.

.

Lover Eternal

Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, fantasy, tragedy/hurt/comfort, vampire

Rated : T – M

.

.

Hari dimana Sakura akan di operasi telah tiba, Sakura meminta pada pihak rumah sakit agar operasinya dijalankan tengah malam, dia ingin Sasuke menemaninya. Dan keinginan gadis itu terkabul, kini Sasuke sedang berada di ruang tunggu bersama Naruto, Neji, Hinata dan Karin.

"Teme."

"Hn."

"Mana sahabat Sakura yang berjenis kelamin laki-laki itu?" tanya Naruto pada Sasuke, dia tahu Sasuke akan marah kalau ada yang menyebut nama 'Gaara' di hadapannya.

"Tidak tahu dan tidak peduli," jawab singkat oleh Sasuke.

"Masih tidak berubah, tetap dingin yah," ucap Hinata yang sedikit terkekeh.

"Makanya aku tidak mau dengannya," ucap Karin ketus.

Sasuke melirik tajam pada Karin, dan lirikan itu cukup untuk membuat mulut Karin terbungkam, Sasuke bukan tipe laki-laki yang banyak bicara kalau sedang kesal… kesal? Ya, saat ini Sasuke sedang kesal menunggu jalannya operasi yang lumayan lama.

"kenapa lama sekali yah?" tanya Neji entah pada siapa.

"Kerja manusia itu lelet!" geram pelan Sasuke.

Tidak ada yang berani mengomentari hinaan Sasuke itu, namun pertanyaan Naruto yang dia lontarkan saat ini membuat semua orang saling pandang, "Eh? Mana Shikamaru?"

Sasuke yang tadi sedang duduk dan menundukkan kepalanya kini mendongak, menoleh pada Naruto yang berbicara. Benar juga, kemana Shikamaru? Kenapa dia absen? Biasanya Shikamaru selalu ada dimana pun Sasuke berada, ibaratnya Shikamaru itu sudah seperti partner Sasuke setelah Naruto dan Neji.

"Coba kau hubungi dia," perintah Sasuke pada Naruto.

Naruto mengangguk dan merogoh hp-nya, dicari nama Shikamaru kemudian ditekan tombil hijau itu, Naruto menempelkan hp-nya pada telinga kirinya.

"Tidak diangkat," ujar Naruto.

"Coba hubungi teman wanita Sakura itu," kata Sasuke dengan wajah yang kini berubah menjadi sedikit cemas sambil melempar hp-nya pada Naruto.

"Okay," jawab Naruto yang mengambil nomor Ino dari hp yang di lemparkan oleh Sasuke itu.

Ditunggunya nada yang masih tersambung itu, namun tidak ada yang mengangkat.

"Tidak ada jawaban juga," info Naruto.

"Telepon rumahnya," usul Neji.

Naruto mengangguk, kemudian hasilnya juga sama, tidak ada yang mengangkat sama sekali, "Nihil," jawab Naruto.

"Apa menurutmu, Shikamaru bersama dengannya?" tanya Neji pada Sasuke.

"Kemungkinan besar," jawab Sasuke singkat.

"Kenapa kau yakin?" Neji kembali bertanya.

"Kau meragukanku?" ucap Sasuke dengan sinis.

"Ah, tidak… bukan begitu, hanya saja Shikamaru kan-,"

Sebelum Neji sempat menyelesaikan kalimatnya, sang Dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang masih tertutup masker. Dibuka masker itu dan sang Dokter tersenyum lebar pada Sasuke dan yang lainnya.

"Sukses," kata sang Dokter sambil mengacungkan jempolnya.

"Syukurlaaah~" ucap Hinata dan Karin.

Hinata sangat penasaran dengan Sakura, karena dia dengar dari cerita Naruto, Sasuke itu sangat menyayangi Sakura, padahal Sasuke adalah vampire yang sangat buruk attitude-nya, sering melakukan sex sana-sini, apa yang membuat Sasuke jatuh cinta pada Sakura? Setelah Hinata bertanya pada Karin, seperti biasa… Karin menjawabnya dengan pedas, dia bilang Sakura tidak cantik dan tidak ada kesan seksi sama sekali.

Namun dibalik pedasnya omongan Karin, diam-diam Karin-pun mulai menyukai sosok Sakura yang apa adanya, juga memperlakukan kaum vampire seperti manusia biasa. Apalagi Sakura lah satu-satunya yang bisa mengontrol makhluk kutukan Sasuke itu, entah ada apa dengan makhluk itu kenapa bisa sampai luluh dengan Sakura.

.

.

Beberapa hari pasca operasi, Sakura sudah mulai bisa di jenguk, dan ini adalah pertama kalinya Sakura bertatap muka langsung dengan Hinata. Salah satu vampire wanita terkuat.

"Hai Sakura, salam kenal, aku Hinata Hyuuga, sepupu Neji," ucap Hinata mendekatkan dirinya pada Sakura.

Sakura tersenyum dan menjawab, "Salam kenal juga."

"Wah, aku tidak menyangka kau bisa secepat ini sehatnya, aku pikir kau ini wanita lemah yang butuh waktu panjang untuk pemulihan," celetuk Karin sambil menyenderkan tubuhnya di tembok.

"Karin… seperti biasa yah, ucapanmu pedas, tidak ada manis-manisnya," kata Sakura terdengar seperti lebih menyindir.

"Wah, maaf yah kalau aku bukan tipe wanita lemah lembut dan selalu di lindungi pangeran seperti mu," jawab Karin membalas sindiran itu.

"Ah tidak juga, aku justru iri padamu yang tidak mempunyai sisi kewanitaannya sama sekali, hohoho," balas Sakura.

"Mereka ini saling memuji atau sindir-sindiran sih?" pikir Neji yang juga ada di ruangan itu.

"Sakura, Dokter bilang minggu depan kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit," ucap Sasuke sambil membelainya.

"Ng, aku ingin cepat-cepat keluar… ah! Sasuke, boleh aku minta tolong?"

"Apapun untukmu," jawab Sasuke lembut.

"Aku ingin bertemu dengan Ino, kemana dia? Apa tidak ada yang memberi tahunya? Dan Ga-" ucapan Sakura terputus ketika akan menyebut nama 'Gaara' karena mata Sasuke berubah menjadi sinis padanya. Sasuke benar-benar tidak suka Sakura menyebut nama laki-laki itu.

"Sasuke… dia sahabatku dari kecil~" gumam Sakura sedikit takut melihat tatapan kekasihnya.

"Aku izinkan kamu bertemu dengannya, asal ada aku di sisimu," ucap Sasuke.

Wajah Sakura kembali ceria, dia mengangguk sambil menjawab, "Ng," pada Sasuke.

"Hei, markas tidak ada yang mengawas, bagaimana kalau aku dan Hinata kembali saja?" ucap Naruto tiba-tiba.

"Wah, terkadang soulmate-mu ini pintar juga yah, Hinata," ujar Karin, "Lebih baik kita semua kembali, biar Sasuke yang di sini."

"Tunggu dulu," cegah Sasuke, "Sakura… maaf, ada yang harus kulakukan dulu, apa kamu akan baik-baik saja kalau Neji yang menemanimu?"

"Ng, aku akan baik-baik saja," jawab Sakura, melihat ekspresi Sasuke yang sangat serius seperti itu, Sakura sadar, pasti akan terjadi sesuatu yang sangat buruk. Dari tadi Sakura tidak melihat kehadiran Shikamaru yang biasanya selalu berada di samping Sasuke.

Sasuke berdiri dan menatap orang yang akan di mintai tolongnya itu, "Neji," panggil Sasuke.

"Aku akan menjaganya," jawab Neji tanpa harus Sasuke meminta.

Sasuke mengangguk, sebelum dia beranjak pergi, di cium kening Sakura, tidak cukup dengan mengecup keningnya, Sasuke melumat bibir Sakura. Tidak peduli siapa saja yang melihat.

"Aku pergi dulu," ucap Sasuke dan Sakura pun kembali mengangguk, tapi hati Sakura seperti mencelos keluar ketika Sasuke melanjutkan kata-katanya, "Ayo Karin, kau ikut denganku."

"Eh? Aku? Kenapa aku?" protes Karin.

"Jangan membantah!" Sasuke menggertak dan membuka pintu, kemudian di iringi oleh helaan nafas dari Karin yang mengikuti langkahnya keluar.

"Kalau begitu kami pamit yah, Sakura," ucap Hinata.

"Ng, hati-hati," jawab Sakura.

Setelah Hinata dan Naruto pergi, kini tinggal Neji dan Sakura yang tertinggal. Sakura menundukkan wajahnya, kenapa Sasuke harus mengajak Karin? Kenapa dia tidak mengajak Neji dan menyuruh Karin untuk di sini? Memang sih bukan saatnya untuk cemburu, tapi resah yang Sakura rasakan saat ini tidak bisa hilang.

"Tenang saja, Sasuke tidak akan macam-macam, dia sudah terjebak oleh sosokmu," ujar Neji yang seolah tahu akan keresahan hati Sakura.

"Eng, m-maaf…" Sakura merasa tidak enak, seolah tidak menghargai keberadaan Neji yang menemaninya di situ.

"Kalau boleh tanya," lanjut Sakura, "Mana soulmate-mu?"

Neji sedikit terkejut Sakura menanyakan hal pribadinya, sudah lama juga tidak ada orang yang menanyakan tentang hal itu, kemudian Neji memutuskan untuk duduk di kursi yang terletak di samping Sakura, sambil menduduki kursi itu Neji menjawab, "Sudah tiada."

Sakura tersentak, "M-Maafkan aku! Maaf aku benar-benar tidak bermaksud!"

"Tidak apa-apa, itu kejadian yang sudah sangat lama, aku juga sudah lama merelakannya, dia tewas saat peperangan antara vampire dan lesser terjadi." Jawab Neji tersenyum lembut.

Namun mata Neji kembali terbelalak ketika melihat Sakura yang kini menangis," H-Hei… kenapa menangis?"

"Apa benar tidak apa-apa?" tanya Sakura pelan, "Apanya?" kini Neji mulai bingung, "Kehilangan soulmate-mu… lalu bagaimana denganmu nanti?" lanjut Sakura.

"Begini yah, kehilangan soulmate karena kematian itu kami bisa mencari soulmate yang baru lagi, asal mereka belu mempunyai ikatan, lagi pula kenapa kau harus memikirkannya? Ini kan bukan urusanmu…" jelas Neji.

"Oh begitu?" ucap Sakura yang tiba-tiba kembali ceria, "Aahh, aku pikir nanti kamu akan sendirian selamanya, haaahh syukurlaaah~"

Perubahan sikap Sakura yang tiba-tiba itu membuat Neji terkejut, baru pertama kali dia bertemu dengan wanita seperti ini, dan Neji pun tidak tahan untuk menahan tawanya.

"Ahahaha, dasar aneh."

"Heeeh, mengataiku aneh aku bilang ke Sasuke nih," ancam Sakura dengan nada bercanda.

"Dan sejak kapan kau bergantung pada Sasuke?" ejek Neji.

Sakura terdiam dan sementara Neji masih dengan tawa kecilnya. Sakura masih memikirkan hal penting apa yang Sasuke lakukan bersama Karin? Kenapa sebelunya Sasuke tidak memberi tahukannya terlebih dahulu? Itu artinya Karin lebih tahu segalanya dibandingkan dengan dirinya?

"Neji," panggil Sakura pelan, "Apa… Sasuke pernah mencintai seseorang sebelum ini?"

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Eng… tidak, hanya saja… aku kan manusia biasa, tidak mempunya ke istimewaan apa-apa, kenapa Sasuke bisa memilihku?" tanya Sakura dengan wajah yang sedikit cemas. Cemas ragu akan perasaannya sendiri.

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Neji balik, "Sasuke benar-benar mencintaimu, aku berani jamin itu."

"Aku?"

"Ya, kau sendiri… apakan kau mencintai Sasuke sebesar Sasuke mencintai dirimuu?" Neji bertanya sekali lagi.

Sakura terdiam, dia memejamkan matanya dan mengingat kembali perlakuan Sasuke yang sangat lembut dan perhatian padanya,"Ya, aku mencintainya," jawab Sakura pelan.

"Maka katakanlah hal itu padanya nanti," usul Neji.

"Ya, pasti akan kukatakan."

.

.

Langkah lembut yang tercipta di lorong gelap membuat semua makhluk menoleh pada pemilik langkah tersebut. Menghampiri singgahsana yang sedang di tempati oleh sosok laki-laki berwajah dingin dan datar. Pemilik langkah yang ternyata adalah seorang wanita berlutut dan meletakkan kedua lengan di atas lutut laki-laki itu.

"Minggu depan… Sakura sudah bisa keluar dari rumah sakit," ucap wanita itu dengan mendongakan kepalanya, "Apa kau ingin memakai rencana B dulu?"

Laki-laki itu menyeringai, "Kau tahu apa yang membuatku puas kan? Ino."

Ino menatap sendu wajah laki-laki itu dan menjawab, "Apapun akan kulakukan untukmu, Shikamaru."

Shikamaru memegang lengan Ino dan menyuruhnya untuk duduk di pangkuannya, melihat adegan itu seluruh makhluk yang berada di ruangan tersebut langsung paham akan apa yang terjadi selanjutnya, maka dengan inisiatif mereka keluar dari ruangan tersebut.

"Sekali lagi aku bertanya padamu, apa kau tidak menyesal?" tanya Shikamaru sambil mencoba membuka pakaian Ino.

Ino menggelengkan kepalanya, "Aku akan terus berada di sisimu."

Kedua bibir itu bertemu dan saling melumat, saat ciuman makin memanas, suara ketukan pintu mengganggu aktivitas mereka, dengan gesit Ino berdiri dan membereskan pakaiannya sebelum Shikamaru memberi izin masuk yang mengetuk pintu itu.

"Masuk."

Pintu terbuka, terlihat dua sosok melangkahkan kaki mereka dengan wajah menyeringai, ketika sudah berada di hadapan Shikamaru, mereka berdua berlutut.

"Kami sudah mempersiapkan ritualnya," jawab sosok yang berambut putih dan memakai kacamata.

"Kerja bagus, Kabuto," puji Shikamaru.

"Tuan Orochimaru memberi pesan agar Tuan memberi tahu padanya apabila sudah siap untuk menyerbu markas mereka," lapor sosok yang terlihat gendut.

"Jangan terburu-buru Jirobu, aku pasti akan memberi tahu pimpinan lesser," jawab Shikamaru sambil menyenderkan kepalanya di lengan Ino. Tindakan Shikamaru membuat Ino mengalihkan padangannya terhadap Kabuto dan Jirobu menjadi menatap Shikamaru.

Ino masih bingung, kenapa Shikamaru harus melakukan semua ini? Karena hanya demi balas dendam semata? Tapi bagaimanapun juga, masa lalu Shikamaru memang sebagian besar salah para darah murni itu, apalagi dari pihak bangsawan.

"Nah, sekarang kita tinggal menyambut tamu kita," ujar Shikamaru yang mulai berdiri, "Ino… lakukan sesuai rencana."

"Baik."

.

.

Membuat suatu organisasi sendiri tanpa memberi tahu Sasuke? Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah Shikamaru lakukan seumur hidupnya. Kini perasaannya di selimuti oleh dendam, dendam untuk adik kembarnya yang sengaja untuk di jadikan tumbal perdamaian antara kaum vampire dan lesser. Namun itu semua tidak ada hubungannya dengan Sasuke, karena saat itu yang memimpin organisasi bukanlah dia.

Tapi Shikamaru tidak mau tahu akan hal itu, yang ada di pikirannya adalah membunuh semua kaum bangsawan berdarah murni, mengambil alih organisasi Akatsuki yang di idolakan oleh adik kembarnya itu, juga menghabisi para lesser yang saat ini di ajak kerja sama olehnya.

"Sasuke, sebenarnya mau kemana kita?" tanya Karin yang kini sedang berada di dalam mobil bersama pemimpin baru organisasi Akatsuki itu.

"Aku mempunyai firasat buruk tentang Shikamaru, kita kerumah Ino sekarang," jawab Sasuke dengan wajah datar.

"Hah? Siapa pula itu Ino?" tanya Karin dengan wajah yang sedikit bingung namun tengil.

"Berisik, kau turuti saja perintahku!"

"Cih," desis Karin. Inilah yang Karin tidak suka dari Sasuke, dia adalah soulmate-nya, setidaknya perlakukanlah sedikit lebih lembut, Karin tidak mengharapkan lebih dari Sasuke karena memang pada dasarnya wanita itu tidak memiliki perasaan khusus pada Sasuke, hanya perasaan kagum lah yang Karin rasakan.

Karin telah jatuh cinta pada pria lain, pria manusia biasa yang terpaksa dia rubah menjadi lesser sempurna karena pemuda itu hampir mati melindungi Karin yang akan tertabrak truk. Sekejap Karin memejamkan matanya, dan bayangan pemuda itu muncul dalam pikirannya.

Sosok pemuda berambut merah, tinggi dan gagah. Bahkan pelukan pemuda itu saat menolongnya pun masih bisa dia rasakan. Benturan yang terjadi di kepalanya membuat pemuda itu kehilangan banyak darah sehingga Karin terpaksa menggigitnya. Maka jadilah pemuda itu lesser yang sempurna.

"Sampai," gumam Sasuke menatap rumah kosong di hadapannya.

Sasuke turun dari mobilnya, di ikuti oleh Karin dari belakang, memasuki rumah Ino tanpa menekan bell terlebih dahulu. Perasaan Sasuke makin memburuk, tidak biasanya dia merasa ragu untuk melakukan sesuatu, tapi kali ini entah kenapa dia merasa takut untuk masuk ke dalam.

"Takut, eh?" ejek Karin.

"Diam kau!" geram Sasuke mengabaikan ejekan Karin dan langsung melangkah lebih dalam lagi.

Saat Sasuke melangkahkan kakinya ke dapur, dia mendengar ada suara langkah selain langkah Karin yang berbunyi dari atas menuju ke bawah. Dengan posisi sigap Karin dan Sasuke memasang kuda-kuda, bersiap apabila itu adalah lesser liar.

Langkah itu makin lama makin mendekat, dan saat sudah sangat dekat… langkah itu terhenti, dan muncul sosok yang membuat…

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Karin berteriak heboh.

"Hyaaaaaaa!" dan sosok itu pun ikut berteriak.

Sasuke hanya terdiam menutup telinganya, setelah teriakan itu terhenti, barulah Sasuke memulai pembicaraan, "Kau kemana saja? Sakura sudah menjalani operasinya."

"Oh yah? Kenapa dia tidak memberi tahuku?"

"Kau menghilang Ino, jangan bersikap seolah kau ini tidak habis dari mana-mana! Dari mana saja kau saat Sakura membutuhkanmu!" bentak Sasuke.

Satu lagi sisi Sasuke yang belum pernah Karin lihat sebelumnya. Sasuke tidak pernah bicara selantang itu, dia terlalu dingin untuk berinteraksi pada sesame, tapi kalau sudah berhubungan dengan Sakura, entah kenapa imej yang buruk runtuh perlahan-lahan.

"Aku baru saja pulang dari kampung halamanku," jawab Ino sambil menyeduh air minum, "Mau darah segar?" tawar Ino.

"Apa kau tahu di mana Shikamaru?" tanay Sasuke langsung ke intinya.

"Shikamaru? Bukankah dia selalu bersamamu?" jawab Ino dengan wajah bingung.

Karin yang mempunyai kemampuan untuk membaca raut wajah sesorang langsung sadar akan kebohongan Ino.

"Sasuke, dia bohong, dia sangat tahu di mana Shikamaru berada," tunjuk Karin memakai pisau yang langsung diambilnya itu.

Ino terdiam, tidak terkejut sama sekali bahwa sandiwaranya cepat terbongkar, Sasuke dan Karin melihat Ino menyeringai, "Sayang sekali, padahal aku masih ingin ngobrol loh."

"Hah? Aaaarrrgghh!" Sasuke merintih ketika di rasakan ada rantai silver yang melilit lehernya.

"Aaaahhh! Brengsek! Lepaskan aku!" jerit Karin saat rantai silver melilit tubuhnya.

Ino mendekat pada mereka berdua dan menyemprotkan sesuatu, ramuan yang telah di ciptakan oleh Kabuto yaitu obat bius, sehingga Sasuke dan Karin perlahan kehilangan kekuatannya dan tertidur.

"Semoga kalian mendapat mimpi indah," gumam Ino pelan, "Bawa mereka!"

Kedua makhluk monster jinak yang telah melilit Sasuke dan Karin itu mengangguk dan menuruti perintah Ino. Dalam hati Ino masih memikirkan bagaimana kondisi Sakura saat ini? Tapi dia tidak bisa meninggalkan Shikamaru. Ino menggelengkan kepalanya dan terus berjalan menuju tempat di mana Shikamaru berada.

.

.

"Naruto, apa kau yakin tidak apa-apa kita di sini?"

"Sasuke tidak akan kembali, Neji juga di luar, kita masih punya banyak waktu."

"Aahh~ t-tapi nngg~ i-ini kan ruangan Sasuke," ucap Hinata di tengah-tengah desahannya.

"Justru itu, aku ingin mencobanya di sini, nyehehehe."

"Naruto kau mesu- aaaahhnn!" ucapan Hinata terpotong karena Naruto yang dari tadi sudah 'memanaskan' tubuh Hinata kini sudah memasukkan seluruh kejantanannya pada diri Hinata.

Naruto memaju mundurkan pinggulnya dengan irama yang pas, sehingga Hinata makin mendesah hebat.

"Aaahn~ eenngghhh~ N-Narutooo~"

"Aaakh~ H-Hinataa~" Naruto makin mempercepat gerakannya.

"N-Narutooo! Y-yeaah le-lebiih cepaaat~ aaaahhhnnn!"

Hinata melingkarkan kedua kakinya di belakang pinggang Naruto, sehingga membuat Naruto makin menekankan tubuhnya ketika mereka berdua sudah sampai pada puncaknya. Mereka melakukan sex di atas meja kerja Sasuke, tentua saja pasti akan langsung di bersihkan setelah itu.

Naruto memang aneh, selalu ingin mencoba di tempat-tempat yang berbahaya, ini membuat Hinata susah untuk memenuhinya. Kini mereka berdua mengatur nafas masing-masing sambil memakai kembali pakaian mereka. Saat hampir selesai berpakaian, kebetulan sekali ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut.

Tok tok.

"Masuk," ujar Naruto.

Pintu terbuka dan masuklah sosok laki-laki berwajah pucat denga senyuman anehnya itu, "Apakah Tuan Sasuke ada?"


A/N : ini pertama kalinya aku bikin Shikamaru dan Ino jadi pihak musuh yang bener-bener musuh loh... T_T susaaahhh... beneran deh susah banget... T_T

nah, chapter ini juga pendek yah? hheheheheee, gapapa laaah, yang penting update kan? ;)

Sindi 'Kucing Pink: yang nyumbangin orang biasa kok... figuran dia. hahahhaaa

Animea Lover Ya-ha: hahahaa, iyaa kaaan, masa karin jadi jahat muyuuuu =3=, wah makasih yah udah nunggu2in fict ini XD, review kamu salah satu penyemangat aku looh :D

vanilla yummy: masih penasaran sama siapa yang disukain karin? fufufufuffuu... ino begitu kan karena dia cinta shika... cinta itu buta #loh?

Kikyo Fujikazu : iya emang seru! :D

haru no yuki : karin sama suigetsu? bukaan :D

Ran Murasaki NH : chapter depan sakura udah keluar dari rumah sakit kok :D lemon naruhina? tuh udah... dikit aja yah XD #plaak

Aoi Ciel : konfliknya sangat unyu kok... saking unyunya membuat otakku menangis T^T

Icha yukina clyne : jadi suka karin kaaaan :D daily activitynya nanti yah sayaaang :D

uchiharuno phorepeerr : terkenal ngaret? O_O maap kalo begitu -_-, lemon naruhina ada disini, tapi cuma dikit, chapter ke depannya nanti sebisa mungkin aku masukin lemon yaaah :D

Ruki Yagami: nih udah update :D

saitou ayumu Uchiha : terima kasih, dan ini update nya :D