Chapter ini modelnya sama kayak chapter pertama: kejadian yang terjadi di kelas Fei hari ini ._.
Yah, bedanya kalo di fict ini dramatisir plus plus, kalo di kenyataannya itu gak ada roman sama sekali. Eh ya, mau curcol dikit. Kan tadi kelas Fei disuruh gambar item-putih. Masalahnya, Fei paling gak bisa bikin gambar item-putih, karena hidup itu harus berwarna! (curcol macam apa ini? *ditendang para dosen*)

Ng, makasih lagi kepada yang sudah RnR!

.

Disclaimer: Kishimoto Masashi. Jika fandom ini punya Fei, maka Neji dan Itachi gak bakal tewas, serta yang mendapatkan ciuman pertama Kakashi adalah Fei dan bukan Hanare! #dor

Warning: AU, Universitas Konoha adalah satu-satunya universitas disini.

.

.

I For You
~Chapter 7: Yang Terakhir?~

by Fei Mei

.

.

Semester delapan. Ini akan menjadi semester terakhir untuk Hinata dan teman-teman seangkatannya. Ya, berharap saja mereka bisa menyusun skripsi dengan baik agar bisa lulus semester ini, agar tidak perlu mengulang semester.

Anggota kelas untuk semester terakhir ini pun teranyata orangnya ya itu-itu juga. Tidak ada anggota kelas yang berubah. Dosen-dosen yang masuk ke kelas mereka pun rata-rata sudah pernah masuk ke kelas mereka di semester-semester sebelumnya. Karena itu, para dosen sudah hapal setiap tabiat dari kelas Hinata. Salah satu dosen yang sudah sangat hapal adalah Hatake Kakashi.

Akhirnya Kakashi kembali ke Universitas Konoha lagi setelah tiga bulan 'menghilang' dan tak ada kabar. Sejak kejadian Hinata berlari keluar dari ruangannya sambil menangis, Kakashi langsung menghilang saja dari warga Universitas Konoha. Tak seorang pun pernah melihat batang hidungnya sejak saat itu. Bahkan Sasori yang merupakan temannya sendiri pun tidak tahu menahu. Seakan Kakashi menghilang ditelan bumi begitu saja.

Tetapi di hari pertama semester delapan kelas Hinata, warga kelas itu dikejutkan oleh sosok dosen termuda yang akhirnya terlihat lagi batang hidungnya –Hatake Kakashi. Yep, lagi-lagi ternyata Kakashi akan menjadi dosen di suatu mata kuliah mereka. Untungnya pria berambut perak ini bukanlah dosen utama maupun dosen pengajar, alias kalau kata-kata kasarnya ia hanyalah dosen pajangan saja.

Seminggu kemudian, di hari, jam, dan tempat yang sama, Kakashi masuk ke kelas Hinata lagi. Dan hari itu Kakashi membawa 'kabar buruk' bagi kelas itu.

Pertama, ternyata dosen utama sekaligus dosen pengajar kelas hari itu tidak dapat hadir. Dan Kakashi sendiri baru mendapat kabar itu semalam, sehingga ia tidak sempat menyiapkan materi pembelajaran yang harusnya disampaikan hari itu.

Kedua, sebenarnya minggu lalu si dosen utama alias Kurenai sudah menugaskan para mahasiswa kelas itu untuk menyiapkan sebuah presentasi. Tetapi, walaupun Kurenai tidak masuk, presentasi harus tetap berlangsung.

Ketiga, karena Kakashi yang menjadi dosen utama menggantikan Kurenai untuk hari itu, maka penilaian presentasi pun jadi diserahkan para pria menyebalkan satu itu.

Sudah, tiga saja kabar buruknya. Tetapi mungkin kabar buruk ketiga itu yang paling membuat warga kelas takut. Jelas saja. Kakashi sangat pelit nilai. Hobinya menanyakan hal yang sebenarnya ia sudah tahu –dan ia tidak akan berhenti bertanya sampai ia mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Dan tambahan lagi, tatapan matanya sangat mengintimidasi –ini sangat menyebalkan terutama untuk Hinata sendiri.

Untungnya, presentasi dilaksanakan sesuai dengan nomor urut absensi kelas. Hari ini adalah hari presentasi bagi nomor absen satu sampai sepuluh. Huh, untung sekali, Hinata ada di nomor absen 19, berarti gilirannya masih minggu depan. Yep, ia dan teman-temannya yang bernomor absen 11 sampai 30 hanya bisa mendoakan 'keselamatan' teman-teman mereka yang harus presentasi di hadapan Kakashi.

Hari itu Hinata duduk di barisan ketiga dari depan, dan ia ada tepat di tengah, sehingga ia bisa melihat papan tulis dengan nyaman tanpa harus memiringkan posisi duduknya. Selama presentasi berlangsung, agar bisa melihat dan menilai dengan baik, Kakashi duduk di depan dan tepat di tengah. Berarti pria dengan gaya rambut melawan gravitasi itu duduk tepat dua kursi di depan Hinata. Di samping kiri Kakashi ada Ino, dan di kanan pria itu ada Sakura. Bukan, Kakashi bukannya menyuruh salah satu dari kedua gadis ini untuk mengosongkan kursi di tengah mereka, tetapi memang dari awal kursi tersebut kosong –jadinya ya, Kakashi langsung duduk saja disana.

Selama presentasi berlangsung, ada beberapa hal yang mengganggu pikiran Hinata. Tidak, gadis berambut ungu itu bukannya memusingkan materi presentasi yang dibawakan teman-temannya, tetapi ia memikirkan tentang Kakashi si dosen super duper amat sangat menyebalkan sekali kuadrat plus plus. Nah kan, sampai gelar 'menyebalkan'nya pun panjang sekali.

Pertama, Hinata masih mengingat fakta bahwa Kakashi adalah si Takoyaki Bulat –komentator setianya di setiap entry yang ia tulis di blog. Yep, entry yang sering gadis itu tulis adalah tentang Kakashi, dan pria itu sendiri menorehkan komentar pada tulisan mengenai dirinya sendiri.

Kedua, gadis itu juga ingat alasan pria menyebalkan satu itu sering mengerjainya. Dengan cueknya si dosen berkata bahwa mengerjai Hinata itu seru, asyik, menyenangkan, bla bla bla. Sungguh, rasanya Hinata ingin sekali mencekik leher jenjang pria itu!

Ketiga, ia kasihan dan meratapi nasib teman-temannya yang maju presentasi hari ini. Setiap presentasi usai, Kakashi pasti akan mengajukan pertanyaan pada si presentator tentang materi yang mereka bawakan. Sudah banyak bertanya, nadanya 'nyolot', tatapan matanya mengintimidasi pula. Walau Hinata bukanlah korban dari pertanyaan yang diajukan Kakashi, tetap saja gadis itu –dan teman-temannya yang lain- sering sebal sendiri saat Kakashi mengajukan pertanyaan pada presentator dengan berkata: "Kamu tahu itu darimana?", "Yakin kejadiannya seperti itu?", "Bagaimana kamu bisa yakin?", dan pertanyaan semacam itu lainnya. Sungguh, rasanya warga kelas itu ingin sekali mengeroyok si dosen beramai-ramai!

Keempat sekaligus yang terakhir. Hinata kepikiran dengan perkataan Temari. Tiga bulan yang lalu Hinata tanpa sadar mengakui ia menyukai dosen menyebalkan itu pada Temari. Dan sampai saat ini, gadis berambut ungu panjang itu masih mempertanyakan perasaan hatinya. Sewaktu Kakashi 'menghilang' dari kampusnya, Hinata cukup lega karena itu berarti ia tidak perlu bertemu dengan si pria –karena entah kenapa hatinya belum siap. Tetapi kini pria itu datang lagi, malah sekarang duduk di antara dua gadis. Dan selama presentasi berlangsung, Hinata melihat Kakashi asyik mengobrol dan bercanda dengan Ino dan Sakura yang duduk disamping si dosen. Ini menyebalkan. Sungguh, entah kenapa Hinata jadi kesal sendiri melihatnya.

Eh?

Tunggu dulu.

Masakah...

Masakah Hinata merasa cemburu?

.

.

Akhirnya presentasi usai untuk hari itu. Kakashi sudah selesai menilai sepuluh orang 'beruntung' yang telah presentasi di hadapannya. Oke, berarti saatnya si dosen untuk me-review materi yang sudah dibawakan sepuluh orang itu sebelumnya.

Seperti biasa jika ingin bicara di depan kelas, Kakashi akan menarik satu meja mahasiswa yang tak terpakai, lalu duduk di atasnya dengan tampang tanpa rasa bersalah. Oke, sebenarnya memang tidak ada aturan bahwa duduk di atas meja itu dilarang. Tapi kan...ah, sudahlah.

"Saya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan tadi itu hanya untuk mengetes kalian –apakah kalian memang mengerti materi yang kalian sampaikan," ujar Kakashi, tanpa ekspresi seperti biasa. "Makanya minggu lalu Yuuhi sensei bilang agar kalian mencari materi lewat buku, bukan dengan internet. Tetapi sepertinya kalian malah asyik mencari materi dengan cara kalian sendiri."

Lalu Kakashi pun menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang tadi ia lontarkan pada 10 presentator. Ia menjelaskan dan menjabarkan semuanya satu persatu. Tentu saja, dengan nada menyebalkan, tatapan mengintimidasi, kata-kata kasar, dan tentunya masih duduk di atas meja.

"Dengar ya, ini adalah semester terakhir kalian di universitas," tegas Kakashi, melihat para mahasiswa di kelasnya sudah memasang wajah datar. "Kalian itu mahasiswa, bukan anak sekolahan lagi! Ini adalah universitas, bukan sekolahan! Dan saya disini sebagai dosen, bukan guru! Jadi kalau saya berbicara di depan, kalian boleh mengkritik dan membenarkan perkataan saya yang salah."

Ng, sudah berapa kali, ya, kira-kira Hinata dan teman-teman sekelasnya mendengarkan 'pidato' yang serupa dari dosen lainnya? Tapi pidato tersebut biasanya diucapkan oleh dosen di tahun pertama para mahasiswa baru. Hellooo, mereka sekarang sudah tahun terakhir, berarti Kakashi telat memberikan ceramah dengan teman seperti ini.

Uh, sudahlah.

Sekarang Kakashi sedang menyampaikan materi. Ya, ia memang belum sempat menyiapkan materi yang harusnya dibawakan oleh Kurenai. Tetapi pria itu berusaha untuk menyampaikan hal berhubungan dengan materi semampunya. Ia pun mulai menuliskan bagan-bagan di papan tulis menggunakan spidol.

Hinata menoleh ke sebelah kanannya. Temari, teman sebangkunya mencoba mengajak gadis berambut ungu itu mengobrol pelan.

"Kau tahu tidak, sih," ujar Temari pelan. "Sifat dan tulisan Kakashi itu berantakan semua."

Gadis berambut ungu itu setuju pada keluhan temannya. Yep. Tulisan Kakashi di papan tulis itu akan membuat matamu sakit, membuat kau merasa lensa kacamatamu harus dipertebal, atau bagi yang matanya normal akan merasa bahwa mereka harus segera periksa mata.

Dan tentu saja, sifat Kakashi itu berantakan, tidak beraturan, sulit ditebak. Giliran tegas, tegasnya itu bisa membuat anak TK menangis sejadi-jadinya. Giliran baik, mungkin anak TK akan tertawa kegirangan. Oh, tunggu, Hinata adalah mahasiswi, bukan anak TK.

Akhirnya jam tangan Hinata menunjukkan pukul satu siang. Akhirnya mereka bebas juga dari kelas Kakashi!

Sepertinya si dosen juga sadar bahwa sudah saatnya ia mengakhiri kelas hari itu. Ia pun berhenti menjelaskan materi, lalu membereskan barang-barangnya. Seperti biasa, sebelum ia keluar dari kelas Hinata, pria itu akan 'mengerjai' gadis berambut ungu itu, sama seperti yang pernah ia lakukan dulu.

"Hyuuga, buatkan aku secangkir kopi hitam tanpa gula, lalu bawa ke ruanganku," pesan Kakashi, tanpa ekspresi. "Cepat dan tidak pakai lama."

.

.

Masih menggerutu dan merutuki dosennya yang menyebalkan itu dalam hati, Hinata kini sudah berada di depan pintu ruangan Kakashi sambil membawa secangkir kopi yang pria itu pesan. Gadis itu mengetuk pintu dengan pelan, lalu membuka pintu berwarna coklat di hadapannya.

Di dalam, Hinata melihat Kakashi sedang duduk berhadapan dengan komputer di meja kerjanya. Sambil mengetik sesuatu pada keyboard komputernya, pria itu menyuruh Hinata menaruh cangkir kopi di meja biasa. Sesudah melakukan seperti apa yang diperintahkan sang dosen, gadis itu langsung melangkahkan kakiknya, ingin segera pergi dari ruangan dan situasi yang 'mencekam' buatnya.

"Hyuuga," panggil Kakashi, menghentikan langkah kaki Hinata. "Setahuku, urusanku denganmu masih jauh dari kata selesai."

"Memangnya...aku punya urusan apa dengan sensei?" tanya Hinata, benar-benar tak mengerti.

"Jika kau sudah sampai kamar kosmu nanti, segera buka blog-ku. Baca baik-baik entry yang kutulis disana," ujar Kakashi, sambil terus mengetik.

"Eh?" tanya Hinata, masih tidak mengerti.

"Itu saja, kau boleh meninggalkan ruangan ini sekarang," kata Kakashi, yang akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar monitor dan melirik pada gadis yang ada di ruangannya.

Masih dalam rasa kebingungannya, Hinata melanjutkan langkah kakinya menuju pintu. Tetapi tiba-tiba Kakashi memanggilnya lagi dengan suara pelan. Nada Kakashi saat memanggil namanya kali ini sangat berbeda. Bukan dengan nada dingin, bukan dengan suara mengintimidasi, bukan seperti jika ia sedang ingin mengerjainya. Tetapi pria itu memanggilnya dengan lembut, amat sangat lembut, yang mana setiap perempuan mungkin akan meleleh mendengarnya.

"Ada apa lagi, sensei?" tanya Hinata, membalikkan tubuhnya untuk menatap si dosen lagi.

"Mungkin...ini akan menjadi yang terakhir kalinya..." ujar Kakashi pelan, menatap Hinata dengan sendu, dan tersenyum tipis.

.

.

~TBC~

.

.

Percaya gak, kalo Fei rasanya pengen cepet-cepet tamatin fict ini? Masalahnya cuman satu: gimana ending-nya? Ending yang udah kebentuk di otak Fei itu adalah sad ending. Tapiii...Fei jadi menggalaukan kemungkinan ending-ending lainnya #dor

Eh iya, jangan lupa vote di akun ffn Fei ya~

REVIEW!