-Surprise-
Chapter 7
-Seventh Surprise!-
Disclaimer: Kuroko no Basuke punya Tadatoshi Fujimaki-sensei & Ansatsu Kyoushitsu punya Matsui Yuusei-sensei. Aku cuma pinjem chara mereka aja.
Main Chara: Akashi Seijuurou, Akashi (Akabane) Karma ( + Last Boss)
Genre: Friendship-Humor + Horor (maybe?)
Rated: K+
Warning: Typo, OOC, Humor Gagal/Garing, Abal, judul mungkin gak sesuai ama ceritanya, EYD yang amburadul, Duo Aka yang mendadak tsundere, perkembangan yang sama sekali tidak berkembang (?) No flame, please?
Don't Like, Don't Read
Happy Reading~!
Story by Ni-chan XD
Mind to RnR?
.
.
.
"Yang tadi itu sudah yang keberapa kali ya?"
"Nggak tau, aku nggak ngitung lagi," ucap Akashi ngos-ngosan yang sedang berusaha mengatur nafasnya. "Saking banyaknya …"
"Hufftt … apa nggak sebaiknya kita dobrak aja ini dinding ya? Begitu dijebol kan sudah bisa keluar!" usul Karma.
"Oii! Kalau dijebol gitu aja, mana kita tau kalau ternyata sama aja kayak tempat yang berikutnya? Mana mungkin sih, rumah hantu yang kulihat dari depan kecil gini jalan lurus teruuuss aja sampai bego! Pasti banyak beloknya kayak tadi lah! Jadi dengan kata lain kalau didobrak ya, sama aja. Mungkin kau bakal balik ke tempat semula yang sudah kauinjak tadi," jelas Akashi.
"Masuk akal." gumam Karma. "Tapi baiknya sekarang gimana?"
"Kenapa tanya aku?!" protes Akashi.
"Kan Nii-san katanya lebih pinter dari aku," Karma ngeles.
Akashi cuma diam dan meneruskan langkahnya sampai mereka berdua tiba di depan sebuah pintu. Terlihat besar, misterius dan tentunya menyeramkan, seakan-akan kau bisa langsung terhisap ke dalamnya dan tak akan kembali lagi setelah membukanya.
Dengan takut-takut dan karena tidak ada jalan lain lagi, mereka berdua membuka pintu itu bersamaan. Terlihat sebuah ruangan berukuran persegi yang ukurannya kira-kir meter. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja panjang dan seorang peramal yang mereka jumpai di awal-awal masuk tadi.
"Aku terkejut kalian bisa sampai ke sini," ucapnya.
"Tentu saja! Jalan keluarnya cuma di sini kan?!" ujar Karma.
"Hmh, semangat yang bagus. Kuakui itu. Tapi aku ragu kalian akan berhasil selamat untuk 'kejutan' yang berikutnya," Peramal itu menyeringai. "Kalian sungguh berniat ingin melanjutkannya? Tidak akan menyesal kan?"
"Nii-san, orang aneh itu ngomong apaan sih?"
"Tau."
"DENGERIN KALO ORANG LAGI BICARA-NANODAYO!" teriak Peramal itu lagi lalu menghela nafas dan menurunkan sedikit topi anehnya sehingga wajahnya semakin tertutup. "Aku sudah tahu, sebenarnya 'Akabane' itu cuma marga samaran kan?"
"G-geh! Darimana kau bisa tahu!" seru Karma terkejut.
"Hah, siapapun pasti tahu bila melihat kalian berdua bersamaan. Terlihat sangat mirip, yang membedakan hanya manik mata. Tinggi badan pun tak jauh be-,"
Crep! Sebuah gunting merah mengilat menancap tepat di sebelah kanan wajah peramal itu. Nggak perlu ditanya dan dipastikan lagi, gunting itu milik Akashi yang nggak terima dibilang 'pendek' walaupun dengan cara halus.
"Ng-nggak! Maksudnya aku bukan mau ngeledekin pendek atau apa! Cuma kalau boleh jujur yaa … kau memang kurang ting-,"
Crep! Crep!
"Oke, oke! Maafkan aku!"
"Jadi, kelanjutannya apa?" tanya Akashi.
"Seperti yang kalian tahu, setiap cerita punya akhirnya. Buku pun begitu, pasti punya halaman terakhir. Begitu pula rumah hantu ini. Kalian telah mencapai klimaksnya," jelas Peramal itu.
"Klimaks?"
"Saat penentuan. yaitu Final Boss."
"Final Boss? Kayak game aja," ujar Karma.
"Yah, singkatnya, rumah hantu ini memang permainan yang terbagi menjadi beberapa stage. Aku kagum kalian bisa sampai di sini. Tapi apa berikutnya bisa ya? Apalagi selanjutnya 'Final Boss'. Kalian tahu kan, desas-desus rumah hantu ini bahkan sebelum masuk? Belum pernah ada yang bisa menyelesaikannya sampai akhir. Tapi kalian berhasil sampai di sini memecahkan rekor baru," sang Peramal mulai berbasa-basi.
"Berhenti berceloteh yang tidak penting dan cepat katakan apa yang harus kita lakukan?" potong Akashi.
"Huft, aku sudah tau kau akan bilang begitu. Oke, sebenarnya aku ada di sini hanya untuk memberikan petunjuk pada kalian."
"Petunjuk?"
"Ya, aku akan member petunjuk tentang ruangan 'Final Boss' pada kalian. Ah, tapi hanya satu orang yang boleh masuk dalam setiap ruangan," jelas Peramal itu lagi.
"Satu ruangan cuma boleh dimasuki satu orang? Tapi kami kan berdua?" protes Karma. "Artinya salah satu dari kami harus berkorban gitu?"
"Tidak, lagi pula aku belum selesai berbicara, jadi dengarkan dulu. Ruangan 'Final Boss' ada dua, yang artinya ada dua Boss. Satu dari kalian harus mengalahkan salah satunya. Menghadapinya saja hanya segelintir orang yang bisa, apalagi mengalahkan. Tapi hanya itu sajalah cara untuk keluar," ucapnya.
"Oke, jadi ruangan itu ada di mana?"
"Kalian tinggal lurus melalui lorong ini yang menghubungkan jalan menuju ruang 'Final Boss'. Di ujung nanti akan ada Twin Door atau 'Pintu Kembar'. Sesuai namanya, ada dua pintu yang sama. Kalian harus masuk ke masing-masing pintu yang berbeda, dan mengalahkan Boss di dalamnya dan kembali dengan selamat," jelas sang Peramal dengan muka misteriusnya. "Ah, ngomong-ngomong, Twin Door itu tidak memakai kunci, tapi pintunya sedikit macet, dan menurut kabar tidak bisa dibuka dari dalam. Jadi intinya kalian tidak bisa keluar setelah memasuki ruangan itu."
"Yang benar? Jadi artinya kalau kalah, kita akan mati dan membusuk di dalamnya tanpa ada yang akan menemukan kita?!" protes Karma.
"Benar sekali. Jadi pikirkan baik-baik, atau kalian mau tinggal bersamaku saja?" tawar Peramal itu tiba-tiba.
"Tinggal sama situ?" tanya Karma dengan nada meremehkan. "Kutebak kau tinggal di gubuk tua dekat dusun yang tak terawat yang sesekali muncul penampakan bukan?"
"Benar. Tepatnya lebih parah dari itu,"
"Hah?"
"Tempat tinggalku bahkan lebih parah dari bayangan kalian. Gubuk tua yang hampir reyot dengan tikus ditambah kecoa yang berkeliaran dimana-mana. Ah, ular juga sering numpang lewat tuh, bisanya mantep lagi. Konon, sekali gigit bakal sekarat atau lebih sering langsung tewas di tempat. Ularnya juga besar yang kira-kira sanggup menelan gajah bulat-bulat, terus ya-," Peramal itu asyik berceloteh sendiri sementara Akashi dan Karma sudah eneg dari tadi.
"A-ano, bisa udahan sampai situ nggak? Di sini nggak ada kantong muntah jadi gawat kalau kakakku ini muntah di sini sekarang," sela Karma sambil menunjuk Akashi yang mukanya sudah membiru, menutup erat mulutnya dengan kedua tangannya karena takut bazooka di dalamnya meluncur keluar.
"K-Karma … gak … khuat … lagih nighh …," kata Akashi.
"Nii-san, jangan muntah di sini ah! Malu-maluin tau!" Karma langsung menyumpal mulut Akashi pakai tisu sekotak-kotaknya yang nggak tau tuh, darimana dia dapetin. Mungkin dia ada part-time job bagiin tisu pakai baju maid kali (Ni-chan: gehh … bayanginnya aja udah bikin mimisan| Karma: sejak kapan aku ambil job gituan?!).
"Akashi."
"Aphgha?!" tanya Akashi megeh-megeh plus jadi pengen muntah beneran gegara tisu yang disumpal Karma.
"Aku iri padamu. Ternyata kau punya adik yang segini baik," ucapnya.
"BUHHH!" Akasih langsung memuntahkan semua tisu di mulutnya. "Baik katamu?! Heh, adek kayak gini sih, di TK banyak banget! Selalu ngejailin aku, meremehkan aku, dan parahnya dia pernah ngelecehin aku!"
"Ngelecehin itu maksudnya gimana?" tanya si Peramal bingung.
"Rasanya aku nggak pernah ngelecehin Nii-san deh," tukas Karma ikut-ikutan bingung.
"Halah! Nggak usah pura-pura nggak tau! Ingat waktu kita pergi makan es krim bareng di jalan waktu pulang sekolah dua bulan yang lalu!" seru Akashi sambil menunjuk wajah Karma.
"Hah? Dua bulan yang lalu? Humm …,"
-Flashback ON-
"Nee, Nii-san, sebentar lagi pendaftaran jalur prestasi SMA Rakuzan dibuka kan?" seru Karma riang sambil sesekali menggigit es krim batangannya yang baru saja dibelinya dari konbini bersama kakaknya yang kebetulan ketemu di depan stasiun.
"Ya, dan kau harus ikut di dalamnya. Mengerti?" jawab Akashi sambil menggigit es krimnya ogah-ogahan karena ya … taulah. Masa seorang keturunan bangsawan jalan kaki sambil makan es krim murahan dari konbini saat pulang menuju rumah? Kan itu, gak pantes banget! (menurut Akashi). "Lagian kenapa nggak minta jemput aja sih? Pegel tau kalau jalan dari stasiun sampai rumah!"
"Alah, cuma jalan sekitar satu kilo setengah aja udah ngeluh. Biasanya juga Nii-san teriak-teriak nyuruh anak-anak basket lari-lari keliling lapangan ratusan kali kan?" sindir Karma.
"Huh! Itu sih wajar, kalau nggak dikerasin, mereka cuma bakal malas-malasan padalah pertandingan sudah dekat," dengus Akashi sambil menggigit kembali es krimnya.
Karma sepintas melihat ke arah es krim di genggaman kakaknya.
"Nii-san, cicip es krimnya dong!" pinta Karma.
"Hah? Bukannya kau sudah dapat bagianmu sendiri?" Akashi mengernyit.
HAP! Dengan gesit Karma langsung menggigit es krim Akashi tepat di posisi dimana Akashi baru saja menggigit bagian es krim tersebut. Karma dengan senyum bandelnya langsung mengacungkan peace.
"Hehe, siapa cepat dia dapat!"
"Dasar, kau mirip anak kecil saja!" dengus Akashi lalu berniat menggigit kembali es krimnya, tapi baru ia sadar, bagian atas es krim itu sudah dijarah dengan bekas gigitan Karma. Kalau Akashi menggigit bagian atasnya kan sama aja …
"Nii-san kenapa? Es krimnya nggak mau? Mau meleleh tuh, sayang. Sini kasih aku aja," timpal Karma iseng.
"N-nggak!" seru Akashi lalu dengan cepat menggigit bagian atas es krim tersebut dengan cepat dan menghabiskan semuanya lalu membuang stiknya ke dalam tong sampah. Kini Akashi pun pulang ke rumah dengan wajah memerah.
-Flashback OFF-
"Kau merebut first kiss-ku tau! Itu kau bilang bukan pelecehan!?" protes Akashi gaje.
"Hah? First kiss? Aku kan cuma nyicip es krim Nii-san aja, bukan Nii-sannya yang baru saja pulang setelah latihan dan dipenuhi keringat yang menyebabkan wangi maskulinnya kelu-,"
"Jangan menjelaskannya terlalu jelas begitu hoi! Bikin merinding aja!" seru Akashi dengan muka merah.
"Itu kan cuma ciuman nggak langsung-nanodayo," tukas Peramal tersebut.
"CUMA? Kau bilang C-U-M-A?!" protes Akashi. "Dengar ya! Bibirku yang indah ini sudah kujaga selama 16 tahun! Mana mungkin kubiarkan dinodai oleh orang yang nggak-nggak! Apalagi adikku yang mesum ini!"
"Nggak kebalik tuh?"
"DIAMMMM!" protes Akashi.
"Woi, sudah-sudah kek, berantemnya. Kaliain makan durasi nih. Oh ya, betewe, tadi aku ngejelasinnya sampai mana ya?" tanya si Peramal itu.
"Sampai tempat tinggal Oom," tukas Karma.
"Bukan, yang sebelumnya!"
"Oh, kalau nggak salah sih 'kalian nggak akan bisa keluar setelah memasuki ruangan itu'," ucap Akashi.
"Nah ya, benar. Salah satu cara untuk keluar hanya dengan melawan Final Boss di dalamnya. Kalian bersedia?" tanya Peramal.
"Bersedia!"
"Bagus! Sekarang masuk ke lorong itu!"
"Aku emang bilang bersedia sih … tapi kalau tantangannya ternyata seberat ini … belum lagi hawa intimidasinya sudah sampai sini," Karma memeluk dirinya sendiri.
"Berisik! Buat apa kita sejauh ini kalau bukan buat keluar? Pilihannya cuma dua. Tinggal di sini sengsara selamanya atau melawan Final Boss dengan taruhan nyawa. Mau pilih yang manapun sama nggak enaknya! Jadi kita harus ambil risiko!" ujar Akashi mantap. "Jangan khawatir, aku yakin kita bisa melewatinya, adikku."
"Hum, harusnya aku yang bicara begitu, Nii-san."
"Karma ambil pintu sebelah kiri, aku yang kanan! Oke?"
"Oke! Nggak masalah!"
"Baik-baik ya!"
"Nii-san juga."
"Jumpa lagi di pintu keluar!"
"Iyaaa~! Nanti kalau kita sama-sama berhasil keluar, aku kasih second kiss yaaa!" seru Karma.
"Um!" Akashi mengangguk mantap lalu memasuki ruangannya.
…hah? Karma bilang apa tadi?
Empat kata untuk Akashi.
Bego. Plus nggak peka.
"Ufffhh … ternyata memang menyeramkan yah. Ahahaha, nggak apa kok, kalau cuma segini anak kecil juga pasti tahan!" gumam Karma berusaha meyakinkan diri.
"Seorang anak kecil mengatai anak kecil? Bukan hal yang aneh, karena ini memang sudah sering terjadi …" Sebuah suara misterius memenuhi ruangan.
"Si-siapa?!" seru Karma merinding.
"Setidaknya kau harus menjaga harga dirimu sebagai seorang kakak. Jujur saja aku tidak heran dengan sikap Akabane-kun yang kekanak-kanakan. Karena kakaknya juga sama," ucap suara itu lagi.
"Kakak?" Karma bingung sendiri.
"Eh? Are'? Salah orang?"
"Hm?"
"Eh … ah, nggak, nggak usah dipikirkan,"
"Haaaa?" Karma sweatdrop.
Dan di saat yang sama di lain sisi …
"Huft, nggak begitu serem kok. Asal tenang pasti ini bisa selesai. Lagian paling bosnya tuh kayak di game-game cacat yang biasanya ada gratisan di Playst*re itu kan … ahahaha," Akashi tertawa garing. "Eh? Kayaknya aku mendengar sesuatu?"
"…nuh … bunuh … bunuh … akan kubunuh ..," Suara itu samar-samar tapi jelas, suara menusuk yang monoton sekaligus penuh dengan kesan horor. Tak lupa disertai dengan aura pembunuh yang pekat dan kelam dari 'asalnya'.
"Bu … buah? Ah, di rumah ada banyak tuh. Ambil aja kalau mau. Lagian mubazir kalau nggak dimakan juga. Nggak usah segitunya juga gih, kalau mau, ambil aja satu parcel jumbo juga keluargaku nggak bakal dendam kok," kata Akashi enteng. Bener-bener deh, Akashi ini lagi pura-pura bego gegara takut atau dia emang dari sononya bego?
"…bunuh … bunuh … bunuh … aku … aku … akan membunuhmu!" Suara itu kini terdengar makin jelas, dan mendekat. Akashi tercekat. Selain kaget karena ada makhluk yang bisa lebih mengintimidasi darinya, juga … ragu apakah makhluk itu benar-benar ingin membunuhnya (Ni-chan: halah! Nggak usah sok keren lu resek! Bilang aja takut susah banar sih! Durasi woi! Capek gue ngetik panjang-panjang!| Akashi: Berisik lu!).
"A-ano, pertama bisa tenang dulu nggak? Aku tau kau mau membunuhku tapi, taulah … diriku ini belum kawin, jadi belum boleh mati," kata Akashi ngarang alasan.
"Karma-kun, sejak kapan kau jadi orang mesum begitu? Aku jadi semakin ingin membunuhmu," ucap suara itu lagi.
"Ha? 'Karma-kun'?" ulang Akashi heran.
"He? Bukan Karma-kun?"
"Oh, kalau nyari Karma ya, dia di ruang sebelah. Eh, tapi ada urusan apa sama dia? Nagih utang ya? Ooh … kalau itu ya, maaf aja. Dia emang bandel. Tapi biar aku, kakaknya aja yang bayarin deh. Utang dia berapa? Satu milyar? Atau satu trilyun?" tanya Akashi enteng nyebutin jumlah duit segepok kayak lagi nanya harga obralan sayur murah di pasar sambil ngorek-ngorek dompetnya mamerin kartu kredit yang dia punya.
"Ngng …"
'Woi! Kenapa bisa salah tempat bego!'
'Maafkan diriku, Ketua! Aku kebawa suasana akting misterius sampai lupa ngasih tau mereka harusnya masuk ke pintu yang mana-nanodayo!'
'Mou~ harusnya baca naskahnya dong. Kalau sudah gini kan repot. Tetsuya-nii-san, sekarang harus gimana nih?'
'Umm … lakukan seperti rencana awal aja. Sepertinya nggak bakal banyak yang berubah.'
'Ryoukai.'
"Nah, Akabane Karma-kun, apa yang kau pikirkan tentang kakakmu?" tanya suara itu.
"Tentang Nii-san?" Karma bengong sebentar. "Nii-san ya Nii-san. Tidak perlu kesan yang khusus. Apa pun yang terjadi ia tetap kakakku. Meski aku berpikir sekalipun aku lebih tinggi darinya dia tetaplah kakakku."
"Jadi?"
"Seijuurou-nii-san selalu tegas dan taat pada peraturan keluarga. Jujur saja, sebagai penerus keluarga utama, dia selalu dipaksa belajar dengan keras tanpa istirahat. Aku berpikir kalau itu aku mungkin aku sudah gila," Karma mulai bercerita. "Aku sebagai adik hanya diberikan beberapa bimbingan belajar, tak sebanyak dirinya, karena kasarnya aku adalah cadangan, tidak begitu diperlukan, tapi tetap dipersiapkan sebaik mungkin. Tapi tetap saja, pemain cadangan tidak sebaik pemain reguler. Sewaktu kecil aku selalu iri dan ingin menjadi sepertinya, tapi Ayah selalu bilang untuk mengerjakan hal yang kubisa saja, tidak usah memaksakan diri sepertinya yang akan menjadi penerus. Bahkan aku sempat kecewa sewaktu aku dibilang hanya cadangan waktu itu."
"Lalu apa yang kaulakukan setelah mendengar hal menyakitkan itu? Menurutku manusia biasa pasti akan langsung putus asa dan membenci kehidupannya," ucap suara itu lagi.
"Aku sempat seperti itu awalnya, tapi disitulah sosok kakakku muncul, menghampiriku yang sedang menenggelamkan wajahku ke lutut, duduk di sebelahku lalu kata-kata itu keluar dari bibirnya, 'Kau ingin menjadi apa? Seperti apa? Dan apa gunanya untuk orang banyak?'," Karma meneruskan. "Tentu saja aku masih belum dapat menjawab pertanyaan itu, jadi aku hanya mengatakan, 'Aku tidak tahu, tidak tahu … jalan apa yang harus kupilih.', dan Nii-san membalasnya, 'Kau ya kau. Kau adalah adikku. Aku bukanlah pemain reguler, dan kau bukanlah pemain cadangan di keluarga ini. Aku adalah kakakmu, dan kau adalah adikku. Tidak perlu pusing memikirkan apa yang ingin kau capai sekarang. Lakukan saja hal yang kau suka,' lalu setelah itu guru privatnya memanggil dan dia berlalu. Sampai sekarang perkataannya itu masih membekas di ingatanku, aku tidak ingin menghapusnya, apapun yang terjadi. Karena … kata-kata itu yang membuatku bisa sampai di sini."
"Hmm … jadi sebelumnya kau itu pengecut yang dijadikan cadangan tapi karena kata-kata kakakmu kau bisa berubah menjadi anak nakal seperti ini?"
"Ja-jangan mengatakannya frontal gitu dong!" seru Karma. "Habis katanya, lakukan saja hal yang kusuka. Itu saja sudah cukup. Aku tidak begitu suka belajar, aku melakukannya karena aku ingin tahu dan masuk sekolah yang sama dengan kakakku. Itu saja. Buktinya sampai sekarang aku juga beberapa kali diskors dan melakukan pelanggaran."
"Aku bingung mau merespon apa," ucap lawan bicara Karma. "Kau itu … bodoh atau apa ya?"
"Hah?!" seru Karma nggak terima.
"Tapi, kau punya semangat yang bagus untuk mengejar kakakmu. Kalau begitu, pertanyaan terakhir, apa yang kaurasakan terhadap kakakmu? Aku tau ini mirip seperti pertanyaan yang pertama, tapi kau pasti tahu apa bedanya."
"Seijuurou-nii-san adalah kakakku, kakakku yang kukagumi. Selalu terlihat keren di mataku. Dia cerdas, selalu mendapat peringkat pertama, kapten klub basket, sekaligus Ketua OSIS, dan lagi populer di kalangan cewek-cewek. Bagaimana mungkin aku tidak bangga memiliki kakak sempurna sepertinya?" seru Karma menggebu-gebu. Lawan bicara Karma a.k.a. Final Boss termangu.
'Mungkin Karma-kun memang benar-benar menghormati Akashi-kun ya-,'
"-tapi memang sih, Nii-san itu pendek, mesum, dan terkadang terlihat polos, tapi dia adalah kakakku!" sambung Karma.
"Kayaknya kau memang termasuk tipe tsundere ya," Si Final Boss sweatdrop.
"Tsun-!" Muka Karma memerah.
"Hihi, menyenangkan bicara denganmu, tapi ini harus segera berakhir. Kakakmu juga pasti mencemaskanmu. Pergilah kembali padanya, dan katakan tentang perasaanmu yang sebenarnya padanya," ujar Final Boss mantap.
"Pe-pe-!"
"Saa~ ikke, Karma-kun!"
Pintu yang tadi menjadi jalan masuk Karma terbuka dengan sendirinya, menimbulkan asap-asap debu yang bisa membuat mata perih dan terbatuk-batuk.
"Sankyuu, Final Boss-san," ujar Karma dengan senyum iseng biasanya lalu bergegas menuju pintu itu sebelum tertutup.
"…douiteshimashite…"
"Nee~ kimi, sudah bosan hidup kan?"
"Apa maksud kata-katamu itu?"
"Ah, iee, nggak ada niat yang tersembunyi kok. Aku cuma tanya apa kau sudah bosan hidup atau tidak."
"Jelas-jelas kau ingin membunuhku kan?!"
"Maa nee~, tapi kalau aku melakukannya mungkin banyak pihak yang akan mengutukku."
"Jadi kau tidak akan membunuhku?"
"Pfft … apa-apaan cara bicara yang payah itu! Mana gaya bicaramu yang bersikap sok bijak saat menjadi kapten klub basket dan Ketua OSIS, Akashi-senpai?"
"Senpai?" ulang Akashi yang sudah pasang tampang jijik. Dia kan, masih kelas 1 SMA, kalau tiba-tiba dipanggil 'senpai' rasanya kayak punya stalker gitu.
"Ah, maaf. Tidak usah dipikirkan. Aku masih kelas 3 SMP, tapi aku bukan stalker-mu, jadi jangan kege-eran dulu," sela Final Boss 2 dengan muka lempeng nggak ikhlas.
"Kampret! Siapa yang ge-er!" protes Akashi. "Sudah cepet turun sini! Kalau aku mengalahkanmu bisa keluar dari sini kan? Aku sudah bosan tau! Hantu-hantu yang nggak guna dan nyeremin itu!"
"Humm? Setelah keluar dari sini memangnya kau mau apa? Ada yang kau incar di luar sana? Atau ada yang menunggumu di luar sana?"
"I-itu …"
"Apa yang menunggu dan sedang kau tunggu? Itu pertanyaan dan syarat yang harus kaupenuhi agar bisa keluar."
"Cuma itu? Humph, banyak yang menungguku diluar. Aku juga menantikan apa yang ada diluar!" Akashi mulai serius, pemirsah! Dia salah makan apa semalam? #dilempargunting. "Fans-ku."
Si Final Boss 2 cengo. Oke, pemirsah, saya tarik kata-kata serius saya tadi #digilesAkashi.
"Ditolak."
"KENAPA?!"
"Kau nggak serius menjawabnya."
"Aku serius! Dan itu kan kenyataan!" protes Akashi. "Ah, bilang saja kalau Final Boss-san juga ingin punya banyak fans kayak diriku ini? Oh, gampang kok. Kalau mau ambil separuhnya, silakan saja."
"Bunuh-bunuh-bunuh-bunuh-bu-!"
"Bercanda! Bercanda! Jangan diambil hati! Aku jawab serius, oke! Aku jawab serius!" seru Akashi panik karena pisau tajam itu sudah persis di depan matanya.
"Ini kesempatan terakhirmu. Kalau kau sampai bercanda atau tidak serius lagi, aku akan benar-benar membunuhmu!" ancam Final Boss 2 mendengus.
"Huft, kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda ya," Akashi menghela nafas. "Kau mau membuatku mengatakannya? Kejam sekali. Tentu saja kalau aku menunggu dan ditunggu oleh adikku."
"Adikmu?"
"Ya, adikku. Dia memang suka membolos dan mengusili orang lain, tapi dibalik itu dia adalah adik yang cerdas dan bisa diandalkan, meski aku tak bisa sering-sering bertemu dengannya karena sibuk sih," Akashi mulai ngoceh. "Ah, maaf. Jadi cerita. Yah, itu jawabanku. Bagaimana menurutmu, Final Boss-san?"
"Jawaban yang tidak keren dan payah."
"KENAPA?!" protes Akashi lagi.
"-tapi, aku akui itu alasan yang bagus untuk menjawab pertanyaanku. Tapi hanya menjawab begitu saja tidak cukup. Kau harus membuktikan kenapa kau bersikeras mau keluar? Dan memangnya adikmu sepercaya itu padamu sampai mau menunggumu?"
"Aku percaya. Karena dia 'adikku'. Dia adikku, sampai kapanpun fakta itu tak akan berubah. Seorang Akabane Karma-bukan, Akashi Karma adalah adikku, Akashi Seijuurou, sampai kapan pun. Pernyataan itu tak akan berubah walau misalnya keluarga kami dipecah belah maupun dibantai. Dia adikku, apapun yang terjadi. Aku bangga sekaligus iri padanya," jawab Akashi.
"Kau iri pada adikmu? Bukannya kau adalah pewaris utama keluarga Akashi? Sementara adikmu hanya cadangan bukan?"
"Tentu saja aku iri padanya, iri padanya serta kebebasannya. Sebagai pewaris utama keluarga Akashi, aku selalu diberikan banyak sekali macam bimbingan belajar, bahkan sampai yang tidak terlalu penting sekalipun, sedangkan adikku tentu saja hanya separuh dariku, sehingga dia masih tergolong bebas di keluarga kami. Dia juga sering membolos dan diskors. Aku juga sering mendengarnya dimarahi oleh Ayah, tapi sepertinya ia masih bisa diampuni. Aku tak bisa membayangkan kalau aku adalah orang yang sering membolos dan diskors itu, mungkin aku sudah dipenjara selama beberapa hari di kamar, merenungkan perbuatanku. Karena itu aku iri padanya. Dia bisa menikmati masa mudanya, tidak sepertiku," cerita Akashi. "Pada awalnya aku kira aku cuma bisa menyerah dan mengikuti takdir, tapi sosok adikku sewaktu kelas 2 SMP di musim panas itu berkata di kala aku sedang belajar untuk persiapan masuk SMA, 'Nii-san terlalu hampa dan membosankan ya. Memangnya yang dibutuhkan di dunia ini cuma teori dan pelajaran yang membosankan itu? Ini kan masih libur musim panas, ayo lupakan buku-buku itu dan kita liburan bersama!', dia berkata begitu sambil mengulurkan tangan padaku dengan senyumnya yang menurutku masuk dalam kategori senyuman iseng, tapi biar begitu, aku yakin waktu itu dia benar-benar tersenyum tulus padaku dengan caranya sendiri. Kurasa aku … bangga memiliki adik sepertinya," Akashi bergumam kecil di kalimat terakhir.
"Hmm? Jadi intinya kau mulai tertarik dan bangga pada adikmu sewaktu dia menawarimu untuk malas-malasan?"
"Salah! Santai dan malas itu dua hal yang berbeda. Aku selama ini hanya punya satu tujuan, yaitu menjadi nomor satu di berbagai bidang, tapi setelah itu tercapai ternyata sangat membosankan. Aku merasa kosong, hampa. Mungkin pada saat itulah adikku mengulurkan tangan-menolongku. Aku bangga punya adik sepertinya. Saat liburan bersamanya pun, aku merasa tidak apa tidak menjadi manusia sempurna, asalkan aku bebas dan aku ingin dunia tahu kalau aku adalah orang yang bahagia saat itu," cerita Akashi lagi.
"Oke, pertanyaan terakhir. Apa yang kaurasakan tentang adikmu?"
"Pertanyaan yang buang-buang waktu. Tentu saja aku menyayanginya sebagai adik, walau tak tahu dan tak punya waktu untuk menunjukkan langsung padanya, aku cuma bisa menunjukkannya lewat pertengkaran atau adu mulut yang biasa kami lakukan. IQ-nya lumayan tinggi meski dia cukup nakal. Tapi dari semua itu aku sangat mengagumi kebebasannya. Ia tak terikat dengan peraturan apapun dan hidup dengan caranya sendiri. Lagipula aku sudah bilang sebelumnya kan? Aku bangga padanya, sebagai adikku," ucap Akashi kalem, namun terlihat ketulusan dari kalimatnya barusan yang membuat Final Boss terdiam.
"Harus kuakui, jawabanmu tidak buruk juga. Yah, kalau sudah begini buang-buang waktu pun percuma ya," Final Boss 2 menghel nafas. "Pergilah, temui adikmu."
"Eh? Selesai? Begitu aja?" Akashi bengong tujuh keliling.
"Kan nggak ada yang bilang kalau harus duel pakai kekerasan."
"Eh? Tapi katanya ada orang yang nggak pernah kembali dari sini hidup-hidup?" tanya Akashi lagi.
"Terkadang aku heran, orang serba sempurna dengan peringkat nomor satu di sekolah masih tidak mengerti persoalan mudah seperti ini?" Final Boss 2 menghela nafas. "Sekarang aku tanya deh. Memangnya ada yang sudah pernah masuk ke rumah hantu ini lebih dari 10 meter dari pintu masuk selain kalian berdua?"
"Akh…" Akashi bungkam. Benar juga sih ya … "Jadi … cuma gitu doang?"
"Yap, gitu doang," jawab Final Boss 2 enteng. "Jadi pergilah temui adikmu, dan jujurlah soal perasaanmu padanya." Pintu yang tadi Akashi masuki mulai terbuka sendiri secara perlahan disertai dengan kepulan asap yang biasanya bikin greget kalau lagi nonton anime.
"Un! Kalau begitu, aku duluan, Final Boss-kun!" ucap Akashi. "Jaa nee. Arigatou."
"…douitashimashite…desu."
"Haaahhh! Apa-apaan perlawanan itu tadi! Sama sekali nggak seru!"
"Buh, kukira bakal ada pertarungan panas, sekalinya cuma ditanya-tanya gitu doang? Ngebosenin, buang-buang waktu!"
"Ah-!"
"Eh-!"
"NII-SAN!"
"KARMA!"
"Gi-gimana, Nii-san? Aku nggak nyangka kau berhasil keluar dengan selamat."
"Hmp, kau juga. Anak yang baru puber memang kalau ngamuk bahaya ya," decih Akashi meremehkan.
"Siapa yang 'Anak yang baru puber'?! Aku sudah kelas 3 SMP tau!" protes Karma.
"Hmm? Begitu ya? Kukira kau adalah anak yang baru masuk SMP dan panik ngeliat kenapa dirimu ngompol di pagi harinya karena mimpi mesum semalaman," goda Akashi iseng.
"Hooo? Bukannya orang yang mimpi mesum semalaman itu adalah orang yang di depanku sekarang?" Karma balik menggoda.
"Kau ngajak berantem?"
"Tch, ngajak? Bukannya Nii-san yang mulai?"
"Hmph, biarkan saja, lagipula mana mungkin ada adik yang bisa mengalahkan kakaknya," ucap Akashi meremehkan.
"Hoho … Nii-san nggak tahu sudah berapa kali aku berlatih menjadi seorang pembunuh di kelasku. Oke, kau lucky hari ini, Nii-san. Aku akan memperlihatkan kemampuanku padamu," Karma menggulung lengan bajunya sampai ke siku.
"Ayo aja. Kau juga sudah lama nggak datang ke tempat bela diri," Akashi meladeni.
"Hmph! Latihan dan seni yang nggak berguna! Apapun itu lebih baik kalau melakukan gerak sesukanya, asalkan targetmu habis kan?" Karma mengeluarkan teorinya.
"Bagus juga ocehanmu itu. Bagaimana kalau kita habiskan dengan pertarungan gaya bebas?"
"Emangnya renang?!"
"Terserah deh."
"…"
"…"
"Kau nggak nyerang duluan? Aku persilakan lho."
"Tidak, aku menolak. Nii-san yang serang duluan."
"Kau duluan!"
"Nii-san yang duluan!"
"Karma, duluan!"
"Nii-san duluan!"
"…"
"…"
"Pfft..."
"Ahahahaha!
"Karma, kau nggak buruk juga. Hahaha …"
"Nii-san juga sama aja. Pfft … bhahahaha!"
"Kau berhasil juga ya, Adikku. Nii-san bangga padamu lho."
"Apa-apaan sama cara bicara yang sok keren itu," Karma mengusap air matanya dengan tangan karena kebanyakan ketawa-atau mungkin sekaligus terharu? "Nii-san juga, aku senang punya kakak sepertimu."
"…"
Sekali lagi dua pasang manik itu bertemu dan sepasang insan itu tertawa bersama-sama.
.
"Ahh, akhirnya berhasil keluar juga," Akashi membuka pintu keluar rumah hantu tersebut yang ternyata ukurannya tidak sebesar pintu Final Boss tadi.
"Bener-bener deh, tapi seenggaknya kan kita berhasil mecahin rekor. Bakal dapat hadiah apaan ya?" ujar Karma asal.
"Harusnya kau bersyukur bisa keluar, malah masih mikirin hadiah!"
"Wajar itu kan!"
"Ha'i, ha'i," Akashi menghela nafas sambil tersenyum lelah, tepat saat mereka melangkahkan kaki keluar dari rumah hantu tersebut, terdengar suara menggelegar dan bunyi tembakan-tembakan yang ribut, serta kilat-kilat cahaya yang menyilaukan mata, serta terlihat banyak sekali orang.
"SURPRISE~!"
~To Be Continued~
Yatta~! Chapter ini selesai juga! Maaf ya, sudah beberapa bulan nggak update, tapi sepertinya yang Ni-chan janjikan, nggak bakal discon kok, ahhh~ chapter kali ini juga ngetiknya bikin pegel-pegel. Ada yang mau urutin gak? (GAKK!) Yosh, daripada ngoceh gajelas disini, Ni-chan langsung sampaikan intinya aja ya~ sampai jumpa di next atau lebih tepatnya last chapter~! XD
Balasan review yang nggak login:
hidup: Sekali lagi, Ni-chan minta maaf karena fic ini udah ngaret selama … umm, 4 bulan ya? Tapi Ni-chan sudah janji akan menamatkan fic ini tahun ini kok! Tenang aja, nggak bakal discon kok, cuma memang sih, bikin nyesek tee-hee #plak. Tapi sekarang sudah update kok! Pisss … hiks, dan manalagi kamu nge-review gitu waktu Ni-chan lagi ulang tahun hidup-saaann! Pliss … hikshiks. Sudah dulu ya, silakan tunggu final chapter-nya tanggal 22! XD
