Sakura menatap sekeliling kamar nya dengan tatapan waspada dan memejamkan mata. Sejak dua minggu yang lalu ia merasa seolah seseorang sedang mengamatinya ketika ia berada di dalam kamar meskipun saat ini ia sedang sendirian.
Sakura merasa ketakutan dan merasakan hawa dingin di dekat nya. Ayah nya memang telah memberitahunya jika ia akan semakin peka terhadap keberadaan mahluk halus sebelum benar-benar bisa melihatnya tepat saat ia berusia tujuh belas tahun dan ia akan berulang tahun ke tujuh belas dua minggu lagi.
Perlahan Sakura membuka mata nya dan meyakinkan diri nya untuk tak merasa ketakutan. Saat ini masih siang hari dan ia sedang dalam masa liburan kenaikan kelas. Ia tak seharusnya memikirkan hal-hal seperti itu dan menikmati liburan nya.
Dengan cepat Sakura bangkit berdiri dan berjalan menuju meja belajar nya serta duduk disana untuk membuka laptop dan membaca komik terbaru di internet. Namun ia tanpa sengaja menemukan sebuah kertas di atas tas laptop nya.
Ohayou, Sakura. Senang bertemu denganmu.
Sakura mengernyitkan dahi. Ia tak mengenali tulisan itu dan ia tak mengerti mengapa seseorang mau mengajaknya berkenalan dengan kertas tanpa memperkenalkan diri dan menyelipkan kertas itu ke kamarnya. Lagipula tak ada seorangpun yang memasuki kamarnya selain dirinya dan orang tua nya.
Hawa dingin yang terasa menusuk tiba-tiba terasa di dekat Sakura dan membuat bulu kuduk Sakura merinding. Ia belum sempat bangkit berdiri ketika pen yang diletakkan nya di atas meja tiba-tiba terangkat dan bergerak menuju kertas itu serta membuat sebuah tulisan.
Iris emerald Sakura membulat dan ia memejamkan mata dan kembali membuka nya. Ia pasti sedang berhalusinasi saat ini, namun ketika ia membuka mata nya tulisan itu masih ada.
"Hah… ini pasti hanya khayalanku," gumam Sakura dan memutuskan untuk mengacuhkannya.
Pen itu kembali terangkat dan kini membuat sebuah tulisan di atas kertas itu.
Ini bukan khayalan, Sakura.
Sakura menatap kertas itu dengan mata terbelalak dan tertegun untuk sesaat. Detik berikutnya ketika ia menyadari apa yang tertulis di kertas itu ia segera berteriak keras dan hampir menjatuhkan laptop nya. Ia bahkan mengambil dompet nya yang diletakkan di laci meja dan segera berlari meninggalkan kamar.
Nafas Sakura memburu dan ia benar-benar takut. Ia tak pernah memiliki pengalam seperti itu sebelumnya dan ayah nya sedang berada di kantor saat ini. Ia sendirian di rumah dan merasa sangat takut. Satu-satunya orang yang mengerti hal-hal seperti ini dan dapat ia mintai bantuan adalah Sasuke, namun ia tak ingin merendahkan harga diri nya dengan menghubungi Sasuke hanya untuk hal remeh seperti ini.
Sakura masih merasakan hawa dingin menusuk itu dan ia tanpa sengaja menoleh ke belakang. Ia melihat dengan mata kepala nya sendiri jika pen yang tadi bergerak sendiri itu kini melayang di belakang tubuh nya.
"KYAAAAA! Hentikan ! Tolong jangan ganggu aku!" teriak Sakura sekeras yang ia bisa. Sakura segera meraih kunci rumah dan mengenakan alas kaki dengan asal.
Pen itu masih tak berhenti melayang dan kini pen itu semakin dekat dengan tubuh Sakura dan Sakura kembali menjerit keras.
"HENTIKAN!"
Sakura hampir menangis dan ia berusaha meninggalkan rumah secepat yang ia bisa. Ia tak mau kembali ke rumah sebelum ayah nya pulang dan akan meminta bantuan ayah nya untuk mengatasi gangguan yang dialaminya.
.
.
Sasuke menatap kearah Itachi yang baru saja kembali ke kamarnya dengan sinis. Kemarin lelaki itu meninggalkannya dan hari ini pun ia juga meninggalkannya dengan alasan yang mencurigakan.
Itachi pernah beberapa kali meninggalkan Sasuke untuk pergi sendirian, namun Sasuke tak pernah curiga dengan apa yang dilakukan sang kakak. Namun kali ini perasaannya terasa tidak enak.
"Darimana saja kau?"
"Berjalan-jalan."
Sasuke menatap wajah Itachi yang terlihat senang. Lelaki itu bahkan tersenyum seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.
"Kau berbohong padaku, hn?"
"Tidak."
"Mengapa kau tersenyum seperti itu? Apa yang kau lakukan?"
Itachi kembali tersenyum tanpa sadar dan tak menghiraukan Sasuke yang menatapnya dengan tajam. Ia memang tidak sedang berbohong pada Sasuke. Ia memang berjalan-jalan dan melakukan hal yang menyenangkan.
"Ternyata menjahili anak perempuan sangat menyenangkan. Tahu begini aku akan melakukannya sejak dulu."
Sasuke mengernyitkan dahi, perasaan nya benar-benar tidak enak. Itachi yang dulu dikenalnya adalah orang yang sangat serius. Perasaan nya tidak enak. Ia mulai berpikir jika lelaki itu adalah mahluk jahat yang menyamar.
Sasuke segera menyilangkan tangan di depan dada dan membuat pertahanan. Ia bahkan memejamkan mata dan menyentuh kalung dengan tiga batu hitam di leher nya sebagai penangkal mahluk jahat. Seharusnya kalung itu adalah milik Itachi, namun kini kalung itu menjadi miliknya.
"Hn? Kau mengira aku adalah mahluk jahat, baka otouto?" Itachi terkekeh dan ia mengulurkan tangan untuk mendekati Sasuke serta menyentuh kalung itu. Itachi tidak bisa menyentuh kalung itu, namun ia tak terpental ketika berdekatan dengan batu itu. Biasanya mahluk jahat akan terpental dan tak bisa mendekat jika berdekatan dengan pemakai kalung batu itu.
"Hn."
"Astaga! Kau bahkan tak mengenali aniki mu ini?"
"Aniki ku bukan orang yang jahil sepertimu," balas Sasuke sambil menatap tajam. "Apa yang kau lakukan, hn?"
Itachi melirik Sasuke dan meyeringai. Ia masih merasa senang setelah berhasil menjahili Sakura dan membuat gadis itu berteriak ketakutan. Sakura bahkan meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa dan hampir menangis.
"Aku berkunjung ke rumah Sakura dan memutuskan untuk 'berkenalan' dengannya."
Sasuke mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin Itachi berkenalan dengan Sakura yang belum bisa melihat mahluk halus sepertinya?
"Berkenalan? Dia bisa melihatmu?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku menulis di kertas dan ia seketika berteriak saat melihat pen yang tiba-tiba bergerak. Wajah nya sangat lucu, lho. Ia bahkan hampir menangis."
Sasuke menghela nafas. Ia sudah tahu jika Sakura akan semakin peka terhadap hal-hal seperti itu menjelang berusia tujuh belas tahun. Sasuke harus menemani Sakura dan membuat gadis itu terbiasa agar Itachi tak menjahili gadis itu.
"Jangan menjahili gadis itu, Itachi. Aku akan membunuhmu jika kau berani melakukannya lagi," ancam Sasuke dengan kesal.
"Wah… wah… kau ingin membuatku mati dua kali? Lakukan saja."
Sasuke berdecak kesal saat menyadari kesalahan dalam ucapan nya. Ia memang bermaksud mengancam, namun ancaman nya terdengar sangat tak masuk akal. Ia lupa jika lelaki dihadapan nya tak lagi memiliki raga.
"Tch… kau tak boleh menjahili siapapun."
Itachi menampilkan senyum yang terkesan meremehkan pada Sasuke. Belakangan ini ia sedang bosan dan ia beberapa kali mengunjungi Sakura yang sebentar lagi dapat melihatnya serta berkomunikasi dengannya.
"Cepat hubungi Sakura. Gadis itu sedang ketakutan dan meninggalkan rumah. Kau tak takut dia melakukan hal yang ceroboh karena ketakutan?"
"Tidak. Untuk apa aku menelpon nya?"
"Kau tidak khawatir jika dia mengemudi dengan kecepatan tinggi karena ketakutan lalu mengalami sesuatu yang buruk, hn? Misalnya kec-"
Sasuke segera meraih ponsel nya dan menjawab dengan suara setengah berteriak, "Jangan lanjutkan ucapanmu!"
Itachi menatap Sasuke yang terlihat pucat dan bereaksi seperti ini saat ia hendak mengatakan kata 'kecelakaan'. Ia telah mengingatkan Sasuke pada kenangan buruk dan ia merasa bersalah.
"Moushiwake arimasen," gumam Sasuke dengan wajah pucat dan nafas memburu.
.
.
Sakura menyentuh ponsel nya ketika ia mendengar nada dering dari ponsel nya dan segera mengambil wireless earphone dan menerima telepon tanpa melihat nama penelpon.
"Moshi-moshi."
"Sakura, kau dimana? Aku ingin bertemu denganmu sekarang."
Sakura mengernyitkan dahi ketika ia mendengar suara Sasuke di telepon. Ia mengira jika Sasuke sedang mabuk, namun suara Sasuke tak terdengar seperti orang mabuk. Lagipula saat ini pukul sepuluh pagi, ia yakin tak ada orang yang mau meminum alkohol di jam seperti ini.
"Bertemu? Untuk apa?"
"Mempercepat waktu perjanjian kita."
"Eh? Memangnya kau sedang memiliki waktu luang?"
"Hn."
Sakura berpikir sejenak sebelum menerima tawaran Sasuke. Untuk saat ini, ia memang paling aman jika berada di dekat Sasuke. Ia pun mengakui jika berpergian bersama Sasuke lumayan menyenangkan dan ia bisa meminta Ino untuk mengurangi waktu perjanjian beberapa hari dengan mengatakan ia menghabiskan satu hari bersama Sasuke.
"Baiklah. Kita bertemu dimana?"
"Terserah."
"Bagaimana dengan Ninja Akasaka café? Aku sedang ingin mencoba café bertema ninja."
"Hn."
Telepon terputus dan Sakura segera melepaskan wireless earphone yang dipakai untuk menerima telepon. Ia mengemudi dengan berhati-hati serta memberanikan diri untuk tak melihat ke belakang melalui kaca spion.
.
.
Restaurant Ninja Akasaka cukup ramai meskipun saat ini bukanlah jam makan siang. Terdapat seorang pelayan berpakaian ninja yang melompat dan membawa sebuah gulungan berupa menu.
Sakura tampak terkejut, namun ia tersenyum dan pelayan itu memberikan salam serta mengantar Sakura dan Sasuke menuju tempat duduk. Restaurant itu gelap dan didekorasi dengan model seperti rumah ninja dengan berbagai pernak-pernik khas ninja seperti shuriken, pedang, dan lain-lain.
Terdapat beberapa pengunjung lain yang duduk di tempat yang dilewati pelayan itu dan pelayan itu berhenti di salah satu tempat duduk kosong berbentuk mirip seperti sejenis bilik yang membuat pengunjung tak perlu berdekatan dengan meja pengunjung lain seperti di restaurant pada umum nya.
Sasuke duduk berhadapan dengan Sakura dan segera membaca menu yang tertera di gulungan berupa menu itu.
"Pesan satu paket Hanzou," ujar Sasuke sambil menunjuk sebuah set menu dengan sembilan jenis makanan dan satu dessert.
"Bagaimana dengan pilihan nomor tiga? Anda ingin today's kaiseki soup atau soup of the day?"
"Soup of the day. Untuk pilihan nomor delapan, aku ingin Japanese beef steak."
Pelayan itu segera mencatat pesanan Sasuke dan kini melirik Sakura yang masih memesan. Sakura tampak bingung untuk memesan makanan. Ia tak mengira jika set menu di restaurant ini cukup mahal. Satu set menu termurah seharga lima ribu yen, itupun belum termasuk pajak. Satu bento di vending machine hanya seharga lima ratus yen tanpa tambahan pajak apapun.
"Pesan satu paket tasting course dengan meat speciality untuk pilihan nomor enam," ucap Sakura sambil melirik set menu dengan tujuh jenis makanan dan satu dessert.
"Baiklah. Silahkan menunggu pesanan anda," jawab pelayan itu sebelum meninggalkan Sakura dan Sasuke dengan cepat bagaikan seolah pelayan itu benar-benar seorang ninja.
Sakura menatap interior restaurant itu dengan kagum. Ia belum pernah berkunjung ke restaurant itu sebelumnya dan sangat menikmati kunjungan pertamanya.
"Apakah kau menyukai restaurant ini, Sasuke-san?"
"Hn," gumam Sasuke sambil menampilkan senyum tipis di bibirnya sebagai tanda persetujuan.
Sakura membelalakan mata ketika Sasuke tersenyum. Jantungnya berdebar lebih cepat dan ia berharap Sasuke akan kembali tersenyum. Namun wajah Sasuke telah kembali datar seperti biasanya dan Sakura menghembuskan nafas kecewa.
Merasa diperhatikan, Sasuke segera melirik Sakura dengan bingung serta berkata, "Ada apa?"
Sakura menggelengkan kepala kuat-kuat. Wajah nya memerah dan ia merasa malu ketika tersadar jika Sasuke menyadari tatapannya. Harga diri nya akan jatuh dan ia akan menjadi bahan gossip seantero sekolah jika salah satu teman sekolahnya mengetahui ia baru saja menatap seorang Uchiha Sasuke dengan tatapan penuh kekaguman.
"Tidak."
Suasana terasa hening dan Sakura berusaha mencari topic pembicaraan. Ia khawatir jika Sasuke akan meminta untuk berpisah sesudah makan siang dan ia harus berusaha agar pria itu mau menemaninya sampai ayahnya pulang.
"Oh ya, setelah makan siang nanti apakah kau ingin pergi ke suatu tempat?"
"Hn? Kau ingin aku menemanimu pergi ke pusat perbelanjaan?"
"Tidak, tidak," Sakura kembali menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin pergi ke pusat perbelanjaan. Maksudku-"
Ucapan Sakura terputus dan ia terdiam. Sakura berusaha memikirkan kata-kata yang tepat agar Sasuke mengerti apa yang dimaksudnya.
"Kau tidak ingin pulang setelah makan siang?"
"Tidak mau. Aku tidak akan pulang," jawab Sakura tegas namun dengan wajah yang terlihat pucat. Tubuhnya bahkan menggigil tanpa sadar dan ia benar-benar ketakutan.
"Hn?"
"Aku mengalami hal menakutkan di rumah," ucap Sakura dengan wajah pucat. "Aku takut kembali ke rumah. Jadi kuharap kau mau menemaniku karena kau satu-satunya yang bisa kumintai bantuan saat ini."
Sasuke menatap wajah Sakura yang sedang berbicara dengannya. Ekspresi gadis itu tampak serius dan seolah tak ragu mengucapkan apa yang ingin diucapkannya secara gamblang tanpa peduli bagaimana perasaan sang pendengar.
Sasuke sama sekali tak sakit hati dengan ucapan Sakura. Ia telah terbiasa mendengarkan kalimat seperti itu. Ia bahkan pernah mendengar yang lebih menyakitkan dari orang terdekatnya sendiri dan telah sering mendengar ucapan yang menyakitkan sehingga ia sudah terbiasa. Kini Sakura sedang berusaha memanfaatkannya untuk melindungi gadis itu dan Sasuke terpaksa menerima sebagai bentuk tanggung jawab atas apa yang dilakukan Itachi.
"Hal menakutkan seperti apa?"
"Kau berjanji tidak akan menertawaiku, kan?"
"Hn."
Sakura menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menenangkan diri sebelum mulai bercerita pada Sasuke mengenai apa yang baru saja dialaminya di rumah hingga ia merasa ketakutan.
"Apakah sesuatu seperti itu pernah terjadi sebelumnya?"
"Tidak. Aku takut kembali ke rumah, Sasuke-san."
"Mulai sekarang berhati-hatilah. Hubungi aku jika sesuatu seperti itu terjadi lagi."
Sakura hampir membuka mulut saat mendengar ucapan Sasuke. Ia tak yakin jika seorang lelaki anti sosial seperti Sasuke dapat mengatakan hal seperti itu dan ia yakin jika dirinya sedang berhalusinasi akibat ketakutan berlebih.
"Huh?"
Sasuke tersadar jika apa yang baru saja diucapkannya telah membuat Sakura merasa bingung. Sasuke segera menjelaskan, "Maksudku jika kau mengalami kejadian seperti tadi, kau bisa menghubungiku."
"Mengapa?"
Sasuke terdiam dan berusaha memikirkan kata-kata yang tepat. Ia bukanlah seseorang yang pandai berbicara dan ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Sakura. Ia tak ingin semakin dianggap aneh jika mengatakan Itachi yang menyuruhnya.
"Maksudku, mengapa kau menawarkan diri untuk membantuku? Kita bahkan bukan teman," ucap Sakura dengan ragu sambil menatap Sasuke yang masih menampilkan raut wajah datar.
"Kau akan mendapat kemampuanmu sebentar lagi dan kurasa kau memerlukan seseorang untuk mendampingimu hingga kau terbiasa," jawab Sasuke sambil melirik Itachi yang berdiri di dekat Sakura. Entah bagaimana, ucapan itu terlontar sendiri dari bibir Sasuke tanpa dipikirkannya terlebih dahulu.
"Bagaimana denganmu sendiri, Sasuke-san? Apakah seseorang juga membimbingmu saat kau mendapatkan kemampuanmu?" Sakura bertanya meskipun ia yakin jawaban nya adalah tidak. Sasuke sering tertangkap berbicara sendirian dan jika seseorang membimbingnya, ia tak mungkin berinteraksi dengan mahluk halus di tempat umum.
"Hn?"
Seorang pelayan yang tiba-tiba muncul dari kegelapan dan menghidangkan makanan dengan atraksi menyelamatkan Sakura dari rasa canggung akibat bertanya hal yang tidak penting pada Sasuke. Pelayan itu meletakkan makanan di hadapan Sasuke dan Sakura serta pergi dengan cepat.
Sasuke tanpa sadar sedikit mengangkat sudut bibir nya saat melihat pelayan berpakaian ninja telah pergi dengan cepat bagaikan seorang ninja sungguhan. Sasuke hampir tak pernah tersenyum sejak kematian Itachi, namun kini perasaan nya terasa lebih ringan.
Sakura tak dapat melihat wajah Sasuke dengan jelas di kegelapan, namun ia yakin jika saat ini Sasuke sedang tersenyum dan ia berusaha meyakinkan diri nya sendiri jika Sasuke masih cukup waras untuk tidak tersenyum tanpa alasan.
"Itadakimasu," ucap Sakura sambil menyentuh peralatan makan.
"Hn."
Sasuke mulai makan tanpa mengatakan apapun dan dengan cara makan yang terlihat begitu elegant. Sakura menatap Sasuke yang terlihat menikmati makanan dengan cara yang anggun dan ia mulai mengagumi pesona pria itu.
.
.
Sakura menarik tangan Sasuke dan segera menyerahkan selembar uang sepuluh ribu yen dan lima ribu yen.
"Terimalah uang ini. Aku berniat membayar makan siang mu hari ini," desak Sakura.
Sasuke menggelengkan kepala dan menahan tangan Sakura yang hendak memaksa memasukkan uang itu ke saku blazer nya. Saat di restaurant, Sasuke kembali membayar untuk makan siang mereka dan membuat Sakura merasa tidak enak.
"Ayolah. Kau sudah mentraktirku, maka kali ini giliranku."
"Bukankah seorang pria harus membayar untuk wanita, hn?"
Sakura terkejut dengan ucapan Sasuke dan ia segera menggelengkan kepala, "Tentu saja tidak. Kita bukan teman atau kekasih, maka kau tidak harus membayar untukku. Lagipula aku yang memilih restaurant saat ini. Jadi terima saja uang ku."
Sasuke tetap menolak dan kini ia mengalihkan pembicaraan, "Kau ingin pergi ke theme park? Atau pusat perbelanjaan?"
Matahari sangat terik dan sebetulnya Sakura sedang malas untuk pergi kemanapun. Namun ia juga tak ingin berada di rumah sendirian.
"Sebetulnya aku sedang malas pergi kemanapun. Namun terserah kau saja."
"Atau kau ingin pulang ke rumah saja?"
"Tidak. Aku takut kembali ke rumah," ucap Sakura dengan wajah pucat.
Sasuke merutuki kebodohannya sendiri. Ia sendiri juga sedang malas keluar rumah dan terpaksa keluar rumah atas desakan Itachi. Ia sedang ingin bersantai di rumah dan beristirahat.
"Tentukan saja dan aku akan mengikutimu."
"Kau saja. Aku benar-benar tak tahu harus pergi kemana."
Sasuke terdiam sejenak dan berpikir. Ia sebetulnya ingin segera pulang dan ingin mengusulkan agar pergi ke rumah nya saja. Namun ia khawatir gadis itu malah berpikiran negatif dan menganggap dirinya cabul.
"Oh, ya! Aku ingin kau mengajariku memasak jika kau bersedia. T-tapi tidak ada orang di rumah ku," ucap Sakura dengan gugup.
"Di rumah ku saja. Ada beberapa pelayan sehingga kita tidak hanya berdua."
Sakura menatap Sasuke dengan ragu. Ia tak keberatan datang ke rumah Sasuke. Sebetulnya ia malah penasaran dengan kehidupan pribadi lelaki itu. Namun ia tak ingin dianggap tertarik dengan lelaki itu dan memperburuk imej nya.
"Baiklah. Kita ke rumah mu saja."
Sakura segera mengeluarkan kunci mobil dari tas nya dan masuk ke dalam mobil. Ia melirik sebuah mobil sport berwarna hitam yang terparkir di sebelah mobil nya dan sosok Sasuke yang memasuki mobil. Entah kenapa Sakura mulai menganggap Sasuke adalah sosok lelaki yang menarik dan ia mulai menikmati saat menghabiskan waktu bersama lelaki itu.
.
.
Sakura mengikuti Sasuke dan mengemudi menuju tempat parkir yang terdapat di sebuah rumah mewah bermodel victorian yang sangat besar bagaikan sebuah istana. Terdapat taman yang tertata rapi dengan air mancur yang terlihat dari gerbang.
Sakura hendak memparkir mobil nya di luar rumah Sasuke. Namun Sasuke malah memintanya untuk memparkir mobil di garasi. Tatapan Sakura tertuju pada beberapa mobil mewah yang terdapat di garasi. Terdapat sebuah sport car berwarna putih, limousine dan SUV.
Dalam hati Sakura mengagumi kehidupan Sasuke dan berpikir jika pria itu seharusnya akan hidup bahagia. Sakura berjalan mengikuti Sasuke menuju pintu masuk dan seorang pelayan segera membuka pintu untuk Sasuke.
"Okaeri, Sasuke-sama."
"Hn."
Pelayan itu bertemu pandang dengan Sakura dan gadis itu tampak terkejut saat menyadari keberadaan Sakura. Pelayan itu sangat jarang melihat Sasuke membawa teman ke rumah, apalagi seorang wanita.
"Mikoto-sama baru saja berangkat untuk pergi bersama dengan Haruno-sama. Beliau meminta saya untuk menyampaikannya kepada anda."
"Hn. Arigato."
Sakura menatap sekeliling ruangan yang dihias dengan lukisan mahal berbingkai emas serta lampu kristal yang indah. Tatapan Sakura tertuju pada sebuah foto keluarga besar dengan bingkai emas yang terletak di salah satu dinding dan ia mengernyitkan dahi. Terdapat seorang lelaki paruh baya berwajah tegas dengan wanita yang terlihat anggun dan sangat muda. Selain itu terdapat dua anak lelaki yang tersenyum di dalam foto.
"Itu… siapa?" gumam Sakura dengan suara yang cukup keras untuk dapat didengar Sasuke.
"Hn?"
"Um.. maksudku lelaki dengan kerut wajah di foto keluarga mu."
Sasuke menatap sekeliling dan mendapati sosok Itachi yang sedang duduk di sofa yang terletak tak jauh dari tempat Sakura berdiri saat ini. Wajah lelaki itu langsung muram saat mendengar ucapan Sakura.
"Itu aniki ku."
Sakura teringat dengan ucapan Sasuke yang berkata jika selama ini ia berbicara sendiri karena sedang 'berbicara' dengan sang aniki. Sakura menatap wajah kakak Sasuke di foto dan tersadar jika lelaki itu sedikit mirip dengan Sasuke.
"Oh? Gomen ne. Apakah usia kalian berbeda jauh? Sepuluh tahun misalnya?"
"Kami berbeda lima tahun."
Sakura tak menyadari jika kini sosok Itachi sedang menatapnya dengan jengkel. Sudah kesekian kalinya ia dikira jauh lebih tua dari usia sebenarnya dan ia merasa sangat jengkel. Semasa hidup ia bahkan membeli banyak krim anti aging dan melakukan perawatan kulit, namun usaha nya tidak berhasil.
"Aku jahili saja, ya? Tidak apa-apa, kan?" ujar Itachi sambil berjalan mendekat pada Sasuke serta melirik Sakura.
Sasuke tak mengatakan apapun, namun ia menatap Itachi dengan sangat tajam, pertanda jika ia tak memperbolehkannya.
"Wah, wah, menjaga imej dihadapan Sakura hingga tak menjawabku, hn?"
Sasuke tak mempedulikan ucapan Itachi dan berjalan menuju dapur. Terdapat seorang pelayan yang sedang membereskan dapur dan ia segera melirik kearah Sasuke saat menyadari kedatangan lelaki itu.
"Konnichiwa, Sasuke-sama."
"Hn."
Sakura melirik Sasuke yang sejak tadi membalas sapaan para pelayan dengan gumaman khas nya. Ia tak tahu apakah para pelayan itu mengerti maksud Sasuke atau tidak, namun setidaknya lelaki itu masih menjawab sapaan.
"Kau sudah selesai membersihkan dapur, Fuyo-san? Aku akan memakai dapur sekarang," tanya Sasuke pada pelayan itu.
"Sudah, Sasuke-sama. Apakah anda memerlukan bantuan untuk mempersiapkan bahan makanan?"
"Tidak. Tolong katakan pada pelayan lain untuk beristirahat jika sudah menyelesaikan pekerjaan."
Sakura tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia tak pernah mengira jika Sasuke adalah pria yang peduli kepada orang-orang disekitarnya, termasuk para pelayan.
Pelayan wanita itu segera menundukkan kepala dalam-dalam dan mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan dapur.
Sakura melirik Sasuke dengan rasa ingin tahu memenuhi benaknya dan bertanya, "Kau… sebaik ini terhadap para pekerja di rumah mu?"
"Tidak juga," jawab Sasuke sambil menggelengkan kepala.
Sasuke merasa jauh lebih nyaman tanpa keberadaan para pelayan di rumah nya yang membuatnya kehilangan privasi. Itulah alasan nya meminta para pelayan untuk segera beristirahat ketika sudah menyelesaikan pekerjaan. Lagipula ia juga bersikap sedikit ramah pada para pelayan atas desakan Itachi. Dan Sasuke berusaha keras untuk menunjukkan sikap yang terkesan ramah dengan meniru apa yang dilakukan Itachi terhadap pelayan-pelayan itu.
Sakura melirik Sasuke dan merasa sedikit kecewa. Jika saja sikap Sasuke seperti ini di sekolah, lelaki itu pasti akan memiliki banyak teman dan fans wanita.
"Sasuke-san, bisakah kau mengajariku cara membuat curry ?"
"Curry? Kau ingin membuat curry India atau Jepang?"
"Huh? Memangnya ada jenis curry selain curry yang biasa kita makan?"
"Sebetulnya ada banyak jenis curry, namun aku hanya bisa memasak curry Jepang dan India."
Sakura merasa malu seketika. Ia tak pernah bertemu lelaki yang pandai memasak dan kini ia bertemu dengan Sasuke yang jauh lebih terampil dalam hal memasak dibandingkan dirinya.
"Bagaimana dengan curry yang pernah kau buatkan untukku? Apakah itu curry India?"
"Hn."
"Oh? Pantas saja rasa nya berbeda dengan kari yang biasanya. Kari buatanmu sangat wangi dan lezat."
"Omong-omong, bisakah kau membantuku mengambil bahan makanan?"
Sakura segera menganggukan kepala dan berkata, "Tentu saja. Namun aku tidak tahu dimana saja letak-letak bahan makanan di rumah mu. Aku merasa sungkan untuk membuka lemari di dapur orang lain."
"Tidak apa-apa. Ambil saja bawang merah, bawang putih, tomat dan kentang," ujar Sasuke sambil membuka freezer dan mencari seekor ayam ukuran sedang diantara tumpukan daging di dalam freezer.
Sakura segera membuka salah satu kulkas besar yang berisi berbagai bahan makanan dan menatap isi kulkas yang begitu lengkap bagaikan sebuah restaurant. Ia mengambil tomat dan kentang sambil melirik Sasuke yang kini sedang mengambil bahan-bahan lain.
Sakura tak mendapati ponsel ataupun buku resep yang di tangan Sasuke dan terkagum dengan kemampuan pemuda itu memasak tanpa memakai resep.
Sasuke sudah sering memasak curry India hingga ia menghafal resep itu diluar kepala. Ia cukup menyukai curry itu karena terdapat tomat –bahan makanan favoritnya- dan rasanya tidak seperti curry Jepang yang agak manis.
"Sasuke-san, bahan makanan nya sudah cukup?" ucap Sakura sambil meletakkan bahan makanan di meja.
Sasuke menghampiri Sakura dan mengambil beberapa kentang dan tomat serta berkata, "Kau mengambil terlalu banyak."
"Oh, ya. Kalau begitu aku mengupas bawang dan kentang saja, ya?"
"Hn."
Sakura menatap berbagai peralatan masak yang lengkap di dapur itu. Ia melirik Sasuke dan bertanya dengan perasaan sungkan, "Aku harus menggunakan pisau dan talenan yang mana?"
"Terserah."
Sakura segera mengambil talenan dan pisau yang dilihatnya dan menggunakan pisau itu untuk mengupas bawang dan memotong nya. Ia beberapa kali meringis saat merasakan pedih ketika harus memotong dan mengupas bawang merah.
Sasuke meletakkan jahe yang telah dicincang nya dan segera menghampiri Sakura saat menyadari suara pisau yang terdengar lambat. Sakura memotong bawang sambil meringis dan memejamkan mata. Hasil potongan gadis itu juga berantakan.
"Sakura, berikan pisau mu padaku."
"Mengapa?"
"Biar aku saja yang memotong bawang, kau mengupas dan memotong kentang."
"Baiklah. Aku mengambil talenan yang lain, ya?"
"Ambil saja di lemari atas yang paling kiri."
"Ya."
Sakura berjalan menuju lemari teratas dan sedikit berjinjit untuk membuka pintu serta mengulurkan tangan. Ia hendak meraih talenan itu, namun Sasuke telah mengambil talenan itu terlebih dahulu dan memberikan kepadanya.
"Arigatou."
"Hn."
Sakura mengupas kentang dan memotong kentang itu dengan hati-hati. Setelah selesai, Sasuke mengamati kentang-kentang yang telah dipotongnya dan menggelengkan kepala.
"Potongan kentang mu terlalu besar."
"Memang nya tidak boleh sebesar ini?"
"Hn." Sasuke mengambil pisau dari tangan Sakura dan tangan mereka kembali bersentuhan. "Jika terlalu besar akan membuat curry nya tidak enak."
Sakura tak mejawab dan menatap Sasuke yang memotong kentang dengan ukuran yang tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.
"Bolehkah aku mencoba nya?"
"Hn."
Sasuke meletakkan pisau nya dan Sakura mencoba memotong kentang. Namun potongan nya tidak beraturan dan Sasuke menggelengkan kepala.
"Perhatikan caraku memotong kentang."
"Sudah. Namun mengapa hasil nya berbeda?"
Sasuke menatap ke belakang dan mendapati Itachi yang entah sejak kapan berada di dapur. Ia tersenyum pada Sasuke dan Sakura yang berdiri dengan jarak begitu dekat dan menikmati pemandangan yang menurutnya romantis.
Sasuke melirik Itachi, memberikan tatapan yang terkesan memohon bantuan. Sasuke tak seperti Itachi yang terbiasa mengajari orang dan kini ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Sasuke bahkan tak pernah mengajari siapapun, kecuali Naruto. Biasanya ia akan berdecak kesal saat mengajari Naruto, namun ia tak bisa bersikap seperti itu pada Sakura.
Seolah mengerti maksud tatapan Sasuke, Itachi segera berkata sambil menyeringai, "Bantu Sakura memotong kentang nya. Pegang tangan nya dan potonglah kentang dengan pisau di tangan nya."
Ekspresi wajah Sasuke berubah seketika saat mendengar penjelasan Itachi. Ia merasa tidak nyaman harus memegang tangan seorang wanita.
"Sasuke-san, bisakah kau tunjukkan padaku cara memotong kentang yang benar?"
Sasuke segera menoleh ketika menyadari Sakura sedang memanggilnya. Ia segera memegang tangan Sakura sambil menahan nafas dan berkata dengan nada datar yang dipaksakan, "Aku akan membantumu memotong kentang. Perhatikan caraku."
Sakura menundukkan kepala nya saat menyadari tangan lembut Sasuke menyentuh tangan nya. Jarak tubuh nya dan Sasuke tak lebih dari dua puluh lima sentimeter dan ia bisa menghirup aroma parfum mahal yang menguar dari tubuh Sasuke dan menambah pesona lelaki itu.
Sasuke berusaha menghindari kontak fisik sebisa mungkin dan ia membantu Sakura memotong kentang dengan mengerakkan tangan gadis itu.
"Cara nya seperti ini. Kau sudah mengerti, hn?"
Sakura sama sekali tak bisa berkonsentrasi dan ia sibuk menundukkan kepala. Ia terpaksa memberanikan diri untuk mengatakan jika ia masih belum mengerti.
"Maaf, aku sama sekali tidak memperhatikan. Bisakah kau menunjukkan nya padaku lagi?"
Sasuke dengan terpaksa menyentuh tangan Sakura dan kembali menahan nafas. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya, namun ia belum pernah merasakan perasaan gugup seperti ini. Wajah nya bahkan memerah saat mendengar suara Itachi yang terus meledeknya.
Sakura berusaha mengamati Sasuke dan menahan jantung nya yang berdetak lebih keras dibandingkan biasanya. Ia yakin telah terkena penyakit jantung karena merasakan debaran pada lelaki aneh seperti Sasuke.
.
.
Satu jam telah berlalu dan curry telah matang. Sejak tadi Sakura dan Sasuke bergantian mengaduk curry itu dan kini Sasuke mematikan kompor setelah curry mengental.
"Ini sudah matang?" tanya Sakura sambil menatap kuah curry kemerahan.
"Hn."
"Curry nya wangi sekali."
"Kau ingin makan?"
"Eh? Tidak, Sasuke-san."
Sasuke tak segera mengangkat curry di dalam panci. Ia mengambil sebuah mangkuk keramik mahal dan mangkuk besar beling yang terletak di lemari berbeda. Ia memasukkan curry ke dalam mangkuk besar beling terlebih dahulu dan mengisinya sampai penuh.
Sakura menatap Sasuke yang memisahkan curry ke dalam dua mangkuk berbeda dengan heran. Lelaki itu sering membuatnya terkejut dengan apa yang dilakukannya dan sepertinya kali inipun begitu.
Sasuke mengisi mangkuk keramik mahal itu dengan curry yang sama dan membawa curry itu keluar dapur. Salah seorang pelayan yang berpapasan dengan Sasuke segera menghampirinya dan bertanya, "Anda memasak lagi, Sasuke-sama? Biar saya membawakan mangkuk ini ke meja makan."
Sasuke tak membiarkan pelayan itu mengambil mangkuk dan berkata, "Aku sudah meletakkan curry untuk kalian di dapur. Jika kurang, habiskan saja curry di panci."
Pelayan itu membungkukkan badan dan berkata, "Arigatou gozaimasu, Sasuke-sama. Anda tidak perlu bersusah payah memasak untuk kami."
"Tidak apa-apa."
"Bagaimana jika aku membantumu membawakan mangkuk nya?" Sakura mengulurkan tangan dan menawarkan diri untuk membantu membawakan mangkuk itu sebagai basa-basi.
Sasuke tidak terlalu senang harus menjawab sebuah pertanyaan yang sama dua kali. Namun ia terpaksa menjawab dengan gelengan kepala.
Sakura memasuki ruang makan bersama dengan Sasuke. Ruang makan itu tidak terlalu besar dengan meja panjang dengan delapan kursi, lampu kristal serta karpet berwarna emas. Terdapat lukisan dan jendela-jendela yang memperlihatkan kolam renang yang terletak di bagian belakang rumah.
Sasuke meletakkan curry di atas meja dan duduk di salah satu kursi. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan pada Sakura, namun ia juga tak bisa meninggalkan gadis itu di ruang tamu sendirian dan membuat dirinya terkesan seperti tuan rumah yang tidak ramah.
"Kau ingin minum apa?" tanya Sasuke sambil bersiap bangkit berdiri.
"Terserah kau saja, Sasuke-san."
Sasuke bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan makanan. Sakura menelungkupkan kepala di meja. Ia merasa agak mengantuk dan berharap dapat segera pulang ke rumah.
Sasuke kembali ke ruang makan dan membawa dua kaleng minuman isotonic. Sakura segera mengangkat kepala saat menyadari Sasuke telah kembali ke ruang makan dan menerima kaleng yang diberikan Sasuke.
"Arigatou."
"Hn."
Sakura melirik Sasuke dengan ekor mata. Pria itu berkali-kali melirik ke arah ruang tamu. Sasuke dengan cepat menghabiskan minum nya dan berjalan menuju ruang tamu.
Sasuke berjalan dengan setenang mungkin menuju ruang tamu. Sejak tadi ia merasa khawatir karena Itachi terus mencoba membuatnya kesal dengan berada di ruang tamu dan membuat gesture seolah ingin memainkan grand piano hitam yang terletak di dekat perapian.
"Ah… sudah lama tidak bermain piano. Ingin mendengar permainanku, Sasuke?" Itachi menyeringai pada Sasuke.
"Jangan buat gadis itu semakin ketakutan," jawab Sasuke dengan pelan dan ketus. Ia melirik ke arah ruang tamu dan menghembuskan nafas lega saat menyadari Sakura masih duduk di ruang tamu.
Itachi tersenyum samar dan segera memasang ekspresi datar sebelum Sasuke menyadari perubahan ekspresi wajah lelaki dihadapan nya. Itachi merasa jengah setelah berkali-kali menasihati Sasuke untuk mengubah sikap nya, Ia khawatir pada Sasuke yang terkucilkan dan tak memiliki kemampuan bersosialisasi. Sasuke juga terkesan tak peduli pada orang lain, bahkan terkadang ia juga tak peduli pada dirinya sendiri. Dan kini Itachi merasa senang karena Sasuke peduli pada Sakura meskipun hanya sedikit.
"Hey, kalau aku membuat Sakura ketakutan, itu juga bukan urusanmu, baka otouto."
Sasuke tak menjawab dan hanya berdecak kesal. Ia segera duduk dan meletakkan jari-jari nya di atas piano. Ia tak bisa memikirkan lagu apa yang ingin dimainkan nya dan memainkan sepenggal bait dari Moonlight Sonata.
Terdengar suara langkah yang mendekat dan Sasuke segera menghentikan permainan piano nya serta menoleh. Sakura telah duduk di sofa ruang tamu dan kini memperhatikan sosok Sasuke yang bermain piano dari samping.
"Mengapa berhenti? Lanjutkan saja. Sebetulnya aku bermaksud mendengarkan permainan piano mu, Sasuke-san," ujar Sakura sambil menatap Sasuke.
"Hn."
Sasuke mulai memainkan Moonlight Sonata dari awal. Sakura memejamkan mata dan menikmati permainan Sasuke yang sempurna tanpa sekalipun salah menekan tuts atau terkesan tidak lancar. Sakura sejak dulu menyukai instrumen piano dan menyukai lelaki yang pandai bermain piano karena terkesan elegant. Namun ia menahan diri untuk tak memandang Sasuke sebagai lelaki yang elegant dan menikmati permainan Sasuke.
Secara keseluruhan, lagu Moonlight Sonata terdiri dari 3 movement. Lagu Moonlight Sonata yang biasa dimainkan adalah bagian first movement, sementara second dan third movement dari lagu itu jarang dimainkan kecuali jika lagu Moonlight Sonata dimainkan secara utuh.
Sasuke berhenti memainkan lagu ketika ia sudah menyelesaikan first movement. Ia hanya menyukai first movement dari keseluruhan lagu Moonlight Sonata dan ia bahkan mempelajari second dan third movement dengan setengah hati. Kini ia bahkan telah lupa dengan not-not dalam second dan third movement lagu Moonlight Sonata.
"Sasuke-san, bolehkah kau memainkan Flight of Bumblebee? Aku sangat ingin mendengar lagu itu."
"Kau mengenal lagu-lagu klasik, hn?"
"Ya. Aku pernah belajar piano selama tiga bulan dan berhenti. Aku ingin belajar lagi setelah lulus dari high school."
"Ingin mencoba bermain piano?"
Sasuke terkejut setelah ia menyelesaikan kalimat nya. Ia tak mengerti mengapa ia membiarkan Sakura bermain piano ketika ia biasanya tak begitu suka orang lain menyentuh barang pribadi nya.
"Eh? Boleh?"
Sasuke dengan terpaksa menganggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Sakura. Ia terlanjur menawari gadis itu bermain piano dan ia tak bisa menarik kata-katanya.
Dengan ragu Sakura melangkah mendekati piano itu dan duduk di kursi yang sama dengan Sasuke. Aroma parfum dari tubuh Sasuke tercium semakin kuat ketika mereka duduk berdekatan dan Sakura benci mengakui jika ia merasa nyaman saat ini.
"Letakkan tanganmu di atas tuts piano," ujar Sasuke sambil menggeser tubuh nya sedikit menjauh dari Sakura agar tak harus duduk menempel seperti saat ini.
"Sudah."
"Tidak seperti itu. Kau harus sedikit membulatkan telapak tanganmu," Sasuke meletakkan tangan nya sendiri di atas tuts piano untuk memberikan contoh.
"Seperti ini?"
Sasuke dengan terpaksa menyentuh telapak tangan Sakura dan mengerakkan nya sesuai posisi yang ia inginkan. Saat Sasuke menyentuh tangan nya, Sakura berusaha untuk tak memperhatikan tangan lelaki itu meski ia kembali merasakan sentuhan dari lelaki itu. Ia menyesal telah meninggalkan piano selama bertahun-tahun sehingga kini ia bahkan lupa cara yang benar untuk meletakkan tangan diatas piano.
"Apakah ada lagu mudah yang bisa kau ajarkan padaku?"
Sasuke tampak berpikir sejenak, kemudian ia berkata, "Tunggu sebentar."
"Ya."
Sakura menyentuh telapak tangan nya sendiri ketika ia yakin Sasuke telah pergi. Pria itu hanya menyentuh telapak tangan nya sebentar, namun entah kenapa sentuhan itu begitu berkesan. Ia yakin karena tangan pria itu begitu lembut dan membuatnya tak bisa melupakannya, namun jika diperhatikan tangan pria itu juga indah dengan jari panjang dan lentik.
Ini tidak benar. Sakura mulai merasa takut jika ia terus bersama dengan Sasuke ia akan mulai merasa nyaman dan bisa-bisa ia malah jatuh cinta dengan lelaki itu. Jika ia jatuh cinta pada Sasuke, mau dikemanakan harga diri nya? Ia yakin akan ikut diledek dan dikucilkan oleh teman-teman nya atau bahkan adik kelas. Ia tak mau hal itu terjadi padanya.
'Tak peduli seberapa elegant dan menawan nya seorang Uchiha Sasuke, ia adalah seorang pria aneh dan seharusnya kau merasa jijik, bukannya malah memikirkannya,' batin Sakura sambil terus mengulang kalimat itu dalam hati nya. Sakura menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya untuk menenangkan pikiran nya.
Sakura segera menoleh saat menyadari Sasuke telah kembali dengan membawa sebuah buku yang terlihat sudah lama. Sasuke kembali duduk dan membuka halaman buku dengan lagu yang menurutnya mudah.
"Cobalah lagu ini."
Lagu yang dipilih Sasuke adalah lagu Jingle Bells dan sebenarnya lagu itu sangat mudah, namun ia perlu mengingat letak not balok itu. Ia yakin not pertama untuk tangan kanan adalah not E dan tangan kiri nya hanya perlu menekan not C dan G hampir sepanjang lagu.
Dengan ragu dan gugup, ia menekan tuts piano dan ia memainkan lagu itu dengan sedikit tersendat. Sasuke menahan diri untuk membiarkan gadis itu menyelesaikan lagu meskipun ia merasa tak tahan untuk segera mengomentari permainan gadis itu.
"Sudah, ah. Aku benar-benar tidak bisa bermain piano. Lebih baik aku mendengarkan kau bermain piano saja," ucap Sakura ketika ia telah menyelesaikan lagu.
"Kau tidak ingin belajar bermain piano?"
"Kau ingin mengajariku, Sasuke-san? Sebetulnya aku ingin belajar jika kau tidak keberatan."
"Hn. Kau bisa datang dan belajar hingga perjanjian selesai."
"Baiklah. Aku akan datang minggu depan."
Sakura tersenyum dalam hati. Ia sebetulnya merasa agak khawatir jika harus berkunjung ke rumah Sasuke. Ia khawatir akan diterpa gossip aneh. Namun ia akan sering berkunjung demi mempelajari piano dengan grand piano seharga hampir lima juta yen serta mempercepat waktu perjanjian serta berharap dirinya takkan berakhir dengan tertarik pada Sasuke.
-TBC-
Author's Note:
Fanfict ini bakal dilanjut setelah UN bulan april. Semestinya author udah hiatus bulan ini, berhubung masih ada waktu luang & file nya udah ada di laptop dari bulan kemarin, author selesaiin & publish sekarang.
Thanks for read this fict.
