"It's Too Late to Regret"
Chapter 7

.

All the cast are not mine. They're belong to God, their parents, and themselves.
.
Pairing : HaeHyuk~
.

Rated T (maybe)
.

Genre : Romance, Angst.
.

Warning! OOC, gaje, MPREG, yaoi,judul sama cerita nggak nyambung, typo(s), serba kurang._.
.

Warning for This Chapter : Super short, only 952 words. It's more about KyuHyuk than HaeHyuk

.
Summary
: Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Tak bisakah kau melupakannya dan mulai melihat ke arahku? Aku yang selalu mencintaimu. Aku yang selalu ada di sini…

.

.

HAPPY READING~ :3

.

.

Hyukjae mengaduk-aduk minuman favorit yang ada di hadapannya, seraya sesekali melihat ke arah luar jendela. Manik matanya menelusuri seluruh isi café tempatnya berdiam diri. Ia menghela nafas panjang.

Bosan. Hyukjae sangat bosan. Menunggu selama 15 menit sudah cukup membuatnya bosan. Ia kemudian melirik jam yang melekat di tangan kirinya. "Kyuhyun kemana, sih?" ia menggerutu kesal seraya mengerucutkan bibirnya.

"Hyung!"

Hyukjae menoleh, mengikuti asal suara tersebut. Ia mendengus keras ketika melihat sosok yang sedari tadi dinanti itu duduk di hadapannya. "Ya! Kemana saja kau?" ucapnya kesal. Wajahnya –yang menurut Kyuhyun imut itu—memerah karena kesal.

Kyuhyun menyeringai, lalu menarik minuman Hyukjae sebelum meminumnya. "Mian, Hyung. Aku baru keluar kantor." Hyukjae menatap minumannya, lalu menatap Kyuhyun dengan tatapan membunuhnya. "Jadi… ada apa, Hyung? Kau ingin berbicara sesuatu?"

Seketika Hyukjae mengingat tujuan utamanya mengajak Kyuhyun bertemu. "Ah, iya," gumamnya pelan. Seketika, rautnya wajahnya berubah menjadi riang. "Donghae kemarin menemuiku." Tubuh Kyuhyun menegang seketika.

"Lalu?"

"Donghae… mengajakku kembali ke rumahnya."

"Mwo?!" Kyuhyun seketika membelalakkan matanya. Donghae? Mengajak Hyukjae kembali? "La—lalu… bagaimana? Hyung—" Kyuhyun menatap Hyukjae lekat-lekat. "—Hyung menerimanya kembali?"

Kyuhyun menghela nafas lega ketika Hyukjae menggelengkan kepalanya. "Aku masih belum bisa memutuskannya. Aku meminta waktu satu minggu untuk memikirkannya terlebih dahulu." Mendengar jawaban Hyukjae, Kyuhyun menghela nafas panjang. "Wae?"

"Hyung." Kyuhyun menatap Hyukjae dalam-dalam. Ia menggenggam tangan Hyukjae di atas meja. "Hyung ingat kan kalau Donghae sunbaenim sudah menyakitimu berulang kali?" Hyukjae menganggukkan kepalanya. "Kenapa butuh waktu berpikir lagi? Untuk apa? Kenapa tidak kau tinggalkan saja Donghae sunbaenim?"

Hyukjae menyunggingkan senyuman indahnya. "Aku sudah bilang, kan? Selama Donghae bahagia, aku akan bahagia."

"Apa kau akan terus bahagia kalau ia terus menyakitimu?"

"Entahlah." Lagi, Hyukjae menghela nafas panjang. "Aku tak yakin apakah aku akan bahagia sepenuhnya jika aku kembali lagi padanya. Tapi, bohong kalau aku mengatakan hatiku tak sakit melihatnya sedih saat menghampiriku kemarin. Saat melihatnya terlihat begitu menyesal kemarin, rasanya semua rasa sakit yang sudah kurasakan selama ini menghilang begitu saja. In fact, I still care so much about him that his happiness is way much more important than mine."

Entah untuk yang keberapa kalinya, Kyuhyun menghela nafas panjang. "Kau—kau sangat mencintainya ya, Hyung?" Pertanyaannya disambut dengan anggukan kepala Hyukjae. Entahlah, itu sangat membuat hatinya sakit meskipun ia sudah melihat senyuman Hyukjae.

"Sangat. Aku sangat mencintainya." Hyukjae tertawa kecil. Tatapannya menerawang jauh, diikuti dengan senyuman tulusnya. "Aku merasa seperti orang bodoh. Bagaimana bisa aku sangat mencintainya saat ia bahkan tidak pernah bersikap baik padaku?"

Kyuhyun menatap senyuman Hyukjae. Tulus. Senyuman tulus itu. Senyuman yang dulu selalu nampak setiap kali ia bercerita mengenai first ever crushnya. Senyuman yang dulu selalu nampak saat ia mengatakan bahwa ia berpapasan dengan Donghae dengan menggebu-gebu. Senyuman itu. Senyuman yang selalu membuat Kyuhyun terpana. Selalu membuatnya semakin mencintai Hyukjae. Hyukjae yang tidak akan pernah menjadi miliknya.

"Aku ingat saat kau pertama kali mengatakan padaku bahwa kau menyukai Donghae sunbaenim." Tatapannya dalam tepat di mata Hyukjae. Ia tertawa kecil. "Kukira kau tidak akan menyukainya selama ini. Kukira kau akan cepat melupakannya dan menyukai namja lain."

"Lalu saat kau menangis pertama kali karena sunbaenim," lanjut Kyuhyun seraya kembali tertawa kecil. Tanpa emosi. "Saat kau menyatakan cinta pertama kali kepadanya. Dan ia menolakmu. Kau benar-benar patah hati saat itu. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat kau menangis hari itu."

"Dan saat kau dengan senangnya mengatakan kalau orangtua kalian telah saling mengenal sejak lama dan sudah mempunyai rencana untuk menjodohkan kalian." Kyuhyun tersenyum kecut. "Beberapa bulan setelahnya, aku menerima undangan pernikahan kalian."

"Dan kau tak datang ke pernikahan itu," potong Hyukjae cepat, lalu mengerucutkan bibirnya sebal. Ia ingat benar saat itu menanti Kyuhyun dan terus mencarinya, yang kemudian ia ketahui telah pergi ke Jepang tanpa sepengetahuannya.

Kyuhyun tertawa miris. Matanya menatap Hyukjae nanar. "Aku pergi ke Jepang hari itu. Beasiswa yang kuterima itu mengharuskanku untuk segera pergi."

"Ya, aku baru tahu setelah beberapa hari Wookie memberitahuku." Hyukjae masih mengerucutkan bibirnya kesal. Ia masih tidak bisa melupakan bagaimana Kyuhyun, sahabat tersayangnya, tidak datang di hari paling bahagianya.

"Ah, sudahlah. Tidak usah diingat-ingat lagi, Hyung," ucap Kyuhyun sambil tertawa pelan. Hatiku terlalu sakit untuk mengingatnya. Kyuhyun menghela nafas panjang –lagi. Apalagi untuk membayangkanmu berjalan dengannya di aisle.

"Kalau dipikir-pikir—" Kyuhyun menyandarkan punggungnya di kursi, melepaskan genggamannya atas tangan Hyukjae. "—kau sangat beruntung, Hyung. Kau bisa menikahi cinta pertamamu. Meskipun kau tersakiti bertahun-tahun, setidaknya ia mencintaimu sekarang."

Hyukjae tersenyum. Kyuhyun dapat melihat semburat merah di wajahnya. Ah, hatinya diremas lagi.

"Aku tidak mau mengatakan ia mencintaiku. Kata-kata 'menyukai' sudah lebih cukup bagiku," balas Hyukjae. Senyumannya tak pernah luntur sedikitpun. "Ah, iya! Bukankah kau bilang kau mencintai seseorang? Kau sudah menyatakannya?"

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Ia sudah milik orang lain, Hyung. Untuk apa aku menyatakan perasaanku?"

Hyukjae menepuk-nepuk pelan tangan Kyuhyun, berusaha memberinya semangat. "Memang kenapa kalau sudah milik orang lain? Setidaknya kau harus menyatakan perasaanmu, kan?"

"Ah, begitu?"

"Tentu saja!" Hyukjae menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Kau harus segera menyatakannya. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi, kan?"

"Haruskah aku menyatakannya sekarang?"

"Ah, kau bisa menyatakannya sekarang? Tentu saja! Ayo, ayo! Cepat hubungi orang itu. Aku penasaran dengan orang yang sudah merebut hati seorang Cho Kyuhyun."

Ragu, Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia kemudian menarik napas panjang, lalu perlahan mengeluarkannya. Ia berkutat beberapa saat sebelum berhenti pada sebuah nama di ponselnya.

Hyukjae.

Matanya menatap ke arah Hyukjae, melihat antusiasme di wajahnya. Untuk kesekian kalinya, ia menghela nafas panjang, sebelum akhirnya menekan kontak tersebut.

"Ah." Hyukjae merogoh saku jaketnya, sebelum menatap Kyuhyun. "Sebentar, biarkan aku mengangkat panggilan ini." Ia kemudian mengeluarkan ponselnya. Matanya melebar saat menatap nama yang tertera di layar ponselnya. Kyuhyun. Ia memalingkan tatapannya ke arah Kyuhyun yang masih terus menatap lurus ke matanya. Ragu, ia mengangkat panggilan tersebut. "Yeoboseyo—?"

"Hyung." Kyuhyun masih terus menatap lurus mata Hyukjae, tak memiliki niatan sedikitpun untuk memalingkan tatapannya. "Saranghae."

"Mwo—?"

~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~
TO BE CONTINUED or END?
~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~"~

Hai._. Saya kembali lagi._.

I know, I know… It's been like—what? Three years? Four years? Not sure, but surely, it's been a very loooooong time since I updated this story. Kalau ga salah, aku bahkan udah bilang di salah satu fanfic kalau cerita ini bakal discontinued.

However, I've seen a lot of comments asking for this story's continuation. Aku jadi ngerasa gagal sebagai author, karena udah bikin readers kecewa sama cerita ini. Sebagai permintaan maaf, aku mau ngelanjutin cerita ini lagi. Tapi tergantung respon juga sih. Kalo masih banyak yang pengen cerita ini lanjut, aku bakal berusaha ngelanjutin. Gak bisa janji kalo bakal cepet update sih, tapi udah bikin storylinenya, jadi bakal berusaha tetep ngelanjutin sampe tamat. Mungkin bakal tamat satu atau dua chapters lagi.

Sekali lagi, aku minta maaaaaf banget karena udah kecewain semua yang udah baca sebelumnya. Aku gak yakin apakah kalian semua masih bakal baca fanfic yang kayak sinetron ini, tapi aku berharap ada readers dulu yang udah nunggu fanfic ini selama bertahun-tahun. Sekali lagi, aku minta maaf sebesar-besarnya *deep bow.

Oh iya. Meskipun udah gak kulanjutin bertahun-tahun, beberapa kali aku masih nerima notification review atau favs dari cerita ini. Kadang juga masih buka bagian review buat liat review yang lama. Beneran deh, terharu banget karena ternyata ada yang nungguin cerita ini bertahun-tahun, bahkan ninggalin review T^T Terima kasih banget buat review-review kalian yang sangat berharga T^T Today –this morning, I got the 300th review for this fic! I literally almost cried because of that.

Ah, maaf ini jadi panjang di bagian note._.

Sooooooo, last words: Would you mind to leave a review? Any kind of comment will be accepted. Even the bad one. Thank you so much for stayiiiing~ ^^