Nb:Yg huruf bercetak miring Sasuke POV
Happy Reading…,
Disclaimer : Masashi Kishimoto
##Fire and Ice##
"Ini…dimana?"
"Taman kanak-kanak ini...sepertinya aku pernah kemari sebelumnya,"ucap Sasuke sambil mengedarkan pandangannya keseluruh tempat itu.
Sebuah taman yang sangat luas. Terdapat beberapa macam permainan seperti dua buah ayunan, bak pasir, terowongan kecil yang dapat dilalui oleh anak-anak. Juga terdapat sebuah pohon oak yang sangat kokoh. Sehingga daunnya yang lebat dapat meneduhkan taman kanak-kanak ini.
"Siapa itu?"ucap Sasuke-lagi-sambil melihat kepada siluet dua orang anak kecil yang berada dekat dengan tempat mainan bak pasir. "Anak kecil yang berambut hitam itu seperti diriku pada waktu kecil. Lalu siapa gadis kecil itu?"berjalan mendekat kepada dua sosok itu.
-
-
"Hiks…hiks…"
"Sudah jangan menangis lagi,"ucap seorang laki-laki kira-kira berumur 6 tahun berambut hitam kepada seorang gadis kecil berambut merah muda.
"Hiks…hiks…siapa?"tanya gadis kecil itu sambil mendongakan kepalanya untuk melihat siapa yang tadi berbicara.
"Hiks…apa kau mau mengejekku juga seperti anak-anak yang lainnya…hiks?"tanya gadis kecil itu lagi.
"Tidak…aku tidak akan mengejekmu. Siapa namamu?"tanya tanya anak laki-laki tadi.
"Haruno Sakura…"jawab gadis kecil tadi dengan sangat pelan dan kini juga gadis kecil itu sudah tidak menangis lagi, walaupun masih terdengar sedikit sesenggukkan.
"Apa…aku tidak bisa mendengarmu. Ucapkan sekali lagi!"
"Haruno Sakura…"jawab gadis kecil tadi dengan volume suara yang sedikit dinaikkan.
"Eh…nama yang sangat cantik…seperti pemiliknya,"ucap anak laki-laki itu.
"Te…terima kasih."
"Gadis kecil itu adalah Sakura. Tapi aku…kenapa sama sekali tidak mengingatnya kalau aku pernah bertemu dengan Sakura sebelumnya. Dan Sakura sendiri juga tidak mengenaliku sama sekali,"gumam Sasuke.
"Ayo ikut aku!...akan kutunjukan suatu tempat yang indah padamu,"ucap anak laki-laki itu –lagi- sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Hmm…"gadis kecil itu pun mengangguk dan menerima uluran tangan anak laki-laki itu.
"Eh…mereka berjalan kerahku,"ucap ku. Tapi entah kenapa, sepertinya mereka berdua sama sekali tidak melihat keberadaanku disini. Dan aku juga sangat terkejut ketika tubuhku ditembus oleh sosok kedua orang tadi ketika mereka berjalan melewatiku.
"A…ada apa denganku? Kenapa mereka bisa menembus tubuhku?"ucap Sasuke bingung.
"Lebih baik aku ikuti mereka berdua."
-
-
Kemudian Sakura dibawa oleh anak laki-laki itu melewati sebuah hutan yang berdaun sangat lebat. Yang akar dari pohon tersebut merambat ditanah yang mereka lewati.
"Sudah sampai…ini tempatnya,"ucap anak Laki-laki tadi.
Dan ketika Sakura melihat tempat yang ditujukan oleh anak laki-laki tadi. Terlihat jelas jika wajahnya kini menyiratkan kekaguman yang luar biasa. Dan bola mata emeraldnya tak henti-hentinya memandang dengan takjub. Mungkin baru pertama kali ini Sakura melihat pemandangan seindah ini. Sebuah hamparan bunga matahari yang sangat luas. Dan cahaya langit senja yang kemerah-merahan menambah kesan sangat indah pada bunga matahari itu. Sungguh keindahan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
"Wah…tempat yang sangat cantik…aku tidak tau kalau ada tempat seindah ini di Konoha,"ucap Sakura.
"Ha…ha…ha…kau ini benar-benar sangat lucu."
Dan kemudian Sakura kecil mulai belari-lari dan masuk kedalam kumpulan bunga matahari itu. Karena tubuhnya yang kecil, dia bisa sejajar dengan tinggi bunga matahari itu.
"Lihat…bunga yang sangat cantik. Kau tahu dari dulu aku memang menyukai bunga matahari,"ucap Sakura. "Karena dikotaku yang dulu banyak bunga matahari yang sudah tidak bisa tumbuh secara baik lagi." Dan memandang sosok yang dari tadi hanya memperhatikannya.
"Jadi, kau pendatang baru dikota ini?"tanya anak laki-laki tadi.
"Hmm, aku baru pindah dua minggu yang lalu. Dan seperti yang kau lihat tadi…tidak ada yang mau berteman denganku,"ucap Sakura yang kini menatap anak laki-laki tadi dengan tatapan sedih.
"Jadi karena itu kau menangis?"tanya anak laki-laki tadi.
Gadis kecil yang bernama Sakura itu hanya menganggukkan kepalanya pertanda benar adanya. Dan kemudian mengalihkan kembali pandangannya kepada bunga matahari tersebut, lalu memetik beberapa tangkai bunga dan memasangkannya di sela-sela rambutnya.
"Bagaimana…apa aku sangat cantik memakai bunga ini dirambutku?"tanya Sakura.
"Hn…cantik…sangat cantik sekali. Ada satu tempat lagi yang ingin aku tunjukan padamu,"ucap anak laki-laki tersebut.
"Ada satu tempat lagi yang indah seperti ini?"tanya Sakura dengan antusias.
"Hn, ayo!"sambil mengulurkan sebelah tangannya dan langsung disambut dengan gembira oleh Sakura. Kemudian mereka berdua mulai meninggalkan hamparan bunga matahari itu.
"Hei…aku belum tau namamu,"tanya Sakura sambil bergandengan tangan dengan anak laki-laki itu.
"Namaku…itu rahasia,"ucap anak laki-laki tadi dengan mengedipkan sebelah matanya pada Sakura. Dan setelah mendengar jawaban yang tidak seperti diinginkannya, Sakura pura-pura ngambek dan menggembungkan kedua pipinya dan membuang muka kekanan.
"Ha…ha…ha…kalau kau berwajah seperti itu. Aku jadi tidak bisa membedakan mana wajahmu dengan ikan kembung."
"Huh, biar saja. Dasar orang pelit. Nama saja segala dirahasiakan,"ucap Sakura kecil yang sekarang makin mengembungkan kedua pipinya.
"Ha…ha…ha…baiklah nanti akan ku beri tahu namaku padamu. Dan sekarang coba ceritakan padaku kenapa kau sampai bisa tidak mempunyai teman,"tanya anak laki-laki itu tanpa menoleh pada Sakura yang berada dibelakangnya, dan sepertinya dia tidak sadar kalau kini tangannya masih mengenggam tangan kecil Sakura.
"Mereka mengejekku karena dahiku yang lebar. Dan juga karena warna rambutku yang berbeda dari yang lainnya."
"Hn, begitu…kalau kau lihat dahiku juga lebar,"ucap anak laki-laki tersebut lalu menatap wajah Sakura yang berada dibelakangnya sambil menyibakan poni yang menutupi dahinya sekilas dan menurunkan poninya kembali.
"Kalau boleh jujur ponimu yang sedikit panjang itu mengganggu."
"Eh…maksudku bukan untuk menghinamu, tapi aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja,"tambah anak laki-laki tadi ketika melihat wajah Sakura yang tiba-tiba sedih. Dan juga kini terlihat dari sudut kedua mata emerald-nya mulai terlihat bulir-bulir air mata, yang kapan saja bisa jatuh dan membasahi kedua pipinya.
Memang benar apa yang dikatakan oleh anak laki-laki tadi. Poni Sakura memang terlihat sedikit panjang dari semestinya. Sehingga kedua mata emerald yang indah itu pun jadi terhalang.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"tanya Sakura.
"Rapi 'kan ponimu…lagi pula kau mempunyai kedua bola mata yang sangat indah…emerald…sayang jika tidak terlihat seperti itu."
"Hmm, aku megerti…terima kasih!"
"Hn, ayo kita lanjutkan,"ucap anak laki-laki itu dan mulai membawa Sakura jauh kedalam hutan yang dipenuhi pohon berdaun lebat.
-
-
"Sebentar lagi sampai, tinggal melewati pohon besar itu,"ucap anak laki-laki itu sambil menunjuk sebuah pohon besar yang sangat lebat daunnya.
"Sekarang giliranku yang bertanya,"ucap Sakura.
"Hn, tanya apa? Jangan yang aneh-aneh."
"Apa kau sudah tinggal lama disini?"tanya Sakura.
"Cukup lama…sekitar satu tahun yang lalu aku dan keluargaku pindah ke Konoha,"jawab anak laki-laki tersebut tanpa menoleh kearah Sakura dan tetap melihat kedepan. "Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi, Sakura?"
"Ceritakan tentang keluargamu!"ucap Sakura.
"Kedua orang tuaku sangat baik kepadaku dan juga kakak laki-laki ku. Kakak ku adalah seorang Dokter. Sedangkan Ayahku adalah seorang polisi. Dan hal itu juga yang membuat keluargaku pindah kemari, karena tuntutan pekerjaan Ayah yang harus berpindah tempat tugas. Sekarang giliranmu untuk bercerita tentang keluargamu!"
"Kedua orang tuaku juga sama baiknya terhadap ku dan juga kakak laki-laki ku. Ayahku adalah seorang pebisnis. Sama halnya dengan penyebab kepindahanmu kemari. Karena tuntutan pekerjaan Ayahku yang mengharuskan untuk mengurus sebuah perusahaan di Konoha ini."
"Ah…sudah sampai, ayo cepat!"ucap anak laki-laki tersebut dan menarik tangan Sakura untuk berjalan lebih cepat. "Ini dia tempat yang akan aku tunjukan padamu."
"Aduh…pelan-pe…,"Sakura tak dapat melanjutkan perkataannya karena dikejutkan lagi oleh pemandangan yang ada dihadapannya.
Dihadapan Sakura kini terlihat sebuah Pohon Sakura yang sangat besar. Dan sepertinya sudah berumur ratusan tahun. Dan kelopak bunga sakura tersebut tertiup angin dan terbang, lalu tak lama kemudian kelopak Bunga Sakura tersebut jatuh ketanah tepat dibawah pohon yang sudah berwarna merah muda-karena banyak kelopak bunga sakura lain yang sudah berjatuhan. Sunguh pemandangan yang sangat indah. Ditambah lagi udaranya yang sejuk, membuat siapapun yang datang ketempat ini akan betah untuk tinggal lama.
"I…ini…"ucap Sakura ditambah dengan wajah yang berseri-seri.
"Bagaimana...tidak kalah indah dengan pemandangan bunga matahari tadi 'kan?"tanya anak laki-laki tadi dan berjalan mendahului Sakura serta menarik tangan Sakura agar mengikutinya.
"Hm…benar-benar indah,"ucap Sakura.
"Ayo kita melihat lebih dekat lagi!"ucap anak laki-laki tadi.
"Iya…tapi…"Sakura menghentikan langkahnya, dan anak laki-laki tersebut juga menghentikan langkahnya. Kemudian menatap kedua mata emerald Sakura dengan lembut.
"Tapi kenapa?"tanya anak laki-laki tersebut.
"Kenap kau bersikap baik sekali padaku…padahal kita berdua baru saja bertemu. Bahkan kau menunjukan tempat-tempat yang sangat indah padaku,"ucap Sakura.
"Apa membuat orang lain senang itu harus ada alasannya?"ucap anak laki-laki tadi balik bertanya pada Sakura.
Yang ditanya malah diam dan menundukan kepalanya, karena bingung harus menjawab seperti apa. Akhirnya, Sakura hanya mengelengkan kepalanya dan begumam 'tidak tahu'.
"Tidak ada alasan khusus untuk membuat seseorang senang. Sudahlah jangan bersedih seperti itu,"ucap anak-anak laki-laki tadi dan mengangangkat dagu Sakura dengan ibu jari dan telunjuknya, untuk melihat kedalam matanya.
"Hm…"gumam Sakura dan tersenyum sangat manis sehingga membuat wajah anak laki-laki dihadapannya jadi memerah.
"Ayo naik keatas Pohon Sakura itu,"ucap anak laki-laki tadi dan berjongkok didepan Sakura namun dengan posisi membelakanginya.
"Kau mau apa berjongkok seperti itu?"tanya Sakura.
"Tentu saja untuk menggendongmu, kau tidak akan bisa memanjatnya sendirian."
"Oh…aku mengerti,"ucap Sakura yang kini mulai naik kepunggung anak laki-laki tersebut, dan langsung melingkarkan kedua lengannya pada leher anak laki-laki tersebut waktu anak laki-laki itu mulai bangkit dari jongkoknya.
"He…hei…ka…kau mencekik...leherku,"ucap anak laki-laki tadi dengan nafas tertahan.
"Ma…maaf 'kan aku…aku takut jatuh,"ucap Sakura.
"Aku mengerti…tapi tidak perlu sampai seerat ini kau melingkarkan tanganmu. Apa kau ingin aku mati karena kehabisan nafas?"
"Ma…maaf,"ucap Sakura-lagi- dan sedikit melonggarkan pegangannya pada leher anak laki-laki tersebut.
"Permintaan maaf mu diterima. Tapi kalau kau masih takut, tutup saja kedua matamu. Dan kalau sudah sampai diatas akan kuberitahu,"ucap anak laki-laki tadi dan mulai memanjat Pohon Sakura. Dan karena Sakura benar-benar takut akhirnya dia menutup kedua matanya.
"Apa benar sikapku dulu seperti itu pada orang yang baru aku kenal,"ucap Sasuke dan terus memandang pada sosoknya yang waktu masih kecil. "Sakura…wajahmu sangat cantik sekali. Dan sekarang pun masih cantik."
-
-
"Apa sudah sampai?"tanya Sakura yang matanya masih tertutup.
"Sedikit lagi,"ucap anak laki-laki tadi dengan nafas tak beraturan. "Hah…sudah sampai…buka matamu!."
Sakura pun membuka kedua matanya. Dan matanya kini terbelalak lebar dengan mulut sedikit terbuka dan tertutup, seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi selalu tidak jadi. Dan akhirnya Sakura pun hanya berdecak kagum dengan pemandangan yang ada dihadapannya sekarang. Sebuah pemandangan kota Konoha disore hari diatas bukit dan juga diatas Pohon Sakura. Sungguh sangat indah.
"Ayo duduk!"ucap anak laki-laki itu dan duduk disalah satu batang pohon yang sepertinya kuat.
"Hm,"ucap Sakura dan mengikuti anak laki-laki tadi.
"Hei…"ucap Sakura.
"Hn, ada apa?"tanya anak laki-laki tadi tanpa mengalihkan pandangannya pada Sakura.
Cup…
"Ah…apa yang kau lakukan?,"tanya anak laki-laki tadi dengan wajah memerah sambil memegang pipinya sebelah kanan.
"Itu ucapan terima kasih ku, karena kau sudah membuat ku senang hari ini."
"Kalau begitu, aku juga akan memberikan sesuatu padamu,"ucap anak laki-laki tadi sambil merogoh saku celananya.
"Tapi…tutup dulu matamu!"
"Iya,"ucap Sakura dan mulai menutup kedua matanya.
"Sekarang buka matamu!"ucap anak laki-laki itu. Dan Sakura pun akhirnya membuka kedua matanya setelah selang beberapa detik yang lalu. Tapi dia bingung hadiah apa yang diberikan oleh anak laki-laki tersebut.
"Apa yang kau berikan padaku?"tanya Sakura.
"Cobalah lihat tangan kananmu!"
"Eh…tanganku,"ucap Sakura dan ketika melihat tangannya yang sebelah kanan, dia sedikit terkejut dengan benda yang diberikan oleh anak laki-laki tadi. Sebuah cincin berwarna putih dengan bandul sebuah kelopak bunga Sakura. Indah dan cantik. Itulah dua kata yang dapat mewakili benda itu.
"I…ini…apa benar kau memberikan benda ini padaku. Rasanya tidak sebanding dengan apa yang aku berikan padamu, dan juga benda ini sepertinya mahal,"ucap Sakura.
"Tentu saja itu hadiah dariku untukmu. Lagi pula aku 'kan seorang laki-laki, mana mungkin menyimpan benda seperti itu. Lebih baik aku berikan padamu saja."
"Lalu dari mana kau mendapatkan benda seindah ini. Apa jangan-jangan kau…"
"Jangan berpikiran negative dulu. Aku dapat benda itu dari Ibuku,"ucap anak laki-laki tersebut.
"Kenapa Ibumu memberikan benda ini padamu?"tanya Sakura.
"Ibuku memberikan benda itu bukan hanya kepadaku saja, tapi pada kakakku juga. Kau tahu alasannya?"tanya anak laki-laki tadi. Dan Sakura yang ditanya seperti itu bingung dan dia hanya meggeleng lemah saja. Dan berkata.
"Apa?"
"Ibuku bilang jika aku sudah menemukan seorang gadis yang aku anggap berharga dan mempunyai keinginan untuk melindunginya. Aku harus memberikan benda itu padanya. Dan…"anak laki-laki tersebut menggantung ucapannya.
"Dan…"ucap Sakura penasaran.
"Dan…aku harus menjadikan orang yang aku beri benda itu sebagai pendamping hidupku untuk selamanya. Dengan kata lain harus menikahinya,"ucap anak laki-laki tersebut dan memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah dikedua pipinya.
"…"
Hening.
Tak ada seorang pun dari keduanya yang berbicara. Sampai akhirnya suara Sakura memecah keheningan tersebut.
"Baiklah…sudah kuputuskan. Kelak kalau aku sudah dewasa. Aku akan menjadi istrimu, dan selama itu aku akan simpan benda ini baik-baik,"ucap Sakura tanpa pikir panjang. "Lagi pula ukurannya terlalu besar untuk dipakai dijariku sekarang."
"Eh…kau mau?"tanya anak laki-laki tadi dengan wajah sangat terkejut.
"Tentu saja…janji,"ucap Sakura sambil megulurkan jari kelingkingnya.
"Janji,"ucap anak laki-laki tadi sambil membalas melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Sakura. "Sasuke…itu namaku."
"Hm…Sasuke,"ucap Sakura sambil tersenyum.
"Benarkah…aku dan Sakura pernah berjanji seperti itu,"ucap Sasuke dan tak lama kemudian pemandangan didepannya berubah menjadi sebuah tempat yang sangat menyeramkan. "Ini aneh sekali…sebenarnya apa yang terjadi?".
Kemudian ku beranikan diri untuk melihat lebih dekat lagi dan memasuki tempat itu. Tempat itu seperti sebuah kuil tua yang sudah tidak dirawat. Cat dinding merah batanya telah mengelupas dan banyak sekali sarang laba-laba yang membuat rumah diatas langit-langit ruangan itu. Dan langit-langit ruangan tersebut ditunjang oleh empat pilar besar berwarna merah bata. Lalu ditengah ruangan tersebut aku melihat tiga sosok anak kecil lagi. Yang dua berambut hitam dan satu lagi berwarna kuning.
"Siapa itu?"tanya Sasuke sambil berjalan mendekat pada ketiga sosok itu. Dan ketika dia mendekat dia sangat terkejut. Sosok yang pertama adalah dirinya sendiri. Lalu sosok kedua yang juga berambut hitam dapat dikenalinya bahwa itu adalah Sai. Sosok ketiga yang berambut kuning adalah Naruto.
"I…ini…peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Pada saat aku bermain uji nyali dengan mereka berdua,"ucap Sasuke.
-
-
"Kau tahu…banyak orang-orang yang berkata, bahwa dulunya dikuil ini terdapat dua jiwa pemimpin Konoha yang disegel oleh 'Sang Putri'. Dan konon sampai sekarang jiwa mereka berdua masih berusaha untuk bangkit dengan cara merasuki keturunan yang sama,"ucap seorang anak kecil laki-laki berambut kuning.
"Lalu apa hubungannya dengan kita, Naruto?"tanya anak laki-laki berambut hitam yang bagian belakangnya mencuat.
"Tentu saja untuk memastikan rumor yang beredar itu benar atau tidak,"ucap anak laki-laki yang juga berambut hitam dan memiliki warna kulit sangat pucat.
"Benar apa yang dikatakan, Sai,"ucap Naruto,"lalu ada satu rumor lagi yang mengatakan, jika ada salah satu dari keturunan pemimpin Konoha yang memasuki kuil ini. Maka tubuhnya akan dirasuki oleh kedua jiwa pemimpin Konoha tersebut."
"Lalu…apa hubungannya dengan kita?"tanya Sai polos.
"Sai…kau ini bagiamana. Apa kau tidak pernah membaca buku sejarah Kota Konoha ini?"tanya Naruto.
"Tidak pernah…buku itu sangat membosankan,"ucap Sai enteng dan sedetik kemudian dia mendapat dua jitakan dikepalanya.
"Aduh…Sasuke, Naruto kalian kenapa memukulku tanpa alasan?"tanya Sai.
"Sasuke, kau saja yang menjelaskan!"ucap Naruto tanpa menggubris geruruan kesal Sai, dan memandang sosok anak laki-laki berambut hitam yang belakangnya mencuat.
"Hn…dengar baik-baik, Sai,"ucap Sasuke. "Sebelumnya aku ingin bertanya…apa kau tahu nama dari kedua pemimpin yang jiwanya disegel dikuil ini?"sambil memandang Sai yang berada disamping kanannya.
"Aku tahu…namanya sama dengan kalian berdua. Lalu apa hubungnnya?"tanya Sai dengan tampang polosnya.
"Kau ini benar-benar bodoh, Sai. Apa kau tidak mengerti maksud dari ucapan Sasuke barusan?"tanya Naruto.
"Kau ini, Naruto…mengataiku bodoh. Lalu apa kau sendiri juga mengetahui maksud dari ucapan Sasuke barusan?"tanya Sai.
"Tentu saja tahu,"ucap Naruto tidak mau kalah.
"Apa?"
"Aku dan Sasuke 'kan berasal dari keturunan yang sama dengan salah satu pemimpin Konoha ini. Uchiha dan Namikaze. Yang ingin ku katakan adalah jika aku dan Sasuke masuk ke kuil ini apakah rumor yang beredar itu benar. Lagi pula aku pernah diberi tahu oleh kedua orang tuaku agar jangan mendekat apalagi masuk kedalam kuil ini,"ucap Naruto panjang lebar.
"Lalu jika sudah diperingatkan, kenapa kau masuk kedalam kuil ini?"tanya Sai.
"Bagaiman jika rumor itu benar adanya. Dan tubuh kalian berdua akan dimasuki oleh jiwa pemimpin Konoha ini,"ucap Sai kemudian.
"Huh…bilang saja kau takut, Sai"ucap Sasuke yang akhirnya bersuara setelah tadi terdiam cukup lama.
"Ti…tidak…a…aku tidak takut. Aku hanya khawatir pada kalian berdua…itu saja,"ucap Sai.
"Sudahlah…ayo kita lihat lebih kedalam lagi kuil ini. Karena tempat kedua jiwa yang disegel itu terdapat jauh didalam kuil ini,"ucap Naruto dan langsung saja berjalan jauh kedalam kuil itu.
"Hn,"ucap Sasuke yang kini ikut mengikuti Naruto dibelakangnya.
"He…hei…tu…tunggu aku. Jangan tinggalkan aku sendiri!"ucap Sai yang kini berlari menyusul Sasuke dan Naruto yang sudah berjalan cukup jauh darinya.
"Aku ingat sekarang…peristiwa ini adalah pada saat tubuhku dimasuki oleh jiwa Uchiha itu,"ucap Sasuke dan ikut berjalan menyusul sosok dirinya dan kedua temannya.
-
-
"Hei lihat! itu tempatnya,"ucap Naruto sambil menunjuk sebuah tempat atau bisa disebut dua buah 'Sarkofagus' yang terdapat ukiran lambang Uchiha dan Namikaze.
"Kalian mendengar suara itu, Naruto, Sai?"ucap Sasuke sambil mengedarkan pandangannya pada ruangan itu.
"Su…suara apa?"tanya Sai yang kini merapatkan dirinya dengan Sasuke dan Naruto.
"Sudahlah…mungkin itu hanya suara angin saja. Ayo kita lihat lebih dekat lagi!"ucap Naruto yang berjalan mendekat pada dua 'Sarkofagus' itu. Dan setelah sampai dia menyentuh 'Sarkofagus' yang berlambang klannya sendiri dengan tangan kanannya. Dan Sasuke menyusul Naruto, kemudin dia juga menyentuh 'Sarkofagus' yang satunya lagi dengan lambang dari klannya sendiri- dengan tangan kanannya juga.
"Tidak terjadi apa-apa…berarti rumor itu tidak benar,"ucap Naruto dan hendak menarik tangannya dari 'Sarkofagus'. Tapi tidak bisa…tangannya seperti dilem. Dan seketika itu juga wajah Naruto berubah jadi pucat dan keringat dingin bercucuran diwajahnya. Dan Sasuke yang melihat kejanggalan pada Naruto akhirnya bertanya.
"Kau kenapa, Naruto…wajahmu tiba-tiba saja pucat seperti itu?"tanya Sasuke.
"I…itu…ta…tanganku tidak bisa lepas dari Sarkofagus ini, se…seperti dilem,"ucap Naruto dengan suara bergetar menahan takut.
"Kau jangan bercanda disaat seperti ini, Naruto"ucap Sasuke dan dia kini hendak mendekati Naruto. Tapi tiba-tiba saja langkahnya berhenti dan kini juga wajahnya sama pucat dengan Naruto. Kemudian dia berkata dengan suara sama bergetarnya dengan Naruto.
"Ta…tanganku juga tidak bisa lepas,"ucap Sasuke.
"Ba…bagaimana ini…Sai tolong kami! Kenapa kau diam saja,"teriak Naruto kepada Sai yang dari tadi diam mematung.
"Sai!!"teriak Sasuke.
"I…iya,"ucap Sai dan berjalan kearah Naruto dan Sasuke.
"Berhenti disitu! Sai,"ucap Sasuke,"suara itu terdengar lagi…apa kalian berdua benar-benar tidak mendengarnya?"
"Terdengar…tapi suara gemuruh apa itu?"ucap Sai setelah menajamkan indera pendengarnya. Dan kini wajahnya sama pucatnya dengan Naruto dan Sasuke.
"Sudahlah, Sai…cepat bantu kami lepas dari Sarkofagus ini!"ucap Naruto mulai panik. Dan setelah mendengar hal itu Sai pun segera berjalan mendekat pada Sasuke dan Naruto.
"Apa yang harus aku lakukan?"tanya Sai setelah sampai ditengah dua 'Sarkofagus' itu, yang berarti antara Naruto dan Sasuke. Tapi sepertinya pertanyaan itu terlebih ditujukan pada dirinya sendiri.
"Jika difilm-film biasanya ada tombol atau semacamnya. Coba cari saja!"ucap Naruto.
"Bodoh…mana ada hal seperti itu. Kau terlalu banyak menonton tv, Naruto,"ucap Sasuke.
"Kau yang bodoh,"ucap Naruto.
"Kau,"ucap Sasuke tidak mau kalah.
"Diam kalian berdua!"ucap Sai. Dan kini wajahnya tambah pucat dari sebelumnya. "Suara gemuruh itu seperti suara memanggil seseorang."
Wuushh…(suara angin berhembus)
"A…apa yang terjadi? Angin itu datang dari mana?"ucap Naruto.
"A…aku sudah tidak kuat lagi,"ucap Sai yang tak lama kemudian tubuhnya ambruk kebawah dan tak sadarkan diri.
"Si bodoh itu…kenapa pingsan disaat seperti ini. Lalu bagaimana dengan kami,"ucap Naruto yang kini mulai berusaha menarik sebelah tangannya sekuat tenaga. Dan hal yang serupa pun dilakukan Sasuke.
Namun sepertinya hal yang dilakukan oleh Naruto dan Sasuke sia-sia saja. Dan kini angin yang berhembus semakin kencang menerpa mereka berdua. Dan tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang memanggil nama mereka berdua 'Namikaze…Uchiha'.
Setelah mendengar suara itu kini mereka lebih gencar untuk menarik tangan mereka. Entah kenapa tiba-tiba saja kini tangan mereka bisa terlepas. Namun hal itu juga yang membuat kedua 'Sarkofagus' itu terbuka. Lalu terlihat ada dua bayangan hitam seperti gumpalan awan, yang keluar masing-masing dari 'Sarkofagus' itu. Sekilas bentuknya menyerupai wajah orang, hanya ada kedua mata yang berwarna merah dan juga mulut. Lalu sosok bayangan itu mulai mendekati Naruto dan Sasuke yang kini tidak bisa bergerak sama sekali. Entah karena memang mereka takut dan sama sekali tidak bisa bergerak, atau ada sesuatu yang menghalangi mereka berdua untuk bergerak selangkah pun. Kemudian tiba-tiba saja salah satu gumpalan bayangan seperti awan hitam itu berbicara.
"Sudah kutunggu beratas-ratus tahun lamanya untuk bisa terbebas dari segel 'Sang Putri' ini. Dan kini aku bisa membalaskan dendam ku pada 'Sang Putri' dan juga menguasai Konoha ini seperti dulu."
"Dan semua ini berkat kalian berdua. Kini tubuh kalian berdua adalah milik kami,"ucap bayangan yang satu lagi dan mulai memasuki tubuh Naruto lewat mulutnya.
"Naruto…,"teriak Sasuke. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakan. Dan kini setelah bayangan itu masuk semua ketubuh Naruto. Akhirnya tubuh Naruto jatuh begitu saja dilantai kotor kuil ini dan tak sadarkan diri.
"Aku harus menolong diriku sendiri,"ucap Sasuke yang kini melihat dirinya sewaktu kecil ketika tubuhnya akan dirasuki. Dan kini Sasuke berusaha untuk menggerakan kakinya. Namun kini tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakan sama sekali.
"Sial…mungkin saja jika aku bisa menolong diriku pada saat ini. Aku tidak harus untuk mencoba membunuh Sakura atas perintah jiwa klan itu untuk membalas dendam,"runtuk Sasuke dalam hati. Namun terlambat kini Sasuke bisa mendengar teriakan dirinya sendiri sewaktu kecil ketika tubuhnya dirasuki oleh jiwa klan itu.
"Tidak…hentikan…hentikan,"teriak Sasuke namun kini lambat laun pemandangan dihadapannya itu lama-lama mengabur. Dan sekarang sudah tidak jelas lagi. Lalu pemandangan dihadapanku ini berganti menjadi serba putih. Kemudian samar-samar aku bisa mendengar suara seseorang yang berkata 'Ayo bangun, Sasuke'. Dan ketika aku mulai membuka kedua mataku yang tadi sempat silau ketika pemandangan serba putih tadi. Aku dapat mengenali bahwa sekarang ini aku berada disebuah ruangan yang bercat putih, dan juga tercium bau seperti bau obat-obatan.
"Aku dimana?"tanyaku yang kini mulai membiasakan mataku dengan keadaan sekitar. Dan ketika penglihatanku mulai melihat lebih jelas namun tidak sepenuhnya kembali seperti semula, aku bisa melihat sosok seseorang yang duduk disampingku. Sosok itu seperti.
-
-
"Sa…Sakura…"ucap Sasuke spontan. Namun ternyata dugaan Sasuke salah. Ternyata sosok itu bukanlah Sakura melainkan sosok seorang pemuda berambut kuning.
"Kau salah…aku bukan Sakura, aku Naruto,"ucap Naruto sedikit kesal,"masa kau tidak dapat membedakan antara sosokku dan sosok Sakura, kau ini bagaiman Sasuke. Dan apa ini balasan untukku yang sejak dari tadi menungguimu diUKS ini. Dan tiba-tiba saja kau sadar tidak mengenaliku."
"Naruto…sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?"tanya Sasuke tidak menggubris gerutuan Naruto. Dan kemudian sekarang mencoba untuk bangkit dari tidurnya dan merubahnya menjadi posisi duduk.
"3 jam…kau tahu, sewaktu kau tak sadarkan diri kau terus bergumam nama Sakura. Kau menyukainya?"tanya Naruto dan sedetik kemudian dia menerima hadiah jitakan dikepalanya. Dan sekarang bisa terlihat kini Naruto mengaduh kesakitan dan juga mengelus-ngelus kepalanya.
"Kau ini kenapa, Sasuke? Aku 'kan hanya tanya saja…tidak perlu melakukan penyiksaan seperti tadi,"ucap Naruto.
"Hn, berisik…aku mau kembali kekelas saja,"ucap Sasuke yang kini mulai beranjak turun dari tempat tidurnya. Namun baru saja Sasuke melangkahkan satu kakinya dia ditahan oleh seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan UKS.
"Kau tidak boleh kekelas…kau harus masih banyak istirahat, Sasuke,"ucap seorang wanita berambut hitam sebahu, Shizune.
"Sudahlah…aku tidak apa-apa, Kak Shizune,"ucap Sasuke yang kini mulai melangkahkan kakinya kembali. Namun sekali lagi dia dicegat oleh Shizune, dan juga kini Shizune menahan pergelangan tangan kiri Sasuke.
"Aku bialang tinggal, ya, tinggal. Badanmu sangat panas pada saat Naruto membawamu kemari, Uchiha Sasuke,"ucap Shizune dengan tegas pada setiap suku katanya dan juga tatapannya yang menyeramkan(?)
"Ba…baiklah, Kak Shizune,"ucap Sasuke akhirnya dan mulai melangkahkan kakinya kembali ketempat tidur. Dan langsung saja Sasuke berbaring dan kemudian menjadikan bantal sebagai tempat sandaran. Jadi posisinya setengah berbaring dan setengah duduk. Dan Naruto yang melihat tingkah Sasuke yang tiba-tiba saja menurut, menahan tawanya hingga mukanya memerah dan terlihat sedikit keluar air dari sudut matanya.
"Bagus kalau kau menurut, dan ini…"ucap Shizune sambil menyodorkan segelas teh herbal yang masih terlihat ada asapnya yang mengepul keluar.
"Minumlah untuk membantu menurunkan panas tubuhmu, dan Naruto tolong jaga Sasuke sebentar. Aku ada keperluan dengan Kepala Sekolah,"ucap Shizune yang kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu dan hendak keluar.
Namun sesaat sebelum dia benar-benar keluar dia berkata 'Habiskan minumannya' dengan tatapan lebih mengerikan dari pada yang tadi. Sedangkan Sasuke hanya menelan ludah melihat wajah Shizune.
"Menyeramkan sekali tatapannya,"batin Naruto.
Memang sudah sangat terkenal di Sma Konoha ini, bahwa tingkah laku Shizune yang kadang-kadang berlebihan dalam menghadapi siswa atau sisiwi yang tiba-tiba saja sakit. Dan kadang-kadang juga dia bisa jadi sangat cerewet jika ada siswa atau siswa yang membantah ucapannya, seperti Sasuke barusan.
Pernah waktu itu ada kejadian, salah satu siswa yang tidak diizinkan keluar dari ruang kesehatan. Dari jam pelajaran pertama sampai bel pulang sekolah. Padahal siswa itu hanya mengeluh sakit perut biasa saja dan juga tidak terlalu parah. Namun yang dilakukan Shizune sangat berlebihan, dia tidak mengizinkan siswa itu beranjak dari tempat tidurnya sama sekali. Tetapi dibalik sikapnya yang demikian, sebenarnya dia adalah seorang guru yang sangat baik dan juga perhatian. Sangat perhatian sekali.
Dan setelah Shizune benar-benar menghilang. Akhirnya tawa Naruto pun meledak didalam ruang kesehatan itu. Sampai-sampai kini air matanya keluar dan juga memegang perutnya dengan kedua tangannya.
"Ha…ha…ha…lihat ekspresi wajahmu, Sasuke. Terlihat sangat lucu sekali,"ucap Naruto tanpa mengindahkan 'Death glare' dari mata Sasuke. "Aku tidak tahu kalau seorang Uchiha bisa tiba-tiba jadi penurut begitu."
"Berisik…diam kau, Naruto,"ucap Sasuke sambil ingin mendaratkan jitakan dikepala Naruto sekali lagi. Namun kini Naruto bisa menghindarinya dengan mudah dan kemudian berjalan menuju pintu keluar ruangan kesehatan.
"Sa…Sasuke…ha…ha…ha…kau tidak apa-apa 'kan kalau aku tinggal. Aku ingin pergi kekantin, perutku sudah berbunyi dari tadi,"ucap Naruto disela-sela tawanya.
"Hn, pergi saja,"ucap Sasuke.
"Apa kau mau sesuatu, Sasuke?"tanya Naruto yang kini tawanya sedikit mereda.
"Tidak…terima kasih, Naruto. Kau tidak perlu repot-repot,"ucap Sasuke.
"Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu…istirahatlah,"ucap Naruto dan langsung pergi meninggalkan Sasuke sendirian didalam ruang kesehatan.
"Sepertinya aku harus cepat-cepat meminta bantuan 'Sang Putri'. Baiklah sudah kuputuskan, nanti malam aku akan menemuinya,"batin Naruto dalam perjalan menuju kantin sekolah. "Tapi sebaiknya aku harus mengatakannya terlebih dahulu pada salah satu pengawal 'Sang Putri'.
"Ah…itu dia…Neji,"ucap Naruto setengah berteriak dan langsung berjalan mendekat pada Neji yang baru saja keluar dari kelasnya.
"Aku ingin bicara sesuatu padamu…tapi setelah aku makan nanti. Kau juga akan pergi kekantin 'kan?"tanya Naruto sesudah sampai dihadapan Neji.
"Hn,"ucap Neji dan mulai berjalan kembali diikuti oleh Naruto dibelakangnya.
##Fire and Ice##
"Tadi itu sebenarnya apa…sebuah pertanda 'kah?"tanya Sasuke pada dirinya sendiri.
"Tetapi jika itu memang benar sebuah pertanda maka…baik atau buruk?"tanya Sasuke lagi.
"Sakura…kenapa aku bisa tidak mengingat kejadian pada waktu itu denganmu…apa 'Dia' yang sudah mengunci ingatanku tentangmu,"ucap Sasuke dan kini pandangannya beralih pada secangkir teh yang dari tadi dia diamkan saja. Dan kemudian dia mengambil cangkir teh herbal itu dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit. "Rasanya tidak buruk juga."
"Sasuke…bagaimana keadaanmu sekarang?"tanya Shizune tiba-tiba didepan pintu masuk dan mulai mendekati Sasuke yang sedang terduduk diatas tempat tidur.
"Aku sudah lebih baik…maaf merepotkan, Kak Shizune,"ucap Sasuke dan meletakan cangkir teh yang sudah kosong isinya di dimeja disamping tempat tidur.
"Well…sepertinya teh herbal itu cukup membantu banyak,"ucap shizune sambil menyentuh kening Sasuke dengan tangan kanannya. "Panasmu juga sudah turun." Menjauhkan tangannya dari kening Sasuke.
"Apa aku sudah bisa pergi?"tanya Sasuke.
"Silahkan jika kau sudah kuat untuk berjalan, tapi jika masih sedikit pusing lebih baik istirahat saja,"ucap Shizune dan duduk dikursi disamping tempat tidur Sasuke.
"Hn, aku mengerti,"ucap Sasuke sambil berjalan keluar dari ruang kesehatan. Namun dia tiba-tiba saja berhenti diambang pintu dan menengok kearah Shizune. "Terima kasih karena sudah merawatku, Kak Shizune."
"Sama-sa…ma, Sasuke,"ucap Shizune. Dan setelah mengucapkan hal itu akhirnya sosok Sasuke pergi meninggalkan ruang kesehatan. Dan kini didalam ruangan kesehatan tinggallah Shizune sendirian, yang wajahnya menyiratkan keterkejutan. "Benarkah yang tadi mengucapkan kata-kata itu adalah, Sasuke…dan wajahnya tadi itu tidak seperti dirasuki oleh jiwa pemimpin klan Uchiha. Apa yang diucapkannya barusan benar-benar sangat tulus, tetapi wajahnya seperti sedang memendam kesedihan yang mendalam. Aku harus melaporkan ini pada 'Dia'." Lalu langsung saja Shizune beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan kesehatan.
##Fire and Ice##
Dikantin Sekolah
"Neji…bagaimana keadaan, Sakura?"tanya Ino setelah menyuapkan makanan kedalam mulutnya, kemudian mengunyahnya dan menelannya.
"Dia sudah jauh lebih baik…mulai besok dia bisa sekolah seperti biasa."
"Apa…besok sudah bisa sekolah,"ucap TenTen terkejut dan sedikit berteriak,"bukankah kaki Sakura terkilir cukup parah…dan baru bisa berjalan sekitar dua minggu lagi."
"Aku juga tidak tahu…tapi semalam dia sudah bisa keluar kamar sendirian, benarkan, Hinata?"tanya Neji yang kemudian memandang Hinata.
"Be…benar apa yang dikatakan oleh…Kak Neji. Sa…Sakura memang sudah bisa berjalan tadi malam,"ucap Hinata.
"Maaf…apakah aku boleh bergabung?"tanya seorang laki-laki berambut hitam dan memilki kulit sangat pucat sambil tersenyum secara tiba-tiba.
"Bo…boleh…tentu saja, Sai,"ucap Ino dengan wajah sedikit memerah dan juga menggeser sedikit tempat duduknya.
"Terima kasih…gadis cantik,"ucap Sai enteng dan langsung duduk. Bisa dilihat sekarang wajah Ino sudah benar-benar mirip kepiting rebus. TenTen yang berada disebelah Ino hanya mengikik geli meliat tingkah Ino yang tiba-tiba saja gugup seperti tadi.
"Neji…bisa sekarang saja,"ucap Naruto setelah melahap habis ramen, makanan kesukannya, mengelap mulutnya dengan sebuah tisu dan beranjak berdiri dari duduknya.
"Hn, aku mengerti…kami duluan,"ucap Neji dan langsung saja pergi menyusul Naruto yang sudah terlebih dahulu pergi. Dan kini dimeja itu menyisakan empat orang yang saling bertatapan tanda bertanya 'ada apa dengan mereka berdua'.
"Ka…kalau begitu…a…aku juga duluan. A…ada urusan,"ucap Hinata dan langsung pergi tanpa melihat pandangan heran dari Ino dan TenTen.
"Aku juga,"ucap TenTen,"aku ada rapat dengan klub karate…sekarang." Dan juga langsung pergi meninggalkan meja makan itu. Kini tinggal Ino dan Sai saja yang ada di meja itu. Mereka terdiam cukup lama, sampai akhirnya Ino memulai pembicaraan.
"Sai…kenapa kau pindah kesekolah ini?"ucap Ino terlihat sangat akrab. Berbeda dengan ucapannya yang tadi sewaktu ada Naruto, Neji, Hinata dan TenTen.
"Tentu saja untuk menemui tu…"
"Bohong…aku tidak percaya. Kau kemari pasti punya alasan tertentu 'kan?"tanya Ino memotong ucapan Sai.
"Aku tidak bisa menjelaskan alasannya padamu…tidak sekarang,"ucap Sai,"lagi pula aku ingin melihat wajah, Sakura."
"Dia tidak sekolah hari ini. Besok baru dia sekolah,"ucap Ino sedikit jengkel.
"Kau tidak perlu cemburu begitu…kau 'kan sudah tahu alasanku untuk menemui Sakura secepatnya."
"Ya, ya, aku tahu…aku tidak cemburu sama sekali. Tapi aku marah karena kau belum mau menjelaskan tentang 'Sang Putri' kepadaku lebih lanjut,"ucap Ino.
"Maaf 'kan aku…tapi aku berjanji suatu saat aku pasti akan menjelaskannya padamu,"ucap Sai sambil menyodorkan jari kelingkingnya tepat didepan wajah Ino.
"Aku pegang janjimu, Sai,"ucap Ino dan membalas melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Sai.
"Hei…Ino…kau hebat juga bisa berakting didepan yang lainnya, seolah-olah kau tidak mengenalku sama sekali,"ucap Sai setelah melepaskan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ino.
"Benarkah…wah, ternyata aku berbakat juga untuk jadi seorang aktris,"ucap Ino dengan bangga.
"Sai, tentang masalah 'Sang Putri…sepertinya kekuatannya sudah hampir bangkit sepenuhnya,"ucap Ino kemudian.
"Dari mana kau tahu? Apa kau bisa merasakan kekuatannya?"tanya Sai.
"Tidak…aku tidak bisa merasakannya,"ucap Ino sambil meggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan.
"Tapi aku ingat kau pernah memberitahuku, jika ada sebuah tanda aneh muncul dibagian punggung 'Sang Putri' maka kekuatannya akan bangkit,"ucap Ino dan menatap Sai dengan serius. "Dan…aku melihat tanda aneh itu dipunggung, Sakura. Beberapa hari yang lalu sebelum waktu kejadian direstaurant."
"Begitu yach...bukankah itu berita yang bagus. Dan juga sepertinya aku bisa merasakan salah satu kekuatan dari 'Pengawal Legenda' akan segera bangkit,"ucap Sai.
"Benarkah itu…lalu siapa? Neji atau Gaara?"tanya Ino.
"Aku tidak tahu…tapi yang jelas aku bisa merasakan kekuatan yang sangat besar akan segera bangkit,"ucap Sai sambil memakan makanan yang dari tadi dia diamkan saja.
##Fire and Ice##
"Disini memang tempat yang paling nyaman,"gumam Sasuke. Kini Sasuke sedang berada diatap Sekolah.
"Aduh…kepalaku…"ringis Sasuke sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Dan juga kini tubuhnya merosot jatuh kebawah lantai atap yang dilapisi oleh keramik berwarna merah muda.
"Kau…apa kau mau mengambil alih tubuhku lagi,"ucap Sasuke .
"Jika benar…tidak akan ku biarkan. Aku tidak ingin kau menyakiti, Sakura lagi."
"Arrgghh…"teriak Sasuke. Dan kini kedua bola matanya mulai berubah menjadi merah, semerah darah. Namun tak lama kemudian kembali menjadi hitam legam. Begitu hingga berkali-kali. Dan akhirnya kedua bola mata itu tertutup sebentar, kemudian terbuka dan terlihatlah kedua bola mata berwarna merah.
"Ha…ha…ha…kau tidak akan bisa melawanku, Sasuke. Kini tubuhmu seutuhnya miliku, dan aku bisa melakukan apa pun pada ' Sang Putri'. Tidak akan ada yang bisa melawanku sekarang. Entah itu kedua 'Sang Pengawal Legenda' atau pun Namikaze jika dia mencoba menghianatiku,"ucap Sasuke yang kemudian berdiri dari posisi jatuhnya.
"Ada yang datang,"ucap Sasuke atau jiwa pemimpi klan Uchiha yang sudah berhasil merebut tubuh Sasuke seutuhnya. Dan langsung saja dia melompat keatas atap gedung sekolah dan menyembunyikan hawa keberadaanya. Jika tidak maka Namikaze akan mengetahuinya keberadaanya disini.
-
-
"Kau mau bicara apa, Naruto?"tanya Neji sesudah dia sampai dipagar pembatas atap sekolah.
"Bagaimana memulainya yach,"ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ngg…langsung saja, Neji, didalam tubuku ada jiwa Klan Namikaze yang berniat untuk membalas dendam pada, Sakura."
"Tetapi sekarang aku tidak akan lagi mencelakakan, Sakura. Justru sebaliknya, aku ingin membantu kalian untuk mengalahkan jiwa dari Klan Uchiha yang sekarang ada ditubuh, Sasuke,"tambah Naruto ketika menyadari tatapan menusuk dari Neji ketika dia berbicara untuk membalas dendam pada Sakura.
"Apa maksudmu dengan jiwa Klan Namikaze yang ada didalam tubuhmu, Naruto,"tanya Neji.
"Eh…jadi kau tidak tahu kalau tubuhku ini dirasuki oleh jiwa dari Klan Namikaze,"ucap Naruto sedikit kaget.
"Hn, tidak…yang aku tahu jiwa dari pemimpin Klan ini bisa bereinkarnasi ketubuh keturunan yang sama. Aku tidak pernah membaca tentang masuknya jiwa dari Klan itu,"ucap Neji.
"Panjang jika diceritakan…tapi intinya adalah kini didalam tubuhku terdapat jiwa dari Klan Namikaze. Dan entah kenapa…aku bisa mengendalikan jiwanya. Berbeda dengan Sasuke…dia sepertinya tidak mampu untuk mengendalikan jiwa Klan Uchiha yang ada didalam tubuhnya. Dan juga akhir-akhir ini dia sering hilang kendali,"ucap Naruto panjang lebar.
"Apa buktinya jika yang kau katakan itu benar,"ucap Neji.
"Hah…susah sekali untuk membuatmu percaya,"keluh Naruto. "Baiklah, akan ku buktikan. Akan ku keluarkan kekuatanku disini…sekarang…dihadapanmu." Kemudian Nauto memejamkan kedua matanya dan mengangkat kedua tangannya keatas.
Wuussh…
Tiba-tiba saja ada Angin yang sangat kencang menerpa atap sekolah dan pagar pembatas yang terbuat dari besi pun turut ikut bergetar. Juga pintu masuk keatap pun yang tadinya tertutup jadi terbuka, sehingga menimbulkan bunyi 'braak' yang sangat keras. Menandakan bahwa kekuatan Angin itu sangat besar.
"Kau pasti tahu jika Klan Namikaze dapat mengendalikan Angin. Apa sekarang kau percaya padaku?"ucap Naruto yang masih belum menurunkan kedua tangannya diatas.
"Aku percaya…dan tolong sekarang hentikan angin ini,"ucap Neji.
"Aku mengerti,"ucap Naruto dan kemudian menurunkan kedua tangannya. Tiba-tiba saja Angin itu sedikit demi sedikit mereda. Juga sekarang pagar pembatas dan pintu masuk pun sudak tidak bergetar lagi.
"Jadi…apakah aku sekarang bisa membantu kalian?"tanya Naruto.
"Aku tidak bisa memutuskannya sendiri. Aku harus membicarakan hal ini terlebih dahulu pada Ayahku dan semua orang yang sudah mengetahui mengenai masalah ini,"ucap Neji.
"Baiklah aku mengerti dan…"Naruto menggantung ucapannya.
"Kau bisa keluar sekarang, Hinata,"ucap Naruto-lagi-,"aku tahu kau disana."
"Hinata kau bilang,"ucap Neji terkejut.
"Ayo keluar! Aku bisa merasakan hawa keberadaanmu sejak aku dan Neji memulai pembicaraan tadi,"ucap Naruto sambil mengahadap pintu masuk yang menuju keatap.
Dan benar saja, kini sosok Hinata keluar dari pintu masuk. Wajahnya sedikit ketakutan dan juga sedikit pucat, ditambah lagi kini banyak keringat yang keluar dari wajah putih susunya. Dengan berjalan pelan-pelan dia mendekati Neji dan Naruto.
"Ma…maaf 'kan aku…Kak Neji…yang su…sudah lancang menguping pembicaraan ka…kalian. I…itu semua kulakukan ka…karena a…aku juga menghawatirkan keadaan Sakura selanjutnya,"ucap Hinata terbata.
"Tidak apa-apa, Hinata. Sebaiknya, kita lanjutkan pembicaraan ini dikediaman Keluarga Hyuuga saja. Aku takut ada yang menguping pembicaraan rahasia ini. Dan kau…Naruto, kau sebaiknya datang besok malam kerumahku…sendirian,"ucap Neji yang kini berjalan meninggalkan Naruto dan serta membawa Hinata bersamanya.
"Besok malam yach…baiklah aku akan datang, Neji,"ucap Naruto dan pergi menyusul Neji dan Hinata.
-
-
"Jadi begitu…kau benar-benar menghianatiku, Namikaze"ucap Sasuke dan langsung melompat turun dari atas atap.
"Hah…dengan begini musuhku bertambah satu. Tapi tidak apa-apa…asalkan aku dapat benda 'itu'. Semuanya tidak akan berkutik sedikit pun dihadapanku. Dan yang perlu kulakukan sekarang adalah berpura-pura sebagai Sasuke. Aku tidak boleh menunjukan jika tubuh Sasuke ini sudah diambil oleh ku,"ucap Sasuke dan kini mulai berjongkok diatas lantai yang menjadi alas bagian bawah atap sekolah ini. Lalu dia mengangkat satu keramik lantai itu dan mengambil sebuah benda berbentuk kotak yang dibungkus sehelai kain hitam.
"Akirnya sudah waktunya aku memakai benda ini. Tidak sia-sia aku menyembunyikan kontak lensa ini pada saat aku berhasil sebentar mengambil alih tubuh Sasuke. Dengan bantuan benda ini aku bisa menyamar sebagai sosok Sasuke, tanpa ada yang menyadarinya,"ucap Sasuke yang sebenarnya bukan Sasuke yang sesungguhnya, karena kini tubuhnya sudah diambil alih oleh jiwa Klan Uchiha yang merasuki tubuhnya yang sudah sangat lama.
Dan kemudian dia mulai memakaikan kontak lensa berwarna hitam pada kedua bola matanya yang berwarna merah.
"Selesai…sudah waktunya ber-akting,"ucap Sasuke dan pergi meninggalkan atap sekolah dengan seringai menyeramkan yang terlukis dibibir tipisnya. "Tunggu aku 'Tuan Putri'…ah, bukan tapi…Sakura."
##Fire and Ice##
Teet…teet
"Bel masuk sudah berbunyi, sebaiknya kita cepat!"ucap Naruto yang kemudian sedikit berlari menuju kelasnya. Diikuti oleh Neji dan Hinata yang berada dibelakangnya.
"Naruto, aku mau tanya satu hal,"tanya Neji.
"Silahkan!"
"Apa Sasuke tahu bahwa kau kini berada dipihak kami?"tanya Neji.
"Tidak…karena itu aku akan menjaga jarak dengan kalian. Agar tidak terlihat mencurigakan didepan Sasuke,"jawab Naruto.
"Ma…maaf…Na…Naruto…ke…kenapa kau bisa mengetahui bahwa a…aku tadi ada di balik pintu?"tanya Hinata terbata dan kini dia menundukan kepalanya, karena tidak sanggup menatap kepada dua bola mata shappire milik Naruto.
"Ah…aku lupa memberitahukan satu lagi kemampuan dari Klan Namikaze. Yaitu dapat merasakan hawa keberadaan seseorang dimana pun orang itu berada dan level kekuatan jika orang itu mempunyai kekuatan. Tentunya aku hanya dapat merasakan jika aku mengenal orang tersebut. Tapi sekarang aku sedang berlatih untuk merasakan seseorang yang mempunyai hawa jahat. Berbeda dengan mu…Hinata, aku tidak merasakan hawa atau aura jahat dari mu. Aura mu memancarkan kehangatan, kebaikan, penuh kasih sayang…kau tahu? Auramu itu seperti Ibuku. Aku senang jika berada dekat-dekat denganmu…aku merasakan ada Ibuku didekatku,"ucap Naruto panjang lebar.
Dan kini bisa dilihat wajah Hinata benar-benar memerah. Dia juga semakin menundukan kepalanya. Neji yang berada disampingnya pun hanya tersenyum tipis melihat sikap adiknya.
"Dibuku Sejarah tidak disebutkan sama sekali tentang kekuatan lain yang dimilki oleh Klan pendiri Konoha ini,"ucap Neji dan menatap Naruto.
"Ya, itu benar. Dibuku Sejarah tidak disebutkan jika Klan pendiri Konoha ini mempunyai kekuatan yang lain. Tapi kau mengetahui kekuatan 'Tuan Putri' yang lain 'kan, Neji?"
"Hn, aku tahu. Lalu apakah Sasuke juga mempunyai kekuatan yang lain selain mengeluarkan Api?"tanya Neji.
"Ada…yaitu dapat membaca gerakan lawan dengan kedua bola matanya,"jawab Naruto.
"Membaca gerakan lawan…apa maksudnya?"tanya Neji.
"JIwa dari Klan Uchiha mempunyai bola mata yang berbeda pada umumnya…yaitu berarna merah darah. Dengan mata itu dia bisa membaca gerakan lawannya,"jawab Naruto panjang lebar. "Apa ada hal yang ingin kau tanyakan lagi, Neji?"
"Tidak…tidak ada,"jawab Neji.
Akhirnya mereka sudah sampai didepan pintu kelas. Langsung saja Naruto, Neji dan Hinata pun masuk kedalam kelas. Dan ternyata didalam kelas sudah ada seorang Guru berpakaian serba hijau dan alisnya yang super tebal.
"Kalian terlambat,"ucap Guru itu kepada Naruto, Neji dan Hinata sambil menatap wajah mereka satu persatu. "Jadi laki-laki yang berambut coklat ini adalah Neji yach!"batin Guru itu.
"Maaf 'kan kami Guru…err…"
"Maito Gai…itu namaku,"jawab Guru itu.
"Maaf 'kan kami Guru Gai,"ucap Naruto mengulang perkataannya tadi.
"Tidak apa-apa…kalian duduklah!"ucap Gai.
"Terima kasih, Guru,"ucap mereka bertiga serempak. Kemudian mereka pun berjalan ketempat duduk mereka masing-masing.
"Sasuke…apa kau sudah baikan?"tanya Naruto setelah sampai ditempat duduknya bersama Sasuke.
"Hn,"jawab Sasuke sangat dingin.
"Ini aneh…tidak biasanya Sasuke bersikap dingin sekali padaku. Ah…mungkin dia masih kelelahan,"batin Naruto dan langsung duduk disamping Sasuke.
"Baiklah…tolong perhatikan sebentar. Namaku adalah Maito Gai. Aku adalah guru olah raga sementara menggantikan guru Ebisu yang sedang cuti. Dan sekarang kita akan olah raga basket. Silahkan ganti baju kalian dan segera kelapangan. Aku tunggu kalian disana. Apa semuanya sudah jelas?"tanya Gai.
"Jelaaas…"ucap semua orang yang ada didalam kelas tersebut.
"Bagus…pertahankan semangat muda kalian,"ucap Gai dan pergi meninggalkan kelas.
##Fire and Ice##
"Hah…hah…hah…aku harus bisa mengeluarkan kekuatanku. Aku sudah berjanji pada…Sakura…hah…hah…untuk melindunginya dengan kekuatan yang kumilki,"gumam seorang laki-laki berambut merah darah yang kini jatuh terduduk ditanah sambil mengatur nafasnya.
"Huh…apa hanya begitu saja kemampuan stamina mu, Gaara,"ucap seorang laki-laki berambut perak, Kakashi, sambil memandang kedua bola mata hijau jade milik Gaara dengan tajam.
"Dengan kekuatan yang sangat lemah yang kau milki ini…jangan 'kan melindungi, Sakura. Melindungi dirimu sendiri juga aku tidak yakin,"ucap Kakashi kemudian.
"A…apa yang kau bilang barusan, Kakashi?"tanya Gaara.
"Baiklah, aku ulang sekali lagi ucapanku. Aku bilang dengan kekuatan lemah yang kau milki ini…jangan 'kan melindungi, Sakura…untuk melindungi dirimu sendiri pun aku tidak yakin,"ucap Kakashi mengulang ucapannya tadi dan menatap Gaara lebih tajam.
"Tarik kembali…"
"Tarik kembali apa?"tanya Kakashi.
"Tarik kembali kata-kata mu yang menyebutkan kalau aku tidak bisa melindungi, Sakura…dan juga tentang kekuatanku yang kau sebutkan lemah tadi,"ucap Gaara sambil bangkit dari duduknya. Dan kini tatapan matanya telah berubah. Menjadi sangat tajam.
"Tatapan matanya itu…dan kenapa langit tiba-tiba jadi gelap seperti ini,"gumam Kakashi dan mengadahkan penglihatannya keatas langit. Langit yang tadinya sangat cerah kini telah menjelma menjadi langit yang sangat gelap. Banyak gumpalan awan hitam yang membentuk diatas langit. Dan juga ditambah datangnya suara gemuruh yang memekkakan telinga.
"Ada apa ini sebenarnya…jangan-jangan kekuatannya…"ucap Kakashi dan ketika dia melihat sosok Gaara kembali dia sangat terkejut. Kini disekeliling tubuh Gaara telah terlapisi semacam cahaya berwarna kuning yang sangat menyilaukan. Kemudian tiba-tiba saja Gaara berteriak sangat kencang.
"Aaarrrgghhh…"
"Ga…Gaara…kau…"ucap Kakashi dan hendak mendekati Gaara. Namun dia urungkan karena tiba-tiba saja ada sebuah Petir yang turun tepat dimana Gaara berdiri. Dan kini Petir itu mengahantam tubuh Gaara dan juga tanah yang dipijaknya. Sehingga menimbulkan bunyi ' Bum' yang sangat keras. Dan akhirnya Kakashi pun mundur beberapa langkah.
##Fire and Ice##
"Hei semuanya…coba lihat!"ucap salah seorang siswi Sma Konoha yang sekarang sedang berolah raga dilapangan basket.
"Ada apa?"tanya siswi-siswi lainnya dan mulai mengerumuni siswi yang tadi berbicara.
"Lihat langit disana…gelap sekali dan ada petir yang menyambar."
Dan akhirnya semua siswi-siswi yang berada dilapangan basket itu pun ikut melihat langit yang ditunjukan oleh temannya tadi. Ditambah kini para siswa pun ikut memandangi langit gelap itu. Termasuk Naruto dan Neji yang kini wajahnya menyirakan keterkejutan luar biasa. Kemudian mereka berdua sama-sama memandang satu sama lain, dan bersamaan bergumam nama 'Gaara'.
"Wah…wah…ternyata kekuatan Sabaku sudah bangkit ternyata…ini akan jadi lebih menarik,"batin seorang pemuda berambut hitam yang bagian belakangnya mencuat dan kedua bola mata hitam legam, yang bersandar disebuah pohon tua.
"Sai…apa ini yang kau maksud?"tanya Ino tanpa memandang Sai yang berada disampingnya.
"Ya…kekuatan Sabaku…Petir."
"Eh…jadi ini kekuatan yang dimilki oleh, Gaara?"tanya Ino lagi tapi kali ini dia memandang kearah Sai. Dan Sai pun hanya menganggukan kepalanya pertanda benar adanya.
-
-
"Langit disana gelap sekali…dan juga ada Petir yang menyambar. Berbeda sekali dengan keadaan langit disini…cerah,"ucap gadis berambut merah muda sepunggung. Yang kini duduk di- tatami halaman belakang Keluarga Hyuuga. Sambil memandang langit yang gelap itu dengan kedua mata emerald-nya.
"Aneh sekali,"batin gadis itu lagi.
"Sakura…sedang apa kau disini?"tanya sorang laki-laki paruh baya.
"Ah…paman Hiashi. Aku bosan dikamar terus jadi aku pergi untuk mencari angin. Dan lihatlah Paman…langit dibagian sana gelap sekali, berbeda sekali dengan keadaan langit disini,"ucap Sakura sambil menunjuk keatas langit.
"Hn, tapi sebaiknya kau kembali kekamar saja. Istiraatkan kakimu!"
"Baik,"jawab Sakura dan beranjak pergi meninggalkan Hiashi yang berdiri mematung.
"Petir…kekuatan Sabaku ternyata,"ucap Hiashi dan dia pun pergi entah kemana.
-
-
"Pein…apa kau lihat langit gelap yang disana?"tanya seorang wanita berambut biru yang diatas rambutnya terdapat hiasan bunga, sambil memandang pada sosok seorang laki-laki yang berdiri disampingnya.
"Hn…aku melihatnya. Reinkarnasi dari Klan Sabaku itu berhasil mengeluarkan kekuatannya."
"Sepertinya ini akan segera dimulai,"ucap wanita itu lagi dan mengalihkan pandangannya pada keadaan langit yang gelap itu.
##Fire and Ice##
"Gaara…apa kau sudah sadar?"ucap Kakashi dan memandang sosok seorang pemuda berambut merah, yang kini terbaring diatas tempat tidur kamarnya.
"Kakashi…apa yang terjadi denganku?"tanya Gaara dan berusaha bangkit dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing.
"Kau pingsan setelah kau berhasil mengeluarkan kekuatanmu…jujur saja aku cukup terkejut kau bisa mengeluarkan kekuatanmu hanya dalam waktu dua hari,"ucap Kakashi kemudian berjalan mendekat pada Gaara. Lalu duduk di sebuah kursi tepat disamping kanan tempat tidur Gaara.
"Yang perlu kau lakukan sekarang adalah hanya mencoba untuk mengendalikannya kekuatan Petir yang kau milki saja. Tapi lebih baik dalam beberapa hari selanjutnya kau istirahatkan saja dulu tubuhmu itu. Baiklah hanya itu yang aku ingin katakan, selamat istirahat dan selamat malam,"ucap Kakashi dan beranjak dari duduknya menuju pintu keluar kamar Gaara. Kemudian membukanya dan menutupnya kembali.
"Aku…sebenarnya apa yang sudah terjadi padaku pada saat latihan dengan Kakashi pagi itu,"ucap Gaara kemudian membaringkan tubuhnya kembali. Tak lama kemudian matanya menutup kembali, untuk memasuki alam mimpi.
##Fire and Ice##
"Huft…membosankan sekali dikamar terus,"ucap Sakura dan ingin melangkahkan kakinya keluar kamar. Namun langkahnya terhenti ketika dia menyadari bahwa handphone-nya telah berbunyi menandakan ada telepon masuk. "Siapa yang menelepon ku malam-malam begini?". Dan kembali mendekati tempat tidurnya diamana handphone-nya diletakan.
Dan ketika dia melihat dilayar telepon, nomornya sama sekali dia tidak kenal. Dengan ragu akhirnya Sakura mengangkat telepon itu.
"Halo, siapa ini?"tanya Sakura sesopan mungkin. Lalu terdengar seseorang menjawab panggilan Sakura. Sakura yang mendengar dan hafal dengan suara itu, tiba-tiba menahan nafasnya sebentar karena sangat terkejut dengan siapa yang sudah meneloponnya. Sebuah suara yang dimilki oleh seseorang yang sudah membuat degup jantungnya berubah menjadi sangat cepat bila ada didekatnya.
"Sa…Sasuke…a…ada apa menelepon ku malam-malam begini?"tanya Sakura sedikit terbata.
"Aduh…kenapa cara bicaraku jadi terbata seperti ini…mirip Hinata saja,"batin Sakura.
"Halo, Sakura…apa kau masih ada disana,"ucap Sasuke disebarang telepon.
"Ah…eh…i…iya…ada apa kau menelepon malam-malam begini, Sasuke?"ucap Sakura.
"Aku ingin mengajakmu pergi keluar besok, apa kau mau?"
"Eh…kenapa tiba-tiba,"tanya Sakura dengan wajah yang sudah sangat memerah.
"Tidak ada apa-apa…aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan saja. Bagaimana apa kau mau, Sakura?"tanya Sasuke lagi.
"Ah…i…iya…tentu saja aku mau,"ucap Sakura dan kini wajahnya benar-benar sudah berubah menjadi merah padam.
"Baiklah…aku tunggu didekat sebuah taman Konoha pukul 09.00 pagi. Tapi tolong jangan bilang siapa pun kemana kau pergi dan bersama siapa!,"ucap Sasuke.
"A…aku mengerti."
"Baiklah…selamat malam, Sakura,"ucap Sasuke dan memutuskan hubungan teleponnya.
"Selamat malam juga, Sasuke,"ucap Sakura yang tidak mungkin didengar oleh Sasuke.
"Apa ini ajakan kencan? Jika benar…senang sekali rasanya…tapi kenapa hal ini harus dirahasiakan,"Sakura berfikir keras untuk menemukan alasan yang tepat kenapa Sasuke menginginkan hal ini tidak diketahui oleh siapa pun. Hingga dia menemukan alasan yang hanya pada saat itu dia fikirkan yaitu. "Munkin dia malu…tapi tidak apa-apa, aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun."
"Haah…sebaiknya aku tidur sekarang dan besok bangun pagi-pagi untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk kencan besok dengan, Sasuke,"ucap Sakura dan langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, dan tak lama kemudian dia sudah menjelajahi alam mimpi.
-
-
-
Dirumah Itachi dan Sasuke
"Sepertinya sekarang aku mulai bisa mengendalikan semua bagian tubuh Sasuke, dan tidak memerlukan benda ini lagi,"ucap Sasuke di dalam kamar mandi sambil melepaskan sebuah benda transparan berwarna hitam dari kedua bola matanya. Kemudian dia membasuh wajahnya dan menatap kedalam cermin yang ada dihadapannya.
"Rupanya aku tetap tidak bisa menyembunyikan warna kedua bola mataku jika berhadapan dengan sebuah cermin. Tapi itu bukan masalah sama sekali. Besok sudah waktunya…tunggu saja, Sakura,"ucap Sasuke dan langsung menyeringai menyeramkan. Dan tak lama kemudian dia mulai tertawa seperti orang yang kehilangan akalnya.
-
-
"Pein…ada yang aneh dengan sikap adik ku. Sepertinya dia merencanakan sesuatu untuk mencelakakan, Sakura besok,"ucap Itachi ditelepon.
"Kau buntuti dia besok, jangan sampai kehilangan jejaknya!"ucap Pein diseberang telepon.
"Aku mengerti,"ucap Itachi dan mengakhiri hubungan teleponnya.
"Sasuke…apa tubuhmu sudah diambil oleh jiwa Klan Uchiha itu?"batin Itachi dan pergi meninggalkan pintu kamar Sasuke yang sedikit terbuka menuju kamarnya.
Bersambung….
Hwaa…Minna-san…Akhirnya daku bisa update juga…tapi aku benar2 minta maaf karna telat banget upadatenya….Lagi pula tugasnya bukannya berkurang…lah ini…bertambah banyak…Kemungkinan besar chap selanjutnya juga bakal lama updatenya…mau kah para readers…menunggu fic-ku yang gak jelas ini*Puppy eyes no jutsu*….tapi aku usahakan setiap seminggu sekali aku update fic-ku ini…
Baiklah…mari balas yang sudah review dulu…dimulai dari…
Nacchi Cullen : Arigatou dah dibilang makin seru…Gomen karena romance SasuSaku-nya dikit banget dichap nie…but I'll try in the next chapter a lot of SasuSaku romance…So just wait…Last word Review…,…
Chariot330 : Makasih dah dibilang makin seru…dan Nie dah aku update…review lagi yach…
Angga Uchiha Haruno : Ga apa2…dan nie dah ku update…review lg yach…
Uchiha Ry-chan : Nie dah ku update…review lg yach, Ry-chan…
Sora Chand : Makasih dah dibilang keren…*peluk2 Sora*…nie dah ku update…review lg yach…
AngleFromTheHeaven : nie dah ku update…review lg yach…
Amethyst is Aphrodite :nie dah aku update…review lg yach…
Haruchi Sara : Review lg yach…
Buat SasuSaku lovers…Hontou ni Gomennasai…karena Romance'nya dichap ini kurang banget…Tapi aku usahakan…acara kencan SasuSaku bakalan aku buat se-Romantis mungkin dichap depan. Karna itu bersabarlah sedikit…
O, ya aku mau tanya ma readers-readers…fic-ku ini terlalu banyak adegan dialog tau ga sich…? Setelah aku perhatikan…memang kebanyakan adegan dialognya….Jadi benar tau tidak menurut Readers? Jawab lewat Review yach…
Dan juga aku ingin tanya…Apakah endingnya mau Happy Ending Or Sad Ending…karena jujur za setelah aku fikir-fikir sepertinya akhir dari fic ini akan sad ending…Jadi aku ingin dengar pendapat Readers sekalian…
Salam Manis…
Miko-chan ///
LAST WORD
REVIEWS
