Romeo n' Romeo

Pairing : SasuNaru.

Genre : Romance

Rate : T… *diam*. Entahlah, apa ini M? Karena aku belum berani mempublish M..

Warning : Shounen Ai, AU, OOC, gaje, Lime (?), POV yang masih sering gonta ganti.. dan Don't Like Don't Read...

Disclaimer :

Naruto belongs to Kishimoto Masashi-Sensei. Jika ini punya deena, maka gemparlah dunia..

Romeo n' Juliet, selalu akan menjadi milik William Shakesphare *nggak rela*

Romeo n' Romeo. Selamanya milik Deena, setelah Uchiha Sasuke menandatangani surat pernyataan aku-nggak-mau-jadi-author-romeo-n'-romeo-lagi… XDD *dichidori*


Author's POV

*Ngintip2*

Hai.. Hai.. Kita jumpa lagi dalam cerita abal nan gaje ni, betul tak? Betul.. Betul.. Betul.. *gampared*

.

Maaf, kelamaan apdeth.. Deena bukannya hiatus, karena masih mem-publish fic lain di fandom yang sama. Tapi untuk cerita ini...

.

.

.

.

.

.

Deena merubah endingnya. Karena awalnya mau membuat ending yang sama dengan RomJul.. Tapi banyak yang nggak setuju.. TT^TT *pundung* *kicked*

.

Yosh, tanpa lama-lama, kita lanjutkan saja ya..

Hope you like the ending, guys,,,

Review kalian amat berharga dan sudah mengantar Deena sejauh ini.

.

Ah ya, sebelum lupa...

Yang mengintip mereka bukan Kakashi… Karena Kakashi matanya cuma satu. Kan Deena bilang 'sepasang' bukan 'sebuah'. XDXDXDXD

.

.

Kalau bukan Kakashi, jadi siapa dong? *tampared*

.

.

Ah… Enjoy~~

*babak belur*


ROMEO N' ROMEO

By : Deena Kazuki Aiko Tsukishiro

Chapter 6 : Forbidden Love

Last story :

NORMAL POV

Naruto seakan terbawa. Ia tidak melakukan perlawanan apa-apa saat Sasuke melakukan semua itu padanya. Sebaliknya, ia justru mendekatkan wajahnya pada wajah Sasuke. Ia membiarkan pemilik mata onyx itu mencium bibirnya dengan lembut. Mata Naruto kini terpejam untuk merasakan setiap kelembutan yang diberikan oleh Sasuke terhadap dirinya, dan mata Onyx itu pun kini tertutup untuk alasan yang sama tatkala Naruto dengan lembut membalas perlakuannya. Sementara itu, kembang api terus meledak dengan indah di langit, diatas mereka berdua.

.

.

.

.

.

dan dari jauh, sepasang mata mengawasi mereka.


.

Bunyi tetesan air hujan terdengar berirama memantul dari ujung atap dan beraturan menimpa tumpukan barang bekas tak berarti yang teronggok di tanah. Membuat musik tersendiri di pagi yang berembun. Menemani langit pagi yang kelabu dan menghibur matahari yang tidak bisa ternseyum karena perannya digantikan oleh Sang Hujan.

Dan disana, seorang pemuda berambut hitam dengan model yang tak biasa, perlahan membuka pintu alam sadarnya, dibantu oleh musik di pagi itu, suara tetesan air hujan dan dengkuran ringan.

'Ini dimana?', batinnya. Ia merasa asing dengan keadaan kamar mewahnya yang berubah menjadi sederhana.

'Kuil? Sedang apa aku di kuil?'. Setengah terkejut ia melihat sebuah patung Buddha yang cukup besar berdiri tak jauh dari atas kepalanya.

"Krrrr..."

Sebuah suara lain terdengar mengusik membran timpani si pemuda. Dan didapatinya seongggok rambut berwarna kuning menyala terpampang di dada putihnya.

.

.

"DO-DOBE?!!" seru pemuda yang ternyata bernama Sasuke itu setengah memekik. Menambah riuh soundtrack di pagi hari itu.

"Nggh… Ap-a Te-Teme?" tanya pemuda pirang yang dipanggil Dobe setengah mengantuk.

"Bangun, Dobe!! Kau berat, tahu!!" seru Sasuke ketus.

Si pemuda pirang yang ternyata bernama asli Naruto tersebut menggerakkan badannya menuruti ucapan Sang Uchiha. Entah kenapa, Sasuke merasa sebuah kenikmatan saat Naruto menggerakan badannya. Selimut tipis yang membalut mereka berdua terjatuh dan membuat semuanya jelas.

.

Mereka menyatu.

.

Menyatu seperti anak kunci dengan gembok, ataupun kail dengan bibir ikan yang terpancing. Sasuke mendesis. Tak ingin kehilangan kenikmatan yang mampu membuatnya 'terbang'. Ia pun menarik tangan Naruto dan mendorong badan pemuda itu berulang-ulang. Hingga pemuda itu terbangun karena merasakan sakit di tempat yang tak seharusnya.

.

.

"Ngh? A-apa yang kau lakukan Teme?!!!!" seru Naruto sambil berteriak menahan perih dan menendang Sasuke.

CLOP

Bunyi asing terdengar agak samar ketika Naruto berusaha melepaskan dirinya pada Sasuke. Ia terduduk dan menutupi dirinya dengan selimut tua yang tipis di ujung ruangan. Mata birunya basah, menatap nanar pada Sasuke yang masih belum berbusana.

"Apa yang kamu lakukan, Teme?!!!"

Sasuke diam. Ia bisa merasakan amarah dalam pertanyaan pemuda yang baru menjadi kekasihnya malam tadi.

Ia sendiri masih coba mengingat. Mengapa ia di tempat seperti ini, tanpa busana, dan menyatu pada pemuda pirang ini.

.

Kembang api.

Hujan.

Dan sebuah kuil tua.

Tiga hal yang terbesit di otaknya membuat ingatannya kembali jelas. Ia mengerti semuanya. Hujan yang turun dengan derasnya mengguyur Konohagakure sesaat setelah pesta kembang api berakhir. Semua orang berlarian, memikirkan diri mereka masing-masing. Sementara itu dirinya dan Naruto hanya berteduh di bawah sebuah pohon tua.

Ia tersiksa, sungguh.

Tersiksa melihat Naruto menggigil kedinginan. Kimono oranye terangnya sangat basah. Hujan yang semakin deras menggetarkan bibir pemuda berkulit tan itu. Ingin sekali rasanya memaki Sang Pencipta, karena menurunkan hujan disaat yang tidak tepat. Tapi itu salah. Hujan adalah anugerah, setidaknya, Ibunya selalu mengajarkan bahwa apa yang diturunkan Tuhan adalah anugerah.

Tanpa berfikir panjang, ia menggamit tangan kekasihnya, mencari sebuah tempat, berlindung dari guyuran yang tak henti menerjang. Hingga didapatinya sebuah kuil tua.

.

Di dalam sana, mereka menyalakan api di sebuah tungku tua di tengah ruangan, seperti zaman-zaman dahulu. Di dalam kuil tertinggal inilah mereka mendapatkan kehangatan. Hingga semuanya menjadi samar dan diluar batas saat mereka duduk berhadapan tanpa busana. Tujuan awal yang hanya menanggalkan busana dan mengeringkannya berubah drastis.

Tidak.

Mereka tidak lagi merasa dingin, karena mereka memanaskan diri masing-masing di atas sebuah dipan tua terbengkalai. Bunyi berderit, dan erangan menyatu dengan irama hujan.

~~xxxOoOoOxxx~~~

.

"Ceh." Sasuke memalingkan muka.

"Hei, Teme! Apa yang kau lakukan padaku?!!! Jangan diam saja!! Aku merasa sakit.. Kami-sama.." teriak Naruto setengah mengaduh.

Sasuke hanya diam. Melirik ketus pada kekasihnya yang terduduk di sudut. Kemudian melangkah mengambil baju mereka yang sudah kering.

.

"Hn."

"Apa maumu?!"

"Pakai bajumu. Kita pulang!!" seru Sasuke ketus.

"Heh! Aku bertanya padamu, Teme!!!" Naruto tak kalah ketus.

"Kalau kau tak bisa membungkam mulutmu sendiri, kau kutinggal!" seru Sasuke.

"Tinggal saja. Aku bisa pulang sendiri…" balas Naruto sembari mengenakan kimononya. Sesekali ia meringis merasakan perih di daerah pribadinya.

"Cih. Kau yakin bisa pulang sendiri?! Aku berani pertaruhkan rambutku kalau kau berdiri saja masih susah."

"…"

Benar. Naruto sadar bahwa dirinya memang tak mampu menahan sakit. Ia ingin menangis, tapi tak ingin ditunjukkannya.

"Ayo, pulang!" seru Sasuke dengan soknya sembari mengulurkan tangan.

"Huh!" balas Naruto membuang mukanya.

"Jangan keras kepala, Dobe!!!!"

Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Naruto.

"Aw, iya, iya, jangan asal pukul, Teme!!!" sahut Naruto menggenggam tangan Sasuke yang membantunya berdiri.

Naruto meringis pelan. Sementara Sasuke memapahnya.

"Usoratonkachi.." desis Sasuke pelan, namun perhatiannya tetap terfokus pada keadaan orang yang kini berada di sampingnya.


.

5 Hari kemudian. Konoha Elite High...

.

Suasana masih berlangsung normal. Normal? Ya. N-O-R-M-A-L. 5 huruf yang terlihat biasa saja, namun mengundang seribu kekesalan di hati seorang Uzumaki Naruto. Bagaimana tidak? 6 hari lalu ia mengalami kejadian indah dan buruk bersamaan. Menerima pernyataan cinta dari seseorang yang ia sukai memang indah, namun memberikan dirinya sepenuhnya setelah menerima pernyataan itu bukanlah hal yang baik. Terlebih lagi, setelah kejadian itu, kekasihnya bersikap seolah tidak mengenal dirinya.

"Kamu kenapa, Naruto? Kulihat akhir-akhir ini kamu murung.." tegur Sakura sambil merapikan buku catatannya di meja Naruto.

"Tidak apa-apa."

"Ada masalah dengan Uchiha?"

"Tidak. Aku bisa mengatasinya."

"Benar?"

"Ya."

Naruto beranjak dari duduknya.

Sungguh. Saat ini ia tidak ingin membicarakan apapun tentang Sasuke.

"Naruto, mau kemana?" Sakura mulai panik melihat sahabatnya berubah dingin.

"Atap." Hanya sepotong kata itu yang terucap dari bibir Naruto.

Sakura mengerti. Ini bukan saat yang tepat mengorek untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.

.

"Kenapa dia?" tanya Gaara setelah Naruto benar-benar tak tampak sosoknya.

"Biasa. Masalah dengan Uchiha.." jawab Sakura menghela napas terberatnya.

"Grr... Uchiha itu! Tak akan kuampuni!!!" amuk Kiba.

"Sabar, Kiba. Kita jangan seenaknya mencampuri urusan mereka. Biarkan mereka menyelesaikannya," usul Tenten yang diamini Sakura dan Gaara.

"Sini, kubantu kau merapikan buku-bukumu. Sebentar lagi Oro-chan masuk." Rock lee tiba-tiba berdiri di sebelah Sakura.

"Ah, Arigatou, Lee-kun.."

Melihat pemandangan berwarna merah muda itu, darah Kiba berdesir. Ia merasa kurang dihargai disini.

"Sas, kamu bantu aku juga dong. Dukung kek, atau apa, gitu…" pinta Kiba pada Sasori yang asik mencoret-coret bukunya.

"Hhhh..."

"Sas, kamu kenapa?"

Yang ditanya hanya membuang nafas berat.

"Percuma. Ia tidak akan mendengarkanmu. Sejak festival hanabi, ia jadi seperti itu," sahut Gaara.

"Dia patah hati?" tanya Tenten. Gaara hanya angkat bahu.

"Hanabi itu mengubah dua dari kita bertujuh. Apa lagi yang akan terjadi?" tanya Kiba sambil memainkan tangannya di saku celana.

"Entahlah. Saranku, kita harus duduk. Apa kalian tidak melihat Oro-chan sudah berdiri di pintu?" tanya Sakura kembali ke tempat duduknya.

Seketika itu, Kiba, Tenten dan Gaara kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Gaara menoleh ke bangku disebelahnya. Pemilik bangku tersebut belum kembali dan pemilik bangku disebelah Neji yang duduk di sebelahnya juga tak ada.

"Naruto belum kembali?" bisik Kiba.

"Seperti yang kau lihat. Nara mana?" tanya Gaara setengah berbisik sembari menunjuk bangku kosong di samping tempat duduk Kiba.

"Entah. Dia jarang masuk..."

Tiba-tiba, suasana mencekam menyerang mereka berdua saat sebuah tatapan yang tajam mengarah ke mereka.

"Fufufufufu..."

Suara desisan ular setelah suara tak penting yang membuat bulu kuduk berdiri itu membuat anak bertato dan berambut merah ini mengerti.

.

.

Bahwa guru mereka mengawasi.


.

Naruto melangkahkan kakinya menuju atap. Namun, niat itu diurungkannya saat dirinya membuka pintu dan melihat sosok emo yang berdiri membelakanginya. Pemuda emo itu memegang teralis pagar dengan tak semangat. Sangat hening disini, hingga Naruto dapat mendengar pemuda itu menghela napas, kemudian ia juga sadar, bahwa mungkin jantungnya yang berdegup kencang kini sudah terdengar di telinga pemuda itu.

Benar saja.

"Naruto?" Sasuke menegurnya. Tepat saat ia akan pergi dari hadapan pintu itu.

Naruto menoleh.

"Kau masih mengenaliku?" tanya Naruto berusaha dingin. Namun di dalamnya masih tersirat kekecewaan, rasa sesak yang menggunung, dan rasa rindu.

"Hn."

"Sedang apa kau disini, Teme?"

"Bukan urusanmu."

"Oh, ya sudah. Aku kembali ke kelas dulu, Ja—"

"Siapa bilang kamu boleh pergi?" tanya Sasuke.

"Heh? Sejak kapan kamu mengaturku?"

"Sejak kau menjadi kekasihku. Lagipula ini sekolahku, aku berhak mengatur disini.." Sasuke berkata dengan sok-nya hingga Naruto mendatanginya dengan langkah yang tak biasa.

.

BUAGH!!

Sebuah pukulan mendarat di pipi mulus sang Uchiha.

"Kekasih?! Beraninya kau berkata 'kekasih'. Tapi apa sikapmu kepadaku, Uchiha Sasuke? Masih kenalkah dirimu? Sudah puaskah kau menyakitiku dan teman-temanku?!" seru Naruto menghujamkan pukulan pada wajah pemilik rambut model pantat ayam itu.

"Apa tujuanmu?! Kau ingin kami bertujuh pergi dari sekolah ini?! Sakit, Teme!!! Dibenci seseorang yang tak pernah kau benci?!!" Naruto terus memukul Sasuke. Tak mengizinkan kekasihnya itu berbicara, bahkan dengan murkanya, Sang Uzumaki melukis jejak darah pada wajah putih Sasuke.

.

BUAGH!!

Sebuah pukulan dilayangkan Sasuke pada wajah Naruto. Membuat pemuda pirang itu terjembab seketika. Cairan merah mewarnai sudut mulut dan bajunya. Kini penampilannya sama dengan pemuda emo yang berdiri di depannya.

"Kau tak lebih kuat dariku, Dobe. Jangan coba-coba!!" seru Sasuke membuang salivanya yang berwarna merah kental.

"Cih. Apa yang kau inginkan, pantat ayam? Kami bertujuh keluar? Baiklah." Naruto berdiri. Ia menguatkan kakinya untuk menghadapi Sasuke yang terus menatapnya tajam.

"Bodoh." Sasuke menatap Naruto yang sedikit gemetar di hadapannya.

"Cih." Naruto menyeka bibirnya dan merapikan seragamnya, meskipun warna merah itu tak akan hilang. "Sayonara, Teme..."

Dengan sigap, Sasuke menahan langkah Naruto dan menggenggam tangannya. Tepat saat Naruto akan pergi meninggalkannya.

"Lepaskan, Teme! Aku mau ke kantor Jiraiya-sama sekarang juga!!!" bentak Naruto setengah meronta.

"Apa kau tahu, Dobe…"

Naruto mengurungkan niatnya. Ia bahkan berhenti untuk menoleh si pemilik suara. Bukan karena ia memanggilnya. Tapi karena suara sok itu meredam. Berubah menjadi bisikan kecil yang hampir kasat telinga.

"…Aku tersiksa jika kau tak ada."

Iris berwarna biru langit itu membesar. Pertahanan tubuhnya hampir hilang. Hal baru yang didengarnya. Sasuke? Sasuke merasa tersiksa kalau dirinya tak ada? Wow. Sebuah pengakuan yang bisa menggemparkan Konoha Elite High.

"Permainan apa lagi, ini?"

"Kau tak percaya, Dobe?"

Naruto menggeleng.

"Hn. Terserah. Aku sudah mengatakannya."

.

.

Kesunyian menyergap mereka. Cukup lama. Hingga Naruto menyunggingkan senyum lebarnya.

"Baka Teme. Aku percaya.." sahut Naruto sebelum akhirnya ia melangkah pergi tanpa ditahan lagi oleh Sasuke.

Sasuke menunggu. Menunggu hingga sosok itu menghilang dari pandangannya. Agar ia bisa menyunggingkan sebuah senyum tipis di wajah stoic-nya.

.

~~xxxOoOoOxxx~~~

15 menit setelahnya...

.

"Sampai kapan kau akan diam?" tanya Sasuke pada sebuah tandon air yang cukup besar di atap sekolah.

"Kau menyadarinya?" jawab tandon air itu.

"Hn. Jadi, apa ada komentar, Shika?"

Seorang pemuda menyembulkan kepalanya. Menatap Sasuke yang kini menyembunyikan senyum di wajah stoic-nya.

"Cih, merepotkan."


NARUTO'S POV :

.

Hari yang indah. Setidaknya itulah yang kurasakan saat ini. Aku berbaikan dengan Sasuke, meskipun mendapatkan sebuah souvenir. Tapi tak apa. Aku rasa, ia tulus mengatakan semuanya tadi siang.

"Sepertinya kau sudah lebih baik, Naruto." Sakura merangkul bahuku sambil tersenyum.

"Ya, begitulah."

"Apa kamu akan baik-baik saja? Setelah Kakashi-san melihat itu?" tanya Tenten menunduk bajuku yang ternoda cairan merah yang pudar.

"Kuusahakan ia jangan sampai tahu."

"Setidaknya kau beruntung, Naruto..." sinis Gaara melihat Sasori yang kehilangan semangat.

"Masih memikirkan dia, Sas?" tanya Naruto menepuk lengan Sasori. Ia ingat kejadian waktu Hanabi. Saat wani errr—pria incarannya ternyata memilih orang lain.

Sasori mengangguk pelan.

"Aku tahu pasti berat. Tapi kamu harus melangkah maju!!" seru Lee berapi-api. Aku hanya tersenyum dan melangkah ke pintu rumahku.

"Sampai besok, teman-teman…" pamitku sambil memutar kenop pintu.

"Sampai besok, Nar—"

Aneh.

Ucapan mereka terpotong disaat yang tidak tepat. Entah kenapa, bulu kudukku berdiri dan melihat sosok pria bermasker memandangku dengan marah. Aku belum sempat menelan ludah, tiba-tiba tubuhku ditarik olehnya, dan dihempaskan pada sebuah kursi kayu tua. Sayangnya, kursi kayu itu menolak kehadiranku dan justru membuangku ke lantai.

"SEJAK KAPAN KAU JADI PEMBOHONG, NARUTO?!" bentak Kakashi-sensei berang.

Aku bahkan tak tahu apa yang sudah terjadi.

"Pe-pembohong? Apa maksud Kakashi-sensei?" tanyaku bingung.

"Sejak kapan kau dekat dengannya?"

"Dengan siapa?"

"Teman yang menjemputmu saat perayaan Hanabi."

DEG.

Aku terkejut. Namun aku harus tenang.

"Oh, Abura—"

".. Uchiha Sasuke.." potong Kakashi-sensei cepat.

Tidak. Bagaimana ia tahu? Aku bisa mati kalau sampai Kakashi-sensei tahu. Kuso~~

"A-apa maksudnya, Ka-kakashi-sensei? A-aku tidak pernah bertemu dengan Sasuke.."

Sial. Suaraku terbata, dan Kakashi sensei memandangku dengan tatapan malas. Tatapan yang paling kubenci.

"Kau mengingkari janjimu, Naruto. Mulai hari ini, tak akan kuizinkan kau sekolah dan bertemu dengannya!!" perintah Kakashi-sensei.

Tidak. Aku tidak mau.

"Tapi aku ingin sekolah, Kakashi-sensei. Lagipula aku sudah berjuang agar dapat beasiswa kesana.."

"Lima hari lagi. Kau akan aku pindahkan ke sekolah lamamu. Jauh dari Uchiha.."

"Ta-tapi Kakashi-sensei.."

"Masuk ke kamarmu. Jangan sampai aku berteriak. Cepat!!" seru Kakashi berang.

Aku mengambil langkah seribu menuju kamarku. Di depan pintu kamar, aku hanya menghela nafas. Kini giliran Iruka-sensei yang disemprot Kakashi. Aku bisa mendengarnya walaupun samar-samar.

".. Memalukan. Memalukan nama Namikaze...sudah begitu, mereka berciuman?! Dia kira kita tidak tahu...urus kepindahannya. Aku tak ingin dia mendekati Uchiha. Untung saja bocah tengik itu tidak jenius. Beraninya dia mengintip Naruto yang tidak masuk sekolah dengan menunjukkan jaket berlambang kipas merah itu heh?"

.

Aku menghempaskan tubuhku ke kasur.

Aku tak ingin pindah.

Aku tak mau kembali ke sekolah lamaku.

Aku tak ingin berpisah denganmu,

..Sasuke...


SASUKE'S POV.

.

"Apa-apaan ini?! Tak kusangka kau berbohong padaku, Sasuke!" seru Tou-san saat ia baru keluar dari dalam ruang bacanya.

"Berbohong apa, Tou-san? Aku tidak berbohong!" balasku lebih keras.

PLAAAK.

Tou-san menamparku. Ia sudah memarahiku di hadapan orang banyak, dan kini ia menamparku. Kami-sama, aku bahkan tidak mengerti.

.

Ya. Kini aku, seorang Uchiha Sasuke sedang diadili. Ayahku yang baru saja 'bersemedi' di ruang baca, tiba-tiba keluar sambil marah-marah. Sebuah bingkai foto dibanting ke lantai. Aku hanya bisa diam menatap bingkai foto yang kacanya berserakan kemana-mana.

Aku mengelus pipiku pelan. Kupandang foto itu. Seorang pria berambut kuning sedang tersenyum lebar. Aku merasa mengenali pria itu. Dalam kupandangi gambar itu hingga Tou-san menegurku.

"Apa yang kukatakan tentang Uzumaki?"

"Ja-jangan mendekatinya. Karena mereka tidak pantas bergaul dengan kita, dan mereka mungkin akan dapat mendatangkan kesialan bagi kita."

"Lalu kenapa kau melanggar?"

"Melanggar ap—"

"Jangan kamu kira aku tidak tahu apa yang terjadi saat Hanabi. Kau pergi bersamanya kan? Bersama Naruchan yang ternyata anak Uzumaki.. tidak. Anak Namikaze?!!" seru Tou-san berang.

"..."

Hanya disinilah aku, seorang Uchiha Sasuke, pria yang paling dingin seantero sekolah, hanya bisa terdiam. Terdiam menelan kata-kata seorang Uchiha Fugaku, orang yang paling kaya di Konohagakure. Di sekeliling kami, beberapa pengawal mendapatkan tontonan gratis, dan Aniki berdiri bersama Kaa-san di ujung ruangan. Aku bersumpah, setelah ini akan kubuat para pengawal itu tidak bisa menikmati hidupnya dengan tenang...

.

"Mulai besok, kau akan dikawal 24 jam penuh. Saat kau belajar, makan, bermain, semua hal yang kau lakukan akan dicatat dan jika masih terdapat waktu kau berdekatan dengan anak itu, aku bersumpah akan mengeluarkannya dari sekolah."

...atau tidak. Justru hidupku yang menjadi tidak tenang.

.

"Tou-san... Aku bukan anak kecil!!" seruku menentang.

"Bukan anak kecil?! Meletakkan foto anak itu dibawah bantal, bukan tingkah anak kecil?! Katakan sejauh mana kau sudah berhubungan dengan anak itu?!!" Tou-san tak kalah keras.

Aku terdiam. Kami sudah melampaui batas.

"Masuk kamarmu, Sasuke! Jangan harap kamu bisa bersama anak itu lagi!!" perintah Tou-san.

Aku melangkahkan kaki menuju kamarku. Aku tak menoleh, namun bisa kurasakan pandangan menghiba Kaa-san dan Aniki mengikutiku.

~~xxxOoOoOxxx~~~

.

Aku menutup pintuku erat-erat dan bersandar di belakangnya. Hari ini, aku merasa sangat lemah. Di hadapanku, bingkai foto Dobe yang kuletakkan di bawah bantal menjadi hancur berkeping-keping. Foto itu sobek menjadi serpihan-serpihan kertas yang hampir mustahil untuk digabungkan kembali.

Aku membereskannya dan menatap miris foto Dobe yang tersenyum lebar itu.

.

Katakan padaku, bagaimana aku harus melewati semua ini,

Naruto?

To be continued…


A/N :

TBC? To be continued? Jadi ini bukan ending? Terus endingnya kapan? Masih berapa chap—*dibekep*

.

Gomenne, reader.. Aku belum bisa mutusin endingnya disini. Masih ada 15 chapter lagi. *ditendang*

.

Bercanda.. nggak sampai sebanyak itu.

Oh ya, sedikit mau ngejelasin.

Foto yang dibawa Fuga itu fotonya Minato. Nyehehehe, ternyata diam-diam Fuga masih menyimpan foto Minato... *ketawa setan* *ditusuk Fugaku*

.

Ah, ya sudah deh.. Aku hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari Typo. Dan kalau misalnya ada Typo, aku minta maaf.

Untuk kata 'napas', aku hanya mengikuti EYD saja. Karena katanya EYD yang benar adalah 'Napas' bukan 'Nafas'.

.

.

Akhir kata, Review please, jadi aku bisa segera menamatkannya.

Arigatou~~

D.

~~xxxOoOoOxxx~~~

Naruto : Tunggu. Siapa yang mengintip kami berdua? Keluarganya si pantat ayam atau orang suruhan Kakashi-sensei?

Deena : Entar juga tahu sendiri. Ja~~ Naruto…

*ngilang*

Naruto : *cengo*