Four Brothers

Remake The Chronicles of Audy: 4R by Orizuka.

Character(s): Oh Sehun, Lu Han, and EXO members.

Pairing: SehunxLuhan, slight! Chanbaek and SuLay

Rating: T

Genre: Romance, Family, Drama, lil bit Humor, Yaoi

[Warn!] Bahasa amburadul, typo(s), boyxboy, dll.

I own nothing but this fanfic! Semua milik Tuhan Y.M.EEXO teteup milik SM.

Enjoy!

Chapter 7: The Other Part of the Family.

"Eh, temenmu yang cantik dan imut kemaren itu bakal ke sini lagi, nggak?"

Luhan berhenti menyapu, lalu menatap Chanyeol yang baru keluar kamarnya dan sedang melangkah ke kamar mandi. Hari ini, tak seperti biasanya, dia bangun agak pagi. Harusnya Luhan menyambutnya dengan tepuk tangan, tetapi pertanyaan Chanyeol mengusiknya.

"Maksud kamu Baekhyun?" tanya Luhan. Begitu Chanyeol mengangguk, Luhan bergidik. "Kalaupun dia mau, aku nggak bakal ngizinin."

"Wae?" Chanyeol melongokkan kepala di pintu kamar mandi sambil menyikat gigi. Satu tangannya yang bebas menggaruk rambutnya. Sekilas dia seperti idola yang digilai gadis-gadis remaja, minus tubuh wangi tentunya.

"Wae? Ya karena..." Belum selesai Luhan bicara, Chanyeol sudah berkumur dan melenggang keluar dari kamar mandi. "Karena ini tepatnya! Kamu bisa nggak sih sekalian mandi?"

Chanyeol mengernyit dari dapur. "Kenapa harus mandi?"

Luhan menganga. "Chanyeol, kucing aja mandi!"

"Jadi?" kata Chanyeol tak acuh sambil membawa sekotak besar sereal ke depan televisi.

Amit-amit. Sampai kapanpun, Luhan tidak akan membiarkan Baekhyun dekat-dekat makhluk langka seperti ini (walaupun Luhan yakin dia akan sangat senang dibilang cantik dan imut dan tak keberatan ditaksir Chanyeol).

Luhan baru akan lanjut menyapu saat terdengar suara berisik dari arah pagar. Sehun muncul dari pintu depan dalam setelan training.

"Habis dari mana?" tanya Luhan. Ia tidak melihatnya keluar, ia pikir Sehun masih tidur.

Ah, tunggu. Sehun tidak pernah bangun siang. Kehidupannya kan sudah terjadwal sempurna.

"Olahraga," jawab Sehun singkat, seperti menjaga tiap perkataannya agar tak ada yang terbuang percuma.

Luhan mengamati Sehun yang melangkah ke dispenser dan minum banyak-banyak. Tubuhnya sangat kurus, kenapa dia berolahraga? Sementara yang agak berlemak di sofa sana, tidak melakukannya?

Luhan tersentak saat menyadari Sehun sudah menatapnya tajam. Kenapa sih ia selalu tertangkap basah saat sedang melamun? Sehun punya sensor orang melamun atau bagaimana?

Luhan berdeham, lalu lanjut menyapu. Beberapa saat kemudian, pintu kamar Suho terbuka. Luhan menoleh. Suho muncul dari sana dengan rambut kusut menutupi sebagian dahi, wajah kotak-kotak...

Kotak-kotak? Apa ini?

Luhan menyingkirkan lap dapur yang menutupi wajahnya, lalu melotot ke arah Sehun yang melewatinya sambil menggeleng-geleng pelan. Dia menunjuk sudut bibirnya sendiri sebelum bergabung di sofa bersama Chanyeol. Apaan sih, memangnya aku berliur?, tanya Luhan dalam hati.

Tapi, diluar kesadaran, Luhan menyeka mulutnya dengan punggung tangan.

"Pagi, Lu," sapa Suho yang sedang menghampiri Luhan—lebih tepatnya menghampiri dispenser.

"Pa-Pagi," jawab Luhan tergagap. Ia lantas melirik ke arah Sehun, dan benar saja, dia kembali mengamati Luhan. Sekarang apa, dia punya sensor orang gugup juga?

Luhan segera berbalik dan pura-pura menyapu lantai dapur, tidak mau tahu soal ABG labil itu. "Gimana kerjaan kamu?" tanya Luhan kepada Suho, dengan nada manis.

"Hm, klien kemarin minta banding, permintannya diterima. Sekarang ribet ngurus sidang ulang, deh," jawab Suho, membuat Luhan terharu. Sempat terpikir olehnya kalau Suho akan menjawabnya dengan tatapan jangan-tanya-tanya-kamu-nggak-bakal-ngerti atau semacamnya, tapi kemudian Luhan ingat kalau dia bukan Sehun.

Luhan menatap Suho simpati. "Semoga cepat selesai ya, urusannya."

"Gomawo," Suho tersenyum—yang Luhan balas dengan senyum manisnya juga—lalu menatap sekeliling. "Ziyu mana?"

"Masih tidur," Chanyeol menjawab dengan mulut penuh sereal. "Ngomong-ngomong, kapan kita sarapan? Udah laper, nih."

Luhan menoleh ke arah Chanyeol tak habis pikir. "Itu bukannya lagi sarapan?"

"Sarapan yang bermutu," tambah Chanyeol. Luhan mencibirnya, lalu mengirim sinyal SOS kepada Sehun yang pura-pura tertarik kepada TV.

Luhan sedang melangkah ke kulkas untuk mengambil telur saat ponsel Suho berbunyi nyaring. Luhan tahu itu ponselnya dari nada deringnya yang kelewat standar dan ketinggalan zaman satu dekade. Tapi, ia mencoba maklum. Suho mungkin terlalu sibuk untuk mengurus yang begituan.

Lagipula, mengingat ponsel yang Luhan miliki, ia tidak seharusnya mengomentari ponsel orang lain.

Suho segera mengangkatnya. "Yeoboseyo? Ne. Sekarang? Geuraeyo, Kim-ssi. Arraseo."

Mereka semua mendengar percakapan singkat itu walaupun tidak disengaja. Suho sendiri tampak kebingungan setelah memutus sambungannya.

"Nugu, hyung?" tanya Chanyeol, mewakili rasa penasaran mereka semua.

"Klienku. Dia minta aku datang sekarang juga," jawab Suho, lalu melangkah buru-buru ke dalam kamarnya. Luhan memandangnya kasihan sekaligus kagum. Suho sering meninggalkan rumah pagi-pagi sekali. Dia benar-benar berdedikasi pada pekerjaannya.

Tak berapa lama, dia keluar, lengkap dengan setelan kemeja dan jasnya.

"Nggak mandi dulu, hyung?" tanya Sehun.

"Nggak sempat," Suho mengancingkan lengan kemejanya sambil berderap ke arah ruang tamu.

"Tunggu!" seru Luhan, membuat Suho menengok. Luhan menyambar ponselnya yang tertinggal di meja makan, lalu menyerahkannya.

"Ah, gomawo," Suho menyambut ponselnya sambil tersenyum. Dasinya terpasang miring.

"Aku betulin dulu." Luhan refleks menarik dasi Suho dan membenahi bentuknya. Dulu, ia sering memasangkan dasi ayahnya, jadi mestinya Luhan tak punya banyak kesulitan melakukannya.

Dari sudut mata, Luhan menangkap gerakan tidak biasa dari Suho. Dia menelan ludahnya, lalu detik berikutnya, dia menarik diri dan mencengkram dasinya sendiri.

"Ah, ini nggak apa-apa," Suho berkata jengah, lalu melirik ke arah Chanyeol dan Sehun yang sedang menatap mereka berdua lekat-lekat. "Hyung pergi dulu, ne. Mungkin agak lama."

Setelah mengatakan itu, Suho melesat ke pintu. Luhan menatap kepergiannya dari balik jendela dengan tatapan bingung. Kenapa dia seperti tidak nyaman dan gugup saat aku membenarkan dasinya?, tanyanya dalam hati.

Setelah Suho benar-benar hilang dari pandangannya, Luhan kembali masuk ke ruang tengah dan mendapati Sehun dan Chanyeol di sofa memberinya tatapan tajam. Luhan mengerjap beberapa kali, lalu buru-buru melangkah ke dapur seolah tak ada yang terjadi.

"Kok beda gitu sih reaksinya?" cecar Chanyeol dengan nada tak terima. Luhan menatapnya bingung, tak paham dia bicara apa. "Tadi Suho hyung nggak mandi juga."

Oh.

"Dia sih beda," seloroh Luhan sambil memecahkan telur dan mengocoknya di dalam mangkuk dengan garpu.

Chanyeol mendengus. "Kamu pilih kasih!"

Luhan teramat ingin balas menyahutnya dengan 'aku pasti sudah gila kalau pilih mengasihi orang yang mandi seminggu sekali', tapi ia menahannya. Jadi, Luhan hanya memberi Chanyeol tatapan sengit.

Tapi, seperti biasa, musibah selalu menimpanya. Telur dadarnya langsung gosong begitu Luhan menuangkannya ke wajan. Sepertinya api yang ia nyalakan tadi terlalu besar karena Luhan sibuk menatap Chanyeol sengit.

"Bau apaan nih!" Suara cempreng Ziyu tahu-tahu berkumandang. "Kebakaran ya?"

Luhan membalik badan, lalu menyeringai ke arah Chanyeol, Sehun, dan Ziyu yang sudah menatapnya ngeri. Sehun bangkit dan berderap ke arahnya. Saat Luhan pikir dia mau membantunya memasak seperti waktu itu, dia malah mengeluarkan setumpuk buku dari laci dapur dan menjejalkannya ke pelukan sang pemuda manis.

Tanpa repot-repot menunggu reaksi Luhan, Sehun melangkah ke arah pintu. "Aku beli bibimbap aja."

"Ikut!" seru Chanyeol, dan seperti yang Luhan duga, Ziyu juga mengintil kedua kakaknya.

Luhan menatap tiga bersaudara itu sampai mereka menghilang di balik sekat ruang tengah, lalu meletakkan buku-buku tadi ke meja dan mengambil salah satunya yang berjudul '100+ Tip Pilihan Antigagal Memasak'. Luhan sedang berpikiran untuk membantingnya ke meja ketika pintu depan kembali terbuka dan Sehun muncul lagi di ruang tengah. Ia buru-buru memeluk buku itu.

Sehun menatap Luhan curiga, lalu mengambil dompetnya yang tertinggal di sofa. Sebelum meninggalkan ruang tengah, dia berhenti.

"Soal Suho hyung," katanya dengan suara rendah. Dia kemudian menatap Luhan sungguh-sungguh. "Tolong jangan mengharapkan dia."

Luhan menatap Sehun bingung, tapi dia sudah melengos pergi sebelum Luhan sempat bertanya lebih lanjut.

Apa maksudnya?

...

Perkataaan Sehun tadi pagi berhasil membuat Luhan melamun seharian. Kenapa Sehun mengatakan itu? Apa dia berpikir aku menyukai Suho? Atau apa? Apa dia mengalami syndrome brother-complex?, pikir Luhan seraya melirik setumpuk buku di ujung tempat tidur, lalu menggigit bibir. Apa maksudnya dia memberiku buku-buku itu? Apa karena aku tidak bisa masak, makannya aku tidak boleh mengharapkan Suho? Lagipula, aku tidak mengharapkannya..aku bukan gay, batin Luhan.

Tapi, daripada buku-buku itu dibiarkan sia-sia, lebih baik untuk membacanya sedikit. Mungkin, tingkat memasak Luhan akan meningkat setelah membaca buku-buku itu. Luhan meraih tumpukan buku itu. Berhubung judul '100+ Tip Pilihan Antigagal Memasak' terasa kelewat menghunjam hatinya, Luhan menyingkirkannya dan mengambil 'Menu Sehat Alami untuk Batita dan Balita.'

Luhan membuka halaman yang ditandai label pink bertuliskan nama Ziyu, lalu sampai pada resep cah brokoli. Seseorang—yang Luhan yakini adalah Sehun—menggarisbawahi bagian yang menjelaskan info gizi brokoli dan menambahinya dengan tulisan tangan bahwa brokoli bagus untuk pertumbuhan.

Setelah melihat resep-resep lain, Luhan menutup buku itu, lalu meraih 'Hidangan Berkuah Favorit'. Buku itu ditempeli lebih banyak label berwarna-warni. Label-label hijau yang bertuliskan nama Sehun segera menarik minatnya. Luhan penasaran apa saja makanan yang disukai oleh remaja tampan bersifat sensitif itu. Ia membuka salah satunya, doenjang-jjigae. Oh, ternyata selera nya sederhana juga.

Luhan melirik jam dinding. Sudah pukul sebelas malam, tapi Suho belum juga pulang. Ia menutup buku itu, lalu melangkah ke luar paviliun menuju rumah utama. Lampu-lampu sudah dimatikan, jadi Luhan berjingkat ke arah dapur untuk membuat cokelat hangat sembari menunggu Suho pulang.

Tahu-tahu, pintu kamar Chanyeol terbuka. Dia nyengir begitu melihat Luhan.

"Belum tidur?" tanyanya, membuat Luhan menggeleng. Chanyeol mengangguk-angguk dan melangkah ke arah dispenser untuk mengisi tumbler Pororo-nya. Setelah terisi penuh, dia menoleh ke arah Luhan dan menatapnya lekat-lekat. Luhan sampai harus mengalihkan perhatian dengan meneguk cokelatnya yang sialnya, kelewat panas untuk ukuran cokelat hangat.

Luhan menjulurkan lidah yang terbakar, lalu mendelik Chanyeol yang terkekeh. "Mwo?"

Chanyeol bersandar di meja dapur, lalu kembali mengamati Luhan. "Kamu lagi nggak nunggu Suho hyung, kan?"

Sebelum Luhan menjawab, pintu kamar Sehun tiba-tiba terbuka, membuat Luhan menoleh. Sehun muncul dari sana dengan muka masam seperti biasa, tapi dengan kadar keasaman yang lebih tinggi karena melihat Luhan.

"Mau cokelat, Hun?" Luhan mencoba ramah, tapi remaja tampan itu cuma melengos ke kamar mandi. Tuhan, tolong beri aku kesabaran...—batin Luhan kesal bercampur sedih.

"Sehun ngomong sesuatu ya tadi siang?"

Kata-kata Chanyeol membuat Luhan menatapnya dengan mata terbuka lebar. Bagaimana Chanyeol bisa tahu?

"Sehun biasanya nggak sesepet itu. Pasti dia ngomong sesuatu pas balik ngambil dompet," kata Chanyeol lagi dengan tangan mengelus dagu, seolah dia Sherlock Holmes. "Dia bilang apa soal Suho hyung?"

Luhan tahu ia ternganga, jadi ia segera menutup mulut dan meneguk ludah. "Itu..dia bilang...supaya aku nggak berharap."

Chanyeol tak berkomentar apapun dan hanya menatap Luhan simpati. Luhan pun bersimpati pada dirinya sendiri. Apa dosanya sih, sampai dikatai begitu oleh remaja tujuh belas tahun?

"Besok kamu nggak ada acara kan?" Chanyeol tahu-tahu mengalihkan topik. "Besok kita pergi ke suatu tempat."

"Nggak ah, gomawo," tolak Luhan, setengah keki karena dia dengan sok tahu mengatakan ia tidak punya acara. Kesannya ia tidak punya kehidupan selain beres-beres rumahnya.

Yah, memang tidak punya sih.

"Besok jam sebelas, ne." Chanyeol sepertinya tidak mendengarkan Luhan, karena setelah mengatakan itu, dia meraih tumbler nya lalu menghilang ke kamarnya.

Tepat setelah pintunya tertutup, terdengar suara pagar terbuka. Luhan segera melompat ke ruang tamu dan membukakan pintu untuk Suho yang terlihat kaget.

"Lho, kamu belum tidur, Lu?" tanyanya dengan wajah kuyu. Dia pasti sangat lelah setelah bekerja seharian.

"Belum. Mau aku bikinin cokelat hangat?" tawar Luhan, tapi Suho segera menggeleng.

"Gomawo," katanya dan melewati Luhan begitu saja, tanpa senyumnya yang biasa. Apa pekerjaannya benar-benar berat?

Luhan berniat menanyakan itu, tapi Suho sudah keburu masuk ke kamarnya, seperti enggan berlama-lama ngobrol dengannya. Sehun keluar dari kamar mandi dan memberi Luhan tatapan apa-kubilang sebelum akhirnya menghilang ke kamarnya sendiri.

Ruangan ini terlalu sunyi sehingga membuat Luhan merasa kesepian.


Luhan memang sudah menolak untuk pergi, tetapi kenyataannya, disinilah ia berada, di bus kota berwarna hijau, bersama si tiang listrik berjalan yang menyebalkan! Sebut saja Chanyeol!

Sepanjang jalan Luhan menyesali keputusannya untuk ikut dengan Chanyeol. Seharusnya ia dirumah saja bersama Sehun dan Ziyu. Setidaknya mereka bakal sibuk dengan kegiatan masing-masing, bukannya mengajak diskusi di dalam bus soal kebijakan baru Menkominfo. Memangnya Luhan paham? Ia cuma pengguna Google!

"Kita mau ke mana sih?" tanya Luhan diantara deru mesin bus, mencoba untuk menghentikan Chanyeol yang sekarang mengajarinya perbedaan HTML dan HTTP.

"Ah, sebentar lagi sampai!" seru Chanyeol sambil menepuk tangan (Luhan bersyukur menanyainya di waktu yang tepat), lalu bangkit dan turun dari bus. Luhan mengekor di belakangnya.

Menit berikutnya, mereka sudah berdiri di seberang bangunan besar bernuansa biru muda. Luhan mengenali bangunan ini sebagai Asan Medical Center (Rumah sakit terbesar di Korea).

Luhan menoleh cepat ke arah Chanyeol. "Kamu sakit?!"

Alih-alih menjawab, Chanyeol malah menggamit lengan Luhan dan membawanya menyebrang jalan, masuk ke kompleks rumah sakit yang ramai. Luhan cuma menurut sambil mengamatinya, kalau-kalau dia mendadak kejang-kejang atau bagaimana. Maksudnya, dia kan jarang mandi, mungkin saja dia kena infeksi kulit atau apa.

Tapi, dia melewati bagian pendaftaran dan berbelok ke bangsal rawat inap. Dia mengangguk sopan kepada seorang ahjussi penjaga gerbang bangsal itu, seolah sudah kenal sebelumnya. Para perawat yang berpapasan dengan mereka pun tersenyum manis kepada Chanyeol, yang dibalas dengan anggukan yang—mungkin menurutnya—penuh karisma. Luhan menatapnya heran.

"Yeol? Kita mau kemana?" tanya Luhan bingung. Chanyeol berhenti di depan sebuah kamar dan melepaskan tangan Luhan. Luhan menatap pintu kamar itu, lalu kembali menatap Chanyeol. "Ini kamar siapa?"

"Dengar," Chanyeol membalik badan, lalu balas menatap Luhan serius. Jarang sekali Luhan melihatnya punya ekspresi seperti ini, jadi Luhan sedikit merinding. "Yang ada di dalam sini adalah alasan kenapa Sehun ngomong seperti itu ke kamu. Menurutku, lebih baik...kamu tahu semuanya dari awal."

"Eh?" gumam Luhan, tak paham. "Tahu...apa?"

Chanyeol menghela napas sejenak, lalu membuka pintu kamar itu. Wangi mawar langsung terhirup indra penciuman Luhan, membuat otaknya seketika terasa kosong. Chanyeol masuk terlebih dahulu, lalu kembali menggamit tangan mungil Luhan begitu tahu ia tak mengikutinya. Dia menarik Luhan ke arah sebuah ranjang di tengah ruangan yang di dominasi warna putih.

Seorang lelaki muda yang terlihat cantik terbaring di sana, tidur dengan damai seperti Snow White. Lelaki itu bernapas dibantu dengan alat-alat pernapasan berat dari hidung dan mulutnya, juga infus di tangannya. Di samping tempat tidur, terdapat beberapa tangkai bunga mawar merah segar di dalam vas bening yang terisi air. Luhan melirik papan nama yang terpasang di sisi depan tempat tidur lelaki itu dan membacanya: Zhang Yixing, 25 tahun.

"Ini...siapa, Yeol?" tanya Luhan. Chanyeol memberi Luhan tatapan simpatik tadi malam, hanya saja kali ini ada kilat pahit di matanya.

"Perkenalkan, ini Yixing hyung..." Chanyeol mengambil jeda sejenak. "Tunangan Suho hyung."

Luhan mengerjap beberapa kali, lalu detik berikutnya menatap Chanyeol tidak percaya. Suho ternyata...gay?

"Sepuluh tahun lalu, Appa dipindah kerja ke sini dari Gyeonggi," kata Chanyeol, membuat Luhan paham mereka tidak punya keluarga disini. "Yixing hyung magang di kantor Appa. Appa yang mengenalkan dia ke Suho hyung."

Chanyeol terus bercerita. "Dia terlibat kecelakaan bareng orangtuaku dua tahun lalu," jelas Chanyeol. "Mereka baru dari sanggar pengantin waktu ditabrak truk di Gangnam. Kedua orangtuaku yang duduk di depan meninggal di tempat, tapi Yixing hyung koma."

Luhan ingin meminta Chanyeol untuk berhenti bercanda, tapi matanya yang menerawang jauh sementara dia menatap wajah pucat Yixing membuat Luhan sadar kalau dia serius. Dia tidak akan pernah bercanda mengenai hal sepenting ini.

"Yixing hyung sudah koma dua tahun dan belum bangun juga," Chanyeol meneruskan. "Dokter pernah menyarankan untuk merelakan dia. Keluarganya sudah setuju, tapi Suho hyung belum rela. Jadi, Suho hyung yang bertanggung jawab dan membiayai perawatannya. Karena itu juga, kami tetap tinggal disini. Appa dan eomma juga dimakamkan disini."

Informasi ini terlalu deras, tiba-tiba, dan menghantam Luhan seperti ombak. Ia tidak siap, sehingga dadanya terasa luar biasa sesak. Jadi, ini sebabnya Suho selalu perhitungan. Selain menghidupi adik-adiknya, dia harus membiayai perawatan tunangannya.

"Sehun ngomong seperti itu karena dia tahu kalau kamu suka sama Suho hyung," kata Chanyeol lagi, lalu menatap Luhan dalam-dalam. Luhan mengernyit bingung. "Makannya sekarang aku bawa kamu ke sini—"

Sebelum Chanyeol selesai dengan perkataannya, Luhan memotong. "Kalian pikir aku suka sama Suho?"

Sekarang, gantian Chanyeol yang mengernyit. "Lho? Bukannya sikapmu kemarin ke Suho hyung itu kan karena kamu menyukainya—"

"Aniyo, bukan seperti itu," potong Luhan lagi sambil memijat dahinya. "Aku hanya refleks membenarkan dasinya yang miring itu. Dan untuk nada manis yang selalu aku buat saat ngomong dengannya, karena aku mengaguminya dan dia baik padaku. Dan lagi, kemarin memang aku menunggunya pulang, hanya karena aku khawatir. Tidak ada perasaan suka atau cinta atau apapun. Aku hanya mengaguminya."

Tahu-tahu pintu kamar terbuka, membuat Chanyeol dan Luhan sama-sama menoleh ke pintu. Suho berdiri di ambang pintu, satu tangannya memegang kopi kalengan, tangan yang lain memegang beberapa tangkai mawar merah segar. Dia menatap Luhan dengan wajah tidak percaya.

"Jadi...kamu nggak menyukaiku?" tanya Suho kepada Luhan yang balas menatapnya yakin, lalu mengangguk.

Chanyeol ikut menatap Luhan dengan mulut menganga. "Jadi...semua ini salah paham?" tanyanya bego.

Luhan mendengus, ingin menertawakan kebodohannya yang sudah kelewat batas. "Ya iyalah. Aku ini normal, bukan gay. Yah, aku sempat terkejut sih, saat menyadari kalau ternyata Suho itu gay..." kata Luhan lalu melirik ke arah pemuda berwajah angelic itu yang sedang melangkah ke arah Yixing. Suho terkekeh.

"Ternyata salah paham. Mianhae, Lu. Karena sikapmu yang seperti yeoja remaja yang sedang dilanda jatuh cinta jadi membuatku salah mengartikan sikapmu itu," kata Suho sambil mengganti mawar merah yang di vas tadi dengan mawar yang dipegangnya.

Luhan mendelik ke arahnya. "Ya! Aku ini namja! Aku ini manly!" sahut Luhan dengan bibir mengerucut kesal. Suho dan Chanyeol sama-sama tertawa melihat sikap Luhan yang menggemaskan itu.

"Ya sudah hyung, kita pulang dulu, ne," kata Chanyeol, lalu bangkit dari kursi yang tadi diduduki nya dan melenggang ke arah pintu kamar. Luhan bangkit dan bermaksud mengikutinya, tapi Suho terlebih dulu mencegahnya.

"Tunggu," cegah Suho, membuat Chanyeol dan Luhan menoleh bersamaan. "Yeol, kamu bisa pulang duluan," kata Suho, yang membuat Chanyeol mengernyit. Chanyeol melirik Luhan sebentar, lalu mengangkat bahunya.

"Oke kalau gitu," Chanyeol lalu berbalik dan menutup pintu kamar pelan.

Luhan menatap Suho dengan dahi berkerut. "Ada apa, Ho? Kamu mau ngomong sesuatu?"

"Duduk dulu," perintah Suho. Luhan menurut. Ia menarik kursi yang tadi ia duduki, lalu mendudukinya. Suho juga ikut duduk, tapi di sisi lain tempat tidur Yixing. Suho menatap Luhan lembut.

"Lu, tahu nggak?" ucap Suho, membuat mata rusa Luhan beralih kepadanya.

Luhan menelengkan kepalanya. "Apa?" tanya Luhan.

"Kamu dan Yixing itu berbeda," katanya lagi. Dari segi pandang Luhan, Suho tampak lelah, tapi tetap mengusahakan senyum. "Yixing mungkin lebih sabar dan keibuan, tapi kamu ceria dan menghibur. Sudah begitu lama semenjak rumah jadi terasa...seperti rumah."

Mata Luhan melebar saat mendengarnya. Suho sendiri mengambil kopi kalengannya yang tadi dia letakkan di meja samping tempat tidur Yixing, lalu meminumnya sedikit.

"Setelah kecelakaan itu, semua orang selalu mengurung diri di kamar, sibuk masing-masing. Setiap makan pun jarang ada yang ngobrol. Tapi, semenjak kamu datang, semuanya jadi senang nongkrong di ruang keluarga lagi. Semuanya jadi berisik." Sudut bibir Suho terangkat saat mengingat momen itu.

Luhan sama sekali tidak tahu soal ini. Ia pikir, mereka memang senang berkumpul. Ia pikir, mereka memang berisik.

Suho menepuk bahu Luhan pelan. "Semua itu karena kamu, Lu. Jadi, aku seharusnya berterima kasih kamu sudah mau bertahan di rumah kami."

Luhan menatapnya lama, lalu mendengus geli. "Ini jebakan Suho lagi, kan?"

Dulu, Luhan pernah terjebak rayuannya. Sekarang, sepertinya semuanya terulang lagi. Walaupun begitu, kali ini Luhan mengizinkannya melakukannya. Pemuda berwajah angelic itu butuh bantuan, dan tidak tahu kenapa, Luhan ingin membantunya.

Suho tertawa lepas. "Makannya aku jadi pengacara."

Luhan mengangguk-angguk setuju, lalu menatap Yixing yang masih terpejam. "Kapan-kapan aku boleh ke sini lagi?" tanyanya kepada Suho yang segera mengangguk dan tersenyum. Senyuman lebar tanpa pretensi yang Luhan rindukan.

Melihat senyuman itu, pundak Luhan jadi terasa ringan. Jadi, Luhan meninggalkan ruangan itu dengan hati yang lapang. Rasanya, mulai sekarang ia bisa bekerja di rumah itu tanpa beban. Sebenarnya Luhan ingat soal skripsinya sih, tapi saat ini, ia benar-benar tidak mau memikirkannya.

Setelah menutup pintu, Luhan menghela napas dan menghembuskannya mantap, bermaksud pulang. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat Sehun sedang bersandar di dinding samping kamar. Satu tangannya diselipkan ke saku celana jeans nya, tangan yang lain mengenggam beberapa tangkai mawar merah.

Luhan hanya bisa terpaku sampai Sehun menoleh ke arahnya. Dia menatap Luhan lama, cukup lama sehingga membuat Luhan menyadari sesuatu: dia mempunyai perasaan pada salah satu yang ada di dalam kamar itu.

Sehun menyodorkan mawar yang dipegangnya kepada Luhan. Luhan menerimanya walaupun bingung. "Ayo pulang," katanya, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Luhan menatap punggung Sehun yang kurus dan tampak rapuh. Mawar yang ia genggam seperti menusuk telapak tangan, padahal Luhan tahu durinya sudah tidak ada.

Mungkin, Sehun jauh lebih dewasa dari yang ia duga.

.

.

.

To be Continued...

DUN DUN DUN DUN TUNANGAN SI HOLKAY MUNCUL DUAR (?)

IIIH SEHUN BIKIN GREGETTTT SAYA JUGA MAU DIGITUIN MZ *nangis kejer*

4-5 chapter lagi mungkin udah ada hunhan moment, ditunggu ya~

Nb: salah satu yang ada di dalam kamar itu: Yixing. Jangan ada yang berpikiran itu Suho okay.

So...mind to RnR? :3