Disclaimer: I don't own bleach. I don't have enough money to buy bleacher, so I only brought a hand soap, seriously.
This chapter is brought to you by my first laptop I ever have since I was born :DD Enjoy, folks.
.
.
.
.
Sebuah ruangan aula yang besar terlihat begitu sepi dan gelap tanpa ada seorang pun di dalamnya. Sebuah suara kaki yang terdengar menggema di ruangan tersebut membuat suasana menjadi semakin mencekam. Sesosok lelaki bertubuh kurus dan tanpa ekspresi terlihat samar-samar berjalan di ruangan tersebut menuju ke tengah ruangan. Kemudian ia berlutut dan membungkukkan kepalanya hingga hamper menyentuh lututnya sendiri, "saya telah datang, sesuai perintah anda, Aizen-sama."
"Terima kasih telah datang dan selamat datang kembali ke Las Noches," suara tersebut berasal dari atas. Ulquiorra mendongak, menyapukan pandangannya ke tahkta Las Noches, tempat suara tersebut berasal. Di atas kursi tahkta yang besar itu, duduklah seorang pria dengan rambut cokelat, dan mata cokelat yang dingin. "Ulquiorra-kun. Kusangka kau takkan pernah datang." Ia berkata begitu sambil tersenyum, tapi yang ada di wajahnya bukanlah senyum ramah, melainkan senyum licik, seolah ia menyembunyikan sesuatu yang besar dan jahat. Rambutnya disapukan ke belakang, menyisakan beberapa helai rambut cokelat menjuntai ke wajahnya. "Aku telah mendengar kabar bahwa permatanya diambil oleh empat tikus—dan bahwa kau gagal membunuh Kurosaki Ichigo, sesuatu yang telah kuperintahkan. Apakah itu benar?"
Walaupun sebenarnya ia gugup, wajah Ulquiorra tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun. Mata hijaunya tetap kosong dan ekspresinya tetap dingin. "Itu benar, Yang Mulia. Saya sudah mengincar kepala Kurosaki dengan panah, tapi pria itu melihatku dan membutakanku dengan sinar matahari yang memantul dari pedangnya. Maafkan ketidak becusan saya. Saya berjanji akan membunuh Kurosaki lagi apabila saya kedua kali melihatnya."
"Kurosaki takkan memperlihatkan wajahnya lagi semudah itu," kata Aizen. Ia bangkit dari tahktanya dan berjalan menuruni tangga untuk mendekati Ulquiorra yang masih berlutut. "Ia tahu ia telah melakukan kesalahan fatal dengan menculik sang Puteri. Bila ia memperlihatkan wajahnya lagi, sudah dipastikan ia pasti akan segera ditangkap oleh Senbonzakura. Tapi sudahlah. Aku sudah tidak peduli lagi pada putera Isshin itu. Yang lebih penting sekarang adalah permatanya. Putera Isshin telah mengambil permata yang seharusnya jadi milikku. Aku ingin dia dan tiga tikus lainnya mati dan aku ingin permatanya ada di tanganku."
"Itu akan segera dilaksanakan, Yang Mulia." Kata Ulquiorra sambil kembali menundukkan kepala. "Saya telah bersumpah untuk selalu setia kepada Aizen-sama. Keinginan anda adalah tugas saya."
"Bagus, Ulquiorra. Inilah sebabnya aku mengirimmu duluan ke garis depan Guardians." Kata Aizen sambil membalikkan badan dan kembali menaiki tangga menuju tahktanya. "Aku juga telah memberimu perintah lain. Kalau tidak salah, aku mengatakannya pada Grimmjow."
"Ya. Untuk membunuh Jyuushirou Ukitake. Saya telah melaksanakannya. Saya menusuk bagian hatinya dari belakang. Bila ia masih hidup, ia pasti akan mati kehabisan darah." Kata Ulquiorra.
Mendengar hal itu, alis Aizen berkerut. "Maksudmu, dia belum mati?" tanyanya dengan penuh curiga.
Ulquiorra tetap menundukkan kepalanya sehingga Aizen tidak bisa melihat ekspresi seperti apa yang ada di wajahnya. "Sayangnya, saya tidak sempat memberikan serangan terakhir, Yang Mulia. Ketika saya hendak melakukannya, teman-temannya datang dan memberi pertolongan. Saya rasa—"
"Ini pertama kalinya kau gagal melaksanakan tugasmu dua kali berturut-turut dalam sehari, Ulquiorra." Nada keras dalam suara Aizen terdengar begitu kental bagi Ulquiorra. Kemudian ia mendengar suara langkah kaki Aizen mendekat kembali ke arahnya. Ulquiorra bisa merasaka bahwa rajanya itu mengkerutkan dahi terhadapnya dengan rasa tidak senang. "Jangan buat aku menyesali keputusanku untuk memasukkanmu ke dalam garis depan Guardians, Ulquiorra. Nampaknya kemampuanmu sudah berkarat."
"Yang Mulia, saya bersumpah akan membunuh Kurosaki Ichigo dan ketiga tikus tersebut. Semua kesalahan ini akan saya tebus dengan membawakan anda kepala Kurosaki Ichigo." Kata Ulquiorra dengan serius. Bagi Ulquiorra, mengecewakan Aizen adalah sebuah dosa, sebuah pantangan. Ia benar-benar mengikuti dan setia pada pria licik tersebut hingga akhir hayatnnya.
Mendengar sumpah Ulquiorra tersebut, hati Aizen melunak—itu pun bila ia masih memiliki hati. "Baiklah. Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Bawakan aku jantung dari Kurosaki Ichigo. Jangan kembali sebelum kau membawanya. Kegagalan berarti mati. Kau, sebagai tangan kananku yang paling kupercaya, seharusnya sudah mengerti itu, bukan?"
"Saya mengerti, Aizen-sama."
.
.
.
.
Byakuya menatap kedua orang di hadapannya dengan pandangan terhibur. "Kalian sungguh mengingatkanku pada Kurosaki. Kalian benar-benar tahu kapan dan bagaimana membuat kemunculan kalian menjadi menghebohkan."
Urahara meringis, "kurasa kau juga tidak tahu kalau Yachiru sudah membuat jalan-jalan rahasia di istanamu tanpa sepengetahuanmu."
"Apa?" di hadapan teman-teman lamanya, Byakuya menunjukkan ekspresi tidak percaya. "Kapan dan bagaimana bocah itu melakukannya?"
"Sejujurnya, kapan saja bisa." Jawab Urahara dengan santai.
"Dengan sikapmu yang super cuek seperti itu, bahkan Zaraki pun bisa melangsungkan pertarungan berdarah di istana ini diam-diam." Tambah Yoruichi sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Kedua alisnya sedikit mengkerut. "Kau benar-benar harus mengubah sikap cuekmu itu, Byakuya-kecil. Itu juga salah satu faktor kenapa Aizen bisa dengan mudah membuatmu kalang kabut hanya dengan sedikit gerakan bibir." Mendengar hal ini, Byakuya mendesah keras dan menggosok tengkuknya—hal yang sangat-tidak-bangsawan yang pernah dilakukannya. Ia mengakui bahwa ia memang sangat tidak peduli dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan tugasnya sebagai Raja, suami, atau ayah. Bahkan terkadang ia tidak mempedulikan putrinya sendiri.
"Kuakui, itu memang sebagian adalah salahku. Seharusnya aku mencari tahu tentang pria itu dulu dan hubungannya dengan keluargaku sebelum aku bekerja sama dengannya. Tapi aku sudah bertekad, aku takkan membiarkan pria licik itu mendapatkan Kerajaan yang sudah susah payah dibangun oleh nenek moyangku ini." Kata Byakuya. Ia menatap kedua orang di hadapannya dengan penuh tekad. "Aku akan melindungi Kerajaan ini walaupun nyawaku taruhannya."
Yoruichi meringis, memperlihatkan gigi taringnya seperti kucing. "Kami tahu. Itulah sebabnya kami datang. Kami dan teman-teman yang lain juga memiliki tekad yang sama. Aku yakin Masaki juga pasti menginginkan ini."
Urahara tersenyum. Ia menyembunyikan matanya di balik topi garis-garisnya dan tersenyum misterius, senyum yang seolah telah mengerti semuanya. "Kami datang untuk membantumu, Kuchiki-san. Ini bukan hanya untukmu, tapi juga untuk Isshin dan Masaki."
"Dan juga demi puterimu dan putera Isshin." Tambah Yoruichi.
Byakuya menutup mata sejenak. Mempersiapkan diri untuk apa yang akan didengarnya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mempercayai mereka—teman lamanya. Tak sampai dua detik kemudian, Byakuya membuka kembali matanya dan menatap mereka dengan penuh harap. "Aku mendengarkan."
.
.
.
.
Momo mendesah keras-keras, "Hitsugaya-sama, apa kau yakin menyuruhku untuk menulis laporan pencarian?" tanyanya tak yakin. "Saya kan cuma pelayan—saya mana bisa menulis surat formal macam ini? Saya benar-benar tak mengerti." Keluhan pelayannya itu membuat Hitsugaya memutar matanya.
"Bukankah dari tadi sudah kubilang, Momo? Panggil aku Toshirou. Dan bukankah tadi sudah kuajari cara membuatnya? Aku juga sudah membuat satu lembar—yang perlu kau lakukan hanya mengkopi saja." Kata Hitsugaya.
"Tapi, tetap saja, masa pelayan rendahan seperti saya membuat laporan pencarian? Kalau Izuru-san tahu, dia bisa marah." Kata Momo. Izuru adalah kepala pelayan atasan Momo yang bertugas untuk mengawasi pekerjaan setiap pelayan seperti dirinya.
Hitsugaya mendesah dan ia berbalik di kursinya untuk menatap gadis yang duduk di belakangnya itu, "biar kutanya kau. Antara aku dan Izuru, siapa yang pangkatnya lebih tinggi?" tanyanya.
Sebenarnya itu adalah pertanyaan retoris yang ditanyakan oleh seorang pangeran. Momo dengan polosnya menjawab, "tentu saja Hitsugaya-sama."
Hitsugaya mengangkat dagu tinggi-tinggi mendengar jawaban yang sudah pasti itu. "Nah. Kalau begitu, kau harusnya lebih cemas kalau aku yang marah padamu—dan bukan Izuru." Kata Hitsugaya seraya kembali mengkopi satu dokumen laporan pencarian lagi. "Kalau kau sudah mengerti, teruskan saja pekerjaanmu mengkopi laporan itu, Momo."
Hitsugaya tidak melihat senyum manis Momo saat ia mengatakan, "tapi kan Shiro-chan tak akan pernah marah padaku." Katanya dengan ceria.
Toushirou mendesah pasrah, "sudah berapa kali kubilang supaya tidak memanggilku dengan nama itu? Itu nama ejekan Rukia! Panggil aku Toushirou, Momo!" ia sama sekali tidak membantah pernyataan Momo karena hal itu memang benar. Ia tak bisa dan takkan pernah bisa meninggikan suaranya dengan serius pada gadis itu.
.
.
.
.
"Bangun, Kucing Manis." Suara bisikan familiar itu membuat tangan Rukia secara refleks terayun dan memukul sumber suara tersebut. Tapi sebuah tangan yang lebih cepat menangkap kepalan tangan mungilnya sebelum melakukan kontak keras dengan bagian tubuh lain. Rukia membuka mata dengan susah ketika suara bisikan itu terdengar di telinganya—bersamaan dengan nafas hangat dengan wangi musk dan peppermint yang familiar. "Lama-lama aku jadi terbiasa dengan gerakan refleksmu." Rukia membelalakkan matanya dan hendak lompat dari tempat tidur ketika berat tubuh Ichigo menindihnya, membuatnya tak bisa bergerak di atas tempat tidurnya. Rukia memerah merasakan hangat tubuh Ichigo di atas tubuhnya. Ichigo tak bermaksud apa-apa, ia hanya ingin bermain-main sedikit saja dengan Anak Kucing kesayangannya itu. Ichigo merasakan bibirnya tertarik ke atas dan ia meringis. Jantungnya berdetak keras seakan ia sedang bermain baseball. Dadanya terasa hangat, hangat yang terasa nyaman dan begitu mengundang. Ia menghimpit badan Rukia dengan badannya yang jauh lebih besar, memegangi kedua tangannya di atas kepalanya, dan tubuhnya berada di antara kedua kaki Rukia—kalau-kalau gadis itu berniat menendang 'harta berharga'nya.
"Le, lepaskan aku, Serigala Mesum!" seru Rukia dengan wajah memerah. Kali ini posisinya benar-benar tak bisa bergerak. Dengan kedua tangan berada di atas kepala seperti ini, Rukia merasa… aneh. "Lepaskan! Ini tidak pantas!"
"Dasar bodoh. Seleraku dalam mencari wanita lebih tinggi tahu." Balas Ichigo dengan tampang bosan walaupun ia juga menyadari posisi mereka saat ini.
Rukia menaikkan satu alis dengan skeptis, "lalu kenapa kau sekarang berada di posisi sugestif seperti ini bersamaku?"
Ichigo baru saja akan mengonter perkataan itu ketika ia sadar ia tak punya jawaban apapun. Ia menggeram kesal dan melepaskan pegangannya pada gadis itu, membiarkan Rukia duduk. Tiba-tiba ia merasakan pukulan keras pada sisi kepalanya. Pria itu tumbang ke bawah tempat tidur dengan benjolan di sisi kiri kepalanya. "Itu untuk yang barusan, Dasar Mesum." Kata Rukia dengan wajah sedikit pink dan ia meninggalkan pria itu tergolek begitu saja di bawah tempat tidurnya seperti sandal yang terlupakan.
Setelah terdengar pintu kamar mandi tertutup, Ichigo berkedip dan bangkit dari posisinya di lantai marmer. "Gadis itu memukul seperti pria." Gumamnya lirih sambil mengelus benjolan di sisi kiri kepalanya. Untunglah rambutnya menutupi benjolan itu. Kemudian ia meraba dadanya—tepatnya, di mana jantungnya berada. Kemudian ia mengkerutkan dahinya. Perasaan apa tadi? Kenapa jantungku berdetak keras dan… sejak kapan aku merasa sebahagia ini sejak orang tuaku meninggal? Ia menggosok rambut oranyenya dengan bingung dan frustasi. Aku… aku benar-benar tak mengerti!
.
.
Rukia menutup pintu kamar mandi dengan perasaan berdebar. Apa yang baru saja dia rasakan tadi? Kenapa jantungnya berdebar dengan ritme yang tidak beraturan? Kenapa wajah dan dadanya terasa panas? Rukia meraba pipinya sendiri dan ia segera bergegas ke depan cermin untuk memeriksa apa yang terjadi pada dirinya. Tidak ada yang berubah pada dirinya—selain kenyataan bahwa pipi dan wajahnya sedikit berwarna kemerahan. Ini semua gara-gara Kurosaki bodoh, rutuknya dalam hati, masih dengan wajah yang merah. Sekali lagi, ketika ia memikirkan nama tersebut dan pemilik nama tersebut, jantungnya kembali berdetak hebat tak keruan dan wajahnya menjadi lebih merah dari yang tadi. Apa yang tadi ingin dilakukan Kurosaki? Apa yang ia pikirkan saat mereka dalam posisi itu? Ia tidak terlihat aneh ketika ia menindih tubuhnya. Jangan-jangan tadi Kurosaki benar-benar ingin… Rukia segera menghentikan alur pikirannya sampai situ karena dia merasa hidungnya mulai mengeluarkan darah. Pikiran kotor sial, rutuknya dalam hati sambil menyeka sedikit darah yang mengalir keluar dari hidungnya.
Dalam hati Rukia berpikir, bagaimana perasaannya terhadap pria itu. Dia mengakui, Ichigo memang orang yang menyebalkan. Tapi ketika ia sudah mengenalnya lebih dalam lagi, Rukia tahu bahwa ia bersikap menyebalkan untuk menutupi rasa kesepiannya dan ketakutannya. Rukia tahu sebenarnya dalam hati, Ichigo takut bila teman-temannya meninggalkannya, bila keluarga satu-satunya yang ia miliki meninggalkannya. Karena itulah ia berusaha sekeras mungkin untuk menghidupi mereka, untuk mencari tahu ada apa di balik kematian orang tuanya. Di balik topengnya yang sarkastis dan arogan itu sebenarnya adalah seorang anak laki-laki kecil yang sendirian dan ketakutan. Rukia bertekad untuk menemani anak itu.
Diam-diam Rukia menaruh respek terhadap Ichigo. Selain karena ia mampu menghidupi keluarganya yang tersisa hingga sekarang, adalah juga kenyataan bahwa ia mampu membesarkan adik-adiknya dengan baik tanpa orang tua. Selain itu ia juga memberikan hasil rampokannya kepada orang-orang miskin. Bagi orang-orang miskin yang tersingkir dan terpinggirkan yang hidup di tepi jurang, Four Musketeers adalah Robin Hood. Mereka tak pernah mengambil barang seperak pun dari hasil rampokan mereka—karena memang Ichigo adalah orang kaya—dan semuanya diberikan pada orang-orang yang membutuhkan. Ichigo kaya bukan karena hasil rampokannya. Ia bekerja sendiri, ia memodali orang-orang yang ingin bekerja, memungut pajak dari mereka, dan membeli usaha orang untuk kemudian dijadikan miliknya sendiri. Selain itu, warisan dari orang tuanya tidak bisa dibilang sedikit. Karena seluruh Klan Kurosaki dihabisi di malam ulang tahunnya, Ichigo mewarisi seluruh kekayaan paman-bibi dan kakek-neneknya yang berharta—bukan hanya warisan orang tuanya saja. Tapi akibatnya, Ichigo, Karin dan Yuzu adalah satu-satunya anggota Klan Kurosaki yang tersisa.
Ia terdiam. Rukia sedikit merasa iba pada Ichigo. Pria itu begitu tangguh. Di malam ulang tahunnya yang ke sebelas, di mana ia harusnya berbahagia, justru adalah hari di mana ia kehilangan segalanya. Ia kehilangan seluruh keluarganya—hanya adik-adiknya dan pamannya saja yang tersisa. Sejak saat itu, Rukia tahu Ichigo tak pernah lagi merayakan hari ulang tahunnya. Di usia sekecil itu, Ichigo belajar hidup mandiri. Belajar dan bekerja, kemudian membesarkan kedua adik kembarnya. Bertemu dengan teman-teman yang bernasib sama, dengan latar belakang yang berbeda. Dengan segera membentuk kelompok pencuri hanya untuk mencari keadilan dan membantu para kaum miskin. Jika ia ditanya apakah ia mau bersanding di sisi Ichigo, Rukia akan berbohong bila ia menjawab 'tidak'.
Ia mendesah dan meraba dadanya—tepatnya di mana jantungnya berada. Tidak biasanya ia dipusingkan oleh pria seperti ini. Apa yang sebenarnya dilakukan pria itu padanya? Kenapa jantungnya selalu berdetak sedikit lebih cepat bila pria itu ada di dekatnya dan kenapa ia selalu merasa lebih tenang bila ia mengetahui pria itu bersamanya? Ia tak biasanya mati gaya bila ada pria yang mencoba menggodanya. Lalu kenapa pria ini bisa meruntuhkan seluruh tembok yang telah ia bangun susah payah hanya dengan sekali pandang? Kenapa cuma pria itu yang bisa? Kenapa ia bisa membuat jantungnya berdebar hanya dengan sekali pandang atau sedikit sentuhan? Tolong beritahu aku, Kaien-dono, pintanya dalam hati. Aku benar-benar… Rukia mengigit bibir dengan frustasi dan mencengkeram kerah bajunya dengan erat, seolah itu bisa membantunya memperoleh semua jawaban. Aku benar-benar tak mengerti!
.
.
"Oooh, jadi kau ingin tahu apa perasaan itu?" Tanya Tatsuki sambil manggut-manggut. "Kalau begitu, mengingat kapasitas otakmu yang sudah penuh dengan strategi-strategi semacamnya itu, aku akan menjawab langsung supaya otakmu tidak terlalu penuh. Diagnosisku adalah, kau jatuh cinta dengan sang Puteri, Ichigo!" serunya sambil mengacungkan satu jari pada Ichigo seolah dirinya adalah Shinichi Kudo yang telah menemukan penjahatnya. Sementara Ichigo menatap Tatsuki seolah ia tidak pernah mengenal gadis tomboy itu. Wajahnya menunjukkan ekspresi seolah saat itu ia sedang tidak duduk di situ. Singkatnya, setelah ia merasakan perasaan tersebut ketika berada di dekat Rukia, Ichigo segera meminta bantuan Tatsuki yang kebetulan sedang berlatih di dekat mansion. Mereka berteduh di bawah pohon di padang rumput dan dengan segera, Ichigo menceritakan apa yang terjadi. Ichigo mengharapkan jawaban yang lebih logis dan terperinci. Tapi nyatanya jawaban yang didengarnya tak jauh berbeda dan tidak lebih memuaskan dari jawaban seorang anak kecil bila ditanya apakah ia mau permen.
Ichigo memutar mata, "ayolah, Tatsuki. Kau ini anak SD atau apa? Itu kesimpulan yang paling kekanakkan yang pernah kudengar." Katanya dengan bosan.
Tatsuki mengangkat bahu. "Kau yang bertanya padaku dan aku sudah menjawabnya. Aku tak peduli kau percaya atau tidak. Atau kau mau aku bertanya pada Senna?" Tanya Tatsuki dengan senyum licik. "Perempuan itu pasti akan langsung ke sini untuk merayumu lagi, Ichigo. Kau tahu gadis jalang itu hanya menginginkan hartamu."
Ichigo segera menjadi kaku mendengar nama tersebut. "Tidak. Jangan lagi, kumohon! Sudah cukup aku berpacaran dengan gadis materialistis itu!" serunya dengan heboh sambil membentuk huruf X besar dengan kedua lengannya.
Tatsuki tertawa terbahak-bahak. Ichigo memutar mata dan tidak menggubrisnya hingga gadis itu lelah tertawa. "Aku masih tidak percaya gadis itu selingkuh dengan orang lain. Maksudku, lihat dirimu! Kau ini tampan, atletis, dermawan, punya uang yang tidak bisa dibilang sedikit, dan boleh kubilang, berpengalaman di tempat tidur—"
"Hei!"
"Itu adalah kualitas yang jarang ditemukan sekaligus di dalam diri seorang pria." Kata Tatsuki tak menggubris protes Ichigo sambil mengelus dagunya seolah dia adalah Holmes yang sedang membuat hipotesa. "Kecuali pria itu penyuka sesama jenis." Tambahnya lirih. Ia berhasil menghindar dari pukulan Ichigo berdasarkan refleks. "Tapi benar-benar, deh. Ia mengaku kalau dia itu tidak bisa menahan diri untuk tidak selingkuh. Kau tahu seperti apa dia itu, bukan? Penyebar gosip dengan segudang alasan yang iya-iya, kau tahu maksudku. Dia cuma mendekati orang lain bila ada maunya. Dia bahkan beraninya mengejek soal staminamu." Alis Ichigo mengkerut mengingatnya. Gadis jalang itu memberi alasan perselingkuhannya dengan pria lain bahwa Ichigo berstamina rendah di tempat tidur. Dikatai seperti itu—dan bahkan berkebalikan dengan faktanya, harga diri Ichigo tersengat dan ia langsung memutuskan gadis itu saat itu juga. Tapi tentu saja Senna dengan wajah polos yang dibuat-buat itu memohon untuk bisa bersama Ichigo. Tapi Ichigo bersumpah bahwa meskipun Senna adalah gadis terakhir di muka bumi pun, ia takkan memacari gadis itu."Mungkin kata-katamu benar kalau dia memang punya gangguan kejiwaan." Kata Tatsuki mengakhiri hipotesanya.
"Benar kan? Selalu pada akhirnya kesimpulanku yang benar—tidak peduli kau menyangkalnya seperti apa, pada akhirnya selalu aku yang benar. Kau harus belajar menerima kenyataan itu, Tatsuki." Kata Ichigo memanas-manasi. Ia mendapatkan sebuah jotosan di rahang oleh Tatsuki gara-gara perkataannya itu. "Kau ini bisa tidak lebih feminin?" keluh Ichigo lirih sambil mengelus rahangnya yang sebenarnya tidak sakit itu.
"Hei, kalau aku lebih feminin, nanti tidak ada yang bisa mendisiplinkan Renji." Canda Tatsuki.
Ichigo tersenyum geli. "Yeah, untuk satu kali itu kau benar." Ichigo kembali mendapatkan jotosan ke bahu oleh Tatsuki yang dengan mudah ditangkis Ichigo. "Jadi? Bagaimana diagnosisnya, dok? Gejala apa yang tadi kurasakan tadi? Katakan kalau aku punya penyakit jantung koroner, kumohon."
Tatsuki menggelengkan kepalanya. "Tidak. Diagnosisku tetap sama. Kau menderita penyakit cinta pertama, kawan. Hadapi saja dengan jantan. Lagipula kau tidak punya penyakit bawaan jantung koroner—kau membawa diabetes, bodoh."
"Kenapa kita malah jadi mendiskusikan penyakit bawaanku?" Tanya Ichigo dengan kesal. "Tidak! Aku tidak jatuh cinta pada gadis sial itu! Mana mungkin aku menyukainya. Lagipula kalau kau memang benar, mana mungkin dia menyukaiku balik? Aku kan orang yang sudah menculiknya, menawannya disini hingga dia tidak bisa bertemu orang tuanya. Mana mungkin seorang tawanan menyukai penculiknya? Ini bukan film drama."
"Mungkin saja. Seorang tawanan mungkin tidak bisa menyukai penculiknya. Tapi bukan tidak mungkin kalau penculiknya itu jatuh cinta pada tawanannya, bukan?" Tatsuki bertanya. Wajah Ichigo memerah dan lagi-lagi Ichigo merasakannya; jantungnya berhenti kemudian kembali berdetak dalam ritme yang lebih cepat. Dia merasakan rasa panas yang timbul dari leher ke pipinya. "Aha! Wajahmu memerah! Ini bukan gejala demam atau jantung koroner, kawan. Kau benar-benar sedang jatuh cinta!" seru Tatsuki sambil bertepuk tangan.
Ichigo merasakan keinginan besar untuk menjitak kepala kawannya itu. "Berisik!" serunya dengan heboh. Jauh di dalam hati kecilnya, dia tahu perkataan Tatsuki benar—hanya saja, untuk sementara dia takkan mau mengakuinya.
.
.
.
.
Byakuya membelalakkan matanya. "Jadi ternyata Isshin adalah…" ia tak melanjutkan kata-katanya.
"Benar. Klan Kurosaki adalah keturunan langsung dari Keluarga Raja Matahari. Aku tahu kau bukanlah orang yang percaya pada takhayul, tapi hanya keturunan langsung dari Raja Matahari saja yang memiliki kekuatan cukup untuk mengalahkan Aizen." Urahara menjelaskan. Kemudian ia melirik Byakuya dari balik topinya. "Dengan segala hormat, aku tahu kau takkan bisa mengalahkan Aizen dengan Senbonzakura selevel itu." Byakuya mengerutkan dahi, tapi ia tidak membantah fakta tersebut. "Pedang Aizen, Kyouka Suigetsu, memiliki kekuatan untuk menghipnotis total orang-orang yang melihat pelepasannya. Pedangmu yang memiliki kekuatan untuk berpencar ke segala arah saja tak cukup."
Byakuya mendesah lirih, "dan kau mengatakan padaku bahwa putera Isshin memiliki kemampuan yang selevel dengan pedang Aizen?" tanyanya dengan skeptis.
Urahara kali ini tersenyum sambil menyembunyikan matanya di balik topinya. "Anak itu berbakat, Kuchiki-san. Mungkin lebih berbakat dari Isshin. Dia memiliki pikiran yang jauh lebih cepat dan tenang daripada Isshin, dan itu memungkinkannya untuk mengasah dirinya lebih jauh dari yang pernah dilakukan oleh ayahnya." Kata Urahara. "Asal kau tahu saja, aku sendiri yang melatihnya. Anak itu benar-benar definisi sejati dari natural. Dia bisa meniti gelombang pertarungan dengan cepat dan beradaptasi dengan sempurna. Pikirannya berlari jauh lebih cepat dariku dan pedangnya… Kau belum melihat bagaimana anak itu berinteraksi dengan pedangnya, Kuchiki-san. Ia bicara pada pedangnya seperti aku berbicara padamu sekarang ini." Mendengar kata-kata itu, mata Byakuya kembali melebar.
"Tunggu dulu, bukankah yang bisa berbicara pada pedangnya seperti ia berbicara pada saudaranya sendiri hanyalah…" Kini Byakuya merasakan kebenaran menyetrumnya seperti tersengat listrik. Matanya melebar dengan kaget dan tubuhnya terasa kaku.
Urahara tersenyum melihat Byakuya bisa mencapai kesimpulan dengan tepat. "Benar sekali. Hanya Raja Matahari Hitam yang bisa melakukannya. Aku tahu kau bukanlah orang yang percaya pada takhayul, Kuchiki-san. Tapi percayalah saat kukatakan bahwa Kurosaki Ichigo adalah reinkarnasi langsung dari Raja Matahari Hitam itu sendiri."
.
.
.
.
.
.
Author's Note:
Sepuluh halaman word. That's it for this chapter, folks. Bagi anda yang masih setia mengikuti dan mereview, thank you so much for following this story :) saat ini saya sedang dalam happy mood, dan karena itulah aku memutuskan untuk apdet kilat. Aku baru saja dapat laptop pertamaku sejak lahir *ngadain pesta pribadi di kamar*, dan baru aja menghadiri kuliah pertamaku di Universitas *ngadain pesta bareng temen satu fakultas*. Meskipun cuma dapet dua reviewers, saya ikhlas karena emang dari kemarin saya sedang dalam happy mood. Ternyata kelas perkuliahan itu mirip tempat kursus yah?
I don't have anything much to say in here, since I'm in such happy mood. So yeah, ini beberapa fakta dari cerita ini:
1. Di sini, semua tokohnya punya pedang dengan nama zanpakutou masing-masing. Tapi yeah, aku akan menyebut zanpakutounya dengan 'pedang' saja, karena zanpakutou literally means "Soul Cutter" dan karena fic ini adalah AU. Tapi harap dicatat bahwa nama pedang milik masing-masing karakter adalah sama dengan canon. Ide ini baru muncul waktu aku membuat paragraf setting terakhir.
2. Ide reinkarnasi yang agak gak nyambung itu juga ide tiba-tiba yang gaje. Harusnya cerita ini agak ke adventure-nya sih, tapi kayaknya sekarang agak sedikit melenceng ke fantasy deh. Eh, well, emang gue pikirin dah. :p
3. Karakter Ichigo yang selalu ingin tahu dan mampu berpikir cepat dan tepat itu sebenarnya muncul setelah membaca fic "The First Guardian" karya Flameal Ashcrow. Yeah, fic itu menurutku adalah rekomendasi para dokter—eh, author—yang worth to read. Just search and read it, you wouldn't regret it!
4. Di sini Ichigo dan Rukia udah mulai menyadari perasaan mereka masing-masing. Cihui! *nebar confetti* Berbahagialah kalian para Ichiruki shippers! Romance is about to start! The story of destiny has already begun!
5. Ada yang setuju Aizen membunuh Ulquiorra dengan tangannya sendiri? Sejak paragraf pertama chapter ini, otakku sudah membayangkan sosok Aizen yang mencengkeram leher Ulquiorra tinggi-tinggi lalu dipatahkannya dengan sadis. That would be so epic, I think. Silakan tulis pendapat kalian di dalam review.
Sekali lagi, untuk siapapun yang masih setia mengikuti cerita ini dan dengan senang hati (maupun terpaksa) mereview, thank you so much. Author is nothing without their readers. Kurasa aku pantas cuma mendapatkan dua reviews setelah hiatus tanpa peringatan selama satu bulan. But, oh well, kita yang menabur dan kita yang menuai. Betul? Tapi ingat, aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mereview (aku hanya memaksa orang untuk membaca :D), jadi jangan beri aku flame yang isinya bahwa aku sudah memaksa siapapun untuk mereview cerita ini. Reader yang memutuskan apakah sebuah cerita itu bagus atau tidak. Anyway, enough with my blabbering. PLEASE REVIEW! XDD
