Uchiha Sasuke27 tahun, tampan, pengacara terkenal, temperamen, perfeksionis. Haruno Sakura17 tahun,kabur dari panti asuhan, polos, spontan, tidak peka. Ada yang bisa membayangkan apa jadinya jika mereka berdua berinteraksi?

.

.

NAIVE

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma minjam tokoh-tokohnya aja

Story by Morena L

Warning: AU, OOC, typo, terinspirasi dari Ingenuo, dldr

.

.

.

"Sasuke, CEPAT!"

Karin yang merangkul Sakura di belakang seperti sudah hilang akal. Sasuke sendiri bukannya tak memacu mobilnya sekencang mungkin, tapi ini memang sudah di batas maksimal kecepatan mobilnya. Mereka memilih langsung membawa Sakura menggunakan mobil karena menunggu ambulans bisa memakan waktu lebih lama.

Para dokter dengan sigap menangani anak itu saat mereka sampai di UGD Senju Hospital. Waktunya sangat kritis, anak itu harus segera dioperasi, terlebih lagi dia ditembak di bagian dada. Sangat dekat dengan jantung, atau malah mungkin saja jantungnya telah tertembak.

Bagian depan baju Sasuke sudah penuh dengan bercak darah. Pun demikian dengan Karin. Mereka berdua sama-sama tak bisa tenang sekarang. Nyawa Sakura sedang di ujung tanduk. Sasuke menjawab beberapa pertanyaan sebagai persyaratan administrasi. Saat ini Sakura sedang dibawa ke dalam ruang operasi.

"Nama?"

"Haruno Sakura."

"Umur?"

"17 tahun."

"Golongan darah?"

"O"

"Jenis kelamin?"

Sasuke terdiam sejenak.

"Sasuke, cepatlah," desak Karin yang sebal karena pria itu terdiam beberapa saat. Tak tahukah dia kalau Karin ingin segera pergi ke ruang operasi sekarang?

"Jenis kelamin?"

"..."

"Maaf, Tuan, tapi kami butuh data jenis kelaminnya sekarang," kata wanita yang mengurus administrasi.

"Perempuan," jawab Sasuke dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.

oOo

Lampu merah tanda operasi sedang berjalan masih menyala. Sasuke dan Karin masih saling berdiam diri. Wanita berambut merah itu duduk di jejeran bangku yang tersedia, sedangkan Sasuke berdiri di dinding sambil melipat tangannya. Sejak dua jam yang lalu ia terus menatap lampu yang belum juga berganti warna menjadi hijau. Pikirannya bercabang ke mana-mana, berusaha mengaitkan satu hal dengan hal lainnya.

"Sejak kapan kau tahu kalau dia perempuan?"

Sasuke belum mau menjawab pertanyaan itu. Pikirannya masih sibuk sendiri. Ada sejuta pertanyaan yang berkelebat dalam benaknya.

"Sasuke."

"Sejak hari kedua dia di rumahku. Sebenarnya sejak awal juga aku sudah curiga."

"Huh," cibir Karin sinis, "Kau sudah tahu sejak lama dan tetap diam? Aku benar-benar bingung denganmu."

Sasuke memicingkan mata pada wanita itu. Memberikan tatapan tajamnya. "Masing-masing orang pasti punya alasan untuk menyimpan sebuah rahasia."

"Aku sejak awal juga langsung tahu kalau dia anak perempuan. Agak kaget memang karena ada anak perempuan tinggal di rumahmu."

"Kalau dia anak laki-laki, pasti alarm-mu berbunyi, kau kan suka sekali pada laki-laki muda."

Kali ini giliran Karin yang memberikan tatapan sinisnya. Di saat genting seperti ini Sasuke masih sempat mengejeknya. Dari awal melihat, ia memang sudah sangat yakin kalau Sakura itu anak perempuan. Tapi, anehnya, anak itu mengaku sebagai laki-laki dan pengakuan itu didukung pula oleh Sasuke. Sudah tentu hal ini membuatnya sangat penasaran.

"Aku sedang menyelidiki tentangnya."

"Lalu, apa yang kaudapatkan?"

"Sejak awal, dia memang dibesarkan sebagai anak laki-laki."

Aneh. Memang sangat aneh. Saat menemukan fakta ini, kening Sasuke berkerut. Data dari panti yang didapatnya dengan susah payah menyebutkan bahwa anak itu berjenis kelamin laki-laki. Semua itu menciptakan sebuah misteri baru yang ingin Sasuke pecahkan.

"Terus kenapa dia ditembak?" tanya Karin lagi.

"Aku tak tahu."

"Ini pasti ancaman untukmu. Kau sedang menangani kasus pembunuhan yakuza lagi kan?"

"Kurasa apa yang dialami Sakura dengan kasus yang sedang kutangani itu tak ada hubungannya."

"Tentu saja ada. Mereka sedang mengancammu, harus kuulang berapa kali lagi?" Wajar jika Karin berpikir demikian. Berbeda dengan kasus Orochimaru dulu. Kali ini Sasuke berdiri di pihak korban. Ia adalah pengacara yang akan menjebloskan seorang pemimpin kelompok yakuza ke dalam penjara.

"Karin, cukup. Ini bukan urusanmu."

"APA?"

"Aku adalah wali Sakura sekarang, jadi, kau tak perlu ikut campur terlalu jauh."

Ucapan itu begitu menohok Karin. Ia sendiri sangat heran kenapa dirinya memiliki ketertarikan khusus dengan Sakura. Sesuatu yang ia sendiri pun tak mengerti.

oOo

Keduanya mengembuskan napas lega saat lampu yang berwarna hijau gantian menyala. Tak lama kemudian Senju Tsunade—dokter yang menangani anak itu keluar. Karin dan dokter itu bertatapan selama beberapa detik sebelum sang dokter berbicara dengan Sasuke.

"Operasinya berhasil."

Satu lagi kelegaan datang.

"Kalau dalam keadaan biasa, anak itu pasti mati karena tembakan itu tepat di posisi jantung."

"Keadaan biasa? Maksud Anda?" tanya Sasuke tak mengerti.

"Pada umumnya jantung manusia berada di sebelah kiri, beruntung jantung anak itu tidak berada pada posisi yang biasa. Jantungnya berada di sebelah kanan."

Setelah menjelaskan beberapa hal, dokter wanita berambut pirang tersebut meninggalkan mereka berdua. Sasuke sendiri bersyukur karena posisi jantung yang tak biasa itu malah menyelamatkan hidup Sakura. Yang penting anak itu telah lolos dari jurang maut. Kabar mengenai kondisi Sakura membuatnya tak memperhatikan reaksi Karin yang kini lebih banyak diam.

oOo

Untuk lebih amannya, Sasuke meminta pihak rumah sakit untuk tidak mengizinkan Sakura dibesuk oleh siapa pun. Kasus yang ditanganinya juga sedang alot, akhirnya dengan sangat terpaksa ia membiarkan Karin yang menjaga Sakura. Ia juga belum menemui Sakura sejak hari operasi.

"Paman belum datang ... apa dia marah padaku?" Sudah empat hari dan Sasuke belum menunjukkan batang hidungnya di rumah sakit.

"Ssssst ... anak semanis ini mana mungkin bisa membuat orang marah," hibur Karin.

Sejak bangun, Sakura sudah tahu kalau penyamarannya kini terbongkar. Saat itu orang pertama yang dilihatnya adalah Karin dan seorang dokter pirang bersama perawatnya yang berambut hitam. Hatinya disusupi ketakutan karena akan dimarahi Sasuke habis-habisan.

Satu hari, dua hari, bahkan setelah empat hari berlalu, Sasuke tak kunjung datang. Apa saking marahnya Sasuke sampai tak mau menemuinya? Sakura tahu kalau dia memang salah karena sudah membohongi Sasuke. Pamannya itu sudah ditipu mentah-mentah dengan sandiwaranya selama ini.

"Paman pasti marah," ujarnya lagi. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.

"Kalau Sasuke mengusirmu, kau tinggal saja denganku."

Karin seketika menjadi serba salah. Tadinya ia hanya mau bercanda, ternyata Sakura malah menjadi semakin sendu. Wajah gadis itu sangat sedih, kentara sekali kalau ia ingin bertemu dengan Sasuke.

"Maaf, aku hanya bercanda."

"Tidak," kata Sakura lirih, "aku juga mau minta maaf pada Karin-san."

"Padaku? Kenapa?"

"Karena setelah ini aku mungkin sudah tak bisa menjadi model K2 lagi. Aku kan anak perempuan."

"Hahaha ... kukira apa. Masalah itu bisa dipikir belakangan. Yang penting kau sembuh dulu."

Kembali Sakura merasa tak enak pada Karin. Ia sudah membuat kekacauan untuk Sasuke, dan sekarang pada Karin juga. Sekilas terlintas dalam pikirannya untuk pergi saja. Pergi yang jauh agar tidak merepotkan banyak orang lagi.

"Ah, ini ada pesan dari Sasuke."

Sakura mengangkat wajahnya antusias. Akhirnya ada kabar juga dari orang yang paling ia tunggu.

"Dia mau datang malam ini."

Senang dan gugup. Dua hal itu bercampur menjadi satu. Sakura senang karena bisa bertemu kembali dengan Sasuke. Ia juga gugup karena tak tahu reaksi seperti apa yang akan Sasuke berikan padanya. Apa Sasuke akan benar-benar marah? Apa Sasuke malah tak mau bicara padanya? Atau apa Sasuke malah akan mengusirnya?

oOo

Benar saja, saat Sasuke memasuki ruangan perawatan VIP itu, Sakura hanya bisa menunduk. Ia tak sanggup untuk mengangkat kepalanya, walaupun hanya untuk sekadar melihat sosok tampan berusia 27 tahun itu. Semakin Sasuke mendekat, semakin kepala gadis itu menunduk.

Puk.

"Kau sudah baikan?" berbeda dari banyangan Sakura, pria itu malah menyentuh puncak berhelaian merah muda itu dan mengelusnya sebentar.

Seketika itu juga Sakura mengangkat wajahnya, matanya sudah basah karena air mata yang sudah tak sanggup lagi ia tahan. "Paman tak marah?"

"Kenapa aku harus marah?"

"Pamaaaaann …." Sakura memeluk pinggang pria itu dengan tangannya yang tidak diinfus. Air matanya mengalir semakin kencang karena semua beban yang ia rasakan selama beberapa hari terakhir kini telah sirna.

"Yang penting kau selamat."

Isakan gadis itu semakin kencang. Ia tak kuasa untuk menghentikan tangisannya sendiri. Ia tak tahu harus bertindak seperti apa lagi.

Sasuke sendiri membiarkan Sakura menghambur ke dalam dekapannya. Membiarkan gadis itu berlama-lama menumpahkan air matanya. Ia mengerti perasaan Sakura yang pasti khawatir kalau Sasuke akan murka padanya. Tidak, Sasuke tak akan memarahinya, yang akan ia lakukan adalah mengorek semua informasi yang sudah menjadi tanda tanya sejak dulu. Mengupas tuntas tentang misteri yang disembunyikan oleh gadis itu.

oOo

Pada saat yang sama, Karin pergi menemui Senju Tsunade. Ia juga punya misteri yang ingin dipecahkannya sendiri. Ia tahu kalau kemungkinannya mendekati nol, tapi tak ada salahnya kan kalau ia ingin menggantungkan harapannya pada kemungkinan yang hampir mustahil itu?

Rasa itu semakin menguat seiring dengan bertambahnya waktu. Semakin dekat dengan kepastian yang akan ia dapatkan, semakin jantungnya bertalu-talu bagaikan genderang perang. Sesuatu yang akan ia ketahui beberapa saat lagi membuatnya semakin risau. Jika hasilnya tidak seperti dugaannya, maka ia tak akan kecewa. Karin tak akan kecewa karena ia tahu ia sudah kehilangan bertahun-tahun yang lalu. Sudah sejak lama Karin mengubur asa akan harapannya itu. Sesuatu yang sudah mati memang tak mungkin bangkit lagi. Karena itu, ia melakukan ini hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Benar dan tidaknya itu urusan nanti, yang penting rasa ingin tahunya terpuaskan.

"Ah, duduklah Karin," kata Tsunade-sensei.

Wanita cantik itu duduk harap-harap cemas. Meja yang memisahkan kedua wanita itu menjadi saksi betapa gugupnya Karin.

"Aku sudah memeriksa sampel rambut yang kauberikan."

"Lalu?"

"Lihat saja sendiri."

Karin mengambil amplop besar berwarna coklat itu dengan sejuta ketegangan yang melingkupinya. Tangannya bergetar saat membuka amplop, mengeluarkan kertas putih yang berisi rangkaian tinta-tinta hitam. Ia memejamkan mata saat kertas putih itu sudah keluar sepenuhnya. Ia masih risau dengan kenyataan yang mungkin akan dihadapinya sebentar lagi.

Tidak. Karin sudah berkali-kali meyakinkan diri kalau dia tidak akan kecewa. Tidak boleh kecewa. Jangan sampai kecewa.

"I-ini ..." akhirnya ia memberanikan diri untuk melihat rangkaian kata yang tercetak pada lembaran kertas putih tadi.

"Iya Karin, iya."

"A-a-aku ... i-ini ... i-ni ..." matanya yang tadi berkaca-kaca kini mengalirkan air mata. Hatinya bergejolak dengan berbagai macam emosi. Semuanya melebur menjadi satu. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. "... hiks ... i-ini …." terus air mata itu menuruni wajahnya. Tetes demi tetes membasahi bajunya. Otaknya yang biasa pandai merangkai kata seperti lumpuh. Kenyataan ini membuatnya semakin tak kuasa untuk menangis sejadi-jadinya. "Kupikir aku sudah kehilangan dia untuk selamanya …." semakin deras air mata itu meluncur turun. Tombak tajam yang menusuk hatinya selama ini perlahan-lahan musnah, sakit dihatinya yang selama ini ia tahan menghilang tanpa jejak.

oOo

"Jadi, sejak kecil pemilik panti mengatakan kalau kau harus menjadi anak laki-laki, kau tak boleh mengatakan pada orang lain kalau kau perempuan?" tanya Sasuke yang duduk pada kursi di sebelah ranjang sembari melipat tangannya di depan dada. Ia masih tak habis pikir kenapa gadis di hadapannya ini dibesarkan sebagai anak laki-laki.

"Aku juga tidak tahu kenapa. Kata pemilik panti, aku akan celaka kalau ada yang tahu aku ini anak perempuan."

Sejak kecil diancam sudah tentu membuat Sakura menurut, Sasuke paham betul akan hal tersebut. Tapi kenapa? Satu hal yang Sasuke tangkap, sejak awal memang keselamatan Sakura sudah terancam. Jika ingin mengungkapkannya, maka asal-usul Sakura harus diketahui terlebih dahulu. Masalahnya, data mengenai semua penghuni panti sudah raib. Kemarin informan suruhannya harus bersusah payah untuk mendapatkan informasi kecil mengenai Sakura, apalagi sekarang harus mengungkap latar belakangnya.

"Kau ingat saat pertama kita bertemu dulu?"

Sakura mengangguk singkat.

"Saat itu kaubilang ada orang jahat yang sedang mengejarmu."

Ingatan Sakura kembali ke masa awal pertemuannya dengan Sasuke, saat itu ia memang sangat ketakutan karena dikejar orang-orang berbadan besar yang tak dikenal. "Iya, mereka memang mengejarku. Aku tak tahu karena apa. Sebelum pemilik panti meninggal, beliau berpesan padaku untuk melarikan diri sejauh mungkin. Panti sudah tak aman lagi."

"Karena itu kau kabur?"

Sekali lagi Sakura memberikan satu anggukan.

"Siapa nama pemilik pantimu?"

"Nenek Chiyo."

Setidaknya sekarang Sasuke sudah mendapat info mengenai nama pemilik panti. Informannya akan segera ia perintahkan untuk mencari tahu tentang si pemilik panti. Tapi, semua ini belum cukup. Masih banyak hal yang harus dicari tahu, masih banyak rahasia yang belum terungkap.

"Apa kau tahu tentang orangtuamu?"

Orangtua, ya? Sakura menggeleng pelan. "Sejak bayi aku sudah di sana." Ia bahkan tak pernah tahu seperti apa orang-orang yang sudah membuatnya terlahir ke dunia. Sejak lahir ia sudah sendirian. Ia tak punya siapa-siapa. Bahkan ia harus hidup dalam kebohongan agar bisa terus bertahan.

Sakura pernah mengkhayal tentang orangtuanya. Apa mereka tinggi? Apa mereka cantik dan tampan? Kadang-kadang ia membayangkan artis yang dilihat di TV sebagai orangtuanya. Ah, angan tinggallah angan semata. Kenyataannya ia tak memiliki siapapun, ia sendirian di dunia ini sampai ... ia bertemu dengan Sasuke.

"Aku harus menghubungi orangku dulu."

Sakura memandangi punggung yang berjalan keluar itu dengan pandangan sendu. Suatu saat nanti, mungkin saja ia harus kehilangan orang itu. Sasuke di luar jangkauannya. Sepolos apa pun dirinya, Sakura tahu kalau Sasuke adalah objek yang terlalu tinggi, orang yang tak akan pernah bisa ia raih.

oOo

Belum lama Sasuke keluar, Karin kembali datang. Mata perempuan itu sembab, seperti habis menangis. Hidungnya juga berwarna sangat merah.

"Karin-san, paman tidak marah padaku," Sakura menyuarakan kesenangannya.

Karin seperti tak menanggapinya. Wanita itu terus mendekatinya dengan kembali berlinang air mata. Sontak Sakura bingung harus melakukan apa. Ia tak mengerti kenapa mantan pacar Sasuke itu menangis seperti dunia akan kiamat.

"Karin-san, kau kenapa?" tanya Sakura khawatir. Karin adalah orang yang juga sangat baik padanya. Sudah pasti ia khawatir melihat Karin yang seperti ini.

Sakura makin tak mengerti saat wanita itu menggenggam tangannya erat, menyentuh telapak tangannya. Masih menangis, Karin membawa telapak tangan Sakura ke pipinya sendiri. Memejamkan mata saat merasakan telapak tangan itu menyentuh pipinya.

"Karin-san?"

"Tangan mungil itu sudah sebesar ini."

Lagi-lagi Karin mengucapkan kalimat yang tak dimengerti oleh Sakura.

"Sudah sebesar ini dan aku sama sekali tidak tahu."

"Karin-san, kau kenapa?"

Karin membuka matanya, menatap gadis itu dengan begitu dalam. Ia merekam segalanya. Mata itu, rambut itu, hidung itu, bibir itu. Semuanya tak sempat ia lihat dulu. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Ia mengulurkan tangannya dan memeluk erat Sakura. Mengusap rambut gadis itu. "Gadis kecilku ... gadis kecilku sudah sebesar ini ternyata," isaknya dalam. Suaranya terus melirih. "Putri kecilku sayang."

"A-apa?" Karin bilang apa? Sakura tak sadar jika air matanya juga sudah ikut menetes sekarang. Baru saja ia membahas mengenai orangtuanya dengan Sasuke, sekarang Karin datang dan mengatakan ….

"Gadis kecilku." Ia menangkup wajah Sakura dengan kedua tangannya. Menatap lamat-lamat anak itu. Tak ada niatan untuk menghapus air matanya sendiri. Sudah begitu lama ia membiarkan air matanya mengering, sekarang biarlah semuanya kembali tertumpah. "Kupikir kau sudah mati. Mereka bilang padaku kalau kau sudah mati."

Bayangan masa lalunya kembali mengitari Karin. Ia tak sempat melihat seperti apa sosok mungil yang dilahirkannya 17 tahun yang lalu. Ia hanya mengingat tangisannya, dalam ingatannya yang kabur ia hanya bisa melihat kaki mungil yang digendong oleh salah satu suster. Sosok kecil yang menangis dengan begitu kencang.

"Apa kau ... kau ...?"

"Iya sayang! Iya! Kau putriku! Putriku! Gadis kecilku!" jawab Karin tak sabaran. Semua emosi bercampur menjadi satu.

Giliran Sakura yang meraung begitu kencang. "Kau bohong! Kau pasti bohong padaku!"

Karin mengambil kertas putih yang tadi diletakannya di atas ranjang Sakura. "Ini buktinya. Aku menyerahkan rambutmu pada Tsunade-sensei. Saat itu aku pikir kalau yang kulakukan adalah hal konyol. Tapi hatiku terus menjerit kalau yang kulakukan adalah hal benar."

Sakura mengambil kertas putih itu, membaca dengan saksama tulisan di dalamnya. Ia tak kuasa menahan rasa harunya saat melihat tulisan 99,99% dirinya dan Uzumaki Karin adalah ibu dan anak. Uzumaki Karin adalah ibunya. Ibunya.

"Ja-jadi aku tak sendirian di dunia ini?"

Karin mengangguk cepat.

"A-aku ma-sih punya seseorang?"

"Ya! Kau punya aku! Kau punya aku!"

"Terus kenapa meninggalkan aku sendirian selama ini?"

"Aku tak pernah meninggalkanmu," isak Karin yang merasa sangat bersalah. "Mereka yang mengambilmu dariku. Mereka yang memisahkanmu dariku ..."

"Berarti aku punya ibu?"

"Iya! Iya!" Dipeluknya kembali tubuh mungil itu. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia bisa merengkuh apa yang ia sangka sudah tak bisa lagi ia miliki. Ia bisa mendengar lagi suara gadis kecil yang tak pernah disentuhnya. Ia bisa merasakan sosok yang selama ini ia pikir telah mati. Kemungkinan hampir nol yang ia pertahankan di awal membawanya kembali pada gadis kecilnya. Ia tak perlu lagi diam-diam menahan rasa sakit karena kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya. Jelas sudah kenapa ia begitu tertarik pada anak ini sejak pertama kali melihatnya di rumah Sasuke.

"Apa-apaan ini? Kalian kenapa?"

oOo

Setelah Sakura tertidur lelap, barulah kedua orang dewasa itu memulai pembicaraan. Sasuke tak habis pikir mendapati kedua perempuan itu saling berpelukan, menangis seperti dunia akan kiamat sebentar lagi. Kertas putih yang terjatuh di lantai menjelaskan segalanya. Kepala Sasuke langsung sakit saat membacanya. Ia bahkan mengulang lagi berkali-kali untuk memastikan ia tidak salah baca. Setiap kali ia mengulang bacaannya, setiap kali itu pula matanya semakin melebar. Sakura adalah putri Karin? Tak dapat dipercaya!

"Dia putrimu?"

"Hm."

"Bagaimana bisa?"

"Kenapa tidak?"

Otak Sasuke seperti mendapat sebuah pencerahan. Sakura adalah putri Karin. Semuanya terhubung sekarang.

"Karin, siapa ayah anak itu?"

Mata Karin melotot. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Dia bilang padaku sejak kecil dia dibesarkan sebagai anak laki-laki, kalau tidak begitu, maka dia akan celaka. Dari bayi dia sudah ada di panti asuhan. Ini pasti ada hubungannya dengan ayah anak itu."

Karin makin melotot. Ia begitu murka sekarang. "Jadi maksudmu aku yang membuat putriku celaka? Dia ditembak sekarang tak ada urusannya denganku atau ayah anak itu. Asal kau tahu, ayah anak itu tak ada hubungannya dengan semua ini. Dia orang yang tak penting, tak ada sangkut pautnya sama sekali."

Sasuke menyeringai tipis. Karin tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Otak jeniusnya membayangkan skenario apa yang mungkin dialami Karin dulu. "Mengingat umurmu sekarang, kau pasti melahirkan dia saat kau berusia 17 atau 18 tahun. Kurasa percintaanmu dulu adalah kisah klise antara gadis miskin dan tuan muda kaya. Keluarga pria itu menentang, lantas memisahkan kau dengan putrimu, sengaja untuk mencelakainya agar garis darah keturunan mereka tidak terkotori adanya anak haram."

Plaaaaak!

"Diam kau! Putriku bukan anak haram. Hentikan omong kosongmu!"

Satu tamparan yang begitu kencang ia berikan pada pipi mulus pria itu. Untung saja Sakura tak terbangun karena pertengkaran mereka. Amarah Karin mendidih. Sasuke terlalu sok tahu dengan masa lalunya, tak ada satu pun yang benar dari semua kata yang terucap melalui mulut pria itu.

"Kau jangan seenaknya menudingku. Aku tetap yakin kalau Sakura ditembak untuk mengancammu. Mulai sekarang jangan berada dekat-dekat dengan putriku!"

"Karin!"

"Aku ibunya. Aku yang lebih berhak atas dirinya. Dan aku tak mau putriku yang masih polos berada di dekat pria brengsek sepertimu! Apalagi kau sudah mendatangkan bahaya padanya."

Sasuke tak habis pikir kenapa Karin bisa berpikir seperti itu. Sudut pandang mereka dalam melihat kasus penembakan Sakura berbeda jauh. Karin berpikir kalau ini disebabkan oleh kasus pembunuhan yang sedang ditangani Sasuke sekarang. Tapi, Sasuke melihat dari sisi yang berbeda. Ada misteri yang lebih besar. Karin tak mengerti. Wanita itu belum mendengar cerita Sakura dengan lebih rinci.

.

.

.

.

.

Tbc

A/N:

Sebenarnya lagi sibuk, tapi tiba-tiba pengen ngelanjutin ff ini.

Maaf lagi-lagi ga bisa balas review.

Tapi, terima kasih banyak buat yang sudah baca, review, fave, dan follow. Saya sangat mengapresiasi semuanya.

Saya tunggu tanggapan untuk chapter ini, ya ;)