Sudah lama sekali waktu berlalu…dan jarak dan waktu memisahkan kita….

Meski cinta kita tersampaikan terasa ada yang dingin saat mengingat kau tak ada di sampingku…mengenggam tanganku…ataupu merasakan hangat tubuhmu…

Natal ini…apa akan tetap seperti tahun-tahun sebelumnya….

Hanya bisa mendengar suaramu tanpa bisa menyentuhmu….?


"Perhatian, pesawat sebentar lagi akan mendarat di bandara Incheon Korea, waktu setempat saat ini menunjukkan pukul…."

Seorang namja tampan berambut hitam perlahan-lahan membuka matanya yang sedaritadi mendengar pengumuman itu. Namja tampan itu mengusap rambutnya dan menghela napas sebelum memandang langit biru yang terlihat dari jendela pesawat di sampingnya. Namja tampan bernama Kim Joonmyeon, atau yang lebih sering dipanggil teman-temannya dengan nama Suho, itu meletakkan tangannya di permukaan jendela.

"Sudah 3 tahun berlalu sampai akhirnya aku bisa kembali ke sini…" kata Suho pelan sebelum tersenyum. "…Semoga tidak ada yang berubah….."

"…Semoga kau terus mencintaiku sampai saat ini…dan bersedia menungguku…."


Suho menghela napas saat dia berjalan menyusuri airport Incheon itu sambil menyeret kopernya. Akhirnya setelah 3 tahun meninggalkan Korea, dia kembali bisa merasakan atmosfer Korea yang dia rindukan…dan kembali pulang ke tempatnya lahir dan dibesarkan ini.

Ya…sudah 3 tahun sejak Suho meninggalkan Korea dan pergi ke Amerika untuk meneruskan kuliahnya di sana. Suho mendapatkan beasiswa di Harvard university sampai akhirnya kini dia lulus dari jurusan hukum di sana dan kalau beruntung dia bisa segera mulai mencari pekerjaan sebagai pengacara di Korea sekarang.

Dia rindu suasana di Korea…sudah 3 tahun meninggalkan negara ini…rasanya menyenangkan sekali bisa kembali ke sini, mengingat kembali semua kenangan yang dulu dia buat di sini, bertemu dengan orang-orang yang dulu dia tinggalkan di sini…dan juga…bertemu lagi dengannya….

"Suho-hyung!"

Suho segera tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah asal suara, mencari tahu siapa yang memanggilnya. Dia melihat seorang namja manis berambut hitam yang masih memakai seragam sekolah berlari ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Suho langsung tersenyum saat dia mengenali sosok itu sebagai sosok adik kandungnya, Kim Jongin.

"Hyung!" seru Jongin riang sambil memeluk kakaknya itu saat dia sudah berada di depan Suho. "Akhirnya kau pulang juga! Aku rindu padamu!"

Suho tersenyum sambil mengusap rambut adik kandung satu-satunya itu. Meski sudah 3 tahun berlalu…sepertinya Jongin tidak berubah sedikitpun. Adiknya itu masih anak yang suka bermanja-manja padanya. Adik yang daridulu disayanginya….

"Appa dan umma masih sibuk bekerja supaya bisa cuti selama seminggu setelah natal," kata Jongin. "Jadi mereka tak bisa pulang dan menjemputmu tapi mereka bilang mereka rindu padamu makanya hanya aku yang ada di sini." Jongin tersenyum dan memandang koper yang masih ada di tangan Suho. "Jadi…hadiahku?"

Suho tertawa mendengar perkataan Jongin. "Tenang saja," katanya sambil tetap mengusap rambut Jongin dengan penuh sayang. "Mana mungkin sih aku melupakan adik kesayanganku? Aku punya banyak hadiah untukmu tapi...bagaimana kalau kita tunggu sampai natal besok untuk hadiahmu?"

Jongin mengerucutkan bibirnya sejenak, membuat Suho kembali tertawa, sebelum tersenyum. "Baiklah, hyung," katanya. "Ayo, aku punya janji dengan Sehunnie jam 4 nanti jadi lebih baik kita pergi sekarang." Namja manis berkulit tan itu segera menarik tangan Suho dan membawa namja tampan itu menuju taksi yang sudah menunggu mereka sebelum taksi itu pergi meninggalkan bandara Incheon itu menuju rumah mereka.


Sepanjang perjalanan, Jongin menceritakan apa yang terjadi dengan orangtua dan teman-temannya yang ada di Korea selama dia meninggalkan Korea 3 tahun ini. Mendengar perkataan dan cerita Jongin, Suho mau tidak mau merasa bersyukur dan tenang. Dia bersyukur…karena meski dia sudah meninggalkan Korea selama 3 tahun…setidaknya sepertinya tidak ada hal yang berubah di hidupnya…semua orang yang dikenalnya tidak mengalami banyak perubahan…

Dan Suho berharap kalau dia pun tidak berubah….

"Ah, besok ada pesta natal di rumah," kata Jongin seakan-akan baru mengingat sesuatu. "Ayah dan ibu berniat menjadikan itu pesta keluarga, jadi yang diundang hanya keluarga inti, seperti paman, bibi, dan Jongdae-hyung tapi appa dan umma bilang kau bisa mengundang orang lain, jadi aku mengundang Sehunnie, Chanyeol-hyung dan Luhan-hyung sementara Jongdae-hyung mengundang Yixing-hyung, Xiumin-hyung Baekhyun-hyung, Tao, dan Kris-hyung. Kau mau mengundang Kyungsoo-hyung?"

Pertanyaan Jongin membuat Suho kembali memikirkan Kyungsoo, Do Kyungsoo, namjachingunya yang sudah dia tinggalkan selama 3 tahun. Yah…mungkin tidak bisa dibilang meninggalkan…karena mereka tetap saling berhubungan entah lewat telepon, SMS, e-mail, bahkan kadang video chat tapi…kesibukan dan perbedaan waktu yang berbeda membuat mereka tidak bisa terlalu sering berhubungan, karena itu bisa dibilang hubungan mereka sekarang seperti tarik ulur saja, seperti…tidak mau putus tapi juga enggan untuk mempertahankan, hanya membiarkan hubungan mereka mengalir seperti air.

"Ngomong-ngomong bagaimana Kyungsoo?" tanya Suho. "Aku terakhir kali menghubunginya tiga bulan lalu, itu pun bisa dibilang hanya SMS singkat selamat pagi dan selamat tidur. Saat itu aku sibuk menyelesaikan skripsiku dan katanya dia juga sibuk persiapan konser natal jadi..."

"Dia baik-baik saja," kata Jongin sambil tersenyum. "Yah…dia memang sibuk persiapan konser natalnya malam ini bersama Jongdae-hyung dan Baekhyun-hyung tapi selain fokus dengan konser ini bisa dibilang dia baik-baik saja."

Suho hanya diam mendengar pertanyaan Jongin. Jongin memandang jalan dari kaca di sebelahnya sebelum menghela napas. "Dia sering bertanya padaku tentang keadaanmu, hyung," kata Jongin, membuat Suho yang sedaritadi menundukkan kepalanya mengangkat kepalanya untuk memandang Jongin. "Kurasa dia serius merindukanmu, aku bisa merasakan dia kecewa dan sedih saat aku mengatakan kalau kau akhir-akhir ini juga jarang menghubungiku."

Suho kembali tertunduk mendengar perkataan Jongin. Memang…kesibukannya menggarap skripsinya sekaligus bekerja sambilan di luar negeri, juga perbedaan waktu antara Amerika dan Korea membuatnya seperti kehilangan kontak dengan keluarga dan teman-temannya, dan dia merasa bersalah untuk semua itu..terutama dengan Kyungsoo.

Kyungsoo adalah namjachingu yang perhatian. Sejak mereka akhirnya jadian saat dia menyatakan perasaannya tepat sebelum berangkat ke Amerika, dengan niat agar dia tak punya penyesalan sebelum pergi, Kyungsoo selalu menjadi namjachingu yang baik untuknya. Kyungsoo tak pernah menuntutnya, dia juga tak pernah membandingkan dirinya dengan namja-namja lain, meski Suho tahu banyak namja yang mengincar dan menyukai Kyungsoo, baik di sekolah mereka dulu ataupun di universitasnya sekarang. Kyungsoo mengerti kalau Suho bekerja keras juga untuk hidupnya di masa depan, dan memang keduanya adalah orang yang sangat menganggap penting pendidikan jadi Kyungsoo tak pernah menuntut lebih dari apa yang dia dapat karena dia mengerti kalau ini toh untuk kebaikan mereka berdua.

…Tapi…tetap saja dia merasa bersalah, kan? Bagaimanapun Kyungsoo itu namjachingunya, orang yang dia cinta di atas segalanya. Tidakkah itu berarti…dia seharusnya memperlakukan Kyungsoo dengan baik?

"Mumpung kau pulang tidakkah lebih baik kau menemuinya hari ini? Hari ini Christmas Eve, malam yang biasanya dipakai para pasangan kekasih untuk berduaan dan saling melepas rindu. Apalagi hari ini dia selesai konser, dia pasti senang setelah bekerja keras menghibur orang banyak kau, yang selama ini ditunggunya, datang menemuinya." Jongin tersenyum sambil menggenggam tangan kakak kandungnya itu. "Bukan usul yang buruk, kan?"

Suho hanya diam sambil tersenyum sedih sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya untuk menjawab perkataan Jongin.


"Baiklah kurasa sudah cukup untuk latihannya untuk saat ini," kata Kyungsoo sambil bangkit dari kursi piano yang didudukinya. "Kita istirahat sebentar sebelum latihan satu kali lagi sebelum pentas yang sesungguhnya."

"Huh, akhirnya bisa istirahat juga," kata Baekhyun sambil menghempaskan diri ke kursi yang ada di hadapannya. "Akhirnya…setelah latihan keras selama 3 bulan penuh semuanya akan berakhir malam ini dan aku bisa istirahat."

"Heh, istirahat?" kata Jongdae yang sedang meneguk air di botol yang berada di tangannya. "Ini Christmas Eve loh, Christmas Eve, kau tidak ada rencana kencan dengan Chanyeol? Namjachingu macam apa kau itu? Empat bulan kau mengabaikannya, sekarang setelah alasanmu untuk mengabaikannya tidak ada kau tetap mengacanginya? Aku kasihan dengan Chanyeol."

"Diamlah Kim Jongdae," kata Baekhyun sambil menyesap kopinya. "Aku berbeda dengan kau dan Yixing-hyung. Aku dan Chanyeol adalah pasangan mandiri, yang tidak butuh bermesraan berlama-lama, tidak seperti kau yang tidak bisa hidup kalau tidak bertemu sehari saja dengan Yixing-hyung."

"Biar saja, setidaknya aku dan Yixing-ge saling mengerti tidak seperti kau dan Chanyeol yang saling bisu soal perasaan kalian," kata Jongdae sambil menjulurkan lidahnya. "Suatu hari nanti kau bisa menangis kalau diputuskan tahu!"

Baekhyun langsung memukul kepala Jongdae. "Kau! Kurang ajar kau mendoakanku dan Yeollie putus?!"

"Siapa yang mendoakanmu?!" kata Jongdae sambil mengusap kepalanya. "Aku hanya memperingatkan tapi kalau itu terjadi…jangan salahkan aku!"

Dan pertengkaran mulut kedua namja itupun terus berlangsung, membuat Kyungsoo menghela napas.

"Sudah kalian hentikan!" katanya. "Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk menunjukkan rasa cinta dan merawat hubungan mereka dengan kekasih mereka masing-masing, jadi tidak usah memperdebatkan perbedaan kalian dalam menjaga hubungan kalian dengan namjachingu masing-masing. Kalau kalian punya cara pandang yang beda tentang pacaran ya berarti cara kalian memanage hubungan kalian juga berbeda, jadi tak usah perdebatkan hal tak penting."

Baekhyun dan Jongdae segera menghentikan pertengkaran mulut mereka dan menatap Kyungsoo yang sekarang menghirup cokelat panas di gelasnya.

"Ngomong-ngomong, hyung, aku tak pernah melihat namjachingumu," kata Baekhyun. "Apa kau sudah punya pacar atau masih single?"

Kyungsoo menghirup cokelatnya sekali lagi. "Punya," kata Kyungsoo. "Sudah tiga tahun."

"Tiga tahun?!" seru Baekhyun. "Dan selama tiga bulan ini aku tak melihatnya?! Kemana saja namjachingumu sampai hubungan kalian sedingin itu?"

"Mereka kan sedang hubungan jarak jauh," kata Jongdae sambil tersenyum, membuat Baekhyun memandangnya. "Namjachingu Kyungsoo-hyung adalah sepupuku, Suho-hyung. Saat ini Suho-hyung sedang kuliah di Amerika makanya mereka sedang hubungan jarak jauh."

"He~" kata Baekhyun. "Tiga tahun tidak bertemu sama sekali, hyung tabah sekali ya? Aku saja meski bertemu dengan Yeollie setiap hari kadang merasa rindu juga."

"Aku masih sering berhubungan dengannya kok," kata Kyungsoo sambil meletakkan gelasnya. "Lagipula aku dan Suho-hyung sama-sama berpikir kalau pendidikan adalah jalan untuk mendapatkan masa depan yang baik, jadi aku dan dia sama-sama berpikir kalau ada jalan untuk mendapat pendidikan yang lebih baik kenapa ditolak? Karena itu aku mendukungnya kuliah ke Amerika. Dia juga disana paling cuma 4 tahun setelah itu…" Kyungsoo mengangkat bahu. "Dia pasti pulang, kok jadi aku cuma harus sabar menunggunya."

"Hmm…tapi apa kau yakin bisa percaya padanya?" tanya Baekhyun. "Kau kan tidak bisa melihat apa yang dia lakukan, bagaimana kau bisa percaya kalau dia mencintaimu dan tak berhubungan dengan orang lain di luar sana?"

"Baekhyun-hyung!" tegur Jongdae mendengar pertanyaan Baekhyun yang bisa dibilang 'menampar' itu.

Kyungsoo terdiam sesaat sebelum tersenyum. "Aku hanya bisa percaya padanya," kata Kyungsoo sambil kembali bangkit dari kursinya. "Kunci hubungan jarak jauh kan hanya percaya, jadi aku percaya kalau meski berpisah 4 tahun dia masih mencintaiku…." Kyungsoo memandang salju yang berjatuhan dari balik kaca jendela ruangan itu. "…Dan mau kembali padaku." Namja manis bermata besar itu segera berbalik sebelum tersenyum. "Ayo, kita latihan lagi, untuk persiapan terakhir sebelum pentas," katanya sambil menepukkan kedua tangannya dan kembali ke piano di hadapannya, membiarkan pikirannya tentang Suho menjauh dari pikirannya….


Suho menghela napas saat dia memandangi jendela kaca dari ruang tamu rumahnya. Jongin sudah pergi ke taman kota untuk bertemu Sehun, meninggalkan dia sendirian di rumah, dan mau tidak mau…membuatnya kembali berpikir tentang Kyungsoo.

Sampai saat ini dia sangat mencintai namjachingunya itu. Meski terpisah jarak dan waktu, rasa cintanya pada Kyungsoo tidak pernah menghilang, bahkan semakin bertambah. Bisa dibilang dia mengagumi namja manis itu…sejak pertama kali mereka bertemu di SMA…saat Jongin mengenalkan Kyungsoo padanya. Sejak itu dia dan Kyungsoo semakin dekat karena hampir setiap hari Kyungsoo, yang saat itu menjadi tutor Jongin, datang ke rumah mereka dan dia menemukan kalau seiring dengan semakin akrabnya mereka semakin besar pula rasa ketertarikannya dengan Kyungsoo sehingga dia akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya…sebelum dia berangkat ke Amerika dan yang sama sekali tidak disangkanya, ternyata Kyungsoo menerimanya.


"Chukkae hyung, katanya kau mendapatkan beasiswa ke universitas Harvard, kan?" kata Kyungsoo sambil duduk di ranjang Suho saat dia memandangi koper-koper Suho yang sudah tersusun rapi. "Dan kau akan pergi besok ya…Jongin pasti kesepian ya?"

"Karena itu aku memintamu untuk menemaninya," kata Suho sambil tersenyum memandangi namja manis bermata besar di hadapannya itu. Jongin butuh figure seorang kakak yang bisa menyayangi dan menjaganya, dan meski ada Jongdae kurasa dia butuh satu sosok kakak lagi." Suho menggaruk kepalanya dengan kikuk. "Jadi…aku bisa minta kau menjaga Jongin sampai aku kembali, kan?" tanyanya.

Kyungsoo tertawa mendengar permintaan Suho. "Tentu, hyung," katanya. "Aku pasti akan menjaga Jongin."

Suho tersenyum sebelum menganggukkan kepalanya. "Terima kasih dan sebelum aku pergi…." Namja tampan berambut hitam itu segera memandang Kyungsoo dengan tatapan…sedih? Lembut? Hangat? Entahlah, Kyungsoo merasa tidak bisa mengartikan pandangan Suho padanya saat ini. "…Ada yang harus kukatakan padamu. Aku…aku tahu sangat aneh mengatakan ini padamu saat ini tapi aku…sudah memutuskan aku tidak mau meninggalkan Korea dengan penyesalan, karena itu…aku harus mengatakan ini padamu."

Kyungsoo tertegun mendengar perkataan Suho sejenak sebelum menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu. "Ya," katanya sambil tersenyum. "Apa yang ingin kau katakan padaku, hyung? Silakan, aku siap mendengarnya."

"Ehm…aku…" Suho menggaruk pipinya dengan sikap salah tingkah sebelum berjalan hingga kini dia berdiri di hadapan Kyungsoo dan menggenggam tangan namja manis bermata besar itu dengan erat, membuat Kyungsoo segera memandang Suho dengan tatapan terkejut.

"H…hyung?" tanya Kyungsoo pelan.

"…Aku menyukaimu, Kyungsoo-ya," kata Suho sambil tersenyum dan membawa tangan namja manis itu ke bibirnya dan mengecupnya pelan. "Aku tahu ini sangat mendadak tapi kau tahu kan kalau aku besok akan pergi dan aku…."

"Kenapa?" tanya Kyungsoo pelan, membuat Suho terdiam.

"Kenapa katamu?" tanya Suho. "Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang? Aku menyukaimu karena kau itu…."

"Bukan itu yang kutanyakan!" seru Kyungsoo sambil mengangkat wajahnya yang sedaritadi tertunduk. dan saat itulah Suho menyadari kalau wajah Kyungsoo sedaritadi bersemu merah. "…Kenapa…kau baru mengatakan itu sekarang…?" katanya. "Di saat kau harus pergi besok dan kita…tidak bisa menghabiskan waktu bersama sebagai sepasang kekasih di Korea meski hanya sekali?"

Suho tertegun mendengar perkataan Kyungsoo. Apa…dia tidak salah dengar? Tadi…Kyungsoo mengatakan kalau dia mengharapkan mereka pergi bersama sebagai sepasang kekasih? Apa…apa itu artinya. "Kyungsoo…kau…."

"Ya…" kata Kyungsoo sambil tersenyum. "Aku juga mencintai hyung…."


Suho memainkan kotak merah yang ada di tangannya, hadiah natal yang sudah dipersiapkannya untuk Kyungsoo. Suho tersenyum saat dia melihat pesan yang dia tulis untuk Kyungsoo.

Kyungsoo sudah menunggunya selama 3 tahun…. Namja manis itu rela menunggu selama 3 tahun dalam ketidakjelasan hubungan mereka yang terpisah jarak begitu jauh ini, meski Suho jarang sekali menghubunginya dan kalau Kyungsoo menghubunginya dia selalu membalas dengan singkat.

Kyungsoo sudah mengorbankan banyak hal untuknya dan hari ini…adalah saat dia membalasnya.

Suho tersenyum saat dia memasukkan kertas pesannya ke dalam amplop dan segera membawa kadonya di tangannya sebelum berjalan pergi.


Kyungsoo menghela napas saat dia berjalan pulang menuju rumahnya, sepanjang jalan melihat banyak sekali pasangan kekasih yang asyik berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama di malam Christmas Eve itu. Kyungsoo memandangi para pasangan kekasih itu dengan tatapan kosong, untuk sesaat ada perasaan iri terselip di hatinya.

Dia tidak pernah melakukan semua hal itu dengan Suho, meski status mereka berpacaran. Mereka tak punya waktu untuk pergi kencan bersama, makan bersama, nonton…kegiatan apapun yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Karena itu jujur saja ada perasaan kesal saat Suho menyatakan perasaanya tepat sehari sebelum keberangkatannya dan juga ada rasa marah pada dirinya sendiri…kenapa dia harus menyimpan rasa sukanya pada Suho sampai akhirnya Suho menyatakan perasaanya di saat yang tanggung seperti itu.

Tapi….

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Apa yang sudah terjadi biarkan saja terjadi. Tak ada gunanya memaki hal yang sudah terjadi, kan? lagipula dia sudah memutuskan untuk mendukung Suho jadi dia tak boleh menyalahkan Suho dan dirinya dengan masalah pacaran jarak jauh mereka ini.

Kyungsoo memandang handphone di tangannya dan mengecek jam yang ada di sana. "Sekarang harusnya sudah pagi di sana, apa…sebaiknya aku kirim pesan…."

Ucapan Kyungsoo terhenti saat dia melihat ada seseorang yang berdiri di selusur tangga rumahnya. Namja manis itu segera berjalan lebih cepat menuju rumahnya untuk melihat siapa orang yang menunggunya sebelum napasnya tiba-tiba tercekat saat dia mengenali orang yang sekarang berdiri di hadapannya sambil tersenyum itu.

"Su…Suho-hyung…" kata Kyungsoo. "Ke..kenapa? Kapan kau pulang?"

"Siang ini. Aku sengaja tidak memberitahumu karena selain kau sibuk dengan konsermu aku juga mau memberimu kejutan." Suho tersenyum sebelum berjalan ke arah Kyungsoo yang masih berdiri terpaku. "3 tahun tidak melihatmu kau sama sekali tidak berubah…" Suho mengangkat tangannya dan mengusap pipi Kyungsoo dengan lembut. "…Tetap manis seperti saat aku mengenalmu dulu."

Kyungsoo masih terpaku sebelum akhirnya memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Suho di pipinya. Jari-jemari Suho yang mengusap pipinya terasa begitu nyata, kehangatan tangan itu nyata…Kyungsoo yakin yang berdiri di hadapannya benar-benar Suho, bukan khayalan atau ilusi yang dia pikirkan karena terlalu merindukan namjachingunya itu.

"Kau sudah berusaha keras 3 tahun ini ya…" kata Suho sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mempercayaiku dan terus mencintaiku selama 3 tahun ini. Padahal saat aku pergi aku tidak menjanjikan apa-apa padamu tapi kau tetap mau percaya padaku." Suho mengecup dahi Kyungsoo pelan. "Aku pulang…Kyungsoo-ya…dan untuk kali ini aku akan tetap bersamamu…."

Kyungsoo tertegun mendengar perkataan Suho selama beberapa menit. Namja manis itu segera membuka matanya dan memandang Suho. "Apa?" tanyanya, tidak yakin kalau dia tidak salah dengar perkataan Suho.

Suho tersenyum mendengar perkataan Kyungsoo. "Aku pulang…dan untuk kali ini aku akan tetap bersamamu…selama apapun yang kau mau…."

Air mata menetes dari mata Kyungsoo saat dia mendengar perkataan Suho. Sebuah senyum manis segera terbentuk saat dia mengalungkan lengannya di pinggang Suho dan memeluk namja tampan itu dengan erat. "Ya…" katanya sambil membenamkan wajahnya di dada Suho, merasakan kehangatan tubuh yang selama ini dirindukannya. "…Selamat datang, hyung…."

Dan kedua namja itu saling berpelukan di bawah salju yang terus berjatuhan dari langit malam, menyatukan rasa cinta yang dulu terasa jauh…dan tak terjangkau bagi mereka.

"Saranghae, Kyungsoo-ya…."

"Nado saranghae, Suho-hyung…Jeongmal saranghae…."