Let's Get Married part 7
.
Humor? -gagal bahkan chapter ini nga ada ya?-
Romance? -nga jelas akan makin lebih nga jelas-
Aneh? -so pasti, yang nulis aja aneh! Semi gila!-
Absurb -dengan sangat jujur, iya!-
.
Disclaimer : KHR is belong to Amano Akira
Story by Rin
Xanxus (24) as a Nono child and Vongola Decimo with female Tsuna (16)/fem27.
FemGokudera (16)
Hibari (17)
Yamamoto (16)
Warning : OOC, ABAL, GAJE, penuh dengan bahasa aneh nga nyambung dan hal-hal yang nga cocok buat anak di bawah umur. Pokoknya siapin obat-obat kesayangan anda beserta kaca mata hitam plus kotak atau kresek muntah sebagai antisipasi selama membaca. Jika sakit berlanjut harap jangan hubungi dokter, nanti anda malah dikirim ke RSJ terdekat. *digebuk reader*
.
Normal Pov~
.
Kicau burung menyambut saat matahari mulai mengintip di ufuk timur. Sepasang orb golden amber terbuka perlahan namun belum ingin beranjak dari ranjang karena hari ini adalah hari minggu. HARINYA MALAS-MALASAN! (itu sih author)
.
"Ukh..." Puk. Tsuna yang hendak memiringkan badannya untuk kembali tidur malah menabrak sesuatu atau tepatnya seseorang. "Xanxus?"
.
Ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam atau lebih tepatnya setelah meninggalkan apartement Gokudera. Dicegat Yakuza, ditolong Xanxus, lalu menangis hingga capek dan tidur tanpa peduli keadaan. Tsuna melirik pakaiannya yang masih utuh, artinya Boss ayahnya ini tak melakukan apapun padanya. Remaja bersurai coklat itu menatap wajah pemuda yang 2 hari ini tinggal bersamanya. Wajah Xanxus yang biasanya selalu galak, alis berkerut dan kaku ternyata bisa begitu tenang bahkan terkesan manis saat tidur.
.
'Coba setiap hari dia bisa setenang ini, apa dunia mafia itu selalu kasar ya?' perlahan Tsuna menyetuh bekas luka yang sudah mulai samar di pelipis Xanxus 'Dulu dia tak pernah menyebut orang sampah.' Toel. Tsuna menyentuh pipi Xanxus dengan ujung telunjuknya, pemuda itu menggeram pelan karena diganggu tidurnya.
.
"Hehehe..." Toel, toel, gyut! Keasyikan, Tsuna malah kembali menusuk pipi Xanxus kemudian mencubitnya pelan.
"Tsk! Diamlah bocah!" Xanxus menangkap tangan usil Tsuna dan menariknya mendekat, memeluknya lebih erat.
"Sudah pagi lho." Tsuna malah membalas pelukan Xanxus. "Tidak bangun?" (Ziho: keduanya emang aneh, biasanya cewe pasti treak disini =_=" )
"Huh, aku bukan anak sekolahan yang dikejar jam pagi. Ini juga bukan Italia jadi masa bodoh!"
"Ini juga hari minggu." sambung Tsuna.
"Mending tidur lagi." sahut mereka bersamaan. (Ziho: okeh, ada 2 kemungkinan, author yang aneh ato merekanya *nujukX27* emang nga jalan otaknya.)
.
Xanxus melirik Tsuna yang tanpa merasa risih akan keberadaannya, tak peduli kalau yang bersamanya adalah seorang laki-laki yang termasuk asing meski dari segi kekerabatan mereka masih ada hubungan namun itu sudah dari silsilah yang nyaris tak bisa diingat. Dan anehnya, pemuda kelahiran Italia itu juga merasa nyaman-nyaman saja bersama Tsuna.
.
'Begini ya rasanya punya adik?' batin Xanxus. Tsuna yang telah kembali tertidur mengigau entah apa dengan alis berkerut dan tampang aneh. "Heh, adik yang manis."
.
.
.
.
.
Di depan rumah Tsuna, beberapa mobil mewah parkir dengan senaknya. Selusin laki-laki bertampang seram menjaga sepanjang sisi jalan dan dari salah satu mobil keluarlah mereka yang kita kenal sebagai Guardian Vongola.
.
"Ho...disini ya?"
"Hum...dari hasil lacakkanku, boss ada di rumah ini."
"Voi, perasaanku saja atau rasanya pernah kemari ya?" Levi, Lussuria, Belphegor dan Mammon mengangguk setuju tapi mereka lupa. Apalagi papan nama di depan gerbang tampaknya sudah kena tinju hingga ada huruf yang hilang meninggalkan tulisan 'Wada'. Para reader pasti tahu siapa pelakunya kan?
"Kok aku tak ingat ya?" gumam Fran.
"Ushishishishishi, seingat pangeran kau belum ada di Varia saat itu, kodok!"
.
Dengan kemampuan Fran mereka masuk tanpa perlu kunci, Squalo segera naik ke lantai dua setelah mendapat hasil nihil di lantai bawah. Dengan semangat ala kuda jing-ups maksudnya semangat ala predator raksasa perairan laut hangat pemuda itu mendobrak satu-satunya pintu yang berisi gantungan gambar ikan tuna.
.
.
.
"VRAAAAOOOIIII! BOSS SIALAN! Kau- Huh?" Pemuda yang berusia 24 tahun itu tertegun melihat keadaan di kamar Tsuna. Diikuti para Guardian lainnya yang juga ikut di belakang Squalo, semua Frozen di tempat. Xanxus dan Tsuna masih tidur dalam posisi berpelukan.
"Kyaaaa! Boss tidur sama cewe ABG~!" Lussuria berteriak histeris.
"Sampah...tutup mulut kalian!" Xanxus menggeram kesal, pemuda itu melirik Tsuna yang masih terlelap tanpa terganggu. Xanxus bangun perlahan dan melepaskan pelukan Tsuna. "Cepat juga kalian menemukanku."
"Itu...kau..." Squalo jadi kehilangan suara saking kagetnya.
"Boss..." wajah Levi bagai kepiting rebus (pasti udah negatif thinking deh =_=)
"Ushishishishi, ini kejutan..." Fran mengangguk setuju sementara Mammon mulai sibuk montret untuk diperlihatkan ke Nono dan pastinya nga gratis.
"Apanya?" tanya Xanxus dengan pandangan bingung. Decimo itu sama sekali tak mengerti kenapa para Guardiannya memasang tampang syok. Xanxus mengguncang pelan tubuh Tsuna agar gadis itu bangun "Hei bocah, bangun."
"5 menit~paman..."
"Bangun! Atau aku lempar kau ke bak mandi!" Xanxus menepuk-nepuk pipi Tsuna "Kita kedatangan tamu 'tak diundang'."
"E..h...ada ta...mu?" Tsuna bangun dengan mata masih setengah merem. Perlu beberapa belas detik baginya untuk mencerna siapa sekelompok 'tamu' yang datang mendobrak pintu kamarnya yang pertama dikenalinya adalah "SQUALO!"
"Hah?" Squalo bingung karena namanya disebut gadis asing. "Siapa nih?"
"Huh jahat, kau lupa padaku ya, paman..." Tsuna cemberut, Xanxus sudah lebih dulu meninggalkan kamarnya diikuti Levi. "Padahal belum juga jadi nenek-nenek..."
"VRAAAAOOOOIIIII! NGAWOR AJA LOE NYEBUT GUE NENEK-NENEK!"
"Ushishishishi, Squaly memang mirip mirip nenek-nenek uzur kalau dari belakang, iya kan Fran?" Fran mengangguk kalem.
"Kalo gitu masih gadis perawan ya?" tanya Tsuna.
"Tentu saja gue per-VOOOOIIIIII! GUE LAKI-LAKI MANA BISA DISEBUT PERAWAN! MESTINYA PERJAKA TAU!" Squalo emosi menunjuk-nunjuk Tsuna dengan pedangnya, siap mencabik-cabik remaja bertubuh mungil itu.
"Mou~ aku tak tahu boss dekat dengan anak manis begini!"
"Dan juga tak kenal takut, shishishishishi."
"Luss-nee, Bel-nii, aku Tsuna!"
"Tsuna?"
.
1
.
2
.
3
.
"Kyaaaa! Tuna-chan?!" Lussuria kumat fan-girling-nya. "Kau jadi manis sekarang!" Tsuna yang ngerasa badannya tak aman dari pelukan mematikan Lussuria segera berlindung di belakang Belphegor.
"Yare,yare, anak bengal itu sudah besar rupanya." komentar Mammon yang sibuk menulis sesuatu di hp-nya.
"Ushishishishishi, padahal lima tahun lalu masih seperti laki-laki."
"Aku sudah 16 tahun sekarang, Bel-nii..." Tsuna melirik Fran yang sejak tadi lebih banyak diam di samping Belphegor. "Kamu siapa?"
"Fran." jawab remaja bersurai hijau tosca sambil menunjukkan pose 'peace'.
"Nama keluarganya tak ada?"
"Tak penting." sahut Fran datar, Tsuna sweatdrop.
"...penggantinya Mammon ya?" Fran mengangguk. "Aku Tsunayoshi Sawada."
"Yare? Kenapa bisa tahu?"
"Perasaan saja."
"Shishishishi, mio principessa." Belphegor merangkul bahu Tsuna.
"Apa, Bel-nii?"
"Kau belum di apa-apakan boss kan?" Tsuna mengangguk.
"Mou, Tsu-chan sih pengecualian. Boss kan sayang Tsu-chan." Lussuria tampak ngayal dengan badan joget nga jelas macem uget-uget kepanasan. Belphegor menarik Tsuna dan Fran ke lantai bawah sebelum salah satunya jadi korban error in persona si bencong mesum. Mammon mengikuti di belakang_terbang di atas mereka.
.
.
.
"Pulang yuk, boss." bujuk Levi selagi Xanxus makan sarapannya.
"Tidak."
"VRAAAAOOOIIII! KAU HARUS PULANG DENGAN KAMI!" rayu (baca: treak maksa) Squalo.
"Tidak."
"Nono kangen lho boss~" Lussuria ikut nimbrung.
"Perduli setan."
"Tunanganmu melamar Squaly, lho boss! Ushishishihishi!" lapor Belphegor.
"Itu bagus!" Xanxus angkat jempol kanan untuk Squalo. "Semoga kau nanti tenang di 'sisi'nya setelah menikah."
"VRAAAAAOOOOOOIIIIIII! APANYA YANG BAGUS?! TUH CEWE SADIST NYARIS BUNUH GUE!"
"Tapi akhirnya dia malah jatuh cinta pada kapten cantik." Srash! Topi kodok Fran ilang atasannya.
"MATI LOE KALO MASIH BERANI NYEBUT GUE CANTIK!"
"Ara...kenapa tidak di cabik-cabik saja sekalian topi bodoh ini?"
"Topi itu pemberian pangeran tau!"
"Whuah, bagus kan? Akhirnya paman Squalo punya pasangan." ucapan selamat dari Tsuna malah membuat Squalo tambah misuh-misuh "Eh? Mammon kemana?"
"Karena boss sudah ketemu, dia mau ambil kerja sambilan di tempat Verde-san." sela Fran sekaligus sembunyi di belakang Tsuna agar terhindar dari pisau Belphegor dan sabetan pedang Squalo.
"Lalu...kapan kalian menikah?" Brunette satu ini tampaknya belum puas menggoa meski nyawanya dalam bahaya sedangkan wajah Squalo memerah bagai stroberi begitu dengar kata 'menikah'.
"VRAOI CHIBI! Jangan seenaknya menarik kesimpulan!"
"Huh, scum."
.
.
.
.
.
"Ne...sejak kapan kalian dekat?" Fran entah kenapa terus menempeli Tsuna. Kini ketiga remaja itu kini berkumpul di kamar Tsuna sambil. Fran dengan majalahnya, Tsuna dengan pe-ernya dan Belphegor dengan novel horornya "Kalian tidur saling pelukan tapi tak melakukan hal lain?"
"Xanxus cuma menjagaku setelah aku...er...aaahhhh tidak penting!" Tsuna pura-pura menyibukkan diri dengan pe-ernya yang sebenarnya sudah selesai.
"Ushishishishishi, karena apa hayo?" keisengan si pirang kumat.
"Bukan apa-apa!" elak Tsuna.
"Yakin nih belum di apa-apakan?" Tsuna terdiam sesaat kemudian melirik Belphegor dan Fran.
"Kalo gitu aku boleh balik tanya, Bell-nii?"
"Hm? Apa?"
"Fran belum kau 'apa-apa'kan, kan?" tanya Tsuna dengan seringan menyeramkan dan tatapan menyelidik.
"K-kau..." rona wajah Belphegor campur aduk antara ungu dan merah padam sementara Fran pipinya agak merona meski ekspresinya tetap stoik.
"Sudah kuduga kalian ada apa-apanya...fufufufufu...(?) cinta masa muda~"
"Jangan bicara seolah kau sudah tua!" Tsuna menghindari lemparan buku dari Belphegor. "Kalian ini mirip, tidak manis!"
"Maaf deh kalo nga manis!" sahut Tsuna dan Fran bersamaan.
.
.
.
"VRAAAOOOIIII XANXUS! Sampai kapan kau mau kabur dari perjodohanmu?!"
"Sampai kakek tua itu menyerah. Lagi pula kuda jingkrak itu suka padamu kan?"
"Huh, kalau kau suka dia kenapa tak terima saja? Menurutku kalian cocok." ujar Squalo tanpa peduli deathglare dari Xanxus.
"Aku tak suka padanya."
"Memangnya sejak kapan kau kenal perasaan 'suka' atau 'cinta'? Dalam dunia mafia itu tak dibutuhkan!"
"Memang kami harus menjalin hubungan baik karena Vongola dan Cavallone adalah rekan lama, tapi bukan berarti kami harus menikah kan? Ide sampah kakek tua itu takkan pernah terjadi."
"Huh, kau ini memang boss yang menyusahkan." keheningan yang kaku menyelimuti ruang tengah keluarga Sawada "Huh, kau akan ikut kami ke hotel?"
"Aku tetap di sini."
"Voi, ini mungkin hanya perkiraanku, apa bocah itu penting untukmu?"
"...maksudmu?"
"Kau bisa bersikap protektif begitu meski kalian tidak bertemu selama 5 tahun. Bahkan dulu kalian hanya bersama seminggu tapi-"
"Jangan bertele-tele, hiu sampah!"
"Apa kau menyukainya?"
"Huh, otak sampah. Dia itu seperti adik laki-lakiku."
"Voi, mana bisa begitu? Kalau dulu mungkin iya tapi sekarang? Anak itu sudah menjadi seorang gadis."
"Gadis? Padahal dia tak pernah bertingkah seperti perempuan kecuali semalam."
"Semalam?" Xanxus menutup mulutnya karena keceplosan "Jadi benar kau melakukan sesuatu padanya? Lalu rambut itu sebagai bentuk penyesalan?"
"Heh, aku memotongnya karena dia menempelinya dengan lem hingga aku tak bisa membersihkan semuanya."
"Lem?" Xanxus dengan terpaksa menceritakan sejarah (?) yang menyebabkan model rambutnya berubah "Fuh, HAHAHAHAHAHA!" yah, bisa diduga reaksi Squalo yang kini ngakak meringkuk di meja pendek ruang tengah.
"Apa selucu itu?"
"Sayang aku tak melihatnya, hehehe. Voi, apa dia punya fotonya?"
"Mana aku tahu! Mana kau malah menertawaiku, sialan kau hiu bencong!" Xanxus melempar cangkir tehnya ke arah Squalo.
"Voi, itu memang lucu! Di Varia kan tidak ada yang berani mengerjaimu selain Belphegor! VOOOOIIIIII GUE BUKAN BENCONG!" (Rin: tul! hanya lussuria yang bencong di sini karena Squalo itu adalah perempuan cantik!*authorditebas*)
"Tutup mulutmu atau kucium!" Squalo mundur-mundur perlahan dengan kedua tangan menutup mulutnya. "Bagus, sekarang pergi sebelum ku paksa kau operasi kelamin jadi hiu betina dan kujadikan istri." wajah Squalo yang tadinya merah kini berubah ungu, buru-buru Rain Guardian Vonggola itu kabur dari ruang tengah menyisakan Decimo yang menyeringai penuh kemenangan.
.
.
.
"Kenapa tak ikut ke hotel? Bukankah lebih nyaman di sana?"
"Terserah aku." Tsuna menggeleng pelan mendengar jawaban Xanxus yang seenaknya. Bukan berarti dia tak suka pemuda itu di rumahnya tapi Xanxus yang sudah biasa hidup mewah kenapa malah memilih tetap di rumahnya? Gadis itu pun membereskan meja makan setelah mereka makan malam. "Hei bocah."
"Berhentilah memanggilku bocah, usiaku sudah 16 tahun ini." protes Tsuna sembari mencuci piring.
"Bagiku kau tetap bocah."
.
Xanxus meraih Vongola Sky Ring dan weapon box dari sakunya lalu meletakkannya di atas meja. Pemuda itu menatap cincin tua yang telah diturunkan dari generasi ke generasi selama lebih dari 400 tahun. Sky, langit, element paling langka dari 7 tipe api yang merupakan pemimpin dari semuanya. Pada setiap generasi Vongola harus ada penerus yang lahir dengan element langit, tak peduli laki-laki atau perempuan mereka lah yang harus menanggung beban menjadi Don Famiglia. Tentunya Xanxus mengerti bahkan sangat mengerti kenapa ayahnya begitu ingin dirinya segera memiliki anak yang bisa menjadi penerus Vongola setelah dirinya, Timoteo takut kalau dia juga bernasib sama seperti ketiga kakaknya sehingga Vongola akan habis di generasinya. Selama ini Xanxus dibesarkan bukanlah sebagai seorang kandidat Decimo melainkan pewaris Varia bersama Squalo, itu juga yang menyebabkan dirinya lebih nyaman berada di Varia. Jika saja ketiga kakaknya yang bodoh tak mati maka dia tak perlu pusing begini.
.
"Tapi bukan berarti aku harus menikah dengan perempuan yang tidak kuinginkan kan?"
"Hei, paman."
"Berhenti memanggilku 'paman'! aku belum setua itu!"
"Kau sendiri memanggilku 'bocah', lalu kenapa aku tak boleh? Tunanganmu itu cantik tidak?"
"...yah, begitulah. Dia juga seorang Decimo dari Famiglia yang merupakan ally Vongola selama 400 tahun lebih. Sayangnya dia itu termasuk kategori sado."
"Sadisan mana dibanding dirimu?" goda Tsuna sambil meletakkan gelas berisi teh hangat untuk Xanxus.
"Bodoh!"
"Aku tak bodoh!" pandangan Tsuna teralih pada kotak orange dan cincin yang ada di depan Xanxus "Ini apa?"
"Vongola Sky Ring dan Sky Weapon Box." Xanxus memberikan Vongola Sky Ring pada Tsuna "Ini adalah Cincin yang selalu diberikan pada pewaris Sky Guardian Vongola." Tsuna menyematkan cincin itu di ibu jarinya karena ukurannya lumayan besar.
"Apa aku juga bisa menggunakannya?"
"Huh, bocah bodoh. Ini hanya berguna jika kau memiliki Sky flame." Xanxus mengenakannya di jari tengah, beberapa detik kemudian api berwarna orange bening menyala dengan gagahnya. "Sky flame ini adalah yang paling langka, jarang ada yang memilikinya."
"Tunanganmu juga punya api seperti ini?"
"Tentu saja, semua pemimpin Famiglia di peringkat 10 besar dunia memilikinya. Kau tahu, Vongola adalah Famiglia peringkat pertama di dunia." Xanxus memasukkan apinya ke dalam weapon box, seekor singa putih muncul di hadapan Tsuna. Remaja Brunette itu memekik kaget berusaha menjauh dari makhluk berbahaya itu hingga terpeleset dan jatuh ke pangkuan Xanxus. "Dia takkan menyerangmu."
"Itu singa!"
"Huh, dasar penakut. Bester itu bukan singa tapi 'Liger' separuh singa, separuh harimau." tak lama muncul belang hitam di tubuh singa tadi.
"Barter?"
"Bester!" ulang Xanxus.
"Vester?"
"Huh, tak hanya otakmu yang bodoh, kupingmu pun tuli!"
"Namanya susah disebut!" Tsuna manyun bangun dari pangkuan Xanxus "Easter-er..." singa putih itu menggeram kesal karena Tsuna tak bisa menyebut namanya dengan benar, sekali lagi Tsuna jatuh ke pangkuan sang Vongola Decimo "Hiiieee! Kucing baik, kucing baik!"
"Bocah, coba baca ini." Xanxus menyodorkan ponselnya.
"Bes-ter?" Tsuna membacanya perlahan tulisan huruf romawi yang diketik Xanxus. "Bester, nama yang lucu untuk seekor singa." lagi-lagi singa itu menggeram nga terima "Hiiih!"
"Huh, kemarilah Bester." dengan manjanya singa-separuh harimau itu menggosokkan kepalanya di lutut dan tangan Xanxus. Jika sudah begitu singa yang menyeramkan pun tak ada bedanya dengan kucing rumahan kecuali ukurannya yang jauh lebih besar. "Coba kau sentuh dia." Tsuna menggeleng ngeri. "Dia takkan menggigit badan kurusmu, takkan membuatnya kenyang."
.
Tsuna mendeathglare Xanxus karena seenaknya menyinggung ukuran tubuhnya. Takut- takut remaja brunette itu mengulurkan tangannya menyentuh telinga yang mengelurkan api orange kekuningan. Tangan besar Xanxus menuntunnya untuk mengelus bagian belakang telinga Liger itu. Kucing besar itu menggeram senang, makin merapatkan dirinya pada Tsuna dan Xanxus.
.
"Hahahahaha, kalau begini dia kelihatan manis!" Tsuna menggunakan kedua tangannya untuk membelai belakang telinga Bester, rasa takutnya tadi telah menguap entah kemana "Maaf ya mengataimu menyeramkan, ternyata kau anak baik..."
Melihat Tsuna yang kini tertawa girang di pangkuannya membuat Xanxus tak bisa menahan senyum muncul di wajahnya. Didekapnya lebih erat tubuh mungil itu hingga punggung Tsuna merapat ke dadanya "Wajahmu sekarang lebih cocok untukmu."
"...er...bisa lepaskan tanganmu?" wajah Tsuna merona karena baru sadar kalau mereka begitu dekat, wajahnya dan Xanxus hanya berjarak beberapa centi. Tangan kekar itu memeluknya dengan erat, melihat senyum yang diberikan Decimo Vongola itu membuat jantungnya berdebar dan anehnya kenapa sebelumnya dia tak merasakan hal itu meski mereka tidur bersama semalam bahkan hingga pagi tadi "Tanganmu...lepas-"
"Jika aku tak mau?" senyum tadi berubah menjadi seringai jail "Aku belum menghukummu karena perbuatanmu kemarin."
"Hie! I-itu...ano...aku-" Tsuna mulai meronta-ronta untuk melepaskan diri, seringai Xanxus makin lebar melihat Tsuna yang panik.
"Lepaskan tanganmu darinya kanivore sialan!"
.
Keduanya sontak menoleh ke pintu dapur, Kyouya Hibari berdiri di depan pintu dengan aura mengerikan.
.
.
.
.
.
TBC
.
Rin : yaho, mari kita bales review, ZIHO!
Ziho : sip lah!
.
LalaNur Aprilia
Niatnya emang pengen bikin Tsuna di 'apa-apain' tapi kayaknya waktu belum tepat. model rambutnya xanxus sama seperti versi TY hanya saja sedikit lebih pendek poninya.
yosh, nie dah update!
.
Andiandi
whoa, sayangnya Rin nga punya ide buat masukin Xanxus jadi guru di sekolah Tsuna, nga ada yang cocok sih untk tipe Xanxus untuk jadi guru =_="
Masih kependekan kah chapter ini? somoga ngak ya? *pegang samurai*
soal ikrar janji...paling nga lamaran...masih beberapa chapter lagi mungkin *nga yakin*
.
.79
Hahahaha, akan dipertimbangkan kalo Xanxus jadi nikah ama tsuna *nahlo?!*
makasih banget kalo ceritaku bisa menghibur karena aku sendiri selalu nga PD tiap ngepost cerita karena takut kalian nga suka, maklum aku masih newbie
Xanxus memang keren *aku suka xanxus* dan entah kenapa aku susah sekali suka ama hibari. padahal secara perilaku (?) xanxus dan hibari itu mirip ya?
wokeh, aku akan semangat!
.
Little Otaku
HAHAHAHAHA XD
aku juga sempet kepikiran mo bikin acara raep-raepan mereka berdua tapi nga jadi karena otak lagi seret ama ide mesum. perlu isi ulang nih, ada bahan nga? *dilempar clurit*
Nih dah update kan? UTS lancar, meski delik adat aku serasa pusing 13 kali keliling neraka *halah lebay*
.
DarkLidyaNuvuola Del Cielo
Kerasa anehnya ya? hahahah *ditembakAK-47*
nih dah update, mohon maaf nga kilat. moga-moga suka ya!
.
RuruIchi
makasih karena dah mereview dan untungnya kamu suka.
perkembangan mereka berdua...er...entahlah itu tergantung apakah otak author akan tetap lurus ato bengkok*disambit batu*
mari kita doakan semoga mereka bisa cepet jadian dan Xanxus bisa jadi mantu yang baik!
.
Dee Kyou
*masukin kue sus ke mulut dee* awas ada lalat masuk! *ditimbun batu*
mana aku tahu kenapa Xanxus jadi begono! *reader : lu kan authornya!*
dah, kyou nga usah sama kasar ama dee, selingkuh ama aku aja! *narik Kyou ke dalam pelukan* fufufufu...aku juga bisa kok jadi seme mu *nga bener nih*
aha, ada sih keributan kecilnya tapi sayangnya bukan ortu yang ribut XD
percaya nga percaya mereka CUMA TIDUR BARENG DOANG! *capslock woy!*
Tsuna emang super usil tapi Xanxus juga ngak akan kalah licik disini. pokknya semua bakalan GAJE! seperti apa yang selalu di usung oleh Rin di tiap fanfic yaitu 'Gaje dan OOC'
Rin : bah, gimana ya...nga ada waktu ngambar. liat aja versi TYL dan potong poninya lebih pendek lagi dikit hingga di atas alis. sekiranya begitu deh. *penjelasan nga guna*
atas permintaanya aku sengaja bikin adegan romance karena nga bisa bikin Tsuna jadi moe disini *maaf* masih kurangkah?
Dah semua dibales kan reviewnya?
Nah, mohon reviewnya juga untuk chapter ini! XD
