Fic ini minim bahasa Jepang. Terkontaminasi dengan bahasa-bahasa dari Negara lain, lebih dominan ke bahasa Jerman. Dan juga, Gaara tidak ada hubungan darah dengan Temari disini. Jadi kalau tidak suka, just klik back button, ok?
.
Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance, Fantasy, Friendship
Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.
Pairing : Sasusaku, Naruhina, Shikatema,
Gaamatsu, Saiino, SasoFem!Dei
Happy reading!
.
Pagi kembali menjelang. Langit pagi terlukiskan dengan burung-burung gereja yang terbang kesana kemari disertai kicauan-kicauan merdu yang tercipta dari paruh mungil mereka. Lapisan biru langit yang cerah itu dihiasi oleh Sang Mentari yang menjalani kewajibannya seperti biasa. Hawa pagi menyebar seakan memotivasi umat manusia menjalani aktivitas mereka dengan semangat yang membara.
Disini, begitu riuh dengan suara siswa-siswi yang berbincang-bincang di taman yang terletak di halaman depan sekolah Louise International High School. Terlihat beberapa siswa tengah bercengkrama di taman itu, ada juga yang mendiskusikan materi pelajaran mereka di gazebo-gazebo yang disiapkan oleh sekolah. Tempat yang strategis untuk menjernihkan pikiran dan mencari suasana yang bagus setelah kepenatan para siswa di kelas mereka. Ditemani dengan beberapa jenis bunga yang bermekaran dalam berbagai warna.
Seorang gadis berambut indigo panjang dan pemuda berambut kuning spikey adalah salah satu dari siswa-siswi itu. Mereka sedari tadi menyibukkan diri dengan buku-buku yang berada di sekitar mereka. Sekali-sekali mereka tertawa bersama karena gurauan-gurauan ringan yang mereka ucapkan. Sekali-sekali mereka menyantap sepotong Blueberry cake berdua serta segelas jus sirsak dan jus alpukat. Ternyata sarapan sepiring berdua, eh?
"Hinata! Naruto!" teriak seseorang memanggil nama mereka.
Mereka yang merasa di panggil dengan suara sekeras itu langsung mengalihkan pandangan mereka kepada Si Pemanggil. Temari, kakak kelas mereka sekaligus senior mereka menghampiri mereka dengan tergesa-gesa dan nafas yang memburu.
"Tenangkan dirimu dulu, Temari-nee." Temari menuruti kata Naruto dengan menarik nafasnya lalu membuangnya. Ia lakukan beberapa kali hingga ia merasa rileks. Hinata medudukkan temari di sebelahnya, membantunya mengistirahatkan diri Temari.
"Nah, sekarang ceritakan apa yang membuatmu seperti ini, Temari-nee," kata Hinata.
"Aku menemukan ini di depan markas kita. Aku ingin memberitahukan kepada kalian tapi kalian sudah berangkat duluan dariku." Temari menyerahkan selembar kertas yang ia simpan di saku kemeja hitam seragamnya.
Hinata dan Naruto mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti. Raut wajah kaget bercampur amarah tercetak jelas di wajah kedua insan ini.
"Apa-apaan lagi mereka ini? Cari masalah saja dengan kita!" geram Naruto dengan kesal. Hinata yang melihat senpai-nya itu hampir meledak amarah segera menenangkannya.
"Temari-nee sudah memberitahu hal ini kepada yang lain?" tanya Hinata. Lalu disambut oleh anggukan kepala Temari.
"Ini, sudah tidak bisa ditahan lagi. Saatnya kita angkat senjata!" Naruto meremukkan kertas kecil itu lalu melemparkannya dengan kuat kearah tong sampah yang berada di dekat mereka.
Hai kalian semua!
Kita bertemu di Mintla Creamybush St. Aku akan memberikan permainan yang menyenangkan buat kalian. Haha.
From: Your enemies
.
.
.
CKLEK!
KRIETT
"Selamat pagi, sayang." Suara pemuda yang dingin itu mampu membangunkan gadis kuning yang tertidur di seberangnya. Perlahan ia berjalan mendekati gadis yang berada dalam kondisi yang menyedihkan, berlumuran darah dan baju seragam yang compang-camping. Melihat itu, ia menyinggungkan senyuman penuh kemenangan.
"Bagaimana tidurmu? Indahkah?" tanya pemuda itu dengan sinis. Sekali-sekali tangannya yang kekar itu merapikan rambutnya yang merah semerah batu bata.
Ia menyentuh pundak gadis yang rapuh itu. Namun, yang disentuh malah bergerak mundur sambil menatap pemuda itu dengan tatapan horor. Tubuhnya gemetaran dengan takut, kepalanya tertunduk memasrahkan diri apa yang akan terjadi dengan dirinya.
"Kenapa menghindar, hm? Tenang, penyelamatmu sebentar lagi akan datang. Tapi sayang, aku ingin memberi mereka waktu untuk bermain terlebih dahulu," ujarnya dengan suara memelas. Lalu diikuti dengan tawanya yang menyeramkan.
Manik hazelnut-nya yang berkilat itu menatap Deidara dingin. Lalu, meninggalkan gadis itu sendirian diruangan itu lagi. Diruangan yang dingin dan gelap.
"Bawa dia ke Cribble St.! Sekap dia di rumah cabang organisasi kita yang ada disana!" perintah Sasori.
Mendengar itu, Deidara diam-diam memberi sebuah tanda di dinding kayu tersebut. Berbekal paku yang tajam, ia menggambarkan sesuatu sebagai tempat ia di sekap selanjutnya.
'Please, bebaskanlah aku, teman-temanku!' batinnya.
.
.
.
Ino sedang menyusuri koridor yang begitu asing bagi dia. Beberapa kali ia mendapatkan tatapan tak suka dari beberapa siswa yang melewatinya. Membuat Ino risih melihatnya. Sejenak ia menundukkan wajahnya dan memegang erat buku yang ia bawa. Tapi, itu tak mengurungkan niatnya untuk mencapai tujuannya yang hampir sampai beberapa kelas lagi yang ia lewati. Ya, tujuan yang begitu penting yang ingin di sampaikan. Tentang hidup dan mati temannya yang berada di ujung tanduk.
TAP.
Kini, pintu kelas yang tertulis 'XII-1' itu berada di depan matanya. Ia memasukinya dengan sedikit malu dan ragu. Ya, ia merasa malu akan tatapan intimidasi yang lagi-lagi terpancar untuknya. Ia terus berjalan, hingga akhirnya senpai-nya yang bagaikan mayat hidup itu berada di depannya.
"Bonjour, Sai-senpai." Ia menyapa pelan senior-nya itu. Masih dengan kepala pirangnya yang tertunduk.
"Morning, Ino. Ada apa kau kemari?" tanya Sai.
Yang ditanya tidak menjawab. Sai merasa ada sesuatu yang aneh disekitarnya menatap sekeliling kelasnya. Pantas Ino merasa tak nyaman disini, teman sekelas wanitanya semua menatap Ino iri. Iri akan kecantikannya mungkin? Sai yang mengetahui itu menarik Ino keluar dari kelas dan membawanya ke taman belakang sekolah.
"Ada apa kau menemuiku, Ino?"
Ino menatap senior-nya itu. Lalu mengeluarkan smartphone-nya yang berada di saku rok sekolahnya. Menunjukkan sebuah foto kepada Sai yang mampu membuat Sai sedikit terkejut.
"I-ini, surat dari mereka?" Ino mengangguk.
"Apa ini dari unsere Feinde?" tebak Sai. Berharap tebakannya ini tidak meleset. Sama sekali tidak.
Ino mengangguk. "Oui, sepertinya mereka benar-benar menantang kita."
"Sepertinya, tubuh kita akan penuh dengan kepedihan, Ino. Darah yang kini mengalir dalam tubuh kita mungkin juga akan berkurang." Sai fake smile seperti biasa. Namun, fake smile-nya kini membuat Ino tersenyum penuh arti. Dan aquamarine-nya yang cerah itu berkilat penuh amarah.
.
.
.
Pagi telah berlalu. Berganti dengan siang yang semakin terik panasnya. Seolah menjadi cobaan untuk menghentikan aktivitas dan bermalas-malasan di rumah. Tapi, tidak untuk beberapa remaja ini. Sepulang sekolah, mereka segera melesat ke sebuah jalan yang menjadi tujuan utama mereka. Mintla Creamybush St., mobil mereka telah berbaris parkir di sepanjang sisi jalan tersebut.
"Sekarang, kita harus kemana?" tanya Ino sambil melihat kesana-kemari. Siapa tahu ia mendapat pencerahan dari Kami-sama.
Sasuke terdiam sejenak, memikirkan jawaban untuk pertanyaan Ino. "Coba kalian cari di sekitar sebuah petunjuk selanjutnya. Aku yakin pasti ada petunjuk yang lain."
Mendengar komando dari Sasuke, mereka melaksanakannya dengan berpencar. Menyusurinya dengan teliti dan tidak melewatkan sedikitpun kejanggalan. Mereka sibuk mencari di balik semak-semak, pohon, ataupun kotak pos rumah-rumah yang ada di sana.
"Hei, Shikamaru," panggil Temari. Yang dipanggil hanya memberi respon tatapan 'ada-apa-?'
"Lihat! Ada sesutau yang mencurigakan!" bisik Temari kepada Shikamaru. Jari telunjuknya menunjuk sebuah pintu di salah satu rumah yang mereka lewati.
"Lavender?" Shikamaru mengernyitkan alisnya.
Temari mengangguk. "Apa tidak aneh tulisan 'Lavender' itu tertempel di sebuah pintu berwarna ungu pastel?"
Shikamaru menatap Temari sejenak, lalu berjalan mendekati pintu itu. Mengamatinya dengan seksama. "Aneh, memang."
Temari yang serius memikirkan arti dari 'Lavender' itu membuyar seketika ketika ia merasakan sesuatu yang menggelikan di kakinya. Dengan ragu-ragu ia melihat kaki putihnya, dan sedetik kemudian, ia berteriak, "AAA!"
Shikamaru terkejut mendengar teriakan yang memekakkan telinga itu. Membuat konsentrasi yang ia bangun dengan kuat itu runtuh dalam sekejap. Namun, yang membuatnya lebih terkejut lagi, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.
Temari memeluknya dengan erat, dengan mata terpejam. Meskipun hanya untuk menghindari diri dari serangga.
Shikamaru sempat merona dengan tipisnya, "Ha-hanya kecoa, Temari."
Temari seketika membuka lebar matanya dan melihat siapa yang ia peluk. Mengetahui itu, ia dengan kikuk melepaskan pelukan eratnya dari Shikamaru. Ia menolehkan kepalanya kearah samping guna menutupi wajahnya yang memerah menahan malu.
Shikamaru yang mengetahui sikap kikuk Temari hanya bisa tertawa geli. "Kau ini lucu sekali."
Temari menatap kesal Shikamaru dan menghentakkan kakinya diatas lantai marmer yang ia pijak. Ketika ia hendak menyumpah serapahkan pemuda itu, dua temannya datang menghampirinya dan Shikamaru.
"Hei, apa yang kalian lakukan disini?" tanya seorang pemuda seumuran dengan Shikamaru.
"Tidak ada," kilah Shikamaru. "Apa kalian sudah mendapatkan sesuatu, Sai?"
Pemuda yang di panggil Sai itu tidak menjawab pertanyaan Shikamaru. Membuat pemuda nanas ini sedikit jengkel. Melihat itu, gadis yang berada di samping Sai langsung menjawabnya,"belum. Kalian?"
"Sepertinya, kami sudah menemukan secercah cahaya putih disini." Temari tersenyum tipis, mata teal-nya bergerak menuju tulisan aneh yang mereka temukan. Sai dan Ino yang mengetahui itu mengangguk paham.
"Apa maksudnya itu?" tanya Sai.
"Lavender. Apa kalian melihat sesuatu yang berhubungan dengan kata itu? Kurasa, bukan tentang pintu ungu ini." Shikamaru mendudukkan dirinya di lantai marmer yang dingin itu. Ia merasa lelah meskipun hanya otak cerdasnya yang bekerja.
Mereka hanya menggelengkan kepala dengan pelan, sebagai jawaban dari pertanyaan Shikamaru. Keheningan sempat melanda mereka. Hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya smartphone hitam Temari membuyarkan suasana keheningan itu.
"Hallo. Ada apa kau menelponku, Sakura?"
"Ach, aku menemukan sesuatu!"
"Was ist das?" Temari mendengar suara 'kresek-kresek' disebrang sana. Membuat Temari menjauhkan sedikit smartphone itu dari telinganya.
"Ach, ini dia! Aku dan Sasuke menemukan sebuah ukiran aneh di sebuah papan yang tersimpan di balik semak-semak. Disana terukir huruf 'F'. Aneh sekali." Di seberang sana ia menatap lekat-lekat benda tersebut.
"Huruf 'F'?" Di seberang sana Sakura mengangguk menanggapi pertanyaan Temari.
"Ja. Aku dan Sasuke juga melihat huruf ini di cat dengan asal-asalan dengan cat berwarna putih. Aku rasa ia terburu-buru membuat petunjuk ini."
"Ok. Apa kalian melihat sesuatu yang aneh lagi?"
Sakura menatap Sasuke sejenak. Melemparkan pertanyaan yang dilontarkan Temari kepada ketua team-nya itu. Sasuke yang mengerti maksud Sakura hanya menggeleng. "Tidak ada, atau mungkin belum ada Bagaimana dengan mu, Temari-nee?"
"Aku menemukan sebuah pintu bertuliskan 'Lavender'. Apa sedari tadi kalian meihat beberapa bunga Lavender?"
"Nein. Adakah clue lain yang sudah kalian dapatkan?"
"Tidak ada."
"Baiklah. Kata Sasuke, ia ingin kita berkumpul di tempat awal. Sebarkan informasi ini untuk yang lain."
"Baiklah." Temari memutuskan sambungan teleponnya sebagai tanda ia tyelah memutuskan percakapannya dengan wakil team-nya. Lalu menatap ketiga teman satu team-nya yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu itu.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Temari memundurkan sedikit badannya.
"Apa Sasuke dan Sakura menemukan sesuatu?" tanya Shikamaru dengan nada suara mengintimidasi Temari.
"Ya, dan sepertinya sangat berkaitan dengan clue yang kita dapatkan," Temari menekankan kata 'sangat' sembari tersenyum penuh arti. "Sekarang Sasuke meminta kita semua untuk berkumpul tempat awal kedatangan kita. Ia juga minta informasi ini di sebarkan."
Mereka semua mengambil ponselnya, lalu menghubungi rekan sesame team mereka.
.
.
.
"Oke semuanya! Apa semuanya sudah lengkap di antara kita?" tanya Sasuke. Sasuke menatap Sakura seakan member kode untuk mengabsen mereka satu-satu. Iris yang sewarna dengan klorofil itu mulai mengamati setiap orang yang berbaris di depannya. Setelah selesai, ia menatap Sang Ketua Team. "Semuanya lengkap, Sasuke!"
"Sekarang selain aku, Sakura, Temari-nee, dan Shikamaru-nii, siapa yang mendapatkan clue tentang tempat penyekapan Deidara?" Sasuke mengedarkan pandangannya, iris yang gelap segelap malam itu mengamati satu-satu mereka semua. Berharap salah seorang dari mereka membuka mulutnya menjawab pertanyaan penting yang ia lontarkan.
Untungnya, Gaara dan Matsuri mengangkat tangannya secara bersamaan. Melihat itu, Sasuke hanya mengangguk mempersilahkan mereka melaporkan apa yang mereka temukan.
"Aku dan Matsuri tak sengaja menemukan sebuah kertas yang telah kusam dan sedikit robek. Disana tertulis barat adalah peraduanmu, bersembunyi dibalik tingginya duri yang menjulang. Melihatnya bersamamu, aku merasa nyaman. Bagiku dan Matsuri, kata-kata itu sedikit aneh. Karena kertas kusam itu tertancap dengan paku yang masih baru di salah satu pagar di rumah itu." Gaara menunjukkan sebuah rumah bercat dinding putih dengan jari telunjuknya.
"Barat adalah peraduanmu, bersembunyi dibalik tingginya duri yang menjulang. Melihatnya bersamamu, aku merasa nyaman. Lagi-lagi hal aneh," keluh Sakura sembari menekan pelipisnya yang sedikit berdenyut. Memikirkan hal-hal yang tersembunyi dibalik kalimat-kalimat itu cukup membuat Sakura merasa sedikit sakit kepala.
Sasuke terdiam sejenak, lalu membuka kembali suaranya, "ada hal yang ingin di katakan lagi?" Dan pertanyaannya hanya dijawab oleh keheningan.
"Baiklah. Dengarkan baik-baik. Aku dan Sakura menemukan sebuah papan kayu berukiran huruf 'f' yang dicat dengan asal-asalan berwarna putih. Lalu, Temari-nee dan Shikamaru-nii menemukan sebuah pintu bertuliskan 'Lavender'. Dan ditambah lagi dengan laporan dari Gaara dan Matsuri, aku rasa semua ini benar-benar berhubungan. Tapi, adakah yang mau membantuku memecahkannya?" Sasuke menjelaskan dengan panjang sembari menatap mereka satu persatu. Berharap otak mereka yang cerdas itu menemukan jawaban dari segala clue yang mereka dapatkan.
"Aku hanya bisa membaca dibagian pintu bertuliskan 'Lavender'. Aku rasa, mungkin itu adalah ciri yang terlihat diantara semua rumah yang dibangun area ini," ujar Naruto.
Bang! Satu pintu misteri telah terbuka. Dan itu disambut oleh anggukan paham dari mereka.
"Ya, benar juga. Sekarang, bagaimana dengan huruf 'f' berwarna putih itu?" Sakura menuliskan clue pertama di notes yang kebetulan ia bawa.
"A-ano, kalau huruf 'f' itu sepertinya adalah sebuah kata petunjuk. Tapi, aku tak tau kata apa yang berawal dari 'f'. Tidak mungkin futon," sahut Hinata.
"Flower," celetuk Ino. "Jika 'f' adalah flower, maka putih adalah warnanya."
Sakura menuliskan clue yang baru saja terpecahkan. "Oh mein Gott, bagian ini adalah yang tersulit. Kata-kata itu sepertinya agak sedikit susah di pecahkan."
"Sepertinya aku tau." Shikamaru maju selangkah dari tempatnya. Ia menatap Sasuke dan Sakura dengan tatapan serius.
"Barat adalah peraduanmu, bersembunyi dibalik tingginya duri menjulang. Pasti kalian akan mengira itu adalah matahari atau sesuatu yang berbentuk matahari. Tapi, itu adalah letak dari salah satu rumah yang menyekap Deidara. Tingginya duri yang menjulang adalah pohon durian yang tertanam di halaman rumah tersebut. Lalu, Melihatnya bersamamu, aku merasa nyaman itu adalah kalimat tambahan untuk menyamarkan keanehan yang terlihat. Ya, meskipun itu terlihat aneh bagi kita," ujar Shikamaru.
Sakura yang sibuk menuliskan apa yang dikatakan Shikamaru itu akhirnya menyimpan penanya di saku rok sekolah yang berwarna abu-abu itu. "Baiklah, sebaiknya kita mencari rumah tersebut."
Mereka menyusuri tiap sudut Mintla Creamybush St. bersama-sama. Mengamati tiap rumah yang sesuai dengan beberapa clue yang mereka dapatkan. Hingga akhirnya suara cempreng Ino mengalihkan pandangan mereka semua.
"Lihat! Sepertinya kita menemukan apa yang kita cari," kata Ino sembari menunjuk sebuah rumah bercatkan lavender dan beberapa tanaman bunga mawar putih tertanam dihalaman rumahnya. Melihat itu, mereka langsung menghampiri rumah itu dan membuka paksa pintu yang terkunci rapat itu.
"Percuma saja. Pintu ini dibuka dengan angka sandi." Gaara mendekati sebuah benda persegi panjang di sebelah pintu itu. Mengamatinya dengan seksama. "Kira-kira apa kata sandinya? Kita belum menemukannya tadi. Dan dilihat dari jenisnya, ini hanya bisa digunakan sekali. Sekali salah memasukkan kata sandi, maka pintu ini akan terkunci selamanya."
Semuanya terdiam. Bergelut dengan pikiran masing-masing. Bergelut dengan hipotesa mereka yang memungkinkan cocok dengan angka sandi tersebut. Bahkan, pemuda yang di kenal pintar–Shikamaru– masih belum menemukan titik terangnya.
TIT TIT TIT
Suara itu mengejutkan mereka semua, mereka seketika melihat ke sumber suara. Dilihat Matsuri tengah santai menekan beberapa tombol angka. Membuat mereka minus Matsuri memasang raut wajah was-was.
"Hei, Matsu! Jangan asal–"
"–Congratulation! Code is accept." Suara yang keluar dari benda tersebut yang memotong cegahan dari Sasuke sukses membuat teman satu team Matsuri diam tak berkutik.
"Ba-bagaimana bisa?" Sakura menatap Matsuri tak percaya.
"Ini semua berawal dari kalimat Melihatnya bersamamu, aku merasa nyaman. Sungguh dari awal aku masih belum yakin kalau kata-kata itu hanyalah kata-kata biasa yang menyembunyikan dua clue itu. Melihat benda yang tertempel itu," Matsuri menunjuk pengunci pintu kode,"Aku mendapatkan ilham dari Kami-sama. Aku langsung teringat salah satu scene drama Korea yang kutonton semalam. Dua insan yang saling mencintai melihat pemandangan sunset dengan perasaan nyaman dan tenang," jelas Matsuri.
"Jadi maksudmu–"
Lagi-lagi perkataan Sasuke terpotong dengan penjelasan Matsuri yang belum selesai. "–Ya, jawabannya adalah cinta. Namun, karena ini adalah kode angka maka kuurutkan sesuai dengan abjadnya. C adalah angka 3, I adalah angka 9, dan seterusnya. Maka kodenya adalah 3914201."
"Pintar sekali kau, Matsuri! Sekarang buka pintu ini dan cari Deidara!" perintah Sasuke.
Semua berpencar, sibuk mencari keberadaan teman kuning mereka. Hingga akhirnya suara teriakan menginterupsi mereka.
"Semuanya! Aku menemukan Deidara!" Teriak Sakura.
Sontak semuanya berlari ke tempat Sakura berada. Hingga akhirnya mereka menemukan Sakura yang terlihat sumringah di depan pintu sebuah kamar.
"Dimana dia, Sakura?" tanya Shikamaru seraya menenangkan pernafasannya yang terengah-engah.
Sakura tak menjawabnya secara verbal. Ia hanya menunjuk seseorang yang terbaring membelakangi mereka. "I-itu Dei! Dia sedang tertidur akibat obat bius!" Sakura menghampiri sosok yang ia yakini Deidara itu. Mendekatinya dengan tatapan yang bahagia. Sementara mereka mengikuti Sakura dari belakang.
"Dei-chan, bangun–"
"KYAAAAA!"
Betapa terkejutnya mereka. Kini di depan mereka bukanlah sosok yang mereka cari. Melainkan tengkorak yang sudah menghitam yang didandani dengan wig yang sewarna dengan rambut Deidara.
"Apa-apaan ini?!" tanya Temari dengan kesal. Lalu, iris teal-nya yang tegas itu mendapati sebuah memo yang terletak di atas tengkorak itu. "Hei, aku menemukan sesuatu!"
Boo! Hahahaha!
Dasar kalian memang bodoh! Begitu mudahnya tertipu. Jika kalian mau mengambil perempuan kuning ini, lawan dulu kami! Haha!
From: Your enemies
"Sialan! Mereka mempermainkan kita!" gerutu Naruto dengan kesal.
"Tenyata kalian sudah datang ya? Haha." Suara berat nan dingin itu menghampir mereka dikamar yang cukup berdebu ini.
"Si-siapa kau?" Hinata mulai gemetaran ketakutan. Ia menyembunyikan dirinya dibalik tubuh tegap Naruto.
"Aku? Kalian tak kenal diriku?" Ia tersenyum sinis. Angin berhembus pelan membuat rambut hitamnya yang melawan gravitasi bergoyang pelan. Ia memajukan langkahnya melewati gelapnya kamar. Sengaja membuat sinar Mentari itu menampakkan wajahnya.
"Zuka Abumi. Pembunuh kelas kakap asal Otogakure yang telah menewaskan ribuan orang pada masa awal berdirinya organisasi die Beste," jawab Gaara dengan sinis.
"Akhirnya, ada juga yang mengenal diriku ini." Pria bernama Zuka itu mengeluarkan pedang yang berada di belakang punggungnya. Pedang putih itu berkilauan terpantul cahaya emas Sang Mentari.
"Kalian semua, bersiap-siaplah! Karena, tidak hanya dia yang akan menghalangi kita. Banyak benteng yang terbangun dengan kokohnya di berbagai jalur yang akan kita lewati," ujar Gaara. Dirinya menyinggungkan senyuman sinis. Menatap pria itu dengan tajam.
Mereka semua mengangguk mantap. Bersedia menerima apapun itu resiko yang akan mereka tanggung. Karena, ini demi teman mereka dan juga organisasi tempat mereka bernaung.
"Aktivieren!"
TBC
A/N:
Hai readers! *pelukerat*
Gimana chapter ini? Gomen kalau adegan romance-nya hanya setetes air.-. Karena saya mau fokuskan di bagian pertarungannya. Tapi, diusahakan chapter depan ada romance-nya kok^^ Tumben ya saya updatenya sebulan dua kali *plak* Hahaha:D Mumpung liburan sekolah dan waktu senggang saat remedial minggu lalu jadi saya gunakan untuk melanjutkan fic ini ne ;D
Sedikit curhat, Rina dapet rank 2 lhoo, naik dengan drastisnya XD Padahalkan, saya kan sering nge-date sama laptop butut saya yang tercinta ini:D
Sekian bacot dari saya. Mind to review?
.
Translation Zone :
Bonjour: Selamat pagi (Prancis)
Oui: Ya (Prancis)
Unsere Feinde: Musuh kita
Hallo: Halo
Was ist das?: Apa itu?
Ach...: Ah...
Ja...: Ya...
Nein...: Tidak...
Oh mein Gott: Oh my God!
die Beste: The Best
Aktivieren!: Aktifkan!
.
