A/N : Tanggal 5-8 Mei Rika akan mengikuti UN. Jadi, pada tanggal tersebut Rika harus hiatus untuk sementara. Minta Do'a restunya ya minna, agar Rika bisa dapat nilai bagus dan bisa melanjutkan SMA :D
Rika : Osu! Rika telah kembali! :D
*krik krik krik*
Akarin : Master, sepertinya Anda telah dicampakkan =3=
Rika : Ugh... yasudah, langsung ke cerita *pundung* QwQ
DISCLAIMER
Vocaloid milik Yamahmud :v *plak* maaf, milik Yamaha :D
WARNING!
AU, OOC, OOT, EyD belum disempurnakan, TYPO(s), humor belum diuji ITB dan IPB, Fantasional (?), dll, dsb, dst
Miku POV
Suasana di dalam istana benar-benar meriah. Suara alunan musik pun mengikuti suasana. Aku, Len, Gumi, dan Gumiya diundang pesta oleh sang pangeran kerajaan ini bernama Rinto Olofsdotter untuk menyambut kedatangan sang putri Lenka Olofsdotter yang sebenarnya adalah sebuah kesalahpahaman yang sangat besar.
Mengapa? Kagamine Rin, adik perempuanku, seluruh penduduk mengira kalau dia adalah sang putri. Dan itu adalah kesalahpahaman pertama.
Kedua, selama 16 tahun aku menjabat sebagai putri dari kerajaan Vocalefheim dunia Alfheim, belum pernah aku menemukan kasus seperti ini. Maksudku, Kagamine Rin yang sudah menjabat sebagai putri selama 14 tahun ini belum mempunyai calon tunangan. Nyari aja belum, hingga kesalahpahaman pertama telah dilakukan. Ini adalah kesalahpahaman kedua.
Ketiga, Rin telah melakukan hal yang terbaik untuk adik kembarnya yaitu Kagamine Len hingga posisi sebagai adik kembar diganti oleh Rinto. Dan itu adalah kesalahpahaman ketiga. Bagi Len, kesalahpahaman ini adalah paling besar untuknya. Harga diri sebagai adik kembar sudah di rebut oleh Rinto. Itu sangat menyakitkan bagi Len.
Kagamine Len, pemuda berambut pirang duduk disebelah kananku sambil memasang wajah antara kesal dengan menakutkan. Yaah, karena sebagian orang-orang yang melihat wajah Len yang hampir aku tak bisa berkata apa-apa membuat ketakutan. Sendok yang ia pegang sudah hampir bengkok karena terlalu ditekan. Saat ada makanan yang kuberikan pada dia, untuk sekedar menghibur Len, ia langsung menghabiskannya hanya beberapa detik saja dan menyisahkan piring, meskipun yang kuberikan rasanya tidak enak, ia tetap memakannya.
"Len, jangan marah begitu. Aku tahu kalau Rin sudah direbut oleh Rinto dan Oliver, tapi... saya akan mencari cara untuk membebaskan Rin. Aku janji." Tuturku pada Len.
"Terima kasih kak. Aku juga ingin merebut Rin dan kita akan keluar dari dunia ini! Aku juga akan membantumu, Miku-neesan!" semangat Len. Baru pertama kalinya Len memanggilku dengan -neesan, biasanya dia memanggilku dengan kakak.
Tapi, apa bedanya neesan dengan kakak? Hanya bahasanya bukan? Ah, sudalah.
"O ya, kalian berempat, terima kasih telah membawa kakak kembarku ke kerajaan semula. Kalian boleh menginap disini, makan disini, dan juga saya akan memberikan harta emasku sebanyak-banyak mungkin," ucap Rinto dengan sopannya pada kami.
"Terima kasih, pangeran. Kami akan memutuskan tinggal disini untuk sementara hingga bisa menentukan tujuan kami selanjutnya," ucapku dengan sopan pada pangeran. Yah, sudah lama aku menggunakan bahasa yang berkebangsawan dan sopan seperti ini.
"Kalau begitu kita akan pesta hingga malam ini!" Seru pangeran Rinto dengan mengancungkan gelasnya yang ia bawa.
Pesta ini pun berakhir dengan kecapekan dan kelelahan hingga aku lupa memberitahu kejadiannya kalau itu adalah kesalahpahaman terbesar.
~oO0Oo~
"Maaf Len, aku lupa untuk memberitahu Rin akibat pesta besar-besaran tadi malam. Kini aku benar-benar seperti orang begadang saja..." lemasku pada Len.
"Tak apa neesan, aku juga kelelahan gara-gara aku mabuk berat bersama Rinto, Rin, dan Oliver. Perutku jadi mulas..." balas Len dalam kondisi yang sama. Sedangkan Gumi dan Gumiya santai-santai saja dan menikmati kehidupannya yang syalalala~~
O ya, pagi ini kami pergi ke kota ke kota dan desa ke desa di kerajaan kecil ini. Kami pergi keluar kerajaan untuk mencari informasi tentang dunia ini. Aku dan Len sudah kecapekan hingga kami harus istirahat di bangku kursi taman kolam memancing yang tak jauh dari kota. Sedangkan Gumi menemukan informasi kalau kerajaan ini dari Swedia, Negara Nordik bagian Eropa Timur. Kalau tak salah ayah pernah bilang orang-orang yang mempercayai keberadaan kita di dunia manusia adalah negara yang disebut Negara Nordik. Sudah kuduga kalau tempat ini adalah Midgard.
Gumiya mengatakan kalau sihir memang benar-benar ada, tapi hanya beberapa orang yang bisa dilakukan seperti contohnya dukun atau tabib. Tapi, bagi penganut kristen mereka mengatakan kalau sihir adalah perbuatan dosa dan menganggap mereka yang melakukan perbuatan tersebut bisa dibilang penyihir atau pengikut iblis dan harus dieksekusi mati. Ternyata, dunia disini cukup kejam juga.
Karena tak ada informasi sepenuhnya tentang dunia ini, maka kami pun melanjutkan perjalanan kami dan mencari informasi tentang pangeran Rinto dan putri Lenka. Disaat kami sedang berkeliling, tiba-tiba banyak sekali kerumunan orang-orang yang sepertinya sedang menonton. Karena kami begitu penasaran kami pun pergi kesana. Tapi, karena sesak akhirnya kami merangkak dan mencari tahu dan begitu aku melihatnya, aku pun begitu terkejut.
"A... Ayah...? Kenapa kau ada disini...?" aku hanya gagap sambil melihat ayahku yang sedang memainkan gitar dan bernyanyi bersama ayahnya Gumi yang juga bermain gitar dengannya. Aku melihat ekspresi Gumi yang begitu terkejutnya ada ayahnya sendiri.
"Miku! Sebaiknya, kita keluar dari sini!" seru Gumi tanpa ketahuan oleh ayah Gumi dan aku. Aku pun mengangguk dan langsung keluar dari kerumunan orang-orang. Tapi, karena terlalu banyak orang, semakin sesak dan sulit untuk keluar.
"Oh, Miku! Tak menyangka ayah bisa bertemu denganmu~~"
BLAR! BLAR! BLAR! BLAR! BLAR! BLAR! BLAR!
Rasanya aku seperti disambar petir 7 kali. Aku begitu gugup dan merasa tak yakin bingits (?), aku berbalik dan berusaha tetap tersenyum, meskipun dalam hatinya benar-benar kacau.
"Oh, Gumi! Rupanya kau bersama Miku ya?" paman sepertinya menyadari keberadaan Gumi. Kelihatannya Gumi benar-benar habis terkena serangan jantung saja. Mukanya benar-benar pucat pasi.
"Baiklah, terima kasih atas mendengarkan musik yang indah ini. Kami harap bertemu lagi dengan semuanya!" seru ayahku dengan menyambut penonton secara santai-santai saja.
"Miku, Gumi, ikuti kami. Kalian pasti bersama Rin atau Len bukan?"
~oO0Oo~
"...Begitu, Rin menjadi putri di kerajaan ini... benar-benar kesalahpahaman besar..." gumam ayahku sambil menundukkan kepalanya.
"Benar kan apa yang kukatakan? Kalau begitu kita akan merebut Rin dari dua makhluk b*d*b*h itu!" geram Len dengan ucapan kotornya.
"Tunggu Len! Kita harus berpikir untuk membuat rencana. Miku, apa kau punya rencana?" tanya ayahku padaku.
"Yah..., mungkin caraku sedikit kasar. Pertama pada malam hari, kita akan pergi ke ruangan Rin dan kabur tanpa ketahuan dan kita akan lari ke hutan. Menurutku seperti itulah..." ucapku dengan datar.
"Ngomong sih gampang..." ujar Gumi. "Tapi, sulit dilakukannya..." Lanjut Gumiya.
"Ah! Ayah punya rencana! Tapi, kalian harus membawakan kami ke istana. Aku akan berbincang-bincang sedikit pada pangeran. Sisanya akan kuberitahu." Ucap ayahku dengan tanggap. "Miku, setelah kita berhasil melakukan rencana, ada yang ingin ayah perlihatkan..." ucap ayahku dengan senyum lembutnya. Ia menepuk kepalaku dan megelusnya dengan lembut. Sudah berapa tahun aku merasakan seperti ini? Rasanya, aku benar-benar bernostalgia dengan masa laluku.
"Baiklah, kami akan mengantarkan ayah dan paman ke istana!" ucapku dengan yakin.
"Maka kami ke istana dan menjalankan rencana yang masih belum kuketahui.
Rin POV
Aku benar-benar bingung dan bingung hingga aku dari pagi hingga sekarang masih ditempat tidur bersama kucing hitamku. Aku rasanya seperti mengkhianati Len. Wajahnya benar-benar menyeramkan saat kemarin. Bayangan itu membuatku ingin menangis, merasa bersalah. Maafkan aku Len, aku bukan bermaksud seperti itu. Rinto dan Oliver benar-benar baik padaku, tapi aku ingin Len bisa mengerti kondisinya.
"Tampaknya, kau benar-benar kebingungan,"
"Iya, lagipula ini kesalahpahaman yang- EEEEEEH!?" Tiba-tiba, aku melihat gadis remaja berambut pirang yang berada di depanku. Aku benar-benar terkejut sejak kapan dia ada disini? "K-Kau siapa...?" tanyaku dengan terbata-bata.
"Namaku Lenka Olofsdotter. Putri dari kerajaan ini." Salam dia dengan senyuman lembut. Tunggu, Lenka? Akhirnya, penolong ada untukku.
"Tunggu! Darimana kau bisa masuk ruangan ini? Seluruh penduduk mencarimu!" Ujarku pada Lenka.
Ia diam sejenak hingga tak lama kemudian ia berkata, "Aku sebenarnya kucing hitam yang biasa kau bawa. Aku dikutuk oleh sang penyihir sehingga aku berubah jadi kucing. Tapi, aku bisa berubah menjadi manusia, walau hanya beberapa menit saja. Kau pasti kewalahan dengan situasi ini ya?" tanya Lenka padaku.
"Iya, begitulah." Singkatku. "Ngomong-ngomong, bajumu kemana?" tanyaku pada Lenka sambil memperhatikan badan dia yang tidak tertutup.
"Ha? Maksudmu?"
"Apa kau tak kedinginan tidak pakai baju? Maksudku lihat, kamu telanjang..." ucapku sambil menunjuk dadanya dia dengan pandangan tak mengenakan.
"KYAAA~~~" Ternyata ia baru sadar kalau ia tak memakai baju sehelai pun. Ia langsung mengambil selimut putih dan menutupinya. "Terima kasih, Rin. O ya, aku punya pesan untukmu. Carilah buku yang berada dibawah, dekatnya penjara bawah tanah. Disana kau bisa menemukan mantra yang bisa membuatku kembali normal. Dan juga, sepertinya kau bukan penduduk dunia ini bersama teman-temanmu." Dia tersenyum padaku.
Tunggu! Apa dia menyadarinya!? "Tunggu Lenka!" Tapi terlambat, ia sudah berubah kucing pada semulanya. Ia menatapku dengan iris berwarna kuning keemasan. "Miaw~~~"
"Kau sudah menyadarinya ya, Lenka? Kalau begitu akan kucari buku itu demi kau!" ujarku dengan semangat.
TOK! TOK! TOK!
Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Saat dibukakan, ternyata salah satu seorang maid.
"Putri, Pangeran Rinto ingin bertemu denganmu bersama Oliver. Ada tamu yang menginginkan untuk bertemu dengan Anda." Ujar dia.
"Ya, Saya segera kesana!" Ucapku.
Aku tak tahu siapa tamunya, tapi untuk sementara aku harus bisa bertahan dalam kondisi memusingkan ini. Maafkan aku, Len. Tapi hanya ini caranya.
Miku POV
"Pertandingan?" Pemuda berambut pirang dengan matanya berwarna biru menaikkan alisnya dengan heran.
"Ya, pangeran. Saya sebagai raja dari kerajaan Vocalofheim ingin bertanding untuk memperebutkan putri Lenka Olofsdotter." Ujar ayahku sambil membungkukkan badannya dengan terhormat.
"Atas dasar apa?"
"Putraku, Len Kagamine ingin menjadikan Lenka menjadi istrinya."
APA!? Tapi, ini sih masuk akal agar bisa memperebutkan Rin dan melanjutkan perjalanan kami. Tapi, perjanjian itu membuatku sedikit tersinggung. Len, mempunyai istri bernama Rin? Saudaraku sendiri menikah saudaraku sendiri? Inikah namanya Incest?
"Apa yang Anda ingin harapkan dari saya?" Tiba-tiba, perempuan berambut pirang tersebut datang bagaikan putri bangsawan. Ia berhadapan dengan ayahku. Rasanya seperti, Rin berubah.
"Ah, Kebetulan sekali. Lenka, disaat pertandingan, bila dari kerajaan saya menang, Anda akan menjadi istri dari anakku bernama Len Kagamine. Bagaimana putri?"
Rin pun berpikir dengan kepala dingin. Setelah ia sudah berpikir matang yang membutuhkan cukup lama, akhirnya Rin berkata "Baiklah. Tapi, jika Anda kalah maka, Anda harus mengakui kekalahan Anda dan pergi dari sini!"
Rin? Kau sudah berubah? Kenapa kau malah berkata seperti itu? Bukannya... "Rin! Aku pasti akan mendapatkanmu! Aku akan menang, dalam pertandingan!" Len dengan semangatnya berbicara langsung pada Rin hingga adik perempuanku sedikit tersipu.
"Baiklah, baik. Jadi, alasannya sudah jelas ya? Kau mau memperebutkan istriku darimu bukan untuk mengembalikan ke kerajaan semula? Len Kagamine anak dari Oberon?" Oliver mulai menampakkan wajah sinisnya pada Len. Len begitu kesal dengan raut wajahnya.
"Kau tak tahu apa-apa! Dia adalah-"
"Oliver, jangan terbawa suasana. Kau harus tenang..." Rin menenangkan Oliver yang suasananya mulai memuncak. Len yang melihatnya begitu kesal dan marah. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat.
"Jadi, bagaimana aturannya, Yang Mulia?" tanya Rinto yang segera melanjutkan topik utama.
"Cukup mudah. Anda dan Oliver melawan dengan dua anak saya Miku dan Len untuk bertanding menggunakan senjata apapun hingga satu orang bisa berdiri. Kalian boleh menggunakan panah, belati, pedang, kapak, terserah kalian mau pilih senjata apa. Dan satu-satunya orang bisa berdiri, bisa memperebutkan Lenka. Hanya itu saja aturannya. Cukup mudah, bukan?"
"Lalu, bagaimana kalau bertahan dua orang dari kerajaan sama?"
"Tentu saja, harus bertanding hingga hanya ada satu orang..."
APA!? Ayah, kau mau aku ingin bertempur dengan adikku sendiri!?
"Baiklah, saya terima tantangannya!" Rinto pun benar-benar bersemangat. "Sudah lama saya tak bermain-main seperti ini..." lanjut dia dengan muka sinisnya. Rasanya, aku tak begitu yakin dengan dia. Ia seperti... nafsu akan perang.
"Saya juga tak sabar, Rinto!" Len pun juga bagaikan seperti serigala yang ingin memangsa musuhnya. Mereka mempunyai hawa nafsu yang lumayan.
"Baiklah, pertandingan akan dimulai besok lusa. Besok Anda berempat harus bisa siapkan fisk kalian sebaik-baiknya dalam satu hari saja. Yang Mulia juga tak sabar menantikannya..." ayah pun juga merasa akan ada hal yang menarik di besok lusa.
"Besok lusa akan terlihat menyenangkan untuk ditonton. Aku akan mendukungmu, Miku." Ujar Gumi padaku.
"Terima kasih atas dukunganmu, Gumi." Balasku.
"Aku juga, akan mendukungmu. Semoga berhasil kalian berdua, Miku, Len!" Gumiya pun juga ikut mendukung kami. "Terima kasih juga, Gumiya." balasku.
"Baiklah, inilah akhir dari pertemuan, Pangeran Rinto dan Putri Lenka Olofsdotter." Ucap ayahku dengan membungkuk sopannya. Jadi, inikah rencana ayah? Bertanding hingga hanya satu orang yang bisa berdiri?
Aku pun merasakan hawa pembunuhku mulai mencium mangsa. Menarik sekali.
To Be Continued
A/N : Terima kasih atas reviewnya XD Gomen karena terlalu lama gara-gara Rika ditelan bumi (?) dan menghilang dari Fandom ini (_ _) Bagi yang sudah review, sudah Rika balas di PM masing-masing :)
Rika : minna, sampai ketemu lagi :D
Miku : Salam negi :D XD
