"Janji, ya?"
Gaara mengkaitkan kelingkingnya.
"Yang melanggar akan ditusuk seribu jarum."
Garis senyum itu menyayat hati
Tak ada yang lebih membekas daripada kehangatannya
Melengkung menoreh makna
Meninggalkan luka pada setiap ingatan ini
Nyanyian Setitik Air Hujan
Sela Waktu Yang Terbuang
Naruto©1999, Kishimoto Masashi
Nyanyian Setitik Air Hujan©2008, Zerou
Genre, Romance/Tragedy
Rating, T
Last
'Melebur, Menyatu dengan Hujan'
Lima hari telah dilewatkan Gaara di oase malam-malam itu sendirian. Shigeru mendapat misi. Akan kembali lebih lama karena misi itu tingkat kesulitan A. Ia hanya mampu menunggu gadis itu pulang di sana. Padahal seminggu lagi festival Suna no sato akan digelar. Ia ragu apakah ia dan Shigeru bisa menikmati festival itu.
Terakhir kali ia bertemu Shigeru 9 hari yang lalu. Di tempat itu pula. Di mana janjinya terhadap Shigeru diucapkan di sini –bukan janji akan menikahi Shigeru di masa depan. Itu mah mimpi anak TK dan aku bisa dihajar fans Gaara–
x x XXX xx
Gaara melepaskan kaitannya. Shigeru berdiri.
"Gaara-kun nanti pakai yukata, ya. Aku mau lihat Gaara-kun dengan penampilan lain. Aku juga akan memakai yukata, kok."
Gaara tetap diam. Dalam hatinya ia mengiyakan permintaan Shigeru. Gadis itu melangkah mendekati sumber mata air. Dekat dengan kaki Gaara. Ia mencelupkan tangannya ke dalam air.
"Nanti kita bersenang-senang di sana," ujarnya sambil mencipratkan air kolam dingin itu ke wajah Gaara, "Gaara-kun mentraktirku, ya?" pintanya muluk-muluk. Kepalanya menghadap ke air kolam lagi.
Gaara yang mukanya basah membangkitkan dirinya dan duduk di atas pasir. Telapak kaki terdekat dengan punggung Shigeru, didorongnya untuk menendang sebagai balasan perlakuan tadi.
DUK.
"Aaa–" jerit Shigeru dan...
Byuurr!!
Gadis itu terjun –sengaja ditendang Gaara–. Seluruh badannya menggenang air. Ia mengkerutkan alisnya, "Apa yang kau lakukan Gaara-kun?"
Gaara berdiri dan melemaskan otot, "Balas dendam."
Ia berjalan mendekati Shigeru. Berupaya menarik Shigeru keluar dari sana. Gaara mengulurkan tangannya.
"Ternyata Gaara-kun bisa juga, ya?" puji Shigeru sembari menyambut uluran tangan Gaara.
Syaat!
Byuurr!!
Gadis itu justru menarik jatuh Gaara kr kolam. Laki-laki itu mutlak basah kuyup. Baru kali ini dia dipermainkan seperti itu.
Semboyan 'Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi'.
"Memangnya kau pikir aku tidak bisa?"
Gaara berbalik menyiram gadis itu dengan air kolam dingin. Shigeru membalasnya. Mereka –sinting–. Malam yang dingin justru dihabiskan dengan permainan 'masa kecil kurang bahagia'. Mungkin mereka telah kebal dengan masuk angin.
Garis tipis membentuk senyum melekat pada Gaara saat ini. Shigeru menyadari itu. Ia membalas dengan senyum lebih lebar lagi juga tawa. Entah kenapa. Gaara kerasukan setan, mur di kepalanya copot satu atau sudah mulai sinting, ia menampakkan tawa bahagia pada wajahnya yang selalu beku seakan gunung es itu. Senyuman yang belum pernah dilihat oleh siapapun, baik Temari maupun Kankurou. Senyuman yang hanya diperlihatkan pada Shigeru. Saat itu juga.
Gadis itu senang melihat Gaara bahagia seperti itu.
Esoknya,
Kedua bocah bebal akan tubuhnya sendiri terpaksa harus memeluk guling lebih lama. Mereka tak diperbolehkan keluar dari kamar mereka.
Masuk angin.
x x XXX x x
Gaara sedikit geli mengingat kejadian 9 hari yang lalu. Tapi, dia juga malah kena marah Temari karena dia juga baru saja sembuh dari lukanya. Selalu mengkhawatirkan orang.
Sunyi.
Gaara merasa sepi. Meski udara dingin mengalir menimbulkan suara berisik tak dirasakan Gaara. Bahkan dengkuran seranggapun juga tak diacuhkannya. Ia merebahkan tubuhnya. Menatap angkasa berbintang yang tak bisa membuatnya normal.
Sunyi. Sepi. Sen-di-ri. (Jreng! –BGM–)
Itu hal yang dirasakan bocah bermata hijau dan bergaya gothic itu. Ada yang hilang di sisi Gaara. Seseorang yang tersenyum untuknya. Seseorang yang membuatnya normal selayaknya pemuda biasa. Seseorang yang terlalu bawel untuknya. Apa ia akan kehilangan lagi?
"Gaara-kun? Kau di situ?"
Sebuah suara masuk ke dalam gendang telinga. Otak yang tak sadar langsung merespon rangsang suara itu. Suara yang begitu dikenal dan dinanti Gaara. Bocah berambut merah itu tak merasakan kehadiran siapapun. Entah tak fokus atau telah menumpul. Shigeru telah ada di belakangnya. Hanya berbatas semak-semak. Gaara bangkit dari rebahannya.
"–Kau sudah kembali?"
Tersenyum.
"Hai... Tadaima..."
Ada yang janggal. Sesuatu telah dialami Shigeru. Dan Gaara menyadari itu.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa, semua lancar," jawab Shigeru tersenyum berkembang. Tapi lebih seperti senyum untuk dirinya sendiri. Gaara melihat itu. Senyum itu bukan yang biasa Shigeru perlihatkan.
"Kau tak bisa membohongiku..."
"–Sejak kapan Gaara-kun peka?"
Senyum tipis. Gaara hanya diam. Ia menunggu jawaban Shigeru. Menunggu Shigeru jujur mengaku apa yang terjadi sebenarnya. Cepat-cepat gadis itu berujar.
"Misi yang kujalankan terakhir ini memang lancar – Tapi, berkat itu aku jadi teringat masa lalu dan ada yang ingin kusampaikan pada Gaara-kun – Tapi... aku takut menyampaikannya..." ujarnya sembari menunduk. Menghadap pasir yang diinjaknya. Suaranya terdengar bergetar.
Gaara masih diam. Ia tak tahu apa yang akan dimuntahkan mulut gadis itu. Ia hanya berkata, "Katakan."
Shigeru menatap Gaara. Senyum pahit terkembang.
"Kuharap Gaara-kun tidak marah – tersinggung medengar ini. Aku takut itu... Tapi, kurasa Gaara-kun marah memang sudah sewajar–"
"Katakan," sela Gaara.
Shigeru diam. Ia langsung bicara lagi, "Dulu, aku tak kenal Gaara-kun. Aku juga tak mengerti kenapa anak-anak lain menghindari Gaara-kun dengan menyebut Gaara-kun 'monster'–"
Sakit. Luka itu menyayat lagi.
"Gaara-kun baik. Itu yang kulihat. Penilaianku. Tapi, aku takut... aku mengerti. Kenapa mereka lari – kenapa mereka menyebut 'monster'... Ngeri menjalar di tubuhku... otakku menyuruhku lari – tak bisa... Aku hanya bisa melihat Gaara-kun meremuk manusia dengan pasir Gaara-kun... Darah yang tercecer – masih berputar... aku tak bisa melupakannya walau aku ingin–" ungkap Shigeru.
Tangannya memegang, meremas lengannya. Menahan traumanya. Suaranya lebih bergetar. Tulang kepalanya hanya mampu ia tundukkan.
Sakit. Masa lalu menyakitkan itu muncul kembali.
"Aku hanyalah seorang pengecut – Aku takut untuk dekat dengan Gaara-kun... Kalau memikirkan suatu saat nasibku – akan sama seperti orang itu."
"Hentikan," pinta Gaara. Shigeru terus bedongeng. Ia memandang Gaara.
"Bohong kalau aku tidak takut Gaara-kun... Sejak saat itu, aku tak punya keberanian untuk bertemu Gaara-kun..."
"Wajar kalau kau takut–"
Gaara tak tahan melihat air muka Shigeru yang semakin lama tak kuat membendung air mata di pelupuknya.
"Aku baru menyadari kalau Gaara-kun kalau sebenarnya Gaara-kunmemang baik... Aku berhutang banyak pada Gaara-kun, Gaara-kun juga sudah banyak membantuku..."
Gaara terkesiap. Perasaannya tak pernah bilang kalau ia pernah menolong Shigeru. "Memangnya – apa yang pernah kulakukan untukmu? Justru aku – banyak merepotkanmu..."
Shigeru tersenyum tipis.
"Gaara-kun pernah membantuku berdiri sekalipun aku menabrak Gaara-kun hingga jatuh saat malam tahun baru, beberapa tahun yang lalu. Gaara-kun juga tidak marah saat aku kerjain di oase ini sampai-sampai Gaara-kun masuk angin 'kan? Gaara-kun pasti ingat itu. Sebenarnya ada lagi..."
"Tapi, kau juga masuk angin–"
'Flap'
Potongan puzzle itu ditemukan oleh Gaara lagi. Ia ingat. Ia pernah bertemu Shigeru di malam tahun baru. Itu memang Shigeru yang ia jumpai saat ini. Kenapa aku melupakan hal sepenting itu? Batin Gaara.
"Itu – karena aku merasa bersalah... bahwa aku telah membohongi Gaara-kun–" parasnya berubah muram. Lebih sayu. Tampak pilu seperti ketika Gaara pertama melihat gadis itu berwajah seperti itu.
"Aku percaya – kalau Gaara-kun pasti akan menepati janji untuk pergi ke festival besok..."
"Kau – tidak bisa?"
"Gaara-kun ingat apa yang dikatakan Hakkun sesaat sebelum ia pergi?"
Darah mengalir deras. Keringat dingin bermunculan.
"Ia bilang padaku kalau aku harus menyampaikan –entah apa– sebelum pergi – dan pada Gaara-kun untuk jangan menangis kalau kehilangan orang lagi."
DEG.
Was-was. Detaknya berdegum lebih kencang.
"Sekarang aku tahu, siapa yang dimaksud Hakkun untuk pergi."
Angin bersemilir menghempas tubuh dua anak itu. Gaara memandang Shigeru. Ia melangkah. Mencoba mendekati Shigeru. Perasaannya. Berharap menyentuh gadis itu. Merengkuh tubuh kecil itu. Entah kenapa. Tubuhnya hanya bergerak sesuai perasaannya. Shigeru justru berteriak.
"Jangan mendekat Gaara-kun!"
Ia menolak. Gaara berhenti sebelum ia berhasil mendekati Shigeru.
'Sraassh–'
'Pcaak'
Setetes air jatuh. Ada yang janggal.
Perlahan sosok gadis itu mulai melebur. Menetes sebagai butir air. Juga tertiup udara malam. Laki-laki itu tersentak melihat hal di hadapannya.
"Apa – yang terjadi dengan tubuhmu?"
Senyum pedih berhias.
"Ini hanya mizubushin biasa, Gaara-kun. Aku sudah tak kuat lagi – Aku yang sebenarnya masih di lokasi misi. Aku berhasil mengalahkan musuh – tapi, lukaku tidak ringan. Untuk bergerakpun sulit. Aku merasa – bahwa aku akan lenyap dari dunia ini, makanya aku mengirim bushin untuk melihat Gaara-kun untuk terakhir kalinya–"
Gaara ingin bicara. Tapi, Shigeru lebih cepat menyela.
"Gomen, Gaara-kun. Dulu aku takut padamu – aku juga minta maaf karena aku tak bisa menepati janjiku. Ramalan Hakkun terlampau tepat, tapi – aku tak menyesal mendengarnya."
"Apa yang akan terjadi – selanjutnya padamu?" tanya Gaara sebelum sempat Shigeru menyela. Ia cemas.
"–Aku hanya bisa menunggu ajalku..."
Terbelalak. Gaara bersiap-siap pergi menuju ke tempat Shigeru terluka. Bushin Shigeru mencegahnya. Leleran air mata membasahi pipi.
"Jangan pergi, Gaara-kun!"
Gaara berhenti. Berdiri dan menatap mata gadis itu penuh kekhawatiran.
"Masih ada yang ingin kusampaikan pada Gaara-kun."
"Kau bisa sampaikan nanti setelah kita bertemu di sana."
"Tidak bisa!" teriak Shigeru menahan tangis, "Gaara-kun tak akan sempat... Bushinku telah hilang separuh–"
Tubuh –bushin– Shigeru hanya tersisa sepinggang. Dua kakinya telah lenyap. Sisanya pasti akan melebur pula. Gaara tak melanjutkan kepergiannya.
"–Aku senang bisa bicara dengan Gaara-kun, berteman dan kalau aku mengenal Gaara-kun lebih dekat semenjak dulu, mungkin hubungan kita akan lebih dari ini..."
Terhenti. Lalu tersambung lagi.
"–Suki da..."
Garis-garis merah malu menempel di wajahnya. Juga laki-laki itu.
"Mengungkapkan perasaan ini saja – aku sudah cukup. Gaara-kun tak perlu menjawabnya. Aku harap kalau Gaara-kun mendapatkan orang yang lebih pantas dariku, juga hidup bahagia bersamanya. Aku juga berharap Gaara-kun lebih membuka diri pada orang lain, berteman dengan mereka. Aku ingin Gaara-kun tidak melupakan aku, sebagai salah satu dari teman Gaara-kun..."
"Tak akan–"
Shigeru tersenyum. Senyum yang selalu tertoreh pada parasnya. Yang selalu dilihat Gaara.
"Aku ingin Gaara-kun terus tersenyum, untukku juga orang lain..."
Bushin Shigeru semakin lenyap.
"Aku--tak bisa bertahan lebih lama lagi, Gaara-kun. Kuharap ini – bukan perpisahan. Kelak kita pasti bertemu. Pasti–"
'Sraaashh'
Udara mengalir lebih dingin. Mempercepat bushin melebur.
"Tunggu! Aku belum–"
Kata-kata yang dipendamnya mencekat pita suaranya. Gaara bukan orang yang mudah mengatakan kalimat itu. Sulit–.
Angin terus menghempas sisa mizubushin yang hanya tertinggal sebatas leher. Shigeru telah pasrah.
"Tunggu! –Shigeru!!"
Shigeru terkejut. Menatap Gaara. Kemudian ia menutup kelopak matanya dan membahagiakan senyum lebih lebar. Ia bahagia. Itu pertama kalinya Gaara memanggil namanya.
Tap.
Gaara mencoba meraih Shigeru.
'Sraaash–'
Hilang.
Lenyap.
Yang didapat hanyalah setetes air yang mencair dari bushin Shigeru.
Menundukkan kepalanya. Menatap air sisa bushin yang ada pada telapak tangannya.
"Padahal – aku belum menyampaikan..."
Tak ada hujan ketika itu. Langit seakan menertawakan Gaara yang kini sendir lagi. Kehilangan orang yang dicintainya.
'Pcak'
Air hangat mengalir. Jatuh. Tercampur oleh sisa bulir mizubushin Shigeru. Yang ada pada garis nasib Gaara.
Telah lama Gaara tidak menangis. Terakhir kalinya saat ditinggalkan Yashamaru. Yang membuat hatinya mati. Tapi, hatinya tidak mati. Debaran juga kebahagiaan pula sedihnya, itu merupakan perasaannya. Pilunya kali ini membuat hati laki-laki itu sakit. Menenggelamkan kenangan masa lalunya.
'Aku ingin Gaara-kun terus tersenyum, untukku juga orang lain...'
Kata itu terngiang.
"Shigeru–"
Gaara menatap posisi terakhir gadis itu. Ia bangkit. Mengusap air matanya. Ia mengerti. Kalau bukan tangisan ini yang diinginkan gadis itu. Ia akan mencoba memenuhi permohonan Shigeru. Untuk tersenyum. Untuknya juga orang lain. Meski itu sulit untuknya.
Tap.
Gaara beranjak pergi dari tempat kenangannya dan Shigeru. Beberapa langkah. Ia menengok ke belakang.
Gadis itu tersenyum tulus padanya.
Tentu.
Itu hanya ilusi semata. Gaara masih belum merelakan atas kepergian Shigeru.
"–Boku ga suki... Aku akan merindukanmu," gumam lirih Gaara. Senyum tipis tertoreh pada parasnya. Ketika menatap tempat yang hanya akan tersisa serpihan kenangan. Gaara berbalik dan pergi dari oase itu.
'Sraaash'
Malam ini terasa sangat menyakitkan bagi Gaara. Langit malam tak turut bersedih untuknya. Suara angin hanya mengejeknya. Hari semakin menjulang.
'Flap'
Esok adalah hari di mana nyanyian setitik air hujan terdengar lebih keras di antara kerumunan sosok manusia berbusana lebih gelap daripada hitam.
--
Senyum bahagia tergores dalam sudut hatinya
Setetes air hujan turun menyertai duka
Semua berakhir tanpa kita sadari
--
Last 'Melebur, Menyatu dengan Hujan' – end –
To Be Continued to Nyanyian Setitik Air Hujan Side Story
Author's Note :
BANZAI!! NSAH tamat! Selesai sudah penderitaan saia mikirin Shigeru! Gimana? Apa endingnya ketebak? Akhir yang menyedihkan memang...-tapi aku gak nangis waktu Shigeru mati-. Kematiannya emang aneh...Niatnya sih penuh keindahan -ngarep- tapi...gagal. Cuman bisa liat kalo digambar -tapi itu menyusahkan, aku gak bisa dalam sudut pandang kamera-
masih ada kelanjutan NSAH tapi lebih di fokuskan ke trio maling, itupun request sih...Kalo gak ada yang minta gak kubuatin sih..Buat AkariShimai, jadi gak? Kalo gak ada kabar kuputuskan gak kubikinin. Tolong di PM.
Yang pasti, makasih semua yang sudah mau membaca sekaligus me-review, yang baca tapi gak review, juga terlebih yang telah menjadikan fanfic ini sebagai favorit, aku benar-benar mengucapkan terima kasih. fanfic ini memang jauh dari kesempurnaan. Berkat kalian yang maou membacanya aku mampu bertahan hingga chapter ini dan mengakhirinya. Di kesempatan selanjutnya aku akan berusaha lebih baik lagi.
ARIGATOU GOZAIMASU, MINNA!!
Special Thanks:
Sora Echizen, temenku yang ngetik fanfic ini ampe akhir -yang sering ngeluh gara-gara kebanyakan kata-kata-
Reviewers,
happy-ending.Sasaji.
OchA.jiGoKuShOjo
.hoshi.na-chan.
raichan as rhodes
Yozora Ageha
Sora Aburame
Sabaku no gHee
AkariShimai
The Fire Flamer
aya-yuki
X-tee
and you, all reader.
Ja, Kobayakawa Zerou
You'll meet me at the next fanfic...xxXX
