Gundam Seed/Destiny © Bandai, Sunrise—Matsuo Fukuda and team

Tidak ada keuntungan material yang didapat dari cerita ini

LITTLE WIND © 2017 Vereinigte Autoren


JAUH di sebuah sudut taman di balik semak-semak buah framboze ada belukar lebat dimana bunga atau buah beri tidak mau tumbuh. Sebenarnya, itu adalah sebuah pagar tanaman yang menjadi batas antara area taman kompleks perumahan Diocvia dan tetangganya, yaitu kompleks Artemis, tapi rumor yang beredar di kalangan masyarakat setempat mengenai seorang remaja yang bunuh diri di sana membuat para pertugas kebersihan taman enggan memangkasnya hingga ia berubah menjadi semak yang kacau dan tak tertembus. Bagi semua orang kecuali Lacus, tempat itu adalah bagian mengerikan dari taman yang kelihatan berbahaya dan karenanya tidak mungkin didatangi oleh siapa pun. Apalagi kalau mereka sudah mendengar cerita mengenai apa yang terjadi di tempat itu. Lacus tidak tahu mengenai rumor itu, dan ia bukan anak kecil biasa. Ia anak perempuan enam tahun yang suka bermain petak umpet dan memang hebat dalam melakukannya.

Lacus menemukan lubang kecil di pagar itu saat ia bermaksud untuk bersembunyi di dekatnya. Ketika merangkak ke sana, ia memasuki sebuah rongga di antara semak-semak. Rongga itu seperti sebuah rumah mungil. Ia tahu tak seorang pun dapat menemukannya di tempat itu karena tak ada orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Lagipula ia juga mengenakan mantel panjang berwarna hijau yang dilengkapi dengan tudung kepala untuk menutupi rambut pink-nya yang kontras dengan warna daun-daun sedangkan tasnya yang berwarna ungu ia duduki supaya tersembunyi.

Ketika memandangi ponsel kumbang di tangannya—memikirkan apa sebaiknya ia menelepon Paman Athrun yang nomornya tersimpan di balik tombol bergambar rumah, atau tidak—Lacus malah teringat pada percakapan terakhirnya dengan sang ibu di kereta menuju Kaguya.

"Kau tahu, Lacus? Segala sesuatu yang indah itu tidak untuk diberitahukan pada orang lain."

Mata biru-kelabu gadis kecil itu membulat takjub saat menatap ibunya, seolah wanita itu baru saja mengatakan hal paling bijaksana di dunia. "Wow," gumamnya, "berarti segala sesuatu yang indah itu harus dirahasiakan?"

Ibunya mengangguk. "Benar, dan apa kau tahu apakah sesuatu yang paling indah itu?"

Lacus mengerjap-ngerjap. Ia diam, mencoba memikirkan sesuatu namun gagal. Setahunya segala sesuatu yang ada di dunia itu indah, jadi ia tidak tahu mana yang paling indah. Karena itulah ia menatap ibunya dan menggeleng. "Aku tidak tahu."

Sang ibu tersenyum lembut pada putrinya. Lalu, sambil membelai rambut putri semata wayangnya, ia berkata, "Keluarga, Gadis Manis. Kau, aku, dan Ayah. Itulah sesuatu yang paling indah."

Sekali lagi Lacus terkesima. "Ooh..." katanya, "kalau begitu aku tidak boleh menceritakan keluarga kita pada siapa pun?"

Ibunya kembali mengangguk. "Benar, Sayang. Kau tidak boleh bercerita pada siapa pun tentang ayahmu atau aku. Apalagi pada orang asing."

Lacus mengangguk-angguk, kemudian sembari menempelkan telunjuknya ke bibir, ia berkata dengan mantap. "Aku berjanji, Ibu. Aku tidak akan menceritakan apapun tentang keluarga kita pada orang asing."

Kalau orang asing itu bertanya terus-menerus, bagaimana?

Itu dia.

Lacus akan mengatakan pada Paman Athrun kalau itu alasannya.


Chapter 7

Opportunist


Menyusul serangan di apartemennya, Athrun dihadapkan pada tiga masalah: orangtua Kira, keamanan Lacus dan dirinya, serta jadwal kepulangannya ke PLANTs yang tinggal dua bulan lagi.

Cagalli mengusulkan agar ia saja yang menangani urusan menjawab pertanyaan orangtua Kira mengenai apa yang terjadi pada anak itu sementara Athrun dan Lacus diantar pulang oleh Kisaka. Alasannya masuk akal dan jelas-jelas tidak bisa dibantah, yaitu kalau orangtua Kira sampai tahu alasan anak mereka terluka berkaitan dengan Lacus dan melihatnya di sana, mereka akan mengatakan apa saja yang bisa mereka pikirkan untuk menyakiti gadis cilik itu.

Ketika bertemu di sekolah keesokan harinya, Cagalli menolak membicarakan apa yang terjadi dan Athrun tidak berniat memaksanya. Hanya saja, apapun yang terjadi pada malam itu dan keengganan Cagalli membicarakannya berdampak buruk pada hubungan mereka.

Pada akhirnya, karena tidak bisa meminta saran pada siapa pun—termasuk Dearka dan Yzak di sekolah—Athrun mengandalkan pertemuan dengan pasangan itu di akhir pekan sebagai penentu. Andrew dan Aisha Waldfelt kelihatannya baik, dan ia semakin yakin ketika mengetahui Andrew bekerja di kepolisian. Lacus juga hadir di pertemuan itu dan kelihatannya Aisha berhasil memenangkan hatinya. Athrun mengganggap hal itu sebagai pertanda baik dan membiarkan Lacus tinggal bersama mereka sementara ia menata ulang kehidupannya.

Pertama, apartemen.

Sejak malam itu, Athrun selalu dihantui rasa waswas setiap berada di apartemennya. Ia tidak bisa merasa tenang sedikit pun, tidurnya juga tidak pernah nyenyak. Seperti seorang pria yang baru mempunyai bayi, Athrun terbangun setiap jam ketika tidur di malam hari dan tanpa berkonsultasi pada dokter atau psikiater pun, ia tahu hal itu akan berdampak buruk pada kondisi fisik dan mentalnya.

Setelah melalui beberapa pertimbangan—yang didasarkan pada pengumpulan fakta dan hal-hal semacam itu—Athrun memutuskan untuk pindah. Ia punya cukup uang di rekeningnya untuk itu, dan menurutnya keputusan itu yang terbaik. Meski hal itu mengarahkannya pada pencarian tak berujung di internet selama dua minggu lebih. Hasilnya cukup memuaskan. Apartemen barunya memiliki sistem keamanan yang lebih baik, punya lift pribadi, dan namanya tidak disebut sebagai pemilik karena ia hanya menyewanya.

Kepindahan itu sebenarnya tidak dirahasiakan, tapi karena sedang tidak berbicara dengan Cagalli, Athrun pun lupa memberitahunya sampai gadis itu mendengarnya dari teman-teman mereka. Sialnya, hal itu memperparah kerenggangan hubungan di antara keduanya hingga sekarang bisa dikatakan ia dan Cagalli putus secara tidak resmi. Meski anehnya, walaupun tidak saling bicara, baik Athrun maupun Cagalli sama-sama tidak ada menyatakan bahwa hubungan mereka sudah berakhir secara terbuka.

Tanpa Cagalli, Lacus, Kira, atau masalah Auel dan Meer; Athrun kembali pada fase awal kedatangannya ke ORB dimana hanya dua hal yang membuatnya sibuk, yaitu sekolah dan tenggat waktu novelnya. Kesepian secara lambat namun pasti mulai membayangi waktu di luar dua kesibukan itu meski tidak sepenuhnya, karena setidaknya di sekolah ia masih berbicara dengan Yzak, Dearka, dan teman-temannya yang lain selain Cagalli.

Namun di minggu keenam, doa Athrun yang ingin supaya kesepiannya berakhir terjawab dalam bentuk sebuah panggilan telepon dari Lacus yang merengek minta dijemput.

"Aku tidak merengek," protes Lacus begitu mendengar tuduhannya. Kedua tangannya bersilangan di dada dan ia memalingkan wajahnya yang tampak cemberut di pantulan jendela kereta bawah tanah yang membawa mereka ke stasiun dekat apartemen baru Athrun. "Lagipula Paman Athrun kan sudah janji, katanya aku boleh menelepon kapan pun aku berubah pikiran."

Athrun baru akan menyahuti perkataan itu ketika Lacus menambahkan, "Ngomong-ngomong Paman, kenapa kita naik kereta? Bukannya kau punya mobil?"

"Lacus." Athrun memutar bola mata dan menghela napas keras, "Apa kau tidak bisa bertanya satu-satu?"

Lacus menoleh dengan kepala dimiringkan dan ekspresi yang berubah 180 derajat. Kalau tadi dia cemberut, sekarang tiba-tiba saja matanya menampakkan kesan bertanya-tanya. "Maksud Paman apa? Aku kan hanya bertanya soal kenapa kita naik kereta."

"Ah," gumamnya, "sudahlah." Athrun memijat kedua pelipisnya dengan satu tangan dan menghela napas panjang. Setelah dipikirkan kembali, ia menyadari kalau Lacus benar. Gadis cilik itu hanya bertanya tentang alasan mereka sekarang duduk di kereta dan bukan Lamborghini hitam miliknya. Sedangkan yang sebelumnya bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan.

"Kau benar."

Lacus mengerjap penasaran. "Mm-hm, jadi?"

Athrun menunduk di sisi Lacus sebelum membisiki telinga gadis cilik yang rambut pink-nya disembunyikan di balik tudung mantelnya itu. Belakangan ia merasa tindakan itu sebenarnya tidak perlu karena Lacus bisa mendengar suara bisikannya tanpa ia harus berbisik tepat di telinganya. "Kita naik kereta supaya orang-orang jahat kemarin tidak bisa menemukan kita."

"Ooh," Lacus mengangguk-angguk, lalu dia bertanya lagi, kali ini sambil berbisik juga, "lalu mobilmu?"

"Mobilku sudah dijual."

Kedua alis Lacus mengerut mendengar pernyataannya. "Kenapa?"

"Karena..." Athrun mencoba memikirkan bagaimana cara menjelaskan yang paling mudah dimengerti anak-anak, dan mengurungkannya nyaris segera. Kalau ada hal yang membuat tugasnya mengurus Lacus menjadi mudah itu adalah karena Lacus seringkali memahami maksud perkataan yang biasanya tidak dipahami oleh anak-anak seusianya. Seringkali, tidak selalu, dan layak untuk dicoba.

"Karena...?" Lacus menagih jawabannya.

Athrun menghela napas. "Karena mobil itu sudah dilihat oleh orang-orang jahat kemarin, Lacus. Menurut temanku sih begitu. Kalau orang-orang itu melihat mobil yang sama diparkir di apartemenku yang baru, itu sama saja dengan mengumumkan pada mereka dimana aku tinggal sekarang."

Lacus mengerjap beberapa kali saat mendengarkan alasan yang ia berikan, seolah berusaha mencernanya. Lalu, saat Athrun hendak mengoreksi karena berpikir mungkin penjelasan seperti itu memang terlalu sulit untuknya, Lacus berkata, "Oh." Seolah ia memahaminya.

"Jadi sekarang mereka tidak tahu kita pindah kemana?"

Nyatanya dia memang mengerti.

"Tidak, mereka tidak tahu." Kemudian ia teringat sesuatu, "Ngomong-ngomong, Lacus, apa kau punya paspor?"

Lacus meletakkan telunjuknya di dagu dan berpikir sebentar. Sejenak kemudian ia menjawab, "Tidak punya... sepertinya."

"Sepertiny... tunggu. Memangnya kau tahu paspor itu apa?" Athrun bertanya dengan curiga.

Lacus mengangguk. "Tahu. Buku yang isinya nilai-nilai itu kan? Kira pernah memperlihatkannya padaku. Aku kan belum sekolah, Paman, bagaimana aku bisa memilikinya?"

Athrun tiba-tiba merasa pening. Di satu sisi, Lacus bisa begitu dewasa, begitu cepat mengerti suatu masalah yang berada di luar batas pemahaman anak kecil pada umumnya. Namun di sisi lain... begitulah. Hal-hal seperti ini yang terkadang membuat Athrun tidak mengerti bagaimana cara Meer dan Auel mendidik putri kecil mereka. Tidak. Bagaimana cara Meer mendidik anak perempuan mendiang istri suaminya mungkin adalah pertanyaan yang lebih tepat.

"Bukan, Lacus. Paspor itu dokumen yang memperbolehkan kita bepergian ke luar negeri." Athrun menerangkan dengan keterangan paling mudah yang bisa dipikirkannya mengenai apa itu paspor. Dalam hati ia berharap gadis cilik itu memahami maksud perkataannya agar mereka bisa melanjutkan pembicaraan.

"Oh," Lacus melepaskan ransel di punggungnya dan membawa benda itu ke pangkuannya. "Seperti apa bentuknya?" tanya gadis cilik itu sambil membuka ranselnya dan memasukkan tangan ke dalamnya.

Athrun menghentikan gerakan tangan Lacus tepat sebelum ia mengaduk-aduk isi tasnya. "Jangan di sini," ia memberi perintah dengan suara sepelan bisikan.

Lacus menatapnya tanpa berkedip, dan mengangguk. "Oke."

Setelah Athrun menarik tangannya, Lacus segera menutup ransel itu dan memakainya kembali. Kemudian dia bertanya, "Apa pemberhentian kita masih jauh?"

Athrun mendongak dan melihat ke arah papan di atas pintu gerbong. "Tidak," katanya. "Kita turun di sini."

Lacus memutar badannya dan ikut melihat ke arah yang dilihat Athrun. Kedua alisnya membentuk kedutan heran saat ia kembali menoleh pada pamannya. "Kaguya?"

"Ya. Tapi bukan apartemen yang kemarin."

Saat itulah suara pengumuman bahwa mereka telah tiba di stasiun terdengar dan menghentikan percakapan antara keduanya. Athrun bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangan pada Lacus yang baru melompat turun dari kursi. "Ayo, supaya kau tidak hilang."

Menurutnya ucapannya itu biasa saja, tapi sepertinya Lacus tidak sepakat. Gadis cilik itu tersenyum lebar pada uluran tangan dan ucapannya, dan ia mengangguk dengan semangat. "Un!"

Mereka menyusuri stasiun sampai pangkalan taksi dan memesan satu. Setelah menaruh barang-barang di bagasi, keduanya masuk. Athrun memberikan alamat barunya pada pengemudi taksi dan perjalanan pun dimulai.

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di apartemen baru Athrun yang lingkungannya lebih mirip sebuah kompleks perumahan daripada tempat tinggal seorang murid SMA, dengan taman untuk bermain, jogging, atau mengadakan acara seperti hanami atau sejenisnya, dan berbagai hal lain yang tidak ada di sekitar apartemen lamanya.

Lacus sempat berdiri mematung waktu pertama turun dari taksi. Ia tidak menyalahkan gadis cilik itu, bahkan memilih untuk membiarkannya. Setelah mengambil barang-barang mereka dan membayar taksi, barulah ia menepuk bahu Lacus dan berkata, "Ayo kita ke dalam."

Gadis cilik itu menolehkan kepala. Matanya berbinar-binar, pipinya bersemu, dan bibirnya dipenuhi senyuman riang saat ia menjawab, "Oke."

...


...

Kalau ada kata yang lebih kuat dari 'mengagumkan' Lacus akan menggunakannya untuk mendeskripsikan kesan pertamanya terhadap apartemen baru Paman Athrun.

Di luar tadi, ia melihat taman besar yang ditata rapi seperti yang ada di lukisan-lukisan pemandangan. Cantik sekali. Pohon-pohon berjajar membentuk hutan heterogen dalam skala yang lebih kecil namun sama indahnya. Sungai mengalir di bawah taman itu, airnya jernih dan di beberapa tempat ada jembatannya. Ia bisa melihat binatang-binatang peliharaan seperti kelinci, kucing, dan anjing berjalan-jalan dengan pemiliknya di salah satu bagian taman. Lalu ada juga taman bunga yang baru terlihat saat mereka sudah dekat dengan lobi apartemen.

Memasuki bagian dalam, apartemen itu tampak seperti gedung perkantoran yang sering ia lihat di televisi dan sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan gedung yang kemarin. Hanya saja, saat masuk ke lift yang pintunya dijaga oleh petugas keamanan dan harus menggesekkan kartu khusus untuk pergi ke lantai tujuannya, gedung itu mulai terlihat berbeda.

Unit mereka yang sekarang ada di lantai sepuluh. Begitu masuk, Lacus tidak lagi merasa seperti di apartemen karena interior tempat ini mirip sekali dengan sebuah rumah dua lantai dan kelihatan sangat nyaman.

Lacus membuka tudung mantelnya dan mengendarkan mata ke sekeliling. Kalau tempat barunya seperti ini, ia sungguh menyesal tidak minta dijemput lebih awal kemarin.

Suara Paman Athrun membuyarkan lamunannya. "Lacus," panggilnya.

Begitu menoleh, Lacus melihat Paman Athrun berdiri di tangga. "Kamarmu di atas," sang paman melanjutkan. Ia pun menyeret kopornya ke dekat pamannya dan pria itu membawakan kopornya sampai ke lantai dua.

Sesampainya di sana, tepat di samping tangga ada sebuah pintu bergambar bunga besar dan di balik pintu itu, tampaklah sebuah ruangan berukuran sedang yang dipenuhi perabot khas anak-anak perempuan. "Bagaimana, kau suka?"

Bahkan setelah ia berusaha keras menahan diri, Lacus masih merasa suaranya terdengar kelewat antusias. Nuansa ungu dan putih yang mewarnai hampir seisi kamar itu benar-benar indah. Tata letak perabotnya juga bagus. "Suka sekali. Terima kasih, Paman."

Paman Athrun tersenyum mendengar komentarnya. "Sama-sama, aku senang kau menyukainya. Nah, sekarang masuk dan istirahatlah. Kita bicara lagi nanti."

Pernyataan itu mengingatkan Lacus pada pembicaraan mereka di kereta. "Apa ini tentang paspor?"

"Ya," kata Paman Athrun. "Tapi kurasa sebaiknya kau beristirahat dulu."

Lacus melepas ranselnya dan membukanya. Pada saat itu tiba-tiba ia memikirkan sesuatu. "Paspor itu... untuk pergi ke luar negeri, kan? Apa kita akan pergi ke suatu tempat?"

"Kau tidak akan beristirahat sampai aku menjawab pertanyaanmu, hm?"

Lacus menggeleng.

Paman Athrun menghela napas panjang. "Baiklah," katanya. "Kita bicarakan ini di ruang tengah saja."

Lacus menutup ranselnya kembali lalu berjalan ke birai pintu tempat Paman Athrun berdiri, dan ia sudah di luar ketika pamannya berkata, "Asal kau berjanji akan pergi tidur setelahnya."

Lacus mengangkat kedua ibu jarinya sebagai jawaban.

Paman Athrun menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak yang membuat Lacus grogi. Untuk mengatasinya, ia tersenyum lebar. Usahanya berhasil. Paman Athrun menghela napas, mendorong kopor Lacus ke dalam kamar, dan menutup pintunya sebelum turun kembali. Lacus mengikutinya nyaris seketika.

Ruang tengah apartemen agak mirip dengan yang kemarin, tetapi barang-barang di sini lebih sedikit, sedangkan apartemennya lebih besar sehingga sisa ruangnya menjadi lebih luas. Paman Athrun mengisyaratkan padanya untuk duduk di sofa sementara ia pergi ke dapur. Lacus melongok ke arah pamannya sembari menunggu, namun tak bisa melihat apa pun karena terhalang oleh pintu kulkas yang tinggi dan besar. Satu-satunya yang dapat ia ketahui pada saat itu hanyalah bahwa pamannya mengambil sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang dari suaranya terdengar seperti dibungkus dengan kotak dari kertas, dan botol kaca.

Ketika Paman Athrun menutup pintu kulkas dan kembali ke ruang tengah, dia membawa satu nampan berisi satu kotak besar kue dan seteko jus. Ia menuangkan jus, membuka kotak dan memotong kuenya, lalu memulai pembicaraan setelah meneguk jusnya.

"Nah, Lacus," katanya, "coba keluarkan isi tasmu."

Lacus saat itu sedang mencoba kuenya. Dari luar kue itu tampak seperti fruit tart, tapi setelah memotong dan memakannya, ternyata itu fruit cheesecake. Ia menelan kuenya dan berkata, "Tentu."

Tasnya diletakkan di samping sewaktu menunggu tadi. Lacus membukanya dan menggelar isinya di bagian kosong dari permukaan meja kopi. Ia sedang memisah-misahkan barang-barangnya supaya bisa dilihat Paman Athrun ketika pamannya itu menunjuk pada satu bagian dan berkata, "Itu dia."

"Yang ini?" Lacus mengangkat satu buku kecil dan menunjukkannya.

Paman Athrun mengangguk. "Ya, bawa sini."

Tanpa bertanya, Lacus menyerahkan buku kecil itu pada pamannya. Benak mudanya bertanya-tanya bagaimana benda sekecil itu bisa membuat seseorang bisa pergi ke luar negeri atau apakah semua orang harus memilikinya baru bisa pergi. Setelah buku itu sampai ke tangan Paman Athrun, ia baru menyuarakan salah satu dari pertanyaannya. "Apa semua orang memerlukan paspor untuk pergi ke luar negeri?"

"Ya," Paman Athrun menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari paspor miliknya. "Ngomong-ngomong," ia bertanya. "Lacus Clyne?"

Sambil mengulum potongan kecil cheesecake-nya, Lacus menjawab pertanyaan itu dengan sebuah pernyataan. "Mm. Itu kan nama lahirku."

"Oh."

Lacus mengamati pamannya dan menyadari suatu keanehan. Dahi pamannya mengernyit saat mendengar jawabannya dan itu bukan sesuatu yang wajar. Seingatnya Paman Athrun hanya melakukan itu kalau ada yang membuatnya bingung. Tapi apa? Lacus bertanya-tanya dalam hati. Ia tidak merasa telah mengatakan sesuatu yang membingungkan.

Nama lahirnya memang Lacus Clyne. Ibu yang memberitahunya saat mendaftarkan Lacus di day care-nya yang dulu. Kata Ibu nama itulah yang ditulis di akta kelahirannya. Ibu juga menunjukkan aktanya supaya lebih meyakinkan.

Jadi... kenapa Paman Athrun bingung mendengarnya?

Seperti Lacus, Paman Athrun juga diam selama beberapa menit yang panjang itu. Setelahnya sang paman tidak bertanya apa-apa lagi, dia malah bangkit dan berjalan menuju satu ruangan yang sejajar dengan pintu masuk. Lacus tidak menyadari adanya pintu itu sampai pamannya masuk, dan berpikir untuk menanyakannya begitu pamannya keluar.

Paman Athrun keluar tidak lama kemudian sambil membawa laptop yang kalau di apartemen yang kemarin selalu ada di ruang tengah. Ia membawanya ke meja kopi, memakan kue, menyeruput jus, dan membukanya.

Saat itulah Lacus memutuskan untuk bertanya. "Paman, apa kita tidur di kamar yang berbeda mulai sekarang?"

Paman Athrun menoleh dari laptopnya dan berkata, "Apa?" sambil melihat ke arah pintu tadi. "Oh, ya. Apartemen ini punya dua kamar dan satu ruang kerja. Aku memfungsikan semuanya. Kau tidur di kamar atas dan aku di kamar utama." Sambil berkata demikian ia menunjuk pintu lain yang letaknya sejajar dengan tangga menuju kamar Lacus. Melihat hal ini, Lacus menyadari kalau pintu yang tadi dimasuki Paman Athrun adalah ruang kerja.

Seolah membaca pikirannya, Paman Athrun melanjutkan. "Tapi kalau kau takut, kau bisa tidur di kamarku. Kasurnya sama besar dengan yang kemarin."

Tawaran itu terdengar menyenangkan, tapi Lacus tahu diri. Ia akan membuat Paman Athrun kecewa kalau memilih tidur bersamanya walau sudah punya kamar sendiri. Terlebih karena kamar itu sepertinya didekorasi oleh pamannya. "Aku akan tidur di kamarku sendiri," katanya mengumumkan.

"Terserah kau saja," Paman Athrun menyahut. Lalu sebelum Lacus sempat merespon dalam bentuk apapun, ia menambahkan, "Ngomong-ngomong, bagaimana menurutmu kalau kita pergi ke PLANTs?"

"PLANTs?" ulang Lacus dengan nada bertanya.

"Ya. Liburan ini aku berniat pergi ke sana, dan kau..." Ada jeda selama lima detik yang membuat Lacus penasaran, tapi Paman Athrun mendahuluinya. "Apa kau mau ikut?"

Lacus belum pernah pergi ke luar negeri mana pun seumur hidup, karena itu ia tidak tahu apa itu paspor, dan tidak tahu apa itu PLANTs. Tapi kesimpulan yang bisa diambil dari: PLANTs, paspor, dan luar negeri, hanyalah bahwa PLANTs itu di luar negeri dan Paman Athrun baru saja mengajaknya ke sana.

Tentu saja ia mau. "Ya."


Kau akan menjadi alasan yang sempurna untuk tidak bermalam di rumah dan bertemu dengan Ayah.

Itulah penggalan kata yang disembunyikan Athrun dari Lacus sewaktu ia mengajaknya pergi ke PLANTs Sabtu kemarin. Tetapi tentu saja perjalanan itu akan dimulai setelah sekolahnya berakhir.

Adanya masalah yang berkaitan dengan Meer, Auel, dan Cagalli membuat Athrun mempertimbangkan untuk kembali ke PLANTs selama liburan. Ia butuh waktu untuk menjauh dari segala urusan yang berkaitan dengan... Lacus, sebenarnya. Meski ironisnya sampai sebelum gadis cilik itu menelepon minta dijemput, ia sudah kehabisan ide untuk menghindar dari tinggal serumah dengan ayahnya di PLANTs nanti.

Mengenai ide ini, Athrun bukannya tidak ingat pada ucapan sepupunya itu dalam suratnya, yaitu: ...jauh dari pengawasan Paman Pat dan Bibi Len. Hanya saja ia tidak mau peduli. Meer boleh saja seenaknya menitipkan Lacus padanya, seenaknya saja pergi, dan seenaknya saja terlibat masalah. Tapi itu tidak berarti seorang Athrun Zala harus terus menjadi si pemikir. Sesekali ia juga bisa seenaknya... kan?

Apalagi dengan adanya ketegangan dalam hubungan antara Cagalli dan dirinya. Itu akan menjadi batasan terakhir. Meer boleh menyalahkan gadis itu atas keputusan ini, karena andai hubungannya dengan Cagalli baik-baik saja, ia akan dengan senang hati tinggal di ORB selama liburan sekolah.

Pokoknya, permintaan Lacus untuk dijemput, keberadaan gadis cilik itu, dan segala yang terjadi, serta pembicaraan mereka malam itu hanya mengukuhkan tekadnya untuk pulang ke PLANTs.

Tetapi pagi ini, di sekolah, Athrun yang sedang duduk di kelas homeroom sambil mengecek persiapan liburannya tiba-tiba didatangi oleh seseorang yang langsung berdiri dan menempatkan kedua tangannya di mejanya. Ia mendongak, dan terkejut ketika mata zamrudnya bertemu dengan mata amber Cagalli.

Hening.

Lalu Cagalli memecahkannya. "Kita harus bicara."

Kita sudah tidak saling bicara selama hampir dua bulan dan kau malah mengatakan... ini? Athrun memprotes dalam benaknya, tapi alih-alih ia malah mengatakan, "Baiklah, dimana?"

Sayangnya pada saat itu pandangan mata Cagalli malah jatuh pada catatan yang sedang ditelaahnya, dan dia segera bertanya. "Apa kau berencana pergi ke suatu tempat?"

"Hei," kata Athrun, "satu, aku bertanya duluan dan dua, Ya. Aku berencana pergi ke PLANTs selama liburan."

Sewaktu mengatakan serangkai kalimat itu, Athrun memang memaksudkan suaranya agar terdengar sinis, tapi rupanya ia terlalu sinis sampai Cagalli menampakkan ekspresi seperti sedang orang yang sedang disudutkan.

"Maaf, mungkin kita sebaiknya bicara lain waktu." Ia menambahkan dengan nada yang lebih lunak.

Cagalli tidak langsung menjawabnya. Ia melihat gadis itu menarik napas dalam-dalam baru kemudian berkata, "Tidak... kita harus bicara sekarang. Apalagi kalau kau berencana menghabiskan liburanmu di... ehem, tempat yang jauh."

Athrun menyipitkan mata dan menaikkan sebelah alis. Ada yang aneh dari ucapan Cagalli, tapi berapa kali pun ia mencoba menebak, ia tidak bisa. Tampaknya mereka memang harus berbicara. "Ya sudah, kantin?"

Cagalli mengangguk. "Kurasa lebih enak kalau di tempat biasa."

Tempat biasa mereka berbicara... atap sekolah. Cagalli sering ke sana setiap kali ingin membolos pelajaran. Begitu mereka resmi berpacaran tahun lalu, Cagalli mengajaknya ke tempat itu dan serta-merta menjadikannya sebagai 'tempat kita'. Mengingat hubungan mereka yang di ujung tanduk, rasanya sulit dipercaya Cagalli malah mengajaknya ke sana alih-alih tempat yang lebih umum seperti kantin.

Cuma, mau dipertanyakan seperti apa pun hasilnya sama saja sehingga Athrun memutuskan untuk mengalah dan mengikuti Cagalli saja. Lagipula ia sama sekali tidak dirugikan dengan keputusan ini.

Angin yang berembus kencang dan terasa dingin dari celah pintu yang dibuka oleh Cagalli begitu mereka tiba mengingatkan Athrun bahwa hari masih pagi. Musim hujan sudah berakhir cukup lama namun di ORB paginya selalu dingin tanpa peduli pada pergantian musim. Itu salah satu alasan yang paling mempengaruhi keputusan Athrun dalam memilih tempat tujuan begitu ia meninggalkan PLANTs dulu. Iklim tropis, matahari, dan pagi yang selalu dingin bahkan di hari terpanas di musim kemarau.

"Kurasa aku berhutang penjelasan padamu." Cagalli memulai dan seperti sebelumnya, memecahkan keheningan. Meski kali ini disertai dengan buyarnya renungan Athrun.

Mata zamrud pemuda itu terpejam mendengar ucapan Cagalli. Dalam hati ia membenarkannya, dengan kesungguhan. Cagalli memang perlu menjelaskan keengganannya membicarakan masalah Kira dan apa yang terjadi setelah Athrun membawa Lacus pulang dari rumah sakit malam itu, yang menjadi awal dari keretakan hubungan mereka sampai hari ini.

"Aku mendengarkan."

Sang Putri ORB menghela napas. "Orangtua Kira marah besar ketika mereka datang malam itu. Aku sampai menelepon Ayah sebelumnya, untuk berjaga-jaga. Ayah membantuku menjelaskan pada mereka, meski mereka tetap saja melarang aku mengajak Kira pergi, kemana pun dan kapan pun. Aku menurut, dan pulang bersama Ayah. Kudengar Kira siuman beberapa jam kemudian, itu yang terakhir.

"Jujur saja, aku tidak menyalahkanmu atas apa yang terjadi malam itu. Lagipula kita sudah membicarakannya. Tapi setelah bertemu dengan Paman Haruma dan Bibi Caridad, aku benar-benar merasa kesal karena... entahlah. Aku tidak tahu. Yang jelas menurutku—waktu itu—kita hanya akan bertengkar jika aku membicarakannya denganmu. Tapi sepertinya yang kulakukan hanya membodohi diri sendiri karena... lihat saja sekarang. Gara-gara keputusanku itu, kita malah tidak saling bicara sebulan lebih dan... dan..."

Athrun tidak mengatakan apa pun untuk membalas ucapan Cagalli. Terlebih setelah melihat genangan di matanya serta mendengar getaran dalam suaranya. Yang dilakukannya adalah menarik Cagalli dalam satu dekapan sempurna dan menggeratkannya. Tangis gadis itu merembes ke bahunya dan ia membiarkannya.

Suara lirih Cagalli terdengar, "Maafkan aku... Athrun."

Sebelah tangannya bergerak naik dan mengusap rambut pirang gadis itu. "Ssshh... hentikan. Kau tidak perlu minta maaf untuk bersikap manusiawi."

"Tapi... aku sudah..."

"Aku mengerti. Dan karena kau sudah tahu kesalahanmu, tolong jangan diulangi lagi." Ujarnya memotong. Kalau dibiarkan, Cagalli pasti akan terus menyalahkan diri. Ia tahu itu, karena kecenderungan menyalahkan diri sendiri adalah sifat yang sama-sama mengakar dalam dirinya dan Cagalli.

Cagalli mengangguk. Airmata masih mengalir dari kedua matanya dan ia masih terisak, tapi setidaknya bahunya sudah berhenti bergetar. Athrun merasa lega. Salah satunya karena Cagalli sudah kembali, dan yang lainnya karena gadis itu tidak terdengar ingin mencegah kepergiannya.

Ketika Cagalli sudah berhenti menangis dan mereka sudah kembali duduk bersebelahan. Jemari mereka terkait satu sama lain sementara mata mereka sama-sama terarah ke atas. Menatap langit biru ORB sambil menikmati embusan udara pagi memang menyenangkan dan menenangkan. Tidak ada sepatah kata pun dari keduanya selama beberapa menit yang terasa amat singkat.

"Jadi, PLANTs, huh?" Cagalli kembali membuka percakapan.

"Hm," gumam Athrun. "Dan aku akan membawa Lacus."

...


...

Lacus nyaris tidak bisa berkedip sejak mereka tiba di pelataran Bandara Internasional Aprilius, PLANTs. Kedua mata biru-kelabunya menatap pemandangan kota terfuturistik di dunia itu dengan kacamata kekaguman super besar, dan ia tidak berhenti bahkan setelah mereka duduk di taksi yang bergerak menuju rumah keluarga Zala.

Tidak seperti ORB, hampir semua hal di PLANTs dijalankan oleh mesin.

"Paman, itu apa?" Lacus mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya sambil menunjuk ke bangunan tinggi besar serupa menara putih di tengah-tengah kota dan tampak menjulang, bahkan di antara gedung-gedung pencakar langit PLANTs.

Athrun menoleh—karena ia duduk di samping Lacus di dalam taksi tanpa supir yang dijalankan secara otomatis menggunakan sistem GPS yang dikendalikan dari pusat—sebelum mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Lacus dengan jarinya. Ia tertawa kecil sebelum menjawabnya. "Itu gedung pemerintahan Dewan."

"Oh," gumam Lacus, suaranya terdengar begitu riang. "Apa kita bisa mengunjunginya?"

Athrun tertawa, lagi. "Sayangnya, tidak. Soalnya yang bisa masuk ke sana hanya para Dewan saja. Tapi kalau kau mau, kita bisa melihatnya dari dekat."

"Sungguh?" keriangan dalam suara gadis cilik itu sama sekali tidak berkurang ketika pertanyaan itu meluncur dari bibir mungilnya. Ketika Paman Athrun menjawabnya dengan anggukan, ia tersenyum. "Tentu saja!"

Kemudian ia menambahkan. "Tapi sebelum itu kita harus mengunjungi rumah ayahku dan beristirahat di rumah ibuku."

Lacus menjawabnya dengan cepat. "Oke." Meski tak lama ia mengernyit dan bertanya, "Kenapa ayah dan ibumu tidak tinggal bersama?"

Pertanyaan itu membuat Athrun tersenyum. "Tidak. Mereka sebenarnya tinggal bersama, terutama di hari-hari libur seperti ini. Tapi karena ibuku bekerja di luar kota, Ayah membelikan satu rumah untuknya supaya dia tidak perlu bolak-balik sepanjang minggu."

"Hmm..." Lacus mencoba memproses keterangan itu di benaknya. Penjelasan yang diberikan pamannya memang selalu mudah dimengerti, tapi sebenarnya masih ada hal yang membuatnya penasaran. Hanya saja nada yang digunakan Paman Athrun ketika mengakhiri penjelasan itu membuat ia memilih menggurungkannya. Sebab nada itu dingin, sengit, dan tajam.

"Ngomong-ngomong, Paman. Kita akan jalan-jalan kemana saja selama liburan ini?"

"Kita akan pergi ke kebun tempat ibuku bekerja, mengunjungi peternakan di dekat sana, dan berjalan kemana saja yang kau suka." Paman Athrun menjawabnya dengan nada lembut yang dikenalnya. Lacus tersenyum. Saat itu Lacus belum mengerti kalau mengatakan hal seperti itu setelah mendengar respon seperti itu dinamakan dengan mengalihkan pembicaraan karena simpati. Namun yang pasti ia merasa bangga karena berhasil membuat Paman Athrun terdengar ramah kembali.

Mereka tiba di rumah keluarga Zala pukul empat sore, sesuai rencana. Athrun turun dari mobil, menggandeng tangan Lacus, mengambil barang-barang di bagasi, dan berjalan ke depan rumah. Ia menekan tombol di interkom dan menyebutkan namanya.

Dari celah di pintu masuk yang terbuka tak lama kemudian, Lenore Zala keluar dan menyambut anak laki-lakinya dengan riang. Namun sewaktu di membuka pagar dan melihat Lacus di samping Athrun, keriangan di wajahnya berganti dengan ekspresi bertanya-tanya.

"Athrun, siapa ini?" tanya Lenore.

Athrun ikut melirik pada Lacus, dan menjawab untuk gadis cilik itu sebelum dia memperkenalkan diri dan membuat ibunya terkena serangan jantung. "Ibu, kenalkan. Ini Lacus Blomqvist, sepupu jauhnya Cagalli. Aku menawarkan diri untuk menjaganya selama liburan karena orangtuanya sedang melakukan perjalanan bisnis dan Cagalli sudah terlanjur mengikuti pendakian gunung Everest."

Pernyataan itu membuat Lacus menoleh dengan wajah bertanya-tanya menggantikan ibunya. Di samping itu—sesuai dugaan—ibunya menatap Lacus dengan mata berbinar bahagia. Athrun tentu saja mengetahui alasannya.

Pada saat ia dilahirkan bertahun-tahun yang lalu, ibunya mengalami komplikasi yang mengakibatkan dirinya tidak bisa mengandung lagi. Well, ibunya memang bersyukur karena hal itu terjadi setelah ia melahirkan anak pertamanya, tapi bukan berarti ia sama sekali tidak kecewa. Soalnya komplikasi itu membuatnya kehilangan mimpinya yang ingin memiliki dua anak; seorang laki-laki, dan seorang perempuan.

Athrun mengetahui perihal ini dari ibunya sendiri ketika mereka masih tinggal di Junius, dan tentu saja, itu merupakan salah satu dari beberapa hal yang mendasari keputusannya membawa Lacus bersamanya ke PLANTs.

"Aku pulang, Ibu."

Ibunya tersenyum. "Selamat datang kembali, Sayang."

...


A/N:

I'm very very very sorry about the very late update, Minna-san. And I think I owe my partner there a earthly more of an apology.

As it happened, the past month have been very crowded and hectic. I haven't had much time to write, let alone touching network.

But, nevertheless, I manage to get it passed, and somehow update.

So, thank you for all of your support and everything. I hope it's worth the wait.

It's up to you now, for the next part it is, partner.

See you guys around~