Bleach punya Tite Kubo

.

TITLE : LOVE FROM FRIENDS

.

Warning : AU, OOC, ABAL, ALL

.

Happy reading... ((o_o))

.


Inoue Orihme menatap dirinya di cermin dengan gembira. Dengan T-sirt warna pink bergambar boneka beruang timbul dan rok bermotif bunga kecil di atas lutut. Dia tidak percaya, dia akan berkencan dengan Ichigo. Dia berputar-putar dan tersenyum. Dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Ponsel di meja rias di sambarnya. Menghubungi sahabatnya. Dia menceritakan semua tentang Ichigo yang mengajaknya kencan.

Sahabatnya bisa melihat kegembiraan Orihime tanpa melihatnya. Mereka bersahabat sejak mereka masih kecil. Selama bertahun-tahun dia selalu menemaninya dalam bahagia atau sedih. Sejak memasuki SMA, Orihime menyukai taman sekelasnya yang bernama Ichigo Kurosaki.

Orihime mendesah, memikirkan sahabatnya. Kenapa sahabatnya tidak tertarik dengan seorang gadis. Apakah dia 'seorang gay'. Dia menggelengkan kepalanya. Berusaha menyingkirkan pikiran buruk tentang sahabatnya. Tak lama kemudian pintu apertemennya di ketuk dari luar. Dengan senyum bahagia, dia buru-buru membuka pintu.

"Hai!" sapanya pada Orihime.

"H-hai, Kurosaki-kun."

"Apa kau sudah siap?"

"Hmm."

Mereka berjalan menjauh dari apertemen. Tangan mereka terjalin. Tujuan mereka adalah bioskop. Mereka sangat menikmati kencan mereka. Hari-hari mereka sangat menyenangkan.

Enam bulan.

Hubungan mereka berjalan lancar. Orihme tetap berhubungan dengan sahabatnya. Meskipun tak seintens dulu. Saat tidak ada kencan dengan Ichigo, dia bermain ke apertemen sahabatnya yang tak jauh dari apertemennya.

~O0O~

Kelas 1-3 kedatangan murid baru. Namanya Rukia Kuchiki. Rambutnya hitam pendek dan matanya berwarna violet. Badannya tidak tinggi, alias mungil.

Orihime mempunyai teman sekelas bernama Tatsuki Arisawa. Dia juga berteman dengan Rukia, murid baru. Sahabatnya tinggal di kelas lain. Biasanya dia menemui sahabatnya di atap sekolah saat jam istirahat. Sahabatnya tidak suka membaur dengan murid lainnya. Dia akan menghabiskan waktu di atap sambil membaca buku kesukaannya.

Dua bulan kemudian.

Jam sekolah sudah berakhir. Orihime memasukkan buku-bukunya kedalam tas. Ichigo menghampiri dan membantunya. Mereka berjalan keluar kelas. Ichigo menggandeng tangannya dan mengajaknya ketaman Karakura.

Taman Karakura.

Orihime duduk disampingnya. Dia bercerita tentang masa depan hubungan mereka. Berkhayal tentang kehidupan setelah menikah dan mempunyai anak. Ichigo hanya diam mendengarkannya. Dia mencintai gadis bermata abu-abu dan...

Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Orihime. Tatsuki bercerita padanya, melihat Ichigo dengan Rukia berduaan. Dia ingin menanyakan kebenaran kabar yang didengarnya pada Ichigo. Mata abu-abunya melihat pemuda bermata hazlet. Tapi...diurungkan niatnya untuk menanyakan kabar itu. Mengambil nafas panjang dan membuangnya. Dia akan berpura-pura tidak mendengar kabar itu. Meskipun ada rasa sakit di hati.

Waktu berjalan dengan cepat. Ichigo mengantarnya pulang ke apertemennya. Namun Orihime menolaknya. Dia beralasan masih mempunyai urusan. Padahal dia ingin menemui sahabatnya. Akhirnya mereka berpisah di taman. Ichigo melangkah pulang kerumahnya. Sedangkan dirinya menuju apertemen sahabatnya.

Apertemen mewah. Orihime mengetuk pintu. Mendapati pemuda berdiri membuka pintu dari dalam. Orihime tersenyum dan memeluknya. Sudah seminggu mereka tidak bertemu. Pemuda berkulit pucat dan bermata emerald melihatnya tenang. Tangannya terselip di kantong celana putihnya. Rambut hitamnya basah aroma mint tercium, menandakan dia habis mandi.

Orihime masuk kedalam. Dia merindukan tempat ini. Tembok bercat putih. Tirai jendela berwarna hijau. Tempat yang bersih, rapi dan nyaman. TV flat datar diatas meja. Sofa bed berwarna putih tulang. Tidak pernah berubah. Berbeda dengan apertemen kecil miliknya.

"Aku sangat merindukan tempat ini," Orihime merebahkan tubuhnya di sofa bed. Tangannya melayang diatas kepalanya.

"Ada angin apa, kau kesini?" tanya sahabatnya.

Orihime mengangkat kepalanya. Melihat sahabatnya berdiri dengan tangan terselip di kantong celana. Alisnya terangkat ke atas.

"Kau tidak suka aku datang? Ulquiorra."

Ulquiorra Schiffer, menatapnya. Dia tahu sahabatnya. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia berjalan menuju dapur. Sebuah minuman botol di bawanya dan disodorkan pada sahabatnya.

"Ulquiorra... apa pendapatmu tentang diriku?" Orihime merubah posisinya menjadi duduk. Tangannya mengambil botol dari tangan sahabatnya.

Ulquiorra duduk satu sofa dengannya, "Pendapat?"

"Iya! A-apakah aku tidak cantik atau tidak menarik?"

Ulquiorra menyipitkan mata emeraldnya, "Sejak kapan kau mempunyai pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang tidak berguna. Tapi... kau menarik."

Orihime cemberut, "Itukah pendapatmu? Aku tidak yakin dengan itu." merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Ulquiorra.

Itulah kebiasaan Orihime saat bersama dengannya. Selain itu, dia akan mencium pipi pucatnya bila perasaannya bahagia. Kebiasaan semasa kecil dibawanya sampai sekarang. Ulquiorra tak menampik itu semua. Dia sudah terbiasa dengan perilaku sahabatnya. Dia merasa nyaman. Terkadang hatinya terasa ada yang menggelitik. Dan degub jantungnya berdetak tak beraturan.

Orihime mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya. Mata abu-abunya terpejam dan mengembungkan pipinya. Jawaban Ulquiorra tidak memuaskan untuknya. Matanya terbuka dan menatap wajah sahabatnya. Kulit pucat terlihat terawat dan lembut. Dia juga menjaga penampilannya. Selain itu, sikapnya juga menyenangkan baginya. Meskipun sikapnya dingin. Lain dengan dirinya yang cuek dengan semuanya itu. Seringkali dia bersikap cerobah.

~O0O~

SMA Karakura mengadakan festival Hanami(*). Para murid sibuk mempersiapkan acara festival yang diadakan di halaman sekolah. Mereka berantusias menyambut festival itu. Pohon sakura satu-satunya yang berdiri kokoh di halaman, dihias secantik mungkin. Mereka menggantung kertas hias aneka warna di rantingnya dan melilitkan lampu warana-warni. Setelah persiapan selesai, mereka memasuki kelas masing-masing.

Orihime berjalan di koridor bersama Tatsuki menuju kelasnya. Dia melihat Ulquiorra berjalan sendiri menuju kelas 1-1. Orihime memanggilnya. Sahabatnya berhenti dan menoleh padanya. Orihime meninggalkan Tatsuki. Dia berlari menghampiri sahabatnya.

"Ada sesuatu, Orihime?" tanyanya sarkastik.

Orihime mencium pipi pucatnya. Ulquiorra memalingkan wajahnya yang bersemu merah muda. Orihime terkikik melihat sahabatnya.

"Aku akan ke festival bersama Kurosaki. Apa kau juga datang, Ulquiorra?"

Ada rasa sesak menusuk di dadanya. Kalo dilihat kebawah, tangannya mengepal keras. Dia cemburu? Oh tidak. Dia tidak akan cemburu pada sahabatnya. Dia sering mendengar Orihime bercerita tentang Ichigo. Perasaannya tidak apa-apa. Tapi sekarang berbeda. Mengapa sekarang dia merasa tidak senang mendengarnya. Dadanya terasa panas dan darahnya mendidih.

"Tidak. Aku tidak suka dengan keramaian," jawabnya dingin.

Orihime melingkarkan tangannya di lengan Ulquiorra, "Ayolah, kau pasti akan suka. Festival itu indah, Ulquiorra."

"Aku bilang tidak," mata emerald menatap sahabatnya.

Orihime memasang mata puppy eyes-nya, "Kumohon?"

"Tidak," Ulquiorra menegaskan sekali lagi.

Orihime melepaskan tangannya dari lengan sahabatnya, "Kenapa?"

"Kenapa? Aku tidak ingin..." Ulquiorra berhenti melanjutkan.

'Aku tidak ingin melihatmu bersama sampah seperti dia,' batin Ulquiorra.

Orihime masih menunggu kelanjutan jawabannya. Dia menggoyangkan tangan sahabatnya. Memintanya untuk melanjutkan jawaban yang terhenti.

"Lupakan!" seru Ulquiorra. Dia berjalan meninggalkan Orihime di koridor.

Orihime cemberut, "Dasar Ulquiorra 'gay'," omelnya.

Ulquiorra berbalik seketika dan mendekatinya, "Kau mengatakan aku ini 'gay'?"

"Ma-maaf. Itu keluar begitu saja dari mulutku dan aku kesal denganmu." Orihime menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah. Kenapa mengatai sahabat sendiri 'gay'.

"Kita sudah bersahabat sejak kecil. Aku tidak menyangka kau mengatakan aku ini-"

Orihime mengangkat kepalanya. Melihat sahabatnya yang berdiri didepannya, "Maaf, aku minta maaf." Dia memotong kata Ulquiorra.

"Sekali lagi kau mengucapkan itu. Aku akan..." bisik Ulquiorra di telinganya. Dan menggantungkan kalimatnya.

Orihime merasakan tengkuknya dingin. Tapi ada rasa hangat di pipinya. Semburat merah menghiasi wajahnya. Perasaan aneh di dadanya. Jantungnya berdetak cepat. Tidak seperti biasanya.

Ulquiorra menjauh darinya dan berjalan masuk kekelasnya. Orihime bernafas lega. Tangannya memegang dadanya. Dia masih merasakan detak jantungnya. Dia menyukainya? Entahlah. Tapi dia dengan Ichigo.

~O0O~

Tiga hari setelah kejadian di koridor.

Jam pelajaran kosong. Kelas 1-3 di beri tugas mengerjakan soal di buku paket. Orihime duduk di kursinya. Matanya melihat keluar jendela. Pandangannya kosong. Tangannya memegang pensil dan mengetuk-ngetukkannya ke meja. Dia tak menyadari Tatsuki menghampirinya. Tatsuki melambaikan tangan di depannya. Orihime tidak meresponnya. Akhirnya Tatsuki menggoyang bahunya. Dia tersentak kaget dan berdiri dari duduknya. Tatsuki tertawa melihat tingkahnya.

"Tatsuki!" geramnya.

"Kau melamun siapa, Hime?" Tatsuki masih tertawa.

Orihime menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ha~ha~ha~. Tidak siapa-siapa."

Tatsuki mengajaknya pergi ke toilet untuk mencuci mukanya. Agar Orihime tidak melamun lagi. Mereka berjalan melewati lorong sekolah. Mata abu-abunya melihat Ichigo berdiri di lorong menghadap tembok. Dia manarik tangan Tatsuki untuk mengikutinya. Ingin mengejutkan kekasihnya dari belakang, tetapi dia sendiri yang terkejut. Dia memiringkan kepalanya. Memastikan apa yang dilihatnya. Ichigo berhadapan dengan Rukia. Mereka dalam posisi berciuman.

Orihime berlari meninggalkan tempat itu. Tatsuki mengepalkan tangannya. Dia memanggil Ichigo. Pemuda berambut orange menyolok memutar kepalanya. Mata hazelt-nya melebar. Tangan Tatsuki menariknya menjauh dari Rukia. Wajah Ichigo mendapat hantaman keras dari gadis itu. Bibirnya mengeluarkan darah. Rukia memegangi Tatsuki sebalum kamarahannya meledak. Tatsuki menatap Rukia dengan tatapan jijik. Dia berjalan meninggalkan Ichigo dan Rukia.

Bagaimana bisa Ichigo menghianati Orihime. Apalagi dengan teman mereka sendiri. Ichigo ingin mencari Orihime. Dia merasa bersalah telah menduakan cintanya. Tangan mungil milik Rukia menghentikannya. Gadis itu memeluknya dari belakang. Dia tidak mau ditinggal sendirian. Dan dia tidak mau melepas Ichigo. Gadis egois.

Orihime berlari menuju atap sekolah. Ingatannya masih segar. Melihat Ichigo mencium gadis lain. Tak lain teman sendiri. Air matanya mengalir bebas di pipinya. Mengapa ini terjadi pada dirinya? Dia berharap kejadian yang dilihatnya hanya mimpi.

Ulquiorra berdiri di depan pintu atap. Dia memandang sahabatnya yang duduk menyembunyikan wajahnya di tangan. Dia berjalan mendekati sahabatnya. Mata emeraldnya melihat kebawah. Orihime menyadari kedatangannya. Dia menengadahkan wajahnya. Melihat Ulquiorra berdiri. Air matanya tak kunjung berhenti. Dia berdiri dan memeluk sahabatnya. Menumpahkan kesedihannya di dadanya.

Tangan pucat Ulquiorra pasif. Dia tidak membalas memeluknya. Perasaan ragu menyelimuti pikirannya. Dia tidak suka melihat sahabatnya menangis. Mata emeraldnya terpejam sebentar. Mengumpulkan keberanian untuk membalas pelukan Orihime. Memeluknya hangat. Mengapa! Mengapa ini terjadi padanya? Bagaimana Ichigo melakukan itu pada sahabatnya!

Air mata mengaburkan pandangannya. Dia tidak perduli waktu berjalan dengan cepat. Rasa nyaman yang di dapat dari sahabatnya, begitu hangat. Mereka saling berpelukan di atap sekolah sampai jam sekolah selesai. Orihime hanya ingin menangis dan menangis di pelukan sahabatnya sampai tidak ada air mata yang tersisa.

Mereka berjalan memasuki kelas mereka sendiri untuk mengambil tas. Ulquiorra sudah menunggu di depan kelasnya. Orihime menghampirinya dengan berjalan terhuyung-huyung. Mata emeraldnya menatap sahabatnya. Dia berjongkok setelah Orihime berdiri disampingnya.

"Naiklah!" perintahnya.

"Tidak, Ulquiorra. Aku sudah banyak merepotkanmu," desah Orihime.

"Aku bilang Naik!"

Akhirnya, Orihime menuruti perintahnya. Dia naik di punggung Ulquiorra. Dan mengaitkan tangannya di leher sahabatnya. Ulquiorra berdiri dan menyelipkan tangannya di kaki sahabatnya. Ketika mereka kecil, Ulquiorra sering menggendong Orihime dibelakangnya. Gadis itu sering jatuh saat bermain. Tapi sekarang mereka sudah remaja. Dan pertama kalinya Ulquiorra menggendongnya lagi. Orihime bisa merasakan pipinya memerah. Begitu juga Ulquiorra.

Mereka keluar dari sekolah. Wajah Orihime di tenggalamkan di leher Ulquiorra. Dia bisa merasakan wangi rambut sahabatnya. Menghirup wangi maskulin. Dia tersenyum sendiri.

Ulquiorra meliriknya. Dia merasakan nafas hangat di lehernya. Rambut seperti senja jatuh di lengannya. Rambutnya terasa lembut. Bibirnya melengkung kebawah. Dia tersenyum meski terlihat samar.

Ulquiorra berjalan menuju apertemen sahabatnya. Langkah kakinya terasa ringan. Seperti tak ada beban di pundaknya. Dia berdiri di depan pintu apertemen sederhana. Kepalanya diputar untuk melihat Orihime. Sayang dia tertidur di gendongan. Bagaimana dia bisa membawanya masuk? Yang memegang kunci tertidur. Dia bisa membangunkannya! Tapi dia tidak mau. Dia melangkahkan kakinya menjauh dari apertemen. Membawanya ke apertemennya sendiri.

Tangan pucatnya merogoh kantong celana, mencari kunci pintu. Pintu terbuka. Dia masuk dan melepas sepatu hitamnya. Pintu tertutup dari dalam. Membawa sahabatnya masuk ke kamar. Saat dia duduk di tempat tidur, Orihime terbangun. Perasaan canggung menyelimuti suasana di sekitar mereka. Orihime melepas tangannya dari leher sahabatnya. Ulquiorra berdiri dan meletakkan tas sekolah di meja belajarnya.

"Tempat tiduuur!" Orihime mencairkan suasana canggung di antara mereka. Dia menaikkan kakinya di tempat tidur.

"Tunggu!" seru Ulquiorra melihat kaki sahabatnya, "Kau akan mengotori tempat tidurku. Sepatumu."

"Eh... he~he~. Gomen," Orihime melepas sepatunya dan berjalan keluar kamar. Menaruh sepatunya di rak sepatu dekat pintu. Dan kembali ke kamar.

"Jika kau mau melanjutkan tidurmu. Tidurlah," Ulquiorra melonggarkan dasi dari seragam sekolahnya.

"Umm... kenapa kau tidak membawaku ke apertemenku?" Orihime berdiri di sampingnya.

Bibir Ulquiorra berkedut. Dia benci pertanyaan yang tidak penting. Dia membuka kancing seragamnya. Orihime memalingkan wajahnya.

"Aku sudah di depan apertemenmu. Tapi kau tertidur dengan pulas dan membuat pulau baru di seragamku," ucapnya sinis tapi ada nada bercanda.

Orihime mengernyitkan dahinya, "Owww! Itu tidak mungkin."

Orihime penasaran, ingin melihat seragam Ulquiorra untuk memastikannya. Seragam itu sudah terbuka. Terlihat dada telanjang. Dada yang berotot dan keras. Meskipun tak sebidang dada Ichigo, tapi membuat gadis yang melihatnya terpesona. Wajah Orihime berubah memerah seketika. Ulquiorra melihatnya sekilas. Dia beralih ke lemari untuk mengambail kaos berwarna hitam. Melangkahkan kakinya keluar dari kamar setelah memakai kaosnya.

Bodoh, Ulquiorra menggodanya. Orihime tersenyum sendiri. Dia melompat ketempat tidur. Otot-ototnya direnggangkan. Mengambil bantal dan memeluknya. Merasakan wangi sahabatnya di tempat tidur.

~O0O~

Orihime menghindari Ichigo di sekolah. Dia tidak mau bertemu dengannya. Memutuskan untuk tidak pulang ke apertemennya. Karena dia tahu, Ichigo pasti akan menemuinya disana. Dia pulang keapertemen sahabatnya.

Ulquiorra membuat pancake di dapur. Dan menuangkan teh rosemarry di cangkir. Setelah semua selesai. Dia membawanya ke meja makan.

Orihime merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya tak kunjung terpejam. Dia menurunkan kakinya di lantai berkarpet. Setelah berdiri di atas kakinya. Dia berjalan mendekati jendela. Memandang senja dari kamar. Jendela itu besar. Dia duduk di bingkai jendela dan bersandar.

Ulquiorra masuk kedalam kamar. Dia melihat Orihime duduk di bingkai jendela. Cahaya matahari yang memerah terlihat di jendela. Menghampirinya dan berdiri di dekatnya. Orihime tersenyum melihatnya.

"Ayo, kita makan," Ulquiorra melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan tangan terselip di kantong.

Orihime mengikutinya di belakang. Mereka berdua duduk di meja makan berhadapan. Pancake di piring dan teh rosemarry di cangkir. Ulquiorra memotong pancake-nya dan memasukkan kemulutnya.

"Uqluiorra, apa kau punya selai atau mayones?" tanyanya.

Ulquiorra menatapnya, "Tidak punya. Makanlah atau aku tidak akan membuatnya lagi untukmu."

Orihime mengembungkan pipinya. Dia memakan makanan itu sampai habis. Ulquiorra tersenyum puas melihat sahabatnya, "Gadis baik."

Mata Orihime berputar mendengar kata itu, "Pemuda 'gay'," gumamnya.

Tapi Ulquiorra mendengarnya, "Aku mendengarnya."

"Eh... tidak." elaknya.

Ulquiorra berdiri dari duduknya, "Apa aku seperti 'gay' di matamu?" Dia berjalan ke wastafel untuk mencuci piring dan gelasnya. Orihime mengikutinya mencuci piring dan gelasnya.

"B-bukan begitu maksudku. Aku tidak pernah mendengar kau menyukai seorang gadis. Kau selalu menghindar dari mereka." Orihime berjalan menuju sofa.

Langkahnya terhenti. Ulquiorra menahan lengannya. Orihime manaikkan alisnya. Mata emeraldnya mengunci mata abu-abunya. Dengan pelan Ulquiorra mendekatinya.

Dia mencondongkan kepalanya, "Apa kau mau bukti? Kalo aku normal." Dengan cepat Ulquiorra menciumnya. Mata Orihime membulat. Dia tak percaya dicium sahabatnya. Ulquiorra meninggalkannya. Orihime masih berdiri mambatu.

Ulquiorra duduk di sofa dan menyalakan TV. Jantungnya berdenyut kencang. Hatinya lebih menggelitik dari biasanya. Bagaimana bisa, dia mencium sahabatnya? Tapi itu bukti. Dia menyukai lawan jenis. Berati dia bukan 'gay'.

Orihime membelai bibirnya. Rasa manis rosemarry masih terasa. Bukan dari teh yang diminumnya. Tapi dari bibir sahabatnya. Dia berjalan menuju sahabatnya. Mereka duduk dengan diam.

"Kenapa kau melakukannya?" suara Orihime membelah ke-diam-an antara mereka.

"Itu bukti. Aku laki-laki normal," ucapnya enteng tanpa melihat sahabatnya. Matanya masih fokus dengan acara di TV.

Orihime membawa kepalanya di pangkuan sahabatnya, "Tapi... bukan begitu caranya."

Mata emerald melihat kebawah, "Apa itu kurang membuktikan?"

"Eh... sudahlah lupakan saja. Aku tidak mau berdebat denganmu," desah Orihime.

Ulquiorra kembali dengan acara TV, "Kau sering mencium pipiku. Apa aku tidak boleh menciummu juga?"

Wajah Orihime sudah panas. Pipinya sudah merah semerah tomat yang ada di lemari es. Ulquiorra melirik kebawah. Dia tersenyum melihat pipi sahabatnya. Orihime melipat tangannya di dada. Ulquiorra membelai kepalanya dengan lembut. Membuat rasa nyaman untuk sahabatnya. Orihime memejamkan matanya. Dia tertidur di pangkuan Ulquiorra.

Jemari Ulquiorra menyusuri rambut panjang senjanya. Dia suka melihat rambut panjang lembut di pangkuannya. Dan menikmati pemandangan ini. Menatap wajah sahabatnya. Dia menyukainya? Mungkin. Karena dia tidak mencari gadis lain. Mungkin dia menginginkan sahabatnya sendiri. Dia nyaman dengan keberadaan gadis itu.

~O0O~

Festival Hanami.

Orihime bersiap keluar dari apertemennya. Dia terlihat cantik. Rok berenda hitam diatas lutut. T-sirt tak berlengan berwarna putih dengan potongn leher berbentuk V dan dihiasai tali. Jaket blazer hitam dengan kancing berwarna pink. Model lengan blazer sampai siku tangannya. Ikat pinggang berwarna coklat menghiasi pinggangnya. Gelang putih melingkar di tangan kanannya. Kalung berbandul liontin panjang dengan warna orange menggantung di lehernya. Jepit rambutnya tak pernah lepas dari kepalanya. Memakai sepati boot tinggi dengan warna hitam. Dia membuka pintu apertemen. Melangkahkan kakinya ke apertemen sahabatnya.

Awalnya Ulquiorra tidak mau datang ke festival. Orihime mendesaknya terus, akhirnya dia mau datang ke festival dengannya.

Ulquiorra sudah berdiri di depan pintu apertemennya. Dia memakai kaos warna putih bertuliskan polo. Di lapisi jaket warna kream yang berhias dua kantong di bagian depan. Kancingnya jaket berwana hitam. Celana jins hitam dan ikat pinggang hitam dengan kaitan berwarna silver. Dia juga memakai kalung berbandul panjang dengan warna hitam.

Orihime melambaikan tangannya dari jalan. Mata emeraldnya terpesona melihat sahabatnya yang tampak berbeda. Terlihat cantik dan sexy. Dia menjauh dari apertemen dan menghampiri Orihime.

"Kau tampak tampan, Ulquiorra," puji Orihime melihat sahabatnya mendekat.

"Tch, kau juga tampak... berbeda," balasnya datar.

'Kau cantik Orihime. Dari dulu kau terlihat cantik dan sampai kapanpun kau akan terlihat cantik di mataku,' batin Ulquiorra.

'Kenapa aku baru tahu, kau menarik. Aku menyukaimu... Ulquiorra,' batin Orihime.

"Sampai kapan kau akan berdiri. Kita akan terlambat ke festival," seru Ulquiorra sambil berjalan.

Orihime mengangguk dan menyusul sahabatnya yang berjalan di depannya. Orihime menyamakan jalannya di sisi sahabatnya. Tangan Ulquiorra terselip di kantong jins-nya. Orihime melingkarkan tangannya di lengan kiri Ulquiorra.

Malam ini terasa berbeda bagi dua sahabat. Mereka berjalan dengan hati yang bahagia. Ulquiorra begitu menikmati saat Orihime melingkarkan tangan di lengannya. Begitu juga Orihime. Dia merasa hatinya berbunga-bunga. Seakan mereka sedang berkencan.

Halaman sekolah.

Para murid sudah berkumpul di bawah pohon sakura. Pohon itu terlihat cantik di malam hari. Lampu warna warni berkelap-kelip. Kertas hias bergoyang pelan tertiup angin. Mereka semua menanti mekarnya bunga sakura untuk pertama kalinya pada musim semi tahun ini.

Dua sahabat duduk di bangku kosong. Tempatnya tak jauh dari pohon sakura. Mereka bisa melihatnya dari tempat mereka duduk. Seseorang mendekat. Dia berdiri di hadapan mereka. Ichigo melihat dua sahabat itu.

"Orihime, aku ingin berbicara sebentar. Berdua saja," mata hazelt-nya melirik Ulquiorra.

Ulquiorra berdiri dengan tatapan tajam. Seakan berkata, 'Jangan membuatnya menangis lagi'. Dia berjalan meninggalkan Orihime dengan Ichigo. Orihime melihat punggung sahabatnya menjauh.

Ichigo menarik tangannya dan membawanya ke lorong sekolah. Orihime diingatkan lagi tentang kejadian itu. Dimana Ichigo berciuman dengan Rukia. Hatinya merasa panas, darahnya mendidih.

"Maafkan aku, Orihime. Semua itu salahku, aku menyesal. Aku masih mencintaimu," Ichigo memegang tangannya.

"Begitu mudahnya kau meminta maaf padaku? Kau tahu... aku sudah melupakanmu. Aku tidak mencintaimu lagi. Kuharap kau mengerti," Orihime manarik tangannya dari Ichigo.

"Kau bohong! Aku tidak percaya semua yang kau ucapkan," Ichigo tidak yakin dengan ucapan Orihime.

Orihime memincingkan matanya, "Aku tidak bohong!" ucapnya pasti.

"Mana buktinya kalo kau tidak mencintaiku," desak Ichigo.

Orihime menelan ludahnya. Bagaimana dia membuktikannya? Bibirnya bergetar. Pikirannya mencari alasan untuk menunjukkan, bahwa dia sudah tak mencintainya.

"Aku... aku," Orihime tergagap mencari alasan. Ichigo menyeringai. Dia tahu Orihime tidak akan menemukan alasan.

Tak jauh dari lorong. Ulquiorra mendengar perbincangan mereka. Dia merasakan Orihime kebingungan. Berjalan mengampiri sahabatnya dan menariknya dalam dekapannya. Dia langsung mencium bibir Orihime didepan Ichigo. Orihime dibuatnya kaget. Tapi dia bersyukur dengan kedatangan sahabatnya. Dia tak perlu memberi alasan lagi pada Ichigo.

Setelah itu, Ulquiorra membawa Orihime menjauh dari Ichigo. Pemuda itu berdiri diam di lorong. Begitu cepatkah Orihime melupakannya dan mencintai Ulquiorra? Dia sangat menyesal menyakiti hati Orihime.

Festival dimulai dengan tanda kembang api ditembakkan ke langit. Terlihat indah dan bersinar di kegelapan malam. Para murid bersorak gembira. Mereka sangat puas dengan festival ini.

Di atap sekolah.

Dua sahabat menikmati festival dari tempat mereka berdiri. Tangan mereka tetap terjalin. Orihime terkesima melihat kembang api yang indah.

Ulquiorra tidak menikmati festivalnya. Tapi menikmati kebersamaannya dengan sahabatnya di malam yang indah. Tangannya meremas lembut tangan Orihime. Serasa tidak ingin melepasnya.

"Ulquiorra, kenapa kau melakukannya?" tanyanya ragu-ragu.

Ulquiorra tak tahan lagi menyimpan perasaannya. Dengan cepat meraih bahu Orihime. Memeluknya dengat erat, "I love you."

Orihime tersentak. Mendengar kata cinta yang di lontarkan sahabatnya. Dengan ragu dia melingkarkan tangannya di punggung Ulquiorra, "Sejak kapan?"

Ulquiorra melepaskan pelukannya. Menatap lekat-lekat wajah Orihime, "Sudah lama. Aku tidak tahu kapan pastinya. Tapi... aku mencintaimu."

Orihime tersenyum dengan pipi memerah. Tangannya membelai pipi pucat sahabatnya, "I love you too."

Dia memberanikan dirinya mencium bibir Ulquiorra dengan lembut. Ulquiorra membalasnya dengan ciuman hangat. Mereka terlihat bahagia. Sedetikpun tak mau melepaskan bibir mereka. Kini mereka menjadi sepasang kekasih dan sahabat sekaligus.

Ulquiorra tersenyum melihat Orihime. Gadis itu miliknya. Hanya untuk dirinya sampai kapan-pun. Tangan pucatnya membelai rambut panjang senja. Dia menekan punggung Orihime agar lebih dekat dengan dirinya. Menghirup wangi tubuhnya yang semerbak wangi bunga.

Orihime tersipu. Merasakan nafas Ulquiorra di lehernya. Matanya membulat ketika Ulquiorra mengecup lehernya. Dia terkikik merasakan geli di lehernya. Tanganya melingkar di lehar Ulquiorra. Ulquiorra menempelkan keningnya di kening Orihime. Tangannya melingkar di pinggang ramping Orihime.

Kembang api masih di tembakkan ke langit. Menambah suasana menjadi romantis. Bunga sakura bermekaran dengan indah. Seperti menandakan kebahagian mereka berdua. Seiring bunga sakura bermekaran, mereka mengucapkan kata cinta.

Tidak ada kata terlambat, untuk mengucapkan kata cinta pada seseorang yang kita sayangi. Mereka menyadari bahwa cinta mereka sudah tumbuh sebelum mereka menginjak SMA. Mereka baru menyadarinya sekarang dan itu belum terlambat.

OWARI


NOTE : FESTIVAL HANAMI(*) - tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Mekarnya bunga sakura merupakan lambang kebahagiaan telah tibanya musim semi. Selain itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura.

Balasan REVIEW chap kemarin. Arigatou Gozaimasuta untuk kalian semua yang sudah REVIEW dan membaca :

Relya Schiffer : Tinggal makan dong kalo kayak udang rebus, hehehe...Rencana mao ngejabarin tentang mereka saat dihotel. Tinggal lihat waktunya. Bulan2 ini AQ sedikit sibuk*alah sok sibuk

hanaka of nadeshiko : Rambut Byakuya mengingatkanku pada rambut Ulqui. Sama-sama hitam dan bersikap dingin.

koizumi nanaho : Orihime tidak main-main dengan Ulquiorra. Kalo main bukan dihotel, tapi ditaman bermain. He..he..he..*dipelototin sama koizumi-Gomen

Yuzumi Haruka : AQ setuju kalo Bya ama Ulqui ada kemiripan. Thank's menyukainya.

Rigel pendragon Draven : Wah-wah Rigel-kun mengenal merek itu ya, Hihi~. Yang di maksud Hime itu Byakuya bukan Ichi. Rigel-kun tak membacanya ya? Krn asyik membaca Hime dan Ulqui di hotel?

Sara Hikari : Aq memilih Byakuya krn ada kemiripan dgn Ulquiorra. Hikari suka adegan yang "..." Kalo di jabarin pasti asyik. Kalo ada waktu aku akan ngejabarinnya, hehe...

Amber 'Orquidea' Reina : Iya, pas ngetik ditemani lagu melinda, ckckck... Jadi ngebayang kesitu. Chap ini baru melibatkan Ichigo*nunjuk keatas. Kalo di hotel dijabarin, berarti hrs ganti Rate. Suka yang gituan*di sambet Amber-Gomen

Ayano gak login : Sekali-kali dengan yg lainnya, bolehkan. Namanya juga fanfict hehe...

marianne de Morionettenspieler : Karena one-shot jadi tdk ada lanjutannya. Gomen...

ulquihime : Kalo berbau rahasia pasti indah yA*disumpal

Ree Kie : Kemarin udah aq jawab di review chap 5 dech. Coba lihat review-nya ya...

Hime Schiffer : Hehe...Thank's. Pas ngetiknya ngedengerin lagu itu.

~0o0~

R E V I E W

~0o0~