Why Love Is Hurt Me ?

***

-Diclaimer-

Bleach : Tite Kubo

***

Kenapa cinta itu itu menyakitiku ??

Padahal aku telah mengorbankan apa pun

Untuknya ..

***

WARNING : Chapter kali ini menampilkan OC bernama Aizen Shaorin dari author bernama Ichimaru Aizen, dan juga di tampilkan bersama chara Bleach jadi, DON'T LIKE DON'T READ.

***

Part 2

Aku menatap Shaorin lekat-lekat saat gadis itu sedang mengumpulkan berkas kepolisian. Wajahnya memang manis. Rambutnya yang ikal dan juga matanya yang berwarna coklat senada dengan rambutnya terlihat berbeda di mataku.

Tiba-tiba, dia menatapku. Terang saja aku segera membuang muka. Malu sekali rasanya saat ketahuan memperhatikan dia.

"Ada apa, Kensei?"

"Tidak ada apa-apa, sudah selesai mengumpulkan berkasnya?" tanyaku seolah mengalihkan pembicaraan.

"Sudah, ini," dia menyerahkan berkas itu padaku. Aku menerimanya lalu menaruhnya pada brankas. Maklum saja, ini berkas penting. Bila hilang, aku akan di tendang dari kepolisian Karakura.

"Kalau begitu, kau bisa pulang," ujarku.

"Kalau begitu, aku pulang duluan, Kensei," dia segera beranjak dari kursi dan berjalan ke pintu.

"Hei, siapa yang menyuruhmu pulang!" sahutku.

"Eh, bukannya Kensei mengatakannya barusan?" wajah Shaorin terlihat bingung.

"Tapi, aku tidak bilang sekarang, bukan?" aku balik bertanya. Shaorin terdiam di tempatnya.

"Lalu? Kapan aku harus pulang?" tanyanya lagi.

"Setelah kau mau menerima permintaanku untuk mengantarmu pulang," jawabku datar. Tapi, walau pun begitu, aku merasa gugup setengah mati saat itu.

Wajah Shaorin terlihat bingung sekaligus memerah.

"Ngg… soal itu…," dia menghentikan bicaranya sebentar, "sepertinya tidak bisa."

"Ayolah, Sha! Aku tidak pernah tahu rumahmu di mana!"

"Ok ok, baiklah," jawabnya akhirnya. Tapi, setelah itu dia menghela napas berat. Ada apa dengannya?

***

Mobilku berjalan mulus di suatu jalan.

"Berhenti di sini saja," tukas Shaorin.

"Kenapa? Memangnya rumah di sini?" tanyaku.

Shaorin menggeleng. "Tidak, rumahku masih jauh dari sini. Hanya saja, jalanan menuju rumahku setelah ini terlalu sempit untuk di lewati mobil."

Aku mengangguk mengerti. Tapi, aku mencegatnya sebentar.

"Sebentar, aku ingin mengatakan sesuatu," ujarku cepat. Dia menatapku dengan tatapan keheranan.

"Apa?"

Aku menghela napas panjang. Cukup lama suasana hening. "Aishiteru, Shaorin."

Wajah Shaorin terlihat kaget. Lalu, dia menggigit bibir bawahnya, seperti sedang gundah.

"Maaf, aku tidak bisa."

Eh?

"Tidak bisa?"

"Maaf, aku permisi dulu," Shaorin segera keluar dari mobil dan berjalan menjauh.

Sepertinya, aku di tolak.

***

Shaorin kembali terlihat lagi di bangunan pertokoan kumuh itu lagi.

"Aku sudah mendapatkan informasinya," gumam Shaorin.

"Baguslah, kita bisa melaksanakannya," terdengar suara lagi.

"Kapan?"

"Tentu saja besok."

***

Aku berusaha santai dengan membaringkan diri di sofa ruanganku. Sepanjang pagi dan siang ini, aku tidak mendapatkan pekerjaan sedikit pun. Aneh sekali.

Dan anehnya lagi, aku tidak melihat Shaorin. Kemana dia?

BLAM!

Pintu terbuka dengan kasar.

Dan terlihat Mashiro. Dengan tergesa-gesa dan wajah serius.

***

"Ada apa, Mashiro?" tanyaku.

"Kensei… ada hal yang gawat… yang mesti kita… kerjakan… sekarang," jawab Mashiro dengan terbata-bata. Napasnya tersengal-sengal. Mungkin dia langsung berlari ke ruanganku tadi.

"Hal gawat?"

Mashiro mengangguk cepat. Tapi, dia menarik napas sebentar lalu menghembuskannya. Mungkin dia hampir kehabisan napas tadi.

"Ada berita akan perampokan mendatang oleh… kelompok Shinigami Pengkhianat."

Aku tersentak.

Itu adalah nama kelompok yang telah lama terkubur di dalam buku tebal kriminalitas kota Karakura. Aku tidak pernah mendengarnya lagi sejak beberapa tahun lalu.

Dan sekarang, mereka muncul dan kembali merampok seperti dulu. Dan masalahnya

…mereka selalu saja BURON.

Bagus. Sekarang Mashiro akan mengatakan apa lagi padaku?

"Dan sekarang, soutaichou memerintahkan Divisi 9 untuk mengurusnya," ujar Mashiro.

"Kapan?"

"Malam ini… karena mereka selalu menjalankan rencana saat malam hari."

End Kensei POV

***

Gedung pameran permata dari pelosok dunia …

Tokyo, Jepang …

Shaorin berada di atap bersama seorang lelaki dan beberapa orang lainnya. Mungkin anak buah tepatnya.

"Satu-satunya tempat yang selalu memiliki celah adalah lubang angin," jelas seorang lelaki bermuka dingin dan bermata hijau tisca.

"Haha, kelemahan pusat pameran selalu itu," seorang perempuan terdengar terkekeh.

"Sha, kau bisa melakukannya?" tanya lelaki berambut coklat. Secara fisik, lelaki itu sama seperti Shaorin.

"Tentu saja, itu hal mudah," jawab Shaorin.

"Tapi cepatlah, Gotei 13 akan segera datang nanti."

"Tenang saja, aku pasti bisa."

Shaorin dengan cepat memasang handy talkie (HT) dan masuk ke dalam lubang angin.

"Aku mengandalkanmu," kata lelaki berambut coklat itu lagi, dengan setengah berbisik.

"Baik, kakak."

***

Shaorin merangkak secepat mungkin dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun. Setelah yakin berada di ruangan pameran, dia mengintip sebentar melalui celah yang ada.

Lalu, perempuan bermata coklat itu turun secara perlahan dan berjalan mendekati sisi gelap ruangan.

Tampak seorang penjaga berjalan menjauh, memasuki pintu utama untuk ke ruangan permata yang di jaga, Black Shine.

Berbekal sebuah sumpit, Shaorin berjalan. Mengendap di belakang penjaga tersebut lalu, menotok bagian tubuh tertentu. Sejenak, penjaga tersebut pingsan.

'Lemah' batin Shaorin.

Kembali dia berjalan dan berseberangan langsung dengan permata incarannya itu.

Kemudian, terdengar suara dari HT. "Sha, kau bisa mendengarku? Hati-hati, di depanmu ada penjagaan ketat dari laser."

"Ya, aku tahu. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"

"Pakailah kacamata khusus penglihat laser yang aku berikan padamu."

"Hai."

Shaorin segera mengeluarkan sebuah kacamata besar dan memakainya. Terlihat berpuluh garis laser ada di hadapannya.

"Well, seperti aku akan lumayan lama melakukan ini, kakak."

"Tak apa tapi berusahalah untuk cepat."

"Hai."

***

Kensei mempercepat mobilnya sampai akhirnya tiba di depan gedung pameran tersebut. Lelaki itu segera turun dan berlari masuk.

"Permisi, ada keperluan apa anda di sini?" tanya salah seorang penjaga.

Kensei segera merogoh saku dan mengeluarkan kartu tanda pengenal.

"Saya taichou divisi 9, Mugurama Kensei."

Penjaga tersebut terdiam dan segera mempersilahkan Kensei masuk ke dalam.

"Hei, Kensei. Tidak apa kalau kau sendiri saja? Masalahnya kami masih agak jauh dari gedung itu."

"Bukankah tadi aku sudah bilang ikut aku saja?" balas Kensei ke suara yang terdengar di HT.

"Tidak perlu marah seperti itu, Kensei."

"Aku tidak marah."

"Kau terdengar marah."

"Sudahlah, lebih baik kau diam. Hubungi aku bila perlu saja,"

"Tapi—"

"Kau dengar apa yang aku katakan barusan bukan? DIAM."

"Baiklah, Kensei."

***

Shaorin mulai melompati, menunduk dan juga bersalto untuk melewati laser itu. Agaknya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

"Kak, apa laser ini laser pemotong?" tanya Shaorin melalui HT.

"Aku juga tidak begitu mengetahuinya… coba saja lemparkan sesuatu ke laser itu."

"Tapi… kalau laser ini ternyata bukan laser pemotong melainkan laser yang membuat alarm berbunyi?"

Hening sejenak.

"Kau tidak perlu memikirkan itu. Lagipula, lebih baik kau cepat melewati laser itu dan ambil permatanya."

"Sudah kok. Ini aku berada tepat di hadapan permatanya."

***

Kensei mempercepat jalannya setelah firasatnya mendadak tidak enak. Segera dia membelok ke kiri dan mendapati pemandangan itu.

Shaorin yang sudah mengenggam permata berharganya.

"Shaorin!"

Perempuan itu terkejut—tidak kalah dengan Kensei tentunya—saat panggilan itu memecahkan suasana hening yang di buatnya.

"Ke-kensei!" seru Shaorin.

Perlahan, Kensei memencet tombol rahasia yang membuat laser yang menyelumuti sekeliling menghilang tanpa jejak.

"Kenapa kau ada di sini? Kenapa kau memegang permata itu? Apa kau… anggota kelompok Shinigami Pengkhianat?" Shaorin di hujani pertanyaan oleh Kensei dalam sekejab.

"Kensei—"

"JAWAB AKU SHAORIN!"

Mata Shaorin membesar saat menyadari amarah Kensei telah sampai batasnya.

"I-iya… aku bukan hanya anggota dari kelompok itu—aku juga adik dari pendiri kelompok itu, Sousuke Aizen."

Kensei—yang memperhatikan dengan seksama—hanya bisa diam dan belajar untuk menerima kenyataan itu.

"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin," ujar Kensei. Napasnya mulai beradu.

"Maaf tapi itu benar."

"Tapi—"

"Aku juga mencintaimu," potong Shaorin. Suaranya bergetar. Matanya mulai di genangi oleh titik air mata.

"Tapi takdir justru memintaku untuk pergi dari segalanya, termasuk kau."

Kensei menelan ludah.

Tanpa dia tahu Shaorin berjalan secepat mungkin. Dan dengan cepat memukul tengkuk Kensei dan menyebab pria itu jatuh pingsan.

"Shaorin, cepat pergi. Polisi telah dalam perjalanan ke sini." Terdengar suara dari HT milik Shaorin.

"Baik kak, aku ke sana."

Shaorin mulai berjalan menjauh. Sesekali dia melirik kembali pada Kensei—cinta yang takkan pernah menjadi miliknya untuk seterusnya.

"Selamat tinggal, Kensei."

***

Seminggu kemudian …

"Hei, Mashiro, apa kau melihat Kensei?" tanya Hirako.

Mashiro hanya bisa menggelengkan kepala dan menjawab, "tidak—dia bahkan tidak memberi kabar apa pun padaku."

"Eh? Benarkah?"

"Iya, kata Soutaicho dia sudah mengundurkan diri dari jabatan kapten dan berhenti menjadi polisi."

***

Di lain tempat atau tempatnya yang baru, Kensei menatap langit biru. Menelusuri satu demi satu kenangan masa lalunya—termasuk bersama Shaorin.

"Shaorin, di mana kau sekarang? Kenapa cinta kita justru cinta yang terlarang? Cinta yang tidak di takdirkan sama sekali untuk bersama?"

***

Rukina : Gaje ya endingnya ?? –nanya ke readers-

Readers : Iyyyaaaaaaaaa ..

Author : Gagal gue jadi author kalo nggak bisa bikin ending bagus …

Rukina : -nggak meduliin author yang terpuruk- REVIEW !!