Blank Screen
Sebentar lagi November berakhir. Kirara baru menyelesaikan mengepakkan buku-buku di apartemennya. Ia merasa pusing tiap kali memikirkan harus pulang ke rumahnya dan mengumpulkan buku-buku di sana.
Lalu ia teringat pada sepupu-sepupunya, dan segera mengetik di laptopnya.
Jika neraka itu nyata, Kirara akan dihukum oleh banyak hal, terutama kedurhakaan. Ia benar-benar tidak ingin melihat ibunya. Mendengar wanita itu.
Wanita itu butuh psikiater, tapi ia terlalu gila untuk mengakui kejiwaannya.
Ia meraba-raba ke laci untuk mengeluarkan kotak rokok kosong. Merutuk, Kirara menyambar dompet dan kunci apartemennya. Ia menyadari kebiasaannya pusing lalu merokok tiap kali memikirkan rumah. Memang seburuk itu di sana.
Tapi susah digambarkan.
Ibunya adalah yang paling hobi cari muka dan paling mudah marah jika dipermalukan sedikit meskipun hanya suatu candaan. Namun yang dikecam selalu saja Kirara. Mengeluh juga mengeluh pada Kirara. Menggosipkan bibi-bibinya juga menggosip pada Kirara.
Wanita itu tidak punya teman, tidak punya pekerjaan, sendirian, pikun, histeris, depresi, dan menyalahkan keadaan. Muluk-muluk, malas, plin-plan, egois…Apakah wanita itu tidak pernah berintrospeksi, Kirara kadang bertanya-tanya.
Ibunya telah kehilangan respek dari anaknya dan tidak pernah menanyai diri sendiri kenapa bisa begitu. Kirara sudah tidak benar-benar mendengarkan ibunya sejak ia bekerja. Kerap kali wanita itu menggunakan kartu 'mengandung sembilan bulan', Kirara dalam hati tertawa ironis. Ia pikir wanita itu akan lebih pengertian dan lebih rajin jika dirinya sudah memasuki dunia kerja.
Pikir ibunya, ia bersenang-senang dan bagai liburan di kantor, jadi jika ia pulang ke rumah, Kirara harus rela menjadi buruh di rumah.
Jujur, jika sudah seperti itu, ibu Kirara dan bibinya tidak jauh beda.
"Rokoknya satu lusin," Ujarnya pada kasir sembari meletakkan serenteng botol bir. Kasir mengambilkannya selusin pak rokok, dan Kirara membayar dengan debit.
Sialnya, ternyata hujan masih turun di bulan November itu. Ia terpaksa membeli payung juga.
Suara hujan yang ramai membuatnya berhenti berpikir sejenak. Lalu ia berhenti.
Ia mendengar suara meminta tolong, namun tidak bisa menemukan sumbernya.
Ia berputar di tempat, lalu berhenti, mengenali arah datangnya suara. Dilipatnya payung, dibiarkannya dirinya basah, ia letakkan benda itu di pinggir jalan. Kirara membungkuk ke lubang selokan kecil di dekat kotak pos.
Seekor kucing hitam terjepit di sana oleh arus air, namun tubuhnya terlalu besar untuk melewati saluran. Kirara buru-buru meraih tengkuk kucing itu, membuatnya lumpuh, lalu dengan hati-hati mencengkeram dada hewan tersebut sebelum menariknya keluar selokan.
Masih diam karena tengkuknya dipegangi, kendati mata hijau kucing itu melotot garang padanya, Kirara pun menyambar plastik belanjaan dan payungnya dengan satu tangan sebelum membawa kucing itu pulang bersamanya.
Sampai di depan apartemen, ia baru menyadari tanda 'No Pets' di depan pintu masuk. Namun ia melihat ke sana kemari dan menyelonong masuk begitu saja. Sambil menunggu lift terbuka, Kirara memeriksa kotak posnya.
Ia tersenyum kecil mendapati surat yang telah ia tunggu. Akhirnya lift terbuka, baru naik dari lantai dasar parkiran.
Sialnya lift sedang tidak kosong saat terbuka. Seorang pria berambut pirang madu tampak terbeliak melihat Kirara membawa kucing hitam itu.
Mereka hening begitu lama hingga pintu lift nyaris tertutup, namun pria itu langsung mengorbankan kakinya untuk menahan agar pintu lift terbuka.
"Cepat, masuklah sebelum ada yang lihat." Katanya.
Kirara buru-buru masuk, dan karena si kucing tampaknya sudah pasrah berada di dalam ruangan sempit itu, ia mengubah posisinya jadi menggendong. Pria di sebelahnya seakan berusaha tidak melihatnya, namun terus saja melirik-lirik.
Jadi Kirara balas melirik. Pria itu kurus. Wajahnya ceria dan lembut, rambutnya pirang kecokelatan madu. Ia memakai bangle di kedua tangan, dan tampaknya sudah lama tidak tidur.
"Kau lantai berapa?" tanya dia. Ketika Kirara menjawab, pemuda itu berkata bahwa apartemen mereka berada di lantai yang sama. Ia kemudian menanyakan soal kucing itu.
"Aku tidak keberatan soal kucing…tapi sampai kapan kau akan memelihara hewan itu?"
"Aku akan mengeringkannya, memberinya makan sekali, lalu ia boleh keluar lewat balkon. Tempat ini dekat banyak gedung-gedung pencakar, ia akan baik-baik saja di atas."
"Mm…Kau baik sekali." Pria itu berkata, sambil menunduk. Lift belum pernah selambat itu. "Kau pasti Kirara Hazama. Aku baru pindah, dan aku sudah melihat yang lainnya. Kau selalu pulang malam, jadi aku tidak sempat menyapamu. Panggil saja aku Ikeda."
"Oh, maaf aku belum berkenalan denganmu lama sekali…" Kirara berusaha menjulurkan tangan, dan Ikeda tertawa kecil, menjabatnya. "Kau merokok?"
"Hm? Iya."
"Karena aku tidak bawa penganan penyambutan, bagaimana dengan sekotak rokok dan sebotol bir ini?"
Ikeda tertawa, namun menerima tawarannya. Akhirnya lift berhenti. Mereka bertukar selamat tinggal, dan Ikeda pergi ke ujung lorong di mana kamarnya berada. Kirara buru-buru masuk sebelum ada orang lain yang melihatnya membawa kucing. Hewan itu langsung melompat ke karpet setelah Kirara masuk ke kamarnya.
Ia terhenyak sejenak memikirkan perbuatannya.
Kucing itu telah menyukainya dan mengelus-eluskan kepalanya ke kakinya. Kirara mendecakkan lidah dan membawa hewan itu ke kamar mandi, memandikannya. Sepertinya hewan tersebut sudah pernah dipelihara, dan bulunya cukup panjang, jelas bukan kucing liar biasa.
Kirara memberikan sekaleng tuna dari persediaannya yang hanya berkurang tiga hari sekali. Setelah kucing itu makan dengan puas, ia bersolek, lalu naik ke tempat tidur Kirara dan bergelung.
Wanita berambut hitam itu mengerang, mengusap-usap rambutnya frustrasi dengan handuk kering.
Benar saja, keesokan harinya, pemilik apartemen memarahinya; ia tahu kucing itu ada, karena ada CCTV di pintu depan. Beliau menyuruhnya mengusir hewan itu, dan itulah yang dilakukan Kirara.
Namun kucing hitam itu, kendati tidak muncul dan bermain di lorong apartemen, terus menyelinap melalui balkon dan masuk ke kamarnya saat Kirara merokok.
Beberapa minggu setelah itu, saat Kirara hendak bergegas ke kantor, ia bertemu lagi dengan Ikeda di lift; Kirara sedang sibuk membersihkan bulu kucing dari jas kerjanya.
"Coba selotip," saran Ikeda.
"Kau pernah punya kucing?"
"Ya…Tapi sudah mati. Sebenarnya aku mencari apartemen yang menerima hewan."
Kirara menatapnya. "Kau punya peliharaan?"
"Belum, aku akan mencari jika aku sudah mendapatkan apartemen yang menerima hewan peliharaan."
"Kalau sudah, maukah kau ambil kucing hitam itu? Ia terus masuk ke kamarku." Ikeda tertawa.
"Hmm, aku rasa itu tidak bisa. Kucing itu sudah menempel padamu, Hazama-san." Tambah pria itu, lalu senyumnya menghilang. "Punya peliharaan bisa membantumu memberi alasan untuk pulang dan bangun pagi. Mereka akan menghancurkan perabot jika tidak diberi makan."
Kirara memandangi pria itu lagi.
Ikeda tersenyum penuh arti padanya dan melambaikan tangannya yang berbangle.
"Semoga kita masih bertemu lagi."
