DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
PAIRING :
KuroPika, LeoPaku
WARNING :
AU. OOC. FemKura. Based on a legendary epic poem from Germany.
.
Happy reading^^
"Aku tidak akan berjanji padamu, karena masa depan tidak bisa diduga.
Jika ramalan itu benar…bahkan jika waktu yang tersisa hanya sedikit,
marilah kita gunakan untuk selalu bersama."
Hitam...begitu gelap. Hanya itu yang dapat dilihat Kurapika saat ini. Dalam kebingungan, kakinya mulai melangkah perlahan mencari cahaya. Rasa sakit langsung terasa ketika Kurapika menggerakkan tubuhnya yang entah kenapa menjadi begitu berat dan lemah.
'Uhh...sakit...,' ucap Kurapika sambil memegangi perutnya dengan napas yang terasa sangat menyesakkan dada.
'Cahaya...Kumohon...di mana cahaya...? Sesak...'
Tiba-tiba cahaya itu datang. Bersinar redup...dan hangat. Perlahan Kurapika mendongak, matanya membelalak begitu menangkap sosok Kuroro yang ada di hadapannya.
'Kuroro?'
Kurapika berusaha meraih sosok itu sambil menahan sakit, tapi sulit sekali. Kuroro pun tak mendekat ke arahnya. Pria itu tersenyum...menatap Kurapika dengan penuh cinta, walau tampak kesedihan yang mendalam di sana.
Kurapika tertegun sesaat, lalu meneteskan air matanya.
'Aku mengerti...Kuroro, kau sudah tak ada di sini 'kan? Kau sudah meninggalkan aku...Suamiku...'
Seketika Kuroro menghilang, kembali meninggalkan Kurapika dalam kegelapan yang pekat itu. Ia memekik nyeri saat rasa sakit di perutnya tiba-tiba menjadi begitu menyiksa.
'Sakit sekali! Kumohon...hentikan! Siapapun, tolong aku!'
Kurapika menjerit sekuat tenaga, hingga lambat laun suaranya menjadi tak terdengar lagi dan semakin tenggelam dalam kegelapan.
"Putri!" para pelayan tersentak kaget saat melihat sepasang mata itu terbuka, menampakkan warnanya yang merah.
Napas Kurapika terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya. Perlahan ia mulai mengenali wajah orang-orang yang berada di sekelilingnya, termasuk Ibu Suri dan Tabib Istana.
"Ibu...," ucap Kurapika lirih.
Ibu Suri membelai rambut pirang putrinya dengan lembut. Ada keraguan yang terlihat di raut wajah wanita itu, namun akhirnya dia menguatkan diri dan mulai berusaha untuk bicara,
"Kurapika, Kuroro...dia..."
"Aku tahu...aku bisa merasakannya..."
Perlahan air mata jatuh dari kedua sudut mata Kurapika, sambil menerawang jauh...kembali ke masa penuh kebahagiaan bersama Kuroro yang sangat dicintainya. Ia pun teringat pada perasaan itu yang membuatnya bisa mengetahui kepergian Kuroro, yang terasa begitu sakit dan pedih.
Tiba-tiba Kurapika tersentak seolah teringat akan sesuatu. Ia segera memegangi perutnya. Matanya membelalak ngeri ketika menyadari bahwa perutnya kini sudah mengecil kembali. Ia menoleh penuh tanya kepada Ibu Suri.
Walau bagaimanapun, Kurapika harus tahu. Melihat kondisi Ibu Suri yang terlihat seperti akan menumpahkan air matanya saat itu juga, Tabib Istana segera berinisiatif untuk mengambil alih.
"Putri Kurapika...kumohon dengarkan penjelasanku baik-baik. Mungkin karena terkejut dan panik, anakmu lahir lebih cepat...," ucapnya hati-hati. Lalu dia berhenti sejenak.
Kurapika terdiam, masih menantikan penjelasan selanjutnya dari Tabib Istana.
"Anakmu sangat tampan...," Tabib Istana melanjutkan ucapannya. "Membuat Para Dewa begitu menyayanginya, hingga Mereka mengambil anak itu kembali."
Kurapika tercengang. Rasa terkejut dan bingung terlihat jelas di wajahnya. Sebuah kesimpulan muncul di benak Putri Rukuso itu. Dia pun menoleh kepada Ibu Suri, seolah mengharapkan penjelasan yang lebih dan penyangkalan atas kesimpulan yang tak sanggup ia ucapkan.
Ibu Suri menunduk, tak kuasa menatap putrinya lagi. Waktu serasa berhenti saat Kurapika melihat air mata membasahi pipi Ibu Suri. Sebuah kenyataan buruk menghantamnya lagi. Dengan kekuatan yang tersisa, dia berusaha bangkit dan turun dari tempat tidur, tapi rasanya sakit sekali.
"Kurapika, hentikan! Badanmu masih lemah!" seru Ibu Suri sambil berusaha menahan putrinya yang hampir terjatuh, dibantu oleh beberapa orang pelayan.
"Tidaakkk...! Anakku! Kembalikan anakku!"
Kurapika terus berteriak histeris, menangis tak terkendali dan berusaha melepaskan diri.
'Kuroro! Kenapa begini? Kenapa takdir sekejam ini?! Bawa aku...Kuroro!'
Pakunoda meminum minuman kerasnya dalam satu tegukan. Perlahan bibir wanita itu tertarik ke atas, menampakkan sebuah seringai. Tentu saja kabar tentang kematian Kuroro sudah sampai di telinganya lebih dulu, dan itu benar-benar membuatnya bahagia.
Setelah ini, mungkin akan ada beberapa masalah...terutama dari Kerajaan Bintang Jatuh, lalu Shalnark, Ibu Suri...dan tak lupa, Kurapika yang...hancur mungkin?
"Biarlah kupikirkan lagi nanti...'
Pakunoda terbatuk-batuk sebentar, lalu terkikik geli. Andai dia sedang benar-benar sendiri saat ini, ingin rasanya dia tertawa lepas.
'Rasakan itu, anak kecil! Inilah akibatnya...jika kau menempatkan dirimu sebagai musuhku!'
"Yang Mulia..."
Dahi Pakunoda mengernyit ketika mendengar suara salah seorang pelayan. Dia menoleh dan melirik pelayan itu tajam.
"Apakah perintahku tadi kurang jelas? Bukankah aku bilang tak boleh ada seorang pun, siapapun dia, datang mengangguku di sini?!"
Pakunoda melemparkan gelasnya yang sudah kosong itu ke lantai. Si Pelayan tersentak kaget, tapi dia tetap tak bergeming karena ada pesan yang harus disampaikannya.
"Y-Yang Mulia...maafkan aku, tapi ada pesan dari Tabib Istana bahwa tugasnya berhasil dilaksanakan dengan baik dan dia menunggu perintahmu selanjutnya."
Mendengar hal itu, raut wajah Pakunoda pun kembali kepada seringai yang nampak di wajahnya beberapa saat lalu. Entah sudah berapa lama...dia tak merasa begitu bahagia seperti hari ini.
Leorio menaiki kudanya memasuki istana, bersama dengan setengah dari Pasukan Kerajaan Rukuso yang mengikuti di belakangnya. Di antara barisan itu, terdapat sebuah kereta yang membawa sebuah peti...berisikan jenazah Kuroro.
Leorio sedikit menundukkan kepalanya. Tak ada yang memperhatikan, tatapan mata Sang Penguasa Rukuso terlihat kosong saat itu. Kejadian yang terjadi di depan matanya beberapa saat lalu masih terlihat jelas. Ketika rakyat Rukuso berdiri berdesak-desakan di tepi jalan utama, menangis... mengelu-elukan nama Kuroro.
Ya, Kuroro laksana pahlawan yang sangat berjasa di negeri itu. Dia mati dalam skenario perang palsu, dengan alasan bahwa musuhlah yang berhasil membunuhnya. Tentu saja hal ini semakin memperkuat anggapan rakyat Rukuso mengenai pria itu.
'Ini...salahku sendiri.'
Leorio segera tersadar dari lamunannya saat kuda yang dia naiki menghentikan langkahnya. Perlahan Leorio menegakkan kepalanya, menatap istana yang menjadi simbol kekuasaan Kerajaan Rukuso dan menjadi salah satu alasan dirinya menyetujui rencana Pakunoda.
Di puncak tangga istana itu, Leorio melihat istrinya berdiri berdampingan dengan Ibu Suri, menyambut kedatangannya. Raut wajah pria itu sedikit menegang. Dia segera melompat turun dari kudanya dan mulai melangkah menaiki tangga. Di setiap anak tangga yang terlewati, seolah mengingatkan kembali kenangan ketika Kuroro dibunuh.
"Selamat datang...selamat atas kemenanganmu," sambut Ibu Suri dengan lirih.
Leorio mendekati Ibu Suri, meraih pelukan ibundanya itu. Kali ini, Ibu Suri memeluknya sedikit lebih lama dari biasanya. Leorio bisa merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Apa yang dirasakan Leorio? Sayang sekali...Sang Raja tak merasakan apa-apa. Dia telah membiarkan dirinya terbawa kegelapan, dan tak memilih untuk kembali menoleh sedikit pun.
Sebuah peti mati dengan ukiran yang indah diletakkan di tengah-tengah ruangan. Dua buah obor berukuran cukup besar menerangi tepat itu, menimbulkan cahaya remang-remang.
Terdengar suara pintu dibuka perlahan, menampakkan seorang putri dengan rambut pirangnya yang menyilaukan...memasuki ruangan itu.
'Kuroro...'
"Putri...pelan-pelan...," ucap salah seorang pelayan yang memapah Kurapika.
Air mata kembali mengalir dari sudut mata Kurapika, ia menangis tanpa suara...dengan tertatih-tatih mendekati peti itu.
'Suamiku...'
Ketika peti itu dibuka, menampakkan sosok sang pangeran, suami yang dia cintai, pahlawan yang sangat berjasa bagi Negeri Rukuso...lutut Kurapika langsung terasa lemas.
"Putri!" seru kedua orang pelayannya khawatir sambil memegangi Kurapika lebih erat.
Tanpa berkata apapun, Kurapika berpegangan ke pinggiran peti dan menguatkan dirinya. Perlahan kedua tangannya yang lemah terulur...menyentuh wajah tampan Putra Mahkota Kerajaan Bintang Jatuh.
'Kuroro...akhirnya kau kembali padaku...Tapi kenapa kulitmu begitu pucat dan terasa dingin? Kuroro, kenapa kau tidak lagi menatapku dengan matamu yang gelap itu? Yang telah menjerat hatiku sejak pertama kali kita bertemu...'
Kurapika menggerakkan tangannya ke leher jenazah Kuroro, seolah mencoba menemukan tanda-tanda kehidupan di sana.
Tak ada apapun.
'Denyut kehidupanmu...yang mendampingiku selama setahun ini...ke mana perginya?'
Para pelayannya sedikit memalingkan wajah mereka, terisak diam-diam melihat kesedihan Sang Putri.
"Cum te...aeternum..."
Kurapika berada di sana untuk beberapa jam lamanya, hingga akhirnya dia kembali tak sadarkan diri.
Kurapika membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang sudah sangat dikenalnya. Ya, ini kamarnya...Dia tak bereaksi apapun ketika Ibu Suri dan para pelayan yang ada di sekelilingnya memanggil-manggil namanya. Dengan air mata yang mengalir tanpa henti—dan tanpa suara isakan yang terdengar sedikit pun, benak Kurapika melayang jauh...
Sang Suami tercinta tewas dalam keadaan yang hina...karena sebuah lemparan tombak yang menghujam punggungnya dan menembus hingga ke jantung.
Titik itu...titik lemah Kuroro yang bisa membuatnya terluka, hanya ada satu orang yang tahu tentang ini selain dirinya dan Kuroro sendiri.
Ekspresi wajah Kurapika mengencang, tangannya meremas seprai dengan erat...dan semburat kemerahan mulai nampak di matanya yang biru.
Leorio, Pakunoda, Phinks dan Hisoka duduk bersama mengelilingi meja. Terlihat tatapan mata terkejut di wajah mereka, menatap lurus ke depan...tertuju pada Ibu Suri yang datang tiba-tiba malam itu.
"Leorio, kuharap kau tidak tinggal diam...temukan siapa pembunuh Kuroro, dan berikan hukuman yang paling berat! Kau tidak tahu bagaimana kondisi Kurapika sekarang," ucap Ibu Suri. "Kenapa kau tidak mau menengok adikmu?!"
Leorio hanya menolehkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan sang ibunda.
"Dan mana Shalnark?! Kenapa dia masih belum pulang juga? Leorio, ceritakan semuanya! Aku tahu pasti ada yang aneh di sini."
Leorio dan yang lainnya tersentak, tak mungkin Ibu Suri mengetahui rencana mereka...Leorio kembali memusatkan perhatiannya pada wanita itu. Sementara itu, Pakunoda terlihat tenang. Dia sudah punya jalan keluar untuk hal ini. Jalan keluar dari kecurigaan Ibu Suri, dan sekaligus menyingkirkan Shalnark yang kemungkinan akan membocorkan rahasia mereka.
"Ibu, tolong maafkan Yang Mulia...," Pakunoda angkat bicara, "Sesungguhnya Suamiku tak tahu bagaimana caranya memberitahukan hal ini pada Ibu...terutama pada kondisi sulit seperti sekarang ini."
"Tak usah pura-pura peduli, Pakunoda. Langsung katakan saja apa maksudmu. Jika Leorio tidak mau mengatakannya, aku memintamu untuk menceritakan semuanya padaku."
Sebuah senyum sinis tersungging di wajah Pakunoda, sementara Hisoka meliriknya dengan curiga. Leorio terlihat cemas, dan Phinks lebih bersiaga. Dia harus waspada untuk melindungi Pakunoda.
"Pangeran Shalnark bekerjasama dengan para pemberontak itu untuk menyerang Rukuso...walau mungkin terbunuhnya Kuroro terjadi di luar perkiraannya."
"Kau!"
Bukan main marahnya Ibu Suri, mendengar sang menantu menuduh Shalnark sebagai pengkhianat. Leorio memicingkan matanya, ia pun terkejut atas situasi yang tiba-tiba ini.
Apa yang ada di kepala Pakunoda? Sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan? Menuduh anggota keluarga kerajaan sebagai pengkhianat negara...benar-benar bukan tuduhan biasa.
"Salah satu pemimpin pasukan musuh mengatakan hal itu ketika kami menginterogasinya," ucap Leorio, dia berusaha bersikap setenang mungkin, walau tak tahu tepatnya apa rencana Sang Ratu dengan menuduh adiknya. "Tapi aku masih memerintahkan penyelidikan atas dugaan ini...Ibu, Shalnark baik-baik saja. Setelah mengetahui hal ini, aku memang mengirimnya ke pengasingan. Namun tak lebih dari itu. Apabila Shalnark terbukti tidak bersalah, aku akan segera menjemputnya kembali ke sini."
Pakunoda tersenyum di dalam hatinya atas inisiatif yang diambil pria itu, sementara Ibu Suri terperangah. Semua cobaan datang bertubi-tubi, hingga rasanya tak nyata...dan semua itu terlalu berlebihan untuk diterima dan dipercayai sekaligus.
"Atas dasar motif apa? Tahta? Aku mengenal semua anak-anakku dengan baik...aku yakin Shalnark tidak bersalah," kata Ibu Suri setelah berhasil mengendalikan dirinya.
Setelah berpesan agar Leorio mempercepat penyelidikannya, Ibu Suri segera keluar dari sana. Leorio langsung menoleh kepada istrinya dan menatapnya tajam.
"Yang Mulia, jangan menatapku seperti itu," kata Pakunoda santai. "Jika Pangeran Shalnark kembali ke sini, dengan cara apa kita harus membuatnya bungkam? Dan jangan lupa Kerajaan Bintang Jatuh. Kita baru saja mengirim utusan untuk mengabarkan kematian Pangeran Kuroro, reaksinya seperti apa...belum bisa dipastikan. Yang kita renggut dari mereka adalah pewaris tunggal kerajaan, yang terkenal akan kekuatan dan petualangannya."
Leorio hanya terdiam, sementara Hisoka menghela napas melihat itu semua tanpa bisa berbicara banyak. Dia telah melibatkan dirinya dalam rencana ini, bahkan tangannya telah kotor oleh darah Kuroro yang tertumpah karenanya. Tak ada lagi...cara untuk kembali.
Pagi menjelang, menampakkan kesibukan di Istana Rukuso yang telah dimulai sejak sebelum matahari terbit.
Seorang pelayan melangkah mendekati peraduan Kurapika.
"Tuan Putri, sudah waktunya—"
Ucapan pelayan itu terhenti ketika melihat Kurapika sudah duduk di tepi tempat tidurnya menghadap ke jendela. Rambut pirang gadis itu berkilau keemasan tertimpa sinar matahari pagi yang menyapa dan menyelimutinya dari sela-sela jendela. Mata biru Kurapika menatap kosong ke hadapannya, dia pun tak bergeming walau hanya sedikit.
Si pelayan merasa sedikit terkejut dengan situasi ini, namun kemudian dia berusaha tersenyum dan menghampiri majikannya sambil membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Putri Kurapika. Pagi yang indah...Mari, pemandian sudah disiapkan..."
Kurapika tetap tidak menjawab.
"Putri..."
Si pelayan memberanikan diri untuk meraih tangan Kurapika. Masih tak mengatakan apapun, Kurapika berdiri dan memulai rutinitas paginya.
Setelah beberapa lama waktu berselang, Kurapika kini sudah berpakaian. Seorang pelayan sedang menyisir rambutnya, sambil sesekali menatap pantulan wajah Kurapika di cermin. Melihat perilakunya yang aneh ini, tak ada seorang pun pelayan yang berani mengusik.
"Aku ingin bertemu Kak Kurapika," terdengar suara Gon dari depan pintu kamar. Prajurit yang berjaga di sana mempersilakan, lalu dengan wajah berseri-seri Gon melangkah memasuki kamar Kurapika. Dia membawa beberapa tangkai bunga mawar merah untuk ia berikan pada Sang Kakak. Pangeran bungsu Keluarga Kerajaan Rukuso itu langsung tersenyum lebar begitu melihat orang yang sangat ingin dijumpainya saat ini.
"Kakak, selamat pagi!" sapa Gon sambil menghampiri Kurapika. "Maukah Kakak ikut bersamaku ke taman? Aku ingin Kakak melihatku berlatih pedang..."
Kurapika tak menoleh sama sekali, dan sepatah kata pun tetap tak terucap dari bibirnya. Tapi kemudian...
Hisoka sudah membuat janji dengan Gon untuk menemaninya berlatih pedang hari ini. Dia datang lebih dulu ke taman, namun yang ditunggu rupanya agak terlambat. Hisoka pun mendatangi kamar Gon, dan tersentak saat mengetahui Gon sedang menemui kakak perempuan satu-satunya, Kurapika.
Sesaat Hisoka merasa ragu.
'Tak ada gunanya menghindar, walau bukan sekarang...pasti akan segera terjadi. Sudah takdirku untuk menghadapi Putri Kurapika.'
Dengan meneguhkan hati, Hisoka melangkahkan kakinya menuju ke kamar Kurapika...istri dari seorang pria yang telah dibunuhnya. Dan kini, dia sudah sampai di sana. Matanya menyipit memperhatikan Gon yang tengah berusaha membujuk Kurapika untuk ikut bersamanya...setidaknya Gon ingin membuatnya bicara.
"Pangeran...mungkin ini belum saatnya...," ucap seorang pelayan, "Sejak tadi Tuan Putri seperti ini...Mungkin dia butuh waktu..."
Gon pun berhenti bicara, matanya yang besar menatap Kurapika dengan berkaca-kaca. Nampak kesedihan dan rasa kehilangan di mata itu.
Hisoka tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari adegan itu, hingga pelayan lain menyadari kehadirannya. Mereka menyapa Hisoka sambil membungkuk hormat.
Lalu...semuanya menjadi lebih buruk.
Mendengar nama Hisoka disebutkan, mata biru Kurapika pun segera mengarah padanya. Hisoka terpaku sesaat, lalu melangkah maju. Bersamaan dengan langkah pertama pria itu, mata Kurapika langsung berubah menjadi merah. Emosi yang begitu berkecamuk nampak di sana.
"Ah...kau—" terdengar suara lirih gadis itu.
Kurapika berdiri perlahan, tangan kirinya terulur meraih gelas kaca yang terletak di dekatnya. Semua yang ada di sana segera mengetahui apa yang akan dilakukan Kurapika, namun Hisoka terlalu terkejut atas tindakan Kurapika yang tidak terduga dan para pelayan pun terlambat bertindak.
"Putri! Jangan!"
PRANGG!
Gelas itu terlempar dari tangan Kurapika, ditujukan kepada Hisoka...namun untunglah meleset, hingga hanya membentur dinding walau akhirnya pecah berantakan dan salah satu pecahannya sukses mengenai pipi Hisoka.
Hisoka terhenyak, matanya membelalak melihat Sang Putri yang mengamuk dan tengah meronta dalam pegangan para pelayannya. Darah mulai menetes dari luka di pipi pria itu.
"Hisoka! Aku tidak tahu kenapa Kak Kurapika begitu marah padamu, tapi cepatlah keluar!"
Seruan Gon segera membuat Hisoka tersadar dan mengikuti apa yang dikatakan anak itu. Namun keributan yang begitu tiba-tiba dan tak disangka-sangka ini sampai ke telinga Ibu Suri begitu cepat, membuat wanita itu segera bergegas menghampiri putrinya.
"Kurapika!"
Ibu Suri memegangi wajah Kurapika dengan cemas, berusaha mendapatkan perhatian gadis itu. "Anakku...kumohon jangan begini! Sadarlah, Kurapika!"
Tak lama kemudian Kurapika berhenti meronta, ia menatap Ibu Suri dengan mata merah yang sudah basah oleh air mata.
"Ya...begitu...," ucap Ibu Suri sambil menghela napas lega. "Tenanglah, Kurapika..."
Dalam waktu sebentar saja, kemarahan di mata Kurapika segera berganti menjadi kesedihan sepenuhnya. Ia menyembunyikan wajahnya di pelukan Ibu Suri. Suara isak tangis Kurapika terdengar begitu memilukan.
'Putriku Sayang...kenapa kau jadi seperti ini? Dengan kejamnya aku memintamu untuk bertahan...Ditinggalkan suami dan anak sekaligus...Ibu tak tahu persis seperti apa rasanya, Nak...tapi Ibu merasa kau pergi begitu jauh...Kembalilah...'
Jemari Ibu Suri membelai rambut Kurapika, menelusuri helaian keemasan yang lembut itu.
"Kembalikan...Kuroro...Kembalikan anakku...," ratap Kurapika—entah ditujukan pada siapa.
Air mata Ibu Suri menetes mendengar hal itu. Ia memeluk Kurapika lebih erat, seolah berusaha menarik putrinya keluar dari petaka ini.
Kerajaan Bintang Jatuh...
Eleazar terduduk lemas begitu utusan dari Kerajaan Rukuso menyampaikan berita kematian Sang Putra Mahkota. Aurora pun pingsan saat itu juga.
Bagaimana cara menggambarkan hari yang menyedihkan itu? Rakyat terpaku begitu pihak istana mengumumkannya, mereka berbondong-bondong datang sambil menangis dan memanggil-manggil nama Kuroro, satu-satunya pewaris tahta Kerajaan Rukuso yang sangat dibanggakan. Eleazar seolah melihat masa depan negerinya lenyap seketika, dan Aurora...tentu saja kesedihannya begitu mendalam sebagai seorang ibu. Hari itu, tak ada seorang pun yang tak berduka.
Kondisi ini menjadi semakin menyakitkan ketika utusan menambahkan bahwa bayi Kuroro dan Kurapika meninggal ketika dilahirkan, serta kondisi kesehatan Putri Rukuso yang tengah menurun.
Eleazar menghela napas panjang, seolah berusaha memulihkan kembali kekuatannya. Tangannya yang gemetar mencengkeram pegangan kursi singgasana yang ia tempati saat ini, lalu mulai memberikan titahnya dengan suara yang dalam dan berat...tak mampu menutupi kesedihan yang saat ini tengah melanda dirinya.
Beberapa minggu kemudian...
Rombongan Kerajaan Bintang Jatuh terlihat dari kejauhan, memasuki wilayah Rukuso. Aurora memendarkan pandangannya ke sekeliling.
'Inilah negeri...di mana putra tunggalku bertemu dengan cintanya, mengorbankan banyak hal...dan menghembuskan napas terakhir...'
Aurora mengeratkan pegangannya ke tali kekang kuda yang ia naiki. Tak bisa dipungkiri, kemarahan pun ada di hatinya. Kadang Aurora berpikir, jika Kuroro tidak pergi ke Rukuso dan bertemu dengan Kurapika, mungkin saja Kuroro masih hidup bukan? Kalau pun memang sudah tiba saatnya bagi Kuroro untuk mati, mungkin dia akan mati dengan cara yang jauh lebih terhormat.
Tapi...Kurapika...
Lamunan Aurora terhenti ketika rombongan sudah sampai di istana. Leorio, Pakunoda, Ibu Suri dan para pejabat istana sudah bersiap untuk menyambutnya.
"Selamat datang, Yang Mulia Ratu. Aku mengucapkan turut berduka yang sedalam-dalamnya atas kematian Pangeran Kuroro yang sangat berjasa, adik iparku...," ucap Leorio.
"Terima kasih," jawab Aurora sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Ketika matanya bertatapan dengan Ibu Suri, kesedihan terasa meluap-luap di dalam hati kedua wanita itu. Mereka pun berpelukan, mengundang rasa haru dari setiap orang yang hadir di sana, dan juga...mengundang tatapan sinis dari Pakunoda.
"Mari...aku akan mengantarmu melihatnya," ucap Ibu Suri sambil mengajak Aurora menuju ke ruangan tempat jenazah Kuroro berada. Walau sudah beberapa minggu waktu berselang semenjak kematiannya, jenazah itu tetap utuh, tidak akan berbau selama sekitar tiga bulan karena ramuan khusus yang sejak dulu dibuat di Rukuso secara turun-temurun.
Betapa hancurnya hati Aurora saat melihat mimpi terburuk yang dia kira tak akan pernah dilihatnya dalam kehidupan nyata. Mimpi buruk...yang diberikan untuknya.
Aurora menangis terisak, Permaisuri dari Penguasa Negeri Bintang Jatuh itu berada pada titik yang paling lemah saat ini. Ibu Suri dan beberapa orang pelayan yang mengiringi mereka undur diri untuk memberi waktu bagi Aurora.
Tak berapa lama, Aurora keluar dari ruangan itu.
"Suamiku meminta agar Kuroro dimakamkan di negerinya," ucap Aurora dengan suara yang masih terdengar parau karena menangis. "Terima kasih...sudah memperlakukan jenazahnya dengan layak."
"Kuroro sudah kuanggap seperti anakku sendiri," Ibu Suri berkata sambil tersenyum lemah.
Aurora merasa lega, mendengar putranya meninggalkan kesan yang baik di Rukuso, dan ucapan Ibu Suri membuatnya teringat akan seseorang...yang juga dia kasihi dan sudah dia anggap keluarga.
"Kurapika...aku ingin melihatnya..."
Aurora melangkahkan kakinya ke kediaman Kurapika. Gadis itu tengah duduk di beranda, menatap lurus ke depan...ke dalam langit siang hari yang berawan.
"Kurapika," sapa Aurora perlahan.
Tak ada jawaban.
Aurora tidak lagi terkejut akan keheningan yang diberikan Kurapika, karena Ibu Suri sudah memberitahunya mengenai hal ini. Aurora pun melangkah mendekati menantunya. Kini jarak di antara mereka sudah lebih dekat, bahkan Aurora membungkukkan badannya hingga setinggi pandangan mata gadis itu, berharap cara ini bisa membuat Kurapika menyadari kehadirannya dan memberikan tanggapan.
Tapi tetap tak terjadi apapun.
Aurora merasa sedih...dia teringat ketika pertama kali bertemu Kurapika, hari-hari yang dilalui bersama di Negeri Bintang Jatuh...Kurapika begitu percaya diri, ceria dan memesona. Namun kini Kurapika terlihat berbeda. Dia masih cantik seperti biasanya, tapi cahayanya tak nampak lagi.
Aurora mengulurkan tangannya, menyentuh wajah sang menantu dengan hati yang pedih. Air mata mulai menetes lagi dari matanya.
"Kurapika...anakku..."
Aurora segera memeluk Kurapika penuh kasih. Saat itulah, sebelah tangan gadis itu terulur...seolah menggapai sesuatu. Aurora merasakan keanehan ini. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Kurapika. Gadis itu memejamkan matanya, dan tak disangka-sangka...seulas senyum tipis nampak di wajahnya.
"Kuroro..."
Aurora tersentak. Apa yang dilihatnya saat ini seolah Kurapika tengah membayangkan Kuroro dan berusaha kembali ke dalam salah satu kepingan memori indah yang mereka miliki bersama.
Tak diragukan lagi, Kurapika sudah berubah. Dan dia tak bisa dikatakan sehat sepenuhnya.
"Beban yang dia tanggung begitu berat...," tiba-tiba Ibu Suri sudah ada di sana. "Kurasa aku mengerti...kenapa putriku jadi seperti ini..."
Ketika malam tiba, Pakunoda menjamu Aurora di kediamannya. Kali ini Ibu Suri tak ikut serta, dengan alasan kelelahan dia pamit untuk beristirahat lebih awal.
"Permaisuri, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" kata Pakunoda hati-hati.
"Tanyakanlah," jawab Aurora sambil tersenyum.
"Raja Eleazar...bagaimana reaksinya atas kematian Pangeran Kuroro yang merupakan pewaris tunggalnya? Maksudku, apakah...Yang Mulia Raja tidak menyalahkan siapapun atas hal ini? Permaisuri tentu mengerti apa yang aku biacarakan..."
Aurora terdiam sesaat. Mengerti? Ya, tentu saja dia sangat mengerti. Selain kesedihan yang teramat sangat, Eleazar—dan sesungguhnya dirinya pun sempat merasakan ini—mulai menyalahkan pihak Rukuso yang sejak awal seolah sudah memanfaatkan Kuroro dengan dalih agar dia bisa menikahi Kurapika.
"Aku hanya bisa mengatakan bahwa...meninggalnya Kuroro seakan-akan merenggut masa depan negeri kami," Aurora mulai menjelaskan. "Suamiku sangat kecewa dengan hal ini. Untuk sementara, aku bisa meredam amarahnya namun aku tak bisa menjamin apa yang akan terjadi nanti. Maaf...aku harap kau mengerti."
Jawaban Aurora, siapapun sudah bisa menduganya...termasuk Pakunoda. Pakunoda menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian tersenyum. Aurora mengernyit, dia merasa ini bukan saatnya bagi wanita itu untuk tersenyum.
"Kalau begitu, bisakah aku mewakili Rukuso mengajukan penawaran bagi Kerajaan Bintang Jatuh?" tanya Pakunoda.
Aurora merasa heran...penawaran seperti apa yang bisa menggantikan rasa kehilangan atas meninggalnya Kuroro? Apakah Pakunoda tengah berpikir bahwa hal itu merupakan perkara yang mudah?
Melihat kebingungan di wajah Sang Permaisuri, Pakunoda melanjutkan ucapannya,
"Malam ini, aku ingin membawamu ke sebuah tempat rahasia. Ikutlah bersamaku."
"Apakah Raja Leorio mengetahui hal ini?"
"Ah...bisa dikatakan begitu."
Walau jawaban Pakunoda terdengar membingungkan dan seolah memiliki arti lain yang terkandung di dalamnya, hati nurani Aurora seolah mengatakan bahwa sebaiknya dia mengikuti kemauan Pakunoda.
Lalu...itulah yang terjadi.
Saat ini, rombongan kecil kerajaan yang dipimpin oleh Phinks beserta Pakunoda dan Aurora di dalamnya, tengah bergerak menuju ke pemukiman penduduk yang masih terbilang sepi. Rasa ingin tahu Aurora semakin bertambah.
Sampailah mereka di depan sebuah rumah yang sederhana. Pintu depan terbuka sedikit, menampakkan wajah seorang wanita setengah baya.
"Silakan..." ucap wanita itu sambil membungkuk hormat.
Pakunoda, Aurora dan Phinks melangkah memasuki rumah itu, menuju ke ruangan yang berada di bagian belakang. Samar-samar terdengar suara bayi.
Aurora menoleh menatap Pakunoda, seolah menanyakan apa maksud dari semua ini. Menanggapi hal itu, lagi-lagi Pakunoda hanya tersenyum dan mengajaknya menghampiri tempat di mana suara itu berasal.
Berbeda dengan penampilan rumah secara keseluruhan, ruangan itu terlihat berbeda. Begitu nyaman dan lebih berkelas. Alasan apa yang mengharuskan ruangan ini ditata secara berbeda? Untuk siapa?
Dari balik tirai pembatas, masuklah seseorang yang sebenarnya sudah sangat dikenal di istana. Tabib Istana. Wanita itu membawa sesuatu dalam pelukannya, sesuatu yang bergerak dan bersuara...seorang bayi.
"Yang Mulia Permaisuri, perkenalkan...ini cucumu, anak kandung dari Kuroro dan Kurapika," Pakunoda tiba-tiba berkata.
Aurora terhenyak. Permainan apa ini?! Bukankah bayi itu meninggal ketika dilahirkan?!
Seolah mengabaikan reaksi yang ditunjukkan Aurora, Pakunoda memberi isyarat pada Tabib Istana untuk melanjutkan apa yang akan dilakukannya. Dengan sebuah anggukan kepala, Tabib Istana melangkah menghampiri Aurora...dan menyerahkan bayi yang digendongnya.
Dengan ragu, Aurora menerimanya. Dia menatap bayi itu. Rambutnya yang hitam, matanya yang biru...dan—Ah, Dewa! Waktu serasa berhenti ketika Aurora melihat kening bayi yang berada dalam pelukannya saat ini. Tanda yang sama dengan yang dimiliki Kuroro! Tanda seorang calon raja...
Seolah tak percaya, Aurora menyentuh tanda itu, membuat si bayi sedikit bergerak menyadari sentuhan di keningnya. Tanda itu...nyata.
Perlahan Aurora menoleh menatap Pakunoda.
"Sebenarnya...apa yang terjadi?" ia bertanya.
Pakunoda melangkah menuju ke kursi yang ada di ruangan itu. Seolah memahami hal ini, Tabib Istana dan para pelayan yang ada di sana segera undur diri.
"Kalau begitu, kita siap untuk bicara," ucapnya.
Aurora rasanya tak bisa berkata-kata ketika mendengar cerita Pakunoda. Sebelumnya, secara khusus Pakunoda sudah meminta wanita itu untuk tidak menanyakan alasan dari apa yang dia lakukan.
Sebenarnya, Kurapika berhasil melahirkan bayinya. Karena rasa panik dan guncangan emosi yang begitu tiba-tiba atas kematian Kuroro, bayi itu lahir lebih awal namun sebenarnya selamat.
'Kenapa dia melakukan ini? Memisahkan ibu dan anak...'
Pakunoda tak memberi kesempatan bagi Aurora untuk bicara, dia segera menyampaikan maksudnya, "Permaisuri, bawalah bayi ini...dan kuharap pihak Bintang Jatuh bisa merelakan kematian Pangeran Kuroro."
Aurora menatap wanita itu dalam-dalam. "Aku tak akan menanyakan alasanmu memisahkan bayi ini dari Kurapika, tapi...Ratu, apakah kau tidak berpikir bahwa jika Kurapika bisa bersama bayinya, dia bisa lebih kuat dan tidak mengalami kondisi seperti saat ini?"
"Tentu saja aku menyadari kemungkinan itu, tapi tak ada jaminan yang pasti. Sedangkan kekecewaan Kerajaan Bintang Jatuh...lebih pasti dari hal itu saat ini."
Sebenarnya, mungkin ini hanyalah keberuntungan saja yang sayangnya tengah berpihak pada Pakunoda. Dia ingin Kurapika menderita, namun seolah ada alasan pemaaf baginya ketika menghubungkan tindakan ini dengan Kerajaan Bintang Jatuh.
Aurora terdiam. Dia berada dalam situasi yang sangat dilematis saat ini. Memisahkan seorang anak dari ibunya adalah tindakan yang salah, apalagi ketika sang ibu sedang dalam keadaan terguncang karena kehilangan yang mendalam. Tapi ini bisa juga berakibat sebaliknya. Kurapika sudah terlanjur mengetahui bahwa bayinya meninggal ketika dilahirkan. Apa yang akan terjadi jika dia tahu yang sebenarnya? Dan dengan kondisinya seperti sekarang ini, mampukah Kurapika merawat bayinya dengan baik?
Selain itu, Aurora menangkap aura aneh di Istana Rukuso yang seringkali dirasakannya ketika berhadapan dengan Leorio dan Pakunoda. Hati nuraninya mengatakan, mereka bukan orang baik. Apakah Aurora akan membiarkan si bayi tumbuh dalam kondisi seperti itu? Dan jangan lupa, bayi yang tengah ia peluk adalah keturunan kerajaan...perpaduan yang sempurna dari seorang pangeran yang kuat dan putri yang juga memiliki banyak kelebihan. Bayi ini...pewaris tahta Kerajaan Bintang Jatuh. Eleazar pasti akan menerima kehadirannya, dan kekhawatiran akan memburuknya hubungan di antara kedua kerajaan yang kemungkinan besar akan berakhir dengan peperangan tak perlu ada lagi.
Aurora memejamkan matanya sesaat...dan menghela napas. Setelah membuka matanya kembali, dia menatap bayi itu.
"Zuriel...," kata Aurora. "Kuberi dia nama Zuriel, Putra Mahkota Kerajaan Bintang Jatuh...menggantikan kedudukan ayahnya."
Pakunoda tersenyum puas mendengar hal ini.
Phinks melangkahkan kakinya keluar dari kamar Pakunoda. Dia baru saja bicara dengannya, menyampaikan kabar terbaru yang dia dapat dari salah seorang mata-mata yang ditempatkan di pengasingan di mana Shalnark ditahan.
"Pangeran Shalnark selalu berusaha kabur, namun apa yang terjadi beberapa hari yang lalu adalah yang terburuk," ucap Phinks.
Pakunoda berusaha mencermati penjelasannya. "Lalu kekacauan apa yang diakibatkan olehnya?"
"Pangeran Shalnark berhasil melukai beberapa orang penjaga..."
"Apakah menurutmu dia akan berhenti? Tak akan berusaha kabur lagi?"
"Aku yakin, dia tak akan menyerah. Dia sangat ingin menemui Putri Kurapika dan mengatakan apa yang diketahuinya. Tapi...mengingat kondisi Putri Kurapika saat ini, kurasa kita tak perlu terlalu khawatir."
Pakunoda terkekeh, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada bawahannya yang setia itu.
"Kau seperti baru mengenalku saja," katanya, "Seharusnya kau sudah tahu bahwa aku tak mau mengambil resiko sementara kita bisa mengambil keputusan yang bisa menghasilkan pembebasan dari resiko itu sepenuhnya."
Phinks tertegun. Tentu kini dia mengerti apa yang diinginkan Pakunoda.
"Bagaimana reaksi suamimu nanti jika aku membunuh adiknya?" Phinks bertanya, dengan keengganan terdengar di nada suaranya.
"Leorio...tak perlu tahu detail yang sebenarnya, jika kau mengerti maksudku. Dan demi nama baik penguasa negeri ini...kau pun akan membantu kali ini bukan, Jendral Hisoka?"
Pakunoda menolehkan kepalanya kepada pria berambut merah yang berdiri di sisi lain ruangan itu, yang tak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
Phinks segera menaiki kuda yang telah disiapkan, lalu pergi ke pengasingan di mana Shalnark berada. Phinks berani bertaruh, saat ini pasti Pangeran Kerajaan Rukuso itu tengah kembali membuat rencana untuk bisa melarikan diri.
Sesampainya di wilayah Xanthe, Phinks disambut oleh beberapa orang prajurit yang menjaga tempat itu.
"Ikutlah denganku, Jendral," kata salah seorang di antara mereka yang sepertinya adalah pemimpin para penjaga itu. "Jendral Hisoka sudah menyampaikan berita mengenai kedatanganmu melalui merpati pos."
Tanpa berkata-kata, Phinks mengikuti orang-orang itu ke tempat Shalnark berada. Mereka berjalan memasuki hutan, melewati beberapa rumah sederhana yang digunakan sebagai tempat pengasingan. Belum begitu lama waktu berlalu, terdengar suara keributan. Kemudian terlihat beberapa orang prajurit yang berlari seolah mencari-cari seseorang.
Phinks segera menghampiri salah seorang dari prajurit itu yang terluka di bagian perutnya.
"Katakan, apa yang terjadi!" tanya Phinks sambil mencengkeram baju prajurit itu.
"Pangeran Shalnark...dia kabur...," rintih Si Prajurit.
Phinks melepaskan cengkeramannya, dan menyadari bahwa dia tiba di Xanthe pada saat yang tepat. Phinks menoleh ke arah pemimpin para penjaga di situ lalu memberikan perintah yang atas nama Hisoka dan demi kebaikan Raja harus mereka patuhi,
"Pilih dua orang anak buahmu yang bisa diandalkan dan bisa dipercaya dengan taruhan nyawa mereka sendiri. Perintahkan yang lainnya untuk kembali berjaga di tempatnya masing-masing, lalu ikutlah aku untuk menemukannya."
Kemudian hal itu pun terjadilah.
Ketika berada jauh di dalam hutan dan tidak begitu dekat dengan tempat pengasingan, Phinks menyadari ada suatu gerakan yang cepat di dekatnya. Mungkin itulah Shalnark...
Seolah manjawab pertanyaan Phinks yang tidak terucapkan itu, ketiga orang prajurit yang menyertainya menganggukkan kepala mereka perlahan. Shalnark, Pangeran Rukuso, ada di suatu tempat di hutan ini.
Phinks memberi isyarat agar mereka berpencar. Tiba-tiba terdengar suara pedang beradu, dan nampaklah Shalnark tengah bertarung dengan seorang prajurit. Dia terlihat berbeda...selain penampilannya, tentu saja. Sorot mata Shalnark terlihat tajam, pun menampakkan kemarahan, kebencian dan kekhawatiran.
Shalnark menyadari kehadiran dua orang lagi di belakangnya. Sambil terus melawan dengan gencar, dia menoleh. Begitu melihat Phinks, Shalnark segera mengenalinya.
"Kau...anjingnya Pakunoda," ucap Shalnark sinis. "Sama seperti Hisoka, bahkan sama seperti kakakku yang tanpa sadar sudah menempatkan dirinya di bawah kekuasaan wanita iblis itu!"
Kalimat yang dilontarkan Shalnark sukses membangkitkan amarah Phinks. Dia dihina, baginya itu tidak masalah. Tapi sebagai seorang yang sangat mencintai Pakunoda dan setia padanya, emosinya seketika naik jika ada yang menghina wanita itu.
"Kudengar Kuroro sudah mati...dan sekarang, apakah giliranku sudah tiba?"
Mengabaikan pertanyaan Shalnark, Phinks dan ketiga prajurit yang datang bersamanya segera menyerang pemuda itu. Pertarungan berlangsung cukup sengit, hingga lama-kelamaan Shalnark terdesak.
'Aku harus selamat! Aku harus menemui Kurapika!' batinnya sambil menahan desakan pedang Phinks yang berada begitu dekat dengan lehernya.
Shalnark menoleh sebentar, melirik pedangnya yang terhempas ke atas rumput. Lalu...itulah kesalahannya. Konsentrasi Shalnark terpecah, hingga memberikan kesempatan bagi Shalnark untuk memperkuat serangannya...dan menghabisi nyawanya.
Bukan main betapa terkejutnya Ibu Suri mendengar kabar kematian putra keduanya yang sudah cukup lama tak berjumpa. Aurora yang masih berada di Rukuso pun terkejut akan kemalangan yang lagi-lagi menimpa negeri itu. Sesaat terbersit rasa bersalah di dada Sang Permaisuri Kerajaan Bintang Jatuh, ketika teringat bahwa dia menyembunyikan cucunya, anak Kuroro dan Kurapika, untuk dibawa ke sana.
Leorio sendiri tak menyangka, kali ini nyawa adik kandungnya yang melayang.
"Adikmu itu berkali-kali berusaha melarikan diri dari pengasingan," Pakunoda menjelaskan ketika dia hanya berdua dengan Leorio. "Pangeran Shalnark mengancam dia akan kembali ke Rukuso dan membeberkan semuanya. Itu akan sangat membahayakan kita berdua."
"Dia adikku, Pakunoda!" desis Leorio geram.
"Jangan lupa kau pun mempunyai seorang adik lain yang membahayakan nama baikmu! Jadi jangan bawa-bawa masalah hubungan darah mengenai hal ini. Dengar, melihat perilaku adikmu dan berdasarkan atas berbagai pertimbangan, aku memberi perintah agar para prajurit segera menangkap Pangeran Shalnark tak peduli bagaimana caranya. Namun yang terjadi kemudian seolah di luar kendali. Adikmu melawan dan sempat melukai prajurit lain, hingga tragedi itu harus terjadi."
Upacara pemakaman Shalnark pun dilaksanakan beberapa hari kemudian, yaitu dengan upacara yang biasanya diberikan bagi anggota keluarga kerajaan. Namun sekarang upacara itu berlangsung jauh lebih singkat, dan ada beberapa perubahan mengingat adanya dugaan bahwa Shalnark bekerjasama dengan para pemberontak yang terlibat dalam peperangan sebelumnya. Dugaan itu muncul seketika, setelah Leorio mengumumkan kematian Shalnark.
Dengan mengenakan gaun hitam dan cadar transparan yang berwarna hitam juga, Kurapika menghadiri pemakaman Shalnark. Untuk kali ini, dia sama sekali tak tahu apa-apa. Dari balik cadar hitamnya, Kurapika menatap peti mati yang membawa jenazah Shalnark diturunkan perlahan. Matanya terlihat sedih, namun tak ada air mata yang jatuh membasahi pipi gadis itu.
Suasana istana terasa semakin kelam setelah peristiwa itu.
Di taman istana yang indah, Hisoka duduk di atas sebuah kursi batu. Raut wajahnya menampakkan emosi yang berkecamuk, yang merupakan raut wajah yang tak akan pernah ditunjukkannya pada siapapun. Hisoka memejamkan matanya, mengingat semua kenangan yang terjadi sebelum terjadinya petaka itu.
Tiba-tiba Hisoka menyadari sesuatu. Dia membuka matanya kembali, dan terlihat terkejut.
'Harta Suci Tarleton...yang diberikan oleh Pangeran Kuroro untuk mas kawin Putri Kurapika, di manakah keberadaannya?' ia bertanya-tanya dalam hati dengan jantung yang mulai berdegup kencang. 'Kudengar harta itu sangat bernilai...hingga bisa digunakan untuk mendapatkan sekelompok besar pasukan. Harta itu tak boleh berada di tangan Putri Kurapika...Harta Suci Tarleton harus dimusnahkan!"
Setelah tiga hari masa berkabung, Aurora pun pamit untuk kembali ke negerinya sambil membawa jenazah Kuroro—dan seorang bayi yang tak diketahui oleh umum.
Di detik-detik terakhir, Aurora menyempatkan diri untuk menengok Kurapika. Kondisi menantunya itu masih tetap sama. Setibanya di hadapan Kurapika, tanpa ragu Aurora bertekuk lutut dan membelai wajah cantik gadis itu dengan penuh kasih sayang...untuk yang terakhir kali.
"Kurapika, sekarang aku pergi...Selamat tinggal, menantuku sayang...Putriku...kumohon, berusahalah untuk sembuh..." ucapnya lirih.
Untuk selanjutnya, Aurora tak mampu berkata-kata. Hanya air mata dan isakan pelan yang menampakkan isi hatinya.
'Aku menyayangimu, Kurapika. Kasihan kau Nak...tapi mulai sekarang aku akan melupakanmu. Semoga ini hanya untuk sementara. Maafkan aku...aku melakukan ini demi kepentingan banyak orang, dan juga demi kebaikan putramu Zuriel...Kita harus bertanggungjawab pada banyak orang, Kurapika...'
Setelah itu, perlahan Aurora berdiri dan mengecup kening Kurapika. Hingga wanita itu melangkah keluar, Kurapika tak menoleh sedikitpun.
Hari menjelang senja ketika rombongan yang akan kembali ke Kerajaan Bintang Jatuh hampir sampai ke perbatasan. Dan tiba-tiba saja Zuriel terbangun, menangis begitu keras.
Melihat cucunya menangis, Aurora segera menggendongnya namun tangisan Zuriel tak berhenti. Di bawah naungan langit yang berwarna kemerahan, dan hati Aurora yang meninggalkan Rukuso dengan penuh kepedihan, membuat tangisan itu terdengar memilukan.
Di waktu yang sama, di Istana Rukuso seorang pelayan tengah menyisir rambut pirang Kurapika yang baru saja selesai berpakaian.
"Maaf Putri, sebentar..." ucap pelayan itu sambil menyibakkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Kurapika. Ketika melihat ke cermin, si pelayan terkejut...Kurapika sedang menangis. Pipinya sudah basah oleh air mata yang kini masih mengalir tanpa henti.
Tangisan sang putri yang tanpa suara, bersamaan dengan pecahnya tangisan seorang bayi yang dipisahkan dari ibunya...semakin lama semakin jauh pergi dalam suasana yang penuh kesedihan. Mungkin Kurapika tak pernah mengetahui keberadaan putranya, begitu pula sebaliknya, tapi walau bagaimanapun juga keduanya terikat oleh takdir...dan oleh cinta dari seorang pria perkasa yang telah meninggalkan mereka lebih dulu.
TBC
A/N :
Ini chapter yang kelam...tapi bukan akhir dari segalanya. Mereka yang bersalah akan menerima akibatnya.
Anyway, terima kasih atas semua review yang sudah diberikan...
Lala Pamela, Natsu Hiru Chan, hana-1empty flower, October Lynx..., awalnya aku mau membalas review di sini tapi malam sudah sangat larut, hampir jam 2.30 pagi... ==
Bagi yang menyesalkan ttg kematian Kuroro, maaf yang sebesar-besarnya...walau bagaimanapun genre fic ini sejak awal adalah tragedi.
At least,
Review please...^^
