Chapter 7

Aku minta maaf Pangeran Zen

-di dalam laut-

Tabib datang ke istana memberi Yui dan Miia tanaman rumput laut dan mutiara untuk di makan, keadaan mereka masih kelihatan parah.

"Hu...hukkk...hu...huk." Yui masih terbaring lemas dengan penyakit lahir yang di deritanya, di samping Yui itu adiknya juga sakit panas. Dia bingung tidak bisa bergerak, dia ingin minta maaf sama Ayah dan Ibunya. Karena Yui dan Miia, Raja jadi marah kepada Ratu. Sebenarnya masalahnya bukan Tentang penyakit Yui, karena Yui menolak di jodohkan dengan pangeran Hiu. Waktu itu Yui benar-benar kecewa dia butuh berpikir panjang untuk menikah dengan Hiu yang haus kekuatan dan Rakus. Sedangkan keluarganya masih belum pantas buat Hiu karena Yui ingin politisi yang dermawan tidak rakus seperti Hiu.

"Onee-sama Apakah kamu baik-baik saja." Miia keadaannya masih lemas tapi dia beranikan dirinya untuk kuat supaya kakaknya tidak menghawatirkan dirinya.

"Oka-sama onee-sama wa." Miia dengan badan lemas dia terus menangis dan sakit-sakitan, dia sakitnya tambah parah. Ketika melihatku parah. Pikir Yui dia tak berdaya, tapi adiknya malah membuat seolah badan adiknya sehat karena demi Yui dan keluarganya.

"Mi...hukkkkk...ka... mu...hukkkk...ja...ngan...hukkk...me...mikirkan ...huk ...onee."

Dadaku terasa sesak dan sakit, aku tidak bisa duduk. Ntah kenapa di saat Miia sakit aku juga sakit. Yui ingin kuat seperti Miia, dia berpikir untuk berbicara seperti Miia namun tubuhnya yang beda dengan adiknya membuat dia merasa bersalah. Kenapa Adiknya juga mempunyai penyakit seperti dirinya, kenapa Orangtuanya harus menanggung beban yang berat. Sedangkan dikeluarga duyung dia dan adiknya cewek. Generasi penerus Raja lemah, perempuan, penyakitan. Yui Menangis dengan keadaan yang lemah.

"Ayah, Ibu, dan Adik. Maafkan Aku...Hukkk...hukk..., Aku-me-meman, ti-tidak, bi-bisa mem-bu-at." Yui berkata terbata-bata dengan muntah darah di mulutnya penyakit Yui makin parah dan Miia menangis sambil menggenggam tangan Yui. Seluruh istana melihat keadaan Yui yang tambah parah, sang Raja tiba-tiba sudah berada di depan kamar Yui dengan terduduk lemas melihat Yui parah, sedangkan di istana laut ada seorang pangeran sihir yang membawakan sesuatu untuk Yui dan Adiknya.

- di depan istana laut-

"Raja, ada tamu katanya dia teman dekatnya si Yui."

Pengawal istana memberi kabar, kalau Zen datang untuk menjenguk Yui.

"Suruh dia masuk, Pengawal." Kata Raja di depan kamar Yui, dan melihat anak perempuan yang ia sayangi sakit karena keegoisan dirinya.

"Baik Paduka Raja."

Pengawal mengijinkan sang Pangeran masuk.

"Saya mau menanyakan bagaimana keadaan Yui, Yang Mulia?." Kata Pangeran Zen membawakan obat dan tabib ternama dari istana langit.

"Dia ada di kamar dengan muka yang pucat dan sesak napas." Sang Raja terduduk di depan ruang Yui sambil menunjukkan pangeran Zen di mana lokasi Yui.

-di depan kamar Yui-

"Yui, ada pangeran Zen yang menjenguk mu." Kata Ayah Yui dengan sangat lembut dan menangis.

"Suruh...hu..hukkk...Pangeran...huk...Masuk...hukkk...hukkkk...Ayah...hu...hukkkk." Yui berbicara dengan ayahnya dan menyuruh pangeran masuk, seluruh istana menangisi keadaan Yui yang tinggal menghitung bulan dan hari. Pangeran membawa obat dan tabib ternama dari istananya.

"Pangeran Zen, silahkan masuk ke kamar Putri Yui. Jangan lama-lama 2 Putriku lagi sakit parah." Kata Sang Raja yang sedang terduduk sedih.

"Yui...kamu tidak apa-apa?, waktu itu aku mencarimu di pantai." Kata Zen yang memegang tangan Yui dan mencium tangan Yui.

"Onee... aku tinggal dulu ya, mau kekamar... silahkan Pangeran." Adik Yui pergi ke kamarnya dia di dampingi dayang dan pengawal menuju kamar. Adik Yui tidak ingin mengganggu pembicaraan Pangeran Zen yang sedang menjenguk Yui, dari jarak Yui dan Zen si Miia tau bahwa mereka saling mencintai dan sudah selengket perangko bagaikan Bunga dan Madu.

Miia meninggalkan ruangan, dia tidak mau oneenya sakitlagi. Hanya jalan satu-satu yang membuat sembuh di samping Zen. Dia berharap semoga ayahnya menyetujui hubungan kakaknya dan Zen dan segera menikahkan Kakaknya, sebelum Yui meninggal. Dia tidak ingin kakaknya meninggal tapi dengan suasana tanpa seorang yang di cintai.

"Zen...makasih..."

Yui masih lemah dan hanya terbaring di dekat Pangeran Zen.

"Miia kenapa kamu pergi ayo kesini sama-sama." Ajak Zen kepada Miia, dia ingin mereka berada di sisi Zen.

"Aku ingin melihat kakak sehat Pangeran Zen, aku tidak ingin dia juga sakit." Kata Miia memohon melas kepada Zen, biar dia istirahat di kamar sebelah. Dan ingin melihat kakaknya bahagia, jika kakaknya bahagia dia juga bahagia. Jika kakaknya sehat dia akan sehat Juga.

"Yui... diminum obatmu yang dari tabib...ya. Tabib bagaiamana keadaan Yui?." Zen menyuruh Yui meminum obat dan menanyakan keadaan Yui kepada tabib istana langit.

"Eh...ada Pangeran Zen." Ratu yang baru keluar dari WC membawa baskom kompresan terkejut, kalau ada pangeran Zen di istananya.

"Maaf merepotkan ya?!." Kata Ratu dengan tersenyum manis dan mengompres Yui yang lemas.

"Tidak apa-apa kok ratu, saya ke sini niat menjenguk kekasih ku tercinta." Kata Pangeran yang menghibur Yui supaya sehat dan tersenyum.

"Wah Yui beruntung mempunyaimu, sekali lagi Ratu minta maaf." Ratu tersenyum dan dia bersyukur Yui bisa tersenyum walau masih lemah. Dan berkat Zen datang, Yui terhibur dia tidak sedih karena keadaan adik dan dirinya yang sama-sama menderita penyakit parah.

"Ah...tidak apa-apa Ratu." Zen berkata malu pada ratu, dia salah tingkah. Kemudian dia beralih memijat kaki dan tangan Yui, Tabib istana laut dan langit bekerja sama membuat ramuan di kamar Yui sang perawat menusukkan jarum akupuntur ke tubuh Yui dan muka Yui.

"Nah Yui, biar aku suapin obatmu." Pangeran memberi obat, lewat tisu yang di kasih ke mulut Yui, supaya Yui tidak tersedak dan mengompreskan obat ke kaki Yui.

"Jangan ...huk...huk...repot...huk...huk...pangeran...zen..."

Yui sesak napasnya belum sembuh, Zen menangis di hadapan Yui. Yui tidak ingin merepotkan seorang pemuda yang baik hati dan tampan dari kerajaan langit dari negeri sihir menolong seorang putri yang lemah dan tak pantas untuknya.

"Gomen... ini karena aku kamu jadi begini ...Putri Yui..." Pangeran Minta maaf ke Yui, dan ia cerita dulu dia pernah di jodohkan tapi berkat dia berbicara kepada orang tuanya baik-baik dan menolak tunangannya, Raja sihir menyetujui keadaan dan memilih Zen supaya untuk memilih pasangan Zen sesuai selera Zen. Dia memberi semangat untuk Yui supaya cepat sembuh dan bisa membahas tentang cintanya Yui dan Zen.

"Setelah kamu sembuh aku akan mengajak mu jalan-jalan, aku nanti hubungi pengawal pribadiku untuk membelikan kursi roda di buat kamu jalan-jalan di darat." Kata Zen, dia akan membelikan kursi roda di darat dan mengajak Yui jalan-jalan.

"Kamu...tidak...salah...huk...hukkk... Pangeran Zen... hukk..hukkkk." Yui memuji Zen bahwa Zen tidak salah dan Yui juga tidak salah. Ini karena kesalah pahaman Raja laut saja yang berwatak egois demi keselamatan Laut.

"Nah... diminum dulu obatnya." Kata Zen Yang mencabuti Aku puntur dan membantu tabib dan perawat istana kerajaan. Zen dulu pernah di ajarkan orang tuanya tentang obat dan kesehatan. Dia juga dari kecil membaca catatan kakeknya ketika kecil, Zen adalah anak yang cerdas sama seperti Yui dan Miia.

"Zen menyupai Yui herbal dari tabib dan menyisir rambut Yui."

"Hukkk...hukkk."

Yui memegang dadanya yang sakit. Pangeran Zen mngelus dadanya Yui yang sakit. Dia menangis lagi kenapa Yui masih lemah, padahal sudah di beri obat-obatan.

"Okas...sak...hukkk...hukkk... sakit...oka...sak..."

Yui kesakitan dia sesak napas...nafasnya terbata-bata.

"Yui...kamu tidak apa-apa."

Ratu cema dan sedih. Dia memberi kalung mutiara pemberian nenek Yui dulu dia masih menyimpan mutiara, Ratu berharap semoga Yui sembuh, dia tau kalau kalung Yui sudah di berikan oleh Zen, Ratu bisa melihat organ Zen dan di dalamnya ada mutiara Yui, dia tidak ingin menanyakan Yui. Dan dia tidak ingin Zen dan Yui jadi sedih. Dia ingin bersikap adil tidak seperti Sang Raja suami Tercintanya yang terhipnotis masa lalu keluarga Duyung.

"Tabib ke adaan Miia gimana... dan keadaan Yui gimana.." Tanya Ratu dengan cemas.

"Miia keadaannya sudah pulih... tapi Yui yang tambah buruk." Jawab Tabib istana laut, tabib istana memprediksi bahwa tubuh Miia dan Yui ternyata berbeda. Yuii hidupnya tidak akan lama lagi, sedangkan Miia bisa sembuh karena dari Gen Ayahnya dan Kakeknya. Sedangkan Yui menurun keadaan Ratu yang tidak bisa lemah, dulu Ratu sempat kritis saat melahirkan Yui dan Miia. Makanya Miia dan Yuii sakit karena Tabib menyuruh Ratu melahirkan Yui dan Miia saat masih berusia 8 bulan di rahim takut keadaan Ibu dan anaknya memburuk.

"Ratu,Raja...maaf kalau saya lancang...bolehkah saya bawa putri anda ke darat... di sana ada pengobatan yang mujarab...yang didirikan kakek dan ayah saya." Zen berkata kepada Ratu dan Raja Yang ada di depan kamar Yui.

"Raja...tolong hilangkan egoismu...ini demi Yui." Ratu memohon dan bersujud kepada Raja, ia menangis dan ia melihat keadaan Yui.

"Baiklah...jika terjadi sesuatu dengan putriku kamu akan di hukum." Akhirnya Raja menyetujui Ratu dan Zen tapi dengan syarat Yui harus selamat dan tidak sakit-sakitan.

"Yui... ayo kita pergi ke istana ku."

Pangeran menggendong Yui dengan menyelam menuju ke permukaan laut. Dan setelah sampai di pantai Yui di bawa dengan kursi roda yang terbang, pangeran menyulap kursi roda yang di duduki Yui menjadi kursi roda terbang. Mereka akhirnya berjalan-jalan di langit dan di darat, serta menunggu pengobatan Yui. Adik Yui yang di kamar sebelah mendengar dari Dayang bahwa Yui akan segera sembuh walau kemungkinan keberhasilannya 50:50.

"Syukur... kalau kakakku bisa sembuh walau hasilnya tidak memuaskan. Yang penting aku bisa bernapas lega, jika kakakku sakit diriku sakit. Tapi jika kakakku bisa sembuh aku juga bisa sembuh karena kami kembar tapi kelahiran kami di perlambat aku lahirnya tidak setelah kakak, karena demi ibuku." Miia tersenyum dan Dayang memijat Miia yang sudah mulai membaik.

TBC