Annoying Girl
Desclaimer : Naruto, Masashi Khisimoto
.
.
Ketukan pintu di pagi buta membuat pemuda Inuzuka itu mau tak mau terjaga dari tidurnya. Dengan kantuk yang terasa begitu pekat, dia berjalan ke arah pintu dengan gerutuan yang seolah tak ada ujungnya. Ah ya, siapa yang suka diganggu ketika tengah terlelap dengan mimpi indah.
"Siapa sih? Mengganggu saja." Langkah Kiba sempoyongan, dan rambut coklatnya yang acak-acakan tak sempat ia rapikan. Lagi pula, ini mungkin hanya Shikamaru yang lupa membeli deterjen atau ingin meminta minum. Dan tidak akan jadi masalah jika membiarkan penampilannya tetap seperti ini. Oh, ayolah... ini bukan acara penyambutan presiden, jadi ia tak perlu berdandan sedemikian rupa hanya untuk menbukakan pintu bagi seorang tamu.
Ketika pintu apartemennya sukses terbuka, sosok wanita yang berdiri penuh senyum di hadapannya membuatnya terkejut bukan main. Wanita itu membungkus tubuhnya dengan jaket coklat tebal dan syal merah hati. Membuatnya bertanya-tanya, kenapa dia datang sepagi ini? "Ibu?".
"Ya." Nyonya Inuzuka melenggang masuk ke dalam apartemen putranya, membiarkan Kiba tebengomg karena ulahnya. "Ibu jauh-jauh datang dari Osaka ke Tokyo, dan begitukah reaksimu?"
Pemuda itu mendecak, menutup kembali pintu apartemennya dan berjalan mengikuti langkah sang ibu menuju dapur. "Bukan begitu. Aku hanya terlalu terkejut. Lagi pula, ibu tidak bilang dulu jika akan datang."
Tsume mengeluarkan beberapa sayuran dan daging segar dari dalam tas belanjaanya. Menatap putranya sekilas sebelum kembali terkekeh pelan. "Jam segini kau baru bangun? Ino pasti kecewa melihat pacarnya sebegini malasnya."
Kiba terbelalak. Pacar? Apa-apaan itu? Pacar? Oh, yang benar saja. Ibunya sudah membuat moodnya yang belum membaik malah jatuh lebih dalam lagi. "Jangan bercanda, bu." Dia memutar tubuh dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka. "Itu membuatku sama sekali tak berminat."
Tawa sang ibu malah mengalun lebih keras, hingga Kiba keluar dari kamar mandi pun. Tatapan ibunya tak berhenti mengamatinya dengan jahil. Ya Tuhan... akan ada berapa orang lagi yang menganggap bahwa hubungannya dengan Yamanaka adalah hal yang serius, yang benar saja.
"Sebenarnya ibu mau kemana? Aku tidak yakin ibu datang ke Tokyo hanya untuk mengunjungiku. Benar-benar bukan dirimu." Inuzuka muda duduk pada salah satu kursi di ruang makan sembari menatap jam dinding yang kini telah menujuk pukul 5 lebih 15. Oh, sial. Harusnya ia masih memiliki waktu istirahat lebih lama lagi, dan kedatangan sang ibu telah merusak acara istirahat berharganya.
"Ya, benar." Wanita itu mulai mencuci sayuran yang dibawanya. Memasukkannya ke dalam kulkas dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Ibu akan menghadiri acara pernikahan anak teman ibu. Tapi acaranya masih besok."
Lah? Kiba mengernyit, memperhatikan sang ibu yang kali ini tengah memotong daging. Jika acaranya masih besok, kenapa harus ke Tokyo sekarang? Namun, pertanyaan itu tak lantas ia ucapkan, takut kalau-kalau sang ibu akan tersinggung mendengarnya.
"Ibu hanya takut... terlambat." Lagi-lagi wanita itu tersenyum, entah apa yang membuatnya bisa berubah sedrastis itu. Dari ibu yang cerewet menjadi sesosok ibu yang penuh perhatian. "Dan... ibu merindukan... gadismu itu." Dia mengdipkan sebelah matanya untuk menggoda Kiba. Membuat pria itu mual mendadak.
"Apa?"
"Ajak dia makan disini nanti siang. Ibu akan membuatkan kalian banyak masakan."
"Tapi bu-"
"Ibu tidak menerima penolakan. Ajak dia, dia pasti mau ikut kemari. Tapi kau yang suka berbelit-belit." Ya Tuhan... cerewetnya mendadak kambuh, dan wajah suntuk itu, oh... jangan lagi. Ibunya mendadak menatapnya horor.
"Ibu... dengarkan aku. Aku tidak tahu nanti siang Ino akan sibuk atau tidak. Aku tidak bisa memaksanya datang kemari jika dia harus mengikuti kegiatan di sekolahnya." Sejujurnya, bukan itu masalahnya. Kenyataan bahwa hubungannya dengan Ino tak dalam keadaam baik-baik saja, membuat semuanya tak semudah seperti yang dikatakan sang ibu.
"Yang jelas ajak dia. Ibu tidak peduli dia bersedia datang saat menjelang malam atau kapan." Wanita itu mulai berkata sedikit kasar, memunggungi putranya yang mulai tampak kesal.
"Ya, iya." Dengan suasana hati yang serasa meremukkan otak kecilnya, ia melangkah meninggalkan tempat tersebut. Entah apa yang akan dimasak sang ibu untuknya, ia tak peduli. Moodnya sedang buruk, dan ia tak ingin wanita itu menambah runyam segalanya.
"Oh... ini akan menjadi semakin sulit." Ia mengacak rambutnya frustasi, membuat surai coklatnya yang kusut menjadi semakin berantakan.
.
.
"Apa yang akan kau lakukan usai ini?" Sakura bertanya datar, sembari menapakkan kakinya pelan di samping Ino. Mengeratkan tas ranselnya yang menggantung berat pada pundaknya.
"Mungkin aku hanya akan mengerjakan PR matematika dan menunggu ayah pulang. Lalu kami akan makan malam bersama." Gadis itu menghela napas panjang, merasakan paru-parunya mengembang selama beberapa saat.
Haruno muda itu memicingkan mata. Rencana Ino terdengar... membosankan, ia tidak menyangka dalam beberapa hari ini sahabatnya berubah menjadi seseorang yang begitu monoton, tak banyak omong, dan... mmm sedikit errr... sensitif. "Apa kau tidak memiliki rencana kencan dengan... mmmm... Kiba?" Ia bertanya takut-takut.
Ino mengalihkan pandangan pada lawan bicaranya, mengekspresikan kebencian yang sangat kentara dari sorot matanya. "Bisa tidak kau tidak menyangkut pautkan namanya?"
Ia tersenyum bersalah. "Ya maaf. Tapi kenapa kau harus semarah ini jika hanya karena Kiba melupakan janjinya."
Yamanaka mulai naik pitam, ia sudah berusaha mati-matian melupakan kejadian itu. Namun, detik ini Sakura mengungkit segalanya, membuatnya makin muak dengan apapun yang tengah ia lihat. "Hanya karena melupakan janji? Oh, yang benar saja Sakura. Kau pasti juga akan marah jika harus menunggu seseorang, kehujanan, kedinginan sementara orang yang kau tunggu melupakan janjinya dan bahkan menemui mantan pacarnya. Bukankah itu keterlaluan." Matanya mulai tergenangi air, dan ia membuang muka karena tak ingin Sakura melihat air matanya.
"Oh, oke. Pelankan suaramu." Si surai merah jambu menepuk pundak sahabatnya. Menatap takut-takut pada beberapa siswa yang berjalan ke arah gerbang bersamanya. Sepertinya mereka terganggu dengan teriakan Ino yang... bisa dibilang mengerikan.
Mereka benar-benar keluar gerbang sekarang, merasakan kaki-kaki mereka seolah dilepaskan dari penjara yang mengerikan.
Seseorang menarik tangannya, Ino kira itu hanya Sakura yang ingin menenangkannya atau hanya sekedar memegang tangannya. Tapi, melihat gadis di sampingnya malah melambai dan mengucapkan sampai jumpa, ia baru sadar jika ada orang lain di sana. Orang lain yang entah sejak kapan hadir di hadapannya dengan wajah kusut dan keinginan untuk menjelaskan sesuatu.
"Oke, oke... maaf. Aku mohon kali ini ikutlah denganku." Datar, tanpa senyuman. Kiba sendiri bingung harus berekspresi bagaimana, pasalnya tersenyum dalam keadaan seperti benar-benar tak memungkinkan.
"Untuk apa?" Ino bertanya kesal. Menyentakkan tangannya agar dilepaskan, namun genggaman Kiba terlampaui kuat.
"Aku mohon...tidak masalah jika kau tidak mau mendengar penjelasanku. Tapi ikutlah denganku sekarang." Melihat Yamanaka muda itu tak memperlakukannya dengan ramah membuatnya ingin menyerah saja, bilang pada sang ibu bahwa gadis itu benar-benar sibuk dan tak ingin diganggu. Namun, ia tak yakin ibunya akan membiarkannya tidur nyenyak jika ia pulang dengan tangan kosong tanpa membawa gadis ini.
"Kau mengulang-ulang kalimatmu tanpa mau menjawab pertanyaanku. Untuk apa aku harus ikut? Dan kau akan membawaku kemana?" Gejolak dihatinya tak mampu lagi ditutupi, apalagi ketika melihat Sakura telah menghilang dari penglihatannya. Bentakannya barusan menimbulkan perhatian dari beberapa siswa yang melintas di dekatnya, namun mereka tak ambil pusing dan tetap melangkah tak peduli.
Kiba mendecak, menghela napas frustasi. Sejujurnya ia merasa sedikit lega ketika Ino mau menanggapi kalimatnya, namun kenapa otaknya seolah tumpul untuk memunculkan kata-kata yang lebih baik. Semua kalimat seolah berputar-putar acak di dalam sana, membuatnya jengah. "Ke apartemenku, ibu ingin kau kesana."
Beberapa saat gadis itu mengernyit heran. Kiba bilang ibu? Ibunya datang ke Tokyo? Apa Kiba menghubunginya agar hubungan mereka kembali membaik. Oh ya Tuhan... kenapa pikirannya jadi ngelantur begini? Memang Kiba menganggapnya penting apa? Jelas-jelas pemuda itu masih mencintai mantan pacarnya, jadi mana mungkin dia tertarik pada gadis cerewet yang menyebalkan sepertinya.
"Ini bukan keinginanku sendiri. Kau harus datang, kau harus ikut bersamaku. Ini demi ibuku."
Kiba tampak sungguh-sungguh. Tak ada kebohongan disana, membuat Ino berusaha mencerna ajakan itu beberapa kali.
"Dia ingin kau ikut kami makan malam."
Ino bahkan tak mengerti pada dirinya sendiri ketika tanpa sadar mulai mengikuti langkah Kiba. Pria itu menariknya pelan, dan membuatnya tak memiliki alasan untuk menolak. Kalau sudah menyangkut seseorang yang disebut ibu, ia merasa luluh. Ya... biar saja ia menyanggupi ajakan ini. Kalaupun Kiba berbohong, ia tak akan segan-segan menendang kepalanya, kalau bisa sampai hancur sekalian.
.
.
Ino tak mengerti mengenai acara makan malam ini. Apakah ini semacam acara ulang tahun? Atau sebuah acara perayaan kecil-kecilan. Tapi jika memang begitu, kenapa hanya ia yang diundang? Kenapa Shikamaru yang bahkan tetangga apartemen Kiba tak ada di sana?
"Aku sengaja memasak banyak untukmu, sayang." Tsume tersenyum melihat keterkejutan si gadis pirang. Menatap putranya dan gadis itu secara bergantian. Entah ia tak paham dengan sikap mereka, namun kali ini tampaknya keduanya tampak cukup canggung.
Apa-apaan itu? Sengaja memasak untuk Ino? Hei... kenapa ibunya seolah lebih mengistimewakan gadis itu dibanding dirinya? Ini menyebalkan. Dan Kiba hanya bisa merengut suntuk, sekaligus berharap ia tak menjadi seseorang yang diabaikan di acara makan malam yang seharusnya hanya ia lakukan dengan sang ibu.
"Bibi... kau baik sekali." Ino tersenyum, mengusahakan dengan keras supaya senyumnya tidak terlihat palsu.
"Panggil aku, ibu. Dan jangan sungkan, sayang. Karena kau akan menjadi menantu kesayanganku." Kebahagiaan wanita itu tampaknya terlalu besar, hingga tak menyadari perubahan raut Kiba dan Ino.
Pemuda itu bahkan nyaris memekik. Demi Tuhan, ia berharap sekali ibunya tak akan membuat hubungannya dengan Ino makin memburuk. Pasalnya Ino sedang berbaik hati padanya, ia takut jika gadis itu tiba-tiba marah dan menceramahi ibunya mengenai banyak hal. "I-ibu... jangan bicara seperti itu." Sulit sekali untuk melepaskan suara, seolah pita suaranya mendadak terpotong.
"Tidak perlu malu begitu, Kiba. Karena Ino pasti mau menikah denganmu. Iya kan sayang?"
Ino susah payah tetap mempertahankan senyumnya, bahkan ketika kalimat wanita itu nyaris membuatnya ingin lari ke seberang benua. Menikah dengan Kiba? Ugh... lupakan saja. Namun, entah kenapa melihat kebaikan hati si Nyonya Inuzuka membuatnya hampir menggumamkan kalimat 'ya'. Apa benar karena wanita itu, atau ia memang telah menyukai... oh abaikan itu. "Bi-maksudku i-ibu. Aku dan Kiba..."
"Itu masih lama bu, dan tolong jangan mengucapkan apapaun yang belum diketahui kepastiannya." Kiba tahu Ino tak memiliki jawaban apapun untuk diucapkan. Ia menebak gadis itu terlalu ragu untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Ya... ia tidak bisa membongkar rahasia mereka sekarang, karena itu akan merusak mood sang ibu.
Tsume tertawa pelan, suara tawanya mengalun lembut, hingga Ino pikir ia tengah mendengar suara dari alam lain. Wanita ini adalah ibu idaman, namun cara Kiba menganggap sang ibu sebagai wanita cerewet tukang ceramah benar-benar keterlaluan.
"Baiklah, baiklah... mari kita lupakan percakapan barusan. Ku lihat wajah kalian sama-sama merona." Dia mulai mengambil nasi, dan tak lagi berusaha bercanda.
Diam-diam Kiba mengalihkan perhatiannya pada Ino yang tak henti-hentinya memandang sang ibu. Kenapa gadis itu? Apa yang coba Ino perhatikan dari ibunya? Pelan ia menghela napas. Ingin sekali mengatakan 'maaf' saat ini juga, tapi sepertinya ini bukanlah waktu yang tepat.
Andai tidak ada sang ibu, mungkin mereka akan menghabiskan waktu dalam keadaan canggung yang memuakkan. Dan membiarkan waktu seolah tak ada gunanya lagi untuk dinikmati bersama.
.
.
Makan malam bersama keluarga Inuzuka telah selesai beberapa menit yang lalu. Ino sempat membantu Tsume untuk membereskan meja makan dan mencuci piring. Dan kali ini ia baru saja pamit pulang. Buru-buru keluar dari apartemen tersebut ketika Tsume dengan kemauan keras menyuruh Kiba untuk mengantarkannya. Andai Kiba tak membuat moodnya buruk, mungkin ia akan mengiyakan dengan senang hati. Tapi kali ini lain, dan ia sedang tak ingin berinteraksi lebih banyak dengan pemuda itu.
Kakinya mulai menapak menuruni tangga, berharap bisa lebih cepat dari pada langkah Kiba. Namun, ketika ia baru saja sampai di depan bangunan apartemen ia mendadak bertemu Shikamaru.
Pria itu menatapnya ganjil, apalagi ketika mendapatinya malam-malam begini berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya.
"Ino?"
Gadis itu menghela napas panjang, mau tak mau ia tetap berhenti. Menatap si pemuda Nara sekilas sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan.
"Kau dari mana?" Pemuda itu berjalan semakin mendekat. Wajahnya mengguratkan sejuta tanda tanya, apalagi ekspresi Ino yang sangat tampak tak baik-baik saja.
"Harusnya aku yang tanya begitu padamu." Ino tak suka diinterogasi, dan suasana hatinya yang buruk menambah sebal segalanya.
Nara muda itu memutar bola matanya, ini bukan Ino yang ia kenal, seolah gadis itu telah berevolusi menjadi makhluk lain yang cuek dan menyebalkan. "Tentu saja kencan, memang kau yang mendadak jomblo karena pacarmu kedapatan selingkuh?"
Ino tak bergeming, melotot kesal ke arah lawan bicaranya. Ia tak main-main soal sakit hatinya kali ini. Dan berharap sekali bisa menonjok pemuda itu sampai terjengkang ke belakang.
Kekehan pelan terdengar dari bibir tipis Shikamaru, agaknya ia ingin mencairkan suasana. Awalnya ia pikir Ino akan tertawa dan membalas candaannya, tapi dugaannya salah besar. "Oke... aku bercanda, tidak perlu marah begitu. Kau membuatku takut."
Sejujurnya Ino ingin segera pergi dari tempat itu, mengabaikan Shikamaru yang entah kenapa berubah menjadi sosok yang menyebalkan. Tapi... tidak tahu kenapa kakinya tetap menapak di tempat dan tak berpindah kemana pun.
Suasana canggung seperti ini tak pernah terjadi dalam hubungan pertemanan mereka yang telah terjalin bertahun-tahun lamanya. Dan kali ini sangat-sangat aneh ketika untuk pertama kalinya hal semacam ini meracuni hubungan mereka. "Hei.. aku-"
"Shika..." tatapan Ino mendadak melembut.
"Ya?" Ia bingung, sebab perubahan sikap Ino ternyata lebih ekstrim dari perubahan cuaca akhir-akhir ini.
Tak peduli dengan banyaknya orang yang lewat di sekitar mereka. Atau suara kendaraan yang menderu mengganggu. Ia menganggap hanya ada dirinya dan Shikanaru di tempat itu. "Jika hari itu aku tak menyanggupi permintaanmu untuk menghiburnya, apakah semuanya akan tetap sama seperti ini?"
Shikamaru diam, setengah tak mengerti dengan apa yang tengah gadis itu tanyakan. Ia merasakan sesuatu yang aneh tengah menimpa Ino, dan ia mendadak merasa bersalah. "Entahlah." Ada sesuatu yang menyeruak dalam pikirannya, dan ia mulai paham. "Ku rasa tidak. Dan kau tidak akan pernah lepas dari pengaruh si Shimura itu." Seolah mengatakan nama 'Sai' sesulit menjabarkan rumus kalkulus yang rumit.
Kiba hadir dalam hidupnya tanpa ia rencanakan. Dan hubungan awal mereka yang hanya sebuah candaan pada akhirnya mulai memabawa karma untuknya. Akhir-akhir ini pemuda Inuzuka itu memenuhi tiap jengkal pikirannya tanpa memberi sisa pada siapapun, bahkan Sai sekalipun. Dan... ya, Kiba membuat bayang-bayang Sai yang semula setinggi tiang listrik perlahan hilang.
Mereka tak mengetahui jika seseorang tengah mendengarkan percakapan mereka. Dan mencoba mengartikan apa yang mungkin dibicarakan dua orang itu.
.
.
"Berhenti mengikutiku!" Ino menghentikan langkahnya, ia berbalik secara tak sabar untuk bisa menghadap tepat ke arah lawan bicaranya.
Kiba berdiri beberapa meter di hadapannya. Tampak santai dengan tatapan datar. Tak peduli bahwa tatapan si gadis seolah bisa menembus tulang rusuknya. "Ibuku yang menyuruhku, dan aku tak bisa mrngingkarinya."
Jalanan di sekitar mereka benar-benar tampak sepi. Entah pukul berapa sekarang, dan tidak bagus bagi seorang gadis keluyuran sendirian di jalanan srperti ini. Bagaimana jika Ino diculik? Atau... oh hei...memang siapa yang mau menculik gadis cerewet dan judes seperti si Yamanaka ini?
"Aku bisa pulang sendiri." Sejujurnya ia nyaris tak mampu menatap iris karamel milik Kiba. Ada sesuatu yang membuat hatinya sakit, dan seolah bayangan Hianta tercetak jelas dalam kubangan mata si pemuda. Benar-benar memuakkan.
"Aku tidak bilang jika kau tak bisa pulang sendiri. Aku cuma menjalankan perintah ibuku, dan dia bilang ini mutlak." Itu benar, ia tak berusaha menyangkal. Namun, ada sebagian sisi hatinya yang begitu mengkahawatirkan gadis itu. Maka, ia tidak akan merasa lega jika belum memastikan Ino sampai rumah dengan selamat.
Ada helaan napas sebal yang berasal dari Yamakana muda. Rambutnya yang tergerai bergoyang pelan karena tertiup angin malam. Meski udara terasa cukup dingin, namun Ino entah bagaimana merasa tubuhnya seolah mendidih karena amarah. "Jika itu adalah kemauan ibumu, kenapa kau tidak pergi saja ke rumah temanmu atau kemanalah, lalu berpura-pura jika kau telah mengantarkanku sampai rumah?"
Kiba semakin mendekat ke arah si pirang, tak peduli jika gadis itu enggan sekali dekat-dekat dengannya. "Sejak kapan membohongi orang tua itu baik? Aku tidak akan pernah menyalahi amanat ibuku."
Oke, Ino menyerah. Dan membiarkan Kiba berjalan di sampingnya. Lagipula jika dipikir-pikir lagi, tidak masalah juga membiarkan pria itu menemaninya pulang. Sebab, jalanan yang ia lewati kali ini benar-benar tidak bisa dianggap aman. Beberapa orang pernah mengalami kejadian tak mrnyenangkan seperti dirampok, diculik, dan dibunuh secara sadis. Ia tak ingin mengalami nasib buruk seperti mereka.
"Aku juga ingin minta maaf." Kiba cuma menduga jika saat ini adalah waktu yang pas untuk mengungkapkan segala unek-unek yang yang bertumpuk dalam hatinya selama beberapa hari ini.
Ino tetap diam, melangkahkan kakinya pelan. Tampak berat sekali, seolah seseorang baru saja mempekerjakannya untuk menjadi seorang tukang antar pizza. Oke, itu berlebihan. Dan Ino juga merasa dirinya tidak sebegitu menyedihkannya.
"Oke, aku tidak memaksa jika kau tidak ingin memaafkanku. Tidak masalah." Pemuda itu mulai bersiul pelan, tetap berjalan di samping si gadis. Bahkan ketika gadis itu tak peduli padanya.
TBC
Tinggalkan review ya :)
