnya karena terlalu pusing menjinakkan para mahasiswa di kampus? Ini tidak masuk akal.
Gaara tanpa diduga datang kembali di kehidupannya setelah sebelas tahun berlalu, dan secara tiba-tiba mengajaknya berkencan. Kejadian yang tak berselang lama setelah Sasuke mencium dirinya. Takdir sedang mempermainkannya.
"Bagaimana, Sakura?" Gaara kembali bertanya ketika tak langsung mendapat respon.
"Se-senpai… itu… aku–" belum selesai Sakura bicara, ponselnya berdering nyaring dari tasnya. Ia meminta izin pada Gaara untuk mengangkat panggilan itu. Deretan nomor terpampang pada layar ponselnya. Nomor tak dikenal. "Halo, Haruno Sakura di sini."
"Kau di mana?" Terdengar suara pria dari seberang telepon. Suaranya terdengar sangat familiar bagi Sakura. Suara baritone khas yang arogan dan dingin.
Sasuke!
"Sasuke?"
"Hn."
"Aku di minimarket dekat halte. Ada apa?"
"Tunggu di situ. Sebentar lagi akan hujan. Aku akan menjemputmu. Sepuluh menit lagi aku akan tiba." Dengan begitu saja, sambungan terputus secara sepihak. Ck, seperti biasa. Si arogan yang luar biasa pemaksa.
Tapi bagaimana caranya pria itu mendapat nomor ponselnya? Ah, benar. Pasti dari biodata diri yang ia lampirkan untuk Sasuke di tempat kerja. Dan pula, kenapa tiba-tiba ia ingin menjemput Sakura? Padahal ia bisa naik bus dan tidak akan kehujanan. Astaga, Sakura mendapat banyak sekali kejutan hari ini.
"Dasar iblis pemaksa!" Sakura menggeram sendiri sembari menatap layar ponselnya.
"Sasuke? Kenapa dia?" tanya Gaara.
"Tiba-tiba dia ingin menjemputku. Aneh sekali dia itu."
Lalu Gaara hanya menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Apa Sasuke selangkah lebih maju darinya? Tapi maaf, Gaara tidak mengenal kata menyerah. Ia tidak akan mundur tanpa berusaha terlebih dahulu. Keras kepala dan penuh ambisi.
"Jadi… apa jawaban dari pertanyaanku tadi?" Gaara kembali bertanya.
Sakura cukup bingung ingin menjawab apa. Tiba-tiba berkencan dengan pria yang kau kagumi belasan tahun lalu tanpa ada kontak sekalipun? Tidak kah akan terasa sangat canggung? Lagipula, itu hanya bagian dari masa lalu. Tapi tak memungkiri jika rasa itu bisa saja akan kembali seiring Sakura yang terus bersama Gaara jika mereka benar-benar menjalani kencan singkat itu.
Tapi, bukan itu yang Sakura inginkan.
"Aa, itu… akan kupikirkan nanti, Senpai."
Gaara hanya tersenyum maklum. "Baiklah. Bagaimana jika dimulai dengan saling bertukar nomor ponsel?" Oh, dia benar-benar seorang yang sangat pandai dalam tawar-menawar. Usahanya cukup gigih, perlu diapresiasi.
Sakura mengangguk setuju, lalu memberikan nomor ponselnya pada Gaara. Gaara menelepon nomor ponselnya dan Sakura dengan iseng mengangkat panggilan Gaara. "Halo, apakah aku mengenalmu?"
"Tentu saja. Simpan nomor pria tampan ini, oke?"
Sakura hanya terkikik geli mendengar ucapan senpai-nya. Ia dengan segera memutuskan panggilan dan menyimpan nomor Gaara pada ponselnya. Gaara adalah pria yang hangat dan sangat ramah. Sisi lain dari sifatnya yang ambisius. Sangat jauh berbeda dengan Sasuke. Eh? Kenapa jadi membandingkan Gaara dengan si arogan itu?
"Sepertinya akan hujan, aku harus pulang. Kau yakin tak ingin pulang bersamaku? Aku bawa mobil, kau tidak akan kehujanan." Tawar Gaara.
"Ah, terima kasih tawarannya, tapi sebaiknya aku bersama Sasuke saja. Jika tidak, ia akan terus mengomel seperti nenek-nenek." Sakura kembali bersungut-sungut ketika teringat wajah Sasuke yang sedang mengomelinya.
Gaara bangkit lalu menepuk pelan kepala Sakura. Sakura kembali tersipu. Gaara melambaikan tangannya dengan senyum di wajahnya sebelum keluar dari pintu minimarket. Sakura sendirian lagi. Ia kembali melirik jam di tangannya. Sudah 8 menit berlalu sejak Sasuke meneleponnya. Keadaan di luar terlihat sangat mendung, dan sepertinya benar-benar akan turun hujan.
Ia memerhatikan Gaara yang sesaat melempar senyum padanya sebelum memasuki mobilnya. Sakura termenung menatap jendela. Saat ini pikirannya dipenuhi dua pria yang berbeda warna rambut itu. Sakura tidak mengerti jalan pikiran pria seperti Gaara dan Sasuke. Lebih tepatnya, Sakura tidak mengerti jalan pikiran hampir seluruh para pria. Mereka sangat sulit untuk dibaca, mereka rumit, dan selalu penuh kejutan. Terutama Sasuke.
Ah, Sasuke lagi.
Ia kembali melihat jam di tangannya. Kemana pria itu? Sudah lewat 15 menit.
Harusnya ia menolak saja ajakan Sasuke dan naik bus tadi. Hujan semakin besar, dan Sakura tak mungkin ke halte sekarang karena ia tak membawa payung. Menaiki bus dalam keadaan basah kuyup bukanlah ide yang bagus. Ia hanya akan memberikan pemandangan gratis dirinya dengan pakaian dalam yang menembus kemeja basahnya ke penumpang bus.
Tidak, itu tidak akan terjadi bahkan jika itu adalah hal terakhir yang harus ia lakukan.
Hujan tak menandakan akan reda dalam waktu dekat, dan mulai terdengar suara guntur yang cukup keras, membuat Sakura bergidik ngeri. Ia menatap orang-orang yang berjalan dengan payung mereka di tangan, dan sesaat kemudian matanya melebar melihat sosok yang dikenalnya keluar dari mobil mewahnya, berlari dalam keadaan basah kuyup ke dalam minimarket.
'Apa yang dia pikirkan?' Sakura membatin kemudian membawa kantong plastik berisi belanjaannya dan berlari menyusul Sasuke di pintu minimarket.
"Ya Tuhan, Sasuke! Kenapa tidak meneleponku saja? Aku bisa pergi sendiri ke mobilmu! Kau basah kuyup begini!" Omel Sakura. Sesaat ia melupakan rasa canggung yang menyelimutinya, beralih pada rasa iba pada pria di hadapannya.
Sasuke menyapu rambut basah bagian depannya ke belakang, lalu memberikan Sakura jas berwarna hitam miliknya yang ia dekap daritadi untuk melindungi jas itu dari hujan. "Aku hanya punya ini. Pakailah untuk menutupi kepalamu."
Sakura mengurut pelipisnya. Sungguh, pria ini benar-benar membuatnya sakit kepala.
"Itu mahal, Sasuke. Jika aku merusaknya, aku tak akan bisa membayarnya bahkan dengan gajiku selama setahun. Simpan saja. Aku tak masalah basah kuyup sepertimu. Demi Tuhan, Sasuke! Apa yang kau pikirkan? Apa kau bodoh? Kau kehujanan!"
"Di sini dingin, Sakura. Cepat pakai dan ayo ke mobilku."
"Kau saja yang pakai."
"Sakura."
"Sudah kubilang kau saja yang pakai."
"Sakura." Suara Sasuke mulai meninggi.
"Bajumu basah!"
"Cepat pakai atau aku akan menciummu lagi di sini."
Skak mat!
Sakura diam tak membalas ucapan Sasuke. Menatap Sasuke dengan mata yang melebar. Dia sinting. Sasuke benar-benar sinting.
Sudah dapat dikonfirmasi, mulutnya memang tidak mempunyai filter. Bagaimana bisa dia ingin menciumnya sesuka hati, dan tanpa perasaan yang terlibat? Bukankah ciuman dilakukan oleh sepasang kekasih yang saling menyayangi? Apa Sasuke bahkan menyukainya? Ia hanya selalu membuat kesal dan melakukan tindakan senonoh padanya yang Sakura pikir menurut Sasuke hanya gurauan.
Gurauan yang sangat tidak sehat bagi Sakura dan jantungnya yang malang.
Wajahnya memerah menahan malu dan kesal yang bercampur menjadi satu. Segera Sakura menyambar jas di tangan Sasuke dengan kasar, menaruhnya di atas kepala dan melebarkannya dengan kedua tangannya, dengan maksud membuat tubuhnya ikut terlindungi dari hujan.
"Kau bisa dengan mudahnya berkata ingin menciumku ketika kau bahkan tak menyukaiku. Apa bermain dengan perasaanku begitu menyenangkan untukmu?" Sakura berucap tanpa menatap wajah Sasuke sedikitpun.
Sakura berjalan mendahului Sasuke, dan tak lagi memedulikan pria itu yang terdiam menatap kosong pada punggungnya saat ia mulai menembus derasnya hujan menuju mobil hitam Sasuke di depan minimarket.
.
.
.
Perjalanan mereka memakan waktu yang lebih lama dari biasanya. Hujan deras membuat para pengendara lebih hati-hati dan mengendarai kendaraan mereka lebih lambat. Suasana di dalam mobil mewah yang Sakura tumpangi terlewat hening. Keheningan yang menyebalkan. Sakura tak menyukai suasana seperti ini. Hanya suara hujan dari luar yang terdengar.
Tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut sejak mereka berangkat dari minimarket. Apalagi ketika Sakura mengingat ucapannnya pada Sasuke sebelum ia keluar dari minimarket. Ia berkata dengan spontan apa yang ada di pikirannya. Perasaannya saat ini benar-benar membingungkan.
Mereka berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Sasuke menghentikan mobilnya dan membuat Sakura menoleh heran.
"Sudah sampai."
Oh.
Ia bahkan tak sadar mobil itu sudah terparkir di halaman rumahnya. Ia menatap wajah datar Sasuke, lalu pandangannya turun ke kemeja Sasuke yang basah. Pahatan tubuh Sasuke tidak dapat tertutupi lagi oleh seonggok kain kemeja yang basah menembus tubuhnya. Sakura meneguk liurnya.
'Tidak sekarang, pikiran liar. Ini bukan saat yang tepat.' Ia menggelengkan kepala dan kembali fokus.
"Masuklah dulu. Aku akan membuatkanmu teh. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih." Ujar Sakura.
"Tidak perlu, aku akan langsung–"
"Masuk atau aku akan menggores mobil mahalmu dengan kunci rumahku."
Detik setelahnya Sasuke mematikan mesin mobilnya, dan Sakura tersenyum puas. Sakura berlenggang masuk ke dalam rumah, dan mempersilahkan Sasuke masuk. Satu pertanyaan yang ada di benak Sasuke begitu memasuki perkarangan rumah minimalis itu, kemana Sasori? Mobilnya tak terlihat di garasi.
"Di mana kakakmu?"
"Ah, dia baru saja akan melakukan operasi. Sepertinya tidak pulang. Operasi itu butuh waktu lima jam."
Sasuke hanya mengangguk menanggapi Sakura. Dasar irit bicara.
"Sasuke, mau menumpang mandi? Aku bisa meminjamkanmu baju dan celana Saso-nii." Sakura bertanya sembari meletakkan jas milik Sasuke di hanger mantel dengan sangat hati-hati. Menggoresnya sedikit maka akan menguras seluruh tabungannya.
"Hn." Sasuke berdiri dan mulai membuka kancing-kancing kemeja di tempat, mengabaikan mata membulat dan wajah memerah Sakura.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Membuka baju."
"M-maksudku kenapa di sini?!"
"Memang kenapa?"
Memang kenapa? Wah, pria itu memang tak memiliki akal sehat. Sasuke melanjutkan membuka kemejanya, dan wow. Wow.
Sialan. Apa yang baru saja ia lihat?
Rambut basah, wajah tampan, lengan berotot, dada bidang, dan perut six pack. Bukan badan seperti binaragawan yang memiliki otot berlebihan. Semuanya mempunyai proporsi yang pas dengan keseluruhan tubuh Sasuke. Demi Dewa Neptunus, tubuh pria itu terlalu bagus untuk ukuran seorang manusia. Sakura tidak pernah menyangka bahwa teman masa kecilnya akan menjadi seorang pria dewasa yang dapat membangkitkan pheromone. Ia sangat berharap saat ini hidungnya tidak mengeluarkan darah.
Sakura dengan kesal mendorong punggung telanjang Sasuke menuju kamar mandi dan–astaga tangan Sakura serasa terbakar–dan langsung menutup pintu itu dengan kasar. Mati-matian ia menahan debar jantungnya agar tak terdengar telinganya.
"Dasar sinting!"
.
.
.
Sasuke sudah terlihat lebih segar. Ia mengenakan kaos polos putih dan celana pendek selutut bermotif kotak-kotak, tentu milik Sasori yang beruntungnya muat di badan Sasuke. Kemeja dan bajunya yang basah sudah diletakkan di kantung plastik. Ia berjalan santai dan menghempaskan bokongnya ke sofa di ruang tv, mengusap-usap asal rambut basahnya dengan handuk kecil yang tergantung di leher.
Sakura yang sudah mengganti bajunya menghampiri Sasuke dengan nampan di tangannya, membawa dua cangkir teh hijau hangat yang masih mengepul dan sekaleng biskuit gandum. Sakura menyalakan tv untuk menghilangkan kecanggungan yang mulai menyebar. Ingat, mereka hanya berdua di rumah itu.
"Minum dulu tehnya. Jasmu kau saja yang cuci, aku takut merobeknya." Ucap Sakura seraya memberikan Sasuke cangkir teh.
"Hn."
"Sasuke."
"Apa?"
"Itu... terima kasih. Jasnya." Sakura mengalihkan pandangannya, dan Sasuke tersenyum tipis.
"Sama-sama."
"Bagaimana rapat tadi? Kudengar Paman Fugaku tiba-tiba datang." Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Cukup kacau."
Sakura meringis pelan. "Ya, itu terlihat di wajahmu. Apa saham benar-benar akan dijual?"
"Aku belum tahu. Bisakah tidak membahas masalah kantor di sini? Mual sekali rasanya." Dengus Sasuke.
"Wajahmu kusut sekali. Lihatlah, kau bahkan nyaris mempunyai kerutan mata yang sama dengan Itachi-nii. Kutebak kau bertengkar dengan Paman Fugaku. Ya kan?"
Pertanyaan Sakura tak ditanggapi Sasuke. Pria itu dengan tenang menyesap tehnya dengan kaki yang disilang dan punggung tegapnya bersandar nyaman pada sofa. Suasanya kembali hening di antara mereka berdua, dan suara tv hanya menjadi background music.
Sepertinya Sasuke sedang berada dalam mood yang buruk, dan Sakura tak ingin meresikokan jidatnya menjadi merah dari sentilan dengan terus mencecar Sasuke berbagai pertanyaan.
"Hachi!"
Sakura berjengit kaget, lalu tawanya meledak. Sasuke baru saja bersin dan terlihat lucu sekali. Seperti anak kecil yang polos. Sangat menggemaskan. Mungkin Sasuke adalah satu-satunya pria yang dapat terlihat seksi dan menggemaskan dalam satu waktu. Ah tidak, Sakura melupakan sosok Sasori.
"Mau makan malam?" Tawar Sakura, yang disusul anggukan Sasuke. Astaga, pria ini benar-benar imut!
"Aku hanya punya nasi dan sup miso sisa kemarin, tapi cukup untuk berdua."
Sakura beranjak dari duduknya menuju kulkas, mengambil sup miso, dan menghangatkannya di microwave, lalu menunggu hinga microwave berbunyi. Sakura sesekali melirik Sasuke di ruang tv untuk melihat apa yang sedang dilakukan pria itu. Dia terlihat tenang menonton acara berita, dengan satu tangan yang bertopang dagu pada lengan sofa. Sasuke semakin terlihat seperti pahatan patung dewa Yunani.
"Sasuke! Ayo ke sini, makanan sudah siap." Teriak Sakura.
Sasuke menurut, berjalan lunglai dan menarik kursi meja makan. Ia duduk tertib dengan kedua tangan bertumpu pada paha.
Aroma lezat sup miso menguar di indera penciuman Sasuke, ia menatap Sakura dengan tidak sabar ketika Sakura menghidangkan makanan yang mengepul di hadapannya.
"Itadakimasu!"
"Itadakimasu."
Mereka makan tanpa ada percakapan, seperti biasa. Hanya gumaman kecil Sakura yang mengomentari supnya yang sedikit asin. Sakura melirik Sasuke. Makannya cepat sekali, antar suapan tidak ada jeda. Pria itu terlihat sangat kelaparan.
"Enak?" Tanya Sakura begitu melihat piring mereka berdua sudah tak tersisa.
"Enak. Kau yang membuatnya?" Sasuke balik bertanya.
"Tentu saja. Saso-nii tidak bisa memasak. Ayah dan Ibu belum pulang, jadi tidak ada yang memasak untukku."
"Lain kali buatkan untukku."
Sakura tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kembalilah ke ruang tv, aku akan mencuci piring dulu."
Tanpa menunggu jawaban, Sasuke beranjak dari meja makan dan menidurkan tubuhnya di sofa, kembali menonton acara berita yang membosankan dan membuat Sasuke memejamkan mata dan 5 menit kemudian ia langsung tertidur.
Tak lama Sakura menyusul ke ruang tv. Senyum mengembang di wajahnya. Pria itu terlihat tidur tenang dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. Giok onyx yang biasanya terlihat tajam kini bersembunyi di balik kedua kelopak matanya. Kulitnya tetap pucat, dan sekarang Sasuke benar-benar terlihat seperti vampir.
Sakura tak tega jika harus menyuruh Sasuke pulang, tidurnya pulas sekali. Mungkin ia akan membiarkan Sasuke menginap hari ini. Lagipula dulu Sasuke sering menginap di rumahnya–di kamar Sasori, kakaknya tak akan marah.
"Sasuke, ayo pindah ke kamar Saso-nii." Sakura berbisik dan menepuk pelan bahu Sasuke.
"Sasuke."
Tak ada jawaban.
"Sasu–" dalam satu kedipan mata, Sakura merasa seluruh tubuhnya tertarik ke depan. Kedua lengan kuat Sasuke mendekap punggung Sakura, menempelkan Sakura dengan erat di atas tubuh pria itu. Tangannya menyentuh dada bidang Sasuke, dan kepalanya menyandar tepat di tengah dada Sasuke. Ia dapat merasakan detak jantung tenang milik Sasuke.
Ini nyata.
Astaga, ini benar-benar nyata. Sakura merasakan panasnya tubuh Sasuke, dan rasa panas itu merambat pada tubuhnya. Tunggu, panas?
"Di sini dingin." Ucap Sasuke. Suaranya terdengar serak dan manja, membuat telinga Sakura tergelitik. Oh, Sakura dan keberuntungannya yang tak habis-habis.
Susah payah Sakura mencoba mendongakkan kepalanya, menatap kedua onyx indah yang menjeratnya. Sebelah tangannya meraih perlahan wajah pucat Sasuke, dan ya, dugaannya benar.
"Kau demam!"
"Hn."
"Serius, Sasuke. Kau demam. Aku akan mengambil obat." Sakura hendak bangun dari tubuh Sasuke, namun tangan Sasuke lebih cepat menahan tubuhnya.
"Jangan pergi."
"Hah?"
"Biarkan seperti ini sebentar." Ucap Sasuke pelan.
Sakura merasakan bibir Sasuke bergerak di pucuk kepalanya. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Rambutmu wangi sekali."
Sakura merona hebat. Pria itu benar-benar manis, dan Sakura merasakan ada yang aneh dengan hatinya. Tidak, tidak. Bukan saatnya untuk memikirkan itu. Sakura harus memberikan obat sebelum demam Sasuke bertambah tinggi.
"Aku akan mengambil obat, hanya sebentar, aku janji."
"Aku tidak mau obat."
Sakura menghela napas. Membujuk Sasuke terasa sangat sulit. "Baiklah. Ada yang kau inginkan? Aku akan membelinya."
Sasuke menggeleng lemah. "Aku ingin kau."
"Ap–" tengkuk Sakura tertarik ke depan wajah Sasuke, membuatnya bertatapan langsung dengan jelaga sehitam malam yang terlihat sayu. Sasuke memiringkan sedikit wajahnya, membuat hidung pria itu menempel pada pipi Sakura. Semua itu terlalu cepat, hingga tak sadar bibir Sakura menempel pada sesuatu yang panas dan lembut.
Sasuke mengeliminasi jarak di antara mereka.
Terasa seperti mimpi. Ini bukan ciuman yang dilakukan Sasuke saat Sakura mabuk. Kali ini keduanya benar-benar dalam keadaan sadar. Sasuke mulai memagut, dan Sakura tetap membeku. Mata Sakura tetap membuka. Ia melihat Sasuke menutup matanya, dan detik berikutnya Sakura ikut menutup matanya, membalas pagutan Sasuke.
Ini gila. Sakura pikir dirinya sudah mulai gila. Ia tidak menolak ciuman Sasuke, dan malah ikut terlarut dalam ciuman itu. Ketika Sasuke kembali memagut, Sakura meremas baju Sasuke. Jantungnya berdetak tak beraturan.
'Tidak, ini salah…'
Sasuke menjauhkan bibirnya, menatap wajah bersemu gadis di atasnya yang menunduk. "Sakura…"
"Kenapa… kau melakukan ini?" Sakura semakin meremas baju Sasuke.
"Kau tidak menyukainya?"
"Bu-bukan begitu…"
"Jadi kau menyukainya?" Tanya Sasuke lagi, dan Sakura tidak tahu harus menjawab apa.
"Jawab aku, Sakura." Sasuke kembali bertanya.
"Aku… aku tidak tahu, Sasuke. Kau membuatku bingung." Sakura memejamkan matanya, merasakan napas panas Sasuke pada keningnya. "Kenapa kau menciumku? Tak ada hubungan apapun di antara kita. Kau bahkan tak menyukaiku. Seharusnya kau tak boleh menciumku."
"Tapi kau membalas ciumanku." Jawab Sasuke.
Sakura terdiam. Otaknya tak bisa berfungsi.
"Aku menyukaimu, Sakura."
Mata Sakura terbuka lebar, dan jantungnya berdetak lebih cepat. Tidak, Sakura tidak salah dengar.
Takdir pasti sedang mempermainkan hidupnya.
.
.
.
TBC
.
Author's Note
Halo Minna! Ayase kembali setelah mangkir dua minggu hohoho XD Maaf ya update kali ini lebih lama dari biasanya, karena diriku baru selesai UTS jadi ga kepegang kalo sambil nulis T.T Sekali lagi terima kasih untuk semua review, fav, dan follownya!^^ Ohya, mulai sekarang Ayase akan balas review di kolom A/N ya^^
Evy Bestari Putri : Yap, tebakannya benar hoho~ Terima kasih sudah meninggalkan jejak di setiap chapter!^^
Guest : Sasori boleh juga~
Chan : Whaa terima kasih sudah membaca ff ini dan terima kasih pujiannya^^ Diriku akan belajar lebih banyak supaya tulisannya semakin bagus XD permintaanmu sudah dikabulkan di chapter 7 ya XD
sqchn : Lucu kayak aku kan? *disharingan Sasuke* hmm Sasu atau Gaara ya? ;p
See you on the next chap!
