.
.
.
.
"SECRET"
Cast :
Cho Kyuhyun
Kim Kibum
Choi Siwon
Lee Sungmin
KyuBum, Sibum and KyuMin couple
Warning: Genderswitch, Typo(s)
Don't like the cast or plot. Do not BASH, please.
.
.
.
.
2004, winter
Flashback
"Permisi.. permisi"
Seorang namja berkacamata berjalan dengan cepat sambil menenteng tas cokelat kulit kesayanganya keluar dari sebuah kelas. Wajahnya sengaja ia tundukkan meskipun ia seorang murid kelas akhir, tubuhnya berpeluh keringat—dengan langkah pasti kedua kakinya melangkah menuju sebuah koridor besar yang menghubungkan kelasnya dengan pintu utama sekolah.
Jam yang melingkar di tanganya menunjukkan pukul lima sore, dan itu artinya ia sudah terlambat. Padahal ia sendiri yang mengajak Sungmin kencan keluar dan berjanji akan bertemu disana, tapi sialnya di hari yang sama ia sudah menjadwalkan akan melakukan pengayaan dengan guru ilmu sosialnya dan membuatnya harus terburu-buru pulang begini.
Tubuhnya berpeluh keringat, sial. Rasanya sangat tidak enak membatalkan janjinya begitu saja, apalagi, hari ini yeojachinggunya sampai membatalkan latihan Cheerleadernya gara-gara janji yang nyaris akan dilanggarnya sebentar lagi itu. Ah rasanya Kyuhyun ingin memiliki alat teleport yang bisa membawanya langsung menuju cafe tempat mereka akan bertemu.
Setelah sampai di parkiran, kedua matanya fokus pada deretan kendaraan-kendaraan yang berjejeran di hadapanya. Hari ini, ia sudah meminjam kendaraan kakak tercintanya demi kencan dengan Sungmin, tentu saja, ia bukanlah tipe namja tukang pamer atau pria kaya raya yang bisa membawa mobil seenak maunya, Cuma hari ini saja mood Noona tercintanya sedang bagus. Cho Ahra berbaik hati memberikan mobil itu secara Cuma-Cuma dan gratis seharian penuh untuknya hanya dengan satu syarat—ia harus mencucinya dengan bersih setelah menggunakan benda yang harganya tidak bisa dibilang murah itu.
Baru saja menemukan benda berharga itu diantara mobil-mobil yang tak kalah mewah disekelilingnya Kyuhyun tidak sengaja menangkap sebuah sosok wanita cantik yang duduk sambil merapatkan mantel bulunya. Kibum, dengan wajah memerah yang sudah dipastikanya akibat cuaca yang begitu dingin dimusim ini. tubuhnya gemetaran—dengan kedua bagian giginya yang bergemeletuk satu sama lain, sungguh kasihan. Dan rasa kasihan itulah yang membuatnya menghampiri Kibum perlahan.
"Ung.. Kibum? apa kau baik-baik saja?" Tanyanya sembari menepuk bahu Kibum, gadis itu menoleh kearahnya dan tampak semakin pucat saja ketika dilihat dari dekat.
"Ah Ne.." Jawabnya singkat.
Kyuhyun kembali bertanya,"Sedang apa kau disini? Menunggu Siwon? Eoh?"
"I-iya benar, apa kau melihatnya, Kyuhyun-ssi?"
"Sayang sekali aku tidak bersamanya tadi, ah mengapa tidak menelfonya saja? Apa kau sudah mencoba?"
Kibum menggeleng lemah "Handphoneku ketinggalan di mobilnya tadi pagi, ah apa yang harus kulakukan?" Rutuknya pada diri sendiri.
"Baiklah kalau begitu, pakai saja handphoneku dulu, biar aku yang menelfonya"
Kyuhyun meraba saku mantelnya, mengambil handphonenya kemudian mencoba menghubungi Siwon. Tak berapa lama, pria itu kemudian mengangkat telfon miliknya.
"Yeobseyo.. ada apa, Kyu?"
"Won, Kibum sudah menunggumu dari tadi si parkiran, kau dimana?" Tanya Kyuhyun dengan cepat mengingat pulsanya yang hampir saja habis.
"Aku terjebak macet, Kyu. Bisakah kau membantuku? Kata Sungmin tadi kalian akan pergi berkencan.. tolong bawa Kibum bersamamu, ne? Nanti aku menyusul kok, bisa kan?"
"Ah baiklah, hati-hati menyetir, Won. Mobilmu kan masih baru, hahaha" Goda Kyuhyun sembari menatap layar handphonenya, "Ah sudah dulu ya, pulsaku mau habis nih, hubungi saja Sungmin jika kau lupa arah menuju cafe, ara?"
"Baiklah, tolong jaga princessku dengan baik, okay Kyu?"
Klik, handphone flip itu tertutup perlahan bersamaan dengan pemiliknya yang memasukkan benda itu lagi ke dalam sakunya. Memang, akhir-akhir ini menjelang natal Siwon sibuk bukan main, selain lapangan basket sekolah yang dipindahkan ke sebuah stadium kecil mengingat kondisinya yang tertutupi salju, Siwon juga harus bolak-balik antara sekolah dan perusahaan Appa-nya untuk sekedar menandatangani berkas-berkas. Sebagai anak seorang pengusaha sejak remaja Siwon memang sudah dilatih untuk profesional dengan pekerjaan masa depanya.
"Ah Kibum-ssi, Siwon sedang terjebak badai salju, kau ikut saja denganku nanti ia akan menyusul"
"Begitukah? Baiklah, terimakasih atas bantuanya ya Kyu" Kibum tersenyum datar sambil membetulkan letak tudung mantelnya.
Mereka berdua masuk ke mobil di penuhi kecanggungan luar biasa. Kyuhyun yang entah mengapa mendadak gugup ketika akan menyalakan mobil dan Kibum disampingnya yang terlihat cuek saja dan diam memandangi kaca depan yang sebagian tertutupi salju.
Kedua mata Kyuhyun tidak bisa bohong, sepasang onyx itu tidak bisa berhenti memandangi wajah cantik yang duduk disebelahnya. Kibum benar-benar membuatnya seakan gila, melihat Kibum yang kedinginan itu malah membuatnya ingin memeluk dan menghangatkan tubuhnya saja, ah rasanya ia memang sudah mulai tidak waras lagi.
"K-Kibum-ssi, tidak apa-apa kan kalau aku menyalakan pemanasnya?" Kyuhyun memulai percakapan dengan canggung sembari menatap Kibum kaku.
"Tentu saja akan lebih baik, cuaca jadi dingin sekali akhir-akhir ini, dan sial sekali sarung tanganku ketinggalan dirumah"
"Kalau begitu.. pakai milikku saja" Kyuhyun melepas sarung tangan rajutan berwarna hitam miliknya. Semula, Kibum tampan begitu tidak enak namun mengingat rasa dingin menusuk tulang yang terus-terusan dirasakanya membuat Kibum menerima benda itu kemudian memasangnya di kedua tanganya.
"Gomawo, Kyu. Kau baik sekali"
"Ah tidak apa-apa kok, wah sepertinya kebesaran ya untukmu? Mianhae, hanya itu yang bisa kuberikan, maaf ya Bummie" Potongnya dengan nada merendah sembari membelokkan stir-nya.
Kibum hanya menatap wajah Kyuhyun datar sembari mati-matian menahan perasaan-perasaan aneh ketika bisa semobil dengan namja disampingnya, aneh. Rasanya seperti jatuh cinta, sama dengan yang ia rasakan ketika pertama kali merasakan hal seperti ini dengan Siwon. Antara ingin membuang muka dan cuek namun ada rasa ingin terus mencuri-curi pandang. Antara perasaan meledak-ledak dengan emosi serta ego-nya yang terus ditahanya mati-matian. Serba salah saja, menatap Kyuhyun rasanya ia malu, tapi tidak menatapnya hanya akan membuat pria itu curiga dengan kelakuan anehnya.
"Omo!"
Pekik Kibum kaget ketika tiba-tiba saja seorang nenek tua menyeberang dan membuat Kyuhyun mengerem kendaraanya hingga mendecit kerat, keduanya terguncang dari kursinya saking kagetnya, wajah Kibum refleks menatap Kyuhyun dengan wajah begitu ketakutan.
Berbeda dengan Kibum, Kyuhyun sudah tidak bisa menahan lagi, kotak kesabaranya sudah habis, menatap Kibum dengan jarak yang begitu intens-perasaan yang terlalu lama dipendam rasanya sulit sekali dikendalikan apalagi ketika mereka hanya berdua saja seperti ini. entah apa yang terjadi dan setan apa yang mengendalikan otaknya, tangan kirinya relfeks melepas stir dan meraih tangan kanan Kibum.
"Kyu, apa yang kau—"
"aku menyimpan rasa ini terlalu lama... dan ini terasa begitu memuakkan jika kutahan sendiri.
Aku menyukaimu, Kim Kibum. aku sangat menyukaimu, ah tidak, aku bahkan mencintaimu"
"Kyu, kau—" Kibum membelalak kaget menatap Kyuhyun yang dikenalnya sebagai pria yang cukup pendiam, matanya menatap lurus dan tidak menemukan sedikitpun celah tanda-tanda pria itu berbohong sama sekali, raut wajahnya terlihat begitu serius—dengan anggukan kecil menyertai perkataannya.
"Aku serius dengan ucapanku"
"Kalau begitu kau benar-benar sudah gila" Bantah Kibum sembari menatap Kyuhyun dengan kesal, "Apa yang sebenarnya kau lakukan, sih? Kyu, aku ini sahabat baik Sungmin, tega sekali kau berbicara seperti ini padaku!"
"Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku memang benar-benar mencintaimu, seandainya kita bertemu lebih dulu.. tentu saja aku tidak akan membiarkanmu jatuh ke tangan Siwon, aku pun tidak akan bersama Sungmin, aku akan memilihmu. Aku juga mengerti perbuatanku ini salah.. tapi apa salahnya aku membuat pengakuan cinta untuk seseorang? Itu manusiawi bukan?"
"iya kan, Kibummie?"
Kibum tidak bergeming, wajahnya sedikit bergetar, antara kaget, senang, sedih juga perasaan lainya yang tidak bisa terbayangkan. Akal sehatnya masih tidak percaya Kyuhyun menyatakan perasaanya seperti ini, begitu cepat dan dengan kata-kata yang bodoh dan spontan.
Perlahan wajah Kyuhyun mendekat ke arahnya lalu menghembuskan nafas tepat di samping batang hidung mancung milik Kibum, terlalu cepat—dan Kibum tidak bisa menolak ataupun menerima. Ia hanya diam tak bergeming ketika bibir tipis Kyuhyun mulai masuk ke dalam bibirnya, melumat perlahan sesuatu yang harusnya menjadi milik Siwon, ciuman pertamanya...
Ini semua salah dan harus segera dihentikan, tapi Kibum menikmatinya.
Siwon.. ia sudah menghianati Siwon, tidak, ia bukan wanita seperti itu, ia bukanlah seorang penghianat, ini sudah salah, ini sudah sangat salah.
PLAK!
"Brengsek kau Cho Kyuhyun!" Makinya keras diselingi dengan tatapan benci dan nafas yang menderu. Pria di depannya benar-benar sudah gila, dan membuatnya kehilangan harga diri. Meskipun dalam hati rasanya was-was sekali, ia begitu takut Kyuhyun akan membencinya nantinya, tapi tetap saja, segala perlakuan Kyuhyun seakan menelanjangi harga diri Kibum.
2004 - Flashback End.
.
.
Now.
Ketika Siwon yang sudah siap dengan pakaian kerjanya baru saja akan melangkah turun tanggan sayup-sayup telinganya mendengar sesuatu yang aneh dari kamar Sungmin. penasaran, kaki jenjangnya melangkah sendiri mendekati kamar dengan pintu yang tidak ditutup rapat itu.
"Hoek.. Hoek.."
"Sungminnie, gwencana?" Tubuh Sungmin meringsut seketika ketika Siwon baru saja masuk ke dalam kamar mandi dan menyangga tubuhnya dengan bahu bidang milik Siwon. Beruntung sekali namja itu datang tepat waktu disaat Sungmin membutuhkan.
"Pusing, Wonnie.." Jawabnya perlahan, sungguh, seisi perut Sungmin terasa mual sedari tadi, ia sudah mencoba muntah berkali-kali—meskipun yang keluar hanya cairan-cairan bening dan tidak bisa memuaskan tubuhnya untuk berhenti muntah.
Siwon tampak cemas sembari meletakkan tangan kananya diatas kening berkeringat Sungmin, Badanya sedikit hangat, pucat dan tidak karuan.
"Minnie, bagaimana jika kita ke dokter saja, heum? Kau panas"
"Tidak perlu, aku hanya sedikit mual saja kok, terimakasih Wonnie" Balasnya singkat sembari memegangi perutnya perlahan.
Siwon mengerutkan alisnya, "Bagaimana kalau ku buatkan bubur saja? Setidaknya kau harus makan, lihat saja badanmu kurus kerempeng seperti itu, bayi kan harus diberi nutrisi" Saranya pelan-pelan sembari menggoda Sungmin. Sungguh, ia tidak sama sekali pernah berhadapan dengan orang hamil, istrinya kan belum pernah hamil, tapi ia malah mengurus istri orang lain di rumahnya tanpa pengalaman sedikitpun.
"Tapi aku tidak suka baunya" Potong Sungmin cepat, "daripada kau mengurusiku lebih baik kau berangkat kerja saja sana, aku bisa mengurus diriku sendiri kok, kau ini... terlalu baik"
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendiri disini? Kau kan tamuku, lagipula kau sedang menandung, bagaimana jika terjadi apa-apa?"
"Tidak apa-apa kok, sana pergi! Kau ini, memangnya aku anak SD yang apa-apa harus dilayani? Sudah sana berangkat!"
"Okay-okay, yasudah aku pergi dulu, bye. Hati-hati ya"
"Ne..."
Siwon kemudian keluar dan menghilang dibalik pintu besar itu, keluar setelah diyakinkan berkali-kali Sungmin tidak apa-apa lalu tak lama pergi ditandai dengan suara mesin mobil yang menderu dan lama kelamaan menghilang dari pendengaran Sungmin. ah tinggal bersama Siwon seperti ini sesungguhnya terasa begitu canggung. Mereka tidak pernah sedekat ini sebelumnya tapi kemudian, ketika dihadapkan pada situasi yang sama kemudian mereka bersatu—dan mencoba menyembuhkan hati masing-masing bersama.
Sungmin mengelus perut ratanya perlahan, ada yang hilang dari hatinya. Kyuhyun. Entah apa reaksinya ketika tahu ia sedang mengandung, akankah ia bahagia? Marah? Atau bersikap begitu protektif seperti Siwon sekarang? Entahlah. Ia hanya bisa berharap perlahan, bersama bayi yang dikandungnya ia menjadi kuat dan dapat bertahan. Meskipun uka dalam hatinya belum sama sekali mengering tetap saja ia berharap suatu saat nanti, bagaimanapun caranya ia bisa berlapang dada dan menerima kenyataan lalu kembali lagi ke pelukan Kyuhyun.
Apa ia mencintai Kyuhyun? Ya, ia mencintainya—bahkan lebih dari dirinya sendiri. Sejak SMA ia tidak pernah bisa mengurangi rasa sayangnya, lama kelamaan segalanya semakin erat dan mengikat—ia ketergantungan dengan Kyuhyun. Apapun yang pria itu lakukan, apapun yang menjadi kesukaannya, apapun yang ia putuskan selalu ia sukai dan ia dukung. Sampai sekarang, namja itu tetaplah prioritas utama dalam hidupnya, dan ia berharap Kyuhyun juga menjadikanya sebagai prioritas hidupya yang pertama di saat genting seperti ini.
"Kyu.. kau dimana? Apa kau merindukanku juga?" Bisiknya dalam tangis kecil disertai permohonanya pada tuhan.
~Kyuhyun~
Banyak hal yang terjadi dan membuat pria di usia pertengahan dua puluh yang sedang memandang lurus pada sebuah kaca besar terlihat berbeda. Dalam bayangan refleksi kaca wajahnya terlihat lebih muda, persis beberapa tahun lalu. Dengan sebuah kacamata membingkai kedua onyx miliknya, dengan gurat wajah yang sedikit lebih ceria, dengan tatapanya yang masih terlihat sama—dengan tubuh yang sedikit lebih pendek dengan pipinya yang sedikit menggempal.
Ia sudah berubah, secara fisik iya, tapi dengan mental dan sikapnya? Ia masih seperti Kyuhyun yang dulu, Kyuhyun yang pengecut..
Setelah apa yang ia lakukan kini Sungmin pergi meninggalkannya,ia tahu ia pantas diperlakukan seperti ini, tapi rasanya ia sendiri belum bisa menerima kenyataanya, roda kehidupan telah berputar dan apa yang ditutupinya bertahun-tahun pada akhirnya terbongkar juga. Hukum karma berlaku dan kini semuanya meninggalkannya. Bukanya ia tidak mencoba mencari Sungmin—kemarin baru saja ia pergi ke jepang, mencari Sungmin di rumah adik kandungnya yang ternyata juga sama saja. Tidak ada. Ia sudah mencoba menghubungi Sungmin berkali-kali, setidaknya berharap Sungmin akan mendengar penjelasan dan maafnya. Tapi semua itu sepertinya sia-sia, karena nyatanya ia sebagai seorang suami bahkan tidak bisa mengendus dimana keberadaan istrinya sekarang.
Tidak berguna, ia memang pria bajingan yang begitu tidak berguna. Ia lemah—lemah dalam mengambil keputusan, mana yang baik untuknya dan mana sesuatu yang harusnya ia hindari sejak lama.
Sedang dimana Sungmin sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia akan melakukan hal-hal gila sekarang? Apa dia sehat? Apa dia memikirkanya? Ah! Rasanya otaknya mau meledak demi menghayalkan sesuatu yang mungkin tidak terjadi dam mungkin saja akan. Jika biasanya Sungmin selalu memberi kabar—apapun kepadanya kini segalanya terasa hampa tanpa kehadiran istrinya yang aegyo. Tidak ada sms, telfon atau kabar sama sekali dari keluarga sekalipun. Gadis itu seakan menarik dirinya dari lingkarang setan, ia tidak kembali pada Kyuhyun sekarang.
Tidak ada yang bisa dilakukanya lagi selain menunggu, dengan langkah gontai perlahan ia berjalan keluar kamar mandi sambil menatap sofa ruang tamunya dengan sendu. Ada bayangan Sungmin yang sedang serius mengerjakan sketsa-sketsanya tengah malam disana, ada sosok Sungmin yang sibuk berkutat dengan buku-buku mode dan bertanya mana yang bagus atau tidak, ada bibir itu—tersenyum manis dengan riang ke arahnya, disana ada Sungmin-nya... Cho Sungmin miliknya..
Sepertinya beberapa jam di rumah beristirahat sangat berlebihan, Sungmin jelas lebih penting ketimbang tidur dua jamnya begitu tak berarti. Ia tidak perduli lagi dengan rasa kantuk yang menyerang usai keluar mencari-cari istrinya, lebih baik tidak tidur selamanya ketimbang harus berpisah dengan Sungmin. dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya dan bergegas lagi berangkat keluar, demi mencari seorang Cho Sungmin.
.
Dua minggu, dan itu bukanlah waktu yang cepat mengingat yang menghadapinya adalah seorang Cho Kyuhyun yang tersiksa lahir batin.
Lingkaran pada matanya lebih mengenaskan dari mata panda, ah kalian bisa menemukan mata sayu seperti miliknya ketika menatap mayat yang sudah lama diawetkan. Begitu kosong—dan seolah kehilangan semangat hidup. Tidak banyak yang cukup membantu, rata-rata semua orang yang dihubunginya tidak tahu atau mungkin berpura-pura tidak tahu dimana Sungmin sekarang, dan itu semua membuatnya gila.
Keluarga Lee yang terhormat sama sekali tidak tahu mengenai apa yang terjadi dengan rumah tangga mereka, tidak ada penolakan ketika Kyuhyun kesana apalagi amukan marah dari ayah Sungmin yang memang sedikit tegas. Bertemu lagi dengan mertuanya dalam situasi genting sama saja seperti saat ia melamar Sungmin. begitu mendebarkan—namun kali ini, semuanya sama sekali tidak sama. Tidak ada rencana bahagia, tidak ada komitmen dan tidak ada Sungmin disana. Semuanya menghilang—dan kini ia hanya sendiri, menghadapi apapun yang akan terjadi, sendiri.
Teman? Ah Sungmin memiliki banyak sekali teman. Ia seorang desaigner dan memiliki jaringan yang luas—bertanya pada banyak teman Sungmin bisa mengancam reputasi istrinya. Ia tidak bisa bertanya terang-terangan. Mana mungkin seorang suami tidak tahu dimana istrinya berada? Mustahil sekali dan mereka semua pasti akan mencium bau-bau yang aneh dari gelagat Kyuhyun. Tidak bisa, mereka sama sekali tidak bisa diandalkan.
Well, tidak ada juga satupun kabar dari Kibum sampai sekarang. Yeoja itu pasti sama menderitanya. Kibum juga menghilang—Siwon juga kabarnya sedang liburan bersama direksi-direksi lainya. Mungkin Sungmin belum bercerita apa-apa pada Siwon dan kini Kibum masih bisa bernafas lega. Mungkin saja, mungkin juga tidak. ia tidak perduli dengan apapun termasuk Kibum saat ini, ia hanya perduli pada satu nama—yang pernah mengikat janji sehidup semati dengannya, Sungmin.
.
.
Sungmin mengigit bibir bawahnya lagi. Mual, dan terasa terus menerus dan membuatnya begitu tersiksa. Tubuh mungilnya terhuyung-huyung kebelakang sebelum akhirnya menyentuh diinding kamar mandi yang dingin. Dengan kekuatan yang tersisa ia mencoba bangkit lagi dan keluar dari kamar mandi.
"Aegya, sayang sama Umma tidak? izinkan Umma minum susu, ne? Sekali saja hari ini... kan supaya Aegya sehat juga, boleh kan sayang" Ucap Sungmin pada bayinya sembari mengelus perutnya perlahan.
Ia menengguk susu itu sampai habis, tidak perduli rasa mual yang terus mendera. Hanya benda cair itu setidaknya yang mampu ia habiskan setelah semua makanan yang masuk ditolak mentah-mentah. Menjadi orang hamil memang begitu melelahkan. Tapi semua penderitaan itu tidak sebanding dengan apa yang akan ia lahirkan ke dunia nantinya.
Ia kembali duduk pada sebuah meja kerja yang masih berada dalam lingkungan kamar 'barunya' yang luas. Untungnya, Siwon memberikan segala fasilitas untuk pekerjaannya sebelum pria itu pergi untuk urusan bisnis. Tangan mungilnya berkutat lagi pada tumpukan sketsa-sketsa yang harus ia kerjakan tepat waktu, ia tidak bisa menunda-nunda semuanya apalagi mengundur-undur semuanya. Rencananya setelah menyelesaikan segala projek yang tersisa ia akan beristirahat—setidaknya inilah yang disarankan dokter untuk kesehatan bayinya dan sesuatu yang paling mudah ia lakukan sebelum kandunganya ini makin membesar.
Memiliki pekerjaan dengan tingkat stress yang tinggi dan dihadapkan pada target waktu selesai yang tidak lama membuatnya begitu repot. Meskipun saat ini ia sedang'kabur' tetap saja setiap paginya ia harus menyerahkan desaign-desaign yang telah jadi ke kantornya dan mengontrol kegiatan anak buahnya. Tentu saja, ini dilakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Kyuhyun dan telah ia sesuaikan dengan jadwal pekerjaan Kyuhyun, ia masih belum sanggup menemui wajah itu lagi.
Sebuah gaun putih serta tuxedo putih mungil terlintas dalam benaknya begitu saja,begitu lucu dan rasanya ia ingin memakaikan keduanya pada anaknya kelak. Dengan cepat sebelum khayalan itu hilang tangan berbakatnya menyambar pensil dan mulai menggambar. Dari mulai pola awal sampai detail-detailnya sekalipun.
"Kibum!" panggil seseorang dari belakang dilanjutkan dengan suara langkah kaki yang mendekat.
"Loh S-Sungmin? lee Sungmin? sedang ap-" Sebuah suaraa menginterupsi pekerjaanya, kepala Sungmin berputar dan menatap seseorang yang datang. Seorang wanita kelas atas bermantel bulu mewah kecokelatan dengan rambut khas yang digelung rapi ditambah wajah berkelas yang sama sekali menunjukkan usianya.
"oh, A-Anyeonghaseyo, Choi Umma"
"Loh Minnie? Sedang apa disini?" Tanya Choi Heechul sembari duduk di sebuah sofa besar, Umma dari Siwon itu memang mengenal baik Sungmin sejak lama. "Dimana Siwon?" Tanya Heechul lagi.
"Ah itu—" Sungmin berfikir dengan keras sebelum mengeluarkan jawabanya, "Ia sedang bekerja, eomonim, saya juga tidak tahu. Ah mianhamnida, untuk beberapa saat ini saya tinggal disini, Kyuhyun sedang pergi ke Jepang dan rumah kami direnovasi, sa—"
"Santai saja Minnie! Sudah berapa kali sih Umma bilang jangan kaku begitu?" Heechul tersenyum sembari memamerkan gigi-gigi berkilaunya, tangan kanannya menyibak rambut depanya sendiri dan memperlihatkan telinganya yang cantik. Ah, Seluruh tubuhnya memang benar-benar cantik dan terawat, persis barbie dalam usia keemasanya.
"Pakai saja rumah ini! Lagipula kan Siwon dan Kibum juga tidak memakainya, Umma juga kesini hanya untuk mengeceknya saja. Tadinya melihat kamar ini terbuka Umma pikir ada Kibum.. ternyata kau Sungminnie"
"Terimakasih Umma..."
"Ah jangan sok formal begitu deh darling, Wah kau sedang mengerjakan sketsa ya? Yang ini bagus sekali, chagi"
Heechul mengangkat salah satu sketsa Sungmin perlahan dan memandanginya lekat-lekat. Jika seseorang menganggap keluarga Siwon merupakan keluarga kaya yang moderat, itu salah besar. Istri dari Choi Hangkyung adalah wanita yang begitu santai dan ceplas-ceplos. Meskipun begitu, wajahnya juga hanya sesekali muncul ketika acara-acara tertentu saja. Sebagai orang kaya yang super sibuk Heechul dan Hangkyung memang tidak memiliki banyak waktu untuk tinggal di Korea. Terlebih ketika kedua pewaris mereka sudah dewasa dan berumah tangga.
"Eh, yang ini.. baju bayi-kah? Lucu sekali. Untuk apa mendesaign pakaian-pakaian mungil ini, Sungmmie?" Gumam Heechul, "oh atau jangan-jangan.. Kamu.. hamil?" dan dijawab Sungmin dengan anggukan perlahan.
Heechul memekik heboh, "Wah Chukkae Minnie! Sudah berapa bulan?"
"Baru... sekitar sebulan"
"Wah bagus sekali! Apa Kyuhyun sudah tahu?"
"Eh itu—"
"Maaf Nyonya besar, kendaraan anda telah siap.." Seorang pelayang menginterupsi keduanya, Sungmin bernafas lega bukan main ketika wajah Heechul menunjukkan gurat kekecewaanya, "Ah begitukah? Baiklah"
"Sungminnie, maaf ya, Umma harus pulang lagi ke China, jika saja tahu kau ada disini harusnya kita menghabiskan waktu bersama dulu! Ah sayang sekali Siwon tidak cerita! Sampaikan salam untuk Siwon, Kibum dan suamimu ya dariku! Umma pergi dulu, hati-hati"
Heechul melangkah keluar dengan anggun. Begitu saja, dan mungkin seperti inilaj rasanya menjadi keluarga Choi. Tidak ada insensitas pertemuan yang sering, satu sama lain saling sibuk hingga Sungmin rasa mereka bahkan tidak saling bertemu satu sama lain.
Ia saja begitu kesepian disini, sendirian, dan segala fasilitas yang lengkap dan ada terasa membosankan setengah mati. Tidak ada satupun pelayan yang bersahabat, semuanya seakan menjunjung tinggi profesionalitas—dan menyisakanya sendirian di kamar tanpa berani keluar saking canggungnya.
Sungmin memang bukanlah orang yang kekayaanya menumpuk seperti Siwon meskipun ia sendiri tidak dapat dikatakan wanita sederhana. Setidaknya, ia masih beruntung memiliki hidup yang normal diluar sana. Tidak kesepian terus-terusan sendirian, tidak harus menunggu suaminya pulang, itupun jarang-jarang dan tidak harus bersikap seolah baik-baik saja didepan semua orang yang melihatnya. Apakah.. ini rasanya menjadi Kibum?
Gadis itu—ah penghianat. Namun bagaimanapun juga Kibum pernah menjadi sahabatnya dan Sungmin sungguh kenal sifat Kibum yang pendiam dan pandai menutupi segala hal rapat-rapat. Sekalinya ia berbicara, Kibum bahkan tidak memiliki raut wajah emosional. Ia tidak menangis, terlihat sedih atau sebagainya. Seumur hidup ketika menjadi sahabat Sungmin ia tidak pernah mendengar Kibum mengeluhkan perkawinanya, atau keluarganya, atau apapun itu. Yah semuanya.
Menikah dan memiliki komitmen dengan seorang yang dicintai tentu saja merupakan impian semua perempuan di dunia ini. seorang pangeran berkuda putih dengan wajah gagahnya dan kerajaan yang sudah menunggu. Menjadi putri yang cantik dan baik hati. Semuanya telah Kibum dapatkan sejak lama, ah bahkan ia sama sekali tidak pernah berusaha mendapatkan pangeran impianya—seorang namja sempurna bahkan sudah mengejar ngejarnya sejak SMA. Hubungan yang begitu mulus meskipun berjalan sedikit alot pada awalnya, sesuatu yang bahkan dalam hati Sungmin begitu membuatnya iri.
Tapi Siwon bukanlah manusia sempurna, pria sepertinya juga memiliki kekurangan. Jika dulu, pria itu hanya sibuk bekerja jika dipanggil orang tuanya kini pria itu bahkan bisa tidak pulang sebulan atau dua bulan untuk urusan bisnis. Dan tentunya, Kibum harus terus-terusan memasang topeng dan mengangkat wajahnya lalu tersenyum lebar kepada semua orang. Pasti rasanya begitu menyakitkan hingga Kibum tidak tahan dengan semua ini.
Perlahan Sungmin sadar, Kibum bukanlah wanita jahat. Kesepianlah yang membuatnya begini, dan bagaimana entah caranya Kyuhyun menjadi sandaran hati Kibum. hah apa sih yang ia bicarakan? Mengapa ia jadi sok-sok peduli dengan gadis itu lagi?
"Astaga, aku bosan sekali.." Batin Sungmin sembari berjalan ke arah kasur.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Sungmin mengganti pakaianya dengan gaun tanpa lengan kemudian menyambar sebuah tas tangan kecil. Daripada bosan, ia memutuskan untuk berjalan-jalan saja keluar. Rasanya ia ingin sekali menghirup udara kota Seoul dan berjalan-jalan sebentar.
Ia merencanakan banyak hal hari ini, entahlah. Ini pertama kali dalam hidupnya ia pergi sendirian tanpa Kyuhyun disisinya. Ah salah, hari ini ia tidak sendirian, ada bayi kecil dalam perutnya yang akan terus bersamanya dan menemaninya kelak.
Sungmin sudah seperti anak kecil saja. Berjalan sendirian sembari sibuk menjilati ice cream strawberry kesukaanya. Jika dilihat dari sisi manapun Sungmin memang terlihat seperti seorang anak remaja yang cantik, dengan rambutnya yang digelung acak-acakan dan terkesan manis ditambah dengan kunciran merah dengan sebuah cherry diatasnya. Belum lagi wajah aegyo dengan mata bulatnya yang imut sekali dan membuat beberapa remaja yang berjalan didekatnya berdecak iri.
Satu gelas ice cream, se cup penuh tteoboki, beberapa batang sosis, dan banyak sekali makanan yang disantapnya sembari mengelilingi seisi jalanan penuh makanan belum membuatnya puas. Ia masih lapar dan seakan semua yang ia makan tadi benar-benar sama sekali tidak mengenyangkan, ia menginginkan semangkuk ramyun pedas yang tidak jauh dari sini—tempat favoritnya dan Kyuhyun. Ia ingin sekali sekedar mencicipi kuahnya yang lezat dan membuat air liur menetes deras.
"Selamat datang—ah Sungmin! sudah lama sekali!" Jung Ahjumma, dengan rambut memutih yang dikeritingnya menyambut Sungmin histeris, refleks ia mendekat kearah pintu masuk tempat Sungmin berdiri.
"Ahjumma! Aku merindukanmu!" pekik Sungmin sembari memeluk sosok tua yang begitu baik padanya itu.
Sungmin masih ingat saat saat manis ketika berpacaran dengan Kyuhyun. Ia sering sekali mengajak Kyuhyun bolos hanya untuk menikmati semangkuk ramyun buatan bibi Jung yang sudah sangat terkenal enak.
"Ayo duduk Minnie! Ah kau ini, sudah lama sekali sih tidak kesini? Memangnya tidak kangen dengan ramyun Ahjumma ya?"
Sungmin tersenyum manis, "Aniyo, aku.. hanya sedang sibuk saja sekarang, aku pesan satu ya, yang seperti biasa"
"Ah.. tidak perlu kau minta juga aku sudah tahu, ayo sini duduk disini saja! Tempat spesial untuk langganan spesialku!"
Jung Ahjumma membawa Sungmin ke sebuah ruangan kecil dengan dua bangku yang dibiarkanya tertata rapi di pojokan. Ah ruangan ini juga ruangan yang sama ketika ia dan Kyuhyun makan sembari bersembunyi. Mengingatnya lagi menjadi sakit sendiri, lebih baik, ia fokus saja pada hidangan lezat yang baru saja tersaji di hadapanya.
.
.
Langit menghitam dan mulailah turun setitik demi setitik air. Hujan, dan bodohnya lagi Kyuhyun terjebak diantara kerumunan-kerumunan orang yang senasib denganya. Berlarian dan mencari tempat berteduh. Mencari Sungmin di tengah kerumunan sebanyak yang ia lihat saat ini saja sepertinya begitu sulit tpai ia menghadapi yang lebih parah lagi dari ini, ia sudah depresi—tidak tahu lagi harus mencari Sungmin kemana dan semua ini membuatnya frustasi.
Tubuhnya yang kebasahan membawanya berlari kencang ke sudut-sudut kios makanan, entah berapa hari ia sudah melupakan kata 'makan' dalam otaknya. Tapi kali ini cacing-cacing kecil sepertinya tidak bisa berkompromi lagi dan terus meminta asupan gizi.
kedai ramyun, pilihan yang tepat untuk suasana dingin seperti ini, kedua kaki jenjangnya seolah memimpin dan mengendalikan tubuhnya. Aroma kuah kaldu mengental yang tercium sejak ia lewat benar-benar menggoda iman dan birahinya. Penasaran, ia pun masuk ke dalam kios berukuran kecil itu.
Ia masuk dan menyandarkan tubuhnya pada sebuah kursi kecil. Sudah lama sekali ia tidak ke kedai ini dan tidak ada perubahan yang cukup berarti. Masih sama saja seperti dulu. Bau cat-nya yang membuatnya rindu akan masa lalu.. coretan-coretan di dinding-dinding, daun pintu dengan kayu yang agak mengelupas.. dan sentuhan masa lalu masih begitu terasa kental.
"Kyuhyun? Kaukah itu?
"Ah n-ne Ahjumma" Ia menoleh, menatap sosok tua yang ada dihadapanya sembari tersenyum,
"Mau menjemput Sungmin ya?"
"Sungmin?"
Jung Ahjumma tersenyum sembari meletakkan piring pesanan orang lain, "Iya, sungmin kan ada di dalam"
"Sungmin?!"
Tanpa memperdulikan sang pemilik kedai Kyuhyun berlari memasuki bagian belakang. Antara was-was, rindu, lega sekaligus takut. Semuanya tercampur aduk dan menyisakan rasa ingin tahunya yang besar, dengan hati setengah takut Kyuhyun mencoba membuka pintu kayu dan menatap seseorang yang berada di dalamnya. Disana benar, ada Sungmin. menatap kearahnya dengan wajah begitu kaget hingga menjatuhkan sumpit yang dipegangnya.
"Kyu.." Kyuhyun langsung memeluk Sungmin setibanya, menghirup aroma yang begitu dirindukanya, membelai lembut pucuk kepala Sungmin dengan sayang meskipun Sungmin hanya diam tak bergeming menatap kedatanganya.
Sungmin menatap wajah itu kaget, Kyuhyun. Kini sudah berdiri dihadapanya dan memeluknya erat-erat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa ini mimpi? Tentu saja Bukan. Rasa ini begitu nyata—dan begitu dekat. Hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya kemudian mendekat begitu saja dan seperti tidak bisa melepasnya. Mereka menempel.
"Untuk apa kau kesini, huh? Pergi sana!" Maki Sungmin kesal, amarahnya seakan melunjak melihat wajah Kyuhyun, tiba-tiba saja sosok yang dirindukannya itu menjadi seseorang yang mendadak dibencinya setengah mati.
"Aku benar-benar kehilanganmu.. aku benar-benar meminta maaf Cho Sungmin, aku tahu kau pasti akan membenciku. Merasa tersakiti, ah mungkin kau merasa menderita dengan semua ini. sekali lagi, aku minta maaf, aku tahu mungkin kesalahanku ini tidak dapat dimaafkan.. apa.. kau sebegitu bencinya denganku hingga pergi meninggalkanku begitu saja? Kembalilah sayang. Aku tidak bisa hidup tanpamu disisiku."
"Kembali? Hanya itu yang kau inginkan dariku? Yak Cho Kyuhyun! Kau begitu egois!" Bulir-bulir air mata keluar dari dua bola mata Sungmin yang indah, hidung dan pipinya memerah. Jika Sungmin mulai merenggut berarti ia benar-benar marah.
"Kau menghianatiku dan ini yang kau ucapkan setelah menemuiku? Cih, memangnya menurutmu berselingkuh sama dengan tidak membalas sms seharian penuh, hah? Aku ini istrimu! Dan kau sudah menduakanku demi perempuan lain yang merupakan sahabatku sendiri.
Aku binggung harus bagaimana, aku marah, tentu saja iya. Aku kesal, tentu! Segala rasa sakit ini benar-benar membuatku gila, kau, orang yang kucintai selama ini dan kukira akan selamanya membalas perasaanku ternyata telah membagi hatimu untuk Kibum. dan apakah aku tidak boleh marah atas semua sikap menjijikanmu itu?" Sungmin menekankan kalimat 'menjijikan' itu tepat ketika memandang mata Kyuhyun dengan berani.
"Kau.. adalah seseorang yang kupuja, dan kucintai melebihi diriku sendiri. Dan kau tahu? Saat aku menemukanmu di hotel nista itu semuanya terasa hancur"
Kyuhyun hanya bisa menunduk lesu. Semua perkataan Sungmin memang benar, ialah yang bersalah. Dan ia pantas sekali menerima hukuman, sebesar apapun itu. Sungmin seorang korban—jika ia dikhianati terus-menerus. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Min.." Gumamnya lirih, "Kali ini.." Kyuhyun berlutut dihadapan Sungmin kemudiam menaruh kedua tanganya di pangkuan paha Sungmin yang masih setia duduk di mejanya.
"Aku benar-benar meminta maaf.. aku menyesal, hanya itu yang dapat ku ucapkan sekarang Sungminnie.. kau harus percaya padaku, karena aku benar-ben—"
"Sudahlah Kyu" Potong Sungmin,"Aku sedang malas berdebat denganmu. Sekarang renungkanlah dulu semua yang terjadi antara kita dan temukanlah jalanmu sendiri untuk pulang. Aku baik-baik saja dan kau juga harus begitu. Kita sudah dewasa, ini bukan sekedar masalah kecil yang bisa diselesaikan dengan meminta maaf. Ini kesalahan beberapa orang dewasa yang saling berhubungan, aku juga salah, aku tidak bisa menjagamu, menjaga hatimu hanya untukku. Disini bukan hanya kita saja yang terluka, kau harus ingat kau sudah menghianati seorang pria lainya yang selama ini sudah membantu banyak untuk keluarga kita, kau melupakan Siwon, Kyuhyunnie. Kau melupakan dia, pria yang selalu menyelamatkan kita. Kau terlalu fokus hingga sama sekali tidak mengingatnya."
Kyuhyun termangu, Siwon. Sang penyelamat dalam hidup mereka berdua, pria yang mengenalkanya pada pengacara-pengacara terbaik, membantu finansial keluarga Cho agar ia bisa melanjutkan kuliah di tempat yang baik, teman yang tidak pernah sama sekali meminta apapun darinya, pria yang begitu baik hingga rasanya ia bukan sahabat Kyuhyun, melainkan kakak kandungnya sendiri.
ia memang harus meminta maaf pada Siwon, sebesar-besarnya jika perlu berlutut dan mencium kakinya pun Kyuhyun mau. Siwon sudah membuatnya menjadi seperti ini dan apa yang ia lakukan pada pria itu? Bersetubuh dengan istrinya, yang begitu Siwon cintai dan satu-satunya hal yang membahagiakan Siwon dalam hidupnya yang bergelimpangan harta. Ia bahkan melakukannya bertahun-tahun dan pria itu bahkan tidak pernah tahu.
"Pergilah Kyu, carilah dia, mohon maaf padanya, aku tidak sanggup melihat sorot matanya yang begitu sedih ketika ia menceritakan segalanya padaku. Ia sudah tahu hubunganmu dengan Kibum, Kyu. Ia sudah tahu sejak lama dan ia terus-terusan memendamnya"
"A-apa?!" Pekik Kyuhyun kaget, persendianya lemas semua.
"Aku memaafkanmu Kyu, jika kau memang sungguh-sungguh dengan ucapanmu barusan, tapi kau harus melakukan satu hal untukku. Minta maaflah dengan Siwon"
Kyuhyun hanya mengangguk lirih dan meninggalkan Sungmin sendiri sementara gadis itu—yang membelakangi tubuh suaminya mulai menangis lirih, sambil mengelus perutnya yang masih rata dan menahan isakan tangisnya yang sudah tidak terbendung lagi.
Ia ingin sekali memberikan kabar gembira ini, ia hamil. Dan ingin sekali pria itu tersenyum bahagia mendengarnya. Tapi rasanya sangat sulit sekarang dan ia masih harus lebih bersabar lagi, ia masih harus menunggu waktu yang tepat untuk mengatakanya.
"Maafkan aku, Aegya, Umma belum bisa bercerita pada Appa-mu...karena.. hidup kita menjadi begitu rumit sekarang" batinya lirih.
.
.
TBC
Maaf sekali jika chapter ini bertele-tele kyk cinta fitri-_- saya sadar sekali-_-
Saya membuat chap ini isinya KyuMin semua, sengaja sih sebenernya supaya satu-satu selesainya, karena panjang sekali dan pastinya reader-ssi akan bosan jika saya buat terlalu panjang-_- insyaallah klimaks-nya ada di chap depan, soalnya kalo saya buat semakin panjang juga pasti bikin bosen banget kan?
Mohon maaf atas keterlambatan saya dan waktu yang suka ngaret dlm update ff, saya sudah kelas 3 dan saya juga baru saja try out-_- ini aja saya ngerjain kilat dari pada smp jam sebelas siang-_- mohon maaf ya reader-ssi^^ Untuk ff yang lain ttp saya lanjutkan kok tp lagi ngadet otaknya jadi saya lanjutkan berdasarkan mana yang jalan ceritanya sudah ada di otak saya hehe-_-
