Mungkin pada satu titik orang terlalu menyukai Perbedaan. hetero menjadi bilik-bilik madu untuk mewujudkan kehidupan sosial yang abadi, dengan penuh cinta maka hidup antara lawan jenis akan saling bertautan. lelaki membutuhkan wanita, begitu juga sebaliknya. hukum ini sudah terlalu larut merekah dalam imajinasi yang menjadi kenyataan.
dongeng-dongen masa lalu selalu menunjukan kisah tragis mapun romantis dari sepasang kekasih berbeda gender. tidak ada kisah atau dongeng kanak-kanak yang mengisahkan seorang pangeran menikah dengan pangeran lainnya, atau seorang puri jatuh cinta dengan putri dari kerajaan sebrang.
selalu, selalu saja, antara pangeran tampan dan putri cantik dari negrei dongeng.
mungkin beberapa fundamentalis akan mengatakan bahwa ini adalah sebuah gerakan dengan dalih keyakinana masing-masing yang berujung pada konspirasi yang menyayat sebagain perasaan. tapi nyatanya refleksi dari semua ini adalah dimana ketika Kim Taehyung dan Kim Seok Jin menjadi mayoritas yang menutup mata pada perbedaan, karena gurat hati yang memancang dalam. pun begitu bagi Kim Namjoon. dan ketidaktahuan akan sesuatu telah membawa mereka untuk membuka pintu keseragaman.
Jika perasaannya diidentikan dengan pola yang seragam, bukan berarti Taehyung maupun Kim Namjoon dan Kim Seok Jin menolak perbedaan. mereka hanya terbelenggu dalam hasrat yang berbeda, perasaan yang berbeda.
mereka hanya jatuh cinta. kenapa harus membawa nama Tuhan untuk membenci mereka.
pernahkah Tuhan berkata langsung padamu? dari mata ke mata?
"jika satu kecupan akan membuatmu bahagia, aku akan memberi seribu kecupan untukmu setiap hari agar kau tak pernah bersedih sedetik pun" Jung Hoseok, diantara salju yang menutup kisah pagutan lembt kedua bibir mereka.
First Kiss, First Sick
Jung Hoseok
Kim Taehyung
Kim Seok Jin
Kim Namjoon
Park Jimin
Min Yoongi
Jung (Jeon) Jungkook
Sudah dua minggu sejak Kim Taehyung datang ke rumahnya dan menetap dikamar atas bersama kakaknya Jung Hoseok, yang justru semakin sibuk berada di gereja dengan alasan berdoa untuk keselamatan. bah, keselamatan apanya, yang Jungkook lihat kakaknya ini sedang menghindari sesuatu, Cuma yang Jungkook tidak tahu adalah apa yang sedang dihindari oleh kakaknya ini.
kenapa juga Jung Hoseok harus berdoa untuk keselamatan dunia, memang dia Presiden Obama?
Selebihnya tidak ada yang spesial, Kecuali acara natal lima hari lalu yang awalnya ceria berubah jadi sedingin es di kutub antartika. bukan. buka karena cuaca dingin Korea yang Mencapai titik terdingin saat natal, toh mau derajat mencapai minus pun rumah kediaman keluarga Jung akan tetap hangat karena pemanas ruangan yang distel terlalu tinggi, dan juga kepulan coklat panas yang setia mengisi cangkir-cangkir kecil di meja yang selalu diguyur oleh nyonya Jung dengan senyum teduh keibuannya.
selain itu senyuman Taehyung yang sudah hampir seminggu tidak nongol dibibir tipis nan menggoda milik Taehyung sejak dia menginjakan kakinya dirumah ini, yang nyatanya selalu dinantikan Jungkook, justru malah nongol tanpa tedeng aling-aling saat malam natal itu berkumandang,
ahhh, sekali lagi Jungkook salah sangka pada sang santa, jangan-jangan memang benar Taehyung adalah kadonya yang utama dikirim sang santa untuknya. rasanya malam itu hangat sekali, sampai tiba-tiba suara bel rumah itu berkumandang, dan menampilkan dua sosok pria muda dibaliknya.
untuk yang satunya Jungkook tahu, dia teman Hoseok Hyung, kalau tidak salah namanya Seok Jin. tapi yang satunya cukup asing untuk Jungkook, hingga orang itu mengenalkan diri sebagai Namjoon, kekasih Seok Jin yang juga merangkap sebagai Hyung Kim Taehyung.
heeeks, detik itu juga rasanya Jungkook ingin membenturkan kepalanya. kenapa seoarang pria bisa dengan senyum bahagianya mengenalkan lelaki lainnya sebagai kekasihnya? bukankah itu aneh dan tidak normal, bagaimana kau bisa berkencan, berpegangan tangan, berciuman dan melakukan hal-hal lainnya dengan seorang lelaki lainnya. itulah yang bermunculan dipikiran Jungkook saat itu
hey, kau lupa nak, kalau kau juga sedang menggalau dan bergemuruh hatinya oleh seorang pria yang kini duduk disampingmu.
terserah. kita lupakan rasa aneh yang muncul dalam pikiran Jungkook, mari kita simpulkan saja kalau dia masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal tak kasat mata mengenai lumrahnya jatuh cinta.
detik itu juga suasana berubah dingin, senyum ceria tanpa unsur paksaan dari wajah Kim Taehyung menghilang sudah, kedua tetua Jung pun sama-sama kebingungan dengan suasana yang tiba-tiba berubah mencekam dirumahnya disaat malam natal yang setiap tahun selalu berawal ceria dan tentu akan berakhir ceria juga.
tidak ada yang berbica, semuanya terlalu sepi saat itu, Jungkook sampai berpikir bahwa rumahnya sudah seperti area pemakaman umum dengan enam batu nisan yang tidak saling berbicara.
loh, hanya enam? bukankah harusnya ada Tujuh. oh kita lupa pada eksistensi Seorang Jung Hoseok.
Saat itu masih pukul tujuh malam, Hoseok masih setia sebagai calon pendeta muda yang membantu memberikan pemberkatan kedua di gereja, jadi yah, dia absen hadir hingga jam delapan nanti. dan terkutuklah, karena tanpa eksistensi Jung Hoseok maka kehadiran Kim Seok Jin beserta pacar prianya seperti bom waktu yang siap meledak kapan pun dari tempat duduk samping Jungkook, yang saat ini sedang bergerak gelisah, dengan mata bergerak kesana kemari, tampak cemas dan terlihat seolah tertekan, yah, Jungkook melihat Kim Taehyung seolah hampir meledak ditempat duduknya.
Jungkook tidak tahu caranya menenangkan orang yang tiba-tiba terserang kecemasan di malam natal, ibunya dan ayahnya masih asik memberondong Seok Jin dengan kekasih prianya yang tadi katanya bernama Namjoon itu dengan berbagai pertanyaan dari yang masuk akal seperti dimana Namjoon dan Seok Jin tinggal dan bekerja hingga yang paling Tidak ingin Jungkook dengar. seperti.
"Namjoon-ssi, jika kalian menikah nanti, bagaimana dengan keturunan" dan kurang ajarnya, si Kim Namjoon ini, yang diketahui oleh Jungkook memliki warna rambut diluar nalar seorang pria. Ya Tuhan bagaimana bisa seoarang Pria dengan wajah gangster Kim Namjoon itu mengecat rambutnya dengan serpihan-serpihan warna pink dikedua sisinya, sedangkan yang lainnya berwarna blonde. Jungkook masih tak habis pikir saja dengan pola hidup seperti itu. bagaimana bisa Hyung ku yang alim dan taat beribadah ini memiliki teman-teman yang sudah bisa dipastikan akan terjun ke neraka? mungkin itu yang muncul dipikiran Jungkook, lagi-lagi.
Namjoon bisa saja menjawab pertanyaan orangtua Jungkook. dengan bahagia dan sempurna.
"tentu. itu mudah. kami akan punya empat orang anak. semuanya akan kami adopsi" Jungkook menganga. disampingnya Taehyung tampak berjengit. pandangnnya seketika tampak kosong. senyumnya muncul, tapi tampak getir dan perih. bukan senyum hangat bahagia yang tadi Jungkook puja-puja. yang ini rasanya, pahit?
"lalu, kapan kalian akan menikah?" yang ini munculnya bukan dari mulut ibu atau ayah jungkook. tapi dari balik bibir tipis Kim Taehyung. Jungkook melihatnya. ada semburat rasa sedih, perih dan takut? seperti takut dilupakan mungkin. yang nyatanya pertanyaan tersebut menimbulkan atensi tak terduga dari Kim Seok Jin yang sedari tadi hanya mengangguk menanggapi semua pertanyaan dan jawaban antara tetua Jung dengan kekasihnya Kim Namjoon.
"Tae kau tidak usah khawatir, Hyung akan bersama mu kapan pun" nyatanya jawaban tersebut yang muncul dari bibir Kim Seok Jin.
"tenang saja Hyung. kau tidak usah khawatir. kau berhak bahagia. toh aku juga suda pernah ditinggal. kau tidak usah berpura-pura lagi peduli pada ku. rasanya sakit jika diberi kasih sayang palsu" seketika suasana semakin mencekam. sepi. semuanya tanpa suara. rumah keluarga Jung rasanya mencapai titik terdingin saat ini. diluar butir-butir salju tampak turun dari langit. suara langkah manusia dan cekikikan pasangan yang berjalan kaki merayakan natal dalam romantisme cinta nyatanya tak mencairkan kebekuan yang terjadi di dalam rumah keluarga Jung.
Seok Jin tampak diam. bibirnya kelu, tak ada satu kata atau kalimat pun yang bisa keluar dari mulutnya. nyonya Jung tampak hampir menitikan air matanya, tuan Jung sendiri tampak bingung dengan suasana yang berubah mencekam. Namjoon disisi Seok Jin tampak menenangkannya dengan mengelus lembut punggunya.
dan Jungkook, yang dia sadari setelahnya, tangannya sudah beralih kebahu Kim Taehyung yang kini berdiri disampingnya, yang hampir pergi ke lantai atas, menariknya pelan, memindahkan tubuh ringkih itu kedalam pelukannya. menyenderkan kepala Taehyung pelan pada bahunya. mengusap lembut kepalanya.
yang Jungkook baru tahu ternyata Kim Taehyung itu tidak lebih tinggi dari dirinya. dan setelah itu Jungkook menyesal karena detak jantungnya berakhir meluncurkan ritme tidak normal dibalik dada sebelah kirinya.
saat Jungkook sibuk mengatur detak jantungnya dan berusaha menenangkan Taehyung yang kini telah membasahi bahu Jungkook dengan air matanya, pintu depan rumahnya terbuka, dan menampilkan seorang pria dengan senyum terlalu ceria. berteriak keras dengan nada paling bahagia.
"haay, pendeta tampan pulang, apakah coklat panas dan kue macaronnya masih disisakan untuku? - oh kenapa suasana disini jadi mengerikan?"
dan detik itu juga Taehyung melepaskan pelukan Jungkook darinya dan kemudian berlari ke arah tangga, setelah sebelumnya berteriak ke arah Hoseok
"aku tidak memeluknya dengan sengaja. Kau. jangan salah sangka" entah kenapa, rasanya sakit. entah itu karena benturan akibat dorongan keras yang dilakukan Taehyung, yang yaah sebenarnya tidak terlalu keras juga, atau kata-katanya yang terdengar seperti pelukan yang mereka barusan lakukan adalah hal terakhir yang akan dilakukan Taehyung yang dengan kata lain, Taehyung tidak terlalu menginginkannya. yah bisa dipastikan Jungkook benar-benar tidak tahu jawabannya.
Hoseok sebenarnya saat malam natal itu benar-benar sudah merindukan rumah. dia juga tidak ingin berlama-lama mendekam di altar gereja, mendengarkan puja-puji sang pastur memang membuatnya bahagia, tapi di rumah ada yang lebih membuatnya bahagia.
Kim Taehyung, apa kabarnya yah sekarang?
lagi-lagi sikunya disenggol oleh pastur muda lain yang menyadari senyum merekah tiba-tiba dari seoarang Jung Hoseok, padahal kan acara pemberkatan sedang dalam fase hening, damai dan mode khidmat-khidmatnya, maka senyuman merekah seperti bunga matahari yang Jung Hoseok keluarkan tiba-tiba itu benar-benar bukan sesuatu yang dibutuhkan gereja untuk menjadi pendamping misa tahunan kali ini.
"Jangan tersenyum selebar itu, Jung." Chanyeol disampingnya, yang juga sedang belajar jadi pastor muda menyenggol kembali siku Hoseok entah untuk yang keberapa kalinya.
hingga jam delapan tepat, acara pemberkataan dan Misa terseut berakhir, degan pamitan yang cenderung tergesa-gesa itu Hoseok akhirnya pulang setelah sebelumnya kupingnya dijejali ocehan absurd nan kurang ajar dari pemuda tinggi yang dari tadi sibuk menyenggol sikunya. Park Chanyeol
"aku tahu, kau jatuh cinta. memang se-sexy dan secantik apa wanita itu. jangan lupa kenalkan padaku si sexy itu" rasanya Hoseok ingin menendang Park Chanyeol detik itu juga.
setelah keluar dari gereja, dengan diiringi senyum teduh dari pastor utama dan senyum mesum kurang ajar park chanyeol Hoseok bergegas berjalan melewati beberapa pasangan yang asik bergandengan tangan ditengah dinginnya malm natal yang bersalju. jarak gereja dan rumahnya cukup dekat, jadi Hoseok memtuskan berjalan kaki saja. memikirkan betapa ramainya rumahnya saat ini kembali membuat senyumnya bertengger manis dibibirnya. Hoseok bahagia, setiap natal rmahnya terasa berkali lipat lebih hangat.
apalagi ada Taehyung sekarang, aaah Hoseok jadi tersipu sendiri memikirkannya.
yah, sejatinya dia belum sadar, kenapa hanya memikirkan Taehyung dia bisa se-tersipu itu.
setiba didepan rumahnya Hoseok tergelak lantaran tidak terdengarnya suara cekikina atau tawa bahagia, bahkan suara samarsamar orang mengobrol pun tidak Hoseok dengar sama sekali.
bergegas menuju pintu, Hoseok dengan cekatan membuka memutar kenop pintu, membukanya, berteriak kencang tentang kue macaroon dan coklat panas, dan gezzzz, pandangannya sakit seketika. mengerikan rasanya yang didepan itu sangat mengerikan.
pemandangan Jungkook yang memeluk Taehyung rapat-rapat, adalah alasan kenapa Hoseok berteriak mengerikan diakhir kalimatnya.
Itu sudah terjadi lima hari lalu. tapi sepemahaman Jungkook setelah tragedi natal yang baru pertama kali terjadi itu rasanya canggung. Sudah dia bilang dari awal kan. kalau Jung Hoseok itu lebih sering menghabiskan waktu di gereja. Berangkat pagi-pagi sekali. pulang sangat larut. jadi rasanya jarang Jungkook ada kesempatan untu berbincang dengan Hyung-nya itu. padahal dulu Hyungnya rajin sekali mengantarnya ke sekolah, berbicara tentang berbagai hal, bercanda dan bahkan makan es krim berdua di kedai es krim dekat sekolah Jungkook
dan Taehyung, duh, sunbae cantik itu, rasanya makin sulit digapai. Taehyung hanya akan keluar untuk sarapan dan makan malam. biasanya dia lebih senang melewatkan makan siang. mengurung diri di kamar. tidak keluar sama sekali. kamarnya pun senantiasa terkunci. rapat sekali, sampai-sampai Jungkook tak bisa mengintipnya ke dalam.
Padahalkan dulu kamar ini selalu terbuka, Hoseok sama saja, tidak bisa memberi pencerahan apaun pada Jungkook. dua orang penghuni kamar tersebut, rasanya makin jauh dari Jungkook.
Jungkook sebenarnya gemas sekali, kenapa auranya jadi tidak nyaman begini. apakah karena insiden pelukan itu? atau hal lainnya. maka setelah pulang sekolah kali ini, Jungkook memtuskan untuk menyusul Hoseok ke gereja, dia benar-benar butuh penjelasan.
"Hyung" Jungkook berbisik disamping Hoseok yang sedang sibuk menempelkan kedua tangannya di depan wajahnya, matanya terpejam, tanda bahwa dia sedang khusuk berdoa. sama sekali tidak menggubris bisikan yang dilontrakan Jungkook barusan.
"Hyung" sekali lagi Jungkook berbisik, mencoba meraih atensi Hyungnya yang sedang asik bergumul dengan Tuhan dalam doa-doa-nya.
kali ini Jungkook mendapat respon, tapi hanya lambaian tangan yang menandakan Jungkook untuk diam. tentu saja Jungkook kesal, dia sudah melewatkan les pianonya hanya untuk menemui Hoseok yang sibuknya melebihi jadwal Presiden Amerika Serikat, tapi nyatanya Jung Hoseok itu hanya sibuk mengatupkan kedua tangannya dan kedua matanya terpejam dibawah patung yesus yang telanang.
duh, Jungkook tidak kah kamu tahu, menghina yesus itu dosa besar nak.
buru-buru Jungkook memohon pengampunan karena sudah menggerutu pada yesus. dia juga buru-buru membuat tanda salib di dahi, mulut dan dadanya beberap kali agar permohonan maafnya terkabul. dia takut kalau yesus marah padanya, maka Yesus akan bermain-main dengan nilai sekolahnya yang sudah bagus-bagus itu.
see, Jungkook memang masih terlalu kekanak-kanakan
akhirnya setelah kurang lebih lima belas menit yang panjang. Hoseok mengakhiri doa-nya dengan tanda salib yang dia buat di dahi, mulut dan dadanya. kemudian atensinya pun beralih pada Jungkook yang masih setia duduk menunggu disampingnya.
"kenapa kau kemari, bukankah hari ini kau ada jadwal les piano?" belum apa-apa Jungkook sudah diingatkan dengan jadwal hariannya. aah Jung Hoseok tidak tahukah kau bahwa alasan Jungkook membolos dari les piano yang sudah menjadi kebahagiaanya itu karenamu, karea untuk menemui mu.
"Hyung, kenapa kau sulit sekali ditemui?" Jungkook langsung saja pada intinya. dia tidak suka berbasa-basi, bukan gayanya yang berbelit-belit saat berbincang dengan Hoseok, mereka ini sudah hidup bersama dari mulai lahir, jadi kenapa harus bersikap seperti orang lain ketika memulai suatu pembicaraan.
dilain sisi Hoseok mendesah, karboon dioksida yang dia keluarkan cukup banyak dari kadar yang seharusnya dikeluarkan, duh kalau begini terus bisa-bisa global warming semakin tinggi. sangat paham apa yang hendak diungkapkan Jungkook, kemana arah pembicaraan mereka tertuju.
"aku merindukan mu Hyung, kau ada tapi rasanya kau jauh sekali. sadarkah kau bahkan obrolan terahir kita itu tiga hari lalu saat aku menanyakan album Troye Sivan yang kau pinjam bulan lalu dan lupa kau kembalikan" diakhir kalimatnya Jungkook sedikit tersenyum, mengingat betapa lancangnya Hoseok yang seenaknya tidak mengembalikan album kesayangaanya itu.
"aaah, benarkah?" Hoseok menggesar duduknya kali ini dia duduk tegap menghadap ke depan, memandang patung setengah telanjang yang sedang merentangkan tangannya, Yesus yang disalib tentu saja.
"maaf aku terlalu fokus dengan masalahku, hingga aku tidak memperhatikanmu Jungkook-ah" nada bicara Hoseok seperti menyesal, ada gurat sedih diambang sana, entahlah Jungkook tidak tahu penyebab apa pastinya.
"kau lelah Hyung?" Jungkook ikut-ikutan menggeser duduknya, sebenarnya dia tidak terlalu paham dan mengerti kenapa pertanyaan tersebut keluar dari bibir mungilnya, dia hanya melihat akhir-akhir ini Hyungnya sedang berusaha melaukan penolakan terhadap sesuatu. awalnya dia berpikir Hoseok sedang menghindarinya tapi sepertinya tidak
"entahlah, aku rasanya sulit menghilangkan bau-bau itu, aku membencinya tapi aku juga menikmatinya. rasanya aku akan melakukan kesalahan jika aku terus-terusan diam disana. aku tidak tahu, hanya saja semakin aku mencoba mengelak, semakin aku sadar kalau aku sudah tenggelam" Hoseok berbicara tanpa sedikit pun menolehkan pandangannya pada Jungkook.
"Tuhan akan benar-benar membenciku, kau tahu. itu kesalahan, dan itu sangat mengerikan sekaligus menjijikan" lanjut Hoseok, dia menenggelamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya, mengusapnya dengan kasar. batinnya sudah bergelut dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang dia benci, tapi dilain sisi dia terlalu menikmati.
"mungkin yang kau perlukan hanya menerima semuanya hyung, toh Tuhan itu pemaaf bukan" Jungkok mengusap punggung Hoseok yang kini sedang menunduk, terlihat sangat tersiksa dengan konflik batin yag sedang dialami. Jungkook sebenarnya tidak tahu masalah pelik apa yang sedang menimpa kakaknya satu-satunya tersebut.
dia juga tidak terlalu mengandai-andai masalah jeis apa yang bisa membuat Hoseok melarikan diri ke gerja selam 24/7. yang dia tahu, dia hanya perlu mendukung kakaknya, menjadi senderan kakaknya, dan selalu ada disamping kakaknya.
"aku akan selalu mendukungmu Hyung, tenang saja. apapun itu. kau tahu kan, Jungkook ini akan selalu berada disamping Hoseok, bukan disebrangnya dan menentangnya" Hoseok tersenyum memandang adiknya yang kini merentangkan tangannya, mempersilahkan Hosoek untuk meraih kedelam pelukannya.
ah, jika tahu dari kemarin, mungkin Jungkook akan menggedor kamar Hoseok dan menariknya keluar, meskipun itu tengah malam.
Hoseok disisi lain, merasa bersalah karena sempat merasa...entahlah, cemburu mungkin. sat melihat pelukan erta yang diberikan Jungkook pada sosok ringih itu saat malam natal kemarin.
Taehyung sedang memainkan tuts-tust piano kecil yang ada disudut kamar-nya, yah, sebenarnya itu kamar Jung Hoseok, Taehyung-kan hanya menumpang hingga februari mendatang. omong-omong ini sudah minggu pertama Januari, malam tahun barunya kemarin dia hanya lewatkan didalam kamar, menonton pertunjukan kembang api diparis yang selalu meriah dibalik layar samartphonenya.
dia sudah menolak ajakan manis adik Jung Hosoek yang mengajaknya menikmati perayaan tahun baru di taman kota. bukan apa-apa Taehyung hanya tidak terlalu ingin berurusan terlalu jauh dengan keluarga Jung, apalagi Jungkook itu, apa-apaan anak itu yang sudah berani memeluknya dihadapan semua orang. terlebih dihadapan Jung Hoseok.
Jung Hoseok
Jung Hoseok
Jung Hoseok.
ngomong-ngomong, sudah seminggu Taehyung tidak berbincang-bincang mengenai apapun dengan Hyung itu. yah, si Jung – keparat - Hoseok itu memakasa Taehyung untuk memanggilnya Hyung jika dia ingin diberi tempat berteduh dan bernaung dirumahnya secara gratis selama satu bulan. jadi dengan rasa ketidak-adilan dari perspektif seorang Kim Taehyung dan rasa malas serta ditambah lidah kelu luar biasa, ketidak iklasan memanggil Jung Hosoek dengan embel-embel Hyung memang terlalu melegenda dalam otak kosong yang dimiliki Kim Taehyung.
tolong dicatat, Kim Taehyung itu orang yang sngat baik luar biasa, sebelum berbagai drama memabukan nan penuh opera dalam hidupnya bermunculan, dia adalah bingkisan terbahagia dan terceria yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia.
cih, apa-apaan dengan Tuhan. masa bodoh. aku bersumpah akan menghancurkan semua gereja di kota ini dengan tanganku sendiri.
Taehyung bergumam dalam hatinya.
Taehyung kembali menekan-nekan tuts piano. dia sedang menimbang-nimbang deretan htam putih tersebut, jumlahnya ada tiga puluh dua, dia bisa memulainya dari F minus, lalu ke C, atau bahkan dia bisa memutarnya. yah ini hanya piano biasa dengan jumlah 32 tuts, bukan grand piano yang selalu dimainkan ibunya dirumah dulu, saat-saat terbahagia taehyung, bernyanyi bersama, saat berkumpul, ayahnya, ibunya, dan, Seok Jin hyung.
Taehyung lemas, pandangnnya mengabur, dadanya sakit seketika, dia rindu keluarganya yang dulu, saat penyakit sialan ini belum muncul dalam dirinya, keluarganya adalah potret paling bahagia di dunia.
nilai sempurna yang selalu dia tunjukan pada orangtuanya, senyum bangga dan bahagia kedua orangtuanya atas setiap prestasi yang dia berikan, dan pelukan sayang nan lembut Seok Jin hyung.
"kenapa aku menghancurkan semuanya" kalimat itu lirih terucap dari mulutnya. sesak, dadanya sesak, air mata sudah berpuluh saling bergulir menjatuhi pahanya yang kini terduduk dengan bersilang kaki, Taehyung lelah, dia benar-benar lelah.
dia rindu, dia rindu hidupnya yang dulu. sebelum semua kegilaan yang menghancurkan batinnya bermuculan.
"ini semua memang salahku, maafkan aku" Taehyung masih lirih dalam tangis sendiriannya. dia lelah dengan semua beban dan rasa bersalah yang dia tanggung.
seketika bayangan itu muncul kembali dalam ingatannya. seperti potret-potret usang yang mengerikan yang selalu ingin dihapusnya dari ingatan. Taehyung meraung kesakitan. ingatan itu begitu mengerikan sekaligus menyakiti batinnya. bayangan keji yang dilakukan Ibunya dihadapannya bermunculan kembali setelah hampir genap dua bulan Taehyung mencoba menghapusnya dari ingatannya.
samar-samar bayangan mengabur itu menjadi potret video yang semakin jelas gambarnya. bayangan cabikan keras ibunya terhadap perut ayahnya, jerit kesakitan sang ayah bisa Taehyung dengar dengan jelas. perih, rasanya perih. merah dimana-mana. darah ayahnya membanjir di lantai dapur rumahnya. Taehyung bergeer kesudut. menjerit-jerit kesakitan. matanya sakit, kepalanya pening rasanya bumi berutar begitu saja.
kejadian itu lagi-lagi terjadi disini. dikamar Jung Hoseok. bayangan yang Ibunya lagi-lagi membombardir ayahnya dengan piasu dapur, berkali-kali hingga darah muncrat dimana-mana.
"aaah, Tolong jangan...aaaah Ibu kenapa kau lakukan itu...tidak jangan bunuh jangan bunuh" Taehyung menjerit, tubuhnya sudah sukses merosot dan berkelut di susut kamar, keringat mengucur deras dari semua lipatan tubuhnya, kulitnya luar biasa pucat. Taehyung tidak tahan. bayangan pembunuhan keji terhadap ayahnya yang dilakukan oleh ibunya sendiri tepat didepan matanya kembali bergelut, kejadian itu bagai nyata kembali terjadi dikamarnya, dikamar Jung Hoseok.
"aku tidak bisa, kumohon, hentikan...hentikan..hent..tik..an" suara Taehyung, jeritannya semakin keras, terbata dengan dada yang sesak, dia butuh oksigen, kamar ini rasanya terlalu pengap. sakit, seluruh tubuhnya nyeri entah bagaimana. dia ingin menangis, rasa sakit ini bukan berasal dari tubuhnya, dia tidak tahu, sakit yang ini berbeda, sesak yang ini berbeda.
"Ibu kumohon hentikaaaan.." lagi taehyung menjerit tangannya menarik-narik rambutnya, dia ingin merontokan semua rambut yang tumbuh dikepalanya, mungkin ini bisa meredakan rasa sakitnya yang semakin menjalar. tolong Taehyung sudah tidak tahan.
air matanya sudah megalir entah membanjir sampai kemana, suaranya habis dipakai menjerit, terlalu menyakitkan. dia bahkan sudah tidak bisa bernafas. dia akan mati, sekarang. mati. keringatnya deras mengucur, air matanya tumpah-tumpah dan lolos membanjir kemana saja, tapi badanya menggigil, dia ketakutan, kedinginnan, sakit, Taehyung kesakitan, semua ingatan itu rasanya membunuh dia secara perlahan, atau justru menguburnya dalam rasa sakit paling murni yang selalu dia benci. menutup matanya perlahan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dia mendengar seseorang memanggil namanya, lembut, tapi ada kisaran panik disana
"Taehyung, jangan tutup matamu, sadarlah, Hyung disini" siapa? apa itu Seok Jin hyung.
"Taehyung, kau harus tetap terjaga. dokter akan datang" suara itu terdengar panik, masih sayup-sayup terdengar ditelinga Taehyung. kenapa Seok Jin Hyung datang? kenapa dia harus melihatku seperti ini. lagi. Taehyung semakin meronta. dia menutup matanya rapat-rapat. dia tidak ingin bertemu pandang dengan mata Kim Seok Jin.
"Tae, buka matamu" Taehyung lelah, suaru itu memaksanya membuka rongga matanya. dia sama egoisnya. dia tidak bisa, dengan segala pertahanannya yang hanya tinggal seperempat itu dia bertahan. dia tidak ingin melihat, sekali lagi melihat tatap kecewa Hyungnya. nafasnya habis. Taehyung mulai berpikir, dia akan mati detik itu juga, dihapadan Hyungnya, hal terakhir yang dia harapkan, mati didepan Hyungnya. Kembali menyakiti Hyungnya. terlihat lemah didepan Hyungnya
"Tae, bernafaslah. jangan berhenti bernafas, aku mohon, aku akan membatu mu" seketika itu suara lelah bercampur panik menghilang dari pendengarannya. suara panggilan itu hilang dari telinga Taehyung yang kini justru digantikan oleh tekanan lembut pada bibirnya. pelan sangat pelan, perlahan tekana lembut itu menarik bibir Taehyung, memaksanya membuka kedua rongga mulutnya perlahan, tekanan lembut yang menyapu pada kedua belah garis bibirnya, mendorong masuk oksigen melalui kedua mulutnya, menyalurkan sedikit nafas kehidupan. berbagi antar mulut ke mulut. Taehyung bergeming diantara rasa lelah dan sakitnya. nafasnya mengendur, rasa sesaknya hilang digantikan dengan rasa hangat yang menjalari dadanya. nafas ini memberi candu yang tak bertuan. rasa manis yang berebeda dengan glukosa biasa. tidak semu tapi juga tidak nyata.
Taehyung tidak tahu namanya, tapi dia tidak ingin melepas kuluman dari bibir orang yang sedang memagut miliknya. ini bukan sekadar pertolongan secara fisik, atau pun banjir rasa dari sekadar penyaluran dari hati ke hati. kehangatan ini, rasa manis ini benar-benar tanpa nama. Taehyung sadar ini memalukan, tapi ini sayangnya diantara ringkas paksa pemikirannya, hal ini pun justru terlalu hina untuk ditolak, maka dengan kurang ajarnya, bibir Taehyung yang sedari tadi setia hanya menerima, kini berbalik memberi. dengan atau tanpa sadar dengan liar Taehyung mulai memagut bibir yang entah milik siapa masih bertengger hangat dimulutnya.
si pemilik bibir disebrang sana tidak kuasa menahan dorongan hasrat yang disalurkan pria lemas dihadapnya, bibirnya dengan serta merta dipagut secara paksa, yang semula hanya berupa dorongan memberi sedikit nafas, justru berubah jadi saling pagut tak berarah. dia tidak kuasa menolak, ini terlalu memabukan dari sekadar aroma vanila dan macadamia yang selalu menggerogoti mimpinya, membawanya dalam doa-doa tak terjawab atas perasaan campur aduk dihatinya.
bibir ini yang sekarang sedang dikulumnya lebih memabukan dari aroma tak kasat mata yang menyiksa batinnya. dengan langkah pasti, dia pun memagut kembali bibir si pria lebih muda yang sudah memberi akses dengan tanpa aba-aba, mendorong lidahnya untuk betukar posisi. entah apa, tak ada yang tahu. dia hanya percaya Tuhan akan memafakan dan menerima pilihannya. dia yang semula menolong maah terjerat dalam kungkungan kenikmatan yang disalurkan dari bibir gemuk Taehyung yang selalu hadir dalam mimpinya.
bibir ini terlalu manis untuk ditolak, terlalu ringkih untuk dikecap. tak ada penolakan dari kedua sisi. yang lebih muda menikmati, sedangkan yang lebih tua meresapi.
disatu sisi, Taehyung tahu, tak ada dokter yang mampu menyembuhkan rasa sakitnya secepat ini. setelah matanya terbuka dia sadar yang dihadapnnya bukanlah sosok Seok Jin atau Park Jimin dokter yang sudah dia berikan kecupan pertamanya, sedangkan ciuman lembut yang basah ini telah dia antarkan, atau bisa jadi direnggut secara paksa oleh sosok didepannya yang masih memandangnya dengan tatapan tak percaya.
Jung Hoseok telah menciumnya secara basah dan brutal.
Yoongi sadar, akhir-akhir ini dirinya lebih mirip manekuin dari pada seorang perempuan yang dicintai. Jimin mungkin sedang teralu lelah dengan semua kisah dan pola hidupnya yang tidak biasa, sebagai seorang dokter yang bisa dibilang sudah cukup sukses diusia muda, Jimin selalu sibuk dengan pekerjaanya, tekanan kerja dan tekanan hidup yang saling berbending lurus, semakin membuat hubungannya, entah kenapa terasa semakin, merenggang.
sejak adik Seok Jin Oppa dibawa oleh Hoseok ke rumahnya, Yoongi maupun Jimin sama sekali tdak pernah berhubungan lagi dengan Taehyung. pernah sesekali Yoongi menanyakan kabar Taehyung kepada Hoseok melalui pesan singkat di Handphone-nya, tapi balasannya Hoseok selalu sama.
'tenang saja, Tae baik-baik saja' Yoongi senang. tentu saja, mendengar anak itu baik-baik saja tentu saja dia senang, tapi entah mengapa rasanya berbeda, kabar ini terasa datar, pesan yang dikirimkan Hoseok seolah tanpa nada, tanpa nyawa, tidak ada gurat emosi yang meletup ataupun lemah. jadi inti dari semeua ini yang Yoongi sadari justru dia sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Taehyung yang sesungguhnya.
bertanya pada Jimin tentu saja bukan solusi yang baik, setiap kali bertemu dan setiap kali Yoongi mulai membawa topik tentang Taehyung, raut muka Jimin berubah, emosinya berubah, seolah membicarakan anak itu dengannya adalah pilihan terakhir yang akan dia lakukan di dunia ini bersama Yoongi.
dalam garis pikir seorang Min Yoongi yang sederhana, hal ini terjadi karena Jimin masih memendam rasa kesal tentang perasaan dan perilaku Taehyung yang menyimpang terhadapnya.
tapi dari perspektif Min Yoongi yang seorang perempuan, hal ini justru tidak sesederhana itu, hal ini lebih dari pada rasa kesal dan benci tak berujung. Yoongi menangkap lebih dari itu, Jimin berubah, dia tidak sehangat dulu, kerlingan matanya, tatapannya, bahkan sentuhan lembutnya pun berubah. Yoongi tidak ingin percaya pada instingnya sebagai perempuan. tapi lama-kelamaan perasaan itu semakin membuncah, membentuk sebongkah es yang siap membentuk karang
Yoongi tidak ingin percaya dengan insting perempuannya, dia hanya ingin berpegang teguh pada pola pikir Min Yoongi yang selalu sederhana.
"Jimin-ah, apa kau mau mengunjungi Taehyung ke rumahnya Hoseok hari ini? sejujurnya aku tahu alamatnya, ahjuma Jung juga mengundangku untuk berkunjung" Yoongi tersenyum diakhiri kalimatnya, dihadapannya Jimin masih menunduk, mengaduk krim soup kental yang bahakn tak sesuapun masuk kedalam mulutnya.
"Jimin-ah, kau mendengarku?" karena tak ada respon, Yoongi memutuskan untuk mengulang pertanyaan.
"Noona, bisakah kau tidak membahas dua orang itu saat ini. kepala ku sakit mendengarnya" gertakan pelan yang diucapkan Jimin yang ini menuntun yoongi pada pola pemikiran kedua, bahwa, instingnya sebagai seorang perempuan mungkin adalah yang paling dia benci untuk dia percaya, tapi kenyataanya sikap Jimin yang sekarang malah membuatnya yakin, jika saat ini
Park Jimin, tunangnya sejak tiga tahun lalu, sedang cemburu pada Jung Hoseok yang mengambil Taehyung dari sisinya.
Jungkook tidak pernah sebingung ini. pilihannya untuk berlari keluar rumah dengan hanya menggunakan kaus tipis dengan lengen pendek dan celana Jeans sederhana serta sandal rumah berpola beruang warna hitam. waaw sungguh imut bukan. anehnya tidak membuat dia menggigil diantara minusnya suhu udara musim dingin Korea Selatan. dia berlari dengan tujuan yang pikirannya pun belum tahu akan menuju kemana, dia hanya mengikuti kakinya yang dibalut dengan sendal rumah motif beruangnya yang imut, miris, Jungkook masih tetap imut diantara kegalauan hatinya yang meradang hingga ketitik paling nyeri.
Jungkook rasa, jika dia bisa melihatnya, bagian di organ dalam tubuhnya saat ini sedang dalam keadaan berdarah-darah. anehnya, meskipun merasa sakit, air matanya tidak juga kunjung keluar.
rasanya Jungkook ingin menjerit. menjerit, memaki dan memuntahkan rasa yang entah kenapa justru membuatnya malah terbungkam saat menyaksikan dua manusia yang sangat dia cintai di dunia ini, yang keduanya menempati posisi sama dihatinya.
saling memagut, menyesap bibir masing-masing.
Jungkook muak, kenapa harus Jung Hoseok yang memagut bibir Kim Taehyung.
kenapa? kenapa mereka harus saling mengecap bibir masing-masing tanpa rasa bersalah bahkan terlihat terlalu menikmati.
Jungkook menggertakan rahangnya, setelah ini dia tidak tahu harus bagaimana. dia belum tahu kenapa rasanya sesakit ini. kecewakah dia karena kakaknya yang dia puja dengan segenap kewarasaanya justru sekarang malah memagut bibir seorang pria? atau justru yang menjadi alasannya adalah karena pria itu yang dipagut bibirnya.
Jungkook menunduk ditepi jalan, dia tidak merasa dingin, tapi nyatanya badannya yang tidak sejalan dengan pola pikira dan perasaanya. dia menggigil, dia memang tidak kedinginan tapi tubuhnya bergetar, langkah kakinya yang goyah menuntunya ke arah gereja. dia ingin berdoa dan memaki. dia ingin tahu kenapa Jung Hoseok mengambil bibir Taehyung. menenangkannya? hanya menenangkannya? dia juga ingin tahu kenapa dia bisa semarah ini.
dia hanya ingin tahu, kenapa bukan dia yang masuk duluan ke kamar itu saat mendengar suara teriakan dari arah kamar. apakah jika dia yang masuk lebih dulu, yang memagut bibir lembut Kim Taehyung saat ini adalah bibirnya?
Jungkook tidak tahu bahwa garis-garis Tuhan tidak akan pernah membantunya, Jungkook tidak pernah tahu bahwa Tuhan sekalipun tidak pernah berniat membantunya mengantarkan perasaanya pada Kim Taehyung.
kenapa bagian-bagian ini menjadi rumit. Jungkook tidak pernah paham dengan gurat perasaan yang memancang di dalam dadanya. Jungkook selalu percaya dengan konsep orang pertama. karena dari segi manapun dia adalah orang pertama terhadap Taehyung.
di dunia ini, jika digariskan dengan benar, yang pertama mengetahui eksistensi hidup Kim Taehyung yang rupawan adalah diirnya, meskipun kenyataanya Taehyung tidak pernah peduli
di dunia ini yang pertama kali berucap rasa, bertegur sapa dengan suara merdu Kim Taehyung adalah dirinya, sayangnya Taehyung tak pernah berniat merekam dalam ingatnnya.
di dunia ini yang pertama kali saling peluk dan merasakan air mata hangat membanjir di bahunya, air mata milik Kim Taehyung adalah dirinya. tapi sayangnya Taehyung justru tak pernah menggubrisnya.
di dunia ini yang pertama kali jatuh cinta, ya Jungkook sadar, dia sudah jatuh cinta pada Taehyung, adalah dirinya yang menyedihkan, sayangnya dia bukan yang pertama bagi Taehyung, bahkan dia tak akan pernah memiliki urutan nama dalam garis zenit seorang Kim Taehyung. Taehyung bagi Jungkook adalah keselurahan dari seluruh bagaian hidupnya, sedangkan Jungkook bagi Taehyung bukan apa-apa.
dan di dunia ini, Jungkook lah yang pertama merasakan sakit, karena Kim Taehyung yang seperti Salaphiel dan bingkisan natal dari sang santa.
Jungkook terdiam di alatr gereja, dia tidak tahu akan mengadu apa pada sosok telanjang yang terlihat entah megapa sangat menyedihkan saat ini dimatanya. apakah dia harus memaki, memohon atau berdoa pada Yesus? Jungkook hanya terpaku, memnadang patung pria setengah telanjang dihadapannya. kemudian berbalik, berjaan keluar ke arah pintu gereja.
Orang bisa dengan mudah jatuh cinta, yang sulit adalah membuat orang yang kita cintai menjadi milik kita. Taehyung tahu itu, dan bahkan sudah jatuh terpuruk karena kikisan dan sakit hati dari hasil cinta kurang ajarnya yang menjadi legenda pada dokter tampan yang merawatnya, yang jelas-jelas jijik dengan perasaan cinta yang dia tumbuhkan padanya.
Jadi tanpa segan, pada satu titik Taehyung sudah memangkas pendek-pendek semua akar-akar cinta dalam dirinya. Dia sudah bersumpah untuk dirinya sendiri beserta semua kewarasaanya bahwa masih atau sudah mati pun Taehyung tidak akan pernah jatuh cinta lagi. catat. dia sudah berkoar-koar pada dunia dan sabda pada alam semesta seluruh jagad. bahwa jika dia Jatuh cinta maka karma perih akan berakhir menyatroni hidupnya kembali.
Jadi, ya begitu, Taehyung sudah enggan mencicip perih untuk yang entah keberapa kalinya, sehingga jalan paling aman adalah dia menghindar dan mengubur jauh rasa tak kasat mata yang sudah membuat dia berjuta ribu kali merana.
Jika ditanya, apakah Park Jimin masih menggentayangi detak jantungnya. Taehyung tidak ingin berkomentar. memilih menutup mulut dan pikirannya rapat-rapat.
TBC
akhirnya setelah kurang lebih sepeuluh hari, ini bisa aku update juga. maaf sekali sayang-sayangku. karena yaaah, banyak sekali tuntutan di usia dua puluhan yang harus kalian jalani. bukan berarti aku menempatkan Fanfic ini diurutan kesekian dalam hal-hal penting dalam hidup. aku sedang belajar banyak tentang berbagai pola hidup orang-orang disampingku. yang mengajarkanku banyak tentang arti Tuhan, hidup, bahkan cinta sesama jenis.
mari kita saling belajar untuk menghargai pilihan teman-teman kita jangan menyepelekan atau menganggap mereka berbeda. oh iya tidak ada kata-kata yang perlu aku jelaskan bukan di chapter ini? aaah benar bukankah tidak ada kata-kata yang mungkin perlu sedikit kamus pengertian? tidak ada? baiklah.
sekali lagi, terimakasih pada yang selalu mereview, rajin meneror di berbagai media sosial. yang aku balas maupun tidak aku balas, jelasnya aku cinta kalian. semoga kalian tidak bosan dengan cerita ku yang hmmm, ya begini adanya. aku merasa malu pada kalian yang menaruh harapan banyak, aku tidak bisa membuat tulisan yang seindah kalian kira. sungguh maafkan aku.
aku menunggu komentar pedas kalian yang selalu membuatku senyum-senyum sendiri dan membuatku terus berusaha menulis sebaik mungkin.
terimakasih
PS : Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana menggambarkan dua manusia yang saling berciuman. maafkan aku :)
