Diamond

Cast: Kibum, Kyuhyun

Genre: Romance

Rate: T

Cerita Kihyun ini dibuat untuk hiburan semata. Tidak ada yang benar dalam cerita ini. Jika ada kesamaan adegan, itu tidak disengaja.

Part 7

"Itu sih kau sendiri yang menarik ulur perasaanmu. Kalau kau memang suka, mau Kibum baik atau jahat, kau akan tetap suka!" Donghae menghempaskan pantatnya ke sofa ruang tamunya. Membiarkan Kyuhyun yang tengah duduk di sebelahnya berpikir tentang pernyataan yang barusan dia lontarkan. "Bahkan kemarin-kemarin kau tidak malu mengakui keinginanmu tidur dengannya. Kenapa sekarang bimbang tentang perasaanmu sendiri?"

Kyuhyun suka Kibum, tapi dia takut dimanfaatkan. Namun, teringat pembahasannya dengan Donghae waktu itu bahwa tidak ada satu pun yang bisa dimanfaatkan Kibum darinya, dia jadi bimbang. Sikap seperti apa yang harus diperlihatkannya di depan Kibum?

"Aku curiga, kau yang berniat memanfaatkan Kibum, bukan sebaliknya!"

Kyuhyun mengernyit tidak suka. "Sebenarnya kau itu temanku atau temannya Kibum?"

"Ya, temanmu lah!"

"Kenapa membela Kibum?" Kyuhyun mendelik tajam. Donghae balik mendelik, tapi benar juga. Kenapa membela Kibum kalau dia temannya Kyuhyun, lalu menormalkan matanya. "Kau mengumpankan aku pada Kibum agar kau bisa dapat manfaatnya, kan?"

"Aku tidak sejahat itu, Kyu." Donghae protes. Jelas-jelas dia membantu Kyuhyun suka rela, malah dituduh memanfaatkan. "Awalnya kau sendiri yang minta saran dariku. Sekarang kau menuduhku!"

"Habisnya kau semangat sekali membuatku terus bersama Kibum."

"Kan sudah kubilang dari kemarin-kemarin. Kalau kau bersama Kibum banyak manfaatnya, tapi bukan berarti kita memanfaatkannya. Kau sendiri setuju dengan itu."

Kyuhyun mendengus.

Dia merasakan manfaat dari statusnya sekarang. Merasa menjadi lebih mulia dari sebelumnya. Dulu apa-apa dilakukan sendiri, sekarang ada pelayan pribadi. Dulu tinggal di apartemen, tiap hari kesepian, sekarang tinggal di rumah besar dengan banyak orang. Bahkan tidur tidak sendirian lagi. Ada Kibum yang sampai sekarang belum pernah absen menemaninya. Sudah begitu, makanan yang disajikan koki rumah jauh lebih enak dan sehat daripada kalau dia beli di luar.

Kyuhyun mendengus sekali lagi.

"Aku harus bagaimana sekarang?"

Terlalu mengantungkan diri pada saran-saran dari Donghae, terasa tidak lengkap kalau kali ini tidak minta saran darinya sekali lagi. Kyuhyun sudah menceritakan semuanya pada temannya itu. Keresahannya tentang sifat Kibum, sampai kasus yang tiba-tiba ditangani Kibum tanpa Kyuhyun diperbolehkan ikut campur. Tentang Kibum yang mengetahui semua hal dalam dirinya juga diceritakannyap pada Donghae. Tinggal bagaimana Kyuhyun harus melanjutkan hidup di tempat Kibum.

"Kalau menurutku, sementara ini ikut saja apa kata Kibum. Coba dekati semua orang yang tinggal di rumah itu. Korek apa saja yang berhubungan tentang Kibum. Kalau bisa, tanya langsung dari Kibum." Donghae membuat Kyuhyun cemberut, pasalnya susah mengorek informasi kalau tidak Kibum sendiri yang mengatakan padanya. Terakhir kali Kibum menceritakan soal dirinya sendiri, itu adalah gosip tentang wanita yang dikencaninya. Setelah itu tidak ada lagi cerita lainnya. "Mendengar ceritamu, aku sendiri juga curiga kalau Kibum tak menyukaimu, tapi perlu kau pertimbangkan sikap baiknya itu."

Kyuhyun manggut-manggut.

"Seumpama dia tidak benar-benar suka, selama dia masih memerlakukanmu dengan baik, kau punya kesempatan untuk membuatnya menyukaimu."

"Benar juga. Tapi bagaimana caranya?"

Donghae mengangkat kedua tangannya. "Setiap hari kau bersamanya, kau pasti bisa temukan caramu sendiri."

Kemudian ringtone ponsel Kyuhyun mengiterupsi pembicaraan. Kyuhyun melihatnya, nama kekasihnya ada di layar. Segera diangkatnya, Kibum mengatakan kalau dia sudah ada di luar rumah Donghae. Kyuhyun menutup ponselnya kemudian.

"Kau bilang pada Kibum kalau kau pergi ke sini?"

Kyuhyun mengangguk. "Dia ingin aku memberitahunya kemanapun aku pergi. Supaya kalau ada apa-apa, dia bisa langsung menemukanku."

"Sepertinya Kibum memang suka padamu, " gumam Donghae. "...waspada saja lah!" katanya kemudian.

Donghae mengantar Kyuhyun keluar rumah. Kibum masih ada dalam mobilnya, sedang mengutak-atik ponsel ketika mereka keluar. Lelaki itu segera meengantongi ponselnya, mencondongkan tubuh, membuka pintu samping untuk Kyuhyun.

"Kekasihmu tidak menyapaku, Kyu. Dia jarang menganggapku ada. Padahal aku sering membantumu, harusnya dia berterima kasih, kan?"

Kyuhyun menepuk sahabatnya itu. "Kau tahu sifatnya," katanya, memeringatkan Donghae agar tidak mengeluh dengan perlakuan Kibum. "Aku pulang. Kalau ada kemajuan, nanti kuberitahu!"

.

.

Kibum menggandeng tangan Kyuhyun ketika masuk rumah. Kepala pelayan menyambut mereka, mengatakan kalau ada sepupu Kibum menunggu mereka sejak sejam yang lalu. Kyuhyun diajak Kibum menemui sepupunya. Yang sekarang tengah duduk di sofa sambil ngemil jajanan yang disiapkan koki rumah.

"Apa yang membawamu kemari?" to the point. Bahkan sebelum sepupunya tahu kedatangan Kibum dan Kyuhyun. "Jangan bilang ada masalah lagi dengan devisi yang kau pimpin!"

Sepupunya menghentikan makannya. Menoleh, kemudian tersenyum melihat Kibum. "Tidak ada masalah apa-apa," jawabnya. Matanya segera menangkap Kyuhyun, menangkap gandegan tangan mereka juga. "Siapa, Hyung?"

"Kekasihku!"

Sepupunya melongo. "Kau punya kekasih tapi tak memberitahuku?"

"Kenapa aku harus memberitahumu?"

Si sepupu mencebik. "Aku, kan sepupu...mu," jawabnya ragu-ragu. Dia memang sepupunya Kibum, tapi ragu kalau Kibum mengakuinya. Walau pada kenyataannya mereka punya hubungan darah, cukup dekat, Kibum tidak pernah berbagi cerita apa pun padanya. "Hi..." sapanya pada Kyuhyun. "...aku Jae. Sepupunya Kibum hyung!" Dia mengulurkan tangan yang segera disambut uluran balik oleh Kyuhyun.

"Kyuhyun."

"Ngomong-ngomong, Kyuhyun hyung, bagaimana kau bisa tertarik dengan Kibum hyung? Dia kan..." Karena Kibum meliriknya tajam, perkataannya terpotong. Disabungnya dengan tawa kecil, "Hehehe... aku tidak akan menjelekkanmu di hadapan kekasihmu, Hyung." Jae mengangkat dua jari, membuat tanda V untuk Kibum.

"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Kibum sekali lagi.

"Biasanya aku juga datang ke sini, kau tidak pernah mengintrogasiku. Memangnya datang ke sini harus punya alasan, ya?" Jae melirik Kibum, melihat Kyuhyun, mengisyaratkan pengaduan pada Kyuhyun. "Mentang-mentang sudah punya kekasih, kau jadi over protektif terhadap apa pun," gerutunya.

"Kalau kau sudah tahu alasannya, tidak usah menggerutu!"

Jae nyengir. "Iya. Aku ke sini hari ini mau numpang makan malam sekaligus memberitahukan padamu kalau besok aku akan tinggal di sini. Seminggu!"

Kibum meliriknya tajam lagi. Agaknya tidak suka ada orang lain di rumah ini. Karena menurut Kibum, kebersamaannya dengan Kyuhyun akan terganggu sepupunya itu. Jae adalah perusuh. Masa mudahnya dihabiskan untuk membuat onar. Membangkang pada orang tua, bahkan sering kabur-kaburan saat sekolah. Untuk menyelesaikan sekolahnya saja, dia harus ditekan banyak pihak, kalau tidak begitu, selamanya dia akan jadi begajulan. Dan nasib baik, Kibum mau memberinya pekerjaan.

Awal bekerja, Jae sudah banyak membuat kesalahan. Baru diangkat jadi menager, dia sudah membuat devisi yang dipimpinnya rugi. Untung keluarga besarnya orang kaya semua. Jadi, kerugian bisa ditutupi. Tapi tidak selamanya keluarga akan baik padanya. Selama setahun ini semua pekerjaan Jae diawasi. Gajinya dibuat sama dengan manager di devisi lain. Tidak ada fasilitas khusus dari orang tua. Dia diharusnya membayar pengeluarannya dengan gajinya sendiri.

Sementara itu, Jae ingin tinggal di apartemen mewah, jauh dari orang tuanya agar tidak diawasi terus. Tapi sayangnya, orang tuanya tidak mau membelikannya apartemen. Alhasil dia menyewa flat murah, dengan biaya perbulan, mulai dari bayar sewa, listrik, air, telepon, dan tagihan-tagihan lainnya, menguras hampir setengah dari gajinya. Sisanya untuk foya-foya. Maka dari itu, Jae sering datang ke rumah Kibum hanya untuk numpang kemewahan di rumah ini.

"Seperti biasanya," tambahnya.

Kibum melengos, menarik Kyuhyun untuk mengikutinya. Kyuhyun hanya tersenyum kecil pada Jae sebelum mengikuti langkah Kibum masuk ke kamar mereka.

"Karena kita akan makan bersama, kalian mandi yang cepat. Aku sudah lapar!" teriak Jae sebelum Kibum dan Kyuhyun jauh.

Di ruang duduk, Kyuhyun dan Kibum mesra-mesraan. Tidak mesra-mesra amat, sih. Hanya skinship seperti biasanya. Tumben, Kibum tidak mengerjakan apa pun. Dia khususkan waktunya untuk Kyuhyun. Kibum meletakkan kepalanya di pundah Kyuhyun. Matanya ikut memerharikan kekasihnya yang tengah memeriksa email di laptop. Tumben-tumbennya dia malas begerak seperti sekarang ini. Tebakan Kyuhyun, Kibum sedang sangat capek bekerja.

"Kan sudah kubilang, jangan forsir dirimu dengan pekerjaan!"

"Hmmm?" Kibum tidak menangkap maksud Kyuhyun.

"Kau sedang sangat lelah kan, sekarang?"

Kibum melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kyuhyun. "Tidak juga. Jam kerjaku sudah kupotong 3 jam semenjak kau tinggal di sini." Kibum mengecup leher Kyuhyun, menghirup aroma sabun mandinya. Meski sabun itu dipakainya juga, aromanya jadi beda kalau Kyuhyun yang pakai. Lebih segar. Maka dari itu, Kibum tidak bosan mengendus tubuh Kyuhyun. "Aku cuma memikirkan hubungan kita..."

"Ada apa dengan hubungan kita?"

"Kenapa aku tidak berhubungan denganmu dari dulu-dulu?" Kibum menjawab dengan pertanyaan. "Aku merasa nyaman tiap kali ada kau di sisiku."

Apa Kibum sedang menggombal?

Untuk ukuran orang yang jarang tersenyum, tidak mungkin kalau Kibum menggombal. Kyuhyun menduga apa yang dikatakan Kibum sekarang adalah kenyataan. Siapa tahu Kibum adalah hadian dari Tuhan untuknya. Selama ini Tuhan membuatnya tidak laku, tapi sebenarnya menyiapkan orang terbaik untuknya, yaitu Kibum. Kalau sudah begini, bagaimana Kyuhyun bisa menahan senyum dan mengucapkan terima kasih dalam hati untuk Tuhan.

Muka Kyuhyun memanas. Entah gombal atau sungguhan, yang jelas kalimat Kibum barusan membuatnya terenyuh. Dia tersenyum kecil, malu-malu mau.

"Aku selalu ingin melakukan ini." Mengecupi Kyuhyun, menyentuh sekujur tubuh kekasihnya itu, dan mengucapkan kata-kata manis. Namun, Kibum tidak pernah punya kesempatan bagus. Tangannya menelusup ke balik piyama Kyuhyun, mengelus kulit perut datar Kyuhyun dan mencubit-cubit kecil. "Tinggal bersama dan bersemesraan setiap hati dengan kekasihku."

Kyuhyun meninggalkan laptopnya sejenak. "Dengan kekasihmu sebelum aku?"

"Sudah kubilang aku tidak pernah punya kekasih..." Pernah punya, tapi tidak sedekat hubungannya dengan Kyuhyun sekarang. Belum ada orang selain keluarga yang pernah menginap di rumah ini. Hanya Kyuhyun. Itu menandakan kalau hubungan yang dijalinnya dengan Kyuhyun tidaklah main-main. "...selain kau, yang kuijinkan tinggal di sini. Bahkan menginap pun tidak pernah." Kalau mereka mau ngapa-ngapain, Kibum akan membawanya ke hotel. Atau ke rumah kekasihnya.

Kibum dididik dengan baik semasa kecilnya. Kata kakeknya, kekasih yang dibawa pulang yang diperbolehkan menginap atau tinggal di rumahnya, harus orang yang tepat untuk jadi nyonya rumah. Harus teliti dalam segala hal, termasuk memilih pendamping hidup. Karena kestabilan dan kesuksesan seseorang itu salah satunya dari dukungan orang terdekat, yaitu pendaping hidup. Petuah ini dijalankan oleh semua keluarga. Maka dari itu, semua anggota keluarga Kim, sukses besar. Meskipun sering terdengar gosip-gosip perselingkuhan dan gonta-ganti pasangan dalam anggota keluarga, tidak pernah ada kawin cerai.

Masalah Jae yang badung itu, lain soal. Kakek sudah meninggal ketika Jae masih kecil. Ketika nasehat itu dituturkan oleh orang lain, tidak mempan pada Jae. Jadi, mereka hanya bisa mendidik anak muda itu dengan ketat, sekarang ini. Meski sifatnya sudah mulai berubah, tidak akan dilonggarkan pengawasan ketat itu sebelum Jae berubah total.

"Aku tersanjung."

Kibum meraih dagu Kyuhyun, lalu mencium bibirnya. Laptop di pangkuan Kyuhyun diambil, diletakkan di meja. Kyuhyun dihadapkan padanya, kemudian dijatuhi ciuman di pertengahan alisnya. "Masalah dengan pemilik Bar itu sudah selesai. Kau mau dengar berita bagusnya?" tanyanya sambil menyentuhkan hidung-hidung mereka. Menggesekannya bolak-balik sampai Kyuhyun geli sendiri. "Berita baiknya obat yang terminum olehmu itu hanya salah sasaran. Pelayan salah mengambil dan salah memberikan. Artinya tidak ada orang yang berniat menyelaikaimu di Bar itu."

"Pemiliknya?"

"Sudah kukirim ke kantor polisi." Kibum menciumi wajah Kyuhyun. Matanya, hidungnya, pipinya, bibirnya, dagunya, lehernya. Mengulum jakunnya, menjilat tulang selangkanya, dan menghisap kulit di atas dadanya. "Sayangnya..."

"Ada berita buruknya?" tanya Kyuhyun, selesai mendesah berkali-kali karena dikecupi Kibum. Nafasnya lebih pendek, lebih keras seperti orang kena asma... Asmara maksudnya.

Kibum menggeleng. "Selain kita belum bercinta lagi semenjak kau melupakan percintaan kita waktu itu, tidak ada berita buruk lainnya."

Kyuhyun tertawa.

Apa boleh buat. Efek obat itu memang membuat penggunanya tidak mengingat kejadian yang sudah dilakukan. Kata dokter, itu adalah obat perkosaan. Tentu saja Kyuhyun sangat bergairah malam itu. Mendapati dirinya dalam keadaan sangat tidak berdaya pagi harinya, Kyuhyun sendiri menduga percintaan hebat telah dilakukannya dengan Kibum. Berapa kali tepatnya, Kibum tidak memberitahu.

Kyuhyun didorongnya merebah ke sofa. Kibum menindihnya. Menepatkan diri di sela-sela kedua kaki Kyuhyun dan menepatkan tubuhnya tidak terlalu menempel. "Kau mau kencan akhir minggu ini?"

"Kalau kau romantis begini, aku jadi tidak yakin, ini kau sesungguhnya atau sedang dirasuki makhluk lain?" Kyuhyun mengejek. Tapi permintaan kencan tadi tidak bisa diabaikan. "Aku mau kencan, tapi tidak di sekitar sini. Yang jauh. Ke busan, ke Jeju. Ke mana saja asal jauh."

Kibum tersenyum. "Ok." Bibirnya menubruk bibir Kyuhyun, melumat atas bawah. Lengan kanannya menopang di sofa, lengan lainnya menelusup ke atasan piyama Kyuhyun. Ketika bibirnya terlepas, Kibum mengusap sudut bibir kekasihnya. "Kau ada pertemuan dengan klien, besok?"

"Tidak. Kenapa memangnya?"

"Tidak apa-apa."

Karena Kibum ingin membuat Kissmark sebanyak-banyaknya. Makanya dia bertanya. Walau malam ini tidak yakin mereka akan bercinta, dia ingin menikmati malam mereka berbagi kehangatan. Setidaknya meninggalkan tanda kepemilikan di tubuh Kyuhyun.

Kibum merunduk untuk meraup bibir Kyuhyun lagi. Ciumannya, hisapannya, berpindah-pindah cepat ke wajah dan lehernya. Hisapan Kibum terasa menimbulkan rasa nyeri, perih tapi membuat candu. Kyuhyun sampai mengerang berkali-kali. Apalagi ketika Kibum menggesekan selangkangan mereka, darah seakan langsung naik ke kepala. Membuat pening dan padangan kabur sementara.

Tapi...

"Ehem..."

Deheman paksa menginterupsi mereka.

Jae berdiri di dekat mereka sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Ketika Kibum memerhatikannya, Jae hanya manaik turunkan alis tanda mengejek.

"Kamarmu tidak jauh dari sini, Hyung. Kalau mau mesum-mesuman seharusnya kalian pindah ke sana!"

"Urusanmu...?"

Jae membebaskan tangannya sambil mendesah hebat. "Aku terganggu." Sebelum dipelototi atau diusir Kibum, dia menambahkan, "Selain itu ada anak buahmu di depan. Katanya mau menyampaikan sesuatu yang penting."

Kalau sudah begitu mau tidak mau Kibum bangkit dari sofa. "Aku segera kembali!" lalu keluar secepatnya.

.

.

Jae mengambil tisu terdekat dan menyerahkannya pada Kyuhyun. Sesaat setelah Kyuhyun menerima tisu dari Jae, mengusap mukanya, lehernya dari lelehan air liur Kibum. Dia menata rambutnya secepat kilat. Setelah melonggarkan celananya, dia duduk lebih nyaman. Segera meraih laptop dan kembali ke pekerjaannya.

Jae ikut duduk. Menggantikan posisi Kibum yang tadi duduk di sebelah Kyuhyun.

"Hyung," panggilnya hati-hati.

"Apa?"

Jae memasang senyum terbaiknya. "Sudah berapa lama pacaran dengan Kibum hyung?"

"Belum lama," jawab Kyuhyun pendek.

"Sepertinya kalian serius. Aku belum pernah melihat Kibum hyung membawa kekasihnya menginap di sini. Kau yang pertama, Hyung."

Berarti Kibum tidak bohong. Kyuhyun senang melebihi tadi. Namun, dia tidak akan menunjukkannya di hadapan Jae. Kibum sudah menceritakan garis besar lelaki muda ini. Jadi, Kyuhyun tidak boleh terlihat bodoh atau Jae akan membodohinya.

"Kau tahu, Kibum hyung belum pernah berpacaran dengan orang sekeren dirimu," katanya memulai sebuah percakapan bertajuk mengakrabkan diri dengan calon kakak ipar. "Pertama kali melihat Kibum hyung punya kekasih, kekasihnya itu cantik, tapi juga sangat cerewet. Dengan orang itu Kibum hyung bertahan enam bulan. Kekasih lain yang pernah kulihat, terbukti menghambur-hamburkan uang yang Kibum hyung berikan padanya."

"Memangnya berapa kali Kibum berpacaran selama ini?"

"Entah!" Jae menghitung, tapi tidak ketemu jawabannya. "Mungkin empat atau lima kali kalau yang tidak pacaran kurasa banyak. Tapi kau tidak usah memikirkan itu, Hyung. Kibum hyung itu kalau sudah berpacaran, tidak akan melirik orang lain lagi. Hanya saja, kaulah kekasih lelaki pertamanya."

Katanya Kibum suka lelaki dari dulu, suka gonta ganti pasangan, kenapa dia yang jadi kekasih lelaki pertamanya?

"Dia tidak pernah perpacaran dengan lelaki sebelum ini?"

Jae menggeleng. "Setahuku tidak ...sudah kubilang dia tidak sering berpacaran. Selama tidak berpacaran, dia menjalin hubungan singkat tanpa status dengan banyak orang. Semuanya lelaki. Mungkin dia sedang mencari orientasi seksualnya yang sesungguhnya waktu itu. Dan menemukanmu sekarang, Hyung!"

"Di keluargamu, tidak apa-apa punya kekasih sesama jenis?"

Jae merenungkan jawabannya. Selama ini belum ada yang punya pasangan sejenis di keluarganya, jadi tidak tahu jawabnnya. Tapi selama Kibum menunjukkan sikap berbeda dalam berhubungan dengan kekasih perempuannya dan teman laki-lakinya, orang-orang sudah tahu. Kibum lebih perhatian pada kekasih sementaranya yang laki-laki daripada perempuan yang jadi kekasihnya lebih lama. Keluarga tidak memermasalahkannya.

"Mungkin tidak. Karena orang tua Kibum hyung sering kali melihat Kibum hyung jalan mesra dengan lelaki. Jadi, kurasa mereka bisa menerimanya." Jae menjawab sebisanya. "Kalau aku yang jadi penyuka sesama jenis, tidak akan boleh."

"Karena kau anak tunggal?"

Jae menggeleng. "Karena aku tidak pintar, tidak kaya, tidak mampu berbisnis sebaik anggota keluarga lain, kesempatanku menjadi penyuka sesama jenis adalah nol. Kalau orang tidak kompeten seperti aku menyukai sesama jenis, bagaimana caraku memertahankan hubungan?" Dia nyengir lebar. "Kibum hyung pasti sudah menceritakan soal itu. Bisa dibilang, aku ini dibuang oleh keluargaku sendiri, Hyung. Aku tinggal di flat murah alih-alih di apartemen mewah. Meski aku ini anak orang kaya, pemimpin devisi, gajiku kecil. Kadang-kadang menunggak bayar tagihan. Dan kau tahu kenapa aku sering datang ke sini...?"

Kyuhyun tidak mau menebak.

"Uang bulananku habis. Aku ke sini untuk numpang makan saja, Hyung!" ekspresinya melemah. "Aku harus membagi uang dari bayar flat perbulan, tagihan listrik, bayar makan, sampai menghitung pengeluaran untuk naik angkutan umum. Aku tidak punya uang untuk sekedar menghadiahi diriku sendiri dengan makan enak, pakaian bagus, barang mewah ataupun liburan."

Kasihan. Kyuhyun sudah dengar bagian dia tidak difasilitasi apa pun oleh keluarganya. Sebagai anak orang kaya, jelas itu menyiksa. Tapi Kyuhyun juga tahu kalau proses itu untuk mendewasakan Jae.

"Kalau boleh, bisa pinjami aku uang, Hyung? Sedikit saja. Untuk beli baju baru."

"Kau mau berapa?"

"Terserah kau mau memberiku berapa."

Kyuhyun meletakkan laptopnya ke meja. Dia berdiri, langsung meninggalkan Jae di ruang duduk. Masuk kamar untuk beberapa saat, dan keluar dengan uang di tangannya.

"Aku tidak bisa memberimu banyak!" sambil mengulurkan uang itu pada Jae.

Jae segera menerimanya. Mukanya cerah, secerah mentari. Segera menghitung uang itu, lalu mengangguk-angguk puas. "Terima kasih, Hyung. Aku janji, akan segera kukembalikan kalau sudah gajian."

"Tidak perlu. Uang itu kuberikan, tidak kupinjamkan!"

Jae tersenyum lebih lebar lagi. "Aku tahu Kibum hyung tidak salah pilih. Bahkan kalau kalian berencana menikah lebih cepat, keluarga besar akan setuju. Aku yang jadi pendukung pertama kalian. Kau baik sekali, Hyung. Terima kasih."

Kyuhyun hanya mengangguk.

"Oh ya, Hyung. Kudengar tadi kalian akan menghabiskan akhir pekan berdua. Saranku sih, pergi ke Busan akan lebih baik. Kita punya rumah tinggal di sana. Vila di pedesaan yang masih sangat asri. Tempat itu cocok untuk kencan romantis."

Kedengarannya menarik. "Nanti aku akan menanyakan itu pada Kibum."

Pagi tadi mereka bercinta singkat. Cuma sekali tapi pengaruhnya besar sekali untuk Kyuhyun. Merasa ingin lagi dan lagi, tapi Kibum harus berangkat kerja. Dia sendiri juga harus pergi kerja. Lagipula bisa bercinta saja sudah bagus, kalau minta lebih-lebih, takutnya Kibum ilfeel padanya.

Istirahat siang, Donghae berkunjung ke kantornya. Membawa makan siang seperti janjinya pagi tadi. Melihat Kyuhyun tersenyum ketika dia memasuki kantor, dia memicing curiga.

"Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa," jawabnya santai. "Kau belikan aku makanan apa?"

Donghae menunjukkan kantong kertas besar di tangannya. "Aku beli di restoran dekat kantorku." Donghae meletakkan makanan itu di meja kerja Kyuhyun. Sementara Kyuhyun memberesi barangnya. Membuat tempat untuknya makan. "Kau habis bercinta dengan Kibum?" tanyanya sambil menunjuk ke leher Kyuhyun yang merah-merah keunguan.

"Ini semalam. Kami tidak bercinta. Baru tadi pagi aku bercinta dengannya."

"Oh..."

"Cuma sekali...," jawabannya tidak ihklas

"Belum terasa?"

"Sudah, tapi kurang banyak!"

Donghae takjub. Tidak jarang mereka membicarakan masalah pribadi. Percintaan diumbar-umbar sudah biasa. Toh, mereka satu aliran. Meski Donghae bersikap kalem seakan dunia percintaannya berjalan sempurna, sebenarnya dia sedang tidak punya kekasih. Sedang mencari. Tapi belum ketemu. Memang sedikit iri ketika Kyuhyun menemukan kekasih lebih cepat darinya. Namun itu lebih baik, setidaknya kalau membicarakan masalah seks, Kyuhyun tidak hanya jadi pendengar seperti sebelumnya. Sahabatnya itu punya ceritanya sendiri sekarang.

"Aku mau menghabiskan akhir pekan ini berlibur dengan Kibum."

"Kemana?"

"Busan. Dia punya vila di sana. Tempatnya bagus." Kyuhyun menerima sekotak makanan dari Donghae. Meletakkan di depannya, kemudian membongkar. Menemukan isinya terlihat mengiurkan, dia segera menyiapkan diri untuk menghabiskannya. Dia melepaskan sendok garpu plastik dari pembungkus, segera menyendok pasta dan melahapnya. "Aku tidak tahu kenapa Kibum sangat romantis tadi malam."

"Bukankah selama ini dia romantis?"

Kyuhyun menyendok lagi, mengunyah, dan menelannya. "Kemarin-kemarin dia memang romantis, tapi romantisnya seperti ada maksud. Yang tadi malam terlihat tulus." Dia mengulang prosesi menyedok dan memakan pastanya berkali-kali, baru setelah itu melanjutkan perkataannya, "Perkataan dan perbuatannya mencerminkan keromantisan. Bahkan dia mengajakku kencan."

Alasannya sepele, semalam Kibum mengajaknya mesra-mesraan, buntutnya tadi pagi mereka bercinta. Bercinta tentu saja tandanya cinta. Sebagai orang yang jarang dapat perlakuan manis dari lawan jenis, dalam kasus Kyuhyun sesama jenis, dia merasa dapat jackpot. Kalau sudah diperlakukan seperti itu, tentu saja hubungan mereka tidak main-main. Apalagi semalam Kibum mengatakan kalau belum ada orang yang diijinkan menginap di rumahnya selain Kyuhyun, bahkan sudah dibenarkan oleh sepupunya. Otomatis, Kyuhyun menganggap Kibum romantis.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kasus berlian itu. Kibum sudah memberitahumu sesuatu?"

Kyuhyun kehilangan setengah selera makannya mendengar pertanyaan itu. Hilangnya berlian, dia sebagai pelaku tidak memiliki berliannya, ini jadi beban tersendiri baginya. "Dia tidak mengatakan apa-apa. Meski Kibum sudah mengihklaskannya, 6 juta dolar lebih, hilang tanpa bekas kan sayang."

"Benar juga."

"Seandainya ketemu, aku yakin berlian itu akan jadi milikmu."

"Aku tidak butuh berlian, aku cuma butuh Kibum."

Dalam pikirannya, Donghae mencibir. Mendapat berlian sama dengan punya kekayaan 6 juta-an, mendapatkan Kibum jelas lebih dari itu. Harga Kibum dan seluruh kekayaannya bisa membiayainya dan anak cucunya seumur hidup tanpa kerja. Jelas Kyuhyun akan memilih Kibum.

"Yang penting berliannya ketemu dulu."

Donghae memasukkan sesendok penuh pasta ke mulutnya. Begitu pula Kyuhyun.

Pintu rungan Kyuhyun diketuk. Seharusnya tidak ada yang mengganggu di jam makan siang, tapi karena nada ketukan itu memaksa, pasti ada keperluan mendesak di baliknya. Seorang pegawai masuk setelah dipersilakan. Mengulurkan paket yang katanya dari Kibum. Setelah diterima, pegawainya keluar ruangan, Kyuhyun segera membukanya dan mendapati flashdisk di dalam paket itu.

"Untuk apa dia memberimu flashdisk?"

Kyuhyun mengendikkan bahu. Meninggalkan makan siangnya sejenak untuk masuk ke komputernya. Dia menancapkan flashdisk ke CPU. Sembari menunggu falshdisk dibaca komputernya, dia menarik ponsel di atas meja, kemudian menghubungi Kibum.

"Kibum, sedang apa kau? Sudah makan siang?" Kibum mengatakan tengah memberesi mejanya, akan pergi makan siang setelahnya. Saat itu Kyuhyun mendapati flashdisk terbaca komputernya. Dia meng-klik sekali, tampilan dalamnya ada folder. "Oh, ya. Memangnya apa isi flashdisk ini sampai kau harus mengantarnya ke kantorku?" Kibum balik bertanya. Falshdisk apa yang dibicarakan Kyuhyun. "Flashdisk yang barusan kau berikan padaku. Oh, kau menyuruh seseorang untuk mengantarkan ke kantorku."

"Aku tidak mengirimkan apa pun ke kantormu." Jawabnnya sama sekali tidak meragukan.

Sayangnya Kyuhyun telah membuka folder itu. Dan dalamnya adalah virus. Virus super yang langsung menginfeksi komputernya. Cepat sekali sampai-sampai belum berkedip pun data perusahaan yang terinfeksi sudah 50%.

"Bagaimana ini?"

"Kenapa?" Kibum bertanya dari ujung telepon.

"Apanya?" Donghae bingung melihat reaksi Kyuhyun. Ikut melongok ke komputer, lalu matanya terbelalak lebar melihat proses menyebarnya virus itu. "Matikan, matikan komputermu, cepat!"

Kibum masih bertanya apa yang terjadi. Kyuhyun belum bisa menjawabnya karena terlalu panik dengan kamputernya yang tidak bisa digunakan sama sekali.

Kyuhyun panik, bermaksud mematikan sistem komputernya, tapi semua tombol tidak bereaksi. Berdiri, hendak mencabut semua kabel, tapi keduluan komputernya mati. Komputer Kyuhyun termasuk komputer induk. Semua komputer di perusahaannya terhubung ke komputer itu. Kalau induknya terinfeksi, jelas seluruhnya komputer kena virus.

"Sialan, komputer perusahaanku kena virus!" pekikannya membahana di ruangan.

To be continue

Semoga kalau ada typo bisa dimaafkan. Sampai ketemu lagi, nanti.