Please, Look At Me!
Author : BunnyJungie
Cast : Vkook, MinYoon, NamJin, Hoseok, TaeGi, HopeKook
Genre : Hurt, Family, Friendship, Romance
Summary : Aku mohon lihat aku hyung –Jeon Jungkook ... Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu –Kim Taehyung
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
Preview
Taehyung berjalan keluar kamar Jungkook setelah menatap punggung rapuh milik Jungkook berjalan menjauhinya. Taehyung bersandar pada pintu kamar istrinya dengan mata terpejam, ia meraba dadanya yang berdenyut nyeri dan sesak. Taehyung membuka matanya yang berbinar sendu saat mendengar suara isakan dari dalam kamar di belakangnya itu.
"Aku ...
.
.
Part 7
.
.
Author POV
.
.
"Aku ... maaf aku tak tahu Jungkook-ah" lirih Taehyung pelan.
Sang raja siang telah terpajang indah di langit biru pagi ini, membuat seorang pria manis terbangun dari tidur nyenyaknya. Sebut saja ia Jungkook, pria manis dengan gigi kelinci yang berderet lucu ketika ia tersenyum. Pria itu terbangun tepat ketika jam menunjukkan pukul sembilan pagi, Jungkook beranjak menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke universitasnya. Waktu cutinya sudah selesai dan sekarang Jungkook harus sudah masuk kuliah jika ia tidak ingin ketinggalan pelajaran juga menambah tugas. Diantara keenam orang lainnya Jungkook memang satu-satunya yang masih kuliah, karena yang lainnya sudah bekerja dan sebagian meneruskan perusahaan milik keluarga mereka. Tapi lain hal dengan Seokjin, Yoongi dan Jimin, mereka memang dari keluarga kaya raya tapi Seokjin memutuskan menjadi chef di restoran miliknya sendiri dan perusahaan keluarganya dipegang oleh sang suami Kim Namjoon. Yoongi sendiri lebih memilih bekerja menjadi asisten Taehyung, bukan karena ia miskin tapi Yoongi hanya ingin mencoba dari nol dan mencapai kesuksesannya dengan usaha sendiri. Jimin juga sama seperti Yoongi namun bedanya Jimin menekuni dua pekerjaan, yang pertama ia bekerja di perusahaan Taehyung sebagai karyawan biasa dan kadang ikut dengan ayahnya mengurus perusahaan keluarganya sendiri.
Setelah selesai bersiap Jungkook segera keluar kamar, Jungkook memandang ke seluruh penjuru rumah yang begitu terasa hening. Mungkin suaminya sudah pergi ke kantor pikirnya. Namun saat Jungkook baru saja melangkah di pertengahan tangga ia bisa melihat Taehyung tengah duduk menonton tv di ruang keluarga rumahnya, Jungkook mengernyit bingung karena seharusnya Taehyung sudah berada di kantor sekarang. Jungkook menoleh ke arah samping tv untuk melihat jam dinding, waktu sudah menunjukkan waktu sembilan lewat dan itu tandanya Taehyung sudah telat satu jam untuk ke kantor akhirnya Jungkook memilih menghampiri Taehyung daripada terus merasa penasaran.
"Kookie?" panggil Taehyung tiba-tiba membuat Jungkook berjengit kaget di anak tangga.
"Hyung, kau mengejutkanku." keluh Jungkook dengan nada merengeknya. Taehyung terkekeh kecil melihatnya lalu mulai bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Jungkook.
"Maaf..maaf, lagipula kenapa kau melamun di sana sayang?" tanya Taehyung lembut membuat rona merah muncul di pipi putih Jungkook.
"Uhh... kenapa hyung tidak ke kantor?" Jungkook balik bertanya pada Taehyung yang masih tersenyum manis pada Jungkook.
"Hyung mengambil libur hari ini karena hyung ingin menghabiskan waktu denganmu hari ini. Pukul berapa kau pulang kuliah?" ujar Taehyung. Jugkook mengerjabkan matanya lucu karena mendengar penjelasan suaminya itu. Dengan malu-malu Jungkook menjawab pertanyaan Taehyung.
"Aku rasa pukul dua belas aku sudah pulang" jawab Jungkook sambil menatap punggung Taehyung yang berjalan menuju meja untuk mengambil kunci mobilnya.
"Baiklah, kalau begitu ayo aku akan mengantarmu!" seru Taehyung meraih tangan Jungkook untuk digenggamnya.
Suasana di dalam mobil Taehyung begitu hening karena dua pria di dalam mobil itu enggan membuka suara sedikitpun, Jungkook maupun Taehyung tidak berniat memecahkan keheningan yang terjadi di dalam mobil. Jungkook lebih memilih memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya pada jendela mobil, sedangkan Taehyung sendiri masih fokus pada jalan di depannya. Taehyung menghentikan mobilnya tepat di area parkir gedung universitas Jungkook yang juga tempatnya dulu kuliah, Taehyung menatap Jungkook yang membuka sabuk pengamannya lalu keluar dalam diam. Namun sebelum Jungkook benar-benar menghilang dari pandangannya Taehyung keluar dari mobil dan berlari kecil menghampiri Jungkook.
"Kookie?" seru Taehyung membuat yang dipanggil menghentikan jalannya dan menoleh ke asal suara. Jungkook memandang Taehyung dengan tatapan bingung yang menggemaskan membuat Taehyung dan sebagian siswa dan siswi yang berada di sekitar mereka memekik gemas.
"Aku melupakan sesuatu." ucap Taehyung yang kembali melangkah mendekat ke hadapan Jungkook. Jungkook semakin mengerutkan keningnya tak mengerti, memang apa yang suaminya lupakan pikir Jungkook.
"Hah?"
CUP
Jungkook melebarkan matanya karena Taehyung yang tiba-tiba menangkup kedua pipinya dan mencium keningnya, ia juga bisa mendengar jeritan orang-orang yang memang sedang memerhatikan mereka sejak Taehyung keluar dari mobil. Taehyung menjauhkan bibirnya dari kening Jungkook namun tetap membiarkan kedua lengannya berada di pipi sang pria manis.
"Ini yang aku lupakan." ucap Taehyung dengan cengiran khasnya. Jungkook tetap diam tak mau memandang Taehyung karena dia sangat malu sekali.
"Baiklah, sampai bertemu di rumah sayang. Aku pergi!" ujar Taehyung lalu pergi berlalu dari hadapan Jungkook. Setelah Taehyung menghilang dari pandangan mata Jungkook barulah ia memekik malu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Uhhh... Tae hyungie pabo." runtuk Jungkook pelan.
Sepulang dari mengantar Jungkook Taehyung duduk sendirian di sebuah ayunan kayu di taman belakang rumah mereka, Taehyung terdiam memandang kosong ke arah kolam renang yang tenang. Pikiran pria itu penuh dengan dua sosok yang begitu berarti dalam hidupnya, Jeon Jungkook istrinya dan Min Yoongi manta kekasihnya juga pria yang manis ia cintai sampai saat ini.
"Haaahhhh..."
Taehyung menghela nafas berat memikirkan semua hal tentang kedua orang tersebut, saat ini mungkin ia memang sedang berusaha menerima Jungkook sebagi istrinya tapi tetap saja kadang ia masih ingin mengapai Yoongi kembali. Taehyung masih ingat jelas tatapan Yoongi yang selalu terarah pada patner in crime-nya Park Jimin, tatapan itu sedikit menganggunya kenapa? Karena tatapan itu sama seperti saat pertama Taehyung dan Yoongi saling jatuh cinta. Sesak, dada pria itu kembali dilanda rasa sesak yang membuat lehernya terasa dicekik kuat. Taehyung memejamkan matanya lalu menaruh sebelah telapak tangannya pada dada bidangnya, sesak itu semakin terasa saat memori otaknya memaksa kembali pada masa-masa bahagianya bersama Yoongi. Namun bayangan itu lenyap dan tergantikan dengan sebuah senyum manis seorang pria yang sempat ia cintai dimasalalu, hatinya menghangat seiring dengan semakin jelas bayangan sosok itu. Taehyung membuka matanya saat jantungnya kembali bergetar seperti dulu pada sosok bocah manis dimasalalu, pria itu tersenyum kecil menyadari sesuatu yang mulai kembali tumbuh setelah sekian lama layu di hatinya.
"Maaf ... karena aku kembali mencintaimu ..." bisik Taehyung lirih pada dirinya sendiri.
Jimin mematikan komputernya dengan mode sleep, ia meregangkan tubuhnya yang terasa remuk lalu bersandar pada sandaran kursinya. Jimin menoleh ke arah sebuah figura foto yang berada di samping komputernya, foto ia dan keenam sahabatnya yang tengah tersenyum pada kamera saat itu mereka sedang berlibur di pulau Jeju untuk merayakan kelulusan Seokjin, Yoongi dan Namjoon. Jimin ingat sekali saat itu mereka semua nampak sangat bahagia berada di sana, bermain di pantai, pesta BBQ dan yang paling membuatnya bahagia adalah melihat tawa para sahabatnya terutama pria bersurai cokelat tua yang berdiri tepat di antara ia dan taehyung. Taehyung, Jungkook, Namjoon dan Seokjin memang sudah bersama sejak mereka lahir karena keluarga mereka dekat dan kebetulan kedua orang tua mereka juga bersahabat, sedangkan Jimin sendiri baru mengenal mereka saat Jimin menjadi salah satu murid pindahan di sekolah ke empat orang itu saat TK. Hoseok baru bergabung saat mereka di bangku sekolah dasar, dan untuk Yoongi sendiri mereka baru dikenalkan Jungkook saat mereka menempuh bangku SMA. Dulu. Dulu sekali, Jimin memang sempat mencintai maknae mereka. Jimin selalu mengikuti Jungkook kemanapun dan ia selalu berusaha menarik perhatian Jungkook, namun saat Jimin mencoba menyatakan perasaannya pada Jungkook ia ditolak mentah-mentah. Jungkook mencintai Taehyung, itu yang Jungkook katakan setelah acara pengakuannya. Jimin memang sedih dan hancur saat itu tapi ia mencoba menerima kenyataan kalau Jungkook mencintai Taehyung, sampai akhirnya ia berkenalan dengan pria manis berkulit pucat saat pertama kali ia menjadi murid SMA. Jungkook membawa pria yang ia akui sebagai sepupunya saat mereka semua tengah berkumpul di taman belakang rumah Seokjin yang memang mereka jadikan sebagai markas, dan saat itulah Jimin mulai mencintai sosok itu.
"Jimin?" Jimin tersentak kaget saat namanya dipanggil oleh seseorang. Jimin mengankat kepalanya untuk melihat siapa pelaku yang membuatnya terkejut, Min Yoongi berdiri tepat di depan meja kerjanya. Jimin menatap malas sosok pria di depannya itu.
"Ada apa?" tanya Jimin ketus. Menerima nada ketus dari Jimin, Yoongi hanya mampu mendesah putus asa karena pria dengan surai orange itu masih saja marah padanya.
"Jimin-ah ... aku ... aku tahu kau sangat kecewa padaku, tapi tak bisakah kau sedikit saja mendengar penjelasanku?" ujar Yoongi pelan pada Jimin.
"Apa lagi yang harus aku pahami hyung? Semuanya sudah jelas bagiku! Tolong jangan mengangguku lagi" balas Jimin. Yoongi menunduk dalam mendengar balasan Jimin, ia tersenyum lalu mendongkak menatap onyx Jimin. Yoongi membuat senyumnya semanis mungkin namun tak menghilangkan gurat sedih di dalamnya.
"Baiklah, aku menyerah sekarang... aku berjanji ini terakhir kalinya aku menganggumu. Mungkin ini terlambat... tapi aku rasa tidak ada salahnya jika aku memberitahumu tentang ini. Kau pasti tidak akan pernah percaya padaku, tapi kali ini biarkan aku berusaha untuk jujur padamu dan juga pada diriku sendiri. Park Jimin ..." Yoongi terdiam sejenak untuk menarik nafas dan kembali melanjutkan ucapannya.
"Aku mencintaimu, Park Jimin!" lanjut Yoongi. Jimin terpaku diam mendengar pengakuan Yoongi yang tiba-tiba, ia tidak bisa berfikir dengan baik saat ini karena jujur saja Jimin bahagia mendengarnya namun masih ada rasa ragu yang menjalar di hatinya.
"Aku tak memaksamu untuk percaya, itu hakmu untuk mempercayainya atau tidak. Aku pergi! Maaf sudah menganggumu." ucap Yoongi final.
.
.
Author POV End
.
.
Yoongi POV
.
.
Aku berlari sekuat tenagaku keluar dari gedung kantor tempat aku bekerja, aku tidak memperdulikan tatapan mata semua karyawan yang memandangku aneh. Aku hanya butuh lari menjauh dari tempat ini dan semua yang terjadi, aku terus berlari tanpa tahu arah namun sedetik kemudian aku sadar bahwa saat ini aku berhenti di depan gerbang rumah yang sangat aku kenal. Rumah sepupuku, Jeon Jungkook. Tungkai kakiku berjalan dengan sendirinya masuk ke dalam rumah itu, otakku terus memberontak agar aku tidak datang kemari saat ini namun entah kenapa hatiku malah berbicara lain. Aku memandang pintu bercat putih di depanku ragu, aku tahu Taehyung memang ada di rumah karena tadi ia sempat izin untuk libur ke kantor tapi yang aku takut kan adalah keberadaan Jeon Jungkook di dalam sana. Aku takut ia bertanya aku kenapa dan akhirnya ia tahu semuanya. Air mataku mengalir begitu saja tanpa bisa aku tahan, ini sangat menyakitkan sekali. Kalian mungkin bingung dengan pernyataanku pada Jimin tadi tapi demi tuhan aku memang mencintainya, sangat mencintainya malah. Perasaan itu tumbuh begitu saja saat hari pertama aku bertemu dengannya, namun saat itu aku harus menelan kekecewaan karena kenyataan bahwa Park Jimin mencintai Jeon Jungkook. Aku ingat saat itu, saat Jimin menari di studio dance sekolah sambil menangis sendirian, saat itu aku kebetulan baru saja keluar dari ruang musik dan tanpa sengaja melihat pintu studio dance yang tak tertutup rapat. Itu adalah pertama kali aku melihatnya sehancur itu, awalnya aku bertanya-tanya mengapa ia menangis namun semuanya terjawab saat Jimin meneriaki satu nama di dalam ruangan itu. Jeon Jungkook, nama itu yang ia teriaki hingga mengema di ruangan dingin dan gelap itu. Dan saat itulah aku tahu bahwa aku tak pernah punya kesempatan untuk meraih sosok sempurna itu, aku menyerah dan memutuskan untuk mengubur sedalam mungkin perasaan itu di hatiku. Air mataku semakin deras mengingat kenyataan pahit itu, luka yang sudah kututup rapat-rapat kini terbuka semakin lebar dan melebar.
"Yoongi hyung?" aku mengangkat kepalaku kala sebuah suara familiar memanggil namaku. Aku menemukan Taehyung berdiri tepat di depanku.
"Kau kenapa hyung? Kenapa kau menangis?" tanyanya khawatir.
Aku hanya terdiam memandang pria yang juga aku cintai, melihat pria ini kembali memaksaku untuk terjun ke masalalu. Masa yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam hidupku. Kim Taehyung, sosok yang berhasil membuatku bangkit dari keterpurukanku saat itu. Dia datang dengan segudang cinta yang diberikan padaku, ya dia datang tepat setelah aku patah hati karena Jimin. Dia membuatku lupa tentang rasa sakit atas cinta, dia membuatku merasakan indahnya mencintai dan dicintai meski akhirnya aku kembali terluka seperti saat ini. aku mungkin memang masih mencintai Kim Taehyung tapi jauh dalam lubuk hatiku nama Park Jimin masih tertulis indah disana, Park Jimin masih menempati sisi paling spesial di hatiku. Seandainya aku sabar menunggu Jimin saat itu mungkin aku sudah bahagia saat ini bersamanya, saat itu aku terlalu berpikiran sempit sehingga dengan mudahnya menerima Taehyung dalam hidupku. Aku menyesal memutuskan untuk melepas Park Jimin dalam hidupku, seadainya aku tahu kalau cintaku terbalas saat itu mungkin aku lebih memilih bersamanya.
"Yoongi hyung!" aku tersentak ketika teriakan Taehyung berdengung di telingaku. Aku menatapnya dengan air mata yang semakin sulit kuhentikan. Aku tanpa sadar berlari menubruk dada bidang milik Taehyung, memeluknya erat dan menenggelamkan wajahku di dadanya. Aku bisa merasakan Taehyung membalas memelukku erat.
"Kenapa rasanya sesakit ini Tae?" tanyaku. Bukannya menjawabku Taehyung malah menangkup kedua pipiku lalu setelahnya hanyalah benda kenyal dan hangat menyentuh bibirku.
Cup...
Taehyung menciumku penuh dengan kelembutan, ia melumat dan menyesap kuat bibirku tanpa ada nafsu sama sekali. Aku sangat terbuai dengan ciumannya hingga dengan sendirinya tanganku mengalung indah di leher jenjang Taehyung, sekejap saja aku lupa bahwa pria yang menciumku adalah suami dari sepupuku sendiri dan yang aku tahu sekarang adalah betapa aku merindukan ciuman ini. Saat kurasa aku butuh oksigen aku segera penepuk pelan bahu Taehyung agar melepas ciumannya, Taehyung melepaskan tautan bibir kami dan menetapku lembut hingga membuat hatiku terasa hangat.
"Aku mohon jangan menangis lagi hyung." ujarnya lirih padaku.
.
.
Yoongi POV End
.
.
Author POV
.
.
Seorang pria berperawakan tinggi menatap sendu ke arah sebuah rumah besar milik keluarga Kim, ia memandang sendu tepat pada pintu utama rumah itu dimana dua sosok pria yang begitu ia kenal tengah berciuman mesra di sana. Ia tahu ciuman itu pasti begitu lembut dan memabukkan meskipun ia hanya melihat dari dalam mobil, pria itu menarik nafas perlahan untuk mengatur nafasnya yang terasa sulit dan menyesakkan. Air matanya berhasil lolos dari mata bulatnya yang indah, ia tidak terisak tapi air matanya turun begitu deras melewati pipi putih miliknya. Ia meremat kuat dadanya yang begitu terasa dirobek-robek, lagi-lagi lukanya bertambah dan yang lebih hebatnya luka itu dibuat oleh orang yang sama. Tapi bukan itu yang menjadi fokus utamanya tapi sosok pria bersurai cokelat tua lah yang membuatnya setengah mati terluka, sosok yang begitu ia percayai di dunia ini melebihi orang tuanya sendiri sekarang malah bekhianat dibelakangnya.
"Anak muda, kau baik-baik saja?" tanya supir taxi pada pria tersebut.
"Gwenchana ajusshi. Bisa kita putar balik ajusshi? Aku melupakan sesuatu." tanya pria itu pada supir taxi dan langsung saja diterima oleh sang supir. Taxi itu melaju meninggalka rumah milik Kim Taehyung, lalu menghilang entah kemana.
Taehyung melirik jam yang melingkar di tangannya ini sudah pukul sepuluh malam dan Jungkook belum juga pulang, Jungkook memang sempat menelepon Taehyung untuk minta izin mengerjakan tugas di rumah sahabatnya yang bernama Bambam tapi kenapa hingga pukul segini bocah itu belum juga pulang. Awalnya Taehyung sedikit kecewa karena acaranya bersama Jungkook batal namun Taehyung bisa apa jika itu menyangkut dengan masa depan Jungkook jadilah ia mengiyakan saja saat Jungkook minta izin padanya. Taehyung sudah terlihat sangat lelah karena menunggu Jungkook berjam-jam, bahkan pria itu sudah puluhan kali menelepon sang istri namun nihil Jungkook tak mengangkatnya. Taehyung mendesah prustasi memikirkan keberadaan istri manisnya itu, demi apapun ini tengah malam dan pria manis itu belum juga pulang dan bagaimana jika terjadi apa-apa pada Jungkook dijalan. Taehyung terus saja mengerutu sampai akhirnya ia terlelap di sofa ruang tv di rumahnya, pria itu terlalu lelah menunggu Jungkook.
Brak...
Taehyung terbangung tengah malam saat samar-samar ia mendengar suara ribut dari arah dapur, Taehyung tersentak kaget mendengar suara benda terjatuh, ia langsung berlari menuju dapur rumahnya. Namun baru saja Taehyung menginjakkan kakinya di dapur, ia langsung disuguhkan dengan pemandangan dua pasang manusia berbeda jenis tengah berpangutan bibir begitu panas dan intim. Taehyung mematung melihat hal itu, meskipun lampu dapur mati ia masih bisa melihat dengan jelas karena posisinya tepat berada di belakang sang wanita. Taehyung menatap kosong kegiatan di depannya itu, bagimana wanita itu meremas sensual surai sang pria. Taehyung juga tak melewatkan sedikit pun kegiatan sang pria yang begitu ahli dalam mencium mesra wanitanya, bahkan ia bisa melihat tangan nakal pria itu meremas bokong seksi lawannya. Tersadar dari lamunannya Taehyung segera menyalakan lampu dapur yang tak jauh dari tempatnya, seketika membuat sepasang sejoli itu terkejut dan menghentikan kegiatannya.
Kedua orang itu memang menghentikan kegiatannya namun tak mengindahkan keberadaan Taehyung di sana, pria itu malah kembali dengan kegiatannya yang tertunda karena Taehyung. Mata Taehyung memanas melihat adegan demi adegan yang tersuguh di depannya, hatinya bagai diremas kuat hingga melebur dan hancur. Tatapan matanya meredup dan memancarkan gurat luka yang begitu dalam, mungkin Taehyung memang tidak menangis tapi tatapan mata itu tidak bisa membohongi perasaannya saat ini yang begitu pedih.
"Wae ...
.
.
.
TBC
.
.
.
Hai, Bunny back!
siapa yang udah nunggu chapter ini? Bunny minta pendapat kalian tentang chapter ini, karena jujur aja Bunny takutnya bikin ceritanya makin ngebosenin atau apa mungkin. Kalian bisa kritik atau kasih saran buat Bunny kok, dan mungkin itu malah bisa bikin pacuan buat Bunny biar bikin tambah bagus.
Oh yah, sebenernya di chapter kemarin Bunny udah sedikit ngasih kalian clue tentang masalalunya Taehyung sama Yoongi, kenapa mereka bisa bersatu kaya gitu. Mungkin kalau kalian lebih teliti pasti tahu jawabannya. Bunny mau berterima kasih nih sama kalian yang udah pada review karena satu kata dari kalian itu sama dengan semangat Bunny yang makin nambah. Maaf juga nggak bisa bales kalian satu-satu, tapi Bunny serius seneng banget dapet banya review dari kalian.
Hei-hei kalian pada minta Bunny untuk satuin Hoseok sama Jungkook kan? Bunny sih nggak masalah untuk Hopekook karena jujur aja Bunny juga suka Hopekook, tapi untuk ff ini sorry Bunny nggak bisa satuin mereka. Kenapa? Karena mau kaya gimana pun jahatnya Taehyung sama Jungkook tapi akhir cerita mereka bakal tetep bersatu.
Last, review juseyo...
