Chap 7

Pria berambut pirang berjalan dengan semangatnya. Tentu saja karena hari ini ia akan segera melamar gadis yang sangat ia cintai, Sakura.

Sesampainya ia di tempat tujuan, dari jauh ia melihat pujaan hatinya kini sedang duduk menunggu kedatangannya.

"Sakura!" Naruto berlari dan melambai tangannya kepada si gadis dan si gadis itu melihatnya sambil tersenyum.

"Naruto-san."

Naruto menghampiri Sakura dengan napas tersengal-sengal, dan Sakura yang melihatnya hanya kebingungan.

"Naruto-san, kenapa semangat sekali?" tanya Sakura.

"Aku selalu bersemangat kalau bertemu denganmu Sakura-chan."

Sakura tersenyum dan mengelap keringat Naruto yang mengucur dari pelipisnya dengan sapu tangannya.

"Tidak usah seperti itu Naruto-san."

"Ne, Sakura-chan. Jangan panggil aku dengan embel-embel san dong."

Jawab Naruto sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kenapa? Anda kan atasan saya. Tidak sopan kalau saya.."

"Tidak sopan apa? Kau itu calon istriku." Potong Naruto sambil menegakkan tubuhnya yang sedari tadi membungkuk karena kelelahan.

"I..istri? saya tidak mengerti dengan maksud anda."

Naruto lalu memasukan tangannya kedalam saku jasnya dan mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dan menyerahkannya kepada Sakura dan Sakura menerimanya .

"Apa ini?"

"Cincin."

Sakura lalu membuka kotak itu dan ternyata benar isinya adalah cincin yang indah. Sakura yang terpesona akan keindahan cincin itu menutup mulutny dengan tangan kirinya.

"Indah sekali."

"Menikahlah denganku."

"Ya?"

"Mau tidak?"

"Maksud nya?"

"Aku melamarmu Sakura-chan." Naruto lalu mendekati Sakura dan menggenggam erat kedua tanganya.

"Yang benar?" tanya Sakura.

"Apa aku terlihat berbohong?"

"Tidak sih."

"Kalau begitu apa jawabanmu?"

"Iya."

….

"Hinata~"

Sasuke yang baru saja pulang dari kantornya sudah sibuk mencari keberadaan istrinya, karena saat dia masuk kedalam rumahnya dia tidak melihat atau mendengar suara dari istri tercintanya itu.

Sasuke terus mencari-cari Hinata dari ruang tamu sampai dapur tapi hasilnya nihil. Namun tiba-tiba pandangannya gelap setelah ia merasakan ada sepasang tangan yang menutup kedua matanya.

"Siapa ini?" tanya Sasuke sambil menyentuh tangan yang menutup matanya.

"Tebak, siapa aku." Jawab Hinata dengan suara yang agak di ubah.

"Hmm, siapa ya?" Sasuke melipat kedua tangannya.

"Tebak-tebak."

"Hmm, bibi tetangga sebelah?"

"Buuu! Salah!"

"Ah! Nenek tetangga sebelah?"

"Bukan!"

"Kasir supermarket?"

"Bukan."

"Ah! Aku tahu! Kamu karyawati tersexy di kantor kan?"

Hinata melepas tangannya dan mengerucutkan bibirnya lalu ia berjalan menghadap Sasuke yang tersenyum melihatnya.

"Siapa karyawati itu?"

"Hn? Penasaran?"

"Tentu!"

"Ada deh."

"Iih! Bilang! Siapa namanya?" tanya Hinata sambil menarik-narik lengan baju Sasuke.

"Kalau aku bilang, kamu mau apa?" Sasuke lalu membungkukkan badannya sedikit hingga kini wajahnya sejajar dengan wajah istrinya.

"Aku akan menghajarnya."

Sasuke tersenyum lalu memeluk istri mungilnya dengan erat. Ia lalu mencium tengkuk istrinya itu. Sangat terasa sekali di kulit Hinata kalau suaminya itu sedang tersenyum.

"Dia memang sexy Hinata."

"Ap..apa?" Hinata merasa jengkel atas ucapan Sasuke.

"Lepaskan aku nii-san!" Hinata lalu meronta-ronta meminta Sasuke melepaskan pelukannya. Jelas sekali Hinata cemburu.

"Dengar Hinata. Dia memang sexy, tapi kamu lebih sexy dan lebih cantik darinya satu milyar kali lipat!"

Mendengar hal itu Hinata langsung malu dan wajahnya kembali bersemu merah. Dia tersenyum dan memalingkan mukanya di depan Sasuke yang masih menatapnya.

"Nii-san berlebihan deh."

"Kau memang lebih di mataku Hime."

Hinata kembali tersenyum dan memberanikan dirinya menatap mata onyx Sasuke. Sasuke yang juga masih menatap Hinata dari tadi langsung saja mencium bibir mungil Hinata tanpa ragu-ragu. Hinata tentu membalasnya, dan kini lidah mereka kembali bertemu untuk sekian kalinya.

Sasuke terus saja menikmati bibir istrinya hingga akhirnya istrinya tersebut menghentikannya.

"Kenapa hime? Nanggung nih."

"Jangan di sini nii-san, ini kan dapur."

"Memang kenapa? Kan gak ada orang lain?"

"Nii-san mandi dulu, badanmu bau."

"Iya gitu?"

Hinata mengangguk. Hinata sebenarnya berbohong kalau Sasuke saat ini bau. Sebenarnya suaminya tersebut masih cukup wangi. Wangi yang sangat maskulin yang mampu membuat orang yang menghirupnya menjadi tak terkendali. Itulah yang Hinata hindari, ia takut tak terkendali.

"Hn, iya deh aku mandi. Tapi nanti sehabis aku mandi, kita itu yah?"

"Itu apa?" tanya Hinata pura-pura polos.

"Itu-itu.." Sasuke mulai kembali menggoda Hinata. Tangan mesumnya seakan-akan hendak menyentuh bagian sensitive dari tubuh Hinata dan itupun membuat Hinata sedikit risih.

"Iya..iya, makanya buruan mandi." Jawab Hinata sambil menghalang-halangi tangan Sasuke untuk menyentuhnya.

….

….

…..

..

Gaara's POV

Tuhan, kenapa aku harus mengenal gadis ini? Gadis yang pernah masuk dalam hatiku, yang bahkan sampai saat ini masih berada dalam hatiku.

Susah sekali rasanya aku melupakan gadis ini. Aku susah melepaskanmu Hinata.

Kau tahu? Aku benar-benar syok dan tidak tahu harus bersikap bagaimana saat tahu bahwa sekarang kau sudah mempunyai pengganti diriku, yaitu suamimu sendiri.

Aku tahu Hinata, aku tahu aku salah. Aku salah dan aku pantas mendapatkan semuanya.

Tapi asal kau tahu saja. Hal yang paling aku sesali di dunia ini adalah..aku pernah meninggalkanmu.

Aku mencintaimu, dan saat itupun kau masih mencintaiku. Tapi aku malah meninggalkanku. Benar-benar jahatkan aku?

Walau hatiku sakit Hinata. Aku tetap mencintaimu, dan sepertinya susah sekali aku mendapatkan pengganti sepertimu.

Aku benar-benar mencintaimu Hinata. Tapi aku tak berhak memilikimu.

End POV

Gaara yang sedari tadi memikirkan mantan kekasihnya Hinata, kini terusik oleh suara pintu yang terbuka. Ia menoleh dan akhirnya menemukan kakak perempuannya itu masuk kedalam rumah dengan berseri-seri.

Karin yang juga melihat Gaara akhirnya duduk di sebelah adiknya. Ia menghela napas, dan sedikit tersenyum, atau malah sedikit tertawa? Itulah yang Gaara lihat.

Karin menoleh kearah adiknya yang masih menatapnya heran dan akhirnya memeluk adik laki-lakinya itu.

"Onee-san? Ada apa?"

"Hn? Tidak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu."

"Aku sudah dewasa, sudah tidak pantas di peluk oleh kakak sendiri." Gaara lalu dengan pelan melepaskan pelukan Karin.

"Kok begitu? Maunya dipeluk Hinata ya?"

Gaara melihat kakaknya dengan dingin, dan menghela napas. Setelah itu mtanya kembali tertuju kepada tv yang sedari tadi menyala.

"Dia sudah menikah. Aku tidak berhak memilikinya."

"Kata siapa?" Ucap Karin sambil tersenyum dengan lebarnya.

"Maksud nee-san?"

"Aku dapat info loh. Ternyata Hinata itu di jodohkan dan pernikahan itupun sebenarnya tidak ia inginkan."

"Apa? Nee-san tau darimana?"

"Untuk hal itu kamu gak perlu tahu. Yang pasti aku cuma ingin adikku satu-satunya ini kembali menunjukan senyum tampannya."

"Nee-san, maksudmu apa sih?"

Karin tersenyum. Ia taruh tasnya di sebelahnya dan memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan adiknya saat ini.

"Masih ada kesempatan mendapatkan Hinata. Aku rasa ia masih bisa menyukaimu."

"Nee-san, aku tidak tahu. Lagipula apa untungnya Nee-san menyuruhku untuk merebut kembali Hinata?"

"Gaara, apa kamu yakin Hinata bahagia dengan pernikahannya? Dia itu di jodohkan!"

Gaara lalu berpikir dan mengingat kembali kejadian saat ia datang berkunjung ke rumah Hinata. Ia ingat sekali kalau saat itu Hinata berbohong kalau dia sudah mempunyai suami.

"Terserah kau sih. Aku Cuma ingin kau bahagia. Tapi kebetulan sekali loh, suaminya itu adalah Sasuke."

"Nee-san kenal Sasuke-san?"

"Kamu lupa ya Gaara? Sasuke loh, Sasuke yang dulu pernah aku ceritakan."

"Ap..apa? aku tidak percaya."

"Nah, gimana adikku? Aku punya rencana dan aku harap kau mau mengikutinya."

….

…..

….

…..

…..

Suasana sepi melanda isi rumah Pasangan muda Uchiha. Saat ini sang Suami tengah membaca Novel kesukaannya sambil terduduk santai di depan tv, sedangkan istrinya kini tiduran di pangkuan suaminya sambil memain-mainkan jarinya sendiri.

Rasa bosan dirasakan sang istri. Sanking bosannya dia hanya bisa menguap. Terkadang ia bergerak menghadap perut suaminya dan meniup-niupkan udara ke perutnya. Sasuke yang tetap Fokus dalam bacaannya tidak merespon perlakuan Hinata.

"Aah!" Hinata menggerutu dan menutup matanya saat ia lelah bermain-main dengan perut Sasuke. Tapi tidak lama ia bergerak menghadap keatas sambil menggaruk-garuk telapak tangannya.

"Uugh." Gumam Hinata.

"Kenapa sayang?" tanya Sasuke dengan mata masih tertuju pada buku novelnya.

"Telapak tanganku gatal Nii-san."

"Garuklah."

"Gak bisa. Gatalnya gak hilang-hilang."

Sasuke menaruh Novelnya keatas meja. Ia lalu mengambil tangan Hinata dan mulai menggaruknya dengan pelan.

"Gimana?"

"Masih.."

"Kok bisa gatal? Tadi megang apa? Gak bentol-bentol kok."

"Tanganku gatal karena aku bosan Nii-san."

"Bosan gimana?"

Hinata lalu menegakkan badannya dan duduk di samping suaminya.

"Nii-san, antar aku ke toko kosmetik yah."

"Toko kosmetik? Mau beli make up ya?"

Hinata mengangguk dan segera berdiri sambil menarik Sasuke untuk segera berganti pakaian.

….

…..

Sesampainya di sebuah toko kosmetik. Hinata langsung melihat-lihat berbagai alat rias di sana.

"Bedak..bedak. ah ini bagus. Nee-san saya mau yang ini." Hinata langsung membeli satu buah bedak dan Sasuke yang sama sekali tidak mengerti tentang make up hanya diam melihat Istrinya sibuk memilih-milih.

"Blush On…mana ya blush on. Nii-san bagusan Blush on coklat atau pink?" tanya Hinata seraya memperlihatkan Blush on yang ia pilih.

"Aku gak ngerti Hinata."

"Ya udah deh. Nee-san saya beli dua-duanya. Selanjutnya..em.. eye-shadow."

Begitulah seterusnya sampai Hinata akhirnya mendapatkan Kosmetik mahal yang lengkap. Walau mahal, ini bukan apa-apa untuk Sasuke. Ia justru senang bisa membelikan sesuatu untuk Istrinya.

"Bedak udah, foundation udah, eye shadow, eye liner, bulu mata palsu, lipstick, Blush on, mascara udah. Hmm..apalagi ya?"

"Hinata, mau kemana lagi?"

"Ah! Kita ke toko Wig!"

"Buat apa kesana? Rambutmu sudah panjang begitu."

Hinata menoleh ke suaminya dan dia hanya tersenyum. Sungguh senyuman yang sangat mencurigakan bagi Sasuke.

Sesampainya di toko wig, Hinata lalu segera memilih rambut-rambut yang terpajang. Sasuke yang melihatnya hanya heran.

"Ini atau yang ini ya?" Hinata memegang dua buah wig panjang yang ikal dan berponi. Yang satu berwarna coklat tua dan yang satu lagi berwarna hitam kebiruan.

Setelah beberapa lama Hinata memilih, akhirnya ia segera memutuskan pilihannya, dan akhirnya ia memilih yang berwarna Hitam.

"Kita pulang Hinata?"

"Masih belum hehe..kita ke toko Pakaian dan sepatu dulu ya?"

Sesampainya Hinata di toko sebuah pakaian. Sasuke sangat heran dengan tempat yang ia tuju saat ini. Memang banyak sekali pakaian dan sepatu, bahkan aksesoris. Hanya saja modelnya agak-agak berbeda dengan yang orang-orang biasa pakai.

"Hinata, ini tempat apa?"

"Ini tempat jual kostum."

"Kostum? Kenapa kesini sih?"

"Aku suka Cosplay Nii-san."

"Oh begitu!" Sasuke menepuk tangannya.

"Ayo masuk Nii-san."

Hinata dan Sasuke lalu segera memasuki toko kostum tersebut. Ada beberapa kostum yang unik, dari kostum perawat, baju sailor, baju maid, baju Gothic Lolita bahkan sampai Anime Naruto.

"Hinata, yang ini bagus kalau kamu pakai." Sasuke lalu menunjukan kostum pilihannya.

Kostum maid dengan rok yang pendek dan ketat yang dengan pasti orang yang memakainya akan terlihat jelas lekuk badannya.

"Aku gak mau, kau saja yang pakai." Jawab Hinata dingin.

Hinata lalu kembali memilih-milih kostum yang hendak ia beli dan akhirnya ia memilih baju Gothic Lolita berwarna hitam dengan renda dan pita berwarna putih. Ia ambil kostum tersebut dan dengan anehnya ia mencocokkannya pada tubuh Sasuke yang berdiri di sampingnya.

"Hmm..cocok, ini saja deh."

"Ha?" Tanya Sasuke heran, entah kenapa perasanya menjadi tidak enak.

"Permisi, saya beli yang ini saja. Plus sama pita leher, bandana dan sepatunya yah."

"Ukuran sepatunya berapa?" Tanya sang petugas.

Hinata lalu membisikan ukuran sepatunya agar suaminya itu tidak mendengarnya. Sasuke semakin heran dengan tingkah laku istrinya itu.

….

….

…..

Sesampainya di rumah, Sasuke segera membawakan belanjaan istrinya dan langsung menaruhnya di lantai.

Hinata pun langsung membuka semua belanjaannya.

"Kamu mau cosplay Hinata?"

"Enggak." Jawab Hinata sambil menggeleng pelan.

"Terus buat apa kita beli ini?"

"Ya buat Cosplay."

"Lha, katanya ga mau cosplay?" Sasuke lalu duduk di hadapan Hinata.

"Hehehe..sudah aku bilang, tanganku gatal Nii-san."

"Apa hubungannya?"

"Aku gatal ingin mendandanimu." Jawab Hinata sambil menunjukan semburat merah di wajahnya pada Sasuke.

"Apa? Jadi ini semua buatku?"

Hinata mengangguk.

"Gak mau!"

"Nii-san ga sayang yah sama aku." Hinata lalu mulai berakting di depan Sasuke, matanya kini berkaca-kaca dan itu membuat Sasuke tidak bisa berkata apa-apa."

"Nii-san gak cinta sama aku?"

"A..aku cinta dan sayang sama kamu Hinata."

"Kalau cinta dan sayang, Nii-san mau yah aku dandanin. Pasti cantik deh."

"Eegh.."

Mau tidak mau Sasuke akhirnya luluh dengan permintaan Hinata. Hinata lalu membersihkan muka suaminya dengan air dingin. Setelah itu Hinata mengelapnya. Setelah itu ia usap foundation di wajahnya. Setelah merata ia taburkan bedak di wajahnya. Ia sapukan blush on. Begitu seterusnya sampai ia memasangkan bulu mata palsu di mata suaminya.

"Ugh, gatal Hinata."

"Tahan sedikit."

Sasuke hanya bisa menuruti istrinya. Namun ia yakin saat ini wajah tampannya kini berubah menjadi mengerikan layaknya banci-banci di luar sana.

Terakhir, Hinata mengolesi bibir sensual Sasuke denga lipstick berwarna pink. Hinata yang melihatnya malah menahan air liurnya yang keluar akibat kilauan bibir Sasuke.

"S..sudah Nii-san."

"Mana kacanya?"

"Nanti dulu, Nii-san ganti dulu deh bajunya."

"Pakai baju gothic tadi?"

"Iya."

"Hinata, badanku ini kan laki-laki."

"Gak apa-apa, pasti cocok."

Hinata lalu membantu Sasuke memasangkan bajunya, setelah terpasang, ia pasang pita leher dan juga sepatu boots ala Victorian di kaki Sasuke. Setelah itu ia pasang wig dan juga bandana berenda di kepala suaminya.

Hinata yang melihatnya menelan ludah. Sungguh pekerjaannya tidak sia-sia. Pria tampan yang gagah itu kini terlihat seperti seorang gadis yang sangat imut dan cantik. Kulitnya yang putih, rambut hitam ikal yang panjang berkilau, bibir tipis yang bergairah. Bola mata yang lentik, wajah yang mulus dan pipi yang merona membuat Hinata terpukau. Dirinya tidak menyangka suaminya yang super duper tampan bisa menjadi secantik ini. Bahkan Hinata merasa dirinya kalah cantik dari suaminya.

"Kenapa Hinata? Aku aneh ya?" Sasuke lalu mengambil sebuah cermin dan menatap pantulan wajahnya di sana. Matanya terbelalak tidak percaya bahwa saat ini yang berada di depannya adalah pantulan wajahnya sendiri.

"Hinata, kamu hebat sekali."

"Nii-san cantik sekali!" teriak Hinata dengan mata terpukau.

"I..iya, aku gak nyangka aku bakal secantik ini."

"Foto ayo kita Foto!"

"F..foto? Oi Hinata, aku ga mau ah."

"Ayo! Kenang-kenangan!" rengek Hinata sambil menarik-narik lengan baju Sasuke.

"Ck, iya. iya."

Sasuke pun menuruti keinginan istrinya. Kini Hinata bersiap dengan kamera ponselnya, Pose pertama dan Sasuke kini berada di sebelahnya sambil memanyunkan bibirnya seperti hendak mencium pipi Hinata.

Pose kedua Sasuke memeluk Hinata dari belakang dan tersenyum manis layaknya seorang gadis. Pose ke tiga Sasuke memegang pundak Hinata dari belakang sambil menoleh dan tersenyum. Hinata yang melihat foto-foto dirinya bersama sang suami hanya bisa tersenyum lebar.

"Udah ya?" tanya Sasuke kelelahan tersenyum.

"Belum, sekarang foto sendiri."

"Hah!"

….

…..

….

"Hmm.."

"Kenapa sayang?" Tanya Sasuke kepada Hinata yang saat ini menyenderkan kepalanya di dada bidangnya. Sedangkan ia memain-mainkan rambut panjang istrinya dan sesekali menciumnya.

"Lain kali beli costume kucing yang sexy."

"Buat siapa?"

"Buat my Hubby." Hinata lalu menyengir.

"Ogah."

"Ih kenapa? Tadi aja bagus." Hinata lalu bergerak menghadap Sasuke.

"M..masa costume kucing yang sexy? B..bikini dengan ekor begitu?"

"Enggak lah. Masa pakai bikini..badanmu kan nanti kelihatan cowoknya."

"Ya udah, kenapa enggak kamu aja?"

"A..aku?"

"Iya, katanya kamu suka Cosplay?"

"Suka, tapi aku lebih suka cosplay kamen rider."

"Lho, kok gitu? Itu mah mukanya gak bakal kelihatan."

"Gak apa-apa yang penting keren."

"Tapi aku pengen kamu pake costume kucing Hina-nyan~" Sasuke mencium pipi merah Hinata.

"Kalau begitu, bagaimana kalau pas aku pakai costume kucing, Nii-san juga pakai."

"Boleh, nanti kita foto-foto lagi deh."

"Hehe, tapi Nii-san emang cocok jadi kucing. Ayo Nii-san bilang nyan."

"Nyan~" Ucap Sasuke sambil mendekatkan wajahnya pada tengkuk Hinata.

"Sasu-nyan?"

"Nyan~" Sasuke semakin mendekati tengkuk Hinata.

"Sasu-nyaaaan~"

"Nyaaan~" Kali ini ucapany "nyan" Sasuke agak berbeda, ucapanya itu di tambah dengan suara mendesah di bagian akhir. Apalagi suaranya begitu dekat pada telinga Hinata dan itu membuat Hinata malu. Sasuke lalu menjilat-jilat leher Hinata dan menggigitnya.

"N..nii-san…"

Sasuke tidak peduli dengan panggilan Hinata yang kini menutup mata. Dirinya tetap menjilat leher Hinata dan terus menggigitnya pelan. Tidak lama ia dorong dan ia tindih tubuh mungil Istrinya.

Dan kemudian?

Pikir saja sendiri..

….

…..

TBC

Yo minna..pasti udah mulai boring kan? TT^TT

Betewe..saya berencana menggambar pose Sasuke dengan Hinata saat bercosplay..

Kalo jadi silahkan diliat nanti saya kasih linknya hehe

Reviewnya yak..review anda sangat berpengaruh pada cerita loh hahaha

Salam Hangat

Nao-shi