Tittle : Love Latte

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rate : T+/M-

.

.

.

Jong Woon

Ryeowook (GS)

Heechul (GS)

.

.

Warning !

Typos dimana-mana

Stay up, NO BASH ! REVIEW ne...

Happy mbaca ^^


Kim Ryeowook membuka matanya dan heran saat menyedari dia sedang berada di sebuah tempat asing. Warna hitam sangat menonjol memenuhi ruangan itu kecuali dinding yang berwarna kuning gading. Meja, pintu, jam dinding, kursi bahkan sofa dan ranjang beserta selimut yang membungkus tubuhnya juga berwarna hitam. Lampu tidur masih menyala di sudut ruangan meskipun cahaya matahari menyelisip di sela-sela tirai yang menutupi jendela.

Ryeowook menggeliat. Ia masih mengenakan pakaian semalam dan perlahan bisa mengingat sebabnya. Sekarang ia sedang berada di rumah Jong Woon, sebuah apartement dengan dua kamar, dapur dan ruang tengah. Semalam ia di bawa kemari karena Jong Woon membebaskanya dari tangkapan polisi meskipun Ryeowook masih dalam masa percobaan.

"Kau masih ingin tidur?! Sekarang sudah hampir siang!" Jong Woon berteriak dari luar kamarnya.

Sudah siang dan dia masih ada di rumah? Apakah Jong Woon tidak pergi bekerja? Ryeowook memperhatikan jam di dinding lekat-lekat. Astaga, 'aku harus bekerja' desisnya. Secepat kilat Ryeowook berkeliling kamar mencari seragam kerjanya dan heran saat dirinya tidak menemukan apa-apa. Ryeowook ingat kalau dirinya tidak membawa sehelai pakaianpun semalam kecuali pakaian yang di kenakanya. Wajah herannya kemudian berubah menjadi sangat cemas. Ryeowook membuka pintu kamarnya dan menemui Jong Woon yang duduk di atas sofa sambil menonton berita pagi.

"Bagaimana ini? Aku tidak punya pakaian?" Katanya.

Jong Woon mengalihkan pandangan kearahnya. "Besok kita ambil,"

"Besok? Sekarang aku harus pakai apa? Pagi ini antar aku kerumah Heechul untuk mengambil barang-barangku. Aku mau kerja dan seragamku tertinggal di mobil," Ryeowook kemudian memegangi kepalanya karena baru teringat sesuatu. Ia mengganti seragam kerja dengan baju pesta di mobil milik Heechul semalam.

"Ya, Tuhan! Bagaimana ini? Seragamku tertinggal di mobil Heechul!"

Bel berbunyi begitu Ryeowook selesai mengeluh. Kim Jong Woon bangkit dari duduknya dan membuka pintu dalam waktu kurang dari semenit. Ia tampak berbicara dengan seorang laki-laki beberapa waktu, lalu kembali menutup pintu dan membawa sesetel pakaian bersih yang baru selesai di laundry.

"Seragamku!" Seru Ryeowook gembira.

"Ini seragamku atau seragam baru?"

"Tentu saja seragammu. Aku mengambilnya di kantor polisi semalam," Kata Jong Woon sambil menyerahkan pakaian bersih itu kepada Ryeowook. Ia lalu menggeser sebuah kantong kertas berwarna coklat yang ada di samping pintu kamar Ryeowook kehadapan gadis itu dengan kakinya.

"Hari ini sabtu. Kau tidak kerja pada hari ini, jadi sampai besok pagi pakai pakaian ini saja dulu. Hari ini mustahil pakaianmu bisa dijemput karena halaman rumah Heechul penuh dengan wartawan." Jong Woon kemudian menunjuk televisi sambil kembali duduk di sofa. Ryeowook melirik televisi.

Berita tertangkapnya Heechul sudah tersebar pagi ini, sampai masuk SBC segala? Ryeowook bisa bernafas lega karena namanya sama sekali tidak di bawa-bawa. Seandainya Jong Woon tidak ada, mungkin Ayahnya akan sibuk datang ke kantor polisi untuk menjemputnya pulang, belum lagi keributan di kampus dan Coffee Shop yang bisa saja memutuskan untuk mengeluarkan dirinya karena reputasi yang buruk. Ryeowook menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidupnya bila Jong Woon tidak ada.

Kim Ryeowook melakukan hal yang sama seperti yang Jong Woon lakukan, menggeser kantong kertas berisi pakaian yang di berikan Jong Woon dengan kaki menuju kamar lalu menutup pintu. Ia berjalan ke lemari dan meletakkan seragamnya yang sudah rapi disana. Setelah itu Ryeowook meraih kantong kertas di lantai dan meletakkanya di atas ranjang lalu mengeluarkan isinya. Ryeowook bernafas lega, sebuah pakaian rumahan di dapatnya dengan gratis dan kelihatanya masih baru. Sweater tebal berwarna ungu yang di belikan Jong Woon untuknya sangat di sukainya. Ukuranya sangat pas dengan lengan ketatnya dan kerah bergaya turtle neck yang cukup lebar, selain itu sweater ini juga di temani sebuah celana katun yang sangat pendek sehingga tetap tidak akan terlihat bila di kenakan bersama sweaternya. Ia merogoh kantong kertas itu lagi, masih ada sesuatu di dalamnya yang membuat Ryeowook terkesiap. Jong Woon membelikanya sepasang pakaian dalam dengan ukuran yang sangat pas denganya.

'Laki-laki itu, tau darimana?' Fikir Ryeowook.

.

*YEWOOK*

.

Aroma nasi merebak membangkitkan selera. Makan nasi adalah kegiatan menyenangkan dan hari ini Ryeowook sedang melakukannya. Jong Woon baru saja selesai membuat sarapan pagi yang mereka lakukan pada jam-jam mendekati waktu makan siang. Ryeowook tidak menyangka kalau Jong Woon menantinya untuk makan bersama meskipun dia tetap selalu menyertakan embel-embel keluarga dipenghujung ucapannya. Keluarga yang baik harus menyempatkan makan bersama dalam satu meja setidaknya sekali dalam sehari. Kelihatannya Ryeowook akan lebih memilih untuk menyerah dari pada harus berdebat dengan Jong Woon selama dirinya tinggal disini. Suapan pertama, Ryeowook mendapati rasa yang mengingatkannya kembali kepada keluarganya. Sudah sangat lama ia tidak merasakan makanan yang seperti sekarang dan masakan Jong Woon cukup membuatnya merasa terpuaskan.

"Bagaimana?" Tanya Jong Woon.

Ryeowook mendehem, lalu pura-pura berfikir.

"Lumayan," Mendengar itu Jong Woon tersenyum senang.

Dia memang sengaja memasak nasi dengan beberapa lauk pauk sederhana karena saat ini dirinya sendiri juga sedang ingin menikmatinya. Nasi juga diharapkanya mampu mengembalikan semangat Ryeowook, seperti Kim Ryeowook yang tujuh tahun lalu Jong Woon kenal.

"Pakaiannya cukup nyaman, kan?"

"Lumayan," Ryeowook mematung sesaat begitu menyadari pandangan aneh Jong Woon kepadanya. Mungkin Jong Woon mengharapkan jawaban yang lebih panjang dari sekedar kata lumayan.

"Kau membelinya sendiri?"

"Iya, tentu saja. Aku membelinya saat mengantar seragammu ke laundry tadi pagi. Pilihanku tepat, kan? Sangat pas denganmu,"

"Ya…kau silahkan berbangga, pakaian seperti ini bukankah punya ukuran baku? Kau berkata seolah-olah pakaian ini di buat khusus untukku,"

Jong Woon mengunyah makananya dan menelanya sebelum berbicara. "Bust 78, weist 62,hip 80 kau fikir mudah mencari pakaian dengan ukuran seperti itu? Coba kau bayangkan, aku harus berkeliling di temani seorang SPG di supermarket dan harus mendapat pandangan heran wanita-wanita yang mungkin berfikir aku maniak karena mencari pakaian yang ukuranya nyaris mustahil" Jong Woon kemudian memasukkan makanannya lagi kedalam mulutnya.

"Tubuhmu benar-benar sudah menentang hukum alam. Pinggangmu sangat kecil untuk ukuran wanita Asia," Ryeowook terdiam sesaat. Kemudian meneguk segelas air putih
yang ada di sebelahnya dalam jumlah banyak.

Tiba-tiba saja ia merasa gugup, Jong Woon tidak sedang membicarakan sweater yang di berikanya tapi pakaian lain yang juga berada dalam kantong kertas itu. Bukan pembicaraan yang aneh, seharusnya. Tapi Ryeowook selalu merasa sensitif bila membicarakan masalah-masalah yang sepertiitu, setidaknya selama dua tahun ini dia tidak pernah mendengarkan seorang laki-lakipun menilai ukuran tubuhnya.

"Terima kasih," Gumamnya lirih.

"Ya, tentu saja kau harus begitu," Jong Woon kelihatan senang karena sekali lagi ia menang, Ryeowook kembali makan dengan lebih pelan.

"Kau tau darimana?"

"Maksudmu ukuran-ukuran ajaib itu? Kau tidak usah takut karena aku tidak pernah menyentuhmu kecuali memegang tangan sewaktu di bandara itu. Meskipun kita dulu sudah sangat sering bercinta, tapi tubuhmu usia lima belas tahun dengan sekarang sama sekali berbeda. Aku hanya melihat,"

"Melihat? Aku tidak pernah menggunakan pakaian yang menunjukkan lekuk tubuh?"

"Apa kau tidak menyadarinya? Seragam kerjamu siapa saja bisa menilai," Jong Woon menelan ludahnya begitu menyadari kalau Ryeowook agak gemetaran.

"Saat kau tidak memakai apron tentunya. Jadi kalau kau menggunakan seragam kerja tanpa apron, pakailah atau apa saja yang bisa menutupi tubuhmu," Ryeowook makan semakin perlahan, ia tidak membalas ucapan Jong Woon kali ini dan hal itu membuat Jong Woon merasa kalau hari ini menjadi beku.

"Kau sakit?" Tanya Jong Woon.

"Tadi malam, kau tertidur di mobil Heechul karena apa?" Ryeowook mengangkat wajahnya yang agak pucat.

"Semalam? Aku punya migrain, dan sekarang kelihatanya bertambah dengan flu. Kau punya obat flu?"

"Tentu saja tapi sebaiknya kita kedokter setelah ini. Cepat habiskan makananmu,"

"Baiklah," Gumam Ryeowook, diiringi anggukan lemahnya.

Ia makan beberapa suapan kecil lagi, lalu kembali bicara pada Jong Woon.

"Aku tidak suka bertemu denganmu. Demi Tuhan," Sebuah senyum menyungging di sudut bibir Jong Woon, sangat tipis.

"Kau marah padaku karena apa? Karena kau keguguran saat bersamaku? Kau fikir aku sengaja membiarkanmu jatuh waktu itu?" Gumamnya. Ia berharap Ryeowook menjawab tapi ternyata tidak. Kim Ryeowook masih sibuk memakan nasinya dalam tempo lambat dan teratur.

Beberapa menit kemudian Ryeowook mengakhiri sarapannya. Ia memandang kosong ke gelas air putih yang sekarang digenggamnya. Dia mengingat semuanya dengan jelas, saat-saat bersama Jong Woon tidak mungkin bisa di lupakan. Jong Woon baginya adalah pangeran yang datang secara tiba-tiba dan memberikan impian kepadanya. Jong Woon terlalu sering bertindak nakal menjahilinya saat Ryeowook menanyakan tentang pekerjaan rumah.

Beberapa minggu setelah pertemuan yang pertama Jong Woon memintanya untuk datang ke rumah Eunhyuk seperti biasa dan saat itu, Jong Woon melakukannya di perpustakaan rumah Eunhyuk. Ryeowook merasakan bagaimana rasanya bercinta pada usianya yang ke lima belas bersama pangeran yang jauh lebih tua di bandingkan dengannya. Saat itu dirinya merasa sangat dicintai karena pada saat yang sama Ryeowook merasa kehilangan cinta ayahnya. Ryeowook memandang Jong Woon dengan memaksakan diri untuk terlihat lebih bersemangat.

"Ayo cepatlah, antar aku ke dokter aku mau cepat-cepat istirahat supaya besok bisa kerja," Rengek Ryeowook dengan out of caracter.

.

*KAISOO*

.

Tuan Kangta tersenyum saat melihat Ryeowook datang bersama Jong Woon kerumahnya untuk memenuhi undangan perpisahan karena ia akan segera kembali ke Paris. Jong Woon sebenarnya lebih suka bila Ryeowook menelpon dan mengatakan kepada Tuan Kangta kalau ia terserang flu berat dan tidak bisa datang memenuhi undangan, tapi sepertinya Ryeowook tidak ingin membuat laki-laki tua itu kecewa. Gadis itu lebih memilih untuk berpura-pura sehat dan tetap berkeras untuk datang. Tidak ada hal lain yang bisa Kim Jong Woon lakukan selain menemaninya dan memastikan kalau Ryeowook dalam keadaan baik-baik saja.

"Kalian datang lebih cepat, masuklah," Ryeowook dan Jong Woon kemudian mengikuti Tuan Kangta masuk kedalam rumahnya dan duduk di ruang tamu.

Rumah besar ini dijaga dengan sangat ketat sejak mereka memasuki gerbang, beberapa pria berseragam dengan senjata dan Walkie talkie itu menyebar di seluruh penjuru. Bukan pemandangan yang aneh bagi Jong Woon dan kelihatanya juga begitu bagi Ryeowook. Pria yang menjaga pintu gerbang segera membukakan pintu begitu melihat Ryeowook, hal itu menandakan kalau Ryeowook sering kesini sehingga membuatnya cukup di kenal dengan baik.

"Kau terlihat pucat," Tuan Kangta menatap Ryeowook dengan iba. Laki-laki itu bangkit dari sandaranya dan mencondongkan tubuhnya kepada Ryeowook yang duduk di hadapanya.

"Kau sedang sakit? Kau tidak perlu memaksakan diri untuk datang kalau begitu,"

"Tidak," Jawab Ryeowook. "Tidak apa-apa. Hanya flu ringan dan aku sudah terbiasa dengan ini," Lanjutnya.

"Benarkah? Kau sudah minum obat?"

"Aku sudah ke dokter, bersama dengan…" Ia memandang Jong Woon sejenak lalu kembali berbicara.

"Temanku," Tuan Kangta juga memandang Jong Woon sambil berdehem seakan-akan ia sedang tidak percaya dengan ucapan Ryeowook.

"Terima kasih kau sudah menemaninya berobat," Jong Woon hanya tersenyum dan mengangguk.

"Dia menghubungimu dan mengatakan kalau kau sedang tidak enak badan?" Tanya Tuan Kangta.

"Dia tidak akan megatakanya kalau aku tidak bertanya. Semalaman dia tidak tidur dengan baik, sewaktu sarapan juga kelihatan pucat sekali," Jong Woon mencoba menjelaskan.

Ia merasakan kalau tangan Ryeowook mencubit pinggangnya. Dia pasti takut Tuan Kangta salah faham. Ryeowook harus menyesali perbuatanya karena Jong Woon meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

"Dan aku ingin memberi tahu sebuah berita gembira. Semalan dia setuju untuk tinggal bersamaku," Tawa Tuan Kangta menggema dan kelihatanya laki-laki itu turut berbahagia.

"Akhirnya kau mendapatkanya juga nak," Sambil menepuk bahu Jong Woon.

"Tidak, bu...bukan begitu," Ryeowook meralat pernyataan Jong Woon tadi.

Ia terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Jong Woon. Tapi setiap kali terlepas Jong Woon berhasil mendapatkanya lagi.

"Ini semua tidak seperti yang kau fikirkan," Ryeowook mencoba meralatnya.

"Untuk apa kau membela diri? Tuan Kangta sudah tau semuanya," Ucap Jong Woon.

"Apa?!" Ryeowook mematung. "Kau mengatakan apa...?"

"Apa lagi? Kau meninggalkanku dulu tanpa sepatah katapun, dan sekarang saat kita bertemu lagi, aku berusaha supaya kau kembali kepadaku. Walau bagaimanapun kita pernah berencana untuk pergi ke Jepang bersama-sama kan? Kau lupa?"

"Kenapa kau berkata seperti itu?" Suara Ryeowook mendesah. Ia bersandar ke sofa dan menarik tangannya dari genggaman Jong Woon sekuat tenaga.

"Lepaskan aku!" Sergah Ryeowook.

Tuan Kangta yang sejak tadi menonton tersenyum saat melihat ekspresi Ryeowook dan kenakalan Jong Woon. Ia lalu berdehem sebelum mulai bicara.

"Apa kalian butuh privasi? Kalau begitu kalian berdua ku tinggalkan disini hingga waktu makan malam tiba. Jadi bicaralah secara baik-baik anak-anak," Tuan Kangta kemudian berdiri dan masuk kerumahnya meninggalkan Ryeowook dan Jong Woon di
ruang tamu.

"Kau sudah membuatku merasa tidak enak kepadanya," Ryeowook melanjutkan gerutuannya sambil terus berusaha menarik tanganya.

"Kau tidak bisa melepaskan aku?" Tanya Ryeowook dengan selidik.

"Memangnya kenapa? Tuan Kangta adalah orang yang paling faham dengan situasi kita saat ini,"

"Kau hanya membuatnya semakin salah faham Jong Woon,"

"Tapi semua yang ku katakan memang benar," Jawab Jong Woon dengan santai.

"Termasuk kau menikah denganku?"

"Kau ingin aku mengatakan itu?" Pandangan Jong Woon semakin dalam.

Ia bisa melihat kalau Ryeowook sedang gugup dan tanganya agak gemetaran. Berontakanya melemah tapi ia terus berusaha melepaskan diri dari Jong Woon.

"Kau gemetaran, ada apa? Gugup saat ku sentuh bisa berarti kau masih menyukaiku. Sedang tidak merasakan hal seperti itu kan? Bukankah kau sudah tidak mencintaiku lagi? Kau mencintai orang lain. Laki-laki yang tinggal bersamamu itu…"

"Lepaskan aku! Jangan sampai aku memilih kabur dari rumahmu Jong Woon," Jong Woon melepaskan genggamanya. "Kau tidak akan melakukanya. Kau tidak punya pilihan lain selain tetap
bersamaku," Ancamnya.

.

*YEWOOK*

.

Ini adalah hari pertama Ryeowook kembali bekerja setelah kejadian penangkapan itu. Masih sangat pagi dan butuh penyesuaian yang khusus untuknya agar bisa menentang kebiasaanya yang sangat sulit untuk bangun pada jam-jam seperti ini. Meskipun sudah mandi dan berpakaian rapi, Ryeowook masih menggeliat dan menguap beberapa kali sebelum akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dan segera berangkat kerja.

Lagi-lagi ia harus termenung di depan cermin karena Jong Woon. Laki-laki itu menyentuhnya lagi dan kali ini sama seperti sebelumnya, membekas dan tidak mau hilang. Mengapa ia harus merasakan hal seperti ini sekarang? Ryeowook menyerah dan tidak ingin berfikir lagi. Ia segera keluar dari kamar mandi dan bersiap-siap pergi kerja. Mengenakan seragam dan sedikit Make up sudah cukup membuat Ryeowook kelihatan segar dan normal untuk segera membuka pintu dan keluar kamar. Ia mengerjapkan mata beberapa kali saat melihat Jong Woon yang berdiri di hadapanya begitu pintu terbuka. Laki-laki itu juga sudah sangat rapi. Pada hari senin seperti ini dia tentu sangat sibuk.

"Kau sudah bangun? Aku kira masih sakit," Kata Jong Woon datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa kemarin sore. Ia lalu memandang Ryeowook dari ujung rambut sampai mata kaki.

"Sudah mau bekerja?"

"Bukannya kau tau semua tentang aku? Hari ini hari terakhirku masuk pagi,"

"Ya, tentu saja. Tapi bukannya sudah ku bilang, pakailah jaket kalau menggunakan seragam tanpa apron jika tidak ingin dadamu yang besar itu di perhatikan orang," Jong Woon terdengar agak garang.

Ia berusaha menahan tawa saat melihat Ryeowook menyilangkan kedua lengan di depan dadanya dan memiringkan tubuhnya menghadap kearah lain. Dia sedang malu-malu.

"Bagaimana ini? Apa harus minta seragam baru?" Bisiknya.

"Pakaianku masih di rumah Heechul. Aku tidak punya jaket atau semacamnya," Jong Woon baru teringat dengan hal seperti itu.

Kim Ryeowook baru menginap dua malam di rumahnya dan tidak memiliki pakaian apapun selain seragam, gaun pesta dan sweater yang kemarin di kenakanya selama seharian. Jong Woon segera berbalik dan berjalan menuju kamarnya sambil berujar.

"Kalau begitu sarapan dulu. Ada roti panggang di atas meja. Aku mau siap-siap pergi kerja" Ryeowook menunggu Jong Woon sampai menghilang dan menutup pintu kamarnya.

Barulah ia beranjak kedapur dan duduk menghadap meja makan. Roti panggang dan segelas susu buatan Jong Woon di lahap pelan-pelan dengan perasaan haru. Sudah lama Ryeowook kehilangan kebiasaan sarapan dan ini pertama kali semenjak ia memutuskan untuk tinggal terpisah dengan Ayahnya.

Jong Woon membuka pintu kamarnya dengan bunyi yang keras. Tanganya membawa sebuah Jaket kulit berwarna coklat tua dan menyodorkanya kepada Ryeowook setelah ia berada dalam jarak yang dekat dengan meja makan.

"Pakailah," Ryeowook terperangah dan tidak bisa berkata apa-apa.

"Kau tidak perlu terharu seperti itu sayang," Kata Jong Woon lagi.

"Tidak ada seoranag suamipun yang suka bila tubuh istrinya jadi tontonan orang," Ryeowook menghela nafas berat, lalu mengambil jaket itu dan segera memakainya.

Setelah itu ia kembali menggigit roti panggangnya dan mengunyahnya dengan hati hati. Jong Woon masih mengira kalau dirinya seorang suami dari gadis berusia nyaris
sepuluh tahun di bawahnya?

"Kau selalu makan dengan lambat seperti ini?" Jong Woon kemudian duduk di hadapanya.

"Makanya kau merasa kenyang meskipun hanya makan sedikit, diet memang penting bagi perempuan. Tapi sekali-kali manjakan diri dengan makanan enak tanpa harus menghitung berapa kali kau mengunyah makanan,"

"Aku selalu makan enak setiap tahun, kalau aku pulang kerumah Ayahku," Ryeowook membantah dengan nada pelan.

Kim Jong Woon kembali diam dan memperhatikan Ryeowook makan sampai akhirnya gadis itu selesai dan meminum segelas susu dengan lahap.

"Sudah selesai? Kalau begitu ayo, Papa antar Mama ke Namdong-gu," Ucap Jong Woon dengan kedipan sebelah mata. Ryeowook hanya memutar bola matanya malas.

.

.

TBC


Hai !

Author datang lagi dengan chap 7, gimana pada suka?

Tadinya author bingung, mau ngelanjut tao egak, soalnya yg minat baca cerita ini kayanya dikit banget+yg Review juga dikit bingits...hiks T_T

Tapi yg udah pada review yg bikin aku semangat buat nerusin ff ini ^^, GOMAWO

See U chap selanjutnya (semoga kalian masih mau minat baca)

Syat in This Story& REVIEW please...