NARUHINA HAPPY WEDDING!
SASUKE IS BAAAACK
Tapak kaki seseorang yang sedang terburu-buru terdengar di lorong. Kaki kecil mlik seorang gadis berambut hitam panjang terikat dua yang ikut melompat-lompat di kanan dan kiri bahunya seraya ia berlari. Gadis kecil itu mengikuti lorong yang berkelok. Ketika dilihatnya hamparan hijau taman dan terdengar ketuk bambu yang mengena pinggir kolam, larinya perlahan melambat. Di depan kolam tersebut ada dua orang pria duduk berdampingan dengan wajah menghadap ke arah langit.
"Cuaca yang hebat."
Suara yang sangat dikenalnya membuat gadis kecil itu menghentikan langkah dan berdiri bersembunyi dibalik tirai bambu. Memperhatikan dua punggung lebar yang sama-sama mengenakan hakama.
"Aku menemui Iruka-san beberapa hari yang lalu," sambungnya setelah terdiam selama beberapa saat.
"Eh?"
"Maaf, tapi tanpa seijinmu aku sudah memintanya terlebih dahulu."
Naruto tersenyum. "Jadi begitu, ya. Pantas saja Iruka sensei tidak begitu kaget saat aku memintanya menjadi waliku."
"Ya, begitu."
Naruto merasa senang bahwa Iruka mau menjadi perwakilannya untuk menjadi saksi pernikahannya. Satu minggu sebelum tanggal pernikahannya, Naruto merasa bingung dan gugup harus memilih satu dari semua kerabat dekatnya untuk menjadi wakilnya. Ketika sedang berjalan menuju kedai ramen seperti biasanya, Naruto berpapasan dengan Konohamaru.
"Nii-chan, dengar ya, Kakashi-sensei itu pilihan yang tidak tepat. Kau yakin dia tidak akan telat nanti? Kemudian Tsunade baa-chan, aduh yang benar saja. Bisa-bisa dia mengamuk karena kau mendahuluinya menikah."
Konohamaru lanjut menjelaskan pada Naruto, "Jika bukan Iruka-sensei, aku rasa tidak ada orang lain lagi di desa ini." Kata-kata 'di desa ini' membuat Naruto tertegun beberapa saat. Kedua orangtuanya, Kakek Sandaime Hokage, dan Jiraiya, wajah-wajah orang tersebut melewati ingatannya. Naruto ingat bahwa pilihan-pilihan itu tidak mudah baginya untuk memutuskan sendiri. Beruntung ternyata Konohamaru telah tumbuh lebih dewasa dari kelihatannya.
Senyum Naruto masih mengembang. "Terima kasih," katanya pada pria tua di sampingnya. Matanya yang abu-abu, wajah putih salju dengat kerutan, hari itu tersenyum lebar padanya.
"Aku merasa tenang. Karena kau yang akan menikahi putriku, aku merasa begitu tenang," Jawabnya.
Tidak ada gurat cemas meski sedikit. Cuaca hari itu memastikan hal yang hebat benar-benar akan menjad kenyataan. Hati Hiashi yang selama ini dipenuhi kecemasan akan masa depan putrinya, yang dahulu semata hanya untuk masa depan klan, kini dipenuhi ketenangan. Dirinya tidak perlu mengkhawatirkan Hinata apalagi klan yang suatu saat nanti akan ditinggalkannya.
Hiashi mengangkat tubuhnya dari kursi batu yang ia duduki secara perlahan. Naruto melakukan hal yang sama. Tanpa melepaskan pandangannya dari mata biru laut di hadapannya, Hiashi memegang pundak Naruto.
Getaran hangat memenuhi Naruto seketika. Seakaan ayah dan ibunya berdiri di kanan dan kirinya dengan senyum, Naruto merasakan getaran penuh kebahagiaan. Penuh harapan. Mata Hiashi meyakinkan hal tersebut.
"Terima kasih." katanya begitu lantang sembari mendukkan kepalanya ke arah Naruto.
Tentu saja Naruto melakukan hal yang sama. Keduanya kemudian membalikan badan dan melangkah naik ke lorong dengan senyum Naruto masih tergantung di ujung bibirnya.
"Hanabi keluarlah, kau tidak perlu bersembunyi lagi." Hiashi memiringkan kepala ke arah tirai bambu dimana Hanabi bersembunyi.
Hanabi muncul perlahan dengan wajah tersipu. "Nee-chan sudah siap berangkat, aku kemari untuk memberitahukan itu."
"Baiklah. Naruto, pergilah jemput Hinata, aku akan mengabari yang lain untuk segera berangkat ke kuil."
"Iya, ayah."
Hiashi hampir terhenti ketika mendengar Naruto memanggilnya ayah. Ia hampir tersenyum dibuatnya, sebelum akhirnya melanjutkan langkah.
"Oi, Onii-san," Hanabi memandanginya dengan menyipitkan mata.
Wajah Hanabi di hadapannya membuat Naruto gemas. Pipi Hanabi yang bulat dan wajahnya yang putih seperti salju, mengingatkan Naruto pada Hinata sewaktu kecil. Hanabi mengeluarkan jemari kecilnya yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung, mengarahkan Naruto untuk mendekat ke padanya.
"Kuberitahu, ya."
Naruto mengarahkan telinganya ketika Hanabi berbisik, "Ng?"
"Aku tidak begitu menyukai onee-chan, tapi aku sangat senang kau mau bersama-sama dengannya. Sekarang aku serahkan tugasku dan Neji Nii-san padamu. Jaga dia baik-baik."
Hanabi kemudian mencium pipi Naruto. Cepat sekali sampai Naruto tidak sadar apa yang sudah terjadi. Ia melihat Hanabi berlari meninggalkannya mengejar Hiashi. Mengatakan sesuatu tentang membawa serta foto Neji. Dan pada akhirnya Naruto hanya bisa tersenyum. Ia menegakkan tubuh, lalu tersenyum lebih lebar lagi.
.
.
.
Ketika Naruto dan Hinata melangkah turun dari tangga semua orang terhenti untuk memandang. Mengagumi keduanya yang berjalan perlahan beriringan dengan latar belakang pohon Sakura yang menari-nari dan lukisan wajah para kage di atasnya.
Diantara semua senyum para tamu undangan , Iruka Umino, meneteskan air mata seketika itu juga. Perasaan haru dan bangga terus-menerus membuatnya meneteskan air mata kebahagiaan. Kakashi yang berdiri di sampingnya menarik napas, tidak berani mengedipkan mata, takut akan kehilangan moment yang paling penting selama ia menjadi Rokudaime Hokage. Keputusannya untuk meminta tolong pada Negara lain menggantikan seluruh Shinobi–kerabat Naruto–yang datang pada pesta pernikahan Naruto hari ini membuat Kakashi bahagia. Ia memandang wajah Yondaime di atas bukit, "Yosh, Sensei, aku melakukannya dengan baik!" serunya dalam hati. Kakashi sangat puas sekaligus bangga dengan keputusannya.
"Hinata selamat, ya." Ino, Tenten dan Sakura menyambut Hinata bersamaan. Naruto dan Hinata berdiri terpisah meski tidak jauh dari satu sama lain.
"Terima kasih, ya," Hinata memeluk ketiganya, erat sekali, "Maaf membuat kalian menunggu." Meski hanya mengenakan kimono sederhana, wajahnya yang putih terlihat sempurna dengan riasan yang juga sangat sederhana. Sakura dibuat terpukau dan tidak bisa berkata apa-apa selain memandangi Hinata tak' berkedip.
"Naruto, dia terlihat berbeda sekali, ya," disisi lain, Ino dan Tenten begitu terkejut melihat Naruto berpakaian rapih dan terlihat tampan. Membuat keduanya bertukar pandang satu sama lain.
"Hinata," kata Ino sembari menyenggol bahu Hinata. "Naruto keren sekali. Sekarang baru kalian terlihat cocok."
Tenten terkekeh, "Aku yakin kau tidak bisa melepaskan pandanganmu ya, Hinata."
Lalu wajah Hinata merona merah muda. Kepala Sakura menggeleng-geleng mendengar kedua temannya. Sakura mendengar suara tawa kecil Hinata di hadapannya. Wajah Hinata yang memerah natural, bulu matanya yang lentik, dan suara tawanya yang hampir tak terdengar. Terlihat sangat–amat–manis. Membuat Sakura–atau siapapun disana–sekali lag iri padanya.
"Ayo-ayo kita berfoto dulu," Ino mengeluarkan kamera setelah beberapa saat merogoh-rogoh saku celana milik Sai. "Maaf sayang, kau berfoto dengan Naruto saja nanti," katanya meninggalkan Sai yang berdiri setia tidak jauh dari Ino, hanya bisa tersenyum.
Tamu terus berdatangan mengelilingi Naruto dan Hinata. Bergirilan menghampiri keduanya. Memberi selamat, memberikan kado, juga tidak lupa memberikan do'a yang terbaik bagi keduanya. Saat yang lain sudah mundur, Sakura menyadari bahwa gilirannya lah–sebagai yang terakhir–menghampiri Naruto dan Hinata. Akhirnya ia dapat melihat Naruto lebih dekat dari sebelumnya. Sakura dapat melihat bahwa apa yang dikatakan Ino sebelumnya benar–benar bukan sekedar untuk menggoda Hinata. Tanpa sadar Sakura tersenyum penuh haru di hadapan keduanya.
Tubuh tinggi yang tegap, dada bidang, dengan malu-malu ia menunjukkan sederet gigi ke hadapan Sakura, "Sakura-chan," kata Naruto mendahului Sakura.
"Selamat ya," Suara Sakura hampir tercekat, dipenuhi rasa bahagia yang begitu kuat. "Lihat," Sakura mengeluarkan secarik kertas dari tas lipat kecilnya. Tinta hitam yang ditulis dengan begitu rapih.
"Ah, Sasuke," Naruto menyeringai. Mata biru lautnya terbuka lebar melihat tulisan 'Selamat' yang diberikan oleh Sasuke.
Sai dan Ino memerhatikan dari belakang. Wajah Sakura yang tersenyum lebar di hadapan Naruto dan Hinata membuat semua tenang, kecuali Sai. "Ia akan baik-baik saja," Ino meremas tangan Sai.
Ino mendekatkan tubuhnya pada Sai, "Ia baik-baik saja, Sai," sekali lagi Ino meyakinkan.
Ekspresi datar yang sebelumnya menghampiri, kini berubah menjadi senyum tulus begitu tenang. Sai merasa tenang. Tentu saja, hanya Ino yang mampu membacanya, juga Ino yang akan menenangkannya. Sai percaya pada Ino, bukan hanya karena Ino adalah teman semasa kecil Sakura, namun karena Sai percaya padanya.
"Terima kasih, Sakura-chan," Naruto dan Hinata mengatakannya secara bergantian setelah menerima kado dari Sakura, juga secarik kertas berharga yang akan selamanya disimpan oleh Naruto dan Hinata.
Sakura memandangi keduanya dengan hati penuh harap agar mereka selalu dilindungi dan diberikan kebahagiaan. Sakura mengabadikan momen itu dengan kedua matanya untuk diingat sampai ia tua nanti. Naruto dihadapannya akan selalu menjadi Naruto yang ada dalam ingatannya. Air matanya hampir tumpah jika bukan karena rasa malunya. Sakura mengatakan berulang-ulang pada dirinya sendiri bahwa ia akan terlihat bodoh dan jelek saat difoto nanti jika ia sampai menangis.
Sakura memeluk keduanya, "Sekali lagi selamat, ya." dengan pelukan yang sangat erat, sambil membayangkan tangan Sasuke ikut melingkar bersamanya.
.
.
.
Sasuke membuka pintu dihadapannya. Kayunya sudah begitu tua, tidak terawat sampai sulit untuk dibuka. Ia berdiri dengan mata tertutup selama beberapa saat debu berterbangan ke arahnya ketika pintu terbuka. Matanya yang perlahan membuka, disuguhi pemandangan ruangan tengah rumah yang kosong dan hanya dipenuhi debu. Cahaya matahari menembus dari sobekan – sobekan kecil dari jendela.
Sasuke menelusuri lorong dimana diujungnya terdapat ruangan lain. Kamar Itachi. Ingatannya masih jelas ketika kaki kecilnya berlari dilorong itu kemudian masuk ke kamar Itachi, tanpa seijinnya Sasuke kecil mengganggunya yang sedang tidur atau belajar. Sasuke menyinggungkan senyum kecil teringat Itachi–meski merasa terganggu–akan selalu menyambut Sasuke dan menanyakan apa yang dibutuhkan olehnya.
Sasuke membalikkan badan. Ia melanjutkan berjalan menelusuri pekarangan belakang melewati ruang tengah. Lantai kayunya terus berdecit rapuh. Ketika pintu menghadap pekarangan dibuka, cahaya pagi masuk menghangatkan seluruh ruangan yang entah berapa lama tidak pernah menghirup udara segar.
Musim semi menghiasi pekarangan dengan pohon Sakura rindang dan rumput-rumput liar yang tumbuh subur setinggi pinggang orang dewasa. Pepohonan berbunyi tenang ketika angin berhembus melewatinya, menjatuhkan kelopak bunga-bunga Sakura dari ujung dahannya. Sasuke mendapati satu ke dalam telapak tangannya. Sasuke merasakan seseorang datang bersamaan dengan angin tersebut. Akhirnya, pikir Sasuke.
"Aku pikir kau tidak akan tahu." Sindir Sasuke, menarik senyum di sudut bibirnya.
Naruto berdiri gagah di hadapannya. Belum sampai tiga puluh menit Sasuke kembali ke Konoha, ia sudah ketahuan oleh Naruto. Sasuke tidak sangsi akan kehebatan sahabatnya itu.
"Kau pulang untuk memberikan selamat untukku, kan?" Naruto balik menggodanya. Senyum Sasuke masih belum hilang dari wajahnya.
Naruto membawa Sasuke ke tempat yang lebih aman setelahnya. Ia tidak tega membiarkan Sasuke bernostalgia dengan rumah lamanya yang penuh kenangan kelam. Hinata terkejut bukan main ketika dari pintu menyambut kedatangan suaminya, yang tidak biasanya pulang sebelum matahari mulai terbenam. Naruto mencium keningnya dan menempelkan satu jari ke mulutnya. Hinata mengangguk segera. Dan mempersilahkan Sasuke masuk dengan begitu ramah.
Sasuke menunduk ke arah Hinata, setelah beberapa saat terdiam, mencoba mengingat bahwa sosok Hinata yang berada di hadapannya sekarang adalah pasangan dari sahabatnya. Kaki Sasuke melangkah masuk ke dalam sendal rumah yang hangat. Begitu pula yang dirasakannya ketika melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam rumah. Rasa hangat itu begitu jelas, jauh berbanding terbalik dari rumah yang sebelumnya ia datangi. Ditambah, ia sudah lupa kapan terakhir kali ia disambut pulang dengan senyuman.
"Aku akan siapkan makanan," tangan Hinata menarik jaket Naruto dengan sigap, menggantungkannya dengan rapi ke rak baju di dalam kamar.
Naruto mengajak Sasuke masuk dan berkeliling, memamerkan foto-foto yang berisikan kenangan yang Sasuke lewatkan. Sasuke tidak pernah heran ketika akhirnya Naruto menjalani hidup bersama Hinata. Sejauh ingatannya mampu mengingat, Hinata selalu diam-diam mencuri pandang pada Naruto setiap mereka berdekatan. Foto-foto temannya yang lain terpajang di foto pernikahan Naruto yang dicetak besar berada di tengah ruang keluarga. Sasuke terhenti untuk memandanginya. Ketika semua temannya berdiri berpasangan, matanya tertuju pada sesosok gadis yang berdiri mengenakan dress satu padan dengan warna rambutnya, merah muda. Sakura berdiri dengan senyuman. Senyum yang entah kapan terakhir kali dilihat oleh Sasuke.
Mereka kemudian duduk diruang tengah, tidak ada basa basi Sasuke langsung membahas semua yang terjadi selama perjalanannya. Semua informasi yang penting untuk Naruto ketahui.
"Naruto, aku harus segera menemui Rokudaime Hokage untuk memberitahukannya juga."
Naruto mengangguk, "Aku ikut bersamamu," kemudian dia teringat sesuatu. Wajahnya berubah pucat, tangannya berkeringat seketika, "Kalau aku bertemu Kakashi sensei, dia akan tahu bahwa aku kabur dari tugasku."
Suara Naruto yang melengking terdengar oleh Hinata yang sedang menyiapkan makan di dapur. "Maafkan aku, Sasuke," katanya lagi setengah berteriak. Hinata tertawa kecil. Kalau suaminya masih begitu, sia-sia saja menyuruh Hinata menjaga rahasia kedatangan Sasuke, dengan suaranya sendiri separuh desa akan segera tahu bahwa Sasuke sudah pulang.
Dengan alis setengah terangkat, Sasuke berusaha menenangkan pendengarannya. "Aku lupa betapa berisiknya Naruto."
"Lalu, lalu, apakah kau akan pergi lagi?"
"Kalau itu yang dibutuhkan. Masih banyak yang perlu aku cari tahu. Lagipula," sesuatu menghentikannya. Ia melihat keluar jendela, memandangi pohon Sakura menari-nari tertiup angin.
"Eeeeh!? Kau tidak bisa pergi lagi begitu saja, aku masih mau mengajakmu berkeliling Konoha. Kau harus melihat..." Naruto meracau entah kemana. Pendengaran Sasuke dalam hitungan menit sudah mulai kembali terbiasa akan ocehan Naruto.
"Lagipula tidak ada tempat untukku pulang," sambung Sasuke. Diperhatikannya baik-baik respon Naruto yang terdiam seketika.
Melipat dada sembari menghembuskan napas kencang-kencang, Naruto menanggapinya, "Payahnya, jawaban macam apa itu."
Kening Sasuke berdenyut sebelah. Perlahan dalam hati ia berbisik bahwa ia tidak akan menghajar Naruto di rumahnya sendiri.
"Aku akan selalu ada untuk menerimamu disini. Aku rasa begitupun dengan Sakura-chan, Kakashi sensei dan yang lainnya." Naruto menurunkan kedua lengannya yang terlipat. Lengan sintetis yang ditempelkan di lengan kanan Naruto tergulung oleh kain panjang hingga siku menarik perhatian Sasuke. Sasuke tidak menyadarinya sampai saat ia melihat lengan itu dengan Sharingannya. Bukan hanya melihat kulit, tulang, hingga sel-sel kecil yang ada di dalam gulungan itu, Sasuke juga melihat ingatan bagaimana lengan itu dapat terputus.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Sasuke mengeluarkan suara, "Terima kasih." Sasuke tidak sadar menarik senyum. Tentu saja, Naruto, yang duduk dengan lebar tersenyum di hadapannya saat ini, sampai kapanpun dapat ia andalkan.
"Baiklah, kuantar saja sampai di luar. Tidak terasa sudah sore, ya."
Setelah berpamitan dengan Hinata, tanpa sempat menyantap makan malam yang sudah tersuguh di meja makan, Sasuke pergi untuk menemui Rokudaime Hokage. Sasuke memandangi papan bertuliskan Api yang bertengger tepat di bawah jendela ruang kerja Hokage.
Sasuke melirik Naruto disampingnya, "Hn," jawabnya singkat.
"Aku tinggal, ya. Aku akan pergi menemui Iruka sensei, kasihan aku meninggalkannya terlalu lama." Naruto melangkah pergi. Baru beberapa langkah saja Naruto teringat akan sesuatu. Ia buru-buru menghentikan langkah, "Kau akan menemui Sakura-chan setelah ini, kan?"
.
Udara sejuk Konoha menyentuh kulit dua Shinobi yang baru saja kembali bertugas dari Sunagakure. Tanpa mengurangi kecepatan, keduanya sepakat untuk tidak menghiraukan rasa lelah ataupun matahari yang sudah memerah untuk segera melapor pada Hokage.
Suara keduanya menggema di lorong menuju ruangan Hokage. Kyou terbangun dari kantuknya. Langkah kaki yang tidak salah lagi berasal dari hak sepatu dua orang Shinobi wanita mendekat ke arah Kyou dan Mabuchi yang berjaga hari itu.
"Kau terus mengeluh Sakura, sudah kubilang aku tidak bisa melakukannya kalau besok."
Suara tersebut ternyata berasal dari Yamanaka Ino yang berjalan cepat meninggalkan seseorang. Rambut indahnya yang terikat kebelakang dengan rapih bergoyang kesana kemari.
"Aku ada kencan besok. Sebentar saja, Sakura," Ino menghampiri Kyou dan Mabuchi, "Hokage-sama masih ada di dalam, kan?"
"Sayangnya Hokage-sama tidak ada di dalam." Kyou menjawab dengan wajah setengah mengantuk.
Kepala Sakura tertunduk lemas, "Lihat! Kakashi-sensei pasti sudah pulang."
"Pergi kemana?" Tanya Ino dengan eskpresi yang sama lemasnya.
Mabuchi menengok pada Kyou, yang kebetulan melakukan hal yang sama. Ino menyaksikan keduanya hanya terdiam saling menatap.
"Ada apa?" Tanyanya lagi, "Kami harus memberikan laporan."
Beberapa saat meragu, Kyou mengarahkan pandangannya pada Sakura yang saat ini berdiri dengan melipat tangan dan alis yang terangkat. Sakura terlihat kesal, juga lelah. Mabuchi berdeham disampingnya, "Tidak apa, lagipula dia tidak menyuruh kita untuk diam."
"Ada apa ayo katakan?" Tanya Ino untuk yang kedua kali.
"Hokage-sama pergi bersama Uchiha Sasuke." Akhirnya Kyou memberikan jawaban. Sesaat setelah nama Uchiha disebutkan, Ino melemparkan pandangan pada sahabatnya disebelah.
"Uchiha... Sasuke?" Sakura bertanya dengan eskpresi yang sulit dibaca. Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang.
Ino memegang bahu Sakura, "Sakura," mengembalikan sahabatnya yang pergi jauh dengan pikirannya.
"Kau yakin bahwa orang itu adalah Uchiha Sasuke?"
Kyou dan Mabuchi mengangguk bergantian. "Tidak salah lagi."
"Mereka pergi berdua saja? Apa Hokage-sama tidak mengatakan akan pergi kemana?" Tanya Sakura lagi.
"Maaf, Sakura-san, kami tidak tahu."
Mulut Sakura tidak ingin berhenti untuk bertanya. Sayang sekali pertanyaan yang akan diajukannya tidak pada orang yang tepat. Jantungnya masih berdebar kencang. Malah semakin kencang.
"Apakah Hokage-sama mengatakan bahwa ia akan kembali?" Ketika Ino melihat Mabuchi dan Kyou terdiam, jawabannya tentu adalah mereka tidak tahu.
"Kalau begitu, Sakura, kita tunggu saja," Ino kembali memegang bahu Sakura.
Sakura mengangguk cepat. Kemudian keduanya memutuskan untuk menunggu di salah satu ruangan di lantai bawah kantor Hokage. Kebetulan ruangannya bersebelahan dengan ruangan milik Anbu. Shikamaru berada disana. Mereka kemudian bergabung untuk saling bertukar kabar dan membicarakan beberapa hal.
"Aku harus pulang," Shikamaru melihat ke arah jam di dinding. Tepat pukul 06.00 sore. "Kalian masih mau disini?"
"Aku rasa begitu," Jawab Ino.
"Baiklah, aku pulang, ya," Sakura yang masih melihat jam di dinding berpaling ke arah Shikamaru. "Kau tidak mau coba mencari Naruto terlebih dahulu?"
"Ah, benar, Sakura. Mungkin mereka menemui Naruto," suara Ino terdengar begitu bersemangat. Setelah menunggu hampir tiga jam, belum lagi ditambah perjalanan dari Sunagakure, Sakura yakin yang diinginkan oleh Ino pastilah pulang. Karena sebelum mendengar berita kepulangan Sasuke, Sakura lah yang menginginkan hal tersebut lebih dari apapun.
"Iya juga, aku akan coba menemui Naruto kalau begitu."
Ketiganya kemudian meninggalkan gedung bulat yang menjadi pusat kerja dari Konohagakure. Angin malam dan deretan lampu jalanan yang sudah menyala disana-sini menyambut ketiganya. Ketika melihat Ino yang terkejut bahwa matahari sudah tenggelam, membuat Sakura tahu bahwa Ino berada disisinya hanya untuk menemaninya, tidak ada alasan lain. Meski Uchiha Sasuke pulang sekalipun.
"Ino, aku akan menemui Naruto sendirian," Sakura memberitahu Ino, "kau pulanglah beristirahat, terima kasih, ya," tanpa pikir panjang, Sakura memeluk Ino erat-erat dan berpisah dengannya di perempatan jalan menuju rumah Naruto.
"Eeeeh!?" Shikamaru berdiri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal melihat reaksi Ino, "Sakura berjuanglah!"
Ino masih terkejut ditinggalkan begitu saja oleh Sakura. "Anak itu sendiri yang lebih butuh istirahat," Ino menghembuskan napas panjang, masih berdiri di tempatnya memandangi tubuh Sakura yang berlari menjauh kemudian menghilang. "Akhirnya, ya."
"Ya, akhirnya," timpal Shikamaru.
"Okay, aku harus segera pulang! Apakah aku harus menemui Sasuke-kun terlebih dahulu ya besok? Atau kita bisa pergi bersama menemuinya?"
Karena arah rumah Shikamaru dan Ino yang sama, keduanya meneruskan jalan bersamaan. Shikamaru beberapa langkah di belakang Ino yang mendahuluinya, "Kita? Maksudmu siapa Ino?"
Ino membalikkan badan dan memandangi Shikamaru dengan memicingkan mata, "Bukan kau dan aku!"
"Lalu?"
"Aku dan Sai, kita, tentu saja bukan?"
"Aaah," Shikamaru terkekeh, "Kalian sudah resmi bersama, ya? Aku lupa."
"Kau ini dasar, lalu bagaimana denganmu sendiri, heh, Shikamaru?"
Tanpa disangka wajah Shikamaru tiba-tiba memerah. Melihat reaksinya itu membuat Ino tertawa keras sekali, "Aku benar-benar tidak menyangka. Kalian sudah sejauh itu!?"
"Eeeeh!? Sudah sejauh itu maksudnya apa?"
"Ya, itu, sudah sejauh itu," wajah Shikamaru semakin memerah, Ino semakin keras tertawa.
.
Tepat ketika Sakura tiba didepan pintu rumah Naruto, seseorang sudah terlebih dahulu membukanya.
"Sakura-chan?" Hinata menatapnya cemas.
"Naruto... ada… hah… hah…"
Dan orang yang dibicarakan muncul kurang dari tiga detik saja, "Sakura-chan?"
Sakura mengangkat wajah, Naruto sudah berdiri di belakang Hinata. Wajah Naruto sama bingungnya dengan dirinya.
"Kau kemana saja, Sakura-chan?"
Sakura mencoba mengatur napas sebelum akhirnya menjawab, "Aku baru kembali dari Suna. Aku pergi ke tempat Kakashi-sensei..."
Naruto memotong dengan cepat, "Kau belum bertemu Sasuke?"
"Kau mengetahuinya?"
"Tentu aku mengetahuinya."
Saat itu juga Sakura merasa ada kecewa didalam hatinya. Meski sedikit. "Sakura-chan," ditambah lagi tatapan Naruto yang seakan mengasihaninya. Sakura tahu bahwa Naruto sudah bertemu dengan Sasuke.
"Sakura-chan, masuk saja dulu, kau terlihat lelah," Hinata memegang lengan kanan Sakura dengan erat.
"Tidak apa-apa, Hinata," Sakura menarik senyum.
Naruto menepuk bahu Sakura, cukup keras hingga membuat Sakura sedikit tersentak. "Dia pasti menemuimu!"
Gelembung – gelembung udara yang menghimpit keronkongan Sakura mendesak keluar mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Naruto. Antara kesal dan sedih, Sakura menghembuskan napas panjang. Kemudian setelah beberapa saat. Sesuatu dari pandangan mata Naruto mampu membuatnya tenang perlahan-lahan. Jelas bahwa bahu yang sebelumnya tegang kini terasa lebih ringan.
"Iya," Sakura menganggukkan kepala cepat-cepat sembari menegakkan punggung.
Hinata kemudian memberikan saran bahwa mencari Sasuke bukanlah pilihan yang tepat. "Sasuke-kun itu bukan orang yang akan melakukan sesuatu tanpa rencana," Naruto mengiyakan dengan tangan menggaruk dagu, mengingat-ingat tingkah laku Sasuke yang dahulu. "Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi, Sakura-chan. Terlebih lagi kau butuh istirahat setelah perjalanan dari Sunagakure."
"Dia pasti menemuimu, Sakura-chan!" Naruto mengulangi perkataannya lagi. "Percaya padaku!"
"Tentu saja aku percaya padamu, dasar," jawab Sakura tersenyum, "Terima kasih, ya kalian. Aku senang aku datang kemari." Sakura bersiap untuk melangkah mundur dari pintu rumah Naruto.
Meski gagal bertemu Sasuke hari ini juga. Sakura senang karena Hinata dan Naruto–sedikit atau banyak pasti–mengetahui akan perasaannya saat ini. Sakura melambai pulang dengan tenang. Di perjalanan menuju rumahnya, Sakura menyempatkan berhenti untuk sekedar menengadahkan wajahnya ke langit. Meski tidak sejelas di langit Suna, bintang-bintang di Konoha terlihat jauh lebih banyak.
Sakura merasa tepat sekali yang dikatakan oleh Hinata. Ia tidak perlu khawatir. Setidaknya ia tahu bahwa Sasuke sudah kembali dan ia baik – baik saja itu sudah cukup, pikir Sakura. Sakura melangkah kembali dengan perasaan ringan.
.
Sasuke merasa begitu tidak tenang. Belum 12 jam ia kembali ke Konoha, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Selama beberapa jam, Kakashi membawanya ke rumah sakit Konoha untuk diperiksa.
Tsunade memeriksa hasil pemeriksaan Sasuke dengan seksama. Jarinya mengetuk-ketuk buku laporan ditangannya, "Hasil ini luar biasa baik. Kau benar-benar menjaga tubuhmu, ya."
Sasuke memandangi Tsunade datar.
"Kakashi bawa anak ini keluar. Hasil pemeriksannya tidak ada yang aneh, kau tidak perlu khawatir. Semakin tua kau semakin penakut saja."
Kakashi hanya bisa tertawa. Ia tidak berani menyinggung masalah usia di depan Tsunade.
"Kau begitu tidak ingin diperiksa oleh orang lain, sampai memasang wajah menyeramkan seperti itu?" Kakashi keluar dari ruangan Tsunade bersama Sasuke di sampingnya. "Haruskah kau menakuti dokter dan perawat yang memeriksamu dengan wajahmu itu?"
Sasuke terhenti untuk melihat pantulan wajahnya di kaca pintu rumah sakit. "Ada apa dengan wajahku?"
Kepala Kakashi menggeleng, "Sayang sekali Sakura sedang berada di Suna."
"Ada apa dengan Sakura?"
"Eeeh masa begitu reaksimu? Kau lupa?" Kakashi mencoba menirukan suara Sasuke yang berat dan berusaha sangat serius dengan pandangan matanya, "Aku akan menemuimu ketika aku kembali," katanya sembari mengetuk kening Sasuke dengan dua jari.
Sekarang Sasuke merasakannya lagi, perasaan tidak tenang itu. Sasuke meraba keningnya, "Aku tidak lupa," katanya hampir berbisik.
"Ya, baguslah." Kakashi menghela napas, "Ayo pulang! Berkat dirimu aku punya alasan untuk tidak kerja lembur, Sasuke," Kakashi menepuk punggung Sasuke. "Kau mau menyinap di rumahku? Aku punya kamar khusus untuk tamu."
"Baiklah kalau begitu," Sasuke membungkuk ke arah Kakashi, "Sampai nanti lagi, Hokage-sama."
Dan dengan begitu Sasuke meninggalkan Kakashi secepat angin. Benar-benar secepat hembusan angin. Menghilang dari tempatnya berdiri, Kakashi masih memerhatikan angin yang ditinggalkan Sasuke dengan Shunshin-nya.
"Sudah kubilang panggil saja aku Sensei."
.
.
.
Angin berhembus
Tidak kencang, tidak juga pelan
Langit malam dipenuhi bintang
Juga bulan yang bertengger bulat terang
Sasuke berdiri di balik bayangan tirai
seperti sebelumnya,
Kemudian berjalan mengendap
Memerhatikan satu sosok yang berbaring di kasur tenang
Rambutnya terlihat seperti menyala di dalam pekat gelap
"Maaf membuatmu menunggu, Sakura."
Sasuke berbisik dalam hati
Dan
Perlahan
Sakura membuka kedua matanya
Bola mata hijaunya
"Sasuke-kun?"
Finally ya.
Penjelasan untuk chapter ini :
1. Sasuke Shinden ada di anime NS, happy maksimal
2. Naruhina wedding juga ada di anime NS episode 500
3. Maka dari itu penulis ga memperpanjang cerita tentang keduanya di FF
4. Penulis bakal kasih SasuSaku moment di chapter depan
5. Setelahnya penulis bakal fokus sama kehidupan SasuSaku ketika melakukan perjalanan bareng
ENJOY READING,
REVIEEEEW PLS DON'T FORGET XOXO
