23/06/2014/06.00 A.M


Hai Minna-san, setelah menjadi author yang tidak bertanggungjawab karena mengabaikan fic ini, akhirnya saya kembali. Gomen...Gomen...Gomen... banyak hal yang terjadi dalam kehidupan dunia nyata author sehingga fic ini terpaksa harus terabaikan.


.

.

Si Pelupa yang Malang

.

.

Sejak Pertemuan itu, sejak rentetan kalimat itu diterima oleh Hinata, Nenek Sasuke menjadi jauh lebih perhatian kepada Hinata. Iya, perhatian. Tidak ada hari terlewat tanpa telepon dari Nenek, dan di setiap panggilan itu, Hinata menerima nasihat-nasihat yang membuatnya berusaha keras untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi – dalam versi Nenek Uchiha itu-.

"Jadi kau masih tetap berdiam diri di rumah?" Pertanyaan itu entah bentuk khawatir, kasihan atau sindiran, Nenek melancarkannya dengan mulus sehingga sangat sulit mengartikan pesan dari kalimat itu. Tapi semoga itu adalah bentuk kekhawatiran seorang Nenek terhadap Isteri dari cucu tercintanya.

"Iya Nek, aku hanya melakukan pekerjaan rumah saja dan menunggu Sasuke-kun pulang."

Hinata berusaha sebaik mungkin menata setiap kata yang diucapkan, Hinata tidak mau menerima tamparan pedas lagi, cukup waktu itu saja, kritikan tentang setenang itukah seorang yang tidak kaya dan bahkan tidak memiliki ijazah S-1.

"Apa tidak bosan."

"Tidak Nek, justru aku suka dengan—"

Nenek Uchiha memotong kalimat Hinata "Bukan begitu, maksudku 'apa Sasuke tidak bosan melihat mu setiap hari yang hanya duduk-duduk saja di rumah' ?"

-Apa?! Kenapa Nenek bilang begitu?-

Hinata menelan ludah, kesal? Pasti. apa yang pantas jadi jawaban? Mengatakan bahwa ini memang permintaan Sasuke dengan meminta Hinata agar tetap berada di rumah, Atau apa?

"Ah— itu… umm… sebenarnya—"

"Sudahlah." Nenek Uchiha mengela napas, dia kesal dengan kebodohan Hinata. "Carilah kesibukan agar bisa berguna sedikit."

"I-iya Nek." Hinata tersinggung, siapa yang tidak tersinggung jika di anggap 'kurang berguna'. Namun Hinata tidak patah semangat untuk membuktikan pada Nenek Uchiha bahwa Hinata bisa melakukan apa yang menjadi standar seorang Uchiha. "Nek, sebenarnya aku sedang mengikuti kursus memasak via online." Sampai disini, Hinata berharap pengakuannya itu bukanlah kesalahan.

"Memasak? Astaga… kenapa sebegitu dasarnya? Memasak, seharusnya semua wanita bisa melakukannya tanpa harus ada latihan khusus secara berkala begitu. Sepertinya orangtua mu itu membesarkanmu dengan sembarangan, lalu tanpa beban dan tanpa minder mereka menikahkanmu begitu saja, dan lebih parahnya dengan seorang Uchiha, dan itu cucu ku. Kasihan sekali kau Sasuke~" nada bicara Nenek Uchiha terdengar kesal dan sangat menyesal.

Jari Hinata memegang erat telepon yang di genggamnya, ingin rasanya langsung menutup pembicaraan, tidak masalah jika hanya Hinata saja yang mendapat penghinaan, tapi jika orangtua yang sudah di hina, ini keterlaluan, sangat keterlaluan, seharusnya orang berpendidikan dan elit seperti Uchiha itu tahu seperti apa menghargai perasaan orang lain.

"Itu mungkin karena aku yang bandel. Sebenarnya ibu ku juga sering mengajari memasak." Hinata melakukan pembelaan dengan nada yang lemas.

"Aku pusing memikirkan betapa sangat nekad nya dirimu itu. Haaaah….tidak habis pikir. Padahal menantu keluarga lain sudah melakukan sesuatu yang hebat, bekerja yang layak dan sangat terhormat. Kasihan Sasuke."

Apa yang harus Hinata katakan?

-Maaf Nek, aku sangat tidak berguna. Aku sangat tidak berguna jika dibandingkan dengan menantu-menantu dari keluarga lain yang berpendidikan Master atau sekolah di luar negeri-

Pada akhirnya Hinata tidak menjawab dan menutup mulut rapat-rapat. Hinata memutuskan untuk mendengarkan nasihat Nenek Uchiha itu.

.

.

"Les bahasa Inggris?" Sasuke berpaling dari buku tebal yang tengah ia baca, oniks nya menatap Hinata yang tenggelam di dalam selimut.

"Iya. Boleh, ya?"

"Jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Kau hanya perlu berada di rumah dan menunggu ku pulang." Pandangannya kembali pada lembaran-lembaran buku di tangannya.

"Tapi aku ingin mempelajari bahasa asing. umm… agar Sasuke-kun tidak malu."

"Kenapa aku harus malu?"

"Karena… suatu saat pasti akan ada pesta atau perayaan yang melibatkan orang-orang hebat, Sasuke-kun tidak mau malu kan karena memiliki Isteri yang tidak bisa berbahasa asing?"

"Kau bicara apa sih, Hinata." Onik nya menatap Hinata dengan tajam. Sasuke sudah kehilangan mood membacanya, menutup buku dan meletakkan buku di atas meja samping ranjang.

"Ayolaaaah…yaaa?" Hinata memelas.

"Terserah." Singkat, padat dan tidak berarti, membingungkan. Sasuke membaringkan badannya dan tenggelam dalam selimut yang sama. Kelopak matanya terpejam.

"Itu aku artikan 'Iya'." Kata Hinata pelan.

"Hn… terserah."

.

.

Sejak mengikuti les bahasa Inggris, Hinata lebih sering berada di luar rumah, ia merasa senang memiliki aktivitas baru, memiliki teman les, dan tentunya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan dua sahabatnya semasa kuliah, Ino dan Sakura.

Mereka berkumpul di sebuah kedai kecil yang terletak beberapa meter dari tempat les Hinata, Ino memang sengaja meluangkan waktu untuk bertemu Hinata, sedangkan Sakura samasekali tidak tahu menahu tentang berita bebas nya Hinata, gadis pink itu mendapatkan pesan singkat dari Ino saat sedang bertugas di rumah Sakit, alhasil dia bolos kerja hanya untuk bertemu dengan sahabat kuliahnya.

"Ino Pig! Sialan! Mendadak sekali mengabari ku!" Sakura yang baru datang dengan tergesa menepuk pundak Ino yang sudah duduk manis di kedai bersama Hinata.

"Berhenti memanggilku Pig, dasar Jidat!" balas Ino penuh penekanan.

"Sudah jangan bertengkar, kita kan kesini bukan untuk bertengkar." Hinata melerai mereka berdua.

"Sakura, kau tidak kangen pada Hinata? Ya ampun… dia lama sekali tidak keluar rumah."

"Suami mu itu… kejam sekali. Kalau aku sih sudah tidak betah." Sakura menimpali.

"Aku senang kok, dan aku tambah senang lagi karena aku mulai di beri kebebasan."

"Ceritakan bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga?" Ino tampak antusias mengetahui kehidupan baru dalam pernikahan.

"Eto… sebenarnya sangat menyenangkan, satu rumah dengan seseorang yang kita cintai dan bisa bersama setiap saat, sangat menyenangkan." Hinata tersenyum membayangkan kebersamaannya dengan Sasuke yan walaupun sangat dingin, tetapi suaminya itu tampak sangat mencintainya.

"Eh—bagaimana dengan ibu mertua mu?" Tanya Sakura Hati-hati.

Pertanyaan itu mengingatkan Hinata pada Nenek, sebenarnya tidak ada masalah dengan ibu mertua nya, hanya saja satu-satunya yang membuat Hinata bersedih adalah sikap Nenek nya Sasuke, tapi Hinata tidak berniat untuk menceritakan bagamana perlakuan Nenek kepadanya, bukan hal yang pantas dibicarakan, Nenek bersikap begitu mungkin karena Hinata terlalu bodoh untuk menjadi bagian dari Uchiha, Hinata menyadari itu.

"Hei… Hinata!" Ino memanggil Hinata yang diam terbawa lamunan.

"Mmmm…I-iya. Apa tadi? Oh… ibu mertua ya, Ibu nya Sasuke sangat baik." Hinata Jujur, Mikoto memang sangatlah baik.

Kedua sahabat Hinata mengangguk, mereka bukan anak kecil lagi yang bisa dengan mudahnya percaya pada kalimat dari seseorang yang usai melamun, Hinata pasti memiliki masalah dalam rumah tangganya, namun sebagai sahabat yang baik, mereka tidak berniat untuk ikut campur.

.

.

Saat Hinata pulang, ia melihat mobil berwarna perak terparkir di halaman rumahnya, itu bukan mobil Sasuke, juga bukan mobil milik Mikoto. Perlahan Hinata membuka pintu, ia mendapatkan perasaan yang buruk hari ini.

"Kemana saja?"

Pertanyaan itu tepat terlontar saat Hinata membuka pintu rumah. Di sana sudah ada Nenek yang duduk di sofa ruang tamu.

"Kau sengaja menghindari ku, ya?"

"Ti-tidak Nek. Maaf."

Hinata menyadari kesalahannya, ia buru-buru mengambil ponsel di tas nya. Dan benar saja, saat les tadi, Hinata mematikan suara ponselnya, ia lupa mengaktifkannya kembali.

"Sudahlah. Jangan ulangi lagi."

"I-iya."

"Bisa-bisa nya kau jalan-jalan saat Sasuke tidak ada."

"Sasuke-kun sudah tahu kalau aku keluar." Hinata membela diri.

"Apa penting? Apa urusanmu itu penting, sampai-sampai meninggalkan rumah?"

Hinata ingat, saat Nenek menasehatinya untuk mencari kesibukan, Hinata sudah menurutinya dan sekarang tiba saatnya menceritakan, mungkin sikap Nenek akan berubah jika melihat Hinata yang penurut.

"Ano…Nek, aku mengikuti saran Nenek untuk menyibukkan diri, aku ikut les bahasa inggris." Hinata memberikan senyuman, berharap Nenek akan membalasnya dan mengatakan sesuatu yang membuatnya tenang berada di lingkungan Uchiha.

Nenek tampak terkejut, dan tampak sedikit kesal.

Nenek menghela nafas berat, memejamkan mata dan mulai berbicara pada Hinata.

"Hinata… aku tidak tahu lagi harus memberikan saran apa. Sepertinya kau memang….. payah. Apa keluarga mu semiskin itu, ya? Seharusnya bahasa Inggris sudah bisa kau kuasai. Apa dulu keluargamu tidak mengirim mu ke tempat les dan setidaknya berencana untuk memberimu pendidikan yang tinggi?"

Hinata merasakan panas pada kedua bola matanya, menangis, Hinata ingin menangis, mengapa semua usahanya selalu tampak payah bagi Nenek Sasuke? Sekarang juga, ia menginginkan Sasuke cepat pulang, ia ingin memeluk Sasuke dan menangis, mencari perlindungan dari sang suami.

Beruntung, sebuah panggilan telepon berdering dari tas Prada milik Nenek Sasuke, dan sepertinya itu sebuah panggilan penting, wanita elegan itu beranjak pergi begitu saja tanpa melihat Hinata, apalagi sampai berpamitan, wanita itu tetap fokus kepada si pembicara di telepon. Beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil yang mulai meninggalkan rumah Hinata, ya… Hinata bisa bernapas lega.

Dengan menghembuskan napas panjang, Hinata menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa yang empuk, ia melepas satu per satu sepatu heels nya yang dibelikan dan di pakai paksa atas perintah Nenek Sasuke saat pertamakali membelinya. Tangan kanannya memijit-mijit pelan daerah sekitar mata kaki yang terasa pegal. Hinata memandangi kedua sepatu itu, merk terkenal milik Dior, apa orang kaya selalu membuang-buang uang mereka untuk membeli hal seperti itu, ya? Harganya sama dengan membeli rumah sederhana, astaga. Mungkin nyonya Uchiha itu lebih memilih mengeluarkan uang banyak untuk menantunya daripada harus menanggung malu karena segala yang di pakai oleh menantunya itu adalah sangat murahan menurut versinya.

Banyak yang Hinata pikirkan, terlalu banyak sehingga tubuhnya meminta untuk segera di relaksasi, relaksasi jiwa lebih tepatnya, ia membutuhkan waktu untuk berendam di bathtube.

Hinata meneteskan beberapa minyak esensial aroma lavender kedalam genangan air hangat di bathtube, lalu ia merendamkan tubuhnya, sangat melegakan, ia memejamkan kedua kelopak matanya.

.

.

Hidung terasa gatal, badan yang mengigil kedinginan, dan bersin yang datang bertubi-tubi sampai hidung berubah warna semerah tomat. Hinata membebat tubuhnya dengan selimut tebal.

"Sudah ku peringatkan agar lebih perhatian pada kesehatan." Sasuke yang masih mengenakan baju formal tampak membawa obat-obatan dan menceramahi Hinata tentang menaga kesehatan.

Hinata melirik jam, sudah pukul 9 malam, pantas saja ia sampai flu begini, sudah berapa jam ia tidur dalam genangan air? Sekitar empat jam.

"Maaf Sasuke-kun, aku tertidur, aku juga lupa tidak memasang alarm." Jawab Hinata, lalu meminum tablet yang diberikan Sasuke."

"Kalau aktifitas les mu itu membuatmu lelah dan sakit, lebih baik sudahi saja."

Iya, ide bagus, mungkin. Lagipula Nenek Sasuke jelas tidak menyukai aktifitas baru Hinata.

-Kalau tidak les, berarti tidak ada jadwal keluar rumah. Aaahhh….tidak-

"I-ini tidak akan terulang lagi. Aku janji." Hinata mengacungkan jari membentuk tanda dua.

Sasuke memperhatikan jari-jari tangan Hinata.

"Hei… dimana cincin mu?" ia mengangkat alis kanannya.

Mendengar pertanyaan itu, Hinata langsung mencari-cari cincinnya, mulai dari jari jemarinya, lalu mencari ke atas meja kamar, meja rias sampai menengok ke kolong ranjang. Dan nihil.

"Jika kau tidak bisa memakainya sampai mati, setidaknya kau bisa memakainya selama menjadi isteriku, Hinata Hyuuga." Sasuke tampak marah.

Pria itu meninggalkan Hinata yang sedang panik karena menghilangkan cincin pernikahannya. Sasuke membanting pintu kamar mandi dan hal itu membuat Hinata kaget setengah mati, ia takut kalau Sasuke sudah marah, kedua tangannya meremas rambut panjangnya. Mengapa hari ini begitu siaaaaal?

Piip-piip-piiiip-piiiiip… Suara alarm digital membuat Hinata terjaga dari tidurnya, dengan malas ia menonaktifkan suaranya, tangannya lemas sampai alarm itu terseret jatuh. Hinata kaget mendengar suara alarm yang membentur lantai, segera ia turun dan membereskan alarm yang pecah berserakan, dan di antara kepingan-kepingan alarm itu, ada cincin pernikahannya. Ia segera mengambil cincin itu dan mengabaikan kepingan alarm yang berserakan di lantai, ia segera memakai kembali cincin itu, sampai ia menyadari bahwa Sasuke sudah tidak ada di kamar. Ia meraih ponsel untuk melihat jam, dan ternyata sudah jam Sembilan pagi, pantas saja Sasuke sudah tidak ada di rumah, Hinata kesiangan, ia merasa bahwa dirinya semakin tidak berguna saja. Setidaknya belum terlambat untuk membereskan rumah, tapi tiba-tiba saja ia merasa kram pada perutnya, dan itu membuah Hinata memilih untuk berbaring kembali barang sebentar.

.

.

Sore ini Hinata masih mengikuti les, secara keseluruhan ia merasa senang walapun paginya di serang kram perut yang datang secara tiba-tiba, setidaknya sekarang rasa sakit itu sudah tidak ia rasakan.

Setelah membeli jus strawberry dengan es krim di atasnya, Hinata memberhentikan taxi, hari ini ia tidak ada jadwal apapun selain les, dan memang tiba waktunya pulang.

Taxi berhenti di gapura perumahan Konoha, setelah memberi bayaran pada supir, Hinata berjalan memasuki perumahan itu, sambil terus menyesap jus strawberry yang tinggal setengahnya.

"Tadaima…." Seru Hinata, riang tanpa beban, ia melepas sepatunya di depan pintu rumah.

Mendengar seruan itu, sang pemilik rumah membuka pintu.

"Hinata?" Ibu Hinata membulatkan bola matanya, kaget melihat Hinata berkunjung tanpa memberi kabar.

Hinata pun heran dengan ekspresi ibu nya, ia mengerutkan dahinya "Kaa-chan…mengapa memasang ekspresi seperti itu, seperti aku tidak pernah pulang saja." Hinata memberikan pelukan pada ibunya yang masih terdiam di ambang pintu

"I-iya, tapi mengapa tidak bilang kalau kau mau berkunjung?" masih dengan kebingungannya.

"Berkunjung?"

"Hinata? Kau kenapa nak?"

Hinata mengigit bibir bawahnya, memejamkan matanya dan memijit pelan dahinya yang terasa pusing, ia baru menyadari bahwa ia lupa, lupa karena tidak pulang ke rumahnya sendiri, malah pulang ke rumah Ibu nya. Dan untuk mengalihkan fokus itu, Hinata terpaksa berbohong.

Ia tersenyum sambil merengkuh bahu ibu nya, mengajak masuk ke dalam rumah. "Memangnya tidak boleh ya kalau aku kangen masakan ibu?"

Tidak banyak berubah, rumahnya masih seperti dulu, peraabotnya dan bahkan cat rumahnya, rumah sederhana yang bahkan mungkin sama harganya dengan sepatu Dior milik Hinata. Hinata duduk di atas tatami, memandangi Ibu nya yang sedang membuatkan sushi untuknya, tersenyum dan menyimpan beban, sulitnya menjadi seorang Uchiha. Betapa ia ingin menceritakan dari A sampai Z, namun ia segera mengurungkan niatnya, Ibu pasti akan terus memikirkan nasibnya, Lagipula Hinata ingin Ibu hidup tenang, masalah semacam ini Ibu tidak pelu tahu, walaupun si Nenek Uchiha itu selalu merendahkan keluarga Hinata, namun tetap, yang terbaik adalah keluarganya, Ibu nya, bakan jika dibandingkan dengan nenek Uchiha tak brperasaan sekalipun, semua orang pasti akan nyaman dengan keluarganya sendiri, kan? Jika ada campur tangan dalam rumah tangga, maka rumah terasa seperti neraka bagi seorang Isteri, iya kan?

.

.

.

Wait For the Next Chapter

.

.


Minna-san, Maaf kemarin author terburu-buru update, jadi lupa menyampaikan hal penting, dan untungnya sudah di ingatkan oleh teman-teman reader yang me-riview. Dalam Fic ini Author memang ter inspirasi dari berbagai karya yang author baca maupun author tonton, hanya saja, tadinya author mau mencantumkan novel-novel ataupun film-film (yang jadi inspirasi) di akhir cerita, author mau menjadikannya semacam credits, karena kalau di beritahu di awal terkesan gak bikin penasaran. jadi sabar ya, author tau rules nya kok :)