BAB 6
"Dia sangat baik mengizinkanmu merekam. Seharusnya kau tidak melakukan itu.Bagaimana jika ada orang yang melihat videomu dan berfikir untuk meniru pakaian yang terekam disana?" Jongin bergumam dengan nada berbisik.
Kris tersenyum simpul."Tidak ada seorangpun yang menonton Video rekamanku selain diriku sendiri. Untuk menonton rekamanku perlu melalui perizinan yang sangat ketat. Mengerti? Aku tidak akan membiarkan orang lain melihat video-video tentang dirimu!"
Jongin mendesah, mungkin ia memilih untuk menyerah berdebat dengan Kris. Sebagai seorang gadis Jongin cukup keras kepala dan cerewet. Tapi semua sikapnya itu teredam dengan baik karena status pelayan yang dimilikinya. Ia terbiasa mengalah pada perintah meskipun hatinya berontak. Jongin juga tidak pernah berkeras untuk menekankan pendapatnya pada seseorang.
Ia memilah-milah pakaian yang tersampir dengan rapi lalu mengeluarkan sebuah kemeja kerja berlengan panjang dengan motif garis-garis vertikal berwarna hitam, merah dan abu-abu. Jongin menyukai itu pada pandangan pertama dan sekarang ia menyodorkannya kepada Kris.
"Bagaimana dengan ini? Kau agak kurus, pakaian ini bisa membuat tubuhmu tampak lebih berisi."
"Kalau begitu ambil saja!"
"Tidak ingin kau coba?"
"Tidak usah, kau tau ukuran yang cocok untukku, kan? Jika tidak, tanya saja kepada pramuniaganya!"
"Berapa buah kemeja yang kau butuhkan?"
"Dua lagi, bagaimana?"
"Perlu Jas?"
"Aku tidak suka memakai jas."
"Kalau begitu aku ambil yang ini dan yang ini!"
Jongin mengambil dua potong kemeja lagi. Sebuah kemeja putih polos dan kemeja yang berwarna hijau Zaitun dengan dua buah garis vertikal berwarna putih yang dimulai dari bahu sebelah kanan hingga ke bawah. Ia menyerahkan ketiga potong pakaian pilihannya kepada pramuniaga dan mengikutinya kekasir. Dengan sigap Jongin membayar semuanya sehingga Kris berdelik. Kartu kredit dari dompet Kris gagal keluar.
"Kau tidak harus melakukan itu!" Noah menggeram. Ia masih merekam wajah Jongin yang tersenyum dengan ekspresi yang sangat disukainya.
"Apa kata orang jika kau yang membayar pakaianku?"
"Ini hadiah, ucapan selamat karena mulai bekerja besok!"
"Tapi pakaian-pakaian ini sangat mahal."
"Aku punya uang yang cukup. Selama bekerja dirumah Park, kami mendapatkan gaji yang lebih dari cukup. Tapi selama ini aku kebingungan untuk menggunakan uang-uang itu. Rumah itu sudah seperti rumahku dan aku digaji saat bekerja di rumahku sendiri."
"Kau bisa membeli pakaian untukmu sendiri..."
"Jiyeon selalu membelikannya untukku. Jadi jangan khawatir. Sekarang ayo,pulang!"
Jongin beranjak lebih dulu setelah memberikan senyum yang ramah kepada kasir yang melayaninya. Ia melangkah keluar dari butik itu dan berjalan dengan sangat santai di pinggir jalan. Kris masih mengikutinya. Saat Jongin melambaikan tangan untuk memanggil taksi, Kris segera memegangi tangannya sehingga lambaiannya tersembunyi. Jongin menatap Kris dengan ekspresi heran. Seharusnya mereka pulang karena semuanya sudah selesai. Mereka sudah mendapatkan semua kebutuhan Kris untuk bekerja, kan?
"Aku tidak mungkin ke kantor hanya dengan kemeja, kan?" Desis Kris.
"Aku masih butuh celana, sepatu, dasi, kaos kaki, dan pakaian dalam yang baru."
"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Seharusnya kita bisa membelinya sekalian disana, tadi!"
"Dan membiarkanmu membayar semuanya? Tidak! Aku akan sangat berhutang budi karena itu!"
"Tunggu dulu, pakaian dalam baru? Aku juga harus memilihkannya? Tidak ada yang tau pakaian dalammu baru atau tidak kecuali kau memamerkannya di kantor dan jika itu terjadi, maka kau akan segera di seret ke rumah sakit jiwa. Kau tidak harus membuang-buang uang untuk hal yang belum penting, Kris!"
"Tapi ini memang sudah saatnya aku mengganti pakaian dalamku dengan yang baru." Desis Kris.
Kali ini dia sedikit berbohong. Ia sudah memiliki semua barang yang dibutuhkannya. Kris hanya tidak ingin kebersamaannya dengan Jongin berlalu dengan sangat cepat. Ia ingin mengulur waktu lebih banyak lagi hingga batas waktu kebersamaan mereka hari ini tiba. Kris tidak bisa berpisah dengan Jongin saat ini, ia merasa terikat, sangat kuat oleh pesona sang pelayan utama yang melayani keluarga Park seumur hidupnya hingga kini.
Detakan halus dan teratur mengiringi kekesalan Jongin tentang bisik-bisik yang terjadi di belakangnya. Ia tengah memasak bubur untuk Baekhyun sekarang dan harus mendengar dua orang pelayan muda berbisik di belakangnya. Topik yang mereka perbincangkan, tak lain dan tak bukan adalah dirinya. Topik yang seharusnya bisa saja dianggap wajar karena Jongin memang mendapat perlakukan istimewa di rumah ini, tidak seperti pelayan yang lainnya. Jongin menyelesaikan irisan kentangnya dan memasukkan potongan-potongan itu ke dalam bubur untuk memberi tekstur yang berbeda. Yeri segera datang setelah mengambil susu murni di dalam kulkas dan ikut menumpahkannya disana.
"Mereka menggosipkanmu!" Bisik Yeri sambil menuang susu sedikit demi sedikit untuk mengulur waktu.
"Aku tau!"
"Mereka selalu begitu. Seharusnya kau memberi pelajaran kepada mereka berdua. Mereka sama sekali tidak hormat kepadamu sebagai kepala pelayan. Meskipun kedua pelayan itu adalah orang baru di rumah ini, seharusnya mereka belajar sebagaimana pelayan yang terlahir di rumah ini pelajari."
"Aku sedang berusaha menahan diri."
Jongin lalu mengambil alih botol susu yang berada di genggaman Yeri dan meletakkannya di lemari es. Kedua pelayan itu berhenti berbicara sejenak dan berpura-pura tidak menyadari segala tindakan Jongin saat itu. Jongin kembali ke dekat panci dan mengaduk-aduk buburnya yang hampir matang.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Gumam Yeri.
"Aku harus memandikan Yoogeun!"
"Baiklah, terimakasih!"
Yeri tersenyum sejenak lalu merendahkan tubuhnya untuk menunjukkan kalau dirinya menyambut dengan baik ucapan terimakasih dari mulut Jongin itu. Dengan langkah tegas yang sama persis dengan yang Jongin miliki, Yeri meninggalkan dapur setelah melirik tajam kepada kedua pelayan yang masih bergosip dengan bisikan-bisikan yang mengganggu.
Jongin memejamkan matanya untuk menyimak lebih dalam sambil berfikir tentang apa yang harus dilakukannya kepada kedua gadis itu.
"Tuan Muda Kris yang selalu memanggilnya, kan? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?"
"Tetap saja dia sangat menikmatinya, mereka seperti sepasang kekasih saja, selalu keluar rumah setiap kali jam istirahat. Dia juga suka menghabiskan waktu di kamar atas berlama-lama. Enak sekali jadi dia, semua orang ingin berdekatan dengannya."
"Seandainya aku bisa jadi kepala pelayan juga."
"Kita tidak dilahirkan di rumah ini, sayang. Adalah mimpi jika kita berharap bisa menjadi kepala pelayan di rumah ini."
"Ya, Bagaimana dengan Nyonya Baekhyun? Wanita itu juga sama, bertindak seolah-olah rumah ini adalah rumahnya. Padahal dia hanya istri kedua dari Tuan Muda Chanyeol."
"Kau benar, dia memerintah sesukanya seolah-olah dia putri Keluarga Park. Seharusnya dia sadar akan dirinya. Semua orang boleh saja berfikir kalau dia adalah pengganti Daehyun, tapi dia tetap bukan putri Park seperti Daehyun..."
Pembicaraan itu akan terus mengarah ke seluruh anggota keluarga jika dibiarkan. Bukankah sifat gossip memang seperti itu? Spontan Jongin menghempas pisau yang ada di genggamannya keras-keras lalu menoleh kepada kedua pelayan muda itu dengan tatapan galak. Kedua gadis itu segera melarikan diri sebelum Jongin sempat mengeluarkan kata-kata kasar untuk memarahi mereka. Jongin mendengus. Ia kembali berbalik untuk memindahkan bubur ke dalam mangkuk lalu beranjak menuju lantai atas.
Dalam waktu singkat Jongin sudah berhasil menghidangkan makanan untuk Baekhyun dan Baekhyun sangat menikmati bubur buatan Jongin sambil duduk di atas ranjang. Jongin tidak bergumam mengenai apapun, ia masih membayangkan ekspresi kedua gadis tadi saat membicarakannya. Bagaimana mungkin mereka bergosip tentang dirinya sedangkan ia masih berada di ruangan yang sama dengan mereka.
"Mereka sengaja untuk membuatku marah!" Jongin berdeis.
Baekhyun segera meliriknya sambil memiringkan kepalanya beberapa waktu. Tidak lama kemudian Baekhyun kembali menikmati buburnya setelah bergumam.
"Ada apa?"
"Para pelayan itu membicarakanku dan Kris, mereka mengatakan hal-hal yang tidak senonoh."
"Karena sepupuku sangat tampan. Mereka hanya iri -ku rasa! Tapi mereka benar. Kebersamaanmu dengan Kris lebih banyak bila dibandingkan dengan waktumu bersamaku. Aku sempat cemburu, tapi aku juga bersuami dan tidak mungkin menghabiskan banyak waktu bersamamu. Kau dan Kris, ada hubungan apa?"
"Tidak ada. Hanya berteman, sama sepertimu."
"Tidak ada kata 'teman' antara laki-laki dan perempuan. Pasti akan ada perasaan nantinya. Aku mempelajari itu selama aku hidup di Jeju. Baekbeom juga sering mengatakan hal seperti itu agar aku lebih berhati-hati dengan tipu muslihat laki-laki yang mengajak perempuan berteman padahal mereka hanya mencari-cari alasan untuk berdekatan dengannya secara bebas."
"Berarti aku harus menjauh darinya?"
"Tidak, jangan perdulikan kata orang. Bukankah kau selalu mengatakan hal seperti itu? Nikmati saja hubunganmu dengan Kris. Anggap saja seperti pacar-pacarmu yang lain."
LANJUT?
Makasih reviewnya, diusahain update kilat :'D
Novel by PHOEBE
