.

.

Aku kembali dari lamunanku (tuh kan' aku lagi-lagi melamun!), dan menyerahkan buku latihanku. Tentunya aku sudah membenarkan jawabku yang salah tadi. Tanpa bersuara, dan tetap diam... ingat, hari ini aku menyimpan rahasia teman-teman satu kelas!

.

.

"Kau terdiam, biasanya kamu pasti menceritakan banyak hal Lev..." ujar Pak Guru Erwin dengan alisnya yang sedikit terangkat. Wajahnya berubah lucu sekali, aku sampai tersenyum dibuatnya,

.

.

"Tidak apa-apa," jawabku dengan sedikit terkekeh,

.

.

"Kenapa kau tertawa seperti itu? Memang ada yang aneh ya?" tanyanya, aku hanya menggeleng, kemudian aku kembali menunduk. Pak Guru Erwin sendiri tidak banyak berkomentar, ia hanya mengangkat bahunya kemudian menghela nafasnya.

.

"Levi, nomor 20 ini masih salah, kamu masa' belum paham sih?" lanjutnya,

.

.

"Eh... maaf pak," aku meminta maaf, aku benar-benar tidak mengerti dimana letak kesalahanku?

.

.

"Kau harusnya menulis 'Met' bukan 'Meet', kamu pasti melamun lagi ya?"

.

.

"Eh.. itu..." aku malu sekali, aku sampai lupa cara penulisan kata! Segera kuambil kembali penghapus yang sudah terlanjur aku masukkan kedalam tasku.

.

.

.

Karena terburu-buru, aku justru memuntahkan semua isi tasku ke lantai. Isinya berserakkan kemana-mana jadinya! Dengan sigap, Pak Guru Erwin membungkukkan badannya dan membantuku merapikan kembali tasku yang berantakkan. Tangannya meraih buku bersampul merah marun dan berjudul 'Heaven In The Heaven'-itu. Kemudian ia menyeringai,

.

.

"Buku ini..." ujarnya singkat,

.

.

"Untuk pelajaran menulis referensi-mu!" jawabku tenang,

.

.

"Tentang putri raja yang ingin mencari surga karena ingin bertemu ibunya dan mencegah ayahnya untuk menikahi seorang penyihir," jelasnya panjang lebar tak berjeda padaku.

.

.

"Bapak pernah..."

.

.

"Aku membaca buku ini lebih dari sepuluh kali Levi," balasnya, "Karena aku juga ingin tahu bagaimana surga itu..." lanjutnya sambil menatapku, "Sama sepertimu..." gumamnya lagi.

.

.

"I... itu... aku hanya mengambilnya secara acak, hanya untuk mata pelajaran Bapak saja kok!" aku gelagapan, bagaimana ia bisa tahu bahwa aku sangat ingin mengetahui letak surga?

.

.

Mata Pak Guru Erwin memandang tajam ke arahku, aku sungguh dibuat tidak tenang karenanya. Petra, bantu aku!

.

"Kenapa kamu serius begitu?" ujarnya tiba-tiba sambil terkekeh.

.

.

Eh... maksudnya? Sungguh aku tidak mengerti Pak, kenapa Bapak tertawa seperti itu?

.

.

"Kau, mukamu itu lucu... hahaha..." ujarnya lagi, kini ia tengah terpingkal, mungkin karena ke 'tidak tahuan'-ku.

.

.

"Jadi Bapak belum pernah membaca buku ini bukan?" tanyaku sinis, ahh... sial (atau beruntung ya?) aku dijahili Pak Guru Erwin!

.

.

"Tentu sudah, sudah sepuluh kali aku bilang tadi!" ujar Pak Guru Erwin sambil meneruskan tawanya, "Pasti kau percaya bahwa aku juga ingin melihat Surga bukan?"

.

.

"Cih... bukan urusan Bapak!" ujarku kesal, sebalnya! Dia mengejek apa yang ku impikan!

.

.

"Aduh... duh... kau harus tanggung jawab! Kau membuatku tertawa sampai sakit perut begini..." ujarnya dengan nafas tersengal karena saking lebarnya ia tertawa. Tangannya meraba tumpukkan absen murid yang ia bawa dari tadi. Kalau boleh menebaknya, itu pasti daftar anggota English Club dari seluruh kelas yang ada di sini.

.

.

Tapi betapa kagetnya diriku setelah melihat apa yang ia tarik dari absensi murid tersebut. Sebuah buku kuning (seperti warna rambutnya Pak Guru Erwin), dengan fotoku bersama Petra dan Hanji waktu kami kelas 2 dulu! Ngomong-ngomong, buku itu memang hadiah ulang tahunku dari Petra. Itu adalah hadiah terakhir dari Petra!

.

.

"Diary-ku!" aku berteriak. Dengan cepat, Pak Guru Erwin menutup mulutku, ia hanya mencoba mengingatkanku bahwa kami tengah berada di perpustakaan saat ini.

.

.

"Kalau ketahuan Ibu Nanaba kita akan diusir dari sini..." cegahnya,

.

.

"Kau membacanya!" aku menuduhnya begitu saja,

.

.

"Tidak, maksudku tidak semua,"

.

.

"Ya Ampun... ini adalah rahasiaku, kau tega sekali pak membaca bukuku!" aku benar-benar kesal jadinya, aku langsung saja menyambar Diary-ku.

.

.

"Lagipula siapa yang meninggalkannya begitu saja di lapangan?" sindir Pak Guru Erwin,

.

"tapi sekarang aku tahu, betapa kau kehilangan sosok sahabatmu itu," ujarnya dengan suara agak melemah.

.

"Sebagai wali kelasmu, aku bersedia mendengarkan ceritamu," lanjutnya, Oh tidak... aku terpaku lagi dengan wajahnya yang kharismatik itu! "Tidak baik menyimpan kesedihan seorang diri!"

.

.

.

Entah debu dari mana, atau memang debu itu turun dari buku-buku yang menjulang di rak-rak perputakaan. Mataku seketika berair, hatiku kembali bergetar. Aku teringat kembali segala sesuatu tentangmu Petra! Perkataan Pak Guru Erwin tadi mengingatkanku padammu kembali sahabatku! Persitiwa itu... dan kesedihan yang terus ku pendam...

.

.

"Di... dia meninggal karena kecelakaan, mobil sedan berwarna hitam yang menabraknya di depan Stohess's Cemetery. Tempat kami biasa mengambil beberapa kuntum bunga Daisy. Tapi... tapi..." sungguh aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku.

.

.

.

Apa yang bisa kulakukan waktu itu? Aku hanya bisa melihatmu bersimbah darah, sedang sedan hitam itu melaju begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Kau selalu berkata seperti itu Petra, kalau aku ini gadis yang kuat, aku bisa melindungi siapa saja di dekatku. Tapi kenapa waktu itu aku tidak bisa melindungimu? Aku sungguh menyesal Petra... maafkan aku... maafkan aku...

.

.

Ruangan Perpustakaan yang tadinya dingin mendadak hangat. Tangan kekar itu... memelukku hangat, Pak Guru Erwin memeluk tubuhku yang gemetaran ini!

.

.

"Petra mungkin sedih karena harus meninggalkanmu sendirian di dunia ini..." ujarnya, "Tapi Petra akan makin sedih jika melihat air mata sahabatnya," lanjutnya.

.

.

"Tapi... seharusnya aku yang melindunginya..."

.

.

"Kau tetap melindunginya, dengan tetap membiarkan kenangannya hidup dalam hatimu..." ujarnya sambil mengusap lembut rambutku.

.

"Bisa kau bayangkan itu Levi? Setiap saat kau membuka Diary-mu dan mulai menulis sesuatu di sana, Petra akan selalu tersenyum. Setiap cerita lucu yang kau tulis di sana, Petra juga akan ikut tertawa. Setiap kisah sedih yang kau tuangkan, akan mengundang air mata Petra. Mungkin kalau kau menuliskan prestasi bela dirimu, Petra juga turut bangga," lanjutnya. Kemudian aku hanya bisa menangis dalam pelukan Pak Guru Erwin sore itu. Lagi-lagi ia tidak berkata apapun, dan membiarkanku meluapkan segala kesedihanku, hingga airmataku berhenti satu setengah jam kemudian.

.

.

"Mau Es krim?" tawarnya padaku, dan sore itu aku habiskan waktu berdua dengan Pak Guru Erwin di sebuah kedai Es krim. Biarlah kesedihanku ini melebur dengan lelehan es krim yang masuk mulutku.

.

.


.

"Leviiii... kau bohong ahh!" teriak Hanji keras-keras memecah keheningan lorong sekolah pagi ini.

.

"Aku sudah menunggu semalaman, tapi Pak Guru Erwin tidak datang ke rumahku!" lanjutnya dengan nada kesal,

.

.

"Lho, dia juga tidak datang ke rumahku," belaku, sebisa mungkin aku sembunyikan waktu 'emas'ku di kedai es krim kemarin!

.

.

"Lalu bagaimana bisa kamu mendapatkan hasil ujian dadakan itu?"

.

.

"Pak Guru Erwin yang datang kepada ayahku,"

.

.

"Eh... Pak Guru Erwin sakit? kenapa dia datang ke ayahmu?" tanya Hanji penasaran.

.

.

"Datang kepada ayahku bukan berarti dia sakit Hanji! Ku dengar kakak perempuan Pak Guru Erwin bekerja sebagai perawat di rumah sakit tempat ayahku bekerja," ujarku sok tahu, hei ingat ya! Aku ini tahu semua seluk beluk mengenai Pak Guru Erwin, cinta pertamaku!

.

.

"Serius? Kau tahu dari mana?" tanya Hanji makin penasaran. Kaki-kaki kami melangkah memasuki ruang kelas

.

.

"Hu...hu...hu... aku tahu semua tentang Pak Guru Erwin!" ujarku bangga,

.

.

"Ah... kenapa aku lupa ya.. kau kan' pernah menembak Pak.." sebelum Hanji melanjutkan kalimatnya, aku dengan cepat menutup mulutnya! Suaranya itu lho... terlalu keras, aku khawatir seluruh siswa Scouting 3 bisa mendengar rahasia besarku ini!

.

.

"Hanji, dari mana kau tahu itu?" aku berbisik padanya,

.

.

"Ah... itu... dari mana lagi kalau bukan dari Petra! Petra tidak mengatakannya langsung kepadaku sih, hanya saja itu kesalahanmu juga, kenapa menembak Pak Guru Erwin di dekat Lab Biologi!" ujarnya, ahh... lega rasanya mendengar penjelasan Hanji, ku pikir tadi Petra sahabatku dengan sengaja membocorkan rahasia ini kepada Hanji.

.

.

"Tidak ada tempat yang lebih sepi dari lorong laboratorium Hanji..."

.

.

"Tapi kan' kau lupa kalau pertemuan klub Biologi ada setiap hari, dan aku ketuanya waktu itu, jadi jangan salahkan aku ya, kalau aku tahu sendiri... lagipula, Petra meng-iya-kan sih!" ujarnya sambil duduk dan menaruh tasnya di atas meja kami.

.

.

"Ya...ya... aku paham..." balasku sambil duduk di sebelahnya.

.

.

"Syukurlah, untung kau diterima ya... kalian terlihat jauh lebih mesra sih akhir-akhir ini..."gumam Hanji,

.

.

"Apa kau bilang? Aku ditolak olehnya tahu!"

.

.

"Eh... yang benar? Aku kira Pak Guru Erwin sengaja mau jadi wali kelas kita?" Haji terkaget,

.

.

"Itulah... tapi tidak apa-apa, toh dengan begini juga kami baik-baik saja bukan?" ujarku menyeringai, "tapi janji lho! Jangan sampai ada orang lain tahu tentang peristiwa ini!"

.

.

"Aku janji!" ujar Hanji sambil mengankat kedua jarinya tinggi-tinggi, "Ngomong-ngomong kemarin ada surat edaran baru tentang pertandingan olahraga antar kelas itu, sepertinya ketua osis yang baru menambah cabang olahraga lagi!" ujar Hanji sambil menyerahkan selembar kertas, yang ia ambil dari tasnya, kepadaku.

.

.

"Oh ya... apa itu?"

.

.

"Lomba lari berpasangan, ketua kelas dan wali kelas," jawabnya singkat, ya Tuhan!

.

.

.

~Teng...tong...~

.

.

.

Bel pelajaran pertama kembali merusak suasanaku. Jam pelajaran pertama diisi oleh walikelas kami, siapa lagi? Dia mengajar di kelas tiga kali dalam seminggu, satu di jam pelajaran awal, satu di jam pelajaran pertengahan, dan yang lainnya di jam pelajaran terakhir. Dan orang yang ditunggu kini memasuki ruang kelas, dengan membuka pintu kelas yang bercat coklat tua dengan ukiran keemasan di gagang pintunya. Hari ini dia memakai setelan serba biru, senada dengan warna matanya. Di tangannya ada setumpuk kertas, kali ini Pak Guru Erwin tidak membawa absensi sama sekali.

.

.

"Masukkan buku kalian, pagi ini kita ujian!" perintahnya pada kami.

.

.

Jelas saja kelasku langsung berteriak kecewa, meski suara mereka tidak keluar, tapi desahan mereka cukup memberiku informasi tentang suasana hati mereka. Ha...ha...ha... aku juga sama seperti mereka, mana aku harus mengejar nilaiku yang sangat terbelakang itu.

.

.

"Seperti biasa nilai dibawah 40 harus menghadapi kelas Bahasa Inggris tambahan" tambahnya, kemudian ia melempar pandangannya kepadaku, "Chantal, setelah pulang sekolah nanti kamu ikut remidial ujian kemarin ya!"

.

.

Ya Tuhan! Remidial itu! Aku benar-benar lupa!

.

.

.


Pertandingan olahraga tahunan antar kelas tinggal menghitung hari. Semua persiapan kelasku sudah selesai dengan baik. Permainan kami makin mulus, berkat latihan setiap hari. Tentunya di dorong oleh 'semangat' Pak Guru Erwin. Leganya, semua berjalan mulus, tanpa hambatan. Kecuali satu hal...

.

.

"Ehm... maaf pak, sepertinya saya lupa sesuatu..." ujarku sambil mengacungkan tangan. Ini masih dalam pelajarannya Pak Guru Erwin!

.

.

.

Yang dimaksud membalikkan badannya, dengan tangan yang masih memegang spidol dengan mantap. Dengan wajah yang senantiasa tersenyum gagah, ia mengankat alisnya, seolah sudah mengerti bahwa aku akan mengatakan sesuatu,

.

.

"Lomba... lari berpasangannya..." ujarku,

.

.

"Ohh... Lomba berpasangan dengan wali kelas!" celetuk Hanji,

.

.

"Hey... kenapa kau tidak bilang Chantal?" tanya Pak Guru Erwin kepadaku,

.

.

"Kupikir anda masih sakit perut, bukannya waktu itu anda sakit karena tacos?"

.

.

"Ah... itu... aku sudah baikkan sekarang, bagaimana kalau pulang kita latihan saja bersama!" ajak Pak Guru Erwin, bagaimana dia bisa lupa, dia pasti tidak bawa baju olahraga!

.

.

"Ngomong-ngomong, siapa pasangan bapak?" tanyanya penasaran.

.

.

.

Kompak seluruh siswa kelasku menunjukku dengan wajah datar. Aku lantas dibuat bingung dengan tingkah teman-teman satu kelas...

.

.

"Chantal?" Pak Guru Erwin menaikkan alis tebalnya tinggi-tinggi.

.

.

"Iya.. pak..." ujarku malu-malu.

.

.

"Ya Ampun! Kenapa kamu tertunduk begitu? Bapak kan' berpasangan dengan jawara bela diri St Sina Academy, apa yang harus ditakutkan?" tanyanya sambil tersenyum, "Gini-gini juga, Bapak juga pemain sepak bola lho! Kekuatan lari kita pasti tidak tertandingi, ya kan' Chantal?" lanjutnya.

.

Seluruh siswa kelas Scouting 3 kembali bersorak kegirangan. Beberapa malah seolah mengejekku,

.

"Jodoh... jodoh..." bisik mereka padaku, itu membuatku semakin malu tahu!

.

.

"Ok Class... calm down!" teriak Pak Guru Erwin tiba-tiba, "Bapak jadi ingat hasil ujian kalian!" ujarnya sambil mengeluarkan tumpukkan kertas ujian kami beberapa hari yang lalu. Riuh kelasku berganti dengan teriakkan kekecewaan. Mereka takut nilai mereka malah semakin buruk. Dengan cepat Pak Guru Erwin memanggil nama kami, beserta nilainya, dimulai dari yang terkecil.

.

.

"Marco Boldt, nilaimu turun drastis nih..." Pak Guru Erwin mengacungkan kertas dengan angka 55 di pojok kanannya. Sontak semua siswa jadi makin tegang dibuatnya. Pasalnya ujian pertama Marco berhasil mendapatkan nilai 85, tapi di ujian kali ini nilainya merosot tajam!

.

"Connie, Sasha, Ymir, Thomas... masing-masing 68, kalian tidak saling mencontek bukan?" lanjutnya,

.

"Huuu..." kami bersorak kompak, mengiringi mereka yang dipanggil tadi.

.

Hingga lima menit setelah itu...

.

"Armin Arlert, 90... nilaimu tidak berubah!" seru Pak Guru Erwin sambil menyerahkan kertas ujian itu pada si jenius, "Pertahankan ya!" pujinya kemudian.

.

.

Hei sebentar... nama ku? Jangan-jangan nilai ku masih tertahan karena aku siswi remedial?

.

.

"Chantalevisha Ackerman!" serunya, seisi kelas dibuat hening sesaat, "Selamat datang kembali di klub bela diri!" ujarnya sambil tersenyum.

Hanji yang mendapat nilai 88 lantas terkaget sambil menepuk-nepuk bahuku. Seluruh kelas seolah tersihir oleh kertas ujianku. Dan aku berharap mataku tidak rusak, aku mendapat dua nilai, yang pertama adalah nilai remidial 100! Dan yang kedua nilai ujian keduaku, 98! Aku unggul 8 poin dari si jenius Arlert! Aku melangkah menuju depan kelas dengan percaya diri, tentunya aku meraih kertas ujian ku itu dengan tangan yang gemetar. Sampai-sampai aku menjatuhkan semua barang bawaan Pak Guru Erwin yang terletak percis di meja guru. Teman-teman menertawai tindakkan bodohku ini. Mungkin aku belum terbiasa menjadi orang pintar, jadinya aku gemetaran seperti ini! Sebagai ucapan maaf, aku membantu Pak Guru Erwin membereskan barangnya. Diantara semua barang yang terjatuh, ada satu yang menggelitik penglihatanku. Foto dengan warna dominan biru langit, ahh... bukan! itu foto diriku! Tepatnya itu adalah foto yang diambil Petra waktu kami kelas 2 SMP. Seingatku foto itu hanya ada satu, dan itu-pun sudah menjadi hak milik panitia lomba fotografi di Universitas Kota Stohess. Kenapa... sampai...

.

.

"Ini foto-nya Petra," aku bergumam,

.

.

"Ahh... ini foto paling penting dalam hidupku! Lihat aku diberi langsung oleh si fotografernya!" pamer Pak Guru Erwin sambil memperlihatkan tanda tangan Petra dibelakangnya!

.

.

Mataku gelap seketika, kenapa aku bisa se-bodoh ini? Kenapa aku bisa se-polos ini? Aku tidak pernah tahu mengapa Pak Guru Erwin menolakku dulu. Dan... dan...ahh... kenapa aku baru ingat sekarang? Dulu Pak Guru Erwin sering sekali memanggil Petra, mungkin karena Petra adalah anggota English Club. Ya... iya... Petra adalah anggota English Club juga! Sebelum bertemu denganku, Pak Guru Erwin dan Petra pasti sudah lama saling kenal! Ahh... pasti lebih jauh lagi! Buktinya foto postcard itu ada di tangan Pak Guru Erwin! Aku menatap Pak Guru Erwin dengan tatapan kosong,

.

.

"Ada yang salah?" tanyanya membuyarkan lamunanku.

.

.

"Bukan apa-apa!" jawabku sinis. Tanpa berbicara apapun lagi, aku kembali ke tempat dudukku.

.

.

Petra...Pak Guru Erwin... jahatnya kalian kepadaku! Kini kelenjar airmataku memuntahkan isinya. Kalian benar-benar jahat!

.


.

"Hai Pet..." ujarku dingin pada nisanmu Petra!

.

"Kau tidak bilang, kalau kau sudah pernah bertemu dengan Pak Guru Erwin sebelumnya, hasil jepretanmu masih dia simpan tuh," aku bergumam sinis sendirian di nisanmu.

.

"Kenapa kau tidak bilang kalau Pak Guru Erwin menyukaimu! Kau malah memaksaku untuk menembaknya bukan? kau bahkan sampai berlutut agar aku menembaknya! Harusnya aku tahu ini adalah jebakanmu! Kau mempermainkan hatiku, kau tahu sendiri Pak Guru Erwin itu cinta pertamaku! Aku tidak percaya kau berbuat seperti itu padaku! Kau Jahat Petra!" aku kembali berteriak. Aku langsung mengeluarkan buku diary berwarna kuning pemberian darimu.

.

"Ini Petra, aku kembalikan!" aku berteriak sambil melemparkan buku kuning itu tepat di nisanmu. Ahh... aku sudah tidak peduli, selamat tinggal Petra!

.

.

Aku meninggalkan Stohess's Cemetery dengan langkah terburu-buru. Aku benar- benar marah saat ini! Terutama pada Petra dan Pak Guru Erwin! Tadi waktu latihan saja aku sama sekali tidak berbicara kepadanya. Aku berlari begitu saja, aku tidak mempedulikan rengekannya yang memintaku untuk sedikit menurunkan kecepatan lariku! Aku sudah terlalu kesal! Setelah Pertandingan olahraga antar kelas nanti, aku akan mengundurkan diri dari jabatanku sebagai ketua kelas! Kalau bisa aku akan mengundurkan diri dari kelas Scouting 3!

.

.

.

Sekelibat aku melihat Pak Guru Erwin yang hendak memasuki wilayah Stohess's Cemetery. Dia membawa sebuah buket bunga lily, itu bunga kesayanganmu bukan Pet?! Pastinya ia hendak mengunjungi kuburanmu Petra! Arrgghh... aku sudah tidak peduli!

.

.

.

(Levi pergi dengan terburu-buru, Pak Guru Erwin yang melihatnya hanya bisa terdiam tidak mengerti. Ia melanjutkan langkah kakinya, sebetulnya ia merasa agak lelah setelah ikut latihan bersama dengan kelasnya. Tapi ia memaksakan dirinya untuk datang ke pemakaman ini. Nisan yang dituju terletak di timur laut nisan Petra. Ada sepasang nisan di situ yang terpisah oleh sebidang tanah, kemudian ia tersenyum aneh.)