Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Olivia Jaezmine
Warning!
AU, OOC, typo, abal dan sejenisnya
.
.
.
.
.
.
.
Sakura terengah, tubuhnya bergetar akan sentuhan-sentuhan kecil Sasuke. Usapan lembut disekitar lengan, punggung dan tengkuknya serta remasan di pinggangnya membuatnya merinding geli. Di tengah ciuman yang semakin intens ini, Sakura berusaha untuk tetap berdiri pada pijakannya, sekalipun kedua kakinya sudah terasa lemas.
Sakura sedikit bisa bernafas lega saat Sasuke melepaskan ciuman yang hampir 6 menit lalu mereka lakukan, ia bernafas dengan rakus disana, namun hal itu tak berlangsung lama karena Sasuke kembali menyatukan bibir mereka. Sasuke benar-benar menciumnya dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, membuat Sakura terhanyut dan tak kuasa untuk menolak. Pria itu seperti pencium ulung.
Sasuke berulang kali menggumamkan kata-kata yang sama disela-sela ciuman mereka. Pria itu terus-menerus membisikkan kata cinta padanya. Sakura sempat berpikir bahwa Sasuke tengah mabuk, namun hidungnya tak menghirup adanya bau alkohol di tubuh Sasuke.
Sasuke membaringkannya perlahan di ranjang tanpa melepas ciuman mereka. Sakura seolah pasrah dan hanya menurut pada perlakuan Sasuke. Sakura hanya memejamkan matanya dengan alis yang berkerut dalam, sesekali ia akan membalas ciuman Sasuke.
Kini bibir Sasuke telah beralih pada lehernya, dimulai dengan mencium, menggigit dan menghisap pelan leher jenjangnya, membuat mulut Sakura tanpa sadar meloloskan suara desahan.
Sakura hampir membiarkan dirinya terlena akan sentuhan Sasuke, namun saat lengan Sasuke menelusup ke dalam bajunya, mengusap perutnya dan mulai meremas-remas payudaranya, Sakura seakan tersadar. Ini sudah terlalu jauh, pikirnya. Sakura masih belum siap melakukan yang lebih jauh dari ini.
"Sasuke..." Sakura berusaha bersuara di tengah desahannya. Ia harus menghentikan Sasuke sebelum mereka lepas kendali dan bertindak lebih jauh dari ini.
"Sasuke ah.Berhenti, ku mohon."
Sakura hampir menjerit frustasi karena Sasuke tak menggubrisnya. Pria itu semakin gencar melakukan aksinya dan bahkan area jajahan Sasuke semakin turun ke dadanya. Sakura mendesah keras saat mulut Sasuke berhasil mengulum payudaranya. Sasuke rupanya bergerak cepat, ia bahkan tak tahu kapan branya telah ditanggalkan.
"Sasuke, ini terlalu jauh ah."
Sakura menggigit bibir, menahan desahan yang keluar dari mulutnya agar Sasuke semakin tak menjadi-jadi. Lengannya mulai bergerak, menahan kepala Sasuke dan berusaha menjauhkannya dari sana.
"Kenapa?"
Sasuke berkata dengan suara serak, dan ketika Sakura memutuskan untuk menatap mata onyx Sasuke, dari sanalah Sakura melihat adanya kabut gairah yang besar telah menyelimuti Sasuke. Ia menggigit bibir dengan keras.
"Aku belum siap."
Sasuke menatapnya dalam diam dan Sakura melihat tatapan Sasuke tersirat kekecewaan disana. Setelah cukup lama mereka terdiam dengan posisi Sasuke yang menindihnya, pria itu akhirnya membangkitkan diri dan duduk di pinggir ranjang dengan kepala menunduk. Sakura terduduk dan merapikan pakaiannya yang sempat terbuka. Ia melirik Sasuke di sampingnya, pria itu terlihat frustasi, seketika perasaan bersalah memasuki relung hatinya.
"Maaf. Ku harap kau mengerti."
Hening sesaat.
Sasuke memutar kepala, dan mata onyx itu kembali menatapnya. Sakura menunggu respon Sasuke dengan gugup.
"Sampai kapan?"
Pelan. Pria itu berucap sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. Sakura melihat Sasuke versi berbeda kali ini. Entah, Sakura pun tak tahu bagaimana mendeskripsikan raut wajah Sasuke sekarang. Mata sayunya, sorot onyx yang terlihat redup dengan pancaran kecewa yang kini tercetak jelas. Sasuke terlihat rapuh, namun mungkin bukan itu yang kini tengah dirasakan Sasuke. Sasuke mungkin marah karena penolakannya dan Sakura meyakini hal itu.
"Aku tidak tahu." balasnya berbisik.
"Tapi aku mencintaimu."
Sakura hampir terlonjak di tempatnya. Perkataan Sasuke sangat tiba-tiba dan tak terduga sama sekali. Entah sudah berapa kali Sakura mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sasuke. Namun Sakura masih merasa terkejut saat mendengarnya. Ia pun tak tahu apakah Sasuke bersungguh-sungguh saat mengucapkannya?
Sakura mencari kebenaran dari manik hitam Sasuke. Namun Sakura masih tidak tahu. Bukan ia tak menemukan, hanya saja ia tidak tahu. Sakura tak bisa mempercayai Sasuke dengan mudah. Ia sendiri pun masih membingungkan perasaan apa yang tengah ia rasakan pada Sasuke. Berulang kali Sakura menebak perasaan cinta, namun Sakura dengan cepat selalu menyangkalnya. Seperti yang pernah Sasuke katakan padanya, ia pun merasa terlalu dini bagi mereka untuk merasakan perasaan itu. Dan kini dengan mudahnya Sasuke mendefinisikan perasaan pria itu padanya dengan perasaan cinta. Dengan mudahnya Sasuke mengatakan bahwa pria itu mencintainya. Sasuke memang aneh menurutnya.
"Kau... kerasukan apa?"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Tanpa beban. Sakura bahkan merasa mulutnya tak mengeluarkan kalimat yang salah. Padahal itu adalah kalimat terkonyol yang pernah Sasuke dengar. Tapi Sakura menganggap perkataannya itu dengan serius. Siapa yang tahu, pikirnya.
Sasuke mendengus samar di sampingnya. "Kau pikir aku bercanda?"
Sakura memilih diam, tak tahu akan mengatakan apa. Ia tak bisa menyimpulkan semuanya secepat ini.
"Kau menginginkanku, benar?"
Sakura akhirnya membuka suara setelah cukup lama terdiam karena terlalu banyak memikirkan kata-kata di dalam kepalanya. Dan ia melihat Sasuke mengangguk antusias sebagai respon. Sakura merasa Sasuke sepertinya terlalu memaksakan diri untuk menggambarkan perasaan pria itu. Apa Sasuke asal menebak?
"Kau mulai menerimaku disisimu?" Sakura bertanya kembali.
Kedua lengannya digenggam Sasuke dan Sakura melihat Sasuke menatapnya penuh harap. "Ya. Percayalah padaku."
Sakura tersenyum. Ia sedikit mengerti perasaan Sasuke sekarang.
Dengan perlahan ia melepaskan genggaman Sasuke, bergerak meletakkan lengannya di kedua pipi Sasuke, membingkai wajah tampan pria itu dengan kedua telapak tangannya.
"Kalau begitu mari biarkan perasaan kita mengalir begitu saja. Tanpa memikirkan perasaan apa ini. Saling menikmati rasa nyaman dan kebahagiaan yang ditawarkan masing-masing. Ku rasa itu sudah cukup." Sakura kembali menampilkan senyum hangatnya. "Yang terpenting, kita sudah saling menerima dan akan setia untuk selalu bersama."
Dan ini adalah pertama kalinya Sakura melihat senyum lebar terpasang di wajah Sasuke. Kedua onyxnya berbinar, mengisyaratkan bahwa pria itu tengah bahagia karena kata-kata yang ditawarkannya tadi. Sakura sedikit terperangah melihat senyum Sasuke dari jarak yang terbilang dekat. Sasuke benar-benar tampan. Ketampanan yang seperti jelmaan dewa. Ia heran sendiri bagaimana bisa ada manusia setampan ini. Sakura rasa ia sangat beruntung mendapatkan Sasuke.
Sasuke kembali menggenggam lengannya yang masih bertengger manis di kedua sisi wajah Sasuke. Dan Sakura merasakan wajah dan hatinya menghangat saat Sasuke membawa lengannya menuju bibir pria itu, mengecup punggung tangannya beberapa kali.
"Aku akan menunggu... Sampai kau berkata bahwa kau siap."
Sakura mengangguk kecil. "Terima kasih sudah mau mengerti." dan kembali tersenyum untuk Sasuke.
Hening kembali menyelimuti mereka setelahnya.
"Kau sangat cantik."
Sakura kembali terperangah mendengar ucapan Sasuke sebelum menampilkan senyum malu-malunya. Ia mendapati Sasuke yang tengah menatapnya intens. Ia yakin wajahnya telah lebih memerah dari sebelumnya.
"Kau harus berkaca untuk melihat betapa tampannya dirimu." Sakura berkata dengan gugup. Setelahnya yang ia dengar adalah kekehan Sasuke di depannya.
"Aku selalu ingin mendengar kalimat itu darimu."
Suasana kembali hening. Mereka hanya saling menatap satu sama lain. Mengangumi keindahan yang tercipta di wajah masing-masing. Sampai Sasuke mendekatkan wajah tampan itu padanya dan kembali menatapnya dalam gairah, Sakura sudah mempersiapkan diri untuk ciuman mereka selanjutnya.
"Aku harus ke kamar mandi."
Sakura menelan ludah gugup. Ia menyembunyikan rasa malunya dengan tertawa hambar. Sakura tak menyangka ia baru saja mengharapkan Sasuke untuk kembali menciumnya.
"Kenapa tertawa?"
"B-bukan apa-apa, hanya merasa kau lucu. Kenapa harus bilang-bilang jika ingin ke kamar mandi." ucapnya diiringi kekehan yang dipaksakan.
Sasuke hanya mendengus sebagai tanggapan. Pria itu mulai melangkah pergi namun tak lama setelah itu Sakura kembali bersuara dan membuat Sasuke terdiam di tempatnya dengan wajah bingung.
"Apa? Kau ingin membantu apa?" ucap Sasuke mengulang perkataan Sakura dengan kedua alis yang menyatu, raut wajahnya terlihat tak yakin.
Kepalanya tertunduk, Sakura bisa merasakan pria itu kembali melangkah mendekatinya. Sakura menggigit bibir bawahnya sebelum memutuskan untuk mengangkat kepalanya guna menatap Sasuke. "Menidurkannya."
Kedua mata Sasuke sontak melebar. "Kau serius?"
Sakura menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia selalu melihat itu Sasuke berdiri jika di dekatnya. Sakura hanya tak tega membayangkan Sasuke yang mungkin selama ini selalu memuaskan hasratnya sendirian untuk membuat itunya tertidur. Bukankah itu sangat menyiksa? Dan ia hanya ingin sedikit membantu, meskipun Sakura tak tahu apa bantuan yang ia ulurkan ini sudah benar?
"Mungkin tak apa bagiku, aku bisa melakukannya menggunakan tangan atau mungkin..." Sakura menggantungkan kalimatnya menatap ke arah lain. Ia merasa malu dan gugup pada kata yang hendak dikeluarkan selanjutnya. "...mulutku."
Sakura menunggu respon Sasuke dengan perasaan gugup yang tak kunjung mereda namun Sasuke hanya terus terdiam seperti patung ditempatnya, memasang wajah kaku yang seolah mengisyaratkan 'tolong tampar aku sekarang.'
"Sasuke." panggilnya.
Pria itu berdehem sekilas seolah kembali tersadar ke dalam dunia nyata. Dan Sakura berkali lipat lebih gugup saat melihat Sasuke membuka mulut, pria itu berkata dengan tak kalah gugup dihadapannya.
"Kurasa dia akan cepat tertidur jika kau melakukan blowjob."
Selanjutnya malam itu Sakura merasa frustrasi sampai tak bisa terlelap karena di dalam kepalanya selalu terpenuhi oleh suara desahan Sasuke yang seksi. Ya Tuhan.
.
.
.
.
.
.
Kata orang saat wanita pertama kali melakukan seks akan terasa sangat sakit pada awalnya namun setelahnya rasa sakit itu akan tergantikan dengan rasa nikmat. Ino, sahabatnya di London pernah menceritakan pengalaman seks pertama yang dirasakan gadis blonde itu padanya. Dan entah mengapa Sakura selalu mengingat ungkapan rasa sakit yang dialami sahabat pirangnya itu. Bukan tergiur akan kenikmatan seks yang sering sahabatnya lakukan, malah Sakura merasa ngeri dan merinding takut.
Bisa dibilang Sakura adalah wanita yang lemah lembut. Meskipun terkadang ia bertindak barbar namun Sakura wanita yang sangat menyukai kelembutan. Ia tak pernah menyukai bentuk kekerasan apapun, terlebih jika ia sendiri yang mengalami kekerasan tersebut. Karena kekerasan selalu menimbulkan rasa sakit. Sakura sendiri selalu benci merasa sakit sekecil apapun itu efeknya. Ketika di umur 18 tahun Sakura bahkan berjerit histeris saat jarinya tergores pisau. Padahal jarinya hanya tergores sedikit dan tak mengeluarkan banyak darah namun reaksi yang ia berikan selalu saja berlebihan seakan-akan ia berada dalam kecelakaan besar. Ia selalu menganggap rasa sakit seperti sebuah fobia baginya.
Sakura pernah ke psikiater untuk berkonsultasi mengenai hal ini. Saat itu usianya adalah 21 tahun, puncak kengeriannya akibat rasa sakit yang disebabkan semasa koas dulu. Ketika itu Sakura diminta untuk membedah perut pasien yang terkena kanker ginjal. Dan untuk pertama kalinya Sakura merasakan kengerian yang luar biasa disana. Namun anehnya Sakura selalu bisa melewati itu hingga akhir, menahan rasa ngerinya walau setelah operasi berakhir ia akan merasa lemas. Pada kasus tertentu terkadang akan muncul kengerian dalam dirinya saat ia melihat orang lain kesakitan. Ia selalu membayangkan jika orang yang tengah kesakitan itu adalah dirinya. Tapi Sakura akan lebih merasakan ngeri jika kejadian itu menimpanya. Sakura pun merasa aneh sendiri di tengah kengeriannya pada rasa sakit itu ia mampu menyelesaikan kuliah kedokteran bedah dan masa koasnya dalam kurung waktu singkat dibandingkan teman seangkatannya yang lain. Secerdas itukah ia? Ia selalu berpikir kecerdasannya ini pasti menurun dari kedua orang tuanya yang notabene merupakan dokter profesional.
Dokter menyebut gejala-gejala yang dialami Sakura hampir menyerupai algofobia, jenis fobia terhadap rasa sakit. Namun pada kasus yang dirasakan Sakura disini masih dalam tahap wajar. Masih banyak ditemukan orang-orang dengan kasus yang sama. Dilihat dari gejala-gejala Sakura, dokter menganggap ini hanyalah sebuah rasa takut biasa, tidak parah sampai membuatnya menjadi fobia. Sakura mungkin hanya kurang dewasa menyikapi rasa sakit yang dialaminya. Anak kecil akan cenderung menangis histeris saat terjatuh dan tubuhnya mengalami luka kecil. Namun berbeda dengan orang dewasa yang akan lebih menahan rasa sakit karena menurutnya rasa sakit ini bukan apa-apa lagi. Sebenarnya Sakura hanya kurang pengendalian emosi yang membuat sikapnya tampak tak dewasa. Dan Sakura memang mengakui jika ia masih terlalu kekanakan. Ia bahkan masih sering berlarian kesana-kemari dan berjingkrak-jingkrak tak jelas layaknya anak kecil disaat dadanya telah tumbuh membesar. Dan Sakura berpikir mungkin ketidaksiapannya akan seks pertama dengan seorang pria disebabkan karena sifatnya yang masih kekanakan.
Saat ini Sakura tengah berada di kediaman Uchiha, berbincang dengan calon ibu mertua seperti yang biasa ia lakukan disini. Malam ini adalah acara pertunangannya dan Sakura sengaja dipisahkan dari Sasuke khusus untuk hari ini sampai acara pertunangan dimulai. Mikoto yang membuat ide ini dengan alasan ingin membuat kejutan untuk Sasuke di hari pertunangannya, dan Sakura adalah kejutan itu. Mikoto akan membuat Sakura bersinar malam ini dan Mikoto yakin Sasuke akan sulit berkedip nanti saat melihat Sakura.
"Aku belum siap."
Sakura menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mikoto dengan perasaan tak enak hati. Mereka baru saja membahas mengenai kehidupannya bersama Sasuke, bagaimana kesehariannya dengan pria itu, apa saja kegiatannya, sampai Mikoto menyinggung kegiatan seksnya bersama Sasuke, ia sudah mulai merasa aneh. Dan yang membuat Sakura menggeleng tak percaya, Mikoto bahkan berharap ia telah hamil saat ini.
"Aku mengerti."
Sakura semakin merasa tak enak hati saat melihat wajah antusias Mikoto terganti dengan raut wajah murung. Namun Mikoto dengan cepat mengubah raut wajahnya dengan menampilkan senyuman yang mengisyaratkan 'tidak apa-apa', sebelum wanita itu kembali melanjutkan ucapannya.
"Ku harap kau tak membuat Sasuke menunggu lama. Pria cenderung tak sabaran, kan? Aku hanya takut Sasuke akan mencari wanita lain untuk memenuhi nafsu birahinya."
Sakura terperanjat, kedua matanya kini telah membulat sempurna. Kalimat tak terduga yang diucapkan Mikoto sukses menusuk ke ulu hatinya. Ia seakan ditampar untuk segera menyadarkan diri akan kemungkinan-kemungkinan Sasuke menjauh darinya. Pada akhirnya hal itu hanya akan mengusik pikirannya. Sakura tak ingin termakan ucapan Mikoto, namun ia tak bisa menyangkal perasaannya yang mulai gelisah.
"Sasuke pria normal, dan jika kau tak mampu memuaskannya, hal itu bisa saja terjadi."
Sakura terdiam kaku. Ia hanya memikirkan ucapan Mikoto di kepalanya. Sakura bahkan tak menyadari senyuman Mikoto kini telah mengandung arti.
"Tadaima, Kaa-san."
Kehadiran seseorang di ruangan itu seketika membuatnya tersadar. Emeraldnya beralih menatap kedua insan tersebut. Itachi dan Konan, mereka baru saja tiba di Jepang untuk menghadiri acara pertunangannya. Sakura hanya memerhatikan Mikoto yang menyambut keduanya dengan antusias.
Sakura melirik Konan yang tersenyum padanya, dengan kaku ia membalas senyum itu. Matanya seketika memicing saat melihat Konan. Tidak ada bayi, tidak ada perut yang membesar. Sakura sedikit tahu mengapa Mikoto sangat berharap ia segera hamil. Itachi dan Konan belum bisa memberikan wanita itu cucu.
.
.
.
Langit telah sepenuhnya menggelap. Namun dari atas sana dapat dilihat setitik-titik cahaya yang menyembul. Cahaya-cahaya kecil itulah yang biasa orang sebut bintang. Dari hamparan langit yang membentang dan dikelilingi sekumpulan bintang kecil, ada satu cahaya besar dan paling terang disana. Manusia biasa menyebutnya bulan. Meskipun cahaya itu tampak terang namun nyatanya tak cukup mampu untuk membuat penerangan yang jelas bagi mata manusia. Manusia masih memerlukan pelita buatan disekitarnya.
Malam ini mungkin tampak biasa saja dan tak jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Namun lain halnya dengan Sasuke. Baginya malam ini sangatlah spesial. Dimana malam ini adalah malam pertunangannya akan dilangsungkan.
Sasuke telah sampai 15 menit yang lalu di salah satu Hotel milik Uchiha, tempat acara pertunangannya berlangsung. Tubuh atletisnya terbalut pakaian formal, dengan setelan jas, kemeja, dan celana serba hitam. Sasuke berdiri gagah di atas podium di hadapan tamu undangan yang hadir untuk memberikan sambutan singkatnya pada malam ini. Beberapa saat kemudian, ia membungkukkan badannya pertanda pidatonya telah berakhir. Sasuke kemudian turun dari panggung kecil itu dan seketika beberapa orang yang dikenalnya mulai menghampirinya.
Sasuke balas memeluk satu-persatu orang yang mengerubunginya itu yang ternyata merupakan kawan baiknya semasa kuliah. Sudah lama sekali rasanya mereka tak bertemu. Kesibukan benar-benar menyita waktu mereka.
"Apa kabar, Sasuke?" pria dengan rambut seperti nanas berujar.
"Seperti yang kau lihat, Shika. Aku baik."
"Kau tampak sangat bahagia malam ini." itu ucapan temannya yang bernama Neji.
Sasuke menunduk sekilas, menyembunyikan senyuman aneh yang tiba-tiba saja terukir di bibirnya. Dan sontak hal itu mengundang candaan teman-temannya yang usil.
"Uwow. Apa kalian memikirkan hal yang sama?" itu suara Kiba yang kini melirik satu-persatu temannya yang tengah tersenyum usil.
"Ku rasa si teme ini menyukai calonnya, benar?" si kuning jabrik menyahut. Dan beberapa gelak tawa mulai bersahutan setelahnya.
Sasuke mendengus. "Apa salahnya menyukai calon sendiri."
"Tidak ada yang salah, sih. Hanya saja biasanya perjodohan membuat orang tidak bahagia dengan pilihan yang dipasangkan untuknya. Ya, kau tahulah, itu tradisi kuno. Orang cenderung menginginkan kebebasan pada zaman ini." Chouji tiba-tiba berujar.
"Dan sekarang kau terlihat bahagia, apalagi kalau bukan karena kau menyukai calonmu." Kiba kembali menyahut.
"Tidak ku sangka akhirnya teme menemukan pujaan hatinya. Aku kira si pangeran es ini akan sulit menyukai wanita." tawa cempreng Naruto kembali memasuki indera pendengarannya dan itu terdengar menyebalkan.
"Dia pasti wanita yang luar biasa sampai-sampai membuat si cuek Sasuke ini tertarik padanya."
Sasuke hanya memutar mata mendengar obrolan-obrolan berisi ejekan untuknya yang masih terus berlanjut. Kini onyxnya mengedar, mencari sosok Sakura disana. Wanita itu tak ada disekitarnya. Padahal ia yakin Sakura telah tiba di tempat acara, terbukti dengan telah hadirnya ayahnya disini yang saat ini tengah memberikan sambutan. Sakura tidak mungkin tidak datang bersama ayah dan ibunya.
"Omong-omong, dimana calonmu?"
Maka saat Shikamaru bertanya, Sasuke hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
Lewat microphone Fugaku memanggilnya. Sasuke pun mengikuti arahan Fugaku untuk berdiri di panggung. Saat berjalan ia berpapasan dengan kakaknya yang sudah lama tak ia jumpai. Sasuke memeluk sejenak Itachi sebelum kembali melangkah menuju ayahnya. Disana ia telah berdiri bersama ayah dan ibunya serta kedua orang tua Sakura.
Inilah saatnya acara inti akan dimulai. Sasuke beberapa kali menelan ludah guna menetralisir kegugupannya. Jakunnya bergerak naik turun saat ia melakukan itu.
Dan di saat ayahnya menyerukan nama Sakura untuk mendampinginya disini, tak ada lagi yang Sasuke lakukan selain terdiam di tempatnya berdiri memandangi sosok cantik manifestasi bidadari yang tengah berjalan ke arahnya. Dengan gaun merah panjang lengan pendek yang pas di tubuh wanita itu dan bagian bawahnya yang sedikit mengembang serta sanggulan rapi pada rambut merah mudanya, Sakura tampak luar biasa malam ini. Ia tak bisa berhenti memandangi sosok Sakura seolah-olah dunianya hanya berpusat pada Sakura.
Sakura yang didampingi Konan kini telah sampai di hadapannya. Dari jarak yang dekat ini, Sasuke dapat melihat wajah Sakura dengan jelas. Wajahnya yang cantik alami itu telah dipolesi make up tipis dengan warna bibir yang tampak berani dan menggoda. Sasuke berkali-kali menggulirkan onyxnya pada bibir merah itu.
Sakura memandangnya dengan senyuman yang terlihat manis dan setelah itu muncullah sahutan-sahutan yang berasal dari teman-temannya yang mulai meneriakinya.
"Sialan Sasuke."
"Si brengsek yang beruntung."
"Ah, teme~ kalian sangat cocok."
Sasuke meringis karena malu. Namun setidaknya ia bersyukur si dobe Naruto tidak ikut-ikutan mengumpatnya di tengah acara formal ini, meskipun ia masih merasa malu karena teriakan Naruto yang paling kencang disana.
Sasuke menerima cincin yang dipakaikan Sakura dengan perasaan yang berdebar-debar. Dan kini Sasuke gugup saat melakukan gilirannya. Sasuke menjangkau lengan Sakura dan memasang cincin perak tersebut di jari Sakura. Setelahnya yang Sasuke dengar adalah suara tepukan riuh di sekitarnya disertai siulan-siulan menggoda.
Sasuke menempatkan lengannya di tengkuk Sakura, menarik wajah wanita itu mendekat padanya. Dari jarak sedekat ini Sasuke dapat merasakan kegugupan Sakura. Ia bergantian melirik antara netra hijau dan bibir merah Sakura. Sasuke pun akhirnya mendaratkan bibirnya pada kening Sakura, mengabaikan teriakan-teriakan kecewa disekitarnya... juga keinginannya untuk mencumbu Sakura di depan umum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Enam bulan sudah Sakura berada di Jepang, selama enam bulan itulah Sakura tinggal bersama Sasuke. Saat ini ia sudah mulai mengenal Sasuke lebih banyak dari sebelum pertunangan mereka.
Selama enam bulan ini Sakura memperlakukan Sasuke layaknya suami meskipun status mereka masih berupa tunangan. Sekalipun mereka memperlakukan satu sama lain sebagai sepasang suami istri, namun hanya satu hal yang tak pernah ia lakukan dengan Sasuke, yaitu kegiatan ranjang mereka yang masih belum bisa ia penuhi.
Suara deringan yang berasal dari handphone Sasuke sedikit mengganggu kegiatannya membaca jurnal medis. Tangannya mulai terulur menjangkau ponsel Sasuke yang berada di atas nakas. Ada telepon dari nomor yang tak dikenal. Sakura ragu apakah ia harus mengangkat telepon ini. Sasuke baru saja masuk ke kamar mandi melakukan ritual mandinya. Pria itu mungkin masih lama selesai.
Tanpa pikir panjang Sakura pun menekan tombol hijau di layar dan suara yang menyambutnya diseberang sana seketika membuatnya mengernyit.
"Hiks. Hiks."
Suara wanita menangis. Mungkinkah Sasuke diteror hantu? Sakura mendengarkan kelanjutan suara itu dengan perasaan berdebar-debar.
"Sasuke-kun, aku hamil."
.
.
.
.
Tbc
.
.
Karena saya tipe orang yang terburu-buru, maaf ya jika alurnya kecepatan. Hehe
Dan tentang algofobia itu berdasarkan kisah saya sebenarnya. Saya selalu takut berlebihan jika merasa sakit. Tapi ya dokter bilang itu bukan sebuah fobia, hanya rasa takut yang diwajarkan karena sifat saya yang masih childish wkwk.
Terima kasih sudah membaca, fav and foll cerita ini serta yang sudah me-review :) see you :)
.
Olivia
.
Ps: tolong jangan hajar saya. Tahan emosi sebelum kalian membaca next chapternya ya. *bungkuk-bungkuk* :v
