Disclaimer: Tentu saja Naruto miliknya Kishimoto-sensei (Sebenarnya pingin saya rebut sih…)tapi cerita ini 100% milik saya, jadi kalau mau protes proteslah pada saya, jangan pada Masashi Kishimoto-sensei. OK?

Genre:Komedi,romantis,yaoi, family dan entah apa lagi deh...

Warning:kacau, amburdul, abal-abal, bikin frustasi, EYD kacau, berantakan, bikin sakit mata. Sangat memalukan.

Kalau nggak mau pake kacamata mending jangan baca ya...

Jadi...

Nggak suka? Jangan baca.

Tapi bagi yang mau, baca ya! ^_^ please.

Tokoh: Naruto, Sasuke, Itachi, Gaara, Kiba, Kushina, minato dan Kyubi (OC) + Temari, Ino, Sakura (Figuran).

Tapi kali ini Temari, Ino, Sakura, Kiba sama Gaara nggak muncul

OK jadi mulai saja.

Naruto POV

"NARUTOOOO! BANGUN! WALAU INI HARI MINGGU BUKAN BERARTI KAU BISA BERMALAS-MALASAN!" Kushina berteriak sambil masuk ke kamar putranya, Naruto. Namun betapa kagetnya dia saat melihat keadaan Naruto, sampai-sampai membuat dia menjerit lebih keras dari sebelumnya, hingga membuat semua kaca di rumah pecah (?) "GYAAA! NARUTO, ADA APA DENGAN DIRIMU!?"

Kaget mendengar teriakan Ibu dan istrinya, Kyubi dan Minato yang tengah sarapan di ruang makan langsung menyerbu masuk kamar Naruto, takut terjadi apa-apa dengan si pirang jabrik yang satu itu.

Tentu saja perkiraan mereka benar-benar aneh, Minato misalnya, dia mengira putranya ditemukan dalam kondisi overdosis karena pakai narkoba. Atau Kyubi yang mengira adiknya bunuh diri dengan memotong pergelangan tangannya karena tak tahan menyadari kalau dirinya homo.

Tentu saja keduanya salah.

Karena saat mereka masuk, yang mereka dapati adalah sesosok tubuh yang sedang mojok di sudut kamar sambil menggumamkan mantra (?) lirih.

"Ada apa dengannya, dia seperti orang yang sudah kehilangan setengah rohnya saja?" Minato bertanya pada istrinya.

Sambil mengurut-urut kepalanya, Kushina perlahan berjalan mendekati Naruto. "Hei, Naruto. Otakmu sudah konslet atau sarafmu sudah putus semua?" tanyanya dengan lembut (?).

Kyubi ikut mendekat dan membelai-belai puncak kepala Naruto dari atas. "Ada apa denganmu?"

Naruto mendongak. Dan betapa kaget keluarganya saat melihat air mata mengalir di kedua pipi tan cowok itu.

"Jangan-jangan kau dibuli ya di sekolah?!" Kushina bertanya sambil menggoncang-goncangkan tubuh putranya. "Katakan siapa yang telah melakukannya! Akan kubuat orang itu merasakan apa itu neraka!" katanya sambil mencengkram kedua tangannya.

Benar-benar seorang ibu yang dewasa. -_-

"Atau kau telah menghamili putri seseorang?" Minato bertanya dengan nada yang lebih tenang dari istrinya. "Aduh, Naruto. Sudah berapa kali Tousan katakan kau jangan sampai main-main dengan perempuan. Bisa berbahaya akibatnya." Tambahnya.

Kyubi hanya mengernyit melihat tebakan orang tuanya.

"Kyunee-chan... Kaasan... Tousan..." akhirnya Naruto buka mulut, "Mungkin aku nyimpang!" teriaknya histeris.

"Hah?" teriak tiga orang itu bersamaan.

"Nyimpang? Jangan-jangan kau... kecanduan Narkoba ya?" tebak Kushina.

"Kecanduan narkoba?" beo Kyubi. "Mana mungkin, kalau kecanduan ramen sih, aku masih ngerti."

Minato ikut menebak, "Kau... ikut balapan liar ya?"

"Siapa? Naruto?" tanya Kyubi dengan nada tak percaya. "Tousan bercanda ya? dia ini kan anak yang menjerit histeris saat berlatih naik sepeda." Kata Kyubi sambil terkikik geli. "Lagi pula, dia kan nggak punya motor."

"Huh," dengus Kushina jengkel. "Sok tahu kamu. Memangnya kau tahu apa yang menyebabkan Naruto jadi seperti ini?" tantangnya.

Kyubi tersenyum pelan. "Pasti karena dia jatuh cinta pada laki-laki." Jawabnya yakin.

"Benarkah itu, Naruto?" pasti Minato pada putranya itu.

Namun Naruto tak perlu menjawab. Karena wajahnya yang merona telah menjawab semuanya.

"Cuma karena itu kau jadi murung?" Kushina bertanya dengan wajah tak mengerti.

Naruto mengangguk kecil. "Iya, aku takut Tousan dan Kaasan marah." Katanya pelan.

Namun Kushina dan Minato hanya tertawa saja. "Memangnya apa alasan kami untuk marah? Tak ada kan?"

"Tapi aku inio homo!" protes Naruto.

Minato tersenyum sambil mengelus rambut putranya dengan perasaan sayang. "Kurasa aku belum pernah bilang padamu kalau dulu aku harus bersaing dengan seorang gadis untuk mendapatkan ibumu."

"Eh?" tanya Naruto tak percaya, "Kaasan juga nyimpang?"

"Aku biseksual." Jawab Kushina bangga.

"Keluarga kita itu bukan keluarga yang kolot, kok." Tambah Kyubi sambil memeluk leher adiknya dari belakang. "Seperti kata-kataku, 'Cinta itu tak mengenal rupa, kasta, harta, usia dan juga gedernya. Pria ataupun wanita bukan masalah.'."

Naruto tersenyum sabil menghapus air matanya, lalu dia bangkit berdiri. "Aku sayang Tousan! Aku sayang Kaasan!" teriak cowok itu sambil memeluk kedua orang tuanya. Lalu dia berpaling pada Kyubi.

Gedis berambut merah itu mundur beberapa langkah. "Oh-oh, kau jangan bilang kau menyayangiku, lalu memelukku. Aku bisa muntah nanti." Ancamnya.

Naruto mendekat, lalu tanpa diduga dia membungkukkan badannya. "Terima kasih Kyunee-chan, atas segalanya. Domo arigato." Katanya. Lalu dia bangkit dan mencium pipi kakaknya. "Kau adalah Ane-chan terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang adik." Bisiknya pelan.

Kyubi tersenyum puas. "Itu memang tugas seorang kakak kan?" katanya. "Lalu, kau sudah memutuskan langkah selanjutnya, Naruto?"

"Ya." Jawab Naruto yakin. "Dan untuk itu aku butuh bantuan Kyunee-chan."

"Aku selalu siap, kapanpun kau butuhkan."

-seven days to falling in love-

Sasuke POV

...

From:Baka Doba (Naruto)

Sub: Temui aku di taman yang kemarin jam lima sore. Jangan terlambat!

Aku berdecak kesal saat membaca pesan singkat dari Dobe itu. 'Memangnya siapa yang biasanya terlambat?' batinku gemas

Namun aku pergi juga, sekarang aku sudah ada di taman yang sama dengan taman yang kemarin tempat aku 'memakan' Naruto (Ini bukan kiasan lho.). arlojiku sudah menunjukkan pukul 04.59. tapi tak kulihat satupun tanda-tanda kehadiran Naruto.

'Kalau sampai dia terlambat... lihat saja nanti.' Batinku kesal.

Tiba-tiba seorang gadis mendekatiku membuatku tambah kesal. Aku datang ke sini untuk bertemu Dobe, bukan untuk dirayu perempuan!

Lagipula, memangnya perempuan itu tak punya harga diri apa? Kenapa mereka sampai mau-maunya merayu cowok. Menjijikkan. Itulah alasannya kenapa aku kurang suka pada anak Hawa.

(Author ngumuk + ngambek)

"Sa...Sasuke." panggil gadis itu pelan. Namun itupun sudah cukup untuk membuatku menoleh dan melongo selama beberapa detik.

Kau tahu apa perasaanku?

Kaget? Jelas.

Tapi bukan karena gadis itu tahu namaku, yang membuatku kaget adalah... kenyataan kalau aku mengenal suara gadis itu. Itu adalah suara yang sangat kusukai sampai-sampai sering mengganggu dan merayuku dalam mimpi.

Suara orang yang kusukai.

"Na... Naruto?" tanyaku tak yakin sambil mengamati gadis itu.

Rambut pirang pendeknya jatuh dengan lembut di lehernya yang jenjang. Kulitnya berwarna tan eksotis dan matanya berwarna biru sapphire yang menggoda.

Hanya saja... dirambutnya bertengger sebuah bando berwarna orange cerah yang warnanya serupa dengan warna gaun yang melilit tubuh indahnya. Dia memakai sepatu dengan hak rendah sehingga tubuhnya masih tetap lebih pendek daripada tubuhku. Di wajahnya yang imut disapukan sedikit bedak tipis yang dilengkapi dengan make up natural. Pipinya juga bersemu kemerahan seperti mawar.

Baiklah, aku akan meralat kesalahanku tadi.

Dia bukanlah seorang gadis, melainkan seorang pemuda imut yang berpenampilan layaknya seorang gadis.

"Kau kenapa?" tanyaku sambil berusaha menyembunyikan semburat merah yang hendah menyinggahi wajahku, "Kenapa kau berpenampilan seperti itu, Naruto?"

"Karena aku menyukaimu." Jawabnya singkat.

Dan jawaban singkat itu sudah cukup untuk membuatku melongo tak percaya. "Hah?"

"Karena aku menyukaimu." Dia mengulanginya lagi.

"..."

Aku terlalu terkejut sampai-sampai tak bisa berkomentar apapun lagi. Dia bilang dia 'menyukaiku'? atau itu sebuah bahasa Pluto yang bunyinya mirip dengan kata 'suka'?

"Hei, katakan sesuatu dong! Jangan diem aja!" teriak Naruto salah tingkah dengan wajah yang sudah sangat merah, sampai-sampai aku ingin memakannya lagi. (Hehehe) ternyata walaupun penampilan luarnya berbeda, dia tetap Uzumaki Naruto. "Akh, jawab dong, Teme!" teriaknya lagi.

Aku langsung memeluknya erat dan kucium bibirnya lembut. Lalu kepeluk lagi lebih erat, dan kuhirup wangi rambutnya yang beraroma jeruk dalam-dalam. "Aku juga menyukaimu, Dobe. Dari dulu aku menyukaimu." Bisikku di telinganya.

Dia tertawa lalu membalas pelukanku.

Namun beberapa saat kemudian dia mulai meronta dan berteriak kecil. "Sesak, Teme. Aku tak bisa bernapas kalau kau memelukku seperti ini!"

Dasar tak tahu keadaan, padahal lagi asyik-asyiknya nih.

Namun kulepaskan juga, lalu kuamati penampilannya sekali lagi. "Oh, ya. Kenapa kau memakai pakaian seperti ini sih?" tanyaku dengan heran.

"Oh, ini..." kata Naruto sambil menarik-narik ujung gaunnya dengan tak nyaman. "Sebenarnya untuk antisipasi saja, siapa tahu kamu itu 'straight'." Katanya, lalu dia diam sejenak seakan memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudia dia memekik kecil. "Tadi kau bilang, kau sudah suka padaku dari dulu kan? Berarti kamu itu..."

Kuletakkan jari telunjukku di bibir mungil Naruto, membuatnya menghentikan kata-kata yang nyaris terlontar dari mulutnya. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya sehingga membuatnya kembali merona. "Jangan sebut aku 'gay'." Ancamku tajam. Lalu aku kembali menciumnya, kali ini jauh lebih dalam dan lebih panas dari yang tadi. "Kita ini 'normal'. Sama normalnya dengan semua orang yang saling jatuh cinta."

-seven days to falling in love-

Normal POV

Dari kejauhan, dua pasang mata tengah mengawasi adegan di atas lengkap dengan headphone dan teropongnya.

Siapa lagi coba, kalau bukan duo usil kita.

Kyubi Uzumaki dan Itachi Uchiha!

"Lucu sekali tingkah kita ini. Padahal kita kan bukan Stalker, tapi kakak mereka. Tapi tingkah kita kali ini memang benar-benar mirip stalker." Gerutu sang gadis berambut merah, Kyubi, sambil melepas headphonenya yang sedari tadi terus setia menempel di telinga gadis ini. "Kalau begini terus, kapan aku bisa punya pacar?"

Itachi menoleh pada gadis itu, "Kalau kau mau, aku siap memberikanmu kisah cinta yang indah."

"Manis sekali, Itachi." Jawab Kyubi sambil tertawa, "Aku tahu kau hanya bercanda, dulu kan kau pernah menolakku."

Itachi hanya tersenyum miris, tiba-tiba HP-nya bergetar. "Ada pesan dari Sasuke." Katanya menginformasikan.

From : my lovely little brother, Sasuke.

Sub: terima kasih.

Itachi mengernyit membacanya, "Hei, Kyubi. Kurasa aksi kita kali ini sudah diketahui Sasuke." Katanya sambil menyodorkan layar Hp berwarna hitam itu ke depan wajah Kyubi.

"Sudah kuduga dia tahu." Kata gadis itu tanpa ada perasaan kaget sedikitpun, membuat Itachi menatapnya seolah bertanya 'Kok bisa begitu?'. "Kalau dia tidak tahu malah aneh kan? Dia kan juga seorang Uchiha, sama sepertimu. Jenius."

Itachi tertawa. Dibalasnya pesan Sasuke.

To : my lovely little brother, Sasuke.

Sub : aku melakukannya bukan hanya untuk dirimu, namun juga untuk diriku sendiri.

Dia melirik sedikit pada Kyubi untuk memastikan gadis itu tak mencuri baca pesannya, lalu dia tersenyum. 'Ya, sebagian besar kulakukan demi diriku sendiri."

THE END!

Naruto : akhirnya selesai juga FF ini, terimakasih bagi kalian semua.

Kiba : kok kamu yang beri sambutan sih, emangnya ke mana si Author sinting itu?

Naruto : dia sedang saling men death glare dengan Sasuke di sana. (sambil nunjuk tempat Mai berdiri.)

Kiba : Wah, tumben nih. Kenapa tuh?

Naruto : Dia tak terima Sasuke bilang kalau cewek itu menjijikkan. Dia kan cewek juga.

Kiba : Hentiin sana. Bikin suasana nggak enak aja.

Naruto : Mai! Cepetan ke sini! Mau perayaan berakhirnya FF nih!

Mai : lihat saja nanti, dasar pantat ayam. (Sambil nunjuk Sasuke). Halo semuanya! Bagaimana chap terakhir ini? Mengecewakan? Maaf deh. Habisnya saya sama sekali nggak bisa nulis cerita cinta sih. Hehehe.

Naruto: daripada cuap-cuap nggak penting mending balas review sana!

Mai : Iya, tahu. Dasar berisik!

Chapter kali ini saya tulis di warnet saat pulang cepat karena saya nggak ikut karya wisata ke Bali. Alasanya karena... kalau ke Bali, nanti saya nggak update dong. (Boong kok, alasan sebenarnya karena males ke Bali kok). Nah seperti kata Naru-chan, mending saya bales dulu review dari semuanya sebelum saya mulai ngelantur. Yak, cekidot!

1.NiMin Shippers: iya, makasih ya, ini chap terakhirnya, saya persembahkan, hehehe.

2.devilojoshi : kencannya kurang panjang? Maunya sampe malem gitu? Pinginnya mai juga, tapi mengingat ratenya T, apa boleh buat (Mengelak, ngomong aja nggak bias buat adegan XXX)

3.Mrs Kim siFujoshi : kali ini Naru dimakan bibirnya deh hahaha (Padahal udah 2 kali dimakan juga kan?) soal gaara kiba, mungkin emang nggak bias dibayangin. Mengingat keduanya Uke. Tapi mai milih mereka karena… pernah kebawa mimpi. Lihat gaara ciuman sama Kiba… alas an yang nggak bermutu memang.

4.sheren : Inilah the last chap nya… maaf kalau aneh dan mengecewakan.

5.kkhukhukhukhudattebayo : disini Naru yang nembak Sasu, bukan sebaliknya. Maaf deh. Tapi yang penting mereka bersama kan?
6.Gunchan CacuNalu Polepel : kyaaa… Mai dimakan! Kaburrrrr….. Em… sebenarnya adegan itu dari pengalaman pribadi valentine tahun lalu lho. Hahaha… kalau diinget-inget lagi… rasanya malu! _

Makasih buat kalian yang udah nge favoritin cerita abal ini :HyuuShiina-san , Mrs Kim siFujoshi, , ikhaosvz, kkhukhukhukhudattebayo, 4ever

Lalu buat yang nge follow juga sangat terima kasih, kalian benar-benar baik : Akaina Fujoshi, KyouyaxCloud, NiMin Shippers, Sora asagi, devilojoshi, kkhukhukhukhudattebayo, 4ever

Tak lupa buat yang udah nge review sampe sebanyak ini, aku benar-benar terharu. Serius. Sampe nangis malah. Kalian temanku yang sangat berharga.

Juga para reader.

Pokoknya TERIMA KASIH!

Plus iklan dulu : pingin tahu kelanjutan hubungan Kyubi dan Itachi, baca FF mai berikutnya.HAPPILY EVER AFTER, ok?