"Elsa, apakah menurutmu si Pangeran Damian menyukai rencana ini?" Anna memeluk manja kakaknya yang duduk di sampingnya itu. Seluruh jendela dan pintu kereta kuda itu tertutup, dan hanya ada mereka berdua di dalam.

"Tenangkan dirimu sedikit, Anna. Dia tak boleh curiga. Kejadian semalam itu... hampir saja.. Pokoknya dia harus kembali ke Holden, dengan gembira. Tanpa menyebarkan cerita macam-macam.. " Elsa menepis tangan adiknya yang mulai menjamah bagian penting di badannya. Namun Anna tak peduli. Jari-jarinya tetap menjelajahi tubuh kakaknya.

"Kau Cuma mau membuatnya tenang kan? Biar si Damian itu tidak pulang dengan ketakutan, karena kekuatanmu itu." Anna tertawa geli. "Pertanyaannya semalam itu.. ah, dia hanya mabuk. Kau tidak lihat bagaimana dia minum?"

Elsa mencubit pelan pipi sang adik. Ada perasaan geli bercampur jengkel. Tetapi Anna membalasnya dengan tatapan jenaka, dan ekspresi wajah menggemaskan.

"Tapi rencana ini luar biasa.. Adrias memang hebat. Aku sudah kehabisan akal untuk menyenangkan hati para pangeran, duke, dan pemimpin lainnya. Cuma... kenapa dia ingin aku membawa dirimu ke sini?" Ada sesuatu yang mengganjal hati Elsa. Namun dia sungkan untuk menyatakannya.

"Untuk...liburan?" Anna malah menjawab pertanyaan kakaknya, dengan pertanyaan lainnya. Elsa tertawa lepas. Adiknya memang selalu melontarkan kalimat-kalimat yang tak terduga. Salah hal yang membuat Elsa begitu bahagia bisa mengenal kembali Anna.

"Kau benar. Aku teralu menganggapnya serius. Bisa saja Adrias memang ingin kita bahagia. Setelah apa yang terjadi selama ini.."

"Ya, kan? Kau selalu mengkhawatirkan hal yang tak perlu. Kau harus santai sedikit.." nada bicara Anna terdengar menggoda, dan agak terasa seperti bercanda.

"Tentu saja semua hal harus kukhawatirkan." Jawab Elsa setengah tertawa. "Aku hampir tak percaya, selama berbulan-bulan ini, kita sudah mengelabui mereka. Aku selalu cemas rahasia ini akan terungkap.." Elsa agak bimbang dengan ucapannya sendiri. Sampai kapan semua ini akan berlangsung?

"Elsaa..." Anna memukul pelan lengan kakaknya itu. "Tidak mungkin ada yang tahu. Kita hidup di istana yang besar. Siapa sih yang akan curiga? Lagipula semuanya sudah kau atur dengan baik. Tidak akan ada yang tahu.."

Ratu Arendelle itu mengangkat bahunya. Kadang kala adiknya teralu menganggap ringan semua hal. Yah.. mungkin Anna hanya melihat sisi baik dari semua masalah. Sedangkan dirinya selalu melihat segala kemungkinan yang terburuk. Setidaknya Anna selalu membantunya untuk sedikit bersantai, dan menikmati waktu berharga mereka.

Yah.. waktu-waktu yang amat berharga. Sebelum semuanya akan berakhir. Elsa yakin. Semuanya akan selesai suatu saat nanti. Apa yang mereka berdua anggap suci, adalah hal kotor bagi semua orang. Tidak akan ada seorangpun yang mau mengerti penjelasan mereka, walaupun dirangkai dengan kalimat seindah apapun. Cinta mereka akan selalu salah.

"Ayolah Elsa... kau membuatku bingung. Jangan diam saja.." Anna menyadari perubahan pada diri kakaknya, yang juga kekasihnya. "Kita akan melalui semua ini... berdua. Kau dan aku.."

"Maaf. Aku hanya sedikit terhanyut.." Elsa buru-buru menarik keping salju yang mulai turun di dalam kereta mereka. Untunglah Anna tidak menyadarinya. "Ya..Pangeran Damian, atau siapapun tak mungkin curiga. Mungkin dia itu hanya mencemaskan mengenai urusan monarki. Tapi.. semua bisa kuatur.. Tenang saja.."

Elsa berbohong. Dia tidak mempunyai rencana gemilang apa-apa. Monarki Arendelle adalah salah satu permasalahan yang sangat menganggunya. Kerajaan ini tak memiliki pangeran. Yang tersisa hanyalah putri. Celakanya, putri satu-satunya itu malah jatuh cinta kepada kakaknya sendiri, yang adalah pemegang monarki. Elsa tertawa getir jika mengingatnya.

"Kau ini adalah ratu es dan salju. Siapa pula yang cukup bodoh untuk berurusan denganmu, Elsa?" kata Anna dengan mimik wajahnya yang lucu. Melihat adiknya itu, Elsa tak mampu menahan tawanya.

"Hmm.. coba kuingat-ingat.." Elsa pura-pura berpikir keras. "Ohh. Ada Pangeran Hans dari Kepulauan Selatan. Orang yang hampir kau nikahi, hanya karena dia menyukai sandwich.. Tapi kau malah memukul wajahnya, hingga hidungnya patah tak berbentuk, dan membuatnya tercebur dari atas kapal.."

Anna merenggut. Dia agak kesal jika Elsa mengingatkan kejadian itu. Tapi dia sangat senang saat Elsa menyebut 'aksi heroiknya', mematahkan hidung si brengsek berjambang konyol itu.

"Hei.. Elsa.." bisik Anna saat tawa kakaknya mulai mereda. Dia menatap mata lawan bicaranya dengan sungguh-sungguh. "Aku sangat senang kau sudah kembali.. Jangan pernah kau meninggalkan aku lagi.."

Elsa tersenyum, dan membalas tatapan orang yang paling dikasihinya itu "Aku tak akan pernah melakukannya, Anna. Selamanya, hanya kau dan aku.."