"Ya ampun! Lelaki tadi kekasih barumu? Kenapa kau tidak pernah cerita padaku, forehead?" ucap Ino tepat ketika Sakura masuk ke dalam mobil. Mata wanita itu terus tertuju pada lelaki yang tampak familiar itu.

"Aku bahkan baru mengenalnya tiga hari. Dan dia adalah boss baruku, pig," ucap Sakura dengan tegas sambil sengaja menekankan kata 'boss' agar Ino berhenti mengucapkan hal-hal aneh.

Namun Ino malah menyeringai dan sedetik kemudian ia memekik keras, "BOSS?! BARU KENAL TIGA HARI SUDAH MENGINAP BERSAMA?! JANGAN BILANG KALIAN JUGA SUDAH MELAKUKANNYA?!"

Telinga Sakura terasa berdengung akibat teriakan keras Ino. Wajahnya agak memerah dan ia menepuk keningnya.

"Maksudnya melakukan apa? Sebenarnya dia yang menawariku menginap di rumahnya."

Ino menyeringai dan mengedipkan matanya. Selama ini ia mengenal Sakura sebagai orang yang jauh dari kata lemah lembut. Dan ia tak mengira wanita itu bahkan bersedia menginap di rumah lelaki yang bahkan baru dikenalnya tiga hari.

"Oh ayolah, forehead. Jangan berpura-pura polos. Usia kita hampir tiga puluh sebentar lagi. Masa kau tidak mengerti, sih?"

Sakura menggelengkan kepala. Ia benar-benar tak mengerti dengan maksud ucapan Ino. Yang jelas, wanita itu pasti sedang membayangkal hal-hal aneh di benaknya.

"Seks," ucap Ino dengan lantang. "Kalian pasti sudah melakukannya semalam, kan? Jangan lupa untuk pakai pengaman dan minum pil KB. Atau kalau kau tidak sempat memakainya kemarin, cepat minum obat pelancar haid sekarang juga. Kau tidak seharusnya hamil karena lelaki yang baru kau kenal. Dia bisa saja kabur tanpa bertanggung jawab."

Sakura meringis mendengar ucapan Ino yang sangat blak-blakan. Bukan berarti ia merasa risih dengan topik semacam itu, hanya saja apa yang dibayangkan Ino terlalu liar hingga ia merasa harus meluruskannya.

Sakura bukanlah tipe orang yang benar-benar konservatif meski hingga saat ini ia belum melepas keperawanannya. Ia bahkan tak peduli ketika teman-temannya meledeknya karena belum berpengalaman dan hanya bisa diam saja ketika teman-temannya menceritakan sesi hubungan intim yang menggairahkan bersama kekasih mereka, atau kebiasaan menyebalkan pacarnya di ranjang.

Sakura berpikir kalau ia ingin menunggu orang yang tepat untuk bercinta. Bisa saja ia akan melakukannya bersama tunangannya, atau mungkin kekasihnya yang ia anggap tepat dan layak untuk mendapatkan tubuhnya. Namun hingga saat ini ia belum menemukan orang yang tepat dan ia bersyukur belum pernah melakukan bersama kekasih yang pada akhirnya meninggalkannya.

"Dengar, Yamanaka Ino. Kemarin malam aku baru pulang dari kafe dengan sangat mengantuk dan kebetulan bossku bertemu denganku di jalan dan dia mengantarku pulang. Entah bagaimana kunci rumahku hilang dan orang tuaku sedang di luar kota sehingga dia menawarkan untuk menginap di rumahnya karena aku tidak mungkin menelpon siapapun di tengah malam. Dia bahkan tidur di sofa sementara aku di kamar," jelas Sakura panjang lebar, berharap Ino akan mengerti.

Ino menghembuskan nafas panjang-panjang dan berkata, "Yah… sayang sekali. Padahal tubuhnya bagus dan wajahnya tampan. Sepertinya wajahnya juga familiar. Rasanya aku pernah lihat dimana, ya?"

"Kau ingat lelaki aneh di kafe waktu itu? Ternyata dia bossku sekarang. Sulit dipercaya kalau sekarang aku bekerja pada lelaki aneh semacam itu, kan?"

Mata Ino terbelalak seketika. Untuk sesaat ia bahkan melepaskan pandangan dari jalan dan ia bahkan hampir menerobos lampu merah kalau saja Sakura tidak memperingatinya dan ia cepat-cepat menginjak rem.

"Maksudmu Uchha Sasuke?! Pantas saja wajahnya familiar. Aku tak terlalu mengenalinya karena kupikir mustahil orang sepertinya tinggal di apartemen biasa seperti itu. Kau beruntung sekali bisa menginap di rumahnya."

Sakura tak tahu apakah yang ingin dikatakannya etis atau tidak. Namun tadi ia benar-benar ketakutan setelah melihat obat di kamar Sasuke dan ia berpikir kalau lelaki itu memiliki gangguan jiwa. Ia agak ngeri ketika berada di elevator berdua saja dan takut kalau lelaki itu mendadak akan mengamuk serta menyerangnya. Dan ia terus menerus menatap Sasuke dengan waspada selama ia berjalan di dekat lelaki itu.

"Aku menemukan obat anti depresan untuk depresi dan gangguan jiwa dalam jumlah banyak di kamarnya. Aku tak tahu apakah itu miliknya atau bukan. Aku tidak begitu yakin orang sepertinya bisa mengalami depresi."

Lampu merah berubah menjadi hijau dan Ino segera menjalankan mobilnya. Ino segera menjawab, "Kenapa tidak mungkin? Kau bahkan tidak tahu seperti apa kehidupannya dan bisa seyakin ini? Kalau itu memang obat miliknya, dia benar-benar kasihan. Apapun yang ia alami pasti sangat buruk sampai dia membutuhkan obat."

"Bagaimana kau tahu, pig?"

Ino tersenyum tipis, "Tentu saja. Anikiku mengambil jurusan psikiatri dan dulu aku suka membaca buku-buku kuliah miliknya."

Sakura teringat dengan kakak laki-laki Ino, Deidara. Sakura pernah beberapa kali bertemu dengan lelaki itu dan lelaki itu lumayan baik padanya, namun agak mudah marah. Sakura bahkan sampai terkejut ketika mendengar Deidara berniat menjadi psikiater dan menghadapi orang-orang yang bermasalah secara mental.

"Kata anikiku, kalau trauma yang dialami seseorang sudah parah, akan sulit menyembuhkannya. Yang bisa kita lakukan adalah terus menerus mendukungnya. Orang-orang seperti itu membutuhkan 'tiang penyangga' yang dapat menopangnya secara emosional."

Sakura tersenyum mendengar ucapan Ino yang terdengar sangat serius. Perempuan itu bahkan bisa berbicara serius di saat yang tepat.

Sakura baru sadar kalau sepertinya Sasuke bisa saja mengalami depresi. Pertama kali mereka bertemu, lelaki itu langsung menghampiri mejanya dan 'melabraknya' karena membicarakan mengenai laki-laki yang menjadi korban sodomi dan merupakan karma dari Tuhan. Padahal Sasuke tampaknya bukan tipe orang yang suka mengintervensi urusan orang lain.

Dan Sasuke juga seolah mengelak ketika Sakura menanyakan apakah lelaki itu memiliki trauma. Jika melihat obat di kamar lelaki itu dan goresan yang mirip sayatan di pergelangan tangan lelaki itu, Sakura yakin kalau Sasuke memiliki trauma yang parah hingga membutuhkan obat anti depresan.

Mendadak Sakura merasa bersimpati pada lelaki itu dan ia berniat menjadi penyangga secara emosional bagi lelaki itu jika lelaki itu membutuhkannya.

.

.

"Bagaimana? Karyawan baru yang kurekomendasikan bagus, kan?" ucap Naruto sambil memainkan sedotan di dalam gelasnya dan menatap sahabatnya.

"Aku belum mendengar keluhan dari atasannya."

"Kau sendiri sudah bertemu dengannya, kan? Bagaimana menurutmu?"

Sasuke mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Naruto. Sebetulnya ia agak mengantuk dan tak begitu memperhatikan isi pertanyaan Naruto. Seharusnya hari ini ia berniat tidur setelah sepanjang malam terus menerus terbangun karena tidak terbiasa tidur diluar kamar. Namun Naruto malah mengajaknya pergi ke kedai ramen yang ada di pusat perbelanjaan berdua saja hingga orang yang melihat mereka mungkin berpikir kalau mereka adalah pasangan kekasih, atau menganggap mereka sebagai dua lelaki yang 'tidak laku'.

"Kinerjanya? Aku tidak tahu, dobe."

"Bukan itu, teme. Maksudnya Sakura sesuai dengan tipemu, tidak? Kupikir kau tidak suka wanita genit atau bermakeup tebal, jadi aku berniat mengenalkan Sakura padamu."

Sasuke mendadak merasa tidak nyaman. Dalam satu minggu sudah ada dua orang yang membahas mengenai statusnya.

"Itu bukan urusanmu."

"Memangnya orang tuamu tidak mendesakmu untuk mencari pacar atau menikah, teme? Aku tahu kau adalah tipe pria yang menunggu hingga malam pertama, jadi sebaiknya kau cepat melakukannya ketimbang bermain dengan tanganmu terus menerus."

Sasuke berdecih sinis. Ia merasa tidak suka ketika orang membahas kehidupan pribadinya. Dan membahas mengenai seksualitas membuat Sasuke menyadari kalau ia berbeda dengan lelaki pada umumnya. Ia hampir tidak pernah bergairah terhadap apapun berkat obat yang dikonsumsinya setiap hari. Obat itu meningkatkan hormon yang membuatnya merasa senang sehingga ia tak bergairah. Dan karena ia mengkonsumsi obat itu setiap hari lama bertahun-tahun, ia bahkan tak pernah bermasturbasi, apalagi bercinta.

"Kurasa aku tak akan menikah," sahut Sasuke dengan harapan Naruto berhenti membahas hal ini.

"Kenapa? Memangnya kau tak ingin pulang ke rumah dengan disambut istri dan anak-anak yang lucu sepulang kerja? Atau kau ingin hidup bebas tanpa menikah? Memang sih, kau bisa tinggal bersama dan memiliki anak tanpa ikatan di jaman sekarang."

Sasuke bukannya tak pernah memikirkan pernikahan. Di usianya yang menjelang tiga puluh, ia sudah mendapat undangan pernikahan dari kolega atau teman yang seusia atau bahkan lebih muda darinya. Dan meski ia terkesan cuek, namun terkadang ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia menikah dan menjadi suami serta ayah dari seseorang?

Namun menikah bukanlah hal yang sederhana bagi Sasuke. Ia memiliki ketakutan tersendiri, terlebih karena ia bukanlah orang yang stabil secara emosional. Bagaimana kalau ia tak menjadi suami dan ayah yang baik? Atau ia tak cukup memuaskan sehingga istrinya memilih meninggalkannya? Seorang kepala keluarga seharusnya menjadi penopang, namun ia malah membutuhkan topangan.

"Kau pikir aku lelaki semacam itu, hn?"

"Kalau tidak kenapa kau tidak mau menikah, teme? Wajahmu tampan, kau memiliki banyak uang, otakmu pintar. Dan kurasa kau bukan tipe lelaki yang tidak setia. Kau jelas memenuhi kriteria para wanita."

Sasuke terdiam. Ia tak berniat menceritakan sedikitpun mengenai masa lalunya pada Naruto meski mereka sudah mengenal selama dua puluh tahun.

"Karena aku ingin menikah denganmu,"jawab Sasuke dengan asal agar Naruto berhenti bicara.

Namun Sasuke memilih kalimat yang salah. Sesudah ia selesai berbicara, ia mendadak membayangkan pernikahan antara sesama lelaki dan ia langsung teringat dengan 'perkawinannya' dengan seorang lelaki dan ia mendadak merasa mual.

Wajah Sasuke mendadak terlihat pucat dan reaksinya terlihat aneh. Tubuh lelaki itu mendadak mulai gemetar. Naruto bahkan tak sempat bereaksi atas ucapan Sasuke dan ia langsung menyentuh tangan Sasuke.

"Hey, kau baik-baik saja, teme? Kau sakit?"

Sasuke meremas tangan Naruto, seolah berusaha menenangkan diri dengan kehangatan tangan lelaki itu.

Pada akhirnya ia melepaskan tangan Naruto dan menjawab, "Aku baik-baik saja, dobe."

Naruto sadar kalau Sasuke sedang tidak baik-baik saja. Sejak dulu ia tahu kalau ada sesuatu yang terjadi pada Sasuke, namun lelaki itu tak pernah mau mengatakannya dan ia pernah bertanya, namun Sasuke mengatakan kalau dia baik-baik saja dan ia tak mau mendesak.

Kali ini Naruto sudah tidak tahan lagi. Ia segera berkata, "Selama ini aku tahu kalau kau tidak baik-baik saja, teme."

Sasuke benar-benar terkejut. Padahal selama ini ia sudah berusaha menyembunyikannya dan memastikan kalau ia terlihat normal. Bagaimana bisa Naruto yang selama ini ia anggap konyol dan agak bodoh ternyata malah menyadarinya?

Naruto sadar kalau Sasuke tampaknya masih tak berniat mengatakan apapun. Ia segera berkata, "Tidak apa-apa kalau kau tidak ingin bercerita padaku. Yang jelas, kau harus segera menghubungiku kalau terjadi sesuatu padamu, bahkan walaupun kau menelponku hanya untuk meminta tumpangan karena tidak mau sendirian di rumah. Aku pasti akan berusaha membantumu."

Ketika Naruto telah mengucapkan hal seperti ini, ia sangat serius dengan apapun yang ia ucapkan. Dan Sasuke juga tahu kalau Naruto benar-benar serius dengan ucapannya.

Suatu saat nanti, ketika Sasuke sudah merasa lebih siap, ia akan berhenti berpura-pura kalau ia baik-baik saja dan bercerita sedikit pada Naruto.

-TBC-