KERUMUNAN polisi semakin mengepung rumah tempat persembunyian Donghae. Satu-persatu agen kepolisian masuk, lalu menggeledah isi rumah itu. Changmin dan Eunhyuk menyerah tanpa perlawanan, sementara untuk Sungmin dan Kangin, setelah sedikit terlibat dalam baku tembak, mereka akhirnya menyerah juga.
Hyungseo dan Yesung kembali hanya dengan beberapa bagian tubuh yang lecet, kemudian disusul dengan Hangeng yang kembali dengan beberapa anggota tim forensik. Beberapa dari mereka membawa sejumlah kantung jenazah yang Hyungseo yakini berisi jasad Minhyun dan Kyuhyun. Sementara itu, satu-satunya yang belum kembali hanyalah Siwon. Kedua pihak pun sama-sama cemas. Berulang kali Yesung mencoba menghubungi Siwon lewat walkie-talkie, tapi pria itu tak merespon. Tampaknya ia masih terlibat dalam kejar-kejaran sengit dengan Lee Donghae. Itupun kalau Siwon masih hidup. Bagaimana kalau seandainya pimpinan mereka itu sudah tewas tertembak?
Sekarang yang bisa mereka lakukan hanya menunggu kabar selanjutnya sembari mengerahkan beberapa personel untuk mengejar Siwon dan Donghae.
xxXxx
SETELAH berlari cukup jauh dan menguras banyak tenaga, Donghae akhirnya berhenti di salah satu sudut terasing rumah persembunyian milik Changmin. Tempat itu dibatasi oleh sebuah bangunan mirip gudang yang cukup besar. Bangunan itu tampak tua. Satu-satunya yang masih terlihat bagus hanyalah atap kaca yang menaungi bangunan itu. Atap kaca itu tersambung ke bagian bangunan yang lainnya. Terlihat megah, namun juga rapuh. Mungkin jika ada yang terjatuh keatasnya, atap kaca itu akan langsung pecah.
Donghae menyempatkan diri menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum ia harus berlari lagi. Samar, namun ia dapat mendengar langkah kaki Siwon yang masih mengejarnya. Donghae tak punya pilihan lain selain berlari menuju gudang itu. Dilihatnya sebuah tangga kayu tua berdiri di samping pintu masuk yang terkunci. Lagi-lagi Donghae tak punya pilihan lain, pada akhirnya ia memutuskan menaiki tangga itu.
"Jangan bergerak!"
Gerakan Donghae terhenti. Dalam hati ia mengumpat keras-keras saat mendapati Siwon tengah berdiri jauh di belakangnya, mengarahkan sebuah pistol dengan perasaan penuh dendam.
Donghae pun berbalik tanpa mengangkat kedua tangannya. "Heh… Choi Siwon."
"Lee Donghae."
Hening. Tak terdengar suara yang lain selain hujan yang kembali deras.
"Kau kesini untuk menangkapku atau untuk balas dendam?"
"Kau membunuh Youngna! KAU MEMBUNUHNYA!"
"Lalu kau mau apa?" tanya Donghae ringan. Sebisa mungkin ia berusaha mengalihkan perhatian Siwon sementara tangannya berusaha merogoh sesuatu didalam saku jaketnya. "Untuk membunuhku kau bahkan membutuhkan izin dari atasanmu. Merepotkan sekali."
"Ingat kata-kataku, aku bisa membunuhmu jika aku mau!"
"Aku ini buronan penting, Choi Siwon." Donghae mengulas senyum tipis. Sedikit lagi ia akan berhasil mengambil benda didalam sakunya. "Kau bisa turun pangkat atau bahkan dipecat kalau mengambil tindakan tanpa perintah."
"Aku tidak peduli." Siwon masih mengarahkan pistolnya pada Donghae, walau dari intonasi suaranya terdengar sedikit keraguan.
Donghae terdiam sejenak. "Sayangnya kau yang mati lebih dulu!"
Dengan kecepatan melebihi orang lain pada umumnya, Donghae melempar sebuah pisau lipat yang selama ini ia gunakan untuk menyerang dari jarak jauh. Sementara itu Siwon yang tak dapat mengelak hanya bisa melindungi diri dengan lengannya. Maka serta-merta lengan kiri Siwon tertancap pisau itu. Ia meringis kesakitan begitu merasakan rasa sakit mulai menyeruak dari lengannya yang terluka. Darah segar pun mengalir dari lengan kekar Siwon, kemudian tersapu oleh air hujan yang tak henti-hentinya menghujam tubuh mereka. Secepat mungkin Siwon mencabut pisau itu. Kemudian ketika ia mengembalikan pandangannya yang kabur, Siwon dapat merasakan tiba-tiba Donghae menubruknya. Pistol yang dipegang Siwon pun terlepas dan terhempas jauh. Ia tak dapat menemukan pistol itu, terlebih ketika satu demi satu tinju Donghae menghantam wajahnya. Siwon kembali bangkit, namun Donghae menghajarnya lagi. Kali ini sebuah tendangan lutut menghantam perut Siwon, disusul dengan sebuah tinju keras yang melukai ulu hatinya.
Siwon kembali roboh. Dan tak berhenti sampai disitu. Kali ini Donghae melancarkan tendangan-tendangan kerasnya, satu diantaranya terasa jelas mematahkan rusuk bawah Siwon, membuat Siwon memuntahkan darah dari mulutnya. Air hujan yang menggenang pun berubah memerah ketika darah segar kembali termuntahkan dari mulut Siwon. Setiap kali ia bangkit, Donghae terus menghajarnya tanpa ampun. Hingga akhirnya satu tendangan keras di wajah membuat Siwon hampir kehilangan kesadarannya.
"Kau mau membunuhku? KAU MAU MEMBUNUHKU, HAH?" Donghae menendang lagi dada Siwon yang rasanya sudah benar-benar remuk. Tak puas hanya sekali, ia menendangnya lagi dan lagi. "Kalau begitu biar kupertemukan kau dan perempuan itu sekalian!"
Menerjang hujan, Donghae meraih pistol Siwon yang sempat terlempar. Tangannya bersiap-siap didepan pelatuk sembari ia berjalan mendekati Siwon yang tak berdaya.
"Setelah kau, akan kuhabisi juga perempuan bernama Hyungseo itu dan semua anak buahmu!"
Mendengar itu, mata Siwon terbelalak. Ia dapat melihat pisau lipat yang digunakan Donghae tadi tergeletak tidak jauh darinya. Dengan spontan tangannya meraih pisau itu, dan sebelum Donghae sempat menarik pelatuk pistolnya, Siwon menyayat pergelangan kaki Donghae dengan sisa tenaganya.
"AAAARRGH! KAU—!"
Secara refleks Donghae menembakkan pistol yang dipegangnya, tapi peluru didalamnya hanya melesat dan bersarang di salah satu dinding.
"MATI KAU!" Kini Siwon yang balas menubruk Donghae hingga membuat pria itu ambruk. Tapi Donghae cepat bangkit dan berlari menuju tangga kayu yang tak sempat dinaikinya tadi. Siwon pun tak mau kalah cepat. Ia mengambil pistolnya, lalu ditembakkannya kearah Donghae. Namun sial, peluru dari pistol itu hanya mengenai lengan kanan Donghae. Donghae pun jatuh tersungkur, namun dengan sekuat tenaga, ia bangkit kembali dan berhasil mendaki tangga kayu itu. Tak ingin diam, Siwon pun mengikuti Donghae mendaki tangga kayu rapuh itu menuju atap kaca.
xxXxx
DONGHAE mulai kesulitan bernafas setelah peluru dari pistol Siwon bersarang di lengan kanannya. Adrenalin yang terlalu terpacu membuat Donghae tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Tubuhnya pun kembali ambruk. Dengan setengah terduduk, Donghae dapat melihat langsung apa yang ada didalam bangunan beratap kaca itu—sesuatu yang mirip kolam, terisi penuh oleh air bersih, dan Donghae bahkan tak tahu untuk apa itu.
Baru beberapa saat Donghae bisa bernafas lega, ia mendengar lagi suara langkah Siwon yang tertatih-tatih. Hampir seluruh wajahnya dipenuhi darah yang tak tersapu air hujan, sementara lengan kirinya sepertinya masih tak dapat digunakan mengingat bagaimana pisau lipat tadi merobek otot lengannya.
Siwon tak bicara apa-apa, ia hanya langsung mengarahkan pistolnya pada Donghae.
"K-kenapa? Kenapa kau mengejarku sampai sejauh ini?"
Ekspresi Siwon nampak pilu. "Aku… uhk! Aku polisi…"
"Bodoh! Kalian semua hanya membuang-buang waktu—"
DOR!
Siwon menembakkan peluru ketiganya, namun peluru itu hanya mengenai bagian lain dari bahu kanan Donghae yang kaku."Uhk!" Donghae terjatuh, namun ia bertumpu pada lututnya. "Mati saja kalian semua—"
Siwon menarik pelatuknya lagi, kali ini mengenai bahu kiri Donghae. Pria itu pun kembali ambruk, namun entah mendapat kekuatan darimana, ia masih dapat berdiri dengan sedikit tenaganya yang tersisa.
"Minri…!"
Kali ini Siwon menunda tembakannya yang terakhir. Sesaat, ia dapat melihat wajah sedih Donghae yang tak pernah terlihat sebelumnya. Ia kesakitan, terlebih saat mengucap nama Minri, matanya menunjukkan semua penderitaannya selama ini.
"Kau… kau bisa hidup normal, kenapa… memilih jalan ini?"
Donghae tertawa kecil. "Bukan… urusanmu."
"Lee Donghae, kau tidak akan dihukum mati jika mau bekerjasama dan tidak menentang kami."
"Percuma!" Donghae berjalan lagi. Melihat itu, Siwon merasa tak punya pilihan lain selain harus melepas pelurunya yang terakhir. Maka akhirnya Siwon mengarahkan pistolnya lagi, kali ini lebih fokus ke salah satu titik paling fatal. Dengan sangat berat hati, Siwon pun menarik pelatuk pistolnya hingga terdengar suara letusan senjata api yang cukup keras.
Peluru itupun mengenai Donghae tepat di dada kirinya, jantungnya. Begitu merasa hidupnya akan segera berakhir, Donghae melakukan satu hal yang mungkin tak akan bisa dilakukannya lagi.
"Siwon…" panggilnya dengan mulut penuh darah. "Katakan pada Minri… aku baik-baik saja…"
Perlahan, tubuh Donghae terhempas dengan keras dan menghantam atap kaca. Atap kaca itupun akhirnya pecah, hingga tubuh Donghae terjun dengan bebas menuju kolam didalam bangunan itu. Sesaat kemudian terdengar suara gemerisik di dalam kolam. Donghae dapat merasakan dinginnya air yang menangkap tubuhnya, dinginnya air hujan yang menghujam tubuhnya, dan dinginnya seluruh tangan dan kakinya saat ia mulai kehilangan kesadarannya. Hal terakhir yang dapat Donghae rasakan hanyalah saat tubuhnya mulai melayang diantara permukaan dan dasar kolam yang dangkal. Kesadarannya pun mulai memudar, sampai akhirnya Donghae benar-benar merasakan nafas terakhirnya telah habis.
Siwon pun tak bisa berkata apa-apa. Ia menyaksikan bagaimana Lee Donghae benar-benar bertarung dengan dirinya sendiri. Siwon menatap lurus kebawah dan melihat tubuh Donghae yang seperti melayang.
Lee Donghae terlihat seperti malaikat.
Benar-benar seperti seorang malaikat.
xxXxx
SETELAH setengah hari yang panjang, hujan akhirnya benar-benar berhenti. Matahari kembali bersinar, awan-awan mendung telah menghilang, dan yang tersisa hanyalah embun di setiap dedaunan yang basah karena hujan.
Heo Minri yang telah menanti cukup lama akhirnya melihat sosok Choi Siwon yang baru saja kembali. Tubuhnya yang babak belur dipapah oleh Yesung dan Leeteuk, sementara beberapa rekannya yang lain mengikutinya dari belakang.
Setelah mengumpulkan keberanian, Minri akhirnya memutuskan untuk menjawab semua kecemasannya. Ia langsung menghampiri Siwon, walaupun perasaannya dipenuhi oleh semua pikiran buruk.
"Mana Donghae?" tanyanya dengan suara lirih. Matanya bahkan mulai berair.
Siwon tak mampu menjawab apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanya menggeleng dan berlalu begitu saja. Sebisa mungkin, Siwon berusaha mengabaikan perasaannya yang terasa sangat sakit. Begitu ia berjalan, ia dapat mendengar isak tangis Minri yang terasa menusuk telinganya.
Sementara itu Minri mencoba menahan semua tetes air mata yang menggantung di antara kelopak matanya. Begitu menyakitkan melihat dirinya sendiri dikelilingi oleh sekumpulan orang-orang yang membuat hidupnya menjadi serumit ini. Kenapa? Pada akhirnya ia dan Donghae-lah yang terpisahkan.
Kenapa harus ia dan Donghae?
Berapa kalipun Minri bertanya ataupun menangis, tak akan ada yang tahu jawabannya.
Tak akan ada…
— THE END
