Remake series 'Perfection' dari Abbi Glines.
Alur cerita sama dengan karya asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
!OOC!BoyXboy!Yaoi.
MinYoon, HopeGa
!Uke: Yoongi, Taehyung, Jin, Baekhyun, Taemin.
!Seme: Jimin, Hoseok, Jungkook, Namjoon, Chanyeol.
!Age order:
- younger : Jimin, Jungkook, Taehyung, Taemin. (Same age)
- older : Yoongi, Hoseok, Namjoon, Jin, Baekhyun, Chanyeol. (Same age)
Mention of other Idol (random).
Rate M.
Romance, Drama, (probably) MPreg, ONS.
!Typo, bahasa non-baku, cursing. Please NO BASHING.
DON'T LIKE DON'T READ.
CHAPTER 7
YOONGI POV
Jika ada cara yang mungkin bisa aku lakukan untuk kabur dari hal ini tanpa resiko dipecat, maka aku pasti akan segera melakukannya. Aku selalu bernyanyi di sepanjang hidupku, di rumahku. Tapi itu semua aku lakukan untuk melarikan diri dari ibuku dan kenyataan pahitnya hidupku. Tidak di depan orang-orang.
Aku senang menyanyi, dan cermin serta sisir telah menjadi sahabatku di sebagian besar hidupku sementara aku berpura-pura bernyanyi selayaknya di depan penonton一fantasi yang pernah kumiliki. Aku bahkan tidak yakin aku layak untuk bernyanyi di sebuah panggung. Ibuku senang mendengarku bernyanyi, tapi dia tidak pernah menjadi penilai yang baik dari semua hal.
Aku telah mencoba untuk membuka mulut dan menjelaskan kepada pria yang telah memperkenalkan dirinya sebagai Sungjae, yang merupakan ketua koordinator acara Park Resort ini. Tapi dia tidak membiarkanku berkata banyak, sebaliknya, ia memberitahu kepala dapur bahwa aku diperlukan di tempat lain dan mulai menyeretku dibelakangnya.
Aku menduga Jimin akan menghentikan kehebohan ini ketika ia melihat kami, tapi ternyata tidak. Dia hanya menunjukkan raut bingung, tapi dia tidak berusaha menghentikannya.
.
.
.
Aku menatap diriku saat ini. Setelan kemeja dengan jas putih, dan celana panjang putih. Dasi kupu-kupu bertengger di sekeliling leherku. Aku merasa sangat asing melihat pantulan diriku.
"Jangan gugup. Mereka tidak akan melihatmu. Mereka terlalu sibuk dalam kawanan elit mereka. Kau hanya bernyanyi begitu band memainkan musik dan para tamu bisa berdansa jika mereka ingin."
Sungjae memberitahuku saat dia mendorongku menaiki tangga ke arah anggota band yang memandangku seakan mengejek. Aku tidak bisa mengatakan aku menyalahkan sikap mereka.
"Kau pengganti vokalis kita?" Satu dari mereka bertanya dengan desisan jengkel dalam suaranya.
"Setidaknya mereka akan melihat wajah dan tubuhnya dan tidak akan menyadari betapa buruknya kita terdengar," yang lain menggerutu, dan menarik tali gitar di atas kepalanya.
"Apa yang bisa kau nyanyikan, bocah?" Seorang pria tua berkepala botak mendengus bertanya.
Aku tidak ingin berada di sini. Aku tidak meminta untuk ini. Aku bertemu pandang dengan setiap mata mereka yang melotot marah dan kesal. Aku sudah mendengar bagaimana mereka sebelumnya sebelum acara dimulai. Mereka sebenarnya tidak terdengar sangat bagus.
Siapa mereka hingga berpikir untuk memperlakukanku seperti aku di sini yang mengacaukan semuanya? Jika vokalis mereka memperhatikan alerginya, maka semua ini tidak akan terjadi. Aku berjalan melewati masing-masing dari mereka sebelum berbalik untuk melihat orang yang tadi bertanya padaku apa yang bisa aku nyanyikan.
"Aku bisa menyanyi apapun yang kau lemparkan padaku," jawabku, lalu berjalan ke atas panggung layaknya seorang artis profesional.
Lagu akrab dari Bangtanboys "dead leaves" mulai dimainkan, dan aku sedikit lega karena aku tahu lagu itu, namun kemudian perutku mulai berputar karena popularitas lagu itu berhasil menarik perhatian para tamu. Aku telah berharap untuk diabaikan.
Aku bergabung dengan denting piano dengan lirik melankolis pertama. Alih-alih melihat keluar di ballroom, aku mengunci mataku dengan pemain piano. Matanya melintas dengan kelegaan, kegembiraan, dan puas karena aku menyanyikan setiap baris lirik dengan baik.
Sama seperti ketika aku berada dikamarku, aku menutup mataku, memblokir segala sesuatu yang lain di sekitarku dan terhanyut dalam lirik dan musik. Ini adalah cara bagaimana aku mengatasi kegilaan dalam hidupku, dan aku menggunakannya sekarang untuk berurusan dengan realitas kehidupanku.
.
.
.
Kami selanjutnya menyanyikan lagu "me you," dari San-E. Beat yang menyenangkan dimainkan selaras dengan ruangan yang sebagian tamu masih memberi perhatian mereka pada pertunjukan kami. Sejauh ini aku telah berhasil untuk tidak melakukan kontak mata dengan Jimin, meskipun aku tahu persis di mana ia berdiri. Aku bisa merasakan tatapan matanya padaku.
"Bisakah kau melakukan harmonisasi?" Pemain gitar bertanya padaku.
Aku mengangguk, dan dia kembali menatap anggota lain dan mengangguk. Bigbang "if you" dimulai. Kami telah berhasil bernyanyi dengan harmonisasi sampai chorus ketika aku melirik ke arah ruangan dan terpaku melihat Jimin yang sedang berdansa dengan seorang pria berambut pirang. Aku tahu aku harus berpaling. Melihat dia dan memiliki pemandangan di depan mata bagaimana dia disana akan membuatku gila. Tapi aku tidak bisa berhenti melihatnya.
Pria itu tersenyum ke arahnya dan berbicara sedangkan Jimin melihat lurus ke arah bahunya dengan tatapan kosong. Dia tampak dingin. Tidak seperti Jimin yang pernah bersamaku. Kali ini ia pasti merasa mataku melihatnya, karena ia menoleh kepadaku dan tatapan kami bertemu.
.
If you, if you
(Jika kau, jika kau)
Ajik neomu neujji anhassdamyeon
(Jika ini tidak terlalu terlambat)
.
Setiap kata terdengar seperti aku bernyanyi kepadanya. Aku tidak. Aku tidak bisa. Tapi rasanya seperti itu.
.
Uri jogeum swipge gal suneun eopseulkka
(Tidak bisakah kita membuat sesuatu sedikit lebih mudah?)
.
Ketika lagu berakhir, aku membuang pandanganku darinya dan bersumpah pada diriku sendiri aku tidak akan melihat kearahnya lagi.
.
.
.
Satu jam kemudian aku sudah menaklukkan segala lagu yang mereka akan lemparkan padaku. Bahkan lagu-lagu dari Bruno Mars, yang mereka tidak tahu adalah penyanyi favoritku, sukses kubawakan. Pianis menepuk bahuku dan tersenyum padaku saat aku berjalan turun dari panggung.
"Kau menyikat habis' semuanya," pemain bass botak berteriak senang.
"Setiap kali kau ingin bergabung dengan kami, silahkan. Kami akan terima dengan tangan terbuka. Tentu tidak bisa menyanyi duet dengan Dongwan," ujar gitaris.
Aku berasumsi Dongwan adalah penyanyi utama. Aku melemparkan senyum terakhir dari balik bahuku sebelum beranjak pergi. Aku tidak akan menunggu di sekitar sini. Aku butuh sendirian.
Menonton Jimin memegang, merangkul, memeluk tunangannya telah cukup sulit. Pria itu tampan, elegan, dan sempurna. Dia terlihat merasa nyaman dalam rangkulan Jimin. Aku mengerti bagaimana rasanya. Sesuatu yang berkaitan dengan Jimin hanya akan membuatmu merasa nyaman, dan aman.
Aku iri padanya.
.
.
.
Musim semi benar-benar musim yang ramai di Busan, dan Taehyung tidak melebih-lebihkan perkataannya waktu itu. Tempat ini tidak pernah berhenti diisi dengan orang-orang. Aku bekerja lima hari seminggu, dan hampir setiap hari aku bekerja dengan dua shift. Uang yang kuhasilkan cukup banyak dan aku juga menikmati bekerja dengan semua orang.
Melihat Jimin terasa lebih mudah sekarang. Kami berhasil memperlakukan satu sama lain dengan ketidakpedulian yang sopan.
Kadang-kadang terasa sesak ketika aku pikir dia sedang memperhatikanku dan aku akan beralih melihatnya hanya untuk menemukan dia tidak melakukan itu semua sama sekali. Aku tidak yakin mengapa aku menyiksa diri seperti ini. Dia memang seharusnya tidak melihatku. Ia bertunangan. Meskipun, tubuhku menginginkannya melihatku一tubuh ini jelas belum menyadari betapa bisa berbahayanya efek seorang Jimin.
Hari ini aku akhirnya mendapat hari liburku dari bekerja, dan begitu pula Taehyung. Kami merencanakan untuk menghabiskan waktu bersama di pantai. Aku sangat bersemangat memikirkan akan menghabiskan hari di bawah sinar matahari. Di musim ini cuaca juga sudah lebih hangat dibandingkan ketika aku tiba beberapa minggu yang lalu.
Taehyung ingin aku datang ke kondominiumnya yang memiliki pesisir pantai pribadi resort. Lebih sepi dan sedikit orang. Aku akan mengajak Jeonghan untuk bergabung dengan kami setelah shift siang, dan Taehyung juga akan mengundang pelayan lain yang dia kenal bernama Wonwoo, yang mendapat libur hari ini juga. Aku melirik ke dalam ponselku membaca ktalk terakhir dari Taehyung.
.
'Hyung, nanti kau langsung turun saja ke pantai. Aku sudah memiliki tempat yang menakjubkan untukmu!'
.
Aku menoleh ke belakang jok dan menyambar tas pantaiku, lalu melangkah keluar dari mobil. Melihat keseluruhan bangunan di depanku dengan lebih jelas dari malam terakhir aku kemari, aku terkagum. Tempat ini jelas kawasan super-elit. Letaknya di properti resort, yang aku tahu setelah bekerja di sini beberapa minggu bahwa tempat ini harganya sangat mahal. Dengan gaji Taehyung yang hanya seorang pelayan tidak akan sanggup menutupi biaya ini.
Namun tidaklah mengejutkan karena ia tinggal bersama Jungkook, jadi kemungkinan Jungkook lah yang membayar semua ini. Atau paling tidak Jungkook membantu setengah dari sewa. Karena setelah mengenal Taehyung, aku juga tahu dia seseorang yang tidak akan membiarkan orang lain一bahkan kekasihnya sekalipun untuk menghidupi dia sepenuhnya一paling tidak sebelum mereka menikah.
Aku berjalan ke pantai dan kemudian melangkah turun ke pasir yang hangat. Ada cukup banyak orang di sini dari yang aku harapkan. Aku menyelinapkan kacamataku dan kemudian mencari Taehyung. Aku melihatnya saat dia berdiri dan mulai melambaikan tangannya di udara sambil menggenggam handuk berwarna terang.
Sambil tersenyum membalas lambaiannya, aku melirik ke arah dua handuk pantai berwarna-warni yang terletak di sana. Lalu aku melihat Jungkook di sisi lain dari Taehyung saat ia duduk kembali. Aku melihat disekeliling dan melihat ada handuk yang lain, tetapi tempatnya kosong, meskipun itu terlihat jelas telah digunakan.
"Senang kau bisa datang, hyung," Taehyung berkata sambil berseri-seri kearahku.
"Handuk ini milikmu. Seungri hyung punya yang satu di belakang kami. Dia sedang berenang di laut."
Seungri. Aku bisa berurusan dengan Seungri. Aku lebih suka Zhoumi, tapi Seungri akan menjadi salah satu teman yang baik. Setidaknya itu bukan Jimin. Tapi kemudian, aku meragukan dia akan datang ke sini untuk berbaring di pantai selama jam kerja.
"Terima kasih sudah mengundangku," kataku saat aku meletakkan tasku turun dan mencari sunblock-ku.
Aku sudah mengoleskan satu lapisan sebelum aku meninggalkan kondominium, tapi matahari ini terasa menyengat. Aku merasa perlu untuk memakai lebih banyak sekarang selama aku di sini.
"Jangan berterima kasih dulu. Aku tidak mengharapkan Seungri hyung untuk bergabung dengan kami. Kau mungkin sekarang berharap kau memilih untuk tidak datang kemari. Tapi percayalah, aku juga berharap dia akan meninggalkanmu sendirian, hyung."
Aku tersenyum mendengar perkataan lugu Taehyung sambil berpikir bahwa itu seakan tidak mungkin untuk Seungri meninggalkan pria setiap sedang sendirian. Aku melepas kaosku, melipatnya asal dan memasukkannya ke dalam tasku, kemudian menenggelamkan badanku dengan handuk merah muda dan kuning berbulu yang telah Taehyung bawa untukku berbaring.
"Aku tidak pernah berenang di laut sebelumnya," kataku sambil mengusap lotion ke kulitku sambil melihat orang-orang bermain di air.
"Aku pikir itu mungkin masih terlalu dingin, tapi mereka terlihat menikmatinya."
Taehyung tertawa kecil.
"Ya, memang dingin. Aku tidak akan pergi bermain air sampai pertengahan bulan nanti. Tapi banyak orang menyukai suhu seperti itu. Jika kau belum pernah melakukannya, maka cobalah."
Itu adalah sesuatu yang ingin aku lakukan. Itu adalah bagian dari hidup yang aku ingin alami. Aku juga ingin surfing, tapi bahkan dengan pengalaman minim-ku, aku cukup yakin berselancar membutuhkan ombak yang lebih banyak lagi. Gelombang ombak yang sekarang terlihat tidak cukup tinggi.
"Pergilah ke sana dan mencobanya. Jangan biarkan aku menghentikanmu, hyung," Taehyung mendesak.
Aku tersenyum kearahnya dan kembali berdiri untuk berjalan ke tepi air. Percikan pertama air laut yang dingin menutupi kakiku dan cukup mengejutkan. Aku berhasil menahan pekikan dan memaksakan diri untuk berdiri di sana. Kakiku perlahan tenggelam ke dalam pasir basah, dan setelah satu menit atau lebih air tidak begitu dingin. Aku merendamkan diri lebih dalam dan harus berhenti lagi setelah air jatuh hingga ke pahaku.
"Lebih mudah jika kau langsung menyeburkan seluruh badanmu dan terkejut dengan air laut yang dingin di awal dan selesai," kata suara yang akrab dari belakangku.
Oke, jadi aku kira Jimin juga terkadang bisa memakai waktunya untuk ke pantai pada kesempatan tertentu. Aku menoleh untuk melihat ke arahnya. Aku sangat lega masih memakai kacamata hitamku sekarang sehingga tak harus langsung bertatapan dengannya.
"Oh, apa itu akan lebih baik?" Tanyaku.
Ia berdiri di tepi mengenakan celana pendek putih dan juga bertelanjang dada sama sepertiku. Kulitnya yang semi-tanned terlihat semakin menarik di bawah sinar matahari. Itu tidak adil一untuk tontonan setiap perempuan一pria一aku, di pantai ini. Dia harus mengenakan lebih banyak pakaian.
"Satu-satunya cara untuk berenang di cuaca ini. Jika kau hanya terus mencelupkan kakimu saja, maka kau tidak akan pernah bisa benar-benar berendam di sana."
Mengapa dia berbicara kepadaku hari ini? Dia bertindak seolah-olah aku tidak ada sejak malam ia mengatakan kepadaku dia akan bertunangan. Kenapa sekarang? Aku melihat kembali ke arah laut dan mencoba untuk tidak berpikir tentang otot-otot perutnya yang tercetak berkilau berkat teriknya sinar matahari. Dia adalah seorang pria yang bertunangan sekarang. Pikiran kotor mengenainya dalam bentuk apapun adalah terlarang.
"Kau ingin aku menemanimu masuk ke dalam air?" Tanyanya, dan suaranya terdengar lebih dekat.
Aku menyentakkan tatapanku kembali ke sekitarku dan melihat dia mengambil beberapa langkah mendekatiku. Apa yang dia lakukan?
"Mungkin bukan ide yang bagus. Aku akan melakukan ini sendirian," aku berhasil mejawab dengan sedikit tersendat.
"Kau pernah berendam di laut?" Tanyanya saat lengannya menyentuh bahuku.
Dia terlalu dekat sekarang.
"Tidak," bisikku, berharap dia akan mundur.
Jauh, jauh, pergilah menjauh. Aku mendengar tarikan napas Jimin dan melirik ke arahnya. Matanya sedang melihat ke tubuhku. Bahkan meskipun ia memakai kacamata hitamnya, aku bisa merasakan tatapan panasnya padaku. Tidak baik. Benar-benar tidak baik.
"Sialan. Di mana sisa pakaianmu?"
Sisa pakaianku? Aku mengalihkan perhatianku ke bawahku untuk memastikan celanaku masih di sana. Apa yang dia maksud? Aku tidak kehilangan apa-apa.
"Ini adalah bagaimana seharusnya orang berpakaian ketika berada di pantai, sama sepertimu," jawabku.
Kepala Jimin turun dan mulutnya terlalu dekat ke telingaku.
"Kau seharusnya tetap memakai kaosmu untuk menutupi kulit halusmu," bisiknya.
Merasa kesal dan sedikit tersinggung seakan dia menghina kulit pucatku aku memelototinya.
"Jika kau tidak menyukainya, maka tidak usah lihat tuan Park," jawabku, dan mulai bergerak keluar dari dalam air.
Mendapat jarak darinya adalah lebih penting daripada menyesuaikan diri dengan dinginnya suhu air.
"Aku tidak mengatakan aku tidak menyukainya. Aku begitu sialan-nya sangat menyukainya. Itulah masalahnya."
Aku berhenti bergerak. Kenapa dia mengatakan itu? Apakah dia tidak peduli apa yang dia telah lakukan kepadaku?
"Kau tidak bisa mengatakan hal-hal seperti itu padaku. Itu salah," jawabku marah.
Jimin pindah mendekat ke arahku lagi dan aku menunggu. Ini adalah konfrontasi yang dia ingin lakukan. Aku akan membiarkannya.
"Kau benar. Aku tidak seharusnya berkata seperti itu. Tapi apakah kau lebih suka aku berbohong? Aku telah melakukan banyak hal brengsek untukmu, Yoongi, tapi aku tidak pernah berbohong. Aku tidak ingin berbohong kepadamu. Aku bisa memberitahumu bahwa aku tidak peduli segala tentangmu atau bahwa aku tidak menginginkanmu tapi itu akan menjadi sebuah kebohongan. Kau ingin kebenaran? Karena sebenarnya, semua yang bisa aku pikirkan setiap saat adalah ketika sedang bersamamu. Aku mencoba untuk tidak melihatmu karena semua yang bisa kupikirkan adalah mengangkutmu ke kamar pertama yang kutemukan dan mencium setiap inci tubuhmu."
Dia terengah-engah dan rahangnya mengeras. Mengapa? Jika dia menginginkanku seperti itu, maka mengapa ia bertunangan dengan orang lain? Menggelengkan kepala, aku menyilangkan lenganku dengan protektif di sekeliling dada telanjangku.
"Aku tidak mengerti apa maumu."
Dia menyeringai dan menggeleng.
"Tidak ada yang mengerti. Tapi aku ingin menjelaskan kepadamu. Kumohon. Hanya pergi untuk minum denganku dan biarkan aku menjelaskannya. Aku ingin kau memahami ini."
Taktiknya berbeda, tapi ia sama. Dia menginginkanku untuk hiburan. Seseorang untuk menghibur sesaat dan kemudian dia akan mencari yang lain. Aku bukan pria seperti itu. Aku menggeleng dan mulai meninggalkan air menapaki pasir. Aku ingin pergi dari bahaya ini.
"Kau bahkan tidak akan membiarkan aku menjelaskan?" Dia berseru panik.
Aku kembali menatapnya.
"Cincin di jarinya adalah satu-satunya penjelasan yang aku butuh untuk tahu."
.
.
.
JIMIN POV
Ada urusan yang perlu aku lakukan dari Myungsoo, kepala chef, yang telah menempatkan notes di mejaku kemarin一panggilan telepon. Aku perlu untuk menelepon kembali 'sang tunangan' dan membuatku memutuskan tanggal untuk pernikahan kami. Apakah aku akan melakukan hal-hal itu? Tidak, aku sedang menyiksa diri sebagai gantinya.
Yoongi membutuhkan larangan untuk berenang di laut dengan bertelanjang dada seperti itu, atau dia perlu sebuah pantai khusus yang hanya bisa ia pakai sendiri untuk berenang, berendam一mungkin bersamaku, jika ia mengijinkan.
Dan untuk Seungri hyung... aku pastikan dia akan segera kehilangan kedua tangannya. Mengeratkan gigiku, aku memalingkan muka dari pemandangan didepanku. Bagaimana dengan sialan Seungri asik mengoleskan sunblock di punggung dan bahu Yoongi. Seungri bahkan berhasil untuk mendapatkan persetujuannya untuk menemaninya masuk ke dalam air.
Aku duduk di sini dan menyaksikan setiap detik yang menyiksa itu. Jeritan tawanya dan kesempatan Seungri menyentuhnya membuat kecemburuanku mengamuk melalui pembuluh darahku. Aku tahu aku tidak berhak untuk cemburu. Kami pernah melakukan seks panas. Itu saja, hanya itu. Aku tak tahu apa-apa lagi tentang dia. Tapi aku ingin mengetahui semua tentangnya.
Aku ingin tahu darimana dia berasal. Aku ingin tahu apakah dia punya kakak atau adik. Siapa yang memberinya mata cokelat yang pernah kulihat menerawang dengan kesenangan itu? Apakah dia suka menari? Di mana ia belajar menyanyi seperti itu? Sial, dia benar-benar begitu mempesonaku di acara omong kosong hari itu. Ada begitu banyak hal yang aku tidak pernah akan dapat kesempatan untuk mengetahui darinya.
"Bahumu mulai memerah. Aku pikir setelah menggunakan sunblock akan membantu menahan sinar matahari untuk kulitmu, sepertinya kurang berhasil," kata Seungri, dan aku tidak bisa menjaga mataku dari pergeseran kembali untuk melihat bahunya.
Seungri benar, bahunya memerah. Aku lantas berdiri dan berjalan ke tempat penyewaan di tepi pantai.
"Berikan aku payung," aku mengatakan kepada karyawanku yang kurekrut dua minggu lalu, sebelum musim semi datang.
"Ya, tuan," dia mengangguk.
"Anda ingin saya menancapkannya ke dalam pasir untukmu juga, sajang-nim?"
Tidak, aku ingin melakukannya sendiri. Aku menggeleng singkat.
"Terima kasih."
Aku mengambil payung itu dan mataku terkunci dengan Yoongi ketika aku berbalik untuk berjalan menuju ke arahnya yang sedang duduk di pasir. Dia menatapku ingin tahu. Seungri mengatakan sesuatu di telinganya tapi dia tidak memberikan perhatian padanya. Fokus lengkapnya ada padaku.
"Pindah," aku memerintahkan Seungri, memberinya sedikit waktu untuk benar-benar mengikuti perintahku sebelum mendorong tiang payung ke dalam pasir dan memulai gerakan melingkar yang dibutuhkan agar tergali cukup dalam sehingga payung itu berdiri kokoh dan tidak terbang.
"Payung ini tidak akan melindungimu dari sana, Jimin," kata Taehyung dengan seringainya.
"Bukan untukku."
"Oh, apakah itu untukku? Jimin yang manis, tapi aku sedang ingin berjemur mencoklatkan kulit eksoktik-ku," Taehyung menjawab, benar-benar menikmati untuk menggodaku.
"Kalau begitu pindah saja. Bahu Yoongi sudah memerah."
Aku akhirnya mengatakan tujuanku, hal yang memang Taehyung inginkan untukku mengakuinya dan aku melakukannya. Membiarkan Yoongi berpikir mengenaiku walaupun hanya untuk satu menit.
"Kau melakukan ini untukku?" Tanya Yoongi.
Aku bisa mendengar nada terkejut dalam suaranya, dan aku tidak melihat ke arahnya sampai aku berhasil menancapkan payung itu dengan benar.
"Ya," itu saja tanggapanku sebelum aku berjalan dan mengambil handukku.
Sudah waktunya aku pergi. Dia tidak ingin aku di sini dan aku memang tidak seharusnya berada di sini.
"Terima kasih," serunya saat aku mulai berjalan meninggalkannya.
Aku mengangguk tanpa melihat ke arahnya.
"Hei, bung, kau sudah mau pergi?" Tanya Jungkook.
"Aku memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan."
"Jangan lupa Jumat malam di Sun Club," kata Taehyung, menyeringai ke arah Jungkook, yang tertawa dan menggelengkan kepalanya.
Itu adalah hari anniversary hubungan mereka dan Taehyung bertekad untuk merayakannya dengan berpesta sepanjang malam. Dia telah menyewa tempat itu dengan sedikit bantuan dari Zhoumi yang berteman dengan pemilik club.
"Aku tidak akan melewatkannya," jawabku.
.
.
.
Sebuah malam dengan minum-minum, menari, dan karaoke bukanlah sesuatu yang menarik untuk Taemin. Tapi setidaknya aku akan melakukan tugasku dan mengundangnya. Sesuai dugaan, dia dengan cepat mengatakan tidak dan membuat alasan bahwa dia harus terbang ke New York untuk mendapatkan setelan jas pengantinnya. Itu akan memakan waktu beberapa hari一membuatku cukup puas dengan kenyataan bahwa aku tidak harus melihatnya untuk beberapa hari.
Taehyung benar-benar mengerahkan semuanya untuk dekorasi pesta ini, Rangkaian gelas lilin telah tersusun indah di sebuah meja besar membentuk angka "3". Ada cahaya kecil di setiap gelas, sehingga efeknya cukup keren. Aku berbicara dengan beberapa orang yang aku temui, tapi aku tetap mengamati seseorang di sudut ruangan di sisi kanan, Min Yoongi.
Aku akan mencoba dan berbicara dengannya sekali lagi malam ini. Menonton dia tertawa dan berbicara dengan Seungri dan Zhoumi seperti mereka teman lama seakan membunuhku. Aku ingin seperti itu juga. Aku tahu dia tidak sedang berkencan dengan salah satu dari mereka, tetapi mereka akan berusaha untuk mengajaknya berkencan.
Zhoumi telah mengatakan sesuatu tentang bagaimana Yoongi ingin belajar bermain gitar, dan aku langsung cemburu mendengarnya. Mengetahui sebuah kenyataan ia tahu sesuatu yang pribadi tentang dirinya. Sesuatu yang aku tidak tahu.
"Kau tahu, Jimin, setelah kau bertunangan. Kau seharusnya muncul dengan membawa serta tunanganmu dalam suatu pesta, termasuk pestaku," kata Taehyung saat ia berhenti di depanku dan menuangkan sebotol minuman yang sepertinya wiski.
"Dia harus pergi ke New York," jawabku, dan mengambil gelas dari tangannya.
"Hm, masa bodoh," Taehyung menjawab geram, lalu berjalan pergi.
Aku menenggak gelasku dan melihatnya dari pantulan kaca di bar. Yoongi datang berjalan keluar dari toilet, dan aku menghabiskan satu menit untuk terpesona akan celana jins biru dan sepatu bot-nya yang pernah aku lihat sekali sebelumnya. Aku tahu persis bagaimana dia terlihat tanpa apapun lagi kecuali sepatu itu.
Kaos hitam yang dipakainya cukup pendek, membuat ketika ia mengangkat lengannya, sedikit sepotong kecil dari perut putihnya akan terlihat. Dia benar-benar tahu cara berpakaian untuk mendorong seorang pria menjadi gila.
"Hentikan tatapan nafsumu, bung. Kau sudah disegel," kata Zhoumi sambil tertawa kecil saat ia berjalan kearahku.
"Aku belum menikah," gumamku, dan menembaknya dengan tatapan kesal sebelum kembali melihat ke arah Yoongi.
"Ya, belum, tapi kau akan一segera. Jika kau menginginkan Yoongi lebih dari hubungan 'bos-bawahan', kau sudah pernah mendapatkan itu. Kau yang membuat semua pilihan ini, dan aku tahu bahwa kau cukup bijak untuk tahu konsekuensinya. Kau harus bertahan dengan itu."
"Ini lebih rumit dari yang dibayangkan, hyung."
Zhoumi melipat tangan didadanya dan menatapku.
"Begitukah? Serumit apa?"
Aku tidak ingin menjelaskan kepadanya bagaimana perasaanku terhadap Yoongi. Ini bukan urusannya.
"Kau tahu bagaimana hal-hal bisa menjadi sangat rumit dengan tidak masuk akalnya, Zhoumi. Aku tahu, kau pasti mengerti, hyung," kataku dengan suara rendah yang berarti hanya untuk didengar oleh telinganya.
Mata Zhoumi menyipit, kemudian dia mengangguk mengerti sambil menyeringai meskipun itu bukanlah suatu hal yang menggelikan. Kami berdiri dalam diam sambil melihat Yoongi. Ketika matanya akhirnya berbalik dan bertemu denganku, aku memutuskan untuk bergerak. Kami akan berbicara malam ini. Aku tidak akan membiarkan dia mendorongku pergi lagi.
Tidak kali ini.
-TBC-
[Update time: Wed, Dec 7th 2016.]
