A/N: Sudah diedit dan silahkan membaca :)
Edited: 15/6/2013
Warning: Bahasa Kasar, OOC, Typos, dll.
Bab 6
.
.
.
Shikamaru belum berkata apapun perihal keadaan Ayako, hanya tentang Ayako yang terkena racun dengan sayatan yang melintang dari bahu depan sampai hampir mengenai ketiak bagian belakang.
Tidak banyak yang bisa Hinata lakukan. Dia bukan ninja medis atau seseorang yang mengerti hal seperti ini, apalagi racun. Ia hanya bisa membantu dengan cream yang turun temurun diwariskan dari keluarganya—yang hanya bisa menutup luka yang menampilkan daging segar berwarna merah—serta menutup beberapa aliran chakra agar racun tidak menjalar. Ayako juga tidak membantu karena ia terus mengigau.
Mereka hanya bisa menunggu malam itu. Badai masih bergemuruh di luar.
.
Hari Ke 24...
.
Dini hari dan Hinata tidak bisa tertidur. Suara-suara angin terdengar menyeramkan saat suasana sepi seperti ini. Ia menekuk kakinya di bawah meja hangat dan berniat merapat atau mencoba tidur dibawah penghangat praktis itu, mungkin saja kantuk akan datang.
Tapi percuma.
Yang ada ia seperti frustasi dan membaringkan kepalanya di atas meja yang makin membuat kefrustasian itu terlihat nyata. Terus menghela napas juga tidak membantu.
Ia segera berdiri dari duduknya yang nyaman dan berjalan menjauh dari ruang tengah penginapan untuk menuju dapur. Ia mengisi ceret dengan air dan memasaknya. Ia butuh sesuatu yang hangat untuk menenangkan pikirannya; mungkin secangkir teh murahan yang tersedia di penginapan itu tidak buruk.
Hinata kembali ke ruang tengah untuk menunggu air mendidih. Ketika ia tiba, Shikamaru yang tadi tertidur di pojokan ruangan sambil menunggui Ayako yang masih tertidur sudah di dekat meja penghangat. Ia bisa melihat kalau Shikamaru seperti bersalah karena keadaan Ayako, merasa bertanggung jawab atas hal itu.
Hinata melangkah kembali ke meja penghangat dan duduk di seberang Shikamaru yang tertunduk dengan memegang pematik api berwarna silver. Ia yang terlalu memikirkan nasibnya sendiri seakan lupa keberadaan mereka, melupakan alasan ia berada di sana. Ia tidak tahu apapun tentang mereka, ia terlalu sibuk dengan dirinya dan orang itu.
"Taichou?"
Shikamaru mengangkat wajah padanya, tersenyum setenang mungkin padanya—seolah mengatakan ia baik-baik saja. Tapi ia tidak percaya.
"Kau bisa ... cerita padaku apa yang terjadi?" ia menekuk kakinya dan tersenyum pada Shikamaru, "Aku lupa, sudah berapa lama ya kita tidak mengobrol santai?"
Shikamaru ikut tersenyum dengan pandangan berpikir lalu menatapnya antara menyidir atau menggoda, "Kita memang jarang bicara di luar misi, Hinata. Yah ... kecuali saat kau menangis."
Oke ... itu di luar dugaan.
Ia tertawa canggung. Naruto? Apa semalam ia tidak memimpikannya lagi?
"Kau tahu, Taichou...? Aku rindu rumah, sepertinya. Aku rindu bagaimana matahari di Konoha, di sini benar-benar dingin," ia memeluk dirinya sendiri. Dengan begini, ia mengingat kembali pria dengan senyum secerah matahari, matanya yang indah bagai langit Konoha dan suaranya yang mampu orang mengenalinya dimanapun pria itu berada. "Apa kau juga?" ia tidak ingin membicarakan ini, sebenarnya.
"Aku tidak tahu," Taichou-nya itu menatap jauh pada jendela yang tersamar oleh salju. "Terkadang aku ingin keluar sementara dan kabur ke suatu tempat yang jauh dari Konoha lalu kembali setelah tenang."
Kabur? Meninggalkan Konoha?
"Memang kemana kau akan pergi kalau itu terjadi?"
Shikamaru tersenyum, "Rahasia."
Ia mengendus.
"Kau sendiri, kalau seperti aku, kau akan kemana?"
"Itu tidak adil, Taichou..."
"Baiklah. Mungkin aku berencana pergi ke suatu kuil di kaki gunung dan mengabdi di sana."
Ia berpikir, "Menjadi seorang biksu?" tiba-tiba tersadar dengan celetukannya tadi yang mungkin saja bisa menyinggung, "Oh, maaf. Aku hanya tidak membayangkan kau akan botak," tapi ia tertawa juga—"Eh? Ma-maaf—Hupf."
"Tertawalah sesukamu," Shikamaru kembali ke dirinya yang cuek. Lalu, "Terus, bagaimana denganmu?"
Ia berdehem, "Itu? Aku tidak tahu. Kau punya usul?"
"Bodoh. Kalau begitu, kau tidak bisa pergi."
"Oke ... aku ingin ke sebuah tempat di tengah hutan dengan danau membeku di sana," ia menjawab asal. Tiba-tiba hanya itu yang terlintas dipikirannya, entah apa hubungannya dengan orang kedua yang sekarang berputar-putar dihidupnya setelah Naruto. Ia menghela napas jengkel dan pipinya berubah merah karena dingin.
"Ada apa di sana?"
"Mungkin tempat persembunyian yang bagus?" ia juga ragu apa yang ia bicarakan. Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul. Bayang-bayang itu saling bertabrakan dan berakhir dengan pondok—gubuk reyot di hutan Negara Api. Tapi ia yakin ada yang lain dari gambar-gambar kenangan di otaknya; seakan gambar-gambar gubuk itu adalah dua tempat yang berbeda.
"Kau ingin melarikan diri?" Shikamaru menggeleng kepala prihatin, "Tidak baik meninggalkan masalah."
Hinata cemberut, "I-ini kan hanya 'Apabila' dan aku tidak akan lari. Lagipula ... kalau benar itu terjadi, ada tempat yang harus ku kunjungi sebelum pergi." Ia menerawang ke langit-langit ruangan, "Aku janji akan menemuimu bila kau benar jadi seorang biksu dan tentu orang-orang yang kusayangi yang telah tiada; Okaasan, Neji-niisan dan Hizashi-jiisan."
"Bagaimana keluargamu?"
"Te-tentu mereka tahu kalau aku baik-baik saja, setidaknya begitu."
Lalu hening mengisi diantara mereka. Ia menunggu air yang ia masak tadi mendidih dengan sesekali menoleh ke dapur.
"Aku lihat, kau jarang bersama Konohamaru dalam satu misi. Kemana saja?"
Inilah yang ia hindari. Ia merasa sangat bersalah karena terkesan tidak serius serta menyepelekan misi ini karena ia harus berurusan dengan Uchiha Sasuke. Tidak mungkin ia menceritakan tentang Sasuke, apalagi Sasuke adalah buruan Konoha—entah bagaimana sekarang.
"Aku ... mengawasi sisi Mazushi...," padahal ia sudah lupa dengan alasan ia ada di sana beberapa hari belakangan. Bila ia seorang samurai, mungkin ia harus meng-harakiri sekarang juga. Berbohong hanya untuk Uchiha?
Tidak mungkin. Ia pasti hanya membela dirinya yang tidak kalah pengecutnya daripada seseorang pecundang yang lari dari perang.
"Kau tahu 'kan kalau Uchiha Sasuke ada di Negara Api?"
Ia mengangguk pelan sambil menunduk. Apa mungkin Shikamaru tahu tentang ia yang suka mengunjungi Sasuke?
"Fokuslah. Aku tahu kau sangat peduli dengan Naruto, tapi ia tidak ada sekarang dan Uchiha Sasuke bukanlah prioritasmu lagi."
Apa maksud perkataan Shikamaru?
Shikamaru mematik pematik apinya untuk menyulut rokok yang sudah terselip diantara bibirnya. Ia masih menatap Shikamaru dengan pertanyaan dan dijawab setelahnya, "Uchiha Sasuke bukan siapa-siapa lagi bagi Konoha."
Bukan siapa-siapa?
Ia memang memikirkan itu dulu. Sasuke adalah orang terpenting bagi Naruto, apa yang menurut Naruto penting sebisa mungkin ia akan menyukainya juga. Tapi apa Naruto akan berpikir seperti itu lagi? Setelah penghianatan Sasuke yang sangat besar dengan bergabung dengan Akatsuki serta hampir membunuh Naruto juga?
Hinata sangat membenci Sasuke, apalagi setelah Naruto menghilang karena orang itu.
Hinata akan membencinya.
Mencoba lebih benci dengan Bajingan Kelas Satu seperti Sasuke.
Mereka terdiam lagi sampai suara seperti peluit memanggil dari dapur. Hinata meninggalkan Shikamaru di ruang tengah untuk mengangkat ceret dari kompor. Saat mengangkat gagangnya tangannya sedikit terkena air panas dan segera ia bilas dengan air di westafel.
Ia memikirkannya dan memutuskan segera.
"Dia bukan siapa-siapa," katanya lirih dan berkata dalam hati, dan Sasuke hanya satu dari ribuan orang yang tidak dikenal di kota ini. Membenci hanya membuatnya sulit sendiri, lebih baik tidak menganggap dia sebagai apapun. Hubungan one night stand mereka hanya semalam dan tidak akan mengubah apapun.
Ya, tentu.
oOOo
Saat pagi menjelang dan badai mereda, mereka langsung membawa Ayako ke rumah sakit di Negara Api di distrik Menengah. Ayako segera mendapatkan penanganan khusus dan mereka bisa tenang terkecuali Shikamaru yang ada di dekat meja resepsionis—terlihat berdebat dengan dua orang berseragam polisi Negara Api.
Hinata menoleh pada Konohamaru yang juga melihat padanya dengan bertanya. Mereka menunggu di ruang tunggu sedangkan tempat Shikamaru sekarang sekitar sepuluh meter dari mereka. Karena melihat Taichou mereka makin emosi, mereka segera menghampiri mereka.
"Apa kalian gila? Kenapa kalian bisa menuduh kami seperti itu?!" Shikamaru meninggikan suaranya setengah oktaf.
"Kami punya bukti, Tuan Nara, dan ini surat dari Kepolisian kami," seorang dari kepolisian Negara Api memberikan Shikamaru surat saat mereka tiba dan mendengar perdebatan itu.
"Ada apa ini?" Konohamaru bertanya tapi diacuhkan Shikamaru yang sedang membaca surat yang tadi diberikan.
"Baiklah. Tapi biarkan Ayako disini. Dia sedang dalam perawatan dan sebagai gantinya biar aku saja."
Kedua polisi itu saling menatap dan mengangguk. Salah satu mereka yang berwajah malas dan berkumis menyetujui permintaan Shikamaru.
"Aku akan membicarakannya dulu dengan timku. Sepuluh menit saja."
"Baik."
Shikamaru langsung menyeret mereka berdua ke ruang tunggu yang agak sepi karena masih pagi. Sejujurnya mereke bingung. Kenapa bisa tiba-tiba Taichou dan Ayako bisa terlibat dengan kepolisian? Apa yang mereka berdua lakukan?
Taichou mereka terlihat sangat frustasi.
"Ada apa, Taichou?" Hinata khawatir sekali, pasalnya firasat semalam terus menghantuinya. Mungkinkah ada sangkut pautnya dengan ini?
"Aku tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Semalam kami hanya mengawasi Kantor Tim Forensik untuk mencari tahu keberadaan Otayama dan kejadian ini begitu bersamaan."
"Taichou, apa yang kau bicarakan? Lebih jelaslah, kami tidak mengerti!" Konohamaru terlihat kesal, Shikamaru entah kenapa sangat menyebalkan.
"Kami berdua dituduh mengambil benda di Gedung Pengadilan Naga."
"Apa?"
"Nanti akan aku jelaskan. Konohamaru, laporkan keadaan ini pada Hokage."
"Baik!"
Shikamaru segera berbalik tapi ditahan Hinata, "Kau mau kemana?"
"Aku harus membuat berita acara dulu dengan mereka," Shimakamaru langsung melepaskan tangan Hinata padanya tapi Hinata keburu memeluknya, "Jangan khawatir. Bila aku benar-benar dituduh, usahakan kalau kalian bebas."
"Bagaimana denganmu?"
Shikamaru hanya tersenyum.
"Hati-hati, Taichou."
oOOo
Ia sangat kesal lantaran Konohamaru memberinya kabar lewat radio pemancar di Pusat Pengiriman Surat. Hinata berlari ke tempat itu dengan tergesa-gesa karena mendengar Konohamaru terlihat marah besar.
Setelah tiba, memang benar terjadi adu mulut dengan urat-urat leher menonjol. Konohamaru tampak emosi tapi bisa mengendalikan dirinya untuk tidak memukul Petugas Pengantar Surat itu, hanya memang keadaan mulai tidak kondusif karena Konohamaru dihadang dua orang Penjaga Keamanan di sana—mengalangi Konohamaru untuk menyentuh salah satu pegawai di sana.
"Kenapa kalian tidak mengerti, sih?!"
"Maaf. Ini perintah! Untuk sementara, semua pengiriman surat melalui jalur udara ke Konoha dibatalkan."
"Persetan!" Konohamaru akan menerjang barisan itu, tapi Hinata datang dan menariknya.
"Jangan bodoh! Kau ingin mengambil banyak kesulitan lagi?"
Konohamaru diam tapi tangannya bergetar menahan amarah. Gulungan surat yang dipegangnya pun tak pelak menjadi lampiasan cengkeramannya.
Hinata segera meminta maaf dan membawa Konohamaru pergi dari tempat itu. Mungkin dengan ini mereka akan terus diawasi.
Ketika dalam perjalanan kembali ke Rumah Sakit Negara Api, Hinata masih menggenggam tangan Konohamaru, namun tiba-tiba Konohamaru melempar gulungan surat itu ke lantai tanah, menyebabkan gulungan surat menjadi kotor terkena salju yang bercampur lumpur.
"Konohamaru?"
"Apa sih maksud mereka! Kenapa jadi seperti ini?!" Konohamaru memberinya tatapan penuh tanya.
Ia tidak mengerti juga keadaan ini, tapi bagaimana agar Konohamaru bisa tenang? Dia bukan seperti Shikamaru; pengalaman sebagai ketua dalam misi saja belum pernah ia dapat, pantas saja Klan Hyuuga meremehkan kualitas dan kuantitasnya. Track record-nya saja tidak sebanding dengan Hanabi. Apa yang bisa ia lakukan tanpa Shikamaru sebagai Taichou?
Apa?
Dan semua jadi mempersulit mereka, padahal mereka hanya menunaikan tugas pada Negara Api yang meminta bantuan. Kenapa juga mereka menuduh timnya? Apa yang terjadi sebenarnya?
Lalu salah satu yang membuat kesulitan dihidupnya melintas di hadapannya, tanpa tujuan berarti; memandangnya seolah ia adalah bangkai yang pantas di jauhi—Uchiha Sasuke. Ia tidak akan peduli, bahkan bila Sasuke menganggapnya ada atau tidak, tapi keputusan untuk mengacuhkan Sasuke adalah salah. Sasuke selalu memulai perseteruan saat mereka bertemu beberapa hari ini.
"Ternyata hanya Jalang," itu adalah hinaan khas Sasuke padanya.
Dalam hati ia mengejek Sasuke, tentang bagaimana buruknya Sasuke terhadap Jalang sepertinya. Aku Jalang lalu kau APA?!
Konohamaru sebagai orang ketiga pun tidak suka keadaan mereka yang sulit makin dipersulit dengan kehadirian yang tidak diinginkan juga tidak disangka—Penghianat yang banyak menyebabkan kematian. "Menyingkirlah, Uchiha! Kami sedang tidak ingin berurusan denganmu!"
Konohamaru berinisiatif dengan menarik tangannya untuk pergi, tapi ia tahu sekarang kalau Uchiha adalah keras kepala—kepala batu! Tidak tahu situasi! Berdarah bajingan!
"Lepaskan, Uchiha!" tapi sepertinya Sasuke tidak mendengarnya karena matanya tertuju pada Konohamaru yang masih menggenggamnya juga.
Sasuke mencengkeram lengan atasnya dan menyeringai—merendahkan Konohamaru, "Kurasa aku tidak berbicara padamu, Nak."
"Kaulah yang tidak ada urusannya dengan kami!"
Dan tangannya bukanlah tali atau apapun untuk ditarik-tarik seperti ini! —"Lepaskan! Kalian menyakitiku!"
"Ma-maaf, Hinata-nee, aku tidak sengaja," Konohamaru melepaskan cengkeramannya, tapi itulah letak kesalahannya.
Sasuke benar-benar orang yang keras kepala, orang itu tidak melepaskannya dan malah menariknya menjauh dari Konohamaru. Ia berusaha meyakini agar Konohamaru tidak mengejarnya, "Pergilah ke Rumah Sakit! Aku akan menyelesaikan ini." Ia kira ia bisa menangani ini.
oOOo
Dan apa yang sebenarnya perlu diselesaikan?
Sesuatu seperti mereka? Memang ada apa dengan mereka? Dia hanya berusaha mengikuti aturan mainnya. Dan apa yang ia dapat? Kebohongan? Uchiha tidak suka dibohongi!
Ia melihat gadis Jalang itu menarik-narik seorang pria yang terlihat familiar dimatanya, mungkin salah satu shinobi Konoha yang dulu ia kenal—ia tidak peduli. Ia hanya tidak tahu kenapa tiba-tiba ia sangat muak dengan Hyuuga itu yang selalu bersama pria-pria Konoha. Hyuuga itu jadi terlihat murahan dimatanya—lebih dari kotoran. Dan ia akan mengajari bagaimana Hyuuga itu harus bersikap kepadanya, bahkan bila itu harus menundukan kepalanya. Berbohong kepadanya adalah kesalahan yang lain.
Dia membawa Hinata kesuatu tempat. Yang dapat ia pikirkan hanya suatu tempat perjanjian tidak tertulis mereka. Digubuk itu lagi, tapi Hyuuga menolak masuk dan mereka ada di pelataran gubuk di hutan itu.
"Kau bisa melepaskanku, sekarang!" tidak ada yang bisa memerintahkannya, tapi ia melepaskan tangan itu agar Hyuuga itu tahu kalau ia hanya berusaha berbaik hati. "Aku lelah ... bisakah kita hentikan ini?" suara itu melunak.
Ia hanya mengalihkan pandangan lalu kembali menatapnya seolah ini adalah lelucon yang paling lucu di dunia. Ia pun tidak tahu kenapa ia tertawa seperti itu, tapi setelahnya ia tahu kalau ia sedang tidak senang. Apa sih, maksud Hyuuga itu? Hah? "Kau berisik sekali. Memang apa yang perlu dihentikan, hah?"
Ia menuntut. Benar. Apa yang perlu dihentikan? Apanya yang perlu diselesaikan? Sebenarnya apa yang ada dikepala Hyuuga itu?
Hyuuga itu terdiam menatapnya seolah ia adalah orang yang mengerti semua ini. Baik, kita lihat dimana letak kesalahannya. Hyuuga itu menolongnya, fine. Hyuuga itu merawatnya dan bersikap 'yes mom' padanya, fine. Ia menyentuh Hyuuga itu dan ia di tinggalkan dengan kelaparan, ia bisa terima karena ia bukan bayi. Lalu Hyuuga itu muncul lagi dengan keadaan hampir mati dan ia menolongnya, itu bisa terhitung balas budi. Dan tiba-tiba Hyuuga itu sangat membencinya tentang sesuatu lalu mengatainya pecundang, tapi ia bukan pemaaf.
Setelahnya kalian tahu apa yang terjadi dan ia menganggap hal itu sama saja. Batu dibalas batu.
"Apa kau merasa sesuatu?" ia tidak tahu kenapa malah ini yang ia pilih sebagai pengisi kekosongan. Ia punya banyak pilihan, tapi ia begitu penasaran. Karena ia sebelumnya tidak mau jujur, tapi ia akan mencoba karena beberapa hari ini ia merasakan sesuatu. Perasaan yang membuatnya ingin memecahkan sesuatu saat Hyuuga itu masuk begitu saja di pikirannya—Brengsek!
Lalu Hyuuga itu merespon dengan raut seolah ia orang gila. Oke, ia memang akan gila kalau ini tidak diselesaikan.
"A-aku tidak mengerti maksudmu," dan ia dapat kesimpulan dari sikap Hyuuga itu yang tiba-tiba kikuk dan menunduk. Ia tahu kalau yang ia rasakan juga Hyuuga itu rasakan. Hyuuga itu keras seperti batu!
"Munafik!" ia benci pembohong sepertinya. Benci pembohong-pembohong seperti Konoha dan kakaknya.
"Siapa yang kau bicarakan?" Hyuuga itu kini berani menatapnya dengan mata bulat berwarna putih itu menusuk ke matanya yang kelam. Beraninya!
Ia segera mengunci kedua tangan Hyuuga— "Kau harusnya tahu! Kau!"
"Lepaskan!"
"Persetan! Kau akan lari 'kan! Aku tahu kau, Hyuuga! Kau selalu seperti itu!" ia tidak peduli bila cengkeramannya akan membuat memar atau tulang itu remuk.
"S-sakit—
"Aku sudah bilang untuk datang kesini! Kau berbohong—
"S-Sasuke... —
"Jangan panggil namaku! Siapa kau—menjijikan!" dan ia mencium Hyuuga itu paksa. Hyuuga itu tidak bersikap seperti biasanya saat ia menciumnya, dia menutup rapat-rapat mulut untuknya—Sialan!
"Hen—hemp—hentikan!"
Tapi ia tidak mengindahkan perkataan Hyuuga dan terus menciumnya seolah Hyuuga itu adalah benda mati. Ia tidak akan membuka mata dengan keadaan atau semua akan seperti mau Hyuuga itu. Ia terus mencium Hyuuga diseluruh tempat yang bisa ia jangkau dan Hyuuga menyerah untuk meronta diganti dengan tubuh itu bergetar—ia pun merasakan sesuatu yang asin diantara ciuman menuntutnya. Sebuah air mata yang turun dari sudut mata Hyuuga yang terpejam.
Ia mendengar Hyuuga itu terisak pelan dan ia melepaskannya. Hyuuga jatuh lemas ditanah dengan wajah tertunduk dan pundak yang bergetar. Ia tidak ingin melihat itu—jangan biarkan hatinya goyah!
Ia segera memunggungi Hyuuga dan tidak mengerti apa yang keluar dari mulutnya sendiri sebelum meninggalkan tempat itu—"Aku tidak akan menyakitimu, Hyuuga."
Menyakiti Hyuuga?
Ia tersenyum sinis pada dirinya sendiri. Sejak kapan ia peduli untuk tidak menyakiti Hyuuga?
oOOo
Kalau ia tidak ingat Ayako yang sakit, Konohamaru yang tidak kembali kepenginapan atau ke ruang inap Ayako dan Shikamaru yang masih ditahan, bisa saja ia terus menguras air dimatanya—sangat bodoh. Hinata tahu ada sesuatu didirinya sampai ia melakukan hal itu, mungkin satu alasannya adalah Uchiha Sasuke. Dadanya teramat sakit kala pria itu mengatainya macam-macam dan menciumnya. Kini ia tidak tahu bagaimana harus membenci Sasuke.
Rasanya jadi serba salah dan ia ingin menangis lagi, tapi suara lenguhan diatas ranjang rumah sakit menyadarkannya kalau ia harus tegar. Ia berada di kamar inap Ayako setelah pertemuannya dengan Sasuke.
"Aya, kau sudah sadar?"
Ayako bereaksi dengan panggilannya. Lambat laun kelopak mata itu terbuka dan ia sangat bersyukur Ayako bisa melewati masa kritis, "Syukurlah..."
Ayako tidak mengatakan apa-apa, hanya saja mata hazel itu mengitari ruangan dan mulutnya ingin berucap sesuatu. Ia bisa sedikit menangkap maksud Ayako, "Dimana Taichou dan Konohamaru? Kohohamaru sedang keluar dan Taichou...," ia tahu ia harus bisa membuat keadaan lebih baik. Ia harus tenang agar kouhai-kouhainya tidak panik pada situasi ini, bahkan bila harus berbohong, "...dia pergi keluar juga untuk berbicara dengan Ketua Dewan Negara Api."
Ayako menjadi lebih tenang.
"Kalau kau lelah, istirahat saja lagi. Aku akan keluar sebentar," ya, sepertinya ia juga lapar. Ini sudah jam makan siang.
Hinata meninggalkan kamar inap Ayako yang sudah diberi penjagaan ekstra oleh kepolisian Negara Api. Sepertinya proses hukum belum selesai. Mungkin setelah makan siang ia akan berkunjung ke kantor polisi di sana.
Dan ia sangat tidak berselera saat dihadapkan semangkuk ramen disuatu kedai di distrik Menengah. Ia jadi banyak menghela napas dan menatap mangkuk yang berasap itu. Ramen itu enak, tapi bila memikirkan tadi dijalan sempat berpapasan dengan Sasuke membuat semua jadi tidak menarik. Rasa laparnya lenyap terganti dengan segala perasaan aneh.
Sebenarnya ini benar atau tidak, tapi saat mereka berpapasan tadi Sasuke seakan tidak menganggapnya—tidak ada tatapan mengintimidasi, tidak juga tatapan menghina, hanya mengacuhkannya. Ia juga tidak bisa melihatnya seperti dulu, kepalanya seakan berat hanya untuk membalas tatapan Sasuke yang mungkin akan menghinanya lagi. Ia belum siap hati untuk menerima berbagai macam hinaan Sasuke. Tapi kalau begini ... seperti ketidakjelasan.
Seperti ada sesuatu yang tidak jelas dari mereka. Ia ingin bertanya apa itu, tapi pada siapa? Tidak ada yang tahu, dirinya pun tidak. Sasuke?
Setelah menangis layaknya mengakui kalau ia dalam posisi lemah, ia tahu ia tidak akan siap berhadapan dengan Sasuke. Apa yang Sasuke pikirkan saat melihat ia lemah tadi? Dan perkataan Sasuke tidak ingin menyakitinya?
Semua permainan ini—semua hal yang mereka lakukan—untuk apa? Ia menangis karena apa? Sakit hati? Lelah?—Bukan. Ia ingin dirinya mengerti, ia ingin Sasuke mengerti. Ia wanita dan ia lelah untuk membuat Sasuke mengerti, padahal dirinya juga tidak tahu apa yang perlu dimengerti.
Dan tepat hari itu juga ia sadar bagaimana perasaannya, seperti salju tipis yang perlahan turun dilembah kasihnya dan tidak bisa tersingkir begitu saja aroma manis pekat itu. Ramennya sudah dingin dan wajahnya tertutup oleh kedua tangannya dengan depresi. Bahkan rasa benci dan cinta seakan tersamar saat salju turun di Negara Api.
"Bagaimana ini...?" bisiknya.
To Be Continued...
Author's Note: Ada yang merasa Hinata OOC banget ngga di sini? Alasanku, aku pikir dia mulai dewasa dan punya pilihan untuk menjadi tegas dan setelah perang (ceritanya sih sama kayak di manga) mengajarkan dia lebih kritis. Dia gagap hanya dibeberapa kesempatan, lagipula aku kurang suka dia terlalu gagap.
Dan ya, Hinata duluan yang sadar perasaannya. Biasanya emang gitu 'kan? Cewek terbuka dengan perasaannya dan cowok—maybe—gengsi *teori abal* *abaikan* Hehe :D
Thanks to: Jurig cai, nurul .wn, Malila Hyuga, twins shinobi, SH Lovers, Guest dan rini (Hai-hai! Udah update loh :) Gimana nih chap kali ini? Terimakasih kawan :D), Dewi Natalia (Hah ... aku ngga ahli buat kayak gituan, tapi aku usahain buat yang selanjutnya :) Ia berat, aku aja sampe bingung. Moga ngga hiatus deh *berdoa* Aku emang agak terkontaminasi sama ffn inggris, khususnya DraMione. Tapi suer, ini ngga ada apa-apanya :"( Haha ... kamu tau aja deh tentang itu. Thanks ya), gece (Pasti, tapi mungkin masih dua atau tiga chapter lagi. Thanks :)), RisufuyaYUI (Ya! Sasuke emang br*ngsek kuadrat. Eh-eh, tapi disini doang loh *maaf Sasu FG* hehe... Tankyu! :D), Evil (Iya, aku juga suka dan kalau kamu nanya dari mana, aku terinspirasi sama fic2 DraMione. Apa ini sudah cukup *aku rasa ngga* Sorry :"3 tapi makasih), ocha chan (Karena aku sudah memutuskan*plak* hehe... ngga becanda. Mungkin Sasu mulai... *gantung* Makasih :3), Date (Hai-hai! Thanks ya :). Iya, aku udah koreksi waktu itu. Mungkin lain waktu akan aku edit semua buat fic ini agar lebih jelas *hope*. Haha ... masih jauh itu mah, nikmati saja ini dulu. Aku sih pengennya semua bahagia :)), Tatsu Hashiru Katsu (Ngga papa kok, woles aja :D. Merinding? Baca fic ini atau ada sesuatu disampingmu? *plak* *paranoid*. Thanks ya ;)).
Thanks yang udah baca chapter ini. Maaf bila ada kesalahan atau kurang berkenan dengan apa yang aku tulis. Terima kasih :"")
Yosh! Review ya, biar aku ngga hiatus panjang. Mau ujian nih. Dan mohon doanya ya :)
.◊. Mei Anna .◊.
