Vans' cuap:

Anggap saja segala sesuatu di dalam fik ini nyata adanya, tetapi diperbolehkan untuk saling meliarkan imajinasi dalam pikiran masing-masing.

Maaf karena apdet yang lama. Hhe… Sebenernya ini udah rampung plotnya, cuman belum kesampaian ngetik. Dari kemaren, lappie Vans kumat ngadat, jadi gak bisa ngetik sama sekali. Ini pun coba-coba buka, dan ternyata lumayan 'sehat'. Jadi Vans langsung ngetik lanjutan The Virus deh :D *edisi curcol*

Warning: Jangan membaca ff ini ketika sedang makan ataupun hendak makan (terkecuali yang nekat baca kalo lagi makan). Vans tidak bertanggung jawab jika readerdeul mengalami pusing, mual, pengen dikerokin bahkan kejang-kejang *pisss ^^V*

Semoga masih ada yang mau baca sampe habis dan ripiu.

Don't Like, Don't Read

.

.

.

.

.

Dinding baja menjulang tinggi menjadi pemisah kota Seoul dengan daerah sekitar, dinding yang membuat Seoul terisolir. Gelap malam hutan pendek perbatasan bersuasana lebih mencekam dari biasanya. Cahaya bulan separo samar-samar menembus kelebatan daun-daun pepohonan akasia yang berjajar padat.

Junsu menghela napas lega karena sudah bisa melihat dinding dari kejauhan. Di atasnya pula terdapat dua pos yang dijaga oleh beberapa petugas. Lampu mobil dipindahkan ke mode lampu sorot, berharap bisa menarik perhatian para petugas.

Krrrtt. Junsu berdesis ngilu. Suara besi tajam yang beradu menyakiti telinga. Kadet Koo menolehkan kepala ke belakang. "Suara apa itu?" Junsu menggeleng tak tahu.

"Aku rasa… ada yang mengikuti kita." Kadet Heo berucap tak yakin. Meski begitu ia tak urung mengegas mobil yang dikemudikannya.

Guncangan kecil menyentak tiga manusia dalam mobil. Detakan jantung berpacu semakin cepat. Hawa dingin mencekam menguar, menyergap pori-pori kulit dan menyentak bulu roma.

Brak. Junsu menjerit terkejut, hampir mengejang ketakutan karena hempasan keras pada pintu mobil di sisi. Dua buah tangan penuh goresan dan darah berusaha menggapai jendela. Decitan kaisan kuku mencakar permukaan kaca membuat ngilu. Junsu segera beringsut menjauh begitu menyadari sosok mayat hidup menempel pada pintu mobil. Dengan tangan tremor luar biasa, Junsu meraih senjata api yang tadi sempat tergelincir dari genggaman.

Mobil yang meluncur dengan kecepatan di atas ambang batas mulai di luar kendali. Kadet Heo mencoba meraih kecepatan dalam kendalinya, namun nahas, pedal rem yang diinjak tak kunjung memelankan laju kendaraan.

Kadet Heo menoleh tak yakin kepada Kadet Koo. Tidak yakin untuk memberitahukan kabar bahwa rem mobil blong atau tidak. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk memberitahukan hal ini kepada semua rekannya.

"Semuanya, kurasa… kabel rem kita putus."

Kadet Koo memalingkan wajah ngeri.

Junsu berhenti menjerit, bersama suara ledakan peluru menghancurkan kaca pintu mobil dan meledakkan kepala si mayat hidup.

.

.

.

Vans' Presents

======================== THE VIRUS =========================

Disclaimers: God, their parents, and themselves

Warning: Shounen-ai, gore, thriller, a lil bit of angst, out of characters and amburegul

.

.

.

"Aaaaarrgh!" geraman frustasi Taecyeon menandakan keputusasaan berarti. Tubuh Jaejoong ambruk lemas di daun pintu besi yang tertutup rapat. Kedua matanya menerawang jauh. Sudah sampai sejauh ini, dan semua berakhir sia-sia. Setetes air mata meluncur dari sudut mata doe-nya, diikuti butiran selanjutnya hingga membentuk sebuah aliran sempit secara cepat.

Kapten Jung Yunho menghela napas berat, memejamkan mata, dan memijat pangkal hidungnya guna menghilangkan penat. Bermacam persoalan berdesakan dalam kepala. Nyaris membuat ia hilang kendali. Kehilangan tiga orang anggota tim adalah bagian yang paling tak Yunho sukai. Kehilangan beberapa nyawa dalam kurun waktu kurang dari seperempat hari sejak memasuki tempat terkutuk ini.

Koridor berpenerangan minim makin memperkeruh suasana. Dingin, sunyi, menambah ketajaman indera.

Ckreeeeek. Ketiganya tersentak, kemudian serentak mengarahkan senjata ke sudut ruangan di mana sebuah pintu—yang nyaris terlepas dari engselnya—terseret ke samping. Sebuah lemari penyimpan alat kebersihan. Taecyeon melepas sarung tangan dan melemparkannya ke lantai. "Shit!"

Jaejoong mengacak rambutnya emosi. Jelas, tekanan paranoia yang mendadak ia rasakan kini sangat menganggu. Meski tekanan yang dirasakannya sekarang lebih ringan ketimbang tekanan dahsyat saat berusaha meloloskan diri dari Shinki Inc. Jaejoong tidak sedirian lagi, ada tim dan Kapten Jung yang siap membantunya kapan saja. Tapi… sampai kapan hal ini akan bertahan?

Ssssrt.. ssssrt..

Taecyeon bergernyit heran. Earphone di telinganya berbunyi pelan, suaranya lemah. Kemudian, sayup-sayup ia mendengar suara seseorang berseru heboh dari sambungan seberang.

/ "Darurat Tim Tiga. Ganti-" /

"Tim Dua. Ganti." Taecyeon membalas agak ragu. Tapi mendengar jawaban dari line seberang, dia mulai yakin jika memang ada koneksi dari Tim Tiga—entah bagaimana mereka dapat melakukan hal tersebut di tengah listrik yang padam.

/ "Generator pembangkit listrik akan diaktifkan beberapa menit lagi. Cari tempat aman, dan berlindung. Ini perintah." /

"Roger!"

Yunho dan Jaejoong langsung mendekati Taecyeon begitu polisi itu mengiyakan apa yang didengarnya. "Apa ada informasi?" tanya Yunho.

Taecyeon beralih menatap sang Kapten. "Tim Tiga berhasil menghubungi kita. Cari tempat aman dan berlindung. Dalam beberapa manit ke depan, listrik akan dinyalakan menggunakan generator."

Jaejoong menggigit bibir cemas. "Tapi di mana kita bisa bersembunyi dari makhluk mengerikan itu selama mungkin?"

Taecyeon mendesah berat. Sial, dia kehabisan akal.

Yunho menengadahkan kepala, matanya menatap tajam ventilasi udara di langit-langit koridor. "Mungkin ada satu cara…"

.

.

.

.

.

Inspektur Shim membanting tutup peti penyimpanan senapan M-16 assault rifle dan mengeluarkan isinya. Shim Changmin segera mengokang senjata yang ia pegang, lalu menembak gembok yang menyegel peti besar di hadapan. Sebuah HK MG4 43 Machine Gun tersimpan dalam peti tersebut. Changmin menyerahkan senapan laras panjang di tangannya kepada Kyuhyun. Kadet Cho berdiri tegang di belakang Changmin, menerima senjata yang baru pertama kali ia genggam seumur karirnya di kepolisian. Sementara Tuan Park tengah mengacak meja besar dalam tenda utama, tampak kerepotan mencari sesuatu.

"Aku merasa aneh, bagaimana virus itu bisa masuk ke sini?" Kyuhyun bergumam ngeri. Changmin mengangkat dan menopang senapan serbu di pundak. "Perkiraanku, ada satu orang yang membawa infeksi virus makhluk terkutuk itu ke dalam camp. Aku tak tahu itu siapa dan dari mana, tapi yang pasti, kita harus bisa bertahan. Tim Tiga adalah fondasi dari semua tim, vital."

"Tidak adakah obeng, linggis, atau semacamnya?"

Changmin dan Kyuhyun menoleh ke asal suara. Tuan Park terlihat sedang menenangkan diri dan menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran kursi.

"Obeng untuk apa?"

"Untuk membuka pagar kawat ruang generator."

"Kurasa tidak perlu, Profesor," Changmin menyentak senjata di pundaknya, "beberapa kali tembakan cukup untuk membuka kuncian ruang generator yang kau maksud."

.

.

.

.

.

"Uhuk-"

"Shh.. aaarggh-"

"Kau tidak apa-apa, Junsu-ssi?"

"Huk-… tidak, kurasa aku baik-baik saja."

Kedua lutut Kim Junsu terasa lemas seperti jeli dalam beberapa menit, tak sanggup untuk sekedar menekuk setelah menjatuhkan diri dari mobil yang meluncur bebas dalam kecepatan gila. Beruntung, mereka bertiga bisa keluar dalam keadaan selamat meski mengalami beberapa luka cukup serius.

Kadet Heo merintih lumayan kencang sambil memegangi kaki kirinya yang berlumuran darah dengan lekukan abnormal. "Se—sepertinya… kakiku patah—arkh!"

Kadet Koo segera bangkit menghampiri rekan kerjanya yang tak henti merintih kesakitan. "Bertahanlah. Kita sudah hampir sampai." Telapak tangan Kadet Koo menutup luka di lengannya, mencoba menahan deraan rasa perih di kulit yang sempat bersinggungan dengan aspal.

Junsu meraba-raba permukaan tanah di sekitar, berharap dapat menemukan handgun yang tadi terlempar dari tangannya saat mendaratkan diri. "Junsu-ssi, apa kau yakin kalau tadi hanya ada satu?" tanya Kadet Koo. Junsu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya, "Mungkin—aku harap memang hanya ada satu, dan tak ada lagi."

Tentu, Junsu mengerti apa yang sedang Kadet Koo bicarakan. Makhluk itu, yang tadi menyerang mereka hingga hilang kendali seperti ini, hanya ada satu. Semoga.

"Kurasa… aku tidak sanggup untuk berjalan-"

"Kau ini bicara apa? Kau pasti bisa. Aku tidak mau melihatmu dihampiri makhluk mengerikan itu, sendirian, di sini." Kadet Koo berseru marah mendengar penuturan—yang menurutnya konyol—Kadet Heo. "Tapi aku akan melambatkan langkah kalian. Setidaknya, jika kalian cepat tiba di sana, lebih cepat kalian bisa menjemputku di sini."

"Ya, dan melihatmu berubah menjadi kawanan makhluk menjijikan itu? Kau ini keras kepala sekali! Tidak, kita akan tetap pergi bersama."

Huft. Junsu menghela napas lelah mendengar perdebatan sengit—keras kepala—antar dua polisi di hadapannya kini. "Cukup. Ayo, kita harus bergegas sebelum teman makhluk itu menemukan kita tidak berdaya di sini." Ia bangkit setelah menyetabilkan kondisinya. Melangkah paling depan menyusuri kelebatan hutan.

Patokan Junsu adalah pos petugas yang menyala, sekitar satu kilometer ke depan.

.

.

.

.

.

Duar. Duar. Duar. Tiga kali tembakan berhasil merusak sistem keamanan pintu yang sedang non-aktif akibat mati listrik. Changmin menyerahkan pucuk senjata di tangannya kepada Kyuhyun yang setia berdiri di belakang Changmin. Inspektur Kepolisian Seoul itu bersiap untuk mendobrak pintu ruang generator.

Brak. Percobaan pertama; gagal.

Tuan Park menatap cemas pintu masuk basement dua. Pintu tertutup rapat, menghalangi segala pemandangan mengerikan di mana basement satu telah didominasi para mayat berjalan. Basement dua adalah ruang lantai kedap suara, dikarenakan saat generator bekerja, suara bising akan ditimbulkan olehnya. Hal tersebut dilakukan agar suara kerja generator tidak mengganggu konsentrasi kerja para pegawai.

Koper besar tergeletak di samping Tuan Park. Di samping itu, sebuah meja besi merapat pada dinding baja digunakan untuk meletakkan segala peralatan komunikasi yang Tim Tiga perlukan.

Brak. Lagi, pintu berhasil dibuka pada percobaan ketiga.

Bruk. "Ouch!" Changmin meringis pelan, ia jatuh tersungkur pada dobrakan ketiga.

"Aku harap tulang bahumu tidak bergeser, Chwang," kelakar Kyuhyun, menyebut Changmin tidak seperti biasanya. Ia berjalan mendahului Changmin, mendekati dua buah mesin raksasa pembangkit listrik milik Shinki Inc. Mengutak-atik sebuah kotak yang tertempel di bagian bawah, dan membukanya.

"Oke. Tinggal menyambungkannya, dan…" Kyuhyun mengeluarkan benda elektronik bentuk persegi, kemudian menyambukannya dengan reaktan generator menggunakan sebuah kabel penghubung. Monitor kecil dalam kotak reaktor berkedip sebentar, lalu dalam beberapa sekon menyala sempurna. "masukkan koneksi. Apa kata sandinya, Tuan Park?"

"Y86C06P04."

"Roger-"

Klik.

.

.

.

.

.

"Yunho-ssi, apa kau yakin kita akan aman jika diam di sini?"

"Berdoa saja agar makhluk-makhluk itu tidak bisa memanjat ke langit-langit."

"Kalau dia bisa bagaimana?"

"Dia akan bisa, jika dia mendengarmu terus berbicara tanpa henti, Kim Jaejoong-ssi."

"Aku bertanya kepada Kapten Jung, kenapa kau yang menjawab?"

Seketika Jaejoong merapatkan bibirnya kala mendapati tatapan tajam Taecyeon. Dalam hati merutuk sebal karena kejamnya polisi itu dalam berbicara.

"Tenang, semua akan baik-baik saja," gumam Yunho.

Tentu, berdesakan di lorong langit-langit koridor adalah ide teraman tanpa alternatif. Bergelap-gelapan tanpa penerangan sedikitpun. Mencoba untuk membaur tanpa diketahui makhluk-makhluk terkutuk di bawah sana.

"Kira-kira berapa lama lagi kita harus menunggu?"

"Diamlah, Kim Jaejoong."

"Hei!"

"Ssssttt…"

.

.

.

.

.

Zzzzzzrrrtt

"Listriknya… menyala?"

"Ggrrraunghh~"

Tim Satu terkejut begitu menangkap suara geraman dan raungan liar yang menggema di tiap sudut. Erangan dan rintih lirih menggaung, resonansi dan panjang suara merambat melewati lorong-lorong koridor yang sepi dan hampir kosong melompong.

"Yoochun-ssi, cepat buka pintu ruanganmu sebelum mereka menyadari keberadaan kita di sini!" Komandan Oh memberi perintah kepada Yoochun yang masih terheran-heran dengan listrik yang tiba-tiba menyala.

Yoochun segera menyadari keterpakuannya dan sigap melaksanakan perintah komandan militer tersebut. Dibukanya kotak sensor dan menekan beberapa tombol di sana. "Ayolah…" bisiknya entah kepada siapa.

Pik. Kata sandi diterima. Yoochun cepat-cepat memajukan wajahnya menghadap monitor sensor yang siap mendeteksi kornea matanya.

Pik. Akses diterima. Kunci pintu terbuka.

.

.

.

.

.

"Tolong bantu aku-"

"Jangan takut, Jaejoong-ssi. Aku akan menangkapmu."

Yunho merentangkan tangannya, bersiap menangkap tubuh Jaejoong kapan saja.

"Cepatlah, Jaejoong-ssi, kita tidak punya banyak waktu."

Perlahan, Jaejoong meloloskan kedua tungkai kaki dari lubang ventilasi. Tangannya menahan bobot tubuh guna meloloskan tubuhnya pula ke bawah.

Hap. Yunho menangkap tubuh Jaejoong dengan mudah. Refleks, Jaejoong melingkarkan tangannya pada diameter leher Yunho, takut jika ia terjungkal jatuh ke lantai. Matanya yang semula terpejam erat langsung terbuka kala merasakan jika tubuhnya serasa melayang di udara. Senyuman Kapten Jung menyambutnya begitu ia membuka mata. "Lihat, kau tidak perlu takut."

Jaejoong terpaku sejenak memandang ukiran senyum di wajah tampan Jung Yunho. "A—aku…" ia sampai sulit untuk berkata-kata. "…baik-baik saja. Kau bisa… turunkan aku sekarang."

Jaejoong merasa jantungnya hampir berlarian keluar saat menatap Yunho langsung ke matanya yang serupa mata rubah. Kelegaan meliputi Jaejoong kala menjajakan kaki di atas lantai marmer koridor. "Cepat buka pintunya, agar kita bisa segera keluar dari sini."

Hampir sepuluh menit Jaejoong berkutat dengan kotak monitor di pintu masuk ruang kerja sang pemilik perusahaan. Dan akhirnya, pintu dapat terbuka lebar.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf ya, kalau ini pendek. Hehe… Faitho~ :D