.

Penantian dan Perasaan

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pair : Naruhina

Chapter 7 : Lamaran Terakhir.

.

.

Konoha merupakan desa terluas kedua setelah Suna dalam jajaran Lima Negara Besar. Pada awal terbentuknya, Konoha adalah desa sederhana tempat klan Senju dan klan Uchiha bermukim. Menilik kesuksesan Konoha melindungi rakyatnya dalam perang, bergabunglah dua klan besar dalam aliansi Senju dan Uchiha. Dua klan tersebut adalah klan Nara dan klan Hyuga.

Pembagian harta dilakukan oleh Hashirama Senju selaku Hokage yang memerintah di masa itu. Walau tak seluas hutan yang di miliki oleh dua klan pendiri, Nara dan Hyuga menerima dengan senang hati hutan barat dan hutan timur sebagai bagian tanah milik mereka. Sebagai klan pertama yang bergabung, mereka cukup beruntung, nyatanya klan-klan lain yang menyusul bergabung dengan Konoha hanya mendapat satu perempat luasan dibanding luas bagian mereka.

Hutan barat milik klan nara terkenal dengan tanaman racun dan obat berkhasiat. Semua bahan serum yang di buat oleh laboratorium rumah sakit Konoha di beli dari keluarga Nara. Tak hanya itu, banyak pedagang berdatangan dari desa lain hanya untuk membeli tanaman obat milik mereka.

Berbeda dengan Hyuga, lahan yang mereka peroleh di manfaatkan untuk menanam sayuran. Itupun hanya sebagian kecil sebab generasi muda yang dimiliki klan Hyuga tidak lebih banyak dari generasi tuanya. Mereka lebih menggantungkan bayaran misi daripada hasil ladang untuk bertahan hidup.

Namun semuanya berubah pada kepemimpinan Souke generasi ke enam. Dengan kecintaannya terhadap pertanian, setengah lahan Hyuga di sulap menjadi kebun anggur dan apel oleh sang ketua klan. Setelah tujuh tahun merintis kebun itu, Hyuga terlahir sebagai penghasil wine dan cuka apel terbaik. Perekonomian yang meningkat mendorong mereka untuk membuka lahan perkebunan baru bagi komoditas anggur meja, apel dan jeruk. Hingga saat ini, mereka bahkan sudah mengembangkan tempat wisata petik buah segar.

Klan Hyuga telah mencapai masa kejayaan. Bisa di bilang mereka adalah klan termakmur di Konoha saat ini. Tapi bukan itu yang membuat mereka di segani oleh para penduduk desa, melainkan adat istiadat, tradisi serta tata krama yang masih di laksanakan dan begitu kental dalam kehidupan para anggota klannya.

Memiliki kekayaan yang melimpah tidak membuat para Hyuga menjadi sombong, mereka terkenal senang berbagi dan hidup sederhana meski tidak ada satupun kediaman seorang Hyuga yang bisa di katakan jelek. Malah mansion keluarga utama terkesan cukup mewah.

Kakashi sudah lama mendengar cerita kemewahan mansion Hyuga, tapi seumur hidup baru kali ini ia menginjakkan kaki di mansion itu. Matanya menilik lantai, kusen dan meja kayu dengan kwalitas terbaik. Tatami asli buatan pengerajin Konoha yang dipesan lebih tebal dan lembut, serta cawan-cawan porselen yang mengkilap dan terlihat lebih berat di banding cawan rumahan biasa. 'Baiklah ini memang rumah yang mewah untuk ukuran orang-orang jepang kuno, aku tak menyangka mereka memelihara adat sampai sedetail ini.' Batin Kakashi.

Dimulai dari ujung yang paling kanan, Hatake Kakashi duduk disamping istrinya Kahyo, diikuti anak tertua Uchiha Sasuke lalu Uzumaki Naruto dan si bungsu Shimura Sai. Berada dalam satu meja, di hadapan mereka duduk Hyuga Hiashi sebagai tuan rumah tunggal yang menyambut ramah para tamunya.

Beberapa maid masuk secara bergantian membawakan teh hijau, kue-kue dan buah segar. Terakhir, mereka berlalu dengan membawa sebingkis hadiah dari nyonya Hatake berupa sebotol minuman fermentasi ginseng dan buah persik.

"Saya merasa tersanjung sekali mendapat kunjungan dari anda semua, apa lagi nyonya Hatake telah berbaik hati membawakan bingkisan untuk kami. Saya berharap anda tidak kerepotan atas hal itu." Hiashi membuka percakapan setelah mempersilahkan tamunya untuk meminum the terlebih dahulu.

"Tentu saja tidak Hyuga-san, justru kamilah yang merasa telah merepotkan anda atas sambutan yang istimewa ini." Kahyo menjawab, dan dibalas senyuman ramah oleh Hiashi.

"Sesungguhnya ada kepentingan apa hingga Rukodaime-sama dan istri, juga Nanadaime-sama menyempatkan singgah di mansion kami bersama para pengawal anda sekalian." Hiashi berbasa-basi, padahal ia sudah dapat menerka maksud dan tujuan mereka.

"Hiashi-san," suara Kakashi terdengar sabar. "Sebelumnya saya memohon maaf atas ketidak sopanan kami. Tapi saya datang kemari bukan sebagai seorang Rokudaime Hokage, melainkan sebagai seorang ayah yang tengah mendampingi anak kami, Uzumaki Naruto. Sehingga saya mengharapkan Hiashi-san juga tidak memandang Naruto sebagai seorang Hokage dalam pertemuan ini."

Kakashi memberi jeda, Hiashi beralih menatap Naruto dan memberikan seulas senyum tipis namun tak terlihat ramah seperti sebelumnya.

"Baiklah saya mengerti Kakashi-san. Lalu apa maksud dan tujuan anda datang kemari?."

"Begini Hiashi-san, ini mungkin terlalu mendadak. Tapi tujuan saya kemari adalah untuk meminang putri sulung anda, Hyuga Hinata, untuk putra saya, Uzumaki Naruto."

"Huh…" Hiashi mendengus diiringin dengan senyuman sinis. "Benar-benar sesuai dugaan."

Hening untuk sesaat. Hiashi mengamati Naruto lekat-lekat dan dengan suara yang berat, ia berkata "Tapi saya mohon maaf kepada anda Kakashi-san, putri saya telah menerima lamaran dari pria lain."

"jangan berkata seperti itu Hiashi-san.!" suara Naruto jelas menggebu-gebu.

Kakashi memejamkan matanya sebentar, ia sungguh mengutuk Naruto yang telah lancang menyela pembicaraannya dengan Hiashi. Saat itu, Kakashi bahkan belum membuka mulutnya, ia masih memikirkan kalimat yang tepat untuk meredam Hiashi yang mulai menampakkan kekesalannya.

Sasuke melirik Naruto tajam namun yang dilirik bahkan tak menyadarinya. Akhirnya tangan kiri Sasuke mencubit pelan paha Naruto. Tapi apa yang terjadi?. Tanpa mengalihkan pandangannya pada Hiashi, Naruto menampik tangan Sasuke yang berada di bawah meja.

Sasuke mendelik. Secara reflek ia menatap Hiashi yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya. Sasuke membuang muka, kali ini menatap bahu Kahyo. Ia sungguh malu. Mereka seperti dua anak akademi yang tertangkap melompat pagar. Yang satu dengan bodohnya berucap lantang ingin pergi beradu kelereng, sedangkan yang satu lagi hanya diam, mencubit rekannya seakan memintanya untuk sedikit lebih pandai berbohong.

"Toneri-san mungkin memang bermaksud ingin melamar Hinata, tapi saya tau, maksud itu bahkan belum benar-benar disampaikan bukan?"

"Anda terlalu yakin, Naruto-san." Hiashi mencoba tetap tenang.

"Tidak. Tapi saya benar-benar tau itu karena Toneri-san sendiri yang mengatakannya pada saya saat kami bertemu di pasar raya festival Hanabi."

'uh… untung dia berbohong. Setidaknya biar Otsutsuki itu saja yang menjadi kambing hitamnya.' Sai yang sebenarnya juga sudah harap cemas Naruto akan keceplosan menyebut Hanabi merasa sedikit lega.

Hiashi tak menjawab, ia meneguk kembali tehnya. Sekarang sudah bukan waktunya menyembunyikan pertunangan Hinata di depan Naruto. Hiashi sedang memutar otak. Bagaimana agar rubah kuning di hadapannya tak dapat menolak keputusannya.

"Anggaplah semua yang kau ucapkan itu benar." Hiashi memberi jeda. "Lalu apa yang kau inginkan, Naruto-san?"

"Saya datang untuk melamar Hinata, Hiashi-san. saya ingin menikahinya." Naruto berucap mantap.

"Aku salut dengan nyalimu anak muda. Tapi, apa kau pikir aku akan menerimanya? Apa kau pikir aku akan mengenyahkan keluarga Otsutsuki dan berpihak padamu?." Lagi, Hiashi memberi jeda. "Kau sungguh licik. Kau datang membawa Rokudaime Hokage dan ketua ANBU serta seorang mantan anggota Ne untuk mengawalmu. Kau sedang berusaha menekanku bukan? APA KAU PIKIR AKU TAKUT PADAMU HAH..!." Hiashi menggebrak meja.

"Hiashi-san, saya mohon tenangkan diri anda." Kakashi cepat menengahi sebelum semuanya menjadi tambah kacau.

Sasuke menatap pria tua itu datar. Nafasnya tampak memburu menahan emosi. Sasuke menyeringai angkuh. begitu tipis, hingga tak seorangpun akan menyadarinya. Hatinya menertawakan Hiashi, tentu saja mereka sedang menekannya. Dan sungguh ironis, tanpa ia tau, putri bungsunya sendirilah yang mengatur rencana ini.

"Sejak awal saya telah mengatakannya. Di hadapan anda kami melepas kedudukan dan jabatan kami terhadap desa. Kami murni datang dengan maksud yang baik Hiashi-san." ucap Kakashi.

Hiashi hanya diam. Mungkin ia sudah muak melihat mereka semua namun tentu tidak mungkin bagi Hiashi untuk bersikap tidak sopan dengan mengusir mereka.

"Mohon mengertilah, Hiashi-san." kali ini Sasuke angkat bicara. "Kakashi sensei mengasuh empat orang murid. Seorang wanita dan tiga orang pria. Anda tentu tau, tiga orang pria di hadapan anda ini adalah yatim piatu. Bahkan saudara saya Sai tak lagi mampu mengingat darimana ia berasal. Sebagai anak tertua, saya sungguh mengharap pengertian anda. Kakashi sensei dan istrinya dalah wali kami, beliau adalah ayah dan ibu kami."

"Itu benar Hiashi-san." Sai memberi pembelaan "Sama seperti saat ini, dulu kami semua datang bersama ke kediaman Haruno saat melamar Sakura-chan untuk Sasuke. Dan begitu pula saat kami melamar Ino-chan untuk saya. Biar bagaimanapun kami adalah keluarga. Dalam hal ini, sematan Hokage, ANBU ataupun Ne tidaklah ada sangkut pautnya."

Keheningan tercipta cukup lama. Seakan Hiashi benar-benar tak lagi menginginkan obrolan ini. Pria itu terlihat menenangkan emosinya. Tapi masih saja matanya menatap Naruto tajam.

"Hiashi-san…," Kakashi membuka pembicaraan, sesungguhnya ia tau diri. Jikapun Hiashi benar – benar ingin mengakhiri pertemuan itu, Kakashi memutuskan untuk segera pamit.

"Hiashi-san, maafkanlah kelancangan putra saya."

"Kau tidak tau bagaimana seharusnya menjadi seorang ayah, Kakashi-san."

Ucapan Hiashi menohok hati Kakashi. Telah lama ia berpikir seperti itu. ia tak pernah memiliki anak. Sering kali ia merasa salah, merasa gagal mendidik keempat muridnya, terutama Sasuke. Setelah perang berakhir, Kakashi mencoba membangun kedekatan mereka dari awal. Anak muridnya semakin dewasa, Kakashi ingin menanamkan moral yang baik, menjadi ayah sebagai tempat mereka berkeluh kesah. Namun nyatanya, ia juga tak merasa berhasil dengan hal itu.

"Tugas seorang ayah tidak hanya melamar gadis untuk putranya. Seharusnya kau tau, anakmu telah lama mempermainkan putriku. Apa yang kau lakukan selama ini?. Tidakkah kau menasehatinya?. Dengan sembarangan mengencani putri orang, semaunya saja memeluk anak orang. Tapi bagaimana dengan putriku?. Apa kau pikir aku tidak tau?. Cintanya bertepuk sebelah tangan, Kakashi-san. Putramu ini hanya mengambil keuntungan dari perasaan putriku saja."

Kakashi tak dapat menyanggah. Sejak awal ia sudah mengira masalah ini akan menjadi bumerenang untuk mereka. Berulang kali ia memperingatkan Naruto untuk tidak memberi harapan berlebihan pada Hinata jika memang tidak memiliki perasaan khusus pada gadis itu. Tapi dasar Naruto bocah rubah bengal, tak pernah sedikitpun ia menggubris nasehat Kakashi. Dan tentu saja Kakashi tak mungkin membela diri dengan mengatakan secara gamlang tentang hal itu. bisa-bisa Hiashi memenggal kepala Naruto.

"Semua itu adalah kesalahan saya Hiashi-san." Naruto berujar lirih.

"Tentu saja itu kesalahanmu. Dan setelah berbuat kesalahan sebesar itu kau masih berani datang kemari untuk melamar Hinata."

"Saya sungguh mencintai Hinata, Hiashi-san."

Sasuke menyeringai, puas rasanya melihat Naruto menyerah pada perasaannya. Sasuke terlalu jenius untuk di kelabui Naruto. Sejak awal ia tau Naruto terlalu mencintai istrinya. Dan iapun tau, perasaan itu juga yang seakan menghalangi Naruto untuk menerima Hinata, meskipun sebenarnya Naruto mulai mencintai Hinata sejak lama.

"Saya terlalu pengecut untuk mengakuinya." Naruto sedikit menunduk sedangkan raut wajah Hiashi tak juga melunak.

"Saya kira, saya mulai menyadari perasaan ini ketika kami telah melalui masa peperangan bersama. Tapi saya hanya diam. Hinata memulai pelatihannya dengan ketat, kami juga mulai jarang bertemu. Aku sendiri berusaha menata hidupku agar lebih baik. Dengan susah payah akhirnya aku meraih gelar chuninku, namun saat itu juga Hinata telah diangakat sebagai pewaris sah kepemimpinan klan Hyuga. Aku kecewa pada diriku sendiri, aku masih merangkak sedangkan Hinata telah berhasil membuktikan diri. kemudian aku memutuskan untuk fokus menempuh ujian jounin. Nyatanya aku memang payah, aku gagal dua kali dan baru meraihnya 3 tahun setelah Hinata menyandang gelar heiresnya."

Naruto menghela nafasnya kasar. Begitu tenang ia mengucapkan kata demi kata. Terlalu tenang hingga ia lupa untuk menggunakan bahasa yang lebih sopan. Tapi Naruto sadar, ia tidak sedang berbohong. Dan ia baru sadar, ia terlalu munafik selama ini.

"Baru saja kau bersikeras untuk tidak melibatkan jabatan Hokagemu di hadapanku. Tapi kenapa kau membawa-bawa gelar dan kedudukan di hadapan Hinata?"

"Hinata terlahir dari keluarga terpandang. Anda orang kaya. Tiga kali dalam setahun di setiap musim panen, anda selalu membagikan sedekah pada orang – orang miskin. Sedangkan aku ini apa, Hiashi-san?. bahkan sewaktu kecil aku ikut berdiri di depan rumah anda. Aku mengantri untuk mendapatkan belas kasihan anda."

Semua orang di ruangan itu memandang Naruto. Wajah tannya tampak memerah, matanya juga berkaca-kaca. Naruto tak ingin seperti ini sebenarnya, tapi semua itu di luar kendali dirinya. Kenangan pahit di masa kecil bagaikan paku yang menancap pada sebuah kayu. Walaupun telah tercabut, tapi bekasnya tak akan pernah hilang.

"Kami terlampau berbeda. Aku menjadi yatim piatu sejak lahir. Tanpa aku memahami, semua orang menghindariku, mereka benci dan jijik melihatku. Bahkan Hiashi-san juga begitu bukan?. Suatu kali saat aku mengantri, Hiashi-san mendatangiku. Anda mengatakan bahwa aku tak perlu datang lagi dan sebagai gantinya anda selalu menyuruh orang untuk mengantarkan sedekah. Aku mengingat semuanya, Hiashi-san. bahkan sampai sekarangpun, untuk berdiri di depan gerbang kediaman anda saja aku merasa begitu kecil. Lalu bagaimana bisa aku berani mencintai Hinata begitu saja?"

"Kau salah mengartikannya nak." Suara dan raut wajah Hiashi telah jauh melunak. "aku tidak pernah membencimu apalagi merasa jijik karena kau adalah Jinjuriki".

Sebenarnya Hiashi dan Minato berteman baik. Hiashi tentu tidak tega melihat putra sahabatnya berdiri di depan rumahnya dan meminta sedekah. Apa lagi orang-orang di sana memandang Naruto dengan tatapan yang tak mengenakkan. Tapi Hiashi tak ingin menjelaskannya, itu akan melukai harga diri Naruto lebih jauh lagi.

"Hiashi-san, kumohon maafkanlah segala kesalahanku pada Hinata. Semenjak kepergian Neji, aku selalu berusaha melindunginya. Aku tak ingin ada orang lain yang menggantikan aku. Aku sungguh menyanyangi putri anda Hiashi-san. selama ini aku hanya menunggu waktu hingga aku pantas berada disamping Hinata."

"Huft.." Hiashi menghembuskan nafasnya yang terasa berat. "Hari ini aku memaafkanmu nak."

Hiashi beralih pada Kakashi "Tapi saya meminta maaf karena tidak bisa mengabulkan permohonan putra anda, Kakashi-san. Anda datang diwaktu yang sangat tidak tepat. Hinata sendiri telah bersedia untuk menikah dengan Toneri. Rasanya sangat tidak mungkin untuk membatalkannya."

"Tapi Hiashi-san,.." Naruto menyela.

"Saya harap Kakashi-san dapat mengerti posisi saya di hadapan keluarga Otsutsuki. Dan lagi saya berharap masalah ini tidak akan menjadi sebab permasalahan lain antara klan kami dan desa Konoha di masa mendatang."

"Tentu saja Hiashi-san, sayapun memakluminya."

"tunggu, Hiashi-san tolong.."

"Naruto." Kakashi memotong ucapan Naruto. "sudahlah, kita harus segera kembali."

Dalam posisi duduknya, Kakashi, Kahyo dan Hiashi saling berojigi, di ikuti oleh Sasuke, Sai dan Naruto dengan terpaksa. Hiashi mengantar tamu nya keluar dari ruangan itu. sebelum mereka benar-benar pergi, Kakashi masih sempat mengucapkan terimakasih dan Hiashi meminta maaf atas penolakannya serta berharap hubungan mereka tetap berjalan baik.

.

###

.

Mereka berlima menyusuri roka yang tampak sepi. Mansion Hyuga cukup besar. Paviliun, dapur umum, ruang pertemuan, gudang, mereka bahkan punya 3 buah dojo disana. Sehingga roka yang mereka telusuri terasa amat panjang dan jauh tak segera berujung.

Naruto berjalan paling depan. Diikuti Sasuke dan Sai, lalu Kakashi dan Kahyo yang beriringan. Sesekali terdengar Naruto merancau tidak jelas atau mengeluh seakan ia terkena pukulan keras.

"Kakashi-san, bagaimana ini? Apa Naruto tidak apa-apa?" Kahyo berujar lirih tapi masih dapat di dengar oleh Sasuke dan sai.

"Dia akan baik-baik saja." Kakashi menghela nafas panjang. "Aku menarik ucapanku beberapa waktu lalu. Ternyata aku tidak cukup pengalaman. Ini pertama kalinya lamaranku ditolak oleh pihak perempuan."

Kahyo tersenyum prihatin, ia paham, Kakashi mungkin hanya ingin mengurangi kecemasannya,

"Padahal instingku mengatakan ini akan berhasil. Aku sudah yakin ini pasti lamaran terakhir yang harus aku lakukan. Tapi dugaanku meleset, sekarang firasatku justru mengatakan bahwa Naruto mungkin akan menjomblo seumur hidupnya."

Sai terkikik mendengar penuturan Kakashi, sedangkan Kahyo menggerutu tidak suka sambil mencubit lengan suaminya.

"Hoi.. dobe. Kau melupakan poin dimana kau harusnya mengatakan bahwa kau sudah berencana melamar Hinata di hari ulang tahunnya." Kata Sasuke.

"aku tidak sudi membual seperti itu. Sejak awal aku memang tidak pernah berpikir untuk menikah dengan Hinata."

"Jadi sebenarnya ucapanmu yang tadi itu apa?. Tentang Uzumaki Naruto yang mencintai Hyuga Hinata, itu bualan atau bukan?" Sai bertanya dengan polosnya.

"Lalu sekarang bagaimana?. Gara-gara kau tidak mau membual, kita jadi gagal mendapatkan Hinata."

"Sai, Teme, tutup mulut kalian dan berhentilah menggangguku atau kuremas mulut kalian sekarang juga."

Dalam ancaman itu, Naruto memutar langkahnya, hendak menghadap Sasuke dan Sai. Tapi siapa sangka, disaat yang sama seorang perempuan muncul dari sebuah ruangan. Bahu kanan Naruto menghantam bahu perempuan itu dan membuatnya oleng. Naruto tak sempat menolongnya, seorang perempuan dengan rambut bergelombang jatuh bersimpuh di hadapan mereka.

.

###

.

Hinata baru saja mengganti yukata mandinya. Ia sedang duduk di meja rias, mengoleskan lotion beraroma lavender pada kulit putihnya. Selepas itu mulai menyisir rambutnya yang belum kering sempurna.

ia terlihat lebih segar sekarang. Kantung hitam di bawah matanya sudah mulai memudar. Beberapa kali ia menepuk pipi tembamnya. Matanya melirik jam beker di meja rias itu. Sudah lebih dari jam 4. Ia harus segera ke kamar Hanabi, adiknya itu akan mengomel panjang lebar jika ia tidak segera bersiap.

Hinata bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju jendela. Langit tampak cerah, beberapa anak bermain riang di bawah pohon ginko. Salah satu anak itu melambai pada Hinata, Hinata tersenyum dan balas melambaikan tangan. Kemudian anak-anak yang lain juga menyadari keberadaan Hinata. Merekapun turut melambaikan tangan.

Hari ini pesta besar di keluarga Hyuga akan dilaksanakan. Anak-anak itu mungkin anak para bunke yang di tinggal sibuk oleh orang tuanya. Hinata mendesah. Sungguh ia tidak siap dengan pertunangan ini, tapi mau bagaimana lagi. Jika menuruti keegoisannya, iapun tidak akan pernah siap.

Akhirnya Hinata memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Hanya satu langkah, ia bahkan belum sempat menutup fusuma kamarnya kembali, seseorang dengan tubuh tinggi dan besar menabrak bahu kirinya. Kejadiannya sungguh cepat. Hinata tak dapat menghindar, ia jatuh terduduk dengan pantat dan siku tangan kanannya mencium lantai terlebih dulu.

"Aduh…" Ia mengeluh. Merasakan nyeri di pantatnya.

"Hinata."

Gadis itu membelalakkan matanya. Ia mendongak. Menyalipkan rambutnya kebelakang telinga.

"Na-Naruto-kun?"

Tiba-tiba Naruto sudah bersimpuh di hadapannya. Pria itu memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di bahu kanan Hinata.

"Hinata.. hiks.. uugh… maafkan aku Hinata."

Hinata semakin bingung. Naruto menangis di bahunya sedangkan ia sendiri menjadi obyek yang di tatap tanpa berkedip oleh Sasuke, Sai, Kakashi dan istrinya.

"Naruto..! jangan sembarangan memeluk anak orang." Kakashi berujar kesal. Baru beberapa menit yang lalu Hiashi mencoreng muka Kakashi dengan kalimat itu, Naruto malah membenarkan dengan tindakannya.

"Na-Naruto-kun, tolong lepaskan." Hinata bergerak gelisah, tapi Naruto justru semakin mengeratkan dekapannya.

"Dobe..! apa yang kau lakukan?. Hiashi-san akan membunuhmu kalau sampai ia melihatnya."

"Tolong dengarkan aku Naruto-kun, kita bisa bicara pelan-pelan." Hinata makin meronta.

Sasuke maju dua langkah, ia hendak menggapai bahu Naruto tepat ketika pria itu melepaskan pelukannya pada Hinata. Hinata hanya diam. Ia memandang Naruto lekat, sesekali beralih memandang Sasuke, sai dan pasangan Hatake.

"Naruto-kun, kenapa menangis?." Hinata menghapus air mata Naruto dengan ibu jari tangan kanannya.

"Ughh… aku tidak menangis ttebayo."

Hinata mengerutkan alisnya.

"Tapi dadaku rasanya sakit sekali."

"Eeh..?. Naruto-kun terluka?" jelas sekali dari suaranya, gadis itu mulai panik. "Tunggulah disini sebentar, akan kuminta penjaga untuk mengantar Naruto-kun ke paviliun sementara aku memanggil dokter, semoga saja dia masih di klinik."

"Tidak Hinata."

"Jangan menolak. Kau menangis Naruto-kun, lukamu pasti sakit sekali. Bertahanlah ya.., Aku hanya sebentar, kliniknya dekat dari sini, di sebelah dojo utara."

Sai melongo mendengar ucapan Hinata, ia berguman "Mereka bahkan punya klinik di dalam rumah?".

"Benar-benar orang kaya." Kahyo ikut takjub.

Hinata berusaha bangkit, ia sangat khawatir. Naruto sering terlibat pertarungan, begitupun dengan dirinya. Mereka adalah shinobi, terluka bukanlah hal baru yang mereka alami. Namun melihat Naruto sampai menitihkan air mata dan mengerang seperti itu membuat Hinata khawatir sebab Naruto pria yang kuat, pria yang selalu dapat bertahan. Jadi, bukankah luka Naruto kali ini cukup parah?

"Aku tidak butuh itu Hinata." Naruto mencegah Hinata.

"Eeh..?"

"Ikutlah denganku sebentar."

Dalam sekejap mata, tangan kanan Naruto telah meraih lipatan lutut Hinata sementara tangan kirinya menahan bagian punggung gadis itu. Naruto bangkit dengan menggendong sang hime. Tanpa buang waktu ia segera berlari meninggalkan mansion Hyuga.

"Naruto..! Sial." Sasuke mengumpat.

"Seharusnya Naruto menculiknya diam-diam, bukannya membawa kabur terang-terangan seperti ini." Ucapan Sai sukses membuat Sasuke mendelik ke arahnya.

"Sasuke..!, Sai..!. cepat kejar Naruto." Perintah Kakashi.

"Baik sensei." , "Hn.." jawab mereka bersamaan.

.

###

.

Naruto berlari secepat yang ia bisa. Sesekali melompat untuk mendapat jalan yang lebih lapang. Sasuke masih mengejarnya, ia bahkan melempar kunai dengan peledak karena Naruto sama sekali tak mau mendengar ucapannya. Di balakang Sasuke, Sai juga mulai bertindak, dengan jutsu Choju Giga, ia memciptakan puluhan ular tinta untuk menjerat kaki Naruto.

Keributan itu sontak mengundang penghuni mansion untuk keluar. Betapa terkejutnya mereka melihat sang Hokage mencoba membawa kabur putri ketua klan.

Sai memacu langkah. Ular-ular miliknya tak cukup cepat untuk mengimbangi lompatan Naruto yang tengah menghindari serangan Sasuke.

"Naruto lepaskan Hinata, kita bisa menyusun rencana yang lain" ucap Sai.

Merasa tak di gubris, Sai melancarkan beberapa pukulan, namun semuanya dapat di tangkis oleh Naruto. Tepat ketika satu pukulan Sai hampir mengenai wajahnya, ia melompat mundur dan memberikan tendangan di perut Sai yang tengah berlari menerjangnya dengan kunai.

Sai terpental cukup jauh, tubuhnya terhempas pada sebuah bangunan di dekat kolan ikan. Meninggalkan reruntuhan dan jejak lubang yang cukup besar.

"Maafkan aku Sai, tapi aku tak bisa menerima rencanamu."

Hiashi datang, dengan byakugan yang telah aktif. Ia berteriak murka memerintahkan semua Hyuga yang ada di sana untuk menangkap Naruto, sementara di belakangnya Hanabi berdiri dengan raut wajah kebingungan.

Naruto merasakan tanah pijakannya bergetar hebat, kemudian membentuk lubang-lubang yang dalam. Ia segera mundur dengan tiga kali lompatan dan berhenti di atas lantai gedung tak jauh dari tempat sai terpental tadi. Itu adalah jutsu elemen tanah. Sudah jelas Kakashi pelakunya.

"Naruto, kendalikan dirimu."

Naruto menoleh, benar, Kakashi berdiri 5 meter di depan Hiashi. Tangannya masih membentuk segel, mungkin ia menghentikannya karena tak ingin merusak rumah Hiashi.

"Kahyo, bisakah kau jerat Naruto? Cukup sampai lututnya saja."

"Tidak bisa Kakashi-san, udaranya tak cukup lembab untuk menggunakan elemen es." Kahyo berbohong. Sebenarnya ia masih mampu kalau hanya sekedar membekukan kaki Naruto, hanya saja ia tak ingin melakukannya. Diam-diam Kahyo justru berharap Naruto berhasil membawa kabur Hinata.

Beberapa orang Hyuga maju menyerang, melancarkan Hakke Kusho dengan penuh kehati-hatian sebab khawatir mengenai Hinata. Hanya lima orang sebenarnya, tapi Naruto sungguh kuwalahan menghadapinya. Menggendong Hinata menyebabkan posisinya kurang menguntungkan saat ini. Ditambah lagi Hinata yang semakin meronta dalam dekapannya. Tangannya tak dapat bergerak, sebisanya Naruto hanya menghindar, melompat dan sesekali menendang.

"Taju Kagebunshin no Jutsu"

Naruto menyilangkan jari tengah dan telunjuk tangan kirinya. Itu adalah teknik merapal jutsu yang selalu ia gunakan ketika tsunade belum mencangkokkan sel Hashirama sebagai ganti tangan kanannya yang putus.

Naruto melompat tinggi. Ia mendarat di atap. Di saat yang bersamaan, turunlah ratusan bunshin Naruto menghujani para Hyuga yang hendak melompat ke atap dengan rasengan mini.

"Naruto-kun apa yang kau lakukan?. Kau melukai mereka dengan rasenganmu." Hinata memandang cemas.

"Tidak apa-apa Hinata. Kekuatannya hanya seperempat dari rasengan standar yang aku buat dengan cakra tubuhku sendiri. Paling cuma memar."

Naruto kembali berlari. Tidak cukup jauh, ia melihat Sasuke tengah melipat tangannya di depan dada. Berdiri menghadang Naruto di atas pagar gerbang mansion Hyuga.

DUUAARR…!

Terjadi ledakan besar. Untung saja Naruto berhasil menghindar, telat sedikit saja sudah pasti ia dan Hinata terluka oleh serangan itu.

Naruto berhenti. Ia menoleh ke arah samping dimana ledakan itu terjadi. Seiring asap dan debu yang perlahan menghilang, Naruto dapat melihat, Toneri berdiri menatapnya penuh kebencian.

"Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah mengira. Kau menyimpan perasaan pada calon istriku." Toneri berujar sinis.

"Cih.. jangan pernah menyebut Hinata sebagai calon istrimu. Sedikitpun Hinata tidak pernah mencintaimu."

"Omong kosong."

"Omong kosong kau bilang?. Pernah kau bertanya pada sahabat-sahabatnya? Adiknya? Ayahnya?" Naruto memberi jeda "Pernahkah kau bertanya pada Hinata tentang siapa pria yang di cintainya?. Bahkan seisi desa ini tau, Toneri-san. Hinata hanya mencintaiku saja."

"Naruto-kun.., kenapa..? kenapa berkata seperti itu?." Hinata bergumam lirih, setetes air mata mengaliri pipi putihnya.

"Kau..!" Toneri menggeram. "Berengsek kau Uzumaki...!"

Dari kedua telapak tangannya, Toneri menciptakan bola-bola cakra berwarna kuning. Tanpa ragu, pria itu menembakkannya ke arah Naruto. Untuk kesekian kalinya Naruto melompat menghindari serangan. Beberapa ledakan tak terelakkan ketika bola cakra itu menghantam dinding, pohon dan atap-atap bangunan di mansion Hyuga.

Sasuke menyeringai. Ia tak perlu repot-repot menangani Naruto, malahan mendapat tontonan yang menarik.

Beberapa shinobi naik ke atap, termasuk Hiashi, Hanabi, Sai, Kakashi dan istrinya. Tidak sebanyak sebelumnya, sepertinya mereka adalah shinobi yang tersisa setelah melawan para bunshin Naruto.

Naruto sendiri sudah jengah. Sedari tadi ia hanya menghindar saja. Ia tidak ingin melukai warganya sendiri. Tapi apa boleh buat, ia harus segera menyelesaikan semua ini.

Cahaya orange berpendar. Jubah cakra menyelimuti tubuh Naruto, memberikan rasa hangat saat menyentuh kulit Hinata. Naruto masuk ke mode biju. Sembilan ekor cakra kyubi menjadi tameng bagi Naruto untuk menghindari tembakan Toneri.

Para Hyuga hendak bergerak, namun Hiashi mencegahnya. Ia tak ingin mengambil resiko. Serangan Toneri kali ini terlihat berkali-kali lipat lebih berbahaya di banding rasengan dari bunshin Naruto.

Naruto berhenti, ia melompat tinggi dengan gerakan memutar, berbalik menghadap Toneri yang tak beranjak dari posisi semula. Di saat yang sama, ekor cakra Naruto menggeliat. Mengibaskan bola-bola cakra Toneri berbalik kepada si empunya jutsu.

DUAAR.. DUAAR.. DUAAR…

Tiga ledakan beruntun menghantam Toneri. Rahang Hiashi mengeras. Walau asap pekat mengepul di sana, ia dapat melihat Toneri jatuh tersungkur.

"Uhuk.. uhuk.."

Hembusan angin sedikit demi sedikit melenyapkan asap. Samar-samar Naruto melihat Toneri berusaha bangkit. Setengah berjongkok, kaki kirinya tertekuk dan lutut kanan serta tangan kanannya menjadi tumpuan pijakan. Toneri terbatuk hebat, ia memuntahkan darah segar, menodai kinagashi abu-abu muda yang ia kenakan.

"Aku tak pernah ingin melukaimu, tapi kau melukai dirimu sendiri, Toneri-san."

"Kalian..!" Hiashi melihat ke arah sekumpulan orang- orang Hyuga yang tadi sempat ia tahan pergerakannya. "Cepat bawa Toneri-san keruang kesehatan. Ia harus segera mendapat perawatan."

"Baik.., Hiashi-sama." jawabnya serempak.

Mereka segera menolong Toneri, memapahnya dan melompat ke utara. Sedikit sepi sekarang, tapi Naruto tak juga menghentikan biju modenya. Tentu saja, enam orang di sana masih berpotensi untuk menghalanginya pergi.

"Naruto-kun, to-tolong turunkan aku." Hinata ketakutan melihat ayahnya. Ia tak ingin Hiashi salah paham dan mengira Hinata menikmati perlakuan Naruto.

"Aku akan melepaskanmu Hinata, tapi nanti. Setelah kita pergi dari sini."

Kakashi mendesah, ia sangat malu pada Hiashi. "Naruto, perbuatanmu ini sudah keterlaluan."

"…"

"Lepaskan putriku Naruto. Apa yang sebenarnya kau inginkan bocah tengik..!"

"Aku menginginkan Hinata, Hiashi-an. Anda tau itu."

"Kau benar-benar licik. Kau tak berhasil menggertakku lalu sekarang ingin membawa kabur putriku begitu hah..!"

"Siapa sebenarnya yang licik disini..?"

Hiashi tak menjawab, matanya bergerak gelisah. Tak kalah gelisah dengan Hanabi yang berdiri dua langkah di belakangnya.

"Sejak awal, saat mengurus izin kedatangan mereka, anda tak berterus terang mengenai maksud dan tujuan pertemuan ini. Seorang putri pewaris klan besar akan segera bertunangan, tapi tak satu orangpun mendengar berita itu, sungguh aneh bukan?. Lalu saat Festival Hanabi, Toneri dengan begitu bangga mengiyakan pertanyaan Sai mengenai kabar pertunangannya. Tapi keesokan paginya saat dia dan orang tuanya dengan beberapa pengawal datang ke kantorku, tak satupun kalimat terlontar dari mulutnya, bahkan ayah dan ibunya kentara sekali membohongiku dengan mengatakan kedua klan hanya ingin saling mengunjungi."

Naruto memberi jeda. Nafasnya memburu merasakan emosi mulai menguasai dirinya "Kau..! Kau pasti sengaja merahasiakan ini semua dariku bukan?. Kau membodohiku Hiashi-san..! Secara diam-diam kau berencana untuk memisahkan aku dan Hinata. SEKARANG KATAKAN..! KATAKAN PADAKU SIAPA YANG SEBENARNYA LICIK DISINI…?!"

"Naruto jaga ucapanmu..!" Kakashi mengingatkan, ia membentak Naruto.

"Maafkan aku sensei, aku telah mempermalukanmu. Tapi aku tak bisa hanya diam. Aku tak ingin kehilangan Hinata."

"Huh.." Hiashi mendengus. "Kau merasa kehilangan putriku?. Sungguhkah begitu?. Bukankah kau mencintai putri dari keluarga Haruno?. Oh.. bukan, maksudku adalah mencintai istri saudaramu."

Perlahan, Hiashi melirik Sasuke yang tengah menatapnya tajam. Hiashi terseyum sinis. Ia tak peduli pada Uchiha itu. yang ia inginkan sekarang adalah Naruto. Melampiaskan kemaran yang telah lama ia tahan kepada pemuda itu.

"Aku diam bukan berarti aku tidak tau, Naruto. Walau aku tak menangkap kebohongan dari perkataanmu beberapa waktu yang lalu, tapi aku tau, ada alasan yang lebih besar yang mendasari tindakanmu mengacuhkan putriku."

" Chunin, Jounin, Hokage. Aku mengerti rasa rendah dirimu di hadapan keluarga Hyuga. Tapi bukan itu, sesungguhnya kau terlampau berat hati untuk menerima kenyataan bahwa gadis itu sudah menjadi Uchiha Sakura, kau adalah seorang yang terlalu munafik untuk mengakui perasaanmu pada putriku".

Tubuh Hinata bergetar dalam dekapan Naruto. Ia terisak, terdengar menyakitkan oleh siapa saja yang mendengarnya. Seperti sebuah kesedihan yang terlalu dalam, hingga menangisinya saja terasa sulit. Dada Hinata sesak, lehernya seperti di cekik kuat-kuat. Ia tak berani menatap ayahnya, ia sembunyikan wajahnya di dada Naruto. Hinta merasa malu, ia malu pada semua orang. Merasa dirinya begitu hina karena mencintai seorang pria yang selama ini tak pernah mengharapkannya.

"Kau pikir berapa lama aku memberimu waktu?. Berulang kali aku menolak lamaran orang, bersabar ketika mereka mencibir putriku sebagai perawan tua yang tak akan laku. Kalau bukan demi Hinata yang masih ingin menunggumu, aku tak akan sudi melakukannya."

"Aku berharap, setelah menjadi Hokage kau akan datang melamar putriku. Atau setidaknya untuk mengakui perasaanmu saja. tapi apa yang terjadi?. Semakin hari kau semakin lancang. Kau selalu menggandeng tangannya ketika berjalan bersama, kau memintanya datang ke apartemenmu untuk memasakanmu makanan, kau bahkan berani memeluknya. Kau..! Berulang-ulang kau melambungkan perasaannya dan menjatuhkannya lagi ketika kau mengingat cintamu terhadap Sakura. AYAH MANA YANG SANGGUP MELIHAT PUTRINYA DIPERMAINKAN SEPERTI ITU NARUTO...!"

Hanabi jatuh terduduk. Ia tak sanggup menahan airmatanya lagi. apa yang di katakan oleh ayahnya memanglah benar. Hinata menanggung luka hati yang terlampau dalam karena sikap Naruto yang selalu berubah-ubah. Siapapun dapat melihat, betapa Naruto amat menjaga dan memperhatikan Hinata. Tapi tak ada satupun yang akan tau, bagaimana Hinata menahan tangis kala Naruto berkeluh kesah tentang Sakura lalu mengatakan ia hanya mencintai Sakura dan tak dapat menghapus perasaan itu walau Sakura telah bersama Sasuke.

Naruto susah payah menelan ludah. Matanya sudah berkaca-kaca, wajahnya memerah, antara malu dan marah pada dirinya sendiri. Ia tak menyangka, rasanya begitu sakit memandang Hinata dalam dekapannya.

Naruto sadar dengan situasi antara ia dan Hinata selama ini. Kadang kala ia berfikir tidak seharusnya ia terlalu dekat dengan Hinata. Tapi Hinata gadis yang lembut dan sangat mengerti dirinya, ia senang saat bersama Hinata. Namun di sisi lain, ketika hati kecilnya bertanya, apakah ia jatuh cinta pada Hinata?. Yang muncul dalam benak Naruto hanya Sakura.

"Aku memang merahasiakan rencana pertunangan Hinata. Itu semua kulakukan karena aku tak ingin kau menyakiti putriku lagi. Aku muak dengan semua tingkahmu, aku sudah muak melihatmu Uzumaki Naruto."

"Su-sudah tou-sama.., hiks… ku-kumohon hentikan." Hinata mengangkat wajahnya, dapat ia rasakan air mata Naruto menghujani kulit putihnya.

"I-ini semua salah.. sa-salah Hina.. Hinata tou-sama" ucapnya tersengal.

Raut wajah Hiashipun melunak, sedih rasanya ia melihat putrinya saat ini. Gadis itu menangis tersedu-sedu hingga bahu dan kepalanya tak hentinya bergetar.

"Hiashi-san, saya ingin bicara dengan Hinata sebentar. Saya mohon izinkanlah saya untuk membawanya." Naruto memohon dengan tulus.

Hiashi terdiam cukup lama, ia tak ingin mengabulkannya tentu saja. Tapi ia melihat Hinata. Pasti tak mudah bagi Hinata untuk melupakan Naruto dan menerima Toneri. Mungkin membiarkan mereka pergi adalah keputuan yang benar. Mereka perlu bicara, mereka butuh menenangkan perasaan.

"Baiklah." Hiashi tak mengalihkan atensinya pada Hinata. "Tapi ingat, jangan sampai kau berbuat macam-macam pada putriku."

"Terimakasih Hiashi-san. Saya akan menjaga Hinata dengan baik."Naruto membungkuk hormat. Bersamaan dengan angin yang menggoyangkan jubah cakranya, Naruto menghilang dari hadapan mereka, membuat jejakan kilat kuning menyala.

"Saya mohon maaf atas kelakuan putra saya, Hiashi-san." Kakashi membungkukkan badan penuh penyesalan.

"Sudahlah Kakashi-san. Ini semua bagian dari kesalahku juga."

"Saya akan memintaa Sasuke untuk mengerahkan beberapa ANBU demi memastikan keselamatan Hinata-san."

"Terimakasih atas kepedulian anda, tapi saya rasa itu tidak perlu Kakashi-san. Naruto pasti akan mengantarnya pulang."

Hiashi tersenyum ramah, ia memandang langit yang mulai keemasan. Angin semilir mengibaskan rambutnya pelan. Ia sungguh merasa tua. Mengingat hari kelahiran putri-putrinya. Mengingat bagaimana dulu ia membuang Hinata dan memanjakan Hanabi. Hanya satu yang Hiashi inginkan sekarang, tak lain adalah kebahagiaan putri-putrinya.

.

.

.

.

Konbawa minna-san

Pertama saya mau mengucapkan terimakasih dulu pada reader atas do' untuk kesehatan ibu saya.

Ehm… sepertinya chap 6 kemarin kurang menarik ya? Visitorsnya paling sedikit di chapter 6, reviewnya juga.

Maaf ya minna-san, updatenya juga maksa. Sampai di chapter itu judulnya aja saya tulis "chapter 5 :" tapi gak adayang protes, hehehe…

Tapi saya harap chap 7 ini lebih bisa menghibur minna-san dari pada chap sebelumnya.

Terakhir, saya mengharapkan kritik, saran ataupun sekedar komentar dari minn-san di kolom review.

Terimakasih telah membaca serta mengikuti penantian dan perasaan.

Sampai jumpa di chap 8, bersiaplah dengan suasana romantis ya…