Love Between Earth Girl & Sky Boy
Shingeki No Kyojin By Hajime Isayama
Pairing : Eren X Mikasa
Rating : T
Genre : Friendship,Adventure,Comedy,Fantasy,Mystery,Action,Romance
.
Chapter 7 : Rahasia Penyihir Cahaya Terakhir
.
Kebenaran tentang gadis itu
Mulai terungkap di hadapan orang yang disayanginya
Rahasianya bagaikan sebuah kunci
Antara harapan dan kehancuran dunia ini
.
Suatu hari, di ruangan master…
"Berhubung master sedang tidak ada disini karena beliau sedang menghadiri rapat dengan seluruh ketua serikat dunia, jadi, saya disini akan memberikan sebuah misi khusus kepada kalian tim 1." Kata Hanji.
Waktu itu, master Irvin sedang tidak ada di serikat. Jadi, dia menyuruh Hanji selaku asisten setianya untuk memberikan sebuah misi khusus kepada tim 1. Kali ini, misi yang akan mereka lakukan bersama Mikasa selaku klien mereka.
"Misi kali ini adalah sama seperti beberapa hari yang lalu. Kalian juga pergi ke luar kota, namun kali ini kalian bersama Mikasa sebagai klien kalian sendiri." Lanjutnya jelas.
Mikasa berada di sebelah kiri Hanji dan dia mendengarkannya dengan seksama.
"Kalian akan pergi ke sebuah desa tua. Kalian bisa menaiki kereta dan menginap di kota Calaneth. Di kota itu, kalian menginap semalam. Lalu besok, kalian bisa meneruskan perjalanan ke desa itu." Lanjutnya sambil menggelar sebuah peta di atas mejanya dan menunjukkan rute ke tempat tujuannya. Semua mengangguk paham, begitu juga Mikasa.
"Nah, untuk berjaga-jaga agar tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Aku mengerahkan Petra sebagai penyihir penyembuh dalam misi ini." Lanjutnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Petra. Dia mengangguk. Hanji menggulung kembali petanya dan memberikannya kepada Eren.
"Baiklah. Itu saja yang saya sampaikan. Sekarang, kalian boleh meninggalkan ruangan ini." Kata Hanji mengakhiri pertemuan.
Seluruh anggota tim memberi hormat kepada Hanji, Hanji membalasnya dan mereka meninggalkan ruangan master. Namun, Hanji sempat mencegat Mikasa untuk sementara waktu.
"Tunggu Mikasa. Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu." Cegatnya kepada Mikasa.
Mikasa menoleh ke arahnya.
"Apa yang ingin kau katakan padaku?" tanyanya.
"Apakah kau tahu? Selama ini, kau adalah buronan Black Dark Wings. Mereka mencarimu kemana-mana selama 6 tahun ini. Keberadaanmu yang dulunya adalah seorang putri raja dan peramal, juga diduga kau memliki kekuatan suci dan langka dari rasmu." Kata Hanji.
Mikasa hanya terdiam.
"Tetapi ingatlah. Misi yang kuberikan ini adalah kau harus mengembalikan ingatanmu yang pecah saat kau bersama Ayah dan Ibumu yang asli, dimana asalmu dan kau mendapatkan kekuatan warisan rasmu itu. Berhati-hatilah, mereka ada dimana-mana." Lanjutnya sambil tersenyum penuh keyakinan.
Mikasa mengangguk dan meninggalkan ruangan master. Akhirnya, ruangan itu sangat sepi, hanya ada Hanji seorang diri.
'Mikasa, Kau tidak perlu khawatir. Kau sudah memiliki orang yang setia menemanimu. Eren, kuserahkan Mikasa padamu.' Batinnya penuh harap.
Lalu, tim 1 bersama Mikasa berangkat dari kota mereka dengan menaiki kereta api. Selama perjalanan, mereka tak berhenti berdiskusi tentang misi yang diberikan tadi.
"Baiklah. Kita langsung ke topik. Kita sudah berangkat dari kota kita menuju kota Calaneth. Di kota ini, kita akan menginap untuk semalam. Lalu besok, kita akan ke desa tua itu." Kata Levi sambil menunjuk arah rute petanya di meja.
"Tapi, kita kan tidak tahu apa nama desanya. Mana mungkin kita akan pergi kesana?" Tanya Armin cemas.
Semua tertunduk lesu. Tiba-tiba, Mikasa dikagetkan oleh sesuatu. Sepertinya, perlahan ingatannya mulai muncul sedikit demi sedikit.
"Ah! Aku tahu nama desanya!" kata Mikasa.
Semua terkejut mendengarnya.
"Kau yakin tahu tentang desa itu?" Tanya Petra penasaran.
Mikasa mengangguk yakin.
"Ya. Kalau tidak salah, nama desa itu adalah desa Ackerman. Nama itu mirip dengan nama belakangku. Aku yakin pasti kalau aku berasal dari desa itu. Desa itu sebenarnya adalah ras para penyihir cahaya terakhir sebelum kehancuran besar waktu itu." Jawabnya.
"Eh? Apa katamu? Desa ras para penyihir cahaya terakhir? Kau yakin berasal dari sana? Lalu, apa yang terjadi sebenarnya sebelum kehancuran waktu itu?" Tanya Jean panjang lebar dan masih penasaran.
Mikasa terdiam sejenak dan…
"Ya. Sepertinya aku berasal dari sana. Tapi, aku tidak terlalu ingat sih…" jawabnya pelan.
Semua hanya terdiam dan kecewa. Mereka pun menikmati perjalanan mereka hingga malam menjelang.
Malamnya, mereka sampai di kota Calaneth, kota yang dimaksud Hanji untuk mereka menginap. Mereka langsung mencari hotel terdekat dan menitipkan barang-barang bawaan kepada pihak hotel. Setelah itu, mereka memutuskan untuk berpencar dan mengelilingi kota yang penuh dengan keramaian di malam hari untuk menghilangkan penat setelah perjalanan jauh yang mereka tempuh.
"Baiklah. Kita refreshing terlebih dahulu. Kita berpencar untuk keliling kota ini. Tapi, kalau sudah selesai, kita tetap bertemu di depan hotel ini. Paham?" kata Levi.
Semua mengangguk setuju.
"Kalau begitu, aku bersama Eren, Armin bersama Jean, dan Petra bersama Mikasa. Kita awalnya berangkat bersama ke festival kota. Setelah itu berpencar. Dan satu lagi, aku sudah memasukkan sihir telepati kepada kalian, temasuk kau juga Mikasa. Jangan lupa beritahu kalau kalian ada masalah." Lanjutnya.
Semua mengangguk paham.
"Oya Mikasa. Kau kan berasal dari dunia lain, tapi aku yakin kau memiliki kekuatan sihir tersendiri. Lagipula, apa kau bisa memakai sihir telepati?" Tanya Armin kepada Mikasa.
"I-itu, sebenarnya, aku…" jawabnya terbata.
"Tidak apa-apa kok. Sihir telepati sangat mudah digunakan. Semua penyihir yang ada di dunia ini masing-masing memiliki sihir itu. Aku yakin kau pasti bisa menggunakannya." Sela Armin tersenyum.
"Dia benar. Coba saja." Lanjut Petra sambil memberikan semangat kepada Mikasa.
Mikasa mengangguk tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Ayo berangkat!" seru Jean bersemangat.
Mereka pergi bersama menuju sebuah festival di tengah kota. Sesampainya disana, mereka berpencar sesuai dengan yang dikatakan Levi. Eren bersama Levi pergi ke tempat penjualan berbagai macam senjata sihir. Armin dan Jean pergi ke tempat penggunaan mantra sihir yang berhubungan dengan alam. Sedangkan Petra dan Mikasa melihat pakaian-pakaian yang sangat modis. (yalah, mereka cewek min -_-")
Mereka sangat menikmati festival malam kota itu.
Namun, Mikasa kembali merasakan sesuatu yang aneh. Dia sepertinya dibuntuti lagi oleh seseorang. Orang itu mengikuti Mikasa dan Petra dari belakang dan sepertinya mempermainkan kekuatan jimat dari tangan Mikasa. Kekuatan putih suci dari jimat itu ternyata dicemari oleh sihir hitam dari orang itu. Mikasa sempat merasakan sakit.
"Mikasa? Ada apa?" Tanya Petra.
"Ah… ti-tidak apa-apa kok. Bagaimana kalau kita kembali ke hotel saja?" jawabnya sambil mengajak Petra untuk kembali ke hotel. Petra hanya terdiam penasaran. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel.
'Sepertinya… jimatku… tercemari… oleh sihir lain…' gumam Mikasa.
Sementara itu, Eren, Levi, Armin, dan Jean masih ada di festival kota. Lalu, Levi mendapatkan kiriman telepati mendadak dari Petra.
"Levi… Levi! Apa kau bisa mendengarku?!"
Levi langsung berdiri sejenak sambil mencoba menghubungkan telepatinya kepada Petra.
"Levi disini. Petra, ada apa?"
"Mikasa…. Mikasa tiba-tiba kesakitan!"
Rupanya, Petra menghubungi Levi karena Mikasa mendapati masalah di di hotel. Mikasa tiba-tiba merasakan kesakitan. Mungkin karena sihirnya tercemari tadi. Itulah yang membuat pertahanan tubuhnya melemah. Eren terkejut mendengarnya.
"Apa katamu?! Mikasa kesakitan?! Sebenarnya, apa yang terjadi padanya?"
"Aku tidak tahu. Saat kami berada di dalam kamar, tiba-tiba dia sesak napas mendadak. Ku lihat, sihir di dalam jimatnya sepertinya tercemar oleh sihir hitam. Aku yakin pasti, pelakunya pasti salah seorang dari Black Dark Wings."
Levi tidak bisa berkata apa-apa.
'Apa jangan-jangan, mereka mencoba untuk menculik Mikasa lagi?' gumamnya.
"Baiklah. Petra. Kau coba menanganinya sebentar. Aku langsung menghubungi Armin dan Jean utnuk segera kembali kesana. Katakan kepada Mikasa untuk coba bertahan sedikit lagi. Sekarang, aku masih bersama Eren."
"Baiklah. Kumohon cepatlah."
Levi langsung memutus sihirnya.
"Eren. Ini gawat. Mikasa sedang mengalami masalah. Kita harus segera kembali kesana. Aku akan mencoba menghubungi Armin dan Jean untuk segera kembali." Kata Levi terburu-buru.
Tanpa kata, Eren langsung mengikuti Levi kembali ke hotel. Eren semakin panik di dalam hatinya.
'Mikasa…'
Levi mencoba menghubungkan telepatinya ke Armin dan Jean.
"Levi disini. Armin! Jean! Apa kalian bisa mendengarku?!"
Mereka langsung membalas telepati Levi.
"Armin disini. Ada apa Levi?"
"Kau masih bersama Jean kan? Cepatlah kembali ke hotel. Mikasa sedang mengalami masalah."
"Eh?! Benarkah?!"
"Iya. Tapi, sebenarnya, aku tidak tahu pasti apa yang terjadi kepadanya. Tapi, kalian harus segera kesana sekarang!"
"Ba-baik!"
Armin dan Jean langsung segera kembali ke hotel.
Sesampainya di hotel…
"Mikasa! Apa kau tidak apa-apa?!" kata Eren.
Mikasa melihat Eren dengan wajah yang pucat. Eren menyentuhnya dengan tangan ke pipinya. Dingin. Ia rasakan.
'Di-dingin…' gumamnya sambil melepasnya.
Mikasa masih pucat.
"Hei… kau sudah baikan?" lanjut Armin cemas.
Mikasa mengangguk lalu diam tanpa kata.
"Sepertinya, dia masih shock. Kita biarkan dia diam sebentar dulu, Lalu-"
"Ada yang ingin kusampaikan kepada kalian." Sela Mikasa tiba-tiba.
Mereka sedikit terkejut mendengarnya.
"Sepertinya, aku mulai mengetahui siapa diriku yang sebenarnya." Lanjut Mikasa sambil memegang sebelah kepalanya.
"Masa laluku… Sepertinya, aku berasal dari keluarga kerajaan…" lanjutnya.
"Eh? Keluarga kerajaan? Apa maksudmu?" Tanya Petra.
Mikasa hanya menggeleng.
"Setelah ku ingat-ingat lagi, aku adalah seorang putri dan juga seorang peramal." Jawabnya.
'Jangan-jangan, inikah yang dikatakan master Pixis dulu?' gumam Levi.
Setelah itu…
"Maafkan aku. Aku tidak bisa berpikir banyak. Aku butuh istirahat sekarang." Kata Mikasa.
Semua terdiam dan menatap satu sama lain.
"Baiklah. Jangan paksakan dirimu." Kata Petra.
Malam itu adalah malam paling misterius. Mikasa yang awalnya kehilangan setengah ingatannya mulai mengetahui siapa dirinya. Bagian penting yang ia cari dalam hidupnya adalah keluarga asli, tempat asal, sihir, dan satu lagi…
Sebuah alasan mengapa ia masih hidup hingga sekarang.
Keesokan harinya, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka meninggalkan kota Calaneth dan pergi ke desa tua yang sudah diberitahu oleh Hanji dengan berjalan kaki. Setelah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya, mereka mencapai sebuah hutan yang rindang. Kata warga desa setempat, desa tua itu berada di dalam hutan rindang itu.
Saat mereka memasuki hutan, Mikasa merasakan sesuatu.
"Teman-teman, aku tahu arah menuju desanya!" seru Mikasa tiba-tiba.
Semua terkejut mendengarnya.
"Benarkah?!" kata Eren bersemangat.
Mikasa mengangguk.
"Ya. Ayo ikut aku!" jawabnya sambil mengajak teman-temannya untuk mengikutinya.
Mereka berlari mengikuti Mikasa dari belakang. Akhirnya, mereka berhasil keluar dari hutan itu. Dari kejauhan, mereka melihat sebuah desa tua. Namun sayangnya, desa itu sudah runtuh. Mikasa berdiri terdiam dan kaku. Angin sepoi-sepoi berhembus dan menerpa rambutnya.
'Ti-tidak mungkin…' gumamnya. Dia bergetar.
Mereka masih terkejut melihat reruntuhan itu.
"Hei. Bagaimana kalau kita turun?" usul Jean.
Mereka menoleh ke arah Jean dan mengangguk. Mereka memutuskan turun dari sebuah bukit dan memasuki tempat itu.
Desa itu sangat sepi, sunyi, dan senyap. Hanya ada hebusan angin sepoi-sepoi menerpa mereka. Bangunan-bangunan rumah sudah runtuh dan menghitam meninggalkan bekas terbakar. Merek terus berjalan mengelilingi desa itu dan menemukan sebuah istana kecil yang sudah runtuh juga. Mikasa terlebih dahulu memasuki istana itu lalu diikuti oleh yang lainnya.
Istana kecil itu sudah sangat rusak parah. Raung utamanya sudah hancur. Yang tertinggal hanya pecahan kaca yang bertebaran di seluruh lantai. Mereka sedikit kesulitan untuk berjalan di ruangan itu. Lalu, Mikasa tiba-tiba berlari lagi entah kemana ia tuju.
Mereka mengikuti Mikasa pergi ke suatu tempat yang asing. Ternyata, mereka pergi ke ruangan bawah tanah. Tempat itu sangat gelap, tapi cukup terang karena tempat itu diberi jendela. Tempa itu seperti sebuah workshop, dilengkapi dengan meja dan beberapa alat-alat penemuan yang tidak tertata rapi. Mikasa kembali terdiam dan melihat sebuah lukisan yang sudah rusak di atas sebuah batu dinding yang terpajang di tembok.
"Apa yang kau temukan?" Tanya Levi.
Mikasa menyentuh sebuah lukisan rusak itu. Lukisan itu menggambarkan tiga orang yang sedang seperti tersenyum bersama, mirip sebuah keluarga kecil. Ada seorang pria dan wanita yang wajahnya tidak diperlihatkan dan di tengahnya ada seorang gadis kecil yang usianya kira-kira 9 tahun. Dia berambut hitam panjang, memakai gaun berwarna ungu cerah dan memakai cardigan berwarna pink. Gadis itu juga memakai syal merah.
"Tidak salah lagi. Ini adalah aku saat masih kecil dan kedua orang ini adalah Ayah dan Ibuku yang asli." Jawabnya sambil terus meraba lukisan dinding itu.
Mereka terkejut mendengar itu. Tiba-tiba, bola kristal itu bercahaya di bawah lukisan itu. Mikasa terkejut dan langsung melepas tangan yang masih meraba dinding itu.
"Mikasa! Mundurlah!" kata Eren sambil menyuruhnya untuk mundur ke belakang. Tiba-tiba, bola yang masih bercahaya itu mengeluarkan sebuah suara yang lirih. Suara itu seperti seorang pria yang sudah sangat tua.
Mikasa… Mikasa…
Kemudian, keluarlah sebuah hologram dari bola itu dan seorang pria tua dari bola itu. Kata-kata yang diucapkan olehnya seperti sebuah wasiat lisan kepada Mikasa.
"Kalau kau melihat dan mendengarkan perkataanku ini, ini adalah sebuah wasiat lisan untukmu." Kata Pria itu.
Mereka langsung mendengarkan wasiat itu dengan seksama.
"Ras kita adalah ras yang ke terakhir. Kita adalah penjaga keseimbangan energi antara dunia manusia dan dunia langit. Dunia langit adalah dunia parallel yang kita ciptakan sendiri." Lanjutnya.
Mendengar itu, mereka langsung terkejut.
"Ratusan tahun lalu, ras kita adalah ras yang terbesar. Kami hidup dengan damai selama ratusan tahun. Tapi, tragedi 6 tahun lalu mengubah semuanya." Lanjutnya. Pria itu sepertinya sakit cukup lama.
"Serikat hitam terbesar, Black Dark Wings adalah musuh kami bersama selama bertahun-tahun. Mereka kesal terhadap reputasi mereka sebagai serikat penjaga dunia langit yang diremehkan dan akhirnya mereka menyerang ras kami." Lanjutnya.
Mereka masih terdiam. Mikasa bergetar.
"Perang besar 6 tahun lalu membuat semua hancur tak berbekas. Kami semua terbunuh, Rumah-rumah dibakar oleh mereka, dan istana kami telah diserang dan akhirnya dikuasai oleh mereka. Karena tak ada pilihan lain, aku hanya mengikuti takdir yang sudah ditetapkan, yaitu, membiarkan putriku tetap hidup. Dan, aku beserta seluruh penyihir mengorbankan nyawa demi putri kami tercinta." Lanjutnya. Kata-kata yang diucapkan olehnya memberikan sebuah bukti yang nyata. Mikasa dibiarkan hidup oleh rasnya sendiri meskipun yang lainnya sudah terbunuh.
"Jangan-jangan, dia sudah…" kata Petra bergetar.
"Maafkan aku. Ini hanya hologram. Aku hanya berharap kau masih hidup sampai sekarang. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Mikasa Ackerman, putriku satu-satunya yang kucintai." Lanjutnya sambil mengarahkan tangan kanannya ke hadapan Mikasa. Kini, Mikasa mulai mengetahui. Wasiat lisan yang disampaikan itu adalah wasiat dari Ayahnya sendiri.
"A-Ayah… aku…" katanya pelan sambil membalas tangannya. Namun sayang, ketika dia hampir meraihnya, bola kristal itu pecah, hologram Ayahnya hilang seketika. Akhirnya, Mikasa merasakan rasa kesedihan dan kesepian yang sangat mendalam. Dia mulai menangis.
"Aku tidak percaya. Dia mengatakan segalanya. Dia merelakan nyawanya demi Mikasa. Ini lebih dari sekedar ramalan takdir." Kata Jean.
Mikasa langsung berlari meninggalkan mereka, ruangan bawah tanah itu, dan keluar dari reruntuhan istana yang sudah tidak beratap lagi. Air matanya melayang. Dia berlari menuju taman belakang istana itu. Dia ingin menyendiri.
Hari berubah gelap. Malam pun tiba. Mereka sedang menyiapkan api unggun dan tempat tidur sementara untuk tinggal di reruntuhan itu.
"Dia benar. Tempat ini meninggalkan bekas perang besar. Kami tidak menemukan benda apapun yang mencurigakan." Kata Jean. Dia baru saja kembali bersama Armin setelah mengelilingi desa sekali lagi karena mereka ingin mencari sebuah bukti yang tersirat dari desa itu.
"Kalau tidak ada benda mencurigakan yang lain, berarti, bukti yang sebenarnya tentang semua ini ada di jimat yang disimpan oleh Mikasa." Lanjut Levi.
Di taman belakang, Eren memutuskan untuk mencari Mikasa. Dia menemukannya. Mikasa berdiri di depan pohon sakura ungu yang terkenal langka dan tumbuh di lingkungan desanya. Dia menyentuh pohon itu. Dia tidak merasakan apa-apa. Hanya saja, pohon itu hanya mekar di malam hari. Dia mundur lalu jatuh terduduk. Dia masih terisak karena merasa tertekan pada apa yang telah diucapkan oleh Ayahnya. Eren mendekatinya dan memegang pundaknya.
"Akhirnya. Kau mengetahui semuanya." Kata Eren pelan. Suara yang sayup-sayup itu terdengar hingga ke telinganya. Mikasa menoleh kebelakang ke arah Eren. Eren tersenyum.
"Aku sudah bilang padamu. Kau harus berusaha keras untuk memulihkan ingatanmu. Dan sekarang, kau mendapatkan hasilnya. Terimalah." Lanjutnya sambil menyarankannya.
Mikasa masih terdiam. Tubuhnya masih bergetar. Lalu, dia bangkit berdiri, membelakangi Eren.
"Aku… hanya tidak percaya. Aku tidak tahu kalau Ayah dan Ibuku sudah lama meninggal. Aku sudah tidak memiliki daerah asalku lagi. Lalu, mengapa hidupku harus begini?" kata Mikasa bergetar.
Eren hanya bungkam, tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Mulutnya seakan-akan membeku.
"Aku sudah kehilangan hal yang ku cintai!" seru Mikasa tiba-tiba. Dia langsung menoleh ke arah Eren. Air matanya mengalir deras di pipinya. Eren terkejut dan masih bungkam.
"Sekarang… apa yang harus kulakukan?" lanjutnya bergetar. Angin malam berhembus menerpa rambutnya.
Eren terdiam sebentar dan menjawab pertanyaan yang membuat dadanya ngilu.
"Kau harus tetap maju." Jawabnya.
Mikasa terkejut.
"Kenangan, masa lalu, serta luka yang dialami oleh seseorang bisa membuatnya kuat. Begitu juga dengan kita. Seberapa besar, seberapa jauh tantangan yang kita hadapi, kita selalu mendapatkan luka. Itulah yang memberikan kebangkitan kepada seseorang. Aku yang dulunya kehilangan seluruh ingatanku kini tahu siapa diriku. Aku menganggap luka di ingatanku adalah kekuatan bagiku untuk mengembalikan jati diriku. Kau juga bisa seperti itu kan?" lanjutnya meyakinkan. Setiap kata-kata yang diucapkan olehnya, membuat Mikasa bergetar penuh kehangatan. Kata-kata itu meresap hingga ke sanubarinya.
"Dia benar. Lukamu adalah kekuatanmu sendiri." Sahut Levi dari kejauhan. Dia tersenyum penuh yakin kepada Mikasa.
"Tenang saja Mikasa. Cobalah untuk move on." Lanjut Petra, tersenyum.
"Kau menghadapi masalah tidak sendirian. Masalahmu adalah masalah kami. Kami akan selalu membantumu." Lanjut Armin.
"Kami akan selalu ada untukmu." Lanjut Jean sambil mengepalkan tangannya.
Mendengar semangat dan dukungan dari mereka, dia masih bergetar. Dia tidak mampu mengendalikan air matanya.
"Jadi. Kami akan menyatakan janji setia padamu. Bahwa, kami akan melindungimu sampai akhir." Kata Eren dan teman-temannya sigap. Mikasa terharu. Dia berlari ke arah Eren dan memeluknya lagi.
"Semuanya… terima kasih…" jawabnya bergetar penuh haru.
Janji setia mereka kepada Mikasa membuatnya untuk terus tetap maju. Mikasa mengusap air matanya dan tersenyum di hadapan mereka. Akhirnya, mereka kembali ke lokasi tempat tinggal sementara. Kemudian, Mikasa mau membuka diri serta rahasia tentangnya.
"Baiklah. Karena kalian sudah menyampaikan janji setia padaku, sebagai balasannya, aku akan menceritakan semua rahasia tentang diriku. Tapi, aku meminta sebuah syarat." Kata Mikasa. Mereka berkumpul dan membentuk lingkaran di sekitar api unggun.
"Oke. Apa syaratnya?" kata Jean enteng.
Mikasa tersenyum.
"Maukah kalian menjaga rahasiaku?" tanyanya penuh yakin.
Semua menoleh satu sama lain.
"Baiklah. Tenang saja. Rahasiamu aman bersama kami." Jawab Levi tersenyum penuh yakin.
Mikasa kembali tersenyum mendengar jawaban itu.
"Terima kasih…" katanya.
"Oke. Dengarkan baik-baik. Ratusan tahun yang lalu, ada sebuah ras yang orang-orangnya memiliki sihir cahaya. Kami semua hidup dengan damai. Energi antara dua dunia masih seimbang waktu itu. Ras itu adalah ras Ackerman, ras kami. Hanya saja, apa yang dikatakan oleh Ayahku adalah rasku yang ke terakhir sebelum tragedi besar waktu itu." Lanjutnya.
"Lalu, aku masih bingung tentang satu hal. Apa yang terjadi sebenarnya sehingga kau dibiarkan hidup oleh mereka?" Tanya Armin yang masih saja penasaran.
"Ah… soal itu ya…" kata Mikasa.
"6 tahun lalu, aku adalah putri satu-satunya di rasku. Saat aku berusia 9 tahun, Ibuku memberikan sebuah jimat kepadaku. Dia berkata bahwa jimat ini menyimpan segalanya tentang ras kami. Serta jimat ini juga tersimpan kekuatan suci dan langka dari ras kami. Aku harus menyimpannya sebaik mungkin selama aku masih hidup. Tapi, tragedi besar itu, akhirnya terjadi…" jawabnya sambil melihat jimat yang dipakainya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Petra.
"Perang besar menghancurkan semuanya. Ras kami diserang besar-besaran. Semua orang terbunuh. Karena keadaan darurat, Ayahku langsung bertarung melawan mereka bersama orang-orang yang masih selamat. Lalu Ibuku membawaku lari ke desa, tapi sayangnya, Ibuku juga terluka parah." Lanjutnya.
Semua masih terdiam.
"Agar mereka tidak mengetahui bahwa aku masih hidup, Ibuku sejenak membuatku koma dan menghilangkan setengah ingatanku tentang rasku. Aku lari dari desa bersamanya, tapi Ibuku sudah tidak tahan dengan lukanya sendiri. Akhirnya, Ibuku tewas di hadapanku. Begitu juga dengan Ayahku. Dia akhirnya gugur demi tanah rasku. Kedua orangtuaku sudah meninggal. Akhirnya, aku lari dari desa dan terus berlari tanpa arah yang ku tuju." Lanjutnya.
"Lalu, apa kau memiliki hidup baru?" Tanya Levi.
Mikasa mengangguk.
"Ya. Entah mengapa aku mendapatkannya secara tiba-tiba. Waktu itu, ada seseorang yang kebetulan menemukanku disaat aku terjatuh pingsan. Lalu, mereka membawaku ke sebuah panti asuhan dan disanalah aku dirawat oleh mereka. 6 tahun kemudian, ada seorang pasutri yang kebetulan ingin mengadopsi seorang anak perempuan. Lalu, akulah yang diadopsi oleh mereka. Dan sampai sekarang, aku tinggal bersama orangtua angkatku." Jawabnya sambil melirik Eren. Dia berkata dalam hati.
'Sekarang, aku tinggal bersama dengan orangtuamu, Eren…' gumamnya dalam hati.
Semua hanya terdiam mendengar penjelasan Mikasa yang begitu panjang. Mereka mengangguk-angguk paham.
"Dan, aku memiliki sebuah request khusus kepada kalian." Ucapnya.
Semua kembali mendengarkan dengan seksama.
"Aku memiliki kekuatan yang bisa menyeimbangkan energi antara dunia ini dan dunia manusia. Kekuatan yang aku miliki sangat beresiko besar. Kalau energi itu bocor secara sengaja, maka, dunia ini akan kiamat. Bukan hanya dunia ini, duniaku juga akan mengalami hal yang sama. Karena itulah, aku mohon kepada kalian. Lindungilah aku dari tangan jahat Black Dark Wings. Dan, kalian harus juga bisa menjaga keseimbangan energi dari dunia ini." Tukasnya kepada Tim Eren.
"Baiklah. Request diterima." Kata Levi sambil tersenyum.
"Serahkan saja pada kami." Lanjut Jean sambil mengacungkan jempol.
"Kita kan sudah berjanji untuk melindungimu sampai akhir." Lanjut Armin.
Petra mengangguk. Eren tersenyum kepada Mikasa.
"Terima kasih." Kata Mikasa penuh lega.
Malam itu adalah malam dimana semua pertanyaan telah terjawab. Kini, Eren dan teman-temannya harus melindungi Mikasa sampai akhir requestnya. Mereka mematikan api unggun dan mereka terlelap dalam gelapnya malam. Keesokan harinya, mereka pulang ke serikat dengan penuh bangga. Karena mereka bisa mendapatkan rahasia yang tersirat tentang Mikasa. Namun, mereka tidak menyadari, bahwa perang besar yang akan mengubah sejarah sudah di depan mata.
.
Sebuah rahasia bak rantai kehidupan yang tersirat
Kini pecah dan terbuka
Tapi, perang bersejarah sudah di depan mata
Melawan takdir dan nasib gadis itu
.
To Be Continued
A/N: Konnichiwa minna-san! Ogenki desu ka?
Bulan ini, admin sangat sibuk. Soalnya, admin kepepet UPRAK (Ujian Praktek), terus minggu depannya US (Ujian Sekolah), minggu depannya lagi PESTA TRY OUT lagi dan akhir bulan admin ke Trawas, ada training motivasi soalnya. Minna-san tau sendiri kan T_T
Mari kita bahas fanficnya
Chapte ini adalah jawaban kedua dan JAWABAN SEBENARNYA dari chapter prolog (1 dan 2). Yeey! Sudah terpecahkan akhirnya!
Baiklah. Sampai sejauh ini sudah paham kan?
Chapter selanjutnya adalah chapter yang berbau action! Admin kasih suasana itu dalam 4 chapter yang nantinya chapter 11 adalah Climax (puncak cerita). Admin gak sabar pengin nulis lagi! Tapi, mohon bersabar ya minna-san! Admin akan update fanfic ini secepat mungkin kalo ada free time.
Comment, Tanya, Review, DITERIMA
Arigatou~^^
