Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Naruto berkali-kali mendesah frustasi, mengacak sambil sesekali menjambak surai pirangnya sendiri. Ia kesal, ia marah, namun yang lebih membuat perasaannya kacau dan sesak adalah-

Ia menyesal.

Naruto menyesal meladeni Sasuke yang tengah tersulut emosi kemarin. Mereka akhirnya bertengkar. Pertengkaran terhebat yang terjadi selama kurang lebih sepuluh tahun mereka bersama. Pertengkaran yang tak juga reda meski Sasuke sudah memukulnya hingga terjerembab dan pipi kirinya memar. Naruto menyesal, kenapa ia ikut terpancing hingga membalas Sasuke dan menampar pria itu dengan keras hingga sudut bibirnya berdarah. Naruto tak pernah memukul Sasuke sebelumnya dan kini ia melakukannya. Membuat Sasuke semakin marah dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah.

Dan hari ini, sebuah map dikirimkan ke kediaman mereka, map berwarna merah yang di dalamnya berisi lembaran kertas yang sudah di bubuhi tanda tangan Sasuke di atasnya.

Surat cerai.

Sungguh, Naruto benar-benar menyesal. Ia tak ingin kehilangan Sasuke seperti ini. Ia sungguh mencintai pemuda itu hingga serasa akan mati tanpanya. Bagaimana ia bisa hidup jika Sasuke memutuskan untuk pergi dari hidupnya?

Dengan segala ketakutan yang membuncah, Naruto meraih ponselnya. Mencoba menghubungi lelaki raven itu meskipun Sasuke telah berkali-kali menolak untuk menjawab telponnya.

Tuutt... Tuutt...

Suara nada sambung beberapa kali terdengar sebelum bunyi 'klik' pertanda panggilan itu di jawab.

"Ha-hallo? Sasuke?"

["..."]

Tak ada sahutan dari seberang line sana, tapi Naruto tahu, Sasuke mendengarkan.

"Sasuke, ku mohon maafkan aku. Aku menyesal, Sasuke. Ku mohon jangan hukum aku seperti ini..."

["..."]

Tetap tak ada jawaban dan Naruto semakin merasa putus asa.

"Sasuke... Kau segalanya bagiku. Aku tidak bisa hidup jika kau tidak ada. Ku mohon kembalilah, jangan tinggalkan aku..."

["Kau pikir semudah itu aku bisa memaafkanmu, huh?"]

"Sasuke, dengarkan aku-"

["Sudah cukup, Naruto."]

Naruto terdiam.

["Sekarang, coba kau ambil satu buah gelas di dapur."]

"Huh?"

Meski bingung dengan peralihan pembicaraan dari Sasuke tapi Naruto tetap menurut dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebuah gelas.

["Pecahkan gelas itu di lantai dan lihat, apakah kau mampu mengembalikan bentuknya seperti semula?"]

Naruto tetap diam. Ia memandangi gelas di tangannya dalam-dalam.

["Hal yang sama juga berlaku pada hatiku yang sudah kau hancurkan, Naruto."]

"Tapi, Sasuke..."

["Apa lagi?!"]

"Gelasnya tetap akan terlihat seperti semula walaupun aku sudah membantingnya ke lantai."]

["Apa? Bagaimana mungkin?"]

"Karena yang ku banting adalah gelas pelastik, tehehe."

krik.

Hening. Bahkan Sasuke terdengar tercekat dan menahan napas di ujung sana.

["K-kau... Dasar idiot! Jemput aku di rumah aniki, sekarang!"]

Senyuman di wajah Naruto mengembang.

"Baiklah, tunggu aku. Aku akan menjemput dan membawamu kembali ke dalam pelukanku, Sasuke sayang~~~"

Dan sambungan telepon terputus.

Ya, begitulah akhir dari setiap pertengkaran mereka. Semarah dan sekesal apapun Sasuke, Naruto selalu bisa meluluhkan hati dan mencairkan amarah pemuda raven itu melalui kata-kata atau kalimat yang di luar dugaan.

.

.

.

.

End

A/N : sebenernya ini terinspirasi dari bbm temen... Hehe... Maaf kalo garing /krauk/