Mungkin jika melihat wajah Arthur Kirkland yang sepadan dengan pangeran es, alis tebalnya yang secara aneh menawan, dan lidahnya yang kadang setajam silet, orang-orang berfikir akan sulit untuk mendekatinya—untuk berteman dengannya. Dan itu benar.

"Kemarin aku memang tidak ada di sini karena ada urusan di Wina. Namun bukan berarti ketiadaanku mengijinkan kalian untuk bermalas-malasan. Aku lihat banyak dari kalian yang kinerjanya semakin menurun. Apa-apaan dengan poisson, kalian memasak ikannya setengah-setengah aku bahkan masih bisa merasakan jamur ikan-ikan itu. Entrée, amuse-bouche nya terlalu lama disajikan. Saucier yang kemarin membuat saus bawang, saus itu rasanya terlalu asam. Pastry, shouffle yang kau buat tidak mengembang, malah seperti busa menjijikkan hasil espresso." Itulah rentetan kalimat tajam sehari setelah executive chief dari Le Roi sampai di restoran tersebut.

Bumi menelan ludah, menatap aura disekelilingnya. Rasanya beribu kali lipat lebih menekan. Bahkan Lovino diam saja dari tadi, tidak menimbrung omelan Arthur Kirkland.

"Ah, dan handkitchen…"

Tiga orang handkitchen disebelah Bumi langsung menegapkan tubuh mereka, wajah mereka seperti siap untuk dijagal.

"…Kerja bagus."

Bumi mengedip.

Haaah?

.

.

.

.

.

.

I Like It Hot and Fast (And Yummy)

Maeshika

Genre : Gourmet!AU, drama, romace, dry humor

Pairing : RomaXFem!Ina, tapi bakalan ada hint yang menjurus ke reverse harem!

Warning : agak typo, humornya tambah kering, mungkin bakalan OOC buat Arthur soalnya udah lama nggak bertatap muka dengan karakter hetalia. Mistaken references of French gourmet in Indonesia and French.

A/N : UN AKHIRNYA SELESAI HAHAHAHAAHAHAHAHAHA TINGGAL NUNGGU SBMPTN INI HUHUHUHUHUHU

South Korea : Yong/England : Arthur Kirkland/North Italy : Lovino Vargas/French : Françis Bonneyfoy/South Italy : Feliciano Vargas/Germany : Ludwig/Gold Jr. (OC) dan teman-teman klub rugby

Chapitre Sept : Potato Porridge

.

.

.

.

.

.

Bumi mungkin bukanlah seseorang yang memiliki intuisi tinggi. Tapi rasanya seseorang semenjak tadi menatap punggungnya, dan Bumi sedikit tidak nyaman ketika memotong tomat menjadi irisan kecil. Ketika berbalik, yang ia dapati hanyalah kerumunan orang-orang yang hampir tabrak, sibuk memasak dan membersihkan piring. Mis en place sudah lewat beberapa jam tadi, dan sudah banyak pula pelanggan yang masuk. Kali ini dapur berada dibawah kepemimpinan Arthur, namun bukan berarti kekejaman Lovino yang kemarin tidak lagi terasa—karena Arthur dan Lovino itu setali tiga uang.

Dan omong-omong soal Lovino… sepertinya yang memelototi Bumi semenjak tadi adalah dia. Siapalagi yang memiliki tatapan panas bin membuat terbakar selain sang cowok tampan, Lovino Vargas? Bukan berarti Bumi bisa berkata apa-apa karena memang dialah yang salah, karena sudah membuat marah sang pemilik kedudukan tertinggi kedua di dapur. Dia bahkan tidak akan kaget jika dia dipanggil untuk diberi surat peringatan nanti.

"Mana Gorgonzola yang dipesan?!"

"Tableu huit, quarante menus!"

"Empat puluh?! Yang benar saja—"

"Entrée, meja dua memesan Tapas, Scallops Goreng, dan Eubergin Tartar yang dikaramelisasikan!"

"Oui!"

Sepertinya teriakan-teriakan itu sekarang hanyalah bisikan saja. Bumi dengan lihai mengupas kulit kentang tersebut menjadi satu pita berwarna cokelat kotor. Setelah selesai, dia memotong-motong kentang tersebut menjadi bentuk dadu dan merendamnya didalam air garam—"Oi, anak baru, kau ini sedang apa?!" seru salah satu handkitchen. Eeeh, kalau tidak salah namanya Yong? Wajah orientalnya memberi tahu Bumi bahwa Yong adalah keturunan asia timur. "Aaah, sedang menggaramkan kentang." Ucap Bumi bingung. "Menggaramkan kentang?! Kenapa melakukan itu?" seru Yong, wajahnya panic namun tetap menjaga suaranya agar berada dibawah volume. Dia tidak mau kedua orang itu (baca : Arthur dan Lovino) mengetahui bahwa anak baru sudah merusak bahan dasar dari seluruh masakan. "Karena kentang-kentang ini nanti akan dibuat bubur kentang kan? Ini akan menambah cita rasa dari kentang nan… ti…" mata Bumi melebar dengan sendirinya.

Dia lupa kalau dia tidak berada di Indonesia, tapi di Eropa…

"Kalau melakukan ini, rasa houvre d'hoursnya tidak akan terasa, kan!" omel Yong, panik. "Mana banyak sekali yang sudah kau potong, cepat tiriskan!"

Dengan cekatan Bumi segera mengeluarkan potongan kentang dadu tersebut dari gentong berisi garam. Memang, ketika berada di Indonesia, inilah hal yang setiap hari dia lakukan—karena di restoran Prancis di Indonesia sedikit sekali yang menjadi handkitchen—menenggelamkan kentang ke dalam air garam supaya kentang tersebut memiliki rasa. Tapi orang Indonesia sudah terbiasa akan 'rasa', sehingga kulinerisasi di Indonesia terkadang menekankan terhadap bumbu dan racikan, seperti gulai ayam, soto, rendang dan lain-lain.

Namun lidah orang Eropa berbeda. Mereka terbiasa dengan makanan bland setiap hari, seperti keju putih, roti, dan minyak olive untuk bertahan hidup. Daging yang mereka makan juga sedikit memiliki bumbu. Jadi jelas salah kalau Bumi menggarami kentang. Orang-orang eropa akan merasa kalau makanan mereka terlalu asin.

"Arrrgh, kenapa ini harus terjadi saat executive chef datang?!" geram Yong yang berusaha menutupi kegagalan yang dilakukan Bumi. Bumi merasa sangat bersalah, dan bodoh. Bagaimana mungkin dia melupakan perbedaan taste dan tempat dia berada sekarang? "Sa-saya minta maaf—"

"Minta maaf saja tidak akan cukup, padahal aku sudah mendapat pujian dari chef tertinggi tadi pagi. Apa kau mau diomeli nanti sore?!" bentak Yong, membuat beberapa orang menatap Bumi dan sang keturunan asia timur tersebut. Bumi tidak dapat berkata apa-apa lagi, ini adalah kesalahannya. Yong menggigit kentang tersebut dan melepehkannya ke tempat sampah. "Rasanya seperti garam dan bukan rasa kentang." Omel Yong lagi, wajahnya pucat. "Kau, keluar saja. Jangan ganggu aku bekerja!" usir Yong kepada Bumi. Bumi mengerutkan dahi. "Tapi…"

"Ada apa?"

"Anak bodoh ini—hiii?!" Yong berjengit melihat si raja diraja setan sendiri tengah berdiri disampingnya. Arthur menatap gentong berisi air keruh dan kentang-kentang yang basah. Wajahnya tidak memperlihatkan perubahan. "Kalian… menggarami kentang ini?" ucap Arthur, suaranya tidak bisa ditebak. Sepertinya darah sudah meninggalkan wajah Yong, dan Bumi memucat lebih parah. Yong saja takut pada Arthur. Kenapa Bumi selalu meninggalkan impresi bodoh dan tolol kepada orang-orang yang ingin dia dekati?!

"Anak baru tolol, waktunya untuk dipecat."

"Balik sana ke Indonesia, jangan kembali lagi."

"Apa perlu kuminta ke pemerintah untuk mendeportasi kau?"

"Pergi!"

Itulah bayang-bayang yang sudah menggema dalam kepala sang gadis muda yang menyamar tersebut. Diluar dugaan, bukannya melontarkan ancaman yang bisa nakutin tujuh turunan, Arthur mengambil kentang tersebut dan merasakan teksturnya, sebelum akhirnya dia menggigitnya seperti yang Yong lakukan tadi. "Yap. Garamnya masih belum terlalu teresap. Kau, ambil segentong distilled water di dalam ruang pendingin." Ucap Arthur tenang, menyuruh Yong. Yong menaikkan alis namun segera berlari menuju ruang pendingin. "Dan kau, celup mereka semua ke dalam air dingin itu sebentar saja. Mungkin air distill akan menggantikan rasa asin didalamnya sedikit. Namun tetap saja ini akan merubah cita rasa kentang itu sendiri, jadi tolong kau yang buat bubur kentangnya ya."

Mata Bumi membuat lebar. "Heeeeeeeeh?! Ta-tapi, itu bukan pekerjaan saya—"

"Haah? Jadi kau mau kabur dari kesalahanmu sendiri dan membiarkan kami membersihkan kesalahanmu? Jangan bercanda ya." Arthur menyipitkan mata dan memandang kebawah kearah Bumi seakan-akan Bumi adalah sampah masyarakat yang lebih rendah dibandingkan kotoran. "Aku dengar kau anak baru yang dimasukkan oleh si frog jadi aku ingin tahu seperti apa kerjamu. Sekarang coba kau tunjukkan, seperti apa masakanmu. Kalau bubur kentang yang kau buat tidak seperti yang kuinginkan, maka aku akan memulai berkas untuk memecatmu." Seakan-akan menunjukkan bahwa dirinya tidak bercanda, Arthur bertepuk tangan. "Handkitchen ini akan mendemostrasikan kepada kita cara dia membuat bubur kentang yang baik. Kau yang disana, menyingkir." Arthur menunjuk pada entrée dan commis de chef yang seharusnya membuat bubur kentang.

"Oi oi, apa yang kau lakukan Arthur. Bubur itu nanti akan disediakan kepada Tim Rugby Perancis, jangan asal-asalan dalam menunjuk pemasak, bastardo!"seru Lovino dari ujung ruangan, wajahnya tidak terima. "Diam sajalah, Romano. Aku yang jadi executive chef disini. Lagipula kalau dia gagal, yakinlah bahwa akau akan memecatnya secara personal."

Suara berbisik-bisik mulai menyebar seperti api di hutan, dan Lovino terdiam sebelum menjawab, "Terserahlah, yang penting nanti ada yang tanggung jawab kalau para orang penting itu keracunan. Apa yang kalian lihat, goblok? Lanjut masak atau kucolok matamu nanti!" Orang-orang dengan sedikit terpaksa melanjutkan aktivitas masing-masing, walau mata mereka masih mencuri pandang kepada Bumi yang terpaku didepan konter perak. Disampingnya, sekeranjang kentang teronggok. "Ehem. Kau harus membuat lima belas porsi bubur kentang. Bubur kentang ini akan dihidangkan pada tim Rugby Perancis, Nöel. Mereka baru saja berlomba turnamen rugby indoor dan hendak makan ditempat kita. Kuperingatkan—don't mess this up or I'll have your head forever." Ancaman terakhir terdengar begitur riil dan mengerikan yang bisa Bumi lakukan adalah menelan ludahnya dengan penuh ketakutan.

Bumi mencoba untuk tenang. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana tahap pertama untuk membuat bubur kentang? Jangan panik, Bumi! Lakukan semuanya dengan tenang! Iapun menghela nafas dan segera menajamkan mata. Dengan cekatan dia mengambil setengah pan kentang dan dia segera merebus kentang-kentang tersebut kedalam tempat rebusan. Menghela nafas panjang, tahap selanjutnya adalah menunggu kentang tersebut menjadi lembut supaya mudah untuk dipouch nanti. Tapi apa lagi yang harus dia lakukan? Pikir, pikir Bumi. Rasa garam itu tidak akan hilang dengan sendirinya. Walaupun dia merendam kentang untuk merngurangi nuansa asin, namun itu akan menghilangkan cita rasa kentang natural yang sering kita rasakan selagi memakan kentang rebus, benar kan?

"….Mbak Bumi, lapar nih."

"Haaah? Yasudah sana bikin makan, jangan ribetin kakak dong."

"Tapi Dara nggak bisa gerak, sakit banget, tadi habis sparring sepak bola sama fakultas sebelah…"

Mata Bumi melebar. Dia tahu apa yang harus dia lakukan! Setelah yakin kentang tersebut telah empuk, dia segera meniriskan air dengan saringan dan menaruhnya didalam sebuah piring melengkung berwarna perak dan menghancurkan kentang tersebut dengan sendok besar. "Oi oi, kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia tidak memakai blender saja?" bisik salah satu commis de chef kepada yang lainnya. Sepertinya kelakuan Bumi cukup abnormal, karena dia memilih memakai cara manual yang memakan waktu lama. Bumi melihat hasil ulekannya dan mendapati bahwa semua kentang tersebut sudah setengah hancur. Diapun segera mengambil sebuah rounde dan merebus air kedalamnya. Kemudian dia memasukkan thymes, peterseli, cuka… dan sedikit garam.

"Garam lagi?! Nih anak bego ya? Mau bikin pemain rugby itu muntah keasinan? Aaah, ini memang ide buruk. Siapapun hentikan diaaa!" Yong menampar wajahnya sendiri. Tino memandang Bumi, matanya terlihat khawatir. Berwarld yang sibuk dengan amuse-bouche nya pun memalingkan wajah ke arah Bumi.

Bumi memasukkan bubur kentang setengah hancur tersebut ke dalam rounde.

Beberapa menit kemudian lima belas porsi bubur kentangpun selesai.

.

.

.

.

.

.

.

.

Gold Jr. adalah prodigi dalam dunia rugby, dia memiliki daya tahan cukup, stamina luar biasa, dan badan yang luar biasa besar untuk mengintimidasi pihak lawan. Gold juga terbiasa mendapat tatapan panas dari para wanita, mengindikasikan bahwa tidak hanya kariernya yang berkilauan tapi juga kehidupan cintanya. Wajahnya yang tampan dan maskulin membuat semua wanita jatuh cinta padanya. Teman-temannya menjulukinya sebagai Noel de Ace. Bisa dikatakan, di Paris, dia adalah semacam selebriti. Biasanya dia selalu memasang wajah tersenyum dan baik kepada para fans… namun…

Kali ini, perasaannya benar-benar campur aduk dan sebal. Dia baru saja latihan di atrium, tempat para olahragawan melakukan olahraga saat musim tengah dingin. Teman-temannya terlihat senang-senang saja, tapi dia tidak.

"Kenapa kita kemari?" ucap Gold, wajahnya menggeram.

"Kenapa kau tidak mau kemari, ini kan restoran paling terkenal didaerah ini." Ucap temannya.

"Aku ingin pergi ke restoran cina." Protes Gold.

"Ayolah, Gold. Jangan egois begitu. Kau tahu kalau anak-anak bisa makan apa saja saat ini, Cuma kau yang selalu pilih-pilih makanan." Ucap manajer klub Noel. "Lagipula, dari sini restoran cina benar-benar sulit dicari."

"Yaa, tapi kita baru saja lomba." Ucap Gold.

"Pesan saja makanan itu, sialan." Gumam teman Gold yang memang sudah sangat kelaparan dia bisa makan kerbau sekaligus.

"Selamat malam, Tuan-Tuan. Apakah anda sudah melakukan reservasi?" seorang butler datang ke arah mereka, senyum profesionalitas terpampang diwajahnya. "Sudah, atas nama Noel." Ucap sang manajer. "Kalau begitu, silahkan lewat sini." Sang butler mengarahkan kesebelas pemain rugby tersebut ke sebuah tangga beludru. Mereka naik dan naik dan naik dan naik sampai-sampai nafas mereka sedikit kelelahan, walau mereka adalah olahragawan. "Oi Oi, kita belum sampai juga? Aku ingin makan, bukan latihan endurance." Protes salah satu rekan Gold. "Maaf tuan-tuan, tapi Noel memesan ruangan paling eksklusif di Le Roi." Sang butler membungkuk dan membuka sebuah pintu gigantik berwarna elegan silver dan marun. "Silahkan masuk." Interior di dalam ruangan sangatlah menyenangkan dan elegan—seperti sebuah suite, namun tanpa tempat tidur. Yang paling mengesankan adalah bahwa dinding utara adalah kaca, dan mereka bisa melihat pemandangan Paris di waktu malam, hampir sama seperti Eiffel namun lebih pendek viewnya. "Whoaah, ini lantainya pakai bulu-bulu apa? Aku bisa tidur kalau begini caranya."

Gold hanya menatap seluruh ruangan tanpa perubahan ekspresi.

Setelah memesan banyak sekali makanan, Gold duduk dan wajahnya masih menunjukkan rasa sebal. "Sudahlah Gold, kau bisa berhenti manyun sekarang." Ucap manajer yang sudah muak dengan wajah Gold. Gold menghela nafas. Bukan salahnya kan kalau dia hari ini merasa agak jengkel dengan jalannya permainan? Untung saja mereka masih bisa memenangkan permainan dengan jitu, kalau tidak bisa-bisa amarahnya meningkat beberapa ratus persen. "Kau harus benar-benar yakin kalau makanan disini enak, atau aku bakalan murka sekali." Gold berkata dengan senyum diwajahnya.

"Permisi. Sebagai penganan, restoran kami menghidangkan Amuse-bouche. Silahkan dicicipi." Salah seorang pelayan datang sambil mendorong sebaki penuh bubur kentang yang ditaruh didalam cup kecil berwarna transluken, disajikan dengan biji wijen dan ada tujuh macam saus yang disediakan. "Biji wijen menandakan kesuburan di mitologi Asia. Kami berharap dengan adanya biji wijen ini, Noel akan memenangkan lebih banyak penghargaan di masa depan." Penjelasan sang pelayan diikuti suit-suitan. "Dan tujuh macam saus ini melambangkan kemenangan ketujuh dari Noel. Silahkan dinikmati." Butler tersebut tersenyum dan berbalik keluar dari ruangan tersebut. Setelah membawakan pidato kemenangan ketujuh dan tepuk tangan, mereka siap untuk bertempur… di atas meja makan. "Whoah, aku tak tahu bubur kentang bisa kelihatan sebegini cantiknya." Ucap Gold pada akhirnya. Dengan gerakan cepat layaknya monster kelaparan, para pemain rugby tersebut segera mengambil cup tersebut dan menyendok bubur kentangnya.

Gold menghela nafas. Bubur kentang? Apa ini pembukanya? Restoran ini benar-benar… dengan sedikit ogah-ogahan, Gold segera melahap bubur kentangnya tersebut dan matanya melebar.

"Amuse-bouche ini… enak sekali." Ucap Gold pada manajernya. Manajernya mengangguk tanda setuju. "Biasanya rasa bubur kentang selalu hambar. Tapi kita bisa merasakan berbagai macam rasa dalam bubur kentang ini. Bagaimana ya…"

"Kau sekarang jadi juri masak, Manajer?" goda salah satu rekan Gold. Tawa membahana terdengar puas. Gold tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya memakan satu suap lagi bubur kentang. Bubur ini tidak terlalu lembek, masih ada sisa kentang yang tidak hancur. Rasanya asin dan manis, bisa dibilang gurih. Chief disini terkenal top, tapi dia tidak tahu kalau ternyata bahkan sebuah bubur kentang bisa sebegini terasanya.

Setelah selesai memakan amuse-bouchenya, Gold berdiri. "Ng? Gold, mau kemana? Anggurmu belum disentuh, tuh." Ucap salah satu rekan Gold. "Aku mau ke bawah sebentar." Ucap Gold sambil merapikan rambutnya. Dia segera keluar dari ruang tersebut dan turun menuju ke toilet. Setelah dia selesai melakukan hal yang dia harus lakukan, dia menuju ke wastafel. Toilet restoran ini cukup luas dengan aksen Perancis abad pertengahan. Semuanya terpolis dengan baik dan bahkan kacanya terlihat berkilauan. Jelas sekali restoran ini akan menjadi restoran kesayangan Gold di masa depan. Gold melihat kesamping dan bertemu pandang dengan wajah seorang laki-laki cantik. Dia berambit hitam dan berkulit kuning. Sepertinya dia keturunan asia? Dia juga sepertinya bekerja di bagian dapur.

"Hey." Ucap Gold pada sang pelayan itu. Dengan nervous, pelayan itu menatap Gold. Gold setengah berharap bahwa dia tidak akan bertemu dengan fans, atau dia bisa mampus nanti. "Apa kamu bekerja di bagian dapur?"

"Eh?" pelayan itu mengerjap dan dengan bahasa Perancis terpatah-patah dia menjawab, "Ah, I-Iya. Aku bekerja di bagian dapur, handkitchen."

Gold tidak mengerti apa itu handkitchen, tapi mungkin dia baru, jadi masih kelihatan begitu kikuk. "Begitukah? Tolong beri tahu yang membuat makanan pembuka—bubur kentang itu rasanya enak sekali." Gold tersenyum dan menepuk pundak sang pria sebelum berjalan keluar toilet.

Sementara itu sang pria cantik berdiri dengan wajah tidak percaya.

Dan senyum lebar segera mekar di wajahnya. Dia terus memakai senyum itu diwajahnya. Di koridor. Di depan pintu. Bahkan di dalam dapurpun.

Dan ketika ditanya, dia menjawab.

"Masakanku sukses!"

.

.

.

.

.

.

.

"Lapar garam?"

"Tubuh kita, setelah melakukan aktivitas berat pasti akan mengalami kekurangan garam. Di saat seperti itulah tubuh kita mengalami kondisi yang disebut 'lapar garam'. Kupikir orang-orang ini butuh banyak asupan garam, jadi aku sama sekali tidak menurunkan kadar garam didalam kentang itu." Ucap Bumi. "Dan karena kalau aku merendamnya dalam air dingin, nuansa kentang asli akan hilang semuanya. Jadi aku tidak merendamnya sama sekali."

"Lalu kenapa kau tidak pakai blender?"

"Aku belajar di Indonesia kalau melakukan segala hal dengan tangan akan lebih baik."

"Lalu kenapa kau memasukan blue cheese kedalam kentang rebus itu?"

"Supaya lebih berasa dan lebih creamy… kenapa anda tiba-tiba menanyakan hal ini, pak Francis?" Tanya Bumi menatap ke pria tampan bermata violet tersebut. Pak Francis tidak menjawab dan hanya tersenyum lebar, puas. "Tidak apa-apa. Dengan begini, kau sudah menunjukkan sedikit kemampuanmu. Kerja bagus." Tangan Francis menepuk kepala Bumi dengan lembut. Bumi tersenyum kecil, merasa sangat bangga. Mungkin membuat beberapa porsi bubur kentang bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, namun untuk Bumi yang sudah hampir dua minggu melakukan pekerjaan kasar di dapur dan bukannya memasak, ini adalah pencapaian yang luar biasa! Dia bisa berjingkrakan dengan senangnya sekarang. "Kau harus pulang sekarang, Nak. Hati-hati dijalan, ya." Francis mendorong Bumi keluar dari dapur. "Eh, tapi dapurnya belum rapih." Bumi mendapat giliran beres-beres bersama dengan beberapa orang hari ini, dan mereka tidak akan senang jika mereka tahu kalau Bumi langsung pulang. Francis hanya tersenyum lebih lebar. "Sudahlah, kau sudah melakukan kebajikan untukku, jadi kau kuberi bonus untuk pulang sekarang."

Bumi mengerutkan dahi walau akhirnya dia berjalan menuju loker. "Terima kasih, pak!" sambil melambai dengan penuh semangat.

Francis melambai balik dengan senyum masih terpasang diwajahnya.

"Dia manis, bukan?"

Francis berkata tanpa berbalik.

Dibelakangnya, Arthur tengah menatap kepergian sang wanita Indonesia.

"Bisa dibilang begitu. Dia hanya bertambah tinggi." Ucap Arthur pada akhirnya sambil berjalan menuju Francis. Francis terkekeh. "Kau tidak menyangkal bahwa dia itu manis, Alis tebal."

Arthur melayangkan pandangan tidak suka. "Diam atau aku colok your bloody arse later."

Francis nyengir. "Sok keren." Yang mana mendapatkan sodokan keras di perut yang disebabkan oleh Arthur Kirkland. "Sudahlah, aku ingin pulang sekarang." Arthur segera mengambil syalnya dan berbalik. "Hooo, apa kau mau diam-diam mengantar dia ke rumah dari belakang seperti yang kau lakukan dulu?" Nada godaan yang dibuat oleh Francis diindahkan oleh Arthur. "…Jangan lupa kerjakan kerjaanmu malam ini, atau kubunuh kau." Ancam Arthur dengan wajah paling seram yang dia punya. Francis menelan ludah. Francis yakin alasan Arthur membunuhnya bukan hanya karena dia tidak mengerjakan pekerjaannya. Lagipula, Arthur tidak pernah main-main kalau sudah berwajah seperti itu…

"Chef mengenal anak itu?"

"Wha—Lo-lovino?!" seru Francis, kaget karena kemunculan Lovino Vargas yang tiba-tiba. "Yaah begitulah. Bisa dibilang begitu… tolong jangan bilang siapa-siapa, Lovino. Aku hanya tidak ingin ada lebih banyak pertumpahan darah dan air mata antara aku dan si Alis-Tebal itu…" Lovino Vargas hanya menghela nafas. "Terserahlah. Aku juga tidak terlalu peduli." Dengan langkah cepat Lovino meninggalkan Francis sendirian di lounge. Francis hanya menumpukan dagunya ditangan kanannya, matanya mengikuti sang laki-laki keturunan Italia Utara tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Para pembaca sekalian, mungkin soal Arthur-kenal-Bumi-tapi-bumi-kayaknya-ga-kenal itu klise dan agak jijikin, tapi gimana dong, ini supaya meningkatkan fanservis meter karena kayaknya udah tujuh chapter tapi fanservis dikit bener?! Jadi buat yang mau lebih banyak fanservis, tolong di review yaaaa! (pada akhirnya minta review lu kupret) Oh iya, buat review-review bernada pertanyaan di chap lima aku ga balesin karena aku nggak sempet kemarin *sob* tapi bakalan aku jawab disini yaa (ini kebanyakan yang ditanyain para reader juga):

Sabila Foster : Nether bakal muncul ga disini? TIDAK USAH KHAWATIRRR. Saya tidak pilih kasih kok makin banyak pesertanya Harem!Ina akan semakin tertunjang HAHAHA. /jawabanhina

Madoka : Apa Bumi bakalan dipecat kalo ketauan? Nggaaaak karena Francis itu sendiri yang kepengen bikin Bumi jadi cowok, ingaat? Heheee

AnonAnon : Beneran nih dede mau qaqa ciyum? MAU DONG A'A.

Veria-313 : Darimana kamu dapet info tentang istilah masak bahas prancis? Dari manga gourmet, googling, baca buku masak, trus nanya-nanya ke guru bahas perancis TEHE.

Madoka lagi : Kapan Lovino tahu jati dirinya Bumi? EERRRR….

Bales-balesin komen CHAPTER ENEM corner :

Sabila Foster : HAHAHA AKHIRNYA ADA FANSERVIS JUGA YA. *ditendang*/nfebby1 : AKHIRNYA ADA FANSERVIS JUGA *nangis deres* Tiino itu cowok kook, dia bukan OC! Dia personfifikasi finlandia deh kalo gasalah. Aku pake dia soalnya dia imut! Soal UKxNesiaxRomano… mari kita lihat di chap selanjutnyaa…/AnonAnon : SENPAI, MAAF KALO BERWARLD OOC ABISAN AKU BINGUNG KALO GA OOC HARUS BAGAIMANA AH GALAU. Hehehe aku juga enek soal Fasciola hepatica huhuks untung udah selesai UN. Okeee deeh ditampung!/ Madoka : ma-maaf kalau bikin laper… karena itu sekarang makanannya Cuma bubur kentang doang hehehehehe/HyunShine : PEMBACA BARU?! SAYA MINTA MAAP BARU DI ANSWER HUHU. MAKASIH UDAH KEPINCUT SAYANG. Makasih udah baca. Dan saya kasih bocoran—pertanyaannya bukan 'kapan orang tau dia adalah cewek' tapi 'kapan orang-orang bakal mempertanyakan kebenaran orientasi seksual mereka karena Bumi' HAHAHAHA/fiv : a-anu… i-ini fic pertama di fandom hetalia…. *merasa bersalah*/ify : hahaha makasih udah menyerukan duniaku(?) HAHAHA soal cemburu buta masih dalam tahap ya. Tapi kalo emang cemburu mungkin satu restoran dibleach kali sama dia?! Lol./afiz : INI SUDAH LANJUT HUHU. Aaaah, diatas sudah dijawaaab ^^ makasih aku hebat… padahal masih banyak yang salah, kalo ada salah silahkan kasih tahu huhu…/anon : HAHAHA ADUH NGAKAK ALISNYA ARTHUR DIELUS. Tenang aja bakalan disimpen buat referensi masa depan! Diatas sudah dijawab xD/Marshmallow90 : HAI JUGA! AAAH, kamu baca fanfik ini pertama kali!? BUSET JADI MALU AH. Tenang ajaaa, Lovino bakal kerasa feelnya nanti… hehehehehehehehe makasih sudah menyukai fanfik ini!/Fikushon sakka : thank yaaa! xDD Actually I get the idea from another fandom's fic, but I think the fic is kinda stop updating? Hehe. Okeee, akan diusahakan untuk dijelaskan!/ayu : makasih adik… ini saya lanjutkan…/ .718 : SERATUS JEMPOL BUAT KAMU YANG MAU REVIEW T-T/LoylettaClark: H-hah, ja-jadi anda senpai saya?! ANOTHER SENPAAAIIII YA AMPUN MAKASIH BANGET *SUJUD* tolong dukung sayaaaaa *ditabok*

p.s maaf kalo kepanjangan balesin komennya saya minta maaf sebesar-besarnya…