Entah mengapa, aku kini sedang berdiri di dapur toko Freiheit, tempatku bekerja. Sendirian. Sepertinya hari sudah malam sekali, dan aku harus pulang. Aku segera memasukkan barang-barangku ke dalam tas, dan siap melangkah untuk pergi.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan seseorang masuk ke dalam. Ternyata bosku, tuan Rivaille. Ia hanya terdiam, dan tak bersuara. Sambil berjalan mendekatiku, ia mengulung kedua lengan dari kemeja putihnya. Tatapannya datar. Seperti biasanya.

"Kau tidak pulang, Tuan?" Tanyaku dengan santai. Aneh, ruangan ini terasa berbeda. Tuan Rivaille juga serasa beda. Entah apa yang salah, aku tak tahu.

Pria itu terus berjalan kearahku, tanpa membalas pertanyaan yang kulontarkan. "Tep!" tiba-tiba tangan pucat milik pria itu disandarkan pada tembok disamping wajahku, dan membuatku terjebak olehnya. Aku mengernyitkan alisku, tanda tak mengerti.

"Tuan?" Tanyaku lagi. Tiba-tiba, tangan kirinya mengelus pipiku lembut, kemudian turun meraba setiap lekukan tubuhku.

Aku seluruh bulu kudukku berdiri. Mataku terbelalak.

"Hwaa… tuan, apa yang salah denganmu, jangaan akhh…" aku berusaha meronta, dan mendorong tubuhnya. Tapi, ia terus melawan, dan malah semakin mendekat padaku. Tangan kanannya menggenggam erat tangan kiriku dan menempelkannya ke tembok, sedangkan tangan kirinya sibuk menyibak-nyibakkan rambutku cepat. Ia tampak sangat bernafsu, dengan nafasnya yang memburu. Kemudian, ia mengendus-endus telingaku, dengan pelan ia turun ke leher.

"Hhhh… Tuan…" aku meringis. Takut, malu, bingung, semua rasanya bercampur menjadi satu dan membuatku jadi gila. Apa yang terjadi dengannya?! Apa dia sedang mabuk? Kenapa? Apa yang harus kulakukan? Seseorang, tolong aku!

Kulihat pria berambut hitam itu tampak berkeringat dan sibuk mengendus-endus aroma tubuhku. Aku terus berusaha meronta, tapi entah mengapa tubuhku serasa lemas. Rasanya sangat panas. Sementara, bosku ini tampak makin bersemangat.

Ia mengangkat wajahnya yang masih tanpa ekspresi, kemudian mencoba mencium bibirku. Aku semakin panic, dan keringat dingin mulai keluar. Semakin lama, semakin dekat. Jarak kami tinggal beberapa mili lagi.

"HWAAAAAAAWWWGHHHKKK….!"

"Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing…!"

"Hwaaahh!" pekikku sambil bangkit dari tempat tidur. Nafasku tersengal-sengal, dengan keringat membasahi piyamaku. Jantungku terasa masih berdegup dengan kencangnya. Aku terdiam beberapa saat dan mencerna semua yang sedang terjadi, hingga aku sadar seratus persen.

"… ternyata hanya mimpi."

Love in Freiheit Cake

Chapter 7 : Hanji's Love (Part 1)

(Suichi Shinozuka)

Shingeki no Kyojin belongs to Isayama Hajime

'

'

Enjoy the story!

Kulihat siluet yang sangat kukenal, muncul mendekati arah pintu kaca. Aku yang kala itu sedang sibuk membersihkan debu-debu di meja dengan kemoceng bulu angsaku, semakin dan semakin menyibukkan diri. Kusapukan kemocengku dengan gerakan tangan yang sangat cepat, secepat otakku bekerja, dan secepat bola mataku yang berpaling.

Pria itu membuka pintu kaca yang tak terkunci dengan tenaga yang biasa saja, tidak pelan, juga tak cepat. Matanya yang tajam menatap ujung mataku, yang segera kututupi dengan rambut oranyeku.

"Kau, sudah sampai ternyata, mengapa tidak bilang?" ucapnya dengan sedikit membentak—seperti biasa. "Kau tahu, aku menunggu di depan pintu apartemenmu, menekan tombol bel berkali-kali dengan brutalnya seperti orang gila!"

Aku hanya diam saja, dengan gerakan tangan yang tiba-tiba melambat.

Mengetahui amarahnya direspon dengan tak acuh itu, langsung merasa kesal, dan menghampiriku dengan gerakan yang cepat. Didorongnya tubuhku sampai ke meja kasir, dan tatapannya menatap nanar bola mataku. Kedua tanganku menggenggam erat bibir meja dengan eratnya, sampai tanganku berkeringat. Mataku terbelalak, tapi tetap berusaha memalingkan pandanganku dari tatapan bengisnya. Wajahku? Sudah terasa sangat panas!

Pria itu mengubah ekspresinya, dari galak mejadi mengernyitkan alis.

"Kau demam?"

Aku mendengus, kemudian mendorong kasar bahu pria bermata silver itu. "Maaf... aku sedang kacau," ucapku pelan, kemudian berjalan menuju toilet.

Pria itu mendengus keheranan.

Aku menutup pintu toilet, dan duduk diatas kloset duduk yang bersih mengkilat. Aku memegang kepalaku, dan mengacak-acak rambutku.

"Gah!" desisku. "Mimpi kemarin malam merasuki diriku! Aku tak bisa melupakannya!" tanganku berpindah dari kepala, dan mendarat di pipi yang masih panas. Alisku mengernyit, dengan bibir manyun.

"Aku ini kenapa sih?" desisku pelan. Entah mengapa, kemarin aku bisa mimpi seperti itu! Apa yang terjadi dengan otakku? Dan mengapa aku sangat memikirkannya sampai-sampai aku tidak ingin melihat wajahnya?

Banyak pertanyaan yang berputar-putar di otakku, yang membuat kepalaku tambah pening.

"Tok tok tok," tiba-tiba saja pintu toilet diketuk oleh seseorang dari luar, yang seketika membuatku terkesiap.

"Hey, gadis aneh. Kalau sakitmu parah, kau boleh pulang kok," ucap seorang pria dengan suara beratnya dari balik pintu. Mendengar itu, aku bergegas merapikan diri, dan membuka pintu, kemudian keluar.

"A—aku tak apa-apa kok, tidak apa-apa!" ucapku aneh.

Bosku itu mengernyitkan alisnya. Matanya menyipit, sambil melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan herannya.

"Baiklah, kalau tak apa-apa, kembali bekerja," ucapnya meninggalkanku ke dapur.

Aku masih dapat merasakan detak jantungku yang tak mau berhenti!

Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam, dan aku masih berkutat memutar-mutar sedotan, dengan bibir yang manyun. Pantatku rasanya enggan sekali meninggalkan kursi bar—yang tak terlalu tinggi—yang sedang ku duduki. Kudapati seorang wanita berambut merah terang mengembang sedang tertawa terbahak-bahak di sampingku.

"Maria, hentikan tertawamu yang menyebalkan! Ugh," desisku dengan alis mengerut.

Mendengar itu, lawan bicaraku tambah tertawa terbahak-bahak.

"Sorry, aku lepas kendali. Habisnya kau lucu banget! Hahaha!" tawanya tampak lepas, dan diakhirinya dengan menyesap segelas penuh bir.

"Zzzz, kau ini, aku jadi tidak mood cerita, kan!" balasku merajuk. Wanita itu mengakhiri cekikikannya, tetapi masih tersenyum geli.

Maria adalah seorang wanita yang aku temui lewat chat. Orangnya sangat friendly, ceria dan cerewet sekali. Umurnya 3 tahun diatasku, sehingga aku meminta banyak masukkan darinya. Perawakannya tinggi, terlihat dewasa dengan rambut merah terang mengembangnya yang indah, dan terlihat sangat kekinian, layaknya wanita ibu kota. Tetapi kadang sifatnya sangat serampangan, ceroboh dan menyebalkan! Dia adalah sahabat wanita pertama semenjak aku menginjakkan kaki di Munich.

"Oke sampai mana ceritamu tadi?" tanyanya lagi sambil menyesap birnya lagi.

"Yah begitulah, jadi aku sangat bingung, sebenarnya aku ini kenapa ya? Kepikiran bosku yang menyebalkan itu terus-menerus, seharian, dan dimana saja berkat mimpi aneh sialan itu!" jeritku sambil meremas pipiku sendiri. Pertanyaan super galau ku pun dibalas dengan cekikikan olehnya!

"Hey, kau dengar tidak? Mariaaaaa!" teriakku sambil merajuk.

"Dengarlah anak muda, itu namanya kau sedang jatuh cinta! Kau mengerti? JATUH CINTA! FALLING IN LOVE!" ucapnya keras-keras di depan wajahku, kemudian ia cekikikan kembali. Ia bahkan sampai mengatakan pada bartander bahwa aku sedang jatuh cinta! Dasar orang ini, ugh...

"Tidak! Ini tidak mungkin!" balasku dengan tidak percaya.

"Terimalah kenyataan anak muda, semua ceritamu itu menyatakan bahwa kau mencintainya," ucapnya dengan senyum jahilnya

"Hah? Mencintainya? Kau gila? Tapi... tapi, kenapa mesti dengan orang itu?! Dia itu pak tua yang menyebalkan, kau tahu? Dia kejam, kata-katanya menusuk, kasar, ia sangat dingin, selalu menggertakku, selalu saja melakukan seenaknya, tak pernah memikirkan perasaanku!" pekikku dengan tatapan yang menyedihkan.

"Nah kan? Seperti itulah kata-kata seorang yang sedang jatuh cinta!"

"Mariaaaaa aku seriuuuuuusssss," desisku.

Gadis berambut merah itu menatap tajam mataku. Mata hijaunya tampak menusukku, hingga membuatku mundur beberapa mili.

"Dengar, Petra. Cinta itu adalah hal yang paling tidak masuk akal di dunia! Tidak bisa diterima oleh akal sehat, apalagi logika. Cinta adalah tentang bagaimana kau sangat peduli padanya, selalu ingin berada di dekatnya, mendapatkan perhatiannya, dan yang paling penting adalah... kau nyaman ketika berada di sampingnya!"

Gadis yang tengah mengenakan turtleneck hijau tua itu mengakhiri kalimat panjangnya, dengan menambah segelas bir lagi.

Aku terbelalak, dan berusaha meresapi ucapannya.

Yah, kalau di pikir-pikir lagi, aku selalu berusaha yang terbaik di hadapannya, agar suatu saat nanti ia dapat memujiku. Kadang aku sangat mengkhawatirkannya ketika ia begadang terlalu larut, atau kebanyakan minum kopi. Ketika ia berhasil melakukan sesuatu, aku turut bahagia. Dan yang paling penting adalah... dengan melihatnya saja sudah berhasil membuatku merasa nyaman!

"Aku... beneran jatuh hati padanya?" tanyaku pelan, entah pada siapa.

"Nah, akhirnya sadar, kan?" ucapnya girang. "Okeee untuk merayakan seorang gadis muda yang akhirnya sadar bahwa ia sedang jatuh cinta, ayo kita partyyyy~~~" teriaknya dengan suara fals. Ia menuangkan bir kedalam gelas jusku yang kosong.

"Hey, aku tidak minum, aku masih 19 tahun!" Pekikku.

"Sudahlah! Menyadari bahwa kau sedang jatuh cinta artinya kau sudah dewasa! Lagipula bir dapat melepas perasaan gundah gulana yang menghantuimu, kau tahu?" ucapnya sambil tertawa. Sepertinya dia sudah mabuk.

Aku mengernyitkan dahiku. Hmmm... mungkin minuman ini bisa melepas penatku. Sudahlah ya, hanya segelas tak apa-apa, kan?

Jam menunjukkan pukul 1 pagi, dan suasana di bar kecil yang kami datangi, semakin ramai dengan suara tawa dimana-mana! Maria semakin menggila dengan wajahnya yang sudah sangat mabuk, ditambah lagi suara musik beats yang membuatnya semakin menggelinjang. Aku masih duduk manis di kursi barku, tetapi kata-kataku sudah ngalor ngidul, dan tawa-tawa yang tak karuan. Tak terasa, sudah 2 gelas besar bir yang sudah kuhabiskan!

Tiba-tiba, pacar Maria datang menjemput, dan pesta pun berakhir.

"Kau tak apa-apa pulang sendiri? Hiks!" tanya Maria padaku sambil cegukan. Entah berapa gelas bir yang ia habiskan, sampai mabuk seperti itu.

"Tak apa, aku tidak terlalu mabuk kok, apartemenku juga dekat sini," ucapku. Walaupun sebenarnya pikiranku sudah kemana-mana dan badanku terasa sangat lemas.

"Kau ini! Mempengaruhi anak kecil untuk hal yang buruk!" tegur Daxon—pacar Maria—dengan galak.

"Tidak, dia bukan anak kecil lagi, dia sudah dewasa karena sedang jatuh cintaa~~~" ucap Maria sambil bersenandung, kemudian diseret pulang oleh pacarnya. Aku melambaikan tanganku pada mereka berdua.

Aku membalikkan badaku, dan berjalan menuju apartemenku. Sebenarnya aku agak takut, mengingat hari sudah sangat gelap, dan aku seorang wanita yang sedang mabuk pula. Kalau ada perampok yang lewat, mati sudah.

Badaku terasa sangat berat, dengan mata yang berat juga. Ugh, rasanya mual sekali, juga pusing. Rasanya aku akan tumbang. Ugh, tidak boleh, tidak boleh menyerah! Harus sampai apartemen...

Baru saja berpikir begitu, tiba-tiba badanku terasa ringan. Aku sempoyongan, dan bersiap untuk terhempas ke trotoar semen.

Hup! Belum sempat badanku terhempas, tiba-tiba tanganku ditarik oleh seseorang. Aku mendongakkan kepalaku, untuk melihat siapa yang menarik badanku.

Mataku dari yang lemas, tiba-tiba terbelalak. Tuan Rivaille!

"Disuruh istirahat malah mabuk!" bentaknya galak. Matanya berapi-api, seakan-akan siap membakarku hidup-hidup.

"Tuan... kau... sedang... apa..." desisku lemas, tenagaku benar-benar terkuras, dan kepalaku sangat pusing. Mukaku pasti sudah merah semua.

"Dasar anak bodoh, berani keluyuran sambil mabuk ternyata," desis pria itu. Kini ia sedang mengenakan pakaian serba hitam, dan bau parfumnya samar-samar dapat tercium olehku, walaupun aku sedang mabuk. Ia tampak sangat tampan dibawah cahaya kuning lampu jalan!

Pria itu mendengus. "Baiklah, naiklah ke punggungku. Kuantar sampai apartemen," ucapnya. Aku yang sedang mabuk itu hanya bisa pasrah ketika menaiki punggungnya. Walaupun tak terlalu tinggi, ternyata ia cukup kuat. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya—entah mengapa— tanpa rasa malu sedikitpun. Aku dapat merasakan hangatnya suhu tubuhnya, dan bau samponya yang lembut, bercampur dengan bau keringat. Bau keringat seorang lelaki. Kau tahu, ini adalah hal ternyaman yang pernah kurasakan dari seorang lelaki!

"Hey, kau jangan muntah di punggungku, oke? Atau kau akan kubuang ke sungai," ucapnya. Aku tak membalas. Aku mendengar ucapannya, aku sadar, tapi aku tak kuasa membalasnya.

"Tidur ya? Cih, dasar bocah!" dengus lelaki itu. Aku mengeratkan tanganku pada lehernya, agar semakin tenggelam dalam dirinya.

Nyaman, nyaman, nyaman, hanya itu yang kurasakan.

Baiklah, kuakui, mungkin memang benar, aku sedang jatuh cinta dengan bosku ini!

"Kriiiiiiiiiiiiiingg!"

Kumatikan suara alarmku, dan aku bangun dengan normalnya.

Kepalaku terasa jauh lebih baik, walau bau alkohol masih terasa di lidahku.

Tiba-tiba aku teringat momen dimana aku digendong oleh tuan Rivaille sampai apartemen. Jantungku berdegup dengan cepatnya. Semburat merah pasti tercetak jelas di pipiku.

"Bukan mimpi, kan?" bisikku dalam hati.

"Kyaaa!" jeritku sambil menenggelamkan kepalaku diantara bantal dan selimut. Mataku terbelalak, sambil memegang kedua pipiku yang merah. Kepalaku rasanya berputar-putar, seperti sedang mabuk. Jantungku berdegup tanpa kendali!

Oh Tuhan, Aku benar-benar jatuh cinta padanya! Tolong, aku sangat bahagia!

Beberapa jam kemudian, akhirnya Aku sampai di depan toko, dan membuka pintu kaca toko dengan girang. Aku memasuki toko, dan kudapati Tuan Rivaille sedang duduk di meja pelanggan. Baru saja hendak menyapanya dengan ceria, tetapi niat itu kuurungkan ketika melihat seorang wanita dewasa—dengan rambut merah diikat serta kacamata—duduk di seberang bosku itu. Wajahnya tidak asing, sepertinya pernah datang ke toko.

"Hey pemabuk, maaf tak bisa menjemputmu. Kau sudah menerima email dariku, bukan?" tanya tuan Rivaille. Tapi tak ku gubris, karena aku lebih penasaran pada wanita di depannya.

"Petra, ya?" ucap wanita itu girang. "Rivaille baru saja menceritakan dirimu. Kau ingat aku tidak? Aku Hanji, ingat tidak? Yang dulu pernah datang kesini."

Tiba-tiba saja ingatanku segar kembali. Ah benar, dia adalah wanita berisik yang pernah cek-cok dengan tuan Rivaille beberapa bulan lalu. Ah, tapi mengapa sekarang mereka tampak akrab sekali ya?

"Ah iya, Hanji, aku ingat," ucapku berusaha ramah di depannya. Ia tampak bersemangat sekali begitu mengetahui bahwa aku mengingat dirinya. "Wah tumben sekali datang kesini," ucapku, mengingat dulu ia sangat marah dan mengatakan bahwa tak akan menginjakkan kaki lagi di toko kami.

Wanita itu tiba-tiba menjadi lebih semangat lagi. Jika ia punya ekor, mungkin ekornya akan bergoyang dengan cepat seperti seekor anjing.

"Yah, karena... hayo apa?" tanya Hanji kegirangan. Aku mengernyitkan alis tanda tak tahu.

"Karena, aku dan Rivaille sudah bertunangan! Bulan depan kami akan menikah!" ucapnya tersenyum lebar, sambil merangkul pria berambut legam disebelahnya.

Aku menjatuhkan tas tangan yang sedaritadi bertengger di jari-jariku. Dapat kurasakan telapak tanganku tiba-tiba berkeringat. Tatapan mataku kosong, dan aku kehilangan konsentrasi.

"Eh? Bertunangan?" desisku pelan.

.

.

To be continued