Hello everyone! CHAP 7 IS HERE!

It has been a month right? Huftt.. Sorry all. Maaf buat keterlambatan updatenya, soalnya akhir-akhir ini Soori sibuk ._. Maapin ya semuanyaa... *deep bow* Nahh! Ini chap yang panjang buat kalian semua. Kekee~ Just read, enjoy, and leave comment please. Happy reading!

Title : Christmas Love

Rate : T

Cast : Jung Yunho x Kim Jaejoong -Yunjae- and many others

Disclaimer : Bukan milik author, hanya milik Tuhan, Orangtua mereka, Entertainment mereka dan diri mereka sendiri.

Warning : BoyxBoy, Yaoi, Boys Love, Typo(s), tidak sesuai EYD, alur berantakan, dan lainnya.

Chap 7-We Are On Date!

.

.

.

Hening...

Kesunyian tampak mendominasi keadaan sekitar. Tak sedikitpun suara terdengar, selain hembusan angin dingin yang menyapa indera perasa, diiringi deburan ombak yang bergulung-gulung kecil di tepi pantai. Suasana canggung yang terjadi malah semakin menjelma di antara keheningan yang mengalun.

Setelah terdiam begitu lama, Yunho mulau bergerak. Ia menarik nafas panjang, mempersiapkan dirinya melangkah pada step akhir. Yeah. This is the last step! Hanya sisa satu langkah lagi. Satu langkah terakhir yang perlu dilewatinya untuk menjadikan Jaejoong miliknya, hari ini juga. So, there he go...

Dengan senyum menawan yang mengukir wajah rupawannya, Yunho berucap pasti. "Would you be mine, Kim-Jae-joong?" Pertanyaan itu lolos dari bibir hatinya dengan lancar tanpa halangan.

Jaejoong's POV:

Aku memejamkan mataku dalam-dalam, tak siap untuk mendengar kata-kata itu. Seolah aku sudah tahu apa yang akan dikatakan Yunho. Namun aku takut. Aku tak siap. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat kata itu meluncur keluar. Aku terlalu gugup.

"Would you be mine, Kim-Jae-joong?" Terdengar suara Yunho.

Deg!

Itu! Itu dia kata-kata yang ia pikirkan sedari tadi. Jadi Yunho telah mengatakannya? Aku menggigit bibir bawahku gugup. Sangat gugup. Apa... barusan aku benar-benar mendapatkan... sebuah pernyataan cinta? Dari Yunho?

DEG

DEG

DEG

Suasana sekitar yang terlalu sepi hingga memungkinkanku mendengarkan detak jantungku sendiri. Ughh... Dadaku langsung berdesir aneh membawa perasaan bahagia yang sulit digambarkan. Jantungku terus berpacu hebat bagai berada dalam pertandingan final balapan dunia. Kenapa rasanya begitu aneh? Untuk sesaat aku termangu, terdiam tanpa kata. Demi apapun, saat ini aku tak dapat berpikir jernih. Aku bukan hanya kehilangan kata-kata, namun juga akal sehatku yang sepertinya tak mau berfungsi normal saat ini. Bagaimana tidak, kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telingaku. Bisa gila aku!

'Would you be mine, Kim-Jae-joong?'

Apa maksudnya?

Be mine?

Ahhhhhhh!

What to do?!

Oh gosh!

Berbagai pikiran terus merayapi benakku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan? Otak ayo bekerja! Cepat berpikir!

Jaejoong's POV end.

Masih dalam keheningan yang sama...

Setelah jeda sesaat yang terasa bagai berabad itu, Jaejoong mulai bersuara.

"Aku..." Bibir ceri itu mulai bersuara lemah.

Mata doe itu mendongak, menatap langsung mata musang tenang nan menghanyutkan.

"A-aku tidak mau." Ucap Jaejoong sambil memasang wajah cueknya dengan cepat berbalik membelakangi Yunho.

Tidak mau?

Ssingg~

Angin berdesir aneh setelah pernyataan ketus Jaejoong. Yunho masih tampak memasang raut bodohnya. Otaknya masih belum memproses satu kata pun. Tak mengerti, mengapa kata 'Iya' yang ia harapkan masih belum muncul. Tak tahu atau mungkin tak sadar bahwa dirinya baru saja... ditolak? Ya, Di-To-Lak.

Wait. Wait. Waiiittt!

Ditolak?

Apa barusan dirinya ditolak?

Jederrr!

Bagai tersambar petir di siang bolong, ekspresi Yunho yang tadinya begitu berseri, kini tergantikan oleh raut muram setelah otaknya mencerna dengan sempurna penolakan Jaejoong.

Nyut.

Dadanya berdenyut sakit.

Jadi inikah rasa ditolak?

Hahhhh...

Yunho menghela nafas berat tanpa sadar, seolah tertimpa berton-ton beban beratnya di pundaknya. Untuk pertama kalinya ia menyatakan cinta dan untuk pertama kalinya pula ia ditolak. Mengapa dunia begitu kejam? Jiwa seolah runtuh bersamaan dengan kalimat penolakan yang dilontarkan tanpa belas kasih itu. Pilu. Perih. Sakit. Begitulah gambaran singkat perasaannya saat ini, begitu terluka hingga tak sepatah kata pun meluncur dari bibir hatinya.

Yunho masih terdiam dengan pikirannya yang bergejolak hebat. Saat... Jaejoong kembali berbalik dengan senyum yang berusaha ditahannya bahkan juga disertai... pipi putih yang bersemu samar? Entahlah. Penerangan cahaya semakin minim, akibat sang mentari yang telah lama beranjak dari tempatnya.

"Aku tidak mau... Tidak mau menolakmu." Tutur Jaejoong yang sontak membuat Yunho terkaget mendengarnya.

"Tidak mungkin aku menolakmu..." Jaejoong menggigit bibirnya menahan rasa gugupnya sebelum kembali melanjutkan, "Aku juga. Aku juga mencintaimu... Nado saranghae, Yunnie..." Ucap Jaejoong malu-malu dengan wajah yang telah memerah sempurna.

Yeah! That's it! Dengan susah payah akhirnya Jaejoong mampu mengucapkan kata-kata keramat yang nyaris membuatnya ingin mengubur dirinya hidup-hidup saat ini. Kenapa? Karena rasanya malu sekali. Ugh... Nado Saranghae? Benar! Jaejoong juga merasakan hal gila yang seperti yang dikatakan Yunho. Memang awalnya ia tak mengerti akan semua tanda-tanda cinta yang ditunjukkan hatinya. Namun seiring waktu semuanya jelas sudah. Yunho telah menyatakan perasaannya. Begitu juga seharusnya ia. Karena itu dirinya tak dapat menampik kenyataan bahwa ia juga mencintai Yunho.

Dan kembali ke keadaan Yunho... Yunho? Ia masih terlalu shock untuk sekedar berkata. Tak mengerti sedikitpun apa yang sedang terjadi saat ini. Benar-benar clueless.

Apa Jaejoong barusan sedang bercanda? Apa Jaejoong serius menerimanya? Apa itu artinya Jaejoong juga mencintainya? Apa Jaejoong juga mengakui perasaannya? Apa Jaejoong...? Apa..? Dan banyak lagi pertanyaan tanpa jawaban yang berlalu-lalang dalam benaknya.

Nado saranghae, Yunnie.

Cukup satu kalimat itu saja, semua pertanyaannya terjawab sudah. Kata-kata indah sarat makna itu terus terngiang di telinganya hingga menyadarkannya kembali ke dalam alam nyata. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan 'kan? Jadi Jaejoong juga mencintainya? Yeah. Omo!

Belum sadar betul akan keterkejutannya, Yunho kembali menerima kejutan lainnya. Apa itu?

Terlihat Jaejoong yang melangkah pelan mendekati Yunho, sedikit berjinjit untuk menyamakan wajahnya dengan Yunho, dan...

Cupp~

Bibir plum Jaejoong didaratkan tepat pada pipi tan Yunho.

Kiss?

Jaejoong mencium Yunho?

Oh!

My!

God!

Yunho terkesiap kaget saat menyadarinya.

Apakah ini mimpi? Tidak mungkin! Ini terlalu nyata untuk menjadi mimpi. Kalaupun ini hanya mimpi, ia ingin tidur selamanya agar tak terjaga dari mimpi indah ini. Namun ini adalah kenyataan. Kenyataan indah yang membuatnya serasa terbang di langit ketujuh. Begitu bahagia. Bahkan ia ingin menghentikan waktu sejenak. Menikmati indahnya suasana bahagia bersama Jaejoong. Terlalu bahagia hingga tak kunjung sadar dari pikiran sendiri, namun suara lembut itu datang menjemputnya kembali ke dalam alam nyata.

"Yun-" Jaejoong mengkerutkan dahinya bingung melihat Yunho yang diam tak bereaksi, namun panggilan terpotong langsung oleh aksi Yunho berikutnya.

Grepp

Huggg

Dalam sekali tarikan, Yunho membawa tubuh mungil Jaejoong dalam pelukan hangatnya.

"Gomawo. Jeongmal gomawo... Saranghae boo." Yunho membisikkan suara bass-nya tepat pada telinga kiri Jaejoong. Ia ingin berterima kasih untuk segalanya. Untuk menjadi hadir dari hidupnya. Untuk menjadi yang terindah baginya. Dan untuk menerima cintanya.

"Nado." Balas Jaejoong dengan tersipu-sipu.

Dengan ini, keduanya dinyatakan sah menjadi sepasang kekasih.

Keduanya saling berpelukan erat, enggan saling melepaskan. Hanya berbagi kehangatan satu sama lain di tengah dinginnya udara malam yang bertebar bintang, dirasa sudah cukup bagi keduanya. Mungkin ini akan menjadi salah satu momen indah yang akan terus terkenang bagi keduanya. Tak akan ada lagi kebahagiaan lain selain kebahagiaan yang tengah dirasakan keduanya saat dunia mereka serasa dijungkirbalikan oleh cinta yang begitu indah ini.

Selama beberapa waktu berikutnya, pasangan baru ini hanya menghabiskan petang dengan berpelukan erat, berusaha menyesap sedalam-dalamnya aroma memabukkan masing-masing pasangan tanpa niat melepaskannya barang sedetik.

Sreettt...

Tiba-tiba Yunho melepas pelukan mereka yang malah mengundang tatapan heran Jaejoong.

Yunho hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Jaejoong sambil merogoh sesuatu-yang menganggu sesi berpelukan mereka-dari saku mantel cokelatnya segera.

Lagi dan lagi, Jaejoong makin menampakkan raut penuh tanda tanyanya saat melihat senyum sirat akan teka-teki tersembunyi milik Yunho.

Kling~

Sebuah kalung liontin berkilau tergantung di antara sela-sela jari tangan Yunho.

Dengan langkah pasti, Yunho mendekati Jaejoong untuk mengalungkan liontin indah dalam genggamannya.

"I-ini... apa?" Tanya Jaejoong bingung tanpa dapat mengalihkan pandangan kagumnya dari kalung liontin yang tergantung pada leher jenjangnya. Sebuah kalung blue sapphire bertabur permata dimana jika liontinnya terbuka maka akan menampilkan ukiran inisial indah di dalamnya. Di keping kiri bertuliskan Y dan kanannya bertulis J. Itu adalah inisial mereka. Y untuk Yunho, dan J untuk Jaejoong.

"Ini?" Yunho bertanya sambil menarik dagu Jaejoong dengan tangan kanannya agar pandangan mata doe itu beralih pada mata musang miliknya.

"Ini adalah segel." Jawab Yunho singkat.

"Segel?"

"Ya. Ini adalah hadiahku untukmu. Sepasang kalung liontin yang kupesan khusus dari seorang pendesain kalung terkenal di Eropa. Simpanlah dengan baik. Karena ini adalah segelku padamu agar kau tidak berpaling dariku dan untuk membuktikan kau hanya milikku seorang. Kim Jaejoong hanya milik Yunho seorang." Titah Yunho mutlak.

Jaejoong terpana akan kata-kata Yunho. Ia telah disegel? Artinya sekarang ia adalah milik Yunho seorang? Gotcha! Itulah maksud Yunho. Jaejoong tersenyum-senyum sendiri.

"Eh? Sepasang?" Tanyanya saat teringat kalimat Yunho.

Yunho yang mengerti maksud Jaejoong, tak berkata sepatah pun, namun malah sedikit membuka mantelnya untuk menarik turun sweater abu tebalnya hingga menampilkan sebuah kalung yang sama persis dengan yang dipakai Jaejoong. Liontin pasangan.

"Jadi kau adalah milikku mulai sekarang, begitu juga denganku. Karena kita memiliki segel yang sama, arrayo?" Yunho tersenyum lembut pada Jaejoong.

"Ne." Angguk Jaejoong lucu yang mengundang kekehan dari Yunho yang gemas akan tingkahnya.

"Tapi..." Yunho kembali berubah serius.

Jaejoong kembali menatap Yunho dengan pandangan bingung untuk kesekian kalinya.

"Itu bukan segel asli."

"Hah?" Jaejoong mengerutkan dahinya bingung.

"Segel aslinya adalah..." Yunho menggantung ucapannya, lalu...

Grep

Yunho menangkup kedua pipi pucat Jaejoong.

"Ini."

Dan setelahnya sebuah adegan yang tak pernah terkira oleh Jaejoong yang polos ini pun terjadi.

Kissing!

Yunho mencium Jaejoong. Tepat di bibirnya. Bibir hati Yunho bertemu bibir ranum Jaejoong.

Chuuu~

Yunho menekan bibirnya lembut pada milik Jaejoong. Awalnya niatnya hanya mencium bibir itu sekilas-alias hanya sekedar menempelkan bibirnya-namun dasarnya bibir Jaejoong begitu menggiurkan baginya, tak heran ia malah tergoda untuk meminta lebih. Maka jadilah bibir hati itu semakin menekan lebih dalam pada bibir merah menggoda itu, menyesap rasa manis yang sudah sejak lama ingin dcicipinya sesaat, sebelum kembali menarik dirinya, memutus tautan bibir keduanya.

Jaejoong terdiam kaku ditempat. Kaget? Jelas. Namun perasaan menyenangkan langsung menghiggapinya, hatinya begitu berbunga-bunga, dengan kupu-kupu yang serasa menggelitikinya. Tanpa sadar tangan kanannya terangkat menyentuh tempat dimana ia baru saja kehilangan ciuman pertamanya.

Right!

His First Kiss.

No! It's theirs!

Yeah... Sebenarnya Yunho juga belum mendapat first kiss-nya.

xxxxxxxxxx

Kini keduanya telah berada dalam mobil mewah nan nyaman untuk kembali dalam perjalanan menuju destinasi berikutnya.

"Jadi, kemana kita sekarang?" Tanya Yunho masih dengan pandangan yang terfokus pada jalanan di hadapannya.

"Eum... Bagaimana kalau kita ke Myeondong? Aku ingin melakukan street date!" Seru Jaejoong girang.

"Geurae? Okay!" Yunho segera memacu mobil mewahnya membelah keramaian kota malam hari.

.

.

.

Myeondong, 19.13 KST

Sebuah jalan yang padat akan keramaian terbentang di hadapan keduanya. Namun keramaian sepertinya tak menjadi penghalang bagi acara kencan kedua couple baru ini. Keduanya menyusuri jalan dengan langkah pelan, saling bertukar canda tawa, saling menggenggam erat tangan satu sama lain, berjalan ringan di tengah jalan yang dikelilingi kios-kios kecil yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri jalan.

"Yunnie-ah! Aku mau es krim!" Rengek Jaejoong sambil mengayunkan-ngayunkan lengannya sendiri yang berada dalam genggaman hangat Yunho.

"Es krim? Kajja!" Yunho berjalan sambil merangkul pundak Jaejoong posesif, menerobos kepadatan pejalan kaki yang tengah berlalu lalang di sekitarnya, menuju sebuah kedai es krim terkenal yang berjarak beberapa meter dari keduanya.

Saat ini, Yunho dan Jaejoong tengah mengantri di salah satu counter es krim. Saat mata Jaejoong tanpa sengaja menangkap sesosok gadis kecil berwajah pucat pasi di seberang tempatnya berdiri. Tatapan Jaejoong berubah iba seketika saat melihat keadaan sang gadis yang tampak begitu lemah dengan tubuh ringkihnya diatas kursi roda berbalut daster soft pink beranimasi minnie mouse. Sang gadis tampak tertawa lepas membuat paras cantiknya semakin terlihat saat seorang lelaki yang mungkin adalah kakaknya bercanda ria dengannya. Lama Jaejoong memandangi sosok gadis itu hingga sang objek pun menoleh padanya. Mata gadis itu menatap balik mata doe Jaejoong yang tampak sendu sekaligus perihatin akan keadaannya. Namun sang gadis hanya tersenyum simpul mengerti akan tatapan yang diberikan Jaejoong-yang mungkin sudah sering diterimanya dari orang lain-.

"Jae, bagaimana kalau paket jumbo ice cream chocolate waffle?" Tanya Yunho sambil membolak-balik menu yang ada di hadapannya.

Tak mendengar sahutan ataupun respon dari sang kekasih membuatnya menoleh dan malah mendapati Jaejoong yang terpaku pada seorang gadis kecil berwajah pucat yang asik melahap es krim ukuran mini dengan ditemani seorang lelaki di sisinya.

Perasaan aneh langsung menguar kental begitu menatap sang gadis. Bukan karena cemburu karena gadis itulah yang menjadi objek tatapan Jaejoong, namun sang objek yang ditatap kekasihnya itulah yang menjadi penyebab timbulnya perasaan aneh itu. Gadis itu... Ya, gadis pucat yang sedang duduk di atas kursi roda itu. Gadis itu mengingatkannya akan seseorang...

HEG!

Entah mengapa ia serasa tertohok sendiri saat mengingat seseorang yang tampak mirip dengan objek pengamatannya saat ini. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah, merasa berkhianat, bahkan juga merasa seolah dirinya tengah berselingkuh dibalik seseorang yang sedang ia relasikan dengan gadis pucat di seberangnya ini. Seseorang yang dimaksudnya adalah Yoona, sang tunangan yang mungkin masih belum tahu menahu soal status Yunho yang telah berubah sejak saat ini.

Yeah. Jangan lupakan status Yunho yang masih sah sebagai tunangan Yoona. Tapi bagaimana mungkin seseorang yang telah bertunangan malah asik bermesraan dengan orang yang bukan tunangannya sendiri? Ya, kenapa ia malah asik berkencan dengan Jaejoong, yang baru saja ia klaim sebagai kekasihnya, sedangkan dirinya sendiri sudah berstatus sah sebagai milik orang lain? Apa jadinya jika Jaejoong mengetahui statusnya aslinya? Dan bagaimana pula nasibnya jika tertangkap basah berselingkuh oleh Yoona? Apa yang akan terjadi jika kedua orang yang memiliki hubungan terikat dengan Yunho ini, suatu saat nanti mengetahui kenyataan yang disembunyikan Yunho?

Yunho langsung menggelengkan kepalanya kuat, berusaha menghalau berbagai kemungkinan buruk yang terjadi jika segalanya terungkap. Bukannya ia tak pernah memikirkan resiko yang harus dihadapinya dengan status gandanya ini, namun selama ini ia hanya berusaha menepisnya sejauh mungkin selagi ia mencari jalan keluarnya. Maka ia tak mau kenyataan itu terungkap sekarang. Tidak secepat itu. Tapi bukan berarti ia akan terus menyembunyikannya. Tidak. Ia akan menyatakannya sendiri, walau bukan sekarang. Karena jujur ia masih tak siap akan menerima segala kemungkinan buruk yang tentu akan berdampak parah bagi hubungannya dengan Jaejoong maupun Yoona.

"Yun... Yunnie..." Panggil Jaejoong sambil mengguncang-guncangkan lengan Yunho.

Diam.

Yunho masih membeku di tempat, terlalu larut dalam pikirannya sendiri.

"Yunnie!" Kali ini panggilan Jaejoong mampu menyeret Yunho kembali dari lamunannya.

"Ah! Wae?"

"Tsk." Jaejoong berdecak sebal melihat reaksi yang diberikan sang kekasih.

"Kenapa kau belum pesan, Yun?" Tanya Jaejoong ulang.

"Oh..." Yunho memalingkan wajahnya dari Jaejoong dan segera memesan saat bertemu pandang dengan pelayan pria yang menampakkan raut kesalnya-mungkin akibat terlalu lama menunggu-.

"Satu paket jumbo ice cream chocolate waffle." Lafal Yunho lancar.

"Baiklah." Detik berikutnya jari-jari kurus sang pelayan langsung menari-nari dengan lincah di atas tuts-tuts keyboard di hadapannya, mencatat pesanan Yunho.

xxxxxxxxxx

Yoona's Side

Im Yoona, sang yeoja ringkih yang menjadi objek lamunan Yunho beberapa waktu yang lalu, kini sedang berbaring sendirian dalam kamar rawatnya dengan pandangan kosong berkelana. Ia tampak melamun sedari tadi.

"Aish... Ada apa denganku?" Akhirnya setelah vakum yang cukup lama, ia bersuara kesal.

"Hahh... Ige mwoya...?" Ia bertanya sendiri dengan wajah bingung.

"Nan Micheoseo..." Yoona mengacak-ngacak surai panjang kecokelatan miliknya.

Selanjutnya ia kembali terdiam dalam pikirannya sebelum berteriak putus asa. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi." Yoona mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk dengan beberapa bantal sebagai sandarannya.

"Ini salah... Tapi..."

Yoona memegang dadanya tepat dimana jantungnya berada, merasakan debaran tak biasa di dalam sana. Wajah tampak bingung penuh teka-teki saat tak mendapat jawaban pasti dari apa yang dirasakannya saat ini. Ia termenung dalam diam sejenak.

"Andwae. Ini tidak benar." Ekspresinya berubah semakin murung.

"Aigoo... Yunho oppa... Apa yang kau lakukan padaku?" Keluhnya.

Yunho oppa?

Ya. Orangnya yang dipikirkannya saat ini adalah Yunho. Jung Yunho.

"Kenapa wajah oppa terus muncul dalam kepalaku? Kenapa aku terus memikirkanmu? Kenapa jantungku berdebar seperti ini? Kenapa? Kenapa?!" Tanyanya frustasi.

"Ada apa ini? Kepalaku sakit sekali karena terus memikirkanmu sejak tadi."

"Jadi... Tapi mungkinkah aku...?" Tanyanya ambigu. Ekspresi berubah layaknya orang yang sedang serius berpikir, namun detik berikutnya ia malah terlihat kesal sendiri. "Walau kemungkinan itu ada. Aku tetap tak boleh jatuh padamu, JUNG!"

"Tidak! Tidak akan!"

"Tapi kenapa aku terus berdebar seperti ini? Aku yakin, seyakin-yakinnya bahwa yang kurasakan ini bukan serangan yang biasa kualami. Ini berbeda."

"Apa aku benar jatuh cinta?" Ia menyimpukan sendiri dengan wajah sendunya.

"Mungkinkah aku telah jatuh dalam pesonamu, Jung Yunho?" Tanyanya pada udara kosong di hadapannya.

"Tapi... Itu artinya... Aku melanggar janji 'kan?

Yoona menatap nanar handphone dalam genggamannya, lebih tepatnya menatap lekat wallpaper yang terpajang indah di sana. Foto dirinya yang berbalut gaun biru muda anggun sebatas lutut dengan seorang namja tampan bersetelan tuxedo hitam yang berdiri disisinya. Itu adalah foto pertunangannya dan Yunho. Foto Yoona dan Yunho yang tersenyum manis di hadapan kamera. Ia tersenyum miris mengingat momen yang mungkin tak akan pernah terjadi lagi. Sebab semuanya hanya akan berakhir sampai pada jenjang pertunangan saja, tidak akan ada pernikahan di antara keduanya. Mereka telah terikat perjanjian satu sama lain. Maka ia pun harus memegang teguh janjinya sendiri. Bagaimanapun janji tetaplah janji sampai kapanpun.

xxxxxxxxxx

"Uhh... Kenapa kau cuma pesan satu cup?" Keluh Jaejoong, masih sibuk menyendok es krim dalam cup besar yang ada dalam genggaman Yunho.

"Bukankah satu cup berdua terkesan romantis, huh?" Tanya Yunho polos.

"Apanya yang romantis? Aku tidak akan kenyang kalau cuma makan sekecil ini." Jaejoong lagi-lagi mengeluhkan ukuran es krimnya-yang memang sudah dikomplainnya sejak tadi begitu Yunho selesai memesan-dengan menambah pose pouting khasnya.

Yunho terkekeh geli melihat tingkah namja cantik yang telah berstatus sebagai kekasihnya itu.

"Hey! Jangan cemberut dong boo. Aku akan belikan yang baru nanti." Bujuk Yunho.

"Shireo! Aku maunya sekarang. Se-ka-rang. Titik." Rengek Jaejoong, tambah mempoutkan bibir imutnya.

"Oke. Oke. Tapi tak usah manyun gitu dong. Ingin dicium, hah?" Canda Yunho disertai smirk andalannya.

"Mwo? Hah... Memangnya Yunnie berani eoh?" Jaejoong tertawa meremehkan.

Yunho mengerutkan keningnya, "Kenapa tidak?"

"Karena... Ehm... di sini ada banyak ora-"

Grepp

Dalam sekejab mata, Jaejoong telah berpindah posisi di hadapan Yunho dengan tangan sang kekasih yang melingkari pinggang rampingnya. Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan... yang err.. lapar?

Lama saling bertukar tatap, sebelum Yunho semakin mendekatkan wajahnya pada Jaejoong-yang malah berubah panik akannya-, memperkecil jarak diantara keduanya.

5 inci...

3 inci...

2 inci...

1 inci...

Ugh! Terlalu dekat... Bahkan wajah Jaejoong sudah lebih dahulu memerah, entah karena malu atau mungkin karena ia sedang bersusah payah menahan nafasnya atau bahkan keduanya. Sedangkan sang pelaku hanya menenggerkan seringai andalannya, sebelum ia menghapus jarak di antara keduanya.

Chuuu~

Another kissing scene.

In the midst of the crowd.

Yunho menempelkan bibir hatinya pada bibir merah itu tanpa aba-aba, membawanya ke dalam ciuman intens yang memabukkan.

Ciuman itu berubah semakin dalam, saat bibir hati itu mulai menyesap bibir bawah Jaejoong rakus. Tak sampai di situ saja. Yunho bahkan sedikit menggigit bibir Jaejoong, menyebabkan sang empu membuka bibirnya saat memekik tertahan. Tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan lihainya organ tak bertulang belakang itu menyelip di antara celah bibir plum itu. Lidah Yunho bergerak-gerak lincah, mengabsen deretan gigi putih rapi nan terawat itu, menyesap rasa manis nan menggiurkan dalam rongga mulutnya, tak memperdulikan Jaejoong yang tak membalas aksinya walau lidahnya telah mengajaknya bertempur serta.

Akhirnya setelah beberapa menit durasi keduanya berada dalam adegan hot kissing, Yunho mulai melepaskan tautannya saat dirasa sang kekasih mulai meronta kehabisan oksigen.

Smirk~

Yunho tersenyum puas saat mendapati ekspresi shock Jaejoong.

Jaejoong? Yeah, Boojae-nya masih terdiam mematung terlalu kaget untuk bereaksi. Wajahnya memerah padam, dadanya naik turun tak beraturan sembari menyerap udara di sekitarnya.

Detik berikutnya...

Jaejoong malah semakin merona parah. Ia sudah sadar. Ya, sadar betul akan apa yang diperbuat namja yang baru menyandang status sebagai kekasihnya itu. Sang kekasih baru saja menciumnya. Di tengah keramaian. Dengan berpuluh-puluh pasang mata yang menjadi saksi adegan kissing pasangan kekasih itu. Dan tentu saja hal ini malah semakin membuat Jaejoong malu setengah mati. Bagaimana mungkin ia tidak malu? Berciuman di depan umum? Aishh! Betapa frustasinya ia mengingat ulah Yunho.

"Y-ya! Yun-Yunnie. Apa yang kau lakukan barusan?" Bisik Jaejoong dengan takut-takut. Takut mereka akan menjadi pusat perhatian lagi, kalau-kalau ia berteriak keras saat ini.

"Eh? Menciummu." Jawab Yunho jelas, singkat dan polos.

"Yack! Aku juga tahu itu. Maksudku kenapa kau menciumku... di sini?" Jaejoong bertanya, masih dengan suara yang mulai terdengar kesal namun sayangnya ekspresi sebalnya masih tertutupi oleh rona merah yang mendominasi pipi putihnya.

"Eum... Karena kau menantangku. Dan apa salahnya mencium kekasihku sendiri?"

"Ah... I-itu. Arghh... Te-tetap saja itu salah. Kesalahan besar!" Bantah Jaejoong tergagap.

Ugh... Kenapa ia tak mampu menyangkalnya? Tentu saja karena semua kalimat Yunho benar apa adanya. 'Apa salahnya mencium kekasihku sendiri?' Ya tidak salah, setidaknya tidak akan salah jika tidak dilakukan di hadapan publik seperti ini.

'Mau taruh di mana mukaku?' Batin Jaejoong malu saat mendengar perbincangan orang-orang disekitarnya yang malah menjadikan dirinya dan Yunho sebagai topik hangatnya saat ini.

Sedangkan Yunho? Dia malah tersenyum bangga. Tentu saja kejadian barusan bukanlah sesuatu hal besar yang perlu dipermasalahkan baginya. Tak memperdulikan berbagai bisikan-bisikan orang di sekitarnya mengenai dirinya dan sang kekasih. Bahkan Yunho malah semakin merangkul erat pundak Jaejoong di sisinya, membawanya melangkah menerobos keramaian yang masih menyayup-nyayupkan adegan kissing barusan.

"Aigoo... Apa aku baru melihat kissing scene? LIVE?!"

"Oh! Wow! So hot babe..."

"Ahh... Andai saja pacarku seperti dia."

"How sweet! Kyaaaaaaaa!"

"M-mwoya? Mataku ternoda!"

"Mereka cocok sekali! 'Nona' itu sangat cantik, pacarnya juga tampan! Kyaaaa!"

Upps! Bisikan yang terakhir itu...

Jaejoong seketika menekuk wajah cemberut. Kenapa? Karena ia merasa dirinyalah yang disebut 'nona', tak mungkin bukan kalau Yunho yang manly dan berotot itu yang disebut sebagai 'nona'. Ia kesal sekali. Bukannya ia tak senang disebut sebagai pasangan serasi, tapi.. 'Nona'? Oh ayolahh.. Semua orang tidak buta pasti tahu bahwa ia namja. Yah, setidaknya itulah persepsi Jaejoong, walau nyatanya apa yang dipikirkan orang lain sangat kontras dengan pemikirannya sendiri. Bagi orang lain, Jaejoong tampak seperti yeoja karena wajah cantiknya yang berlebih itu. Tak tahukah mereka, bahwa Jaejoong itu adalah namja asli? Hah... Jangan salahkan mereka yang salah paham, tapi salahkanlah wajah cantiknya yang membuatnya bahkan tampak lebih cantik dari yeoja asli. Poor Jaejoongie~

Jaejoong masih setia mempouting, sementara Yunho tak dapat menahan gelak tawanya saat melihat ekspresi Jaejoong.

"Wae?!" Tanya Jaejoong galak.

Masih tertawa kecil, Yunho berkata, "Ani. Kau tak apa 'kan, no-na?" Goda Yunho menahan tawanya yang siap meledak kapan saja.

"Yack! Kenapa kau jadi ikut-ikutan? Aku namja! Naega Namjayaaa!" Teriaknya kesal. Tanpa sadar teriakannya kembali menarik perhatian orang-orang yang malah tertawa kecil melihat tingkah kekanakannya. Jaejoong kembali mempoutkan bibirnya malu. Cutie~

"Shhh! Arrayo. Arrayoo~ Hanya bercanda boo." Yunho tersenyum menggoda, membuat Jaejoong kembali mendengus kesal.

"Tsk! Kau menyebalkan, Jung!" Decaknya, memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.

Yunho terkekeh kecil sebelum berkata, "Mian. Jeongmal mianhae, boo." Ucap Yunho masih terkekeh.

Namun tak ada sahutan, malah terdengar dengusan kesal. Kali ini Yunho sadar Jaejoong benar-benar marah padanya, buktinya ia malah mengarahkannya wajah cantiknya berlawanan dengan Yunho. Jaejoong tampak lebih memilih menatap toko-toko kecil yang berjejer di tepi jalan yang dilaluinya daripada wajah rupawan sang kekasih. Tentu saja ia kesal dengan Yunho yang bukan membelanya malah menggodanya. Ia sangat kesal saat orang-orang salah mengira dirinya sebagai yeoja. Jadi tak heran ia semakin kesal dengan godaan sang kekasih.

"Boo, mianhae. Ayolah maafkan aku. Aku tak akan mengulanginya lagi, eotte?" Yunho berekspresi memelas dengan tangan yang membentuk huruf V persis seperti seorang anak yang sedang berjanji untuk tak mengulangi lagi kenakalannya pada sang ibu.

Tak ada respon.

"Hm... Ini masih hari natal kan?" Pancing Yunho berha rap Jaejoong tertarik dengan umpan 'natal' yang disebutkannya, dan benar saja dugaannya. Jaejoong menoleh secepat kilat dengan wajah yang masih sedikit kesal tentunya. "Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf, aku menjadi Santa-mu hari ini? Aku akan memenuhi semua keinginanmu. Bagaimana? Setuju?" Sambung Yunho sambil bertanya.

"Um... Baiklah. Deal!" Nah! Jaejoong akhirnya termakan umpannya, wajah cantik itu menampakkan mimik bahagianya sebelum memasang tampang berpikir.

"Bagaimana kalau Santa Jung, mengabulkan permintaanku yang satu ini?" Jaejoong berjinjit untuk berbisik pada Yunho.

Yunho mengerutkan dahinya bingung, tak mengerti maksud dari permintaan Jaejoong. Namun tetap mengangguk demi memenuhi janjinya.

Jadi apa permintaan Jaejoong?

.

.

.

Myeongdong Cathedral, 23.49 KST

Kini sepasang kekasih ini telah berdiri di depan bangunan megah yang menjulang tinggi di hadapannya. Sebuah bangunan berarsitektur Eropa, dengan salib besar di puncak tertingginya, menandakan bahwa mereka sedang berada di depan sebuah gereja yang berlokasi di distrik Myeondong ini.

Jaejoong dengan penuh antusiasnya langsung menarik lengan Yunho melewati sebuah pintu besar berukiran rumit yang terpampang di hadapannya.

Tap

Tap

Tap

Derap langkah yang saling bersusulan terdengar sahut menyahut, menggema dalam ruangan sepi nan luas itu.

TAP

Jaejoong menghentikan langkah tepat setelah dirinya dan Yunho berdiri di tengah panggung kecil-tempat podium para pendeta berpidato-yang tersedia. Ia menatap ruangan disekelilingnya. Ruangan luas ditemboki dinding putih setinggi 75 kaki dari permukaan tanah dengan gantungan lampu kristal mewah yang meneranginya ini, berisi berpuluh-puluh kursi panjang yang berjejer di kedua sisi dengan karpet merah yang menjadi celah di antaranya, dan disertai pula jendela-jendela besar di berbagai sisi, tempat dimana sinar sang surya dapat menyelinap masuk saat pagi tiba. Ia menatap sekelilingnya dengan tatapan kagum. Sebuah gereja besar nan indah inilah tujuan utama Jaejoong, namun ini bukanlah permintaannya pada Yunho. Jadi apa permintaannya yang sebenarnya?

"Yunnie-ahh..." Suara terdengar begitu imut di telinga Yunho yang langsung berbalik menatap Jaejoong dengan senyum khasnya.

"Em... Sebenarnya ini bukan permintaanku yang sesungguhnya."

"Jadi?" Yunho memasang wajah penuh tanda tanyanya.

"Jadi... Keinginanku sebenarnya adalah... Aku ingin melakukan pengharapan di sini bersamamu."

"Pengharapan?" Tampang bodoh Yunho malah semakin menjadi di tengah ketidaktahuannya.

"Ne. Menurut legenda, jika kita mengucapkan harapan kita tepat jam 12 nanti, maka segalanya pasti akan terwujud."

Yunho hanya mangut-mangut tanda mengerti.

"Lihat! Beberapa menit lagi akan jam 12!" Jaejoong berseru.

Yunho hanya tersenyum kecil melihatnya.

"Nanti begitu jam utama gereja berdentang, cepat-cepatlah berdoa dan ucapkan permintaanmu sebelum dentang ke-duabelas berakhir, oke?" Jaejoong memberi pengarahan layaknya seorang guru yang menerangkan pelajaran kepada muridnya.

Sedangkan sang murid tampan-Yunho-hanya mengangguk patuh.

Tepat beberapa menit setelahnya, jam besar yang ada dalam gereja megah itu pun berdentang.

TENG

TENG

TENG

Jaejoong menarik nafasnya dalam, sebelum merangkapkan kedua tangannya membentuk sebuah kepalan tangan. Ia menunduk dalam untuk berdoa sambil mengutarakan permintaannya dengan sungguh-sungguh. Begitu juga dengan Yunho yang berdiri di sisinya.

Sebelum dentang yang ke-duabelas berbunyi, keduanya telah sukses mengucapkan permintaan masing-masing, meninggalkan Jaejoong yang tampak berseri-seri dengan ekspresi bingung Yunho saat menatapnya.

"Lalu, apa harapanmu?" Suara bass Yunho sontak membuyarkan senyum bodoh yang bertengger pada wajah Jaejoong.

"Ah... Eum... I-itu..." Aigoo, entah mengapa saat ditanya mengenai pengharapannya, Jaejoong malah jadi gugup sendiri.

"Apa harapanmu?" Tanya Yunho lagi saat menyadari gelagat aneh Jaejoong.

"Ehm... Itu rahasia." Jaejoong menolak memberi tahu.

"Yack. Katakan padaku. Aku juga mau tahu." Desaknya.

"Hahh... Kenapa kau ingin tahu sih?"

"Karena sepertinya doamu berhubungan denganku." Jawab Yunho asal sambil menaikkan bahunya acuh.

JACKPOT!

Jawaban asal Yunho ternyata tepat sasaran. Yunho yakin akan itu apalagi saat melihat ekspresi mendukung Jaejoong yang tampak kaku.

"Jadi tebakanku benar? Iya kan?" Yunho bertanya pura-pura kaget. Padahal diam-diam ia tersenyum dalam hati saat mengetahuinya.

"Ne. Kau benar." Jaejoong menghela nafas lemah. "Baiklah, aku menyerah. Aku akan memberitahumu." Ia berucap pasrah.

Yunho tersenyum penuh kemenangan, namun tak mengurangi kebahagiaannya mengingat dirinya turut menjadi bagian dari harapan Jaejoong.

"Aku berdoa, meminta kepada Tuhan... Aku ingin terus bersamamu sepanjang hidupku, terus berada di sisimu selamanya hingga ajal menjemput. Berdoa untuk kebahagiaan kita bersama selamanya." Jaejoong tak dapat menyembunyikan senyumnya. "Itulah doaku. Doa yang simpel tapi penuh makna 'kan?" Ia terkekeh sendiri.

Yunho ikut tersenyum mendengarnya. Namun di baliknya ia menyembunyikan raut pahit, bukan karena ia tak senang dan tak mau bersama Jaejoong untuk mewujudkannya. Namun ia takut. Sangat takut jika ia tak dapat mewujudkannya kelak.

Rasanya semuanya terdengar sangat tak mungkin terwujud saat ini. Ia masih terikat status sebagai tunangan dengan orang lain. Mungkin saat ini ia masih dapat menjalani hubungan harmonis dengan Jaejoong, namun bagaimana jika suatu saat nanti semuanya terbongkar? Masih bisakah ia mempertahankan hubungannya? Pertunangannya dengan Yoona dan hubungan cintanya dengan Jaejoong? Tidak, tentu tidak akan bisa. Setelah semuanya terbongkar, segalanya akan terasa lebih berat dari sebelumnya. Saat itu ia pun tak dapat mempertahankan egonya lagi, ia harus memilih salah satu di antara keduanya. Bukannya ia plin plan. Hanya saja... Ia masih tak dapat memutuskan hubungan mana yang akan menjadi prioritasnya, saat ini keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam hidupnya.

"Bagaimana dengan harapanmu?" Jaejoong bertanya dengan penasaran.

"Tidak, aku hanya ingin kau bahagia. Karena kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga."

Ugh! Dari mana Jung ini belajar kata-kata semanis ini. Jaejoong bahkan sudah meleleh sedari tadi, pipinya menghangat sesaat, jantungnya terasa berdegup seirama dengan denting jarum jam. Melalui tatapan mata, keduanya saling tersenyum dalam diam.

.

.

.

"Gomawo Yunnie. Hari ini sangat menyenangkan."

"Hm." Yunho menggumam tak jelas.

Namun saat Jaejoong akan membuka pintu untuk keluar, Yunho menahan tangannya. Dan anehnya Yunho malah mencondongkan wajahnya ke depan dengan bibir yang ikut dimajukan pula, seolah mengatakan 'cium-aku-di-sini'. Membuat Jaejoong tertawa kecil. Dengan wajah meronanya, secepat kilat ia mendekatkan wajah ke arah Yunho untuk mengecup bibir hati yang telah menantinya sekilas. Cup! Sebuah kecupan singkat dihadiahkan Jaejoong khusus untuk Yunho sebagai rasa terima kasih atas momen indah yang dilaluinya hari ini.

"Saranghae boo." Yunho berucap lembut penuh ketulusan di dalamnya.

"Nado Yunnie."

Seusai berucap kata-kata penuh cinta itu, Jaejoong segera melangkah keluar dari mobil untuk masuk ke dalam apartemennya beristirahat setelah hari lelah nan menyenangkan ini.

"Boo!" Panggilan Yunho kembali menghentikan langkah Jaejoong, dan otomatis membuatnya menoleh untuk menghadap Yunho yang telah menurunkan kaca mobilnya itu.

"Terimakasih untuk segalanya. Kau adalah hadiah natal terindah bagiku. Teruslah berbahagia. Karena kebahagiaanmu adalah milikku juga, arrayo?" Untuk kesekian kalinya perkataan Yunho melelehkan hati Jaejoong.

"Arrayo, Yunnie~ Dan harusnya aku yang berterimakasih. Kau juga yang terindah bagiku. Aku akan terus berbahagia asal bisa bersamamu. Kau adalah bagian dariku. Jadi aku tak dapat bahagia tanpamu, maka tetaplah di sisiku." Jaejoong membalas perkataan Yunho dengan pernyataan serupa yang membuatnya tersenyum malu sendiri.

"Aku akan bersamamu apapun yang terjadi. Jeongmal Saranghae..." Entah sudah berapa kali dalam seharian ini, Yunho mengungkapkan cintanya, yang memang tak akan pernah cukup walau dinyatakan terus menerus dengan kata-kata. Ia sungguh sangat amat mencintai boo-jaenya. Ia berjanji ia akan mempersiapkan dirinya menghadapi konsekuensi yang harus diterima di masa mendatang demi hubungan cintanya dengan Jaejoong.

"Nado saranghae, Yunnie-ah."

Akhirnya Jaejoong benar-benar melangkah masuk setelah kalimat terakhirnya, meninggalkan Yunho yang masih menatap sosok Jaejoong dari kaca mobilnya hingga sosok itu menghilang di balik pintu utama apartemennya.

.

.

What will happen to their relationship?

Wait and see!

.

.

.

TBC

(To Be Continued)

Oke semuanya, inilah chap 7 yang Soori buat di tengah kesibukan ._.

Jadi, bagaimana? Is it cheesy or sweet? Kekee~

Terimakasih buat semua readers tercinta yang setia menanti update fic ini. Dan semua readers baru juga. Loveyouu :*

And... For the reward of my work, would you please hit the review button? Please~

Thanks for all my dearest reviewers at chap 6:

YunHolic | gwansim84 | hanasukie | jaena | ginalee09 | Dennis Park | yoon HyunWoon | browniescookies | Lonelydarksoul77 | BlackXX | sweetheart | sukisuki | jongindo

And of course thanks to all my readers too! Included siders too :)

Maaf ga bisa balas satu-satu, yang pasti Soori uda baca semua bahkan kadang ketawa-ketawa sendiri *sarap*. Baiklah, Soori minta pendapat dari readers sekalian tentang gimana fic ini akan berlanjut nantinya. Happy or Sad? Longer or Shorter? Any suggestion? Dan tentunya kritik dan saran akan Soori terima dengan senang hati.

Mind to Review?

RnR?

Review Juseyo~

See you next chap!

Thanks for reading!