That Naughty Child Is Mine!
HunHan Fan Fiction
®Selulu7 Present®
Rate M
Cast ALL EXO Member #OT12 and Other
Fluffy Romance Drama Pedofil
Warning! This is Pedo and GS for some Uke or Bottom! Don't Like? Just Go Away!
Oh Sehun, pangeran tampan SM high school dengan terpaksa menerima keputusan sepihak orang tuanya yang terdengar gila dan tidak masuk akal. "But mom! Dia masih sangat kecil! Dan sedikit kurang waras!" -Sehun- "Kenapa Sehun oppa tampan sekali? Sangat cocok denganku yang juga cantik! Omo! Apa jangan-jangan kita berjodoh?" -Luhan- "Aku bukan pedofile yang menyukai anak kecil!" "Aku menyukai Sehun oppa karena dia tampan!"
Ø
Ø
Ø
Chapter 7
Lu~
Suara pria tersebut dapat ia dengar walau sudah terkesan lemah dan putus asa. Tatapan mata tersebut sama persis dengan tatapan pemuda yang dulu ia temui saat ia masih berusia lima tahun. Tatapan kagum, rindu dan juga penuh kelembutan.
"Aku merindukanmu Lu~"
Sehun terbatuk saat sampai pada ujung kalimatnya. Ia mengelap darah yang mengalir disudut bibirnya. Membuat Luhan tersadar dan segera berjongkok dihadapan Sehun.
"Menyebalkan! Harusnya kau tidak datang sekarang! Kalian cepat bantu aku!"
Luhan berteriak panik sambil membantu memapah tubuh Sehun. Wajah gadis tersebut tidak lagi terkesan dingin. Akan tetapi justru terlihat seperti sangat khawatir dan takut kehilangan. Menjadikan para pengawalnya segera membantu tubuh kecil Luhan membawa tubuh Sehun.
"Maafkan aku!"
Kalimat terakhir Sehun sebelum pria tersebut pingsan tepat dipelukan Luhan.
"Hey hey! Oh Sehun! Jangan mati! Jangan bercanda atau kau tahu sendiri akibatnya oppa!"
Panik Luhan saat merasakan tubuh Sehun terkulai lemas dipelukannya.
"Cepat bergerak sialan! Dan suruh jeongi eomma menemlfon dokter Baek!"
Dan seketika Jongkook langsung bergerak mencari keberadaan ibu Luhan dan memanggil dokter cantik dan salah satu orang kepercayaan keluarga Kim!
"Oh Sehun bangun kau!"
"Bangun atau aku membencimu!"
Dan air mata Luhan menetes deras karena merasa bersalah pada sosok tersebut.
~TNCIM~
Sosok mungil tersebut baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut panjangnya yang basah. Sebelah tangan ia gunakan untuk menggosokkan handuk ke rambutnya berusaha dengan begitu rambut indah tersebut akan mengering. Pandangannya ia arahkan pada sosok yang masih terbaring diranjangnya queen size miliknya. Sosok yang saat ini diwajahnya sudah terdapat lebam dan juga perban. Ia sedikit meringis mengingat sosok tersebut berjengkit dalam tidurnya saat dokter mengobati lukanya.
Lu~
Dan ini juga sudah untuk kesekian kali dalam dua jam ini pria diranjangnya itu menyebut namanya. Sebenarnya apa yang ia impikan hingga mengigau seperti itu. Membuat gadis mungil tersebut bergerak kearahnya. Meletakkan telapak tangannya dipipi pria tersebut. Dan hawa panas dari sang pemilik terasa hingga ketelapak tangannya. Membuatnya sedikit terkejut hingga terpekik kecil.
"Astaga, dokter itu bodoh atau bagaimana? Ck, pasiennya demam saja dia tidak tahu! Dasar tidak bisa diandalkan!"
Kesal sang gadis. Dengan segera gadis tersebut keluar dari kamarnya. Menyuruh pelayannya membawakan kantung es kekamarnya. Dan ia segera kembali kedalam untuk mengenakan piyama tidurnya.
Luhan-ah~
Suara lelaki tersebut kembali terdengar saat Luhan selesai mengenakan piyama hello kittynya. Tangan pria tersebut terangkat lemah keatas dengan matanya yang masih terpejam. Membuat Luhan menghela nafasnya berat dan melangkah ke arah pria tersebut. Menggenggam tangannya dengan lembut.
"Aku disini!"
Dan suara halus itu berhasil membuat kerutan di dahi pria tersebut hilang dengan perlahan. Membuat tangan mungil Luhan terulur menghapus keringatnya.
"Sehun oppa!"
Dan panggilan halus Luhan berhasil membuat Sehun tersenyum kecil dalam tidurnya. Hingga membuat Luhan ikut tersenyum tanpa sepengetahuannya. Dan tak lama seorang pelayan datang membawakan kantong es yang Luhan suruh. Dan Luhan dengan cekatan meletakkan kantong es tersebut dikening Sehun.
Cklek~
Hampir saja Luhan jatuh tertidur disamping Sehun apabila suara pintu kamarnya yang terbuka tidak segera menyadarkannya. Luhan melirik sosok yang tengah berdiri dipintu tersebut dengan matanya yang sayu karena menahan kantuk.
"Oh, ada apa eomma?"
Tanya Luhan saat melihat Seungjoong berjalan kearahnya. Mengusap surai halus Luhan dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kau lelah sayang? Mau tidur dengan eomma malam ini?"
Tanya Seungjoong pada sang putri. Bagaimanapun ia tidak rela membiarkan putrinya tidur satu ranjang dengan laki-laki ini. Entah kenapa Seungjoong tidak menyukai keberadaan laki-laki yang masih terbaring di ranjang itu saat melihat Luhan yang menangis khawatir sambil memapahnya tadi. Seungjoon memiliki firasat tidak baik dengan kehadiran laki-laki ini ditengah keluarga kecilnya.
"Tidak eomma, aku akan tidur disini saja! Lagi pula ia tanggung jawabku!"
Jawab Luhan dengan senyuman manisnya yang menggemaskan. Membuat secara reflek Seungjoong ikut tersenyum pada putri kecilnya.
"Baiklah sayang, tapi kau belum menjawab pertanyaan eomma! Siapa laki-laki tampan ini?"
"Dia Oh Sehun. Putra sahabat mommy dan daddy. Dia pria yang meninggalkanku di panggung tiga tahun lalu"
Luhan tersenyum kecut pada kalimat terakhirnya. Mengingat kembali kekecewaannya pada sosok yang tengah terbaring ini. Dan entah kenapa, rasa kepedulian yang tadi memupuk dihatinya kini kembali menguap karena mengingat bagaimana Sehun meninggalkannya begitu saja tanpa menghargai usaha dan kerja kerasnya sama sekali. Dan entah kenapa, ada bisikan jahat di sisi kirinya untuk membenci sosok yang menjadi cinta pertamanya selama delapan tahun ini.
"Cinta pertamamu?"
Tebak Seungjoong langsung mendapat senyuman miris dari Luhan.
"Ya, cinta pertama yang tidak berhasil!"
Kekeh Luhan. Akan tetapi Seungjoong dapat melihat ada lelehan air mata disudut pelupuk rusa tersebut. Menambah besarnya rasa ketidak sukaan Seungjoong pada sosok yang masih tertidur disana. Sosok yang menyakiti putrinya. Walau sudah lama, bagi Seungjoong siapapun yang menyakiti putrinya adalah manusia yang tidak pantas dimaafkan.
"Eomma, aku akan tidur dikamar mommy dan daddy saja malam ini. Eomma tidurlah! Aku menyayangimu!"
Luhan mengecup sayang pipi Sengjoong setelah menghapus lelehan tersebut dari wajahnya. Ia tersenyum amat manis sebelum melangkah cepat keluar kamarnya menuju kamar orang tua kandungnya yang masih tidak berniat membuka mata. Meninggalkan Seungjoong yang menatap marah pada Sehun.
"Luhan sudah pergi! Jadi, Untuk apa kau kembali lagi pada putriku?"
Tanya Seungjoong dengan suara dinginnya. Ia tahu bahwa Sehun sudah bangun sejak tadi dan mendengar semuanya. Ingat, Seungjoong adalah seorang perawat senior, dan ia tau mana pasien yang benar-benar tertidur atau yang sedang berpura-pura.
"Putrimu? Yang benar saja, dia putri dari Kim Junmyoon dan Zhang Yi Xing, perawat Kim"
Sehun berusaha mendudukkan dirinya. Menempelkan punggungnya pada headboard dan menatap dingin pada Seungjoong. Menghasilkan tatapan kebencian dari Seungjoong padanya.
"Easy nyonya! Aku tidak berniat menyakiti putrimu! Aku hanya ingin mengambil kembali cinta pertamaku!"
"Apa maksudmu berengsek?"
"Aku datang untuk melindungi Luhan dan mendapatkannya kembali! Aku mencintainya dan aku ingin mengembalikan Luhan-ku seperti Luhan yang dulu!"
"Apa?"
"Kau sudah mendengarnya dengan jelas! Aku akan mengembalikan Luhan pada dirinya yang dulu! Luhan yang ceria, hangat, dan manja! Bahkan, aku akan membuatnya kembali menjadi ballerina dunia seperti impiannya dahulu!"
"Cih! Kau gila? Setelah meninggalkannya kau pikir Luhan masih ingin mempercayaimu?"
Swungjoong menatap remeh pada Sehun yang saat ini sudah terdiam karena perkataannya.
"Anak muda sepertimu, lebih baik menjauh dan jangan kacaukan kehidupan orang lain! Pergilah belajar dan bersenang-senang sesukamu! Luhan adalah putriku, aku yang tahu bagaiman putriku!"
"Cih, kau? Aku tidak ingat Luhan memiliki ibu seprtimu! Kau memang baik dan mencintai Luhan dengan hidupmu, tapi, kau tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan Luhan dan apa yang sebenarnya tidak diinginkannya! Kau tidak tahu apa-apa tentang Luhan! Aku! Aku dan keluargaku, kamilah yang lebih tahu semua tentang Luhan dan keluarganya, karena kami, mengenalnya jauh sebelum kau mengenalnya!"
Dan dengan perkataan Sehun, berhasil membuat Seungjoong kehabisan kata-katanya. Sehun benar, ia tidak tahu apa yang sebenarnya Luhan inginkan dan tidak ia inginkan. Ia tidak tahu, apa Luhan benar-benar menyukai kehidupannya saat ini atau tidak. Ia tidak tahu apa-apa tentang hati gadis kecil yang sudah seperti hidupnya itu. Tapi,
"Dan kau pikir kau mengetahui segalanya? Kau tidak tahu apa yang dialami Luhan selama ini! Kau tidak tahu apa-apa Oh Sehun! Perhatikan kesalahanmu dahulu, baru kau bisa berfikir mengembalikan kehidupannya seperti dahulu!"
Seungjoong lebih tahu segala hal yang dialami putrinya setahun ini. Seungjoog lebih tahu penyebab Luhan berubah. Dan Seungjoong lebih tahu bahwa makhluk kecil dan hangat tersebut tidak sama lagi. Hatinya mungkin sudah terluka karena pria ini meninggalkannya, dan luka itu harus disiram dengan air garam karena keadaan orang tuanya. Hingga kini hati gadis tersebut sudah mati rasa hingga nyaris membeku karena keadaan barunya.
Sementara Seungjoong kembali menangis dan meninggalkan kamar Luhan yang sekarang ditempati Sehun, pria tersebut justru terdiam dengan wajah kakunya. Entah kenapa ia merasa bagai baru saja dihantam palu besar karena perkataan Seungjoong. Ia tidak ada disisi Luhan saat gadis itu membutuhkannya. Ia tidak ada disisi gadis itu saat membutuhkan perlindungannya. Dan itu menyakitkan. Menyadarkannya akan kebodohan dirinya sendiri.
"Oh Sehun! Kau berengsek bodoh! Oh Sehun sialan!"
Dan malam itu dilewati Sehun dengan merutuki dirinya sendiri hingga ia tertidur karena demam dan juga sakit yang ia alami.
Di sisi lain mansion mewah keluarga Kim, seorang gadis tengah menangis sambil memeluk tubuh ibunya, sementara satu tangan lainnya ia gunakan untuk menggenggam tangan sang ayah.
Hiks~
Ia menenggelamkan wajahnya di lengan sang ibu. Berusaha meredam suara sesegukannya disana.
"Kenapa dia harus kembali? Hiks, Lulu tidak ingin Sehun oppa kembali. Hiks, Lulu tidak butuh! Lulu membencinya hiks~ mommy, Lulu hanya butuh mommy dan daddy!"
Hingga akhirnya gadis tersebut tidur dengan wajah sembab dipelukan kedua orang tuanya yang masih terbaring koma di satu kasur king size tersebut.
Lulu~
Ø
Ø
Ø
Pagi ini masih seperti pagi-pagi biasanya di mansion Kim. Seorang wanita cantik tampak tengah sibuk menata menu sarapan pagi hari dengan bantuan dari beberapa pelayan mansion. Wanita itu sudah cantik dengan pakaian casual nya karena memang berniat keluar mansion hari ini.
"Morning eomma!"
Sapa seorang gadis kecil yang saat ini juga sudah lengkap dengan pakaian formalnya. Rok span yang hanya menutupi setengah pahanya dan kembang di bagian bawahnya berwarna hitam dan juga blus merah muda lembut yang ditutupi kembali oleh blazer berwarna hitam. Serta sebuah wedges lima centi sudah menutup manis kaki kecilnya.
"Astaga Lulu, apa ada rapat lagi hari ini?"
Tanya Seungjoong yang baru saja meletakkan menu terakhirnya di meja makan. Melihat putrinya sudah rapi di pagi hari membuat Seungjoong sedikit terkejut.
"Iya eomma, ada rapat penting hari ini, hah~ aku masih mengantuk!"
Rengek Luhan sambil merebahkan kepalanya dimeja makan. Wajar saja, semalam ia bekerja lalu peresmian, lalu sedikit bergadang karena Sehun. Ah, pria itu! Apa dia sudah bangun? Apa lukanya sudah membaik? Uh, tidak tidak! Bukan saatnya memikirkan Oh Sehun itu. Menyebalkan sekali!
Dengan segera Luhan mengambil gelas disisinya yang sudah diisi air mineral oleh Seungjoong. Dan Luhan menghabiskannya dengan sekali tenggak.
"Pelan-pelan gadis nakal!"
Luhan mendapat usapan lembut di kepalanya karena ulah pemilik Seungjoong. Membuat nyonya Kim tersebut terkekeh karena melihat wajah cemberut putri kecilnya.
"Appa!"
Luhan kembali merapikan rambutya. Menatap kesal sang ibu yang justru malah menertawakannya. Hingga akhirnya mereka menikmati sarapan mereka bersama dengan tenang. Tak sampai lima menit Luhan kembali teringat akan sosok yang mungkin masih tidur dikamarnya. Ia menyuruh pelayan menyiapkan sarapan Sehun diatas nampan. Mungkin saja pria itu tidak bisa turun karena sakitnya.
"Lu, adik eomma akan menginap disini beberapa hari, bolehkah?"
Seungjoong menatap ragu putri kecilnya yang kini tampak sibuk menikmati sarapannya. Mengalihkan pandangan Luhan pada sang ibu yag kini juga tengah menatapnya.
"Boleh saja eomma, aku percaya pada eomma!"
Ucap Luhan sambil tersenyum. Dan Seungjoong mengerti maksud kalimat percaya putrinya tersebut. Luhan percaya bahwa ia tidak mungkin memasukkan orang jahat kedalam rumahnya.
"Ya sayang, hanya beberapa waktu! Dia sedang bersiap mencari pekerjaan disini, dia hanya delapan tahun lebih tua darimu!"
"Iya eomma! Ah, pekerjaan? Suruh saja dia melamar di perusahaan, kami memiliki beberapa kursi kosong di bagian manager pemasaran!"
Ucap Luhan sambil mengingat kembali bahwa beberapa waktu yang lalu manager Song mengundurkan diri karena berniat membangun usahanya sendiri saat ini. Dan Luhan mendukungnya karena mantan manager pemasaran diperusahaannya tersebut beralih menjadi pemegang saham di department store nya dan membuka sebuah caffe disana.
"Benarkah? Tepat sekali, Boran memang jurusan business management promoting!"
Senang Seungjoong yang saat ini mulai memoleskan bedak tipis diwajah cantik Luhan yang memang belum di poles sama sekali sejak tadi. Seungjoong bahkan rela meninggalkan sarapannya untuk menata makeup dan rambut Luhan. Sudah menjadi kebiasaan Seungjoong mengurus hal tersebut. Karena Luhan tidak percaya orang lain untuk menyentuh rambutnya selain Seungjoong dan Hyuna yang telah menjadi pengasuhnya sejak kecil.
"Boran? Tidak seperti nama orang Korea!"
Luhan mengerjapkan matanya sambil menikmati daging kecap buatan Seungjoong dengan khitmat.
"Ya, sebenarnya dia adik tiri eomma, namanya Jin Boran! Dia sangat tampan dan juga manis! Dia juga baik dan cukup pintar! Dan tentunya dia masih fresh graduated"
Ucap Seungjoong sambil menjalin kecil rambut Luhan dibagian kiri dan kanan, untuk kemudian ia lilitkan selang seling di rambutnya yang bebas dan sedikit bergelombang. Menghasilkan ikatan indah yang seperti melilitnya. Dan Seungjoong tersenyum karena hasil pekerjaannya.
"Anak ini kenapa bisa sangat cantik!"
Kekeh Myungsoo yang sejak tadi memperhatikan kegiatan istri dan putrinya sambil menikmati sarapannya. Pemandangan biasa yang entah kenapa selalu ia rindukan apabila ia harus menghabiskan waktunya di luar kota.
"Aku memang cantik sejak lahir appa!"
Sombong Luhan yang menghasilkan tawa renyah dari Seungjoong dan cibiran main-main dari Myungsoo. Sebuah kehangatan yang selalu menghiasi keluarga kecil ini. Tanpa tahu bahwa dihati kecilnya Luhan masih merasa kosong akan keadaan ini. Walau ia bahagia, akan tetapi sebagai anak ia masih merasakan kekosongan dan kerinduan tersebut. Sebuah perasaan dimana ia menginginkan orang tua kandungnyalah yang berada disini bersamanya.
~TNCIM~
Luhan membawa nampan besi tersebut kedalam kamarnya. Ia melihat sosok tersebut masih tertidur dengan pulasnya. Ia sedikit tersenyum melihat wajah tampan itu yang ternyata tidak berubah sama sekali. Justru terlihat semakin tampan dan dewasa.
Dan tanpa sapaan dan niatan membangunkan sosok tersebut, Luhan meletakkan nampan besi itu dimeja nakas sebelah tempat tidurnya. Ia mengambil note merah jambu dan juga pena birunya. Menulis sesuatu dan meletakkan di atas nampan. Ia juga menyempatkan diri mengecek suhu tubuh pria tersebut, dan membandingkannya dengan suhu tubuhnya sendiri.
"Sudah lebih baik!"
Ia sedikit tersenyum mengetahui hal tersebut. Akan tetapi saat ia hendak bangkit sebuah tangan lebih dahulu menangkap tangan mungilnya. Dengan cepat sebuah tarikan kuat berhasil membuat tubuh mungil tersebut jatuh kedalam pelukan sosok tersebut. Membuat Luhan terpaksa terpekik kecil hingga tubuh mereka benar-benar menempel dengan tangan sang pria yang kini melingkar manis dipinggang mungil Luhan.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku!"
Luhan berusaha melepaskan dirinya dari kukungan tubuh besar Sehun. Ia juga memberontak dengan memukul-mukul kecil dada Sehun. Akan tetapi hanya pelukan yang semakin eratlah yang Luhan dapatkan.
"Hanya sebentar Lu, aku janji!"
Suara Sehun begitu lembut dan sarat akan permohonan. Membuat Luhan merasa tidak tega menolak. Hingga Luhan hanya memilih membiarkan Sehun menikmati aromanya tanpa berniat membalasnya sama sekali. Walau dalam hati gadis tersebut berteriak merutuki keegoisannya tersebut.
Sementara Sehun menikmati aroma Luhan serta kehangatan gadis kecil yang saat ini sudah berubah menjadi remaja cantik tersebut. Ia tersenyum kecil karena sepertinya gadis ini benar-benar sudah berubah. Dulu, se kasar apapun ia pada Luhan, gadis ini akan tetap tersenyum walau ia hanya ia tatap. Akan tetapi, sekarang semuanya sudah berbeda. Tidak ada lagi Luhan yang kekanakan dan lembut. Gadis ini benar-benar sudah memiliki hati yang beku. Dan Sehun sadar bahwa salah satu penyebabnya adalah dirinya sendiri.
"Aku merindukanmu Lu, maafkan aku!"
Ucap Sehun sambil menenggelamkan wajahnya dilekukan leher Luhan. Dan Luhan dapat merasakan hangat mengalir kebahunya.
"Tolong lepaskan aku tuan Oh, aku harus berangkat bekerja saat ini!"
Ucap Luhan dengan nada suaranya yang dingin dan tak bersahabat. Ia berucap seakan ia sedang berbicara dengan klien dan juga karyawannya. Dan hal tersebut tentu saja berhasil melukai perasaan Sehun. Apa sebesar itu kesalahannya hingga Luhan merubah sikap terhadapnya? Demi Tuhan, mereka berpisah awalnya memang karena kebodohan dirinya, tapi setelah itu Sehun bersumpah kalau ia tidak berniat meninggalkan Luhan selama ini. Ia juga sudah berfikir akan kembali pada Luhan pada bulan pertama perpisahan mereka, tapi ia tahu waktu belum berpihak padanya. Ia lebih suka Luhan memukulnya atau membunuhnya langsung dari pada gadis ini bersikap dingin padanya. Karena ini lebih menyiksa dari apapun.
"Luhan, kumohon dengarkan aku. Lu, aku-"
"Lu, apa sudah selesai? Kita berangkat se- apa yang kau lakukan!"
Myungsoo yang berniat memanggil Luhan di kamarnya terkejut melihat seorang pria tengah tidur diranjang putrinya dan dalam keadaan tertindih. Pria tersebut segera saja berjalan mendekat dan menarik tubuh Luhan dari Sehun. Menyebabkan gadis tersebut berdiri tegak walau nyaris tumbang apabila Myungsoo tidak segera menahan tubuh kecilnya.
"Siapa kau? Kenapa bisa masuk ke dalam kamar putriku?"
Ucap Myungsoo dengan nada suara yang dingin dan menuntut serta sedikit bentakan. Membuat Luhan meringkuk dibalik tubuh besar Myungsoo karena ini pertama kalinya Myungsoo membentak seseorang dihadapannya.
"Cih, kau yang siapa paman? Ah, apa kau suami dari bibi itu? Dengar paman, aku Oh Sehun, putra dari Kris Oh dan Zi Tao, sahabat baik dari tuan dan nyonya Kim! Dan juga, aku calon suami Luhan!"
Ucap Sehun dengan menyeringai pada Myungsoo. Entah dari mana Sehun mendapat pemikiran untuk mengatakan hal tidak masuk akal tersebut pada Myungsoo. Akan tetapi melihat pasangan suami istri ini yang begitu posesife dan menyebalkan hingga mengatur Luhan membuat Sehun muak dan tidak suka. Ia tidak suka Luhan dikendalikan oleh dua orang asing tersebut. Sehun percaya, sebaik apapun seseorang, pasti ada secuil hal busuk yang mereka sembunyikan. Dan Sehun yakin, kedua orang ini memiliki hal busuk tersebut.
"Apa? Cih, jangan asal bicara anak muda! Satu tahun aku bersama Luhan tidak pernah satu kalipun aku melihat wajahmu ataupun orang tuamu. Aku bahkan tidak pernah melihatmu di rumah sakit! Jadi jangan asal bicara anak muda! Sebaiknya kau pergi sbell"
Myungsoo menyeringai menang saat melihat Sehun yang tidak menanggapi perkataannya. Membuat pria dewasa tersebut menarik lembut lengan putrinya berjalan keluar.
"Sarapanlah dan minum obatmu, setelah itu pulanglah, Sehun oppa!"
Ucap Luhan sebelum gadis itu menghilang dibalilk pintu kayu kokoh tersebut. Meningalkan Sehun yang tersenyum miris karena lagi-lagi waktunya untuk bicara pada gadis itu harus kembali lenyap karena kehadiran orang asing.
"Maafkan aku Lu! Tapi aku berjanji akan melindungimu mulai saat ini!"
Ø
Ø
Ø
Luhan berjalan dengan anggun memasuki gedung mewah pencakar langit berlabel EXO entertainment tersebut. Saat ia memasuki lobby, para karyawan perusahaan segera membungkukkan tubuh mereka pada sang nona muda yang datang bersama sekretaris kepercayaannya di perusahaan sang ibu. Ya, Luhan memiliki dua sekretaris karena ia bekerja pada dua perusahaan berbeda. Apabila untuk Kim Corp ia memiliki Jongdae, maka disini, ia memiliki Angela sebagai orang kepercayaannya. Angela adalah kakak sepupu sekaligus orang kepercayaan ibunya. Mereka sudah bekerja sama membangun entertainment ini sejak langkah pertama. Dan Luhan bersyukur, Angela justru membantunya mempertahankan posisi sang ibu.
Kakeknya yang dulu memegang perusahaan saat ini sedang dalam kondisi tidak sehat. Sudah dua bulan ini sang kakek hanya bisa duduk dan berbaring karena diabetes yang dideritanya memperburuk daya tahan tubuhnya. Hingga Luhan yang tidak tega segera mengambil alih perusahaan sang ibu walau ia sendiri sudah cukup kewalahan dengan perusahaan ayahnya. Akan tetapi, Angela segera bertindak dan mengambil lebih dari setengah beban Luhan di perusahaan ini. Hingga Luhan hanya perlu datang keperusahaan untuk menghadiri rapat atau memang hanya untuk menandatangani proyek besar dan penting bagi perusahaan, karena bagaimanapun, nama Luhan-lah yang tertera sebagai pewaris tunggal EXO Entertainment.
"Nona muda, selamat pagi!"
Rombongan boys group baru yang kini tengah naik daun tersebut tersenyum dan membungkuk hormat pada Luhan. Walau mereka lebih tua dari pada sang gadis mereka tetap menghormati posisi Luhan sebagai direktur mereka saat ini. Dan membungkuk sopan tidak malu mereka lakuka pada sang nona muda. Walau ada juga beberapa artist tidak tahu diri yang justru hanya tersenyum sekilas seakan Luhan adalah adik kecil mereka.
"Silahkan masuk duluan nona!"
Ucap seorang pria manis yang tengah tersenyum tampan pada sosok cantik tersebut. Sementara Luhan membalasnya dengan senyuman seadanya seperti biasa. Ia memasuki lift dengan wajah datarnya lagi. Menekan tombol paling atas di gedung tersebut setelah sembilan pria tadi juga mengikutinya masuk. Dan salah satu dari mereka menekan tombol practice flour.
"Nona, anda terlihat cantik sekali pagi ini!"
Ucap seorang pria berwajah tampan seperti campuran Amerika tersebut pada Luhan. Membuat gadis tersebut hanya membalas dengan senyuman manis yang sukses membuat mereka bersembilan meleleh. Bagaimana mereka tidak jatuh hati pada gadis ini. Dia cantik, cerdas, berbakat, dan juga kaya raya. Semuanya sempurna. Hanya saja gadis ini terlalu sulit untuk didekati. Karena sifat dingin dan tidak banyak bicaranya.
Ting~
Pintu lift itu terbuka saat sampai pada tujuan kesembilan pria tersebut. Dan mereka membungkuk sekali lagi apda Luhan sambil melambaikan tangan dan senyum lebar.
"Semoga harimu menyenangkan nona! Ganbatte ne!"
Dan Luhan tersenyum melihat tingkah konyol pria-pria tersebut. Melipat tangannya didada menunggu pintu lift terbuka sambil memperhatikan kesembilannya yang masih bertingkah konyol.
"Kalian juga, berjuanglah NCT 127! penampilan kalian semakin baik!"
Ucap Luhan membuat kesembilannya terpaku tidak percaya mendengar suara halus itu memuji mereka. Hingga pintu lift tertutup dan kesembilannya masih berwajah kaget dan tidak percaya.
"Astaga, apa nona Luhan baru saja menyemangati kita? Oh Tuhan, aku tidak percaya ini! Suara halus itu! Ouh shit! Apa ini mimpi Jae?"
"Yuta bodoh! Ini sakit!"
Protes salah satu rekannya yang baru saja ia cubit.
"Bukan mimpi! Huwaaa~"
Dan kemudian pria bernama Yuta tersebut tampak berlari ke ruang latihan dengan selebrasinya.
~TNCIM~
Luhan mendengus setelah mendengar apa yang dikatakan Angela barusan. Ia tidak menyangka wanita ular itu akan berulah hingga merugikan perusahaan karena kebodohannya sendiri. Luhan tau bahwa tidak semua artis di bawah naungan ibunya benar-benar mematuhi peraturan. Tidak jarang ada yang seperti wanita ini yang dengan seenak hati melakukan ini itu tanpa tahu bahwa hal tersebut justru mampu mencoreng citra perusahaan.
"Bi, bawa Bae Irene dan teman-temannya kesini!"
Ya, Bae Irene. Seniornya dahulu yang kini bekerja menjadi artis diperusahaannya. Irene dan dua temannya berhasil lolos dalam audisi tahunan yang diadakan perusahaan, mereka hanya menjadi trainee selama empat bulan dan saat ini sudah menjadi rookie group dengan tambahan dua anggota lagi yang sudah menjadi trainee lebih lama di perusahaannya. Semua halnya banyak berubah hanya selama satu tahun ini.
"Mereka sedang dalam perjalanan kemari Lu, aku rasa mereka akan segera sampai!"
Ujar Angela yangg kini tengah menutup berkas laporannya tadi.
"Eung!"
Dan Luhan kembali mempelajari kesimpulan dan jalan keluar yang disarankan oleh Angela tadi. Ia mencoba memikirkan apakah ada cara lain untuk mengembalikan citra rookie yang saat ini tengah menjadi perbincangan hangat dikalangan pecinta musik tersebut.
"Maaf kami terlambat!"
Ucap seorang gadis yang lebih dahulu masuk keruangan direktur muda mereka tersebut sambil membungkuk hormat pada Angela dan Luhan.
"Duduklah Seulgi-ah! Mana yang lain?"
Ucap Angela pada gadis tersebut. Dan sang gadis hanya tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya.
"Mereka tidak mau masuk nona!"
Ucap Seulgi dengan sopan. Walau lembut dan sopan di luar, entah kenapa Luhan tetap tidak bisa menyukai wanita tersebut. Jangan bertanya kenapa, karena Luhan sendiri tidak tahu alasannya.
"Aku bisa mengerti kenapa Irene Wendy dan Yerin tidak mau masuk, tapi kenapa dengan Joy?"
Tanya Luhan dengan nada dinginnya. Gadis itu berjalan meningalkan mejanya. Duduk di sofa single yang diperuntunkan untuknya. Sebelum Angela juga menempati sofa panjang disisi kanan Luhan.
"Joy eunghh, dia takut bertemu denganmu!"
"Konyol! Suruh mereka semua masuk atau aku benar-benar akan melakukan hal yang buruk pada kalian!"
Luhan sedikit mengeraskan suaranya hinga sampai untuk didengar keluar ruangan. Dan dengan segera mereka memasuki ruangan Luhan dengan saling mendorong hingga akhirnya mereka jatuh bersama didepan pintu. Menghasilkan wajah terkejut Angela dan Seulgi akan tetapi tidak bagi Luhan, gadis itu justru menyeringai seakan baru saja memenangkan taruhan besarnya.
"Kalian baik-baik saja? Duduklah!"
Ucap Angela setelah ia mendapatkan kembali kesadarannya. Dan gadis-gadis tersebut merapikan dirinya dan duduk di samping Angela dan Seulgi.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengar alasan konyol kalian! Kami sudah melakukan rapat karena skandal bodoh kalian! Cih, berpesta di club malam dengan gaun mini bahkan tanpa penyamaran? Ouh, seberapa bodohnya kalian hingga merusah citra kalian sendiri!"
Luhan melemparkan dokumen kemeja dengan keras. Membuat keenam wanita tersebut memekik kecil dengan wajah menunduk.
"Kalian bodoh hah? Image kalian adalah gadis remaja, bukan wanita penggoda! Bertindaklah seakan seperti gadis remaja yang biasa kalian perlihatkan di publik! Perusahaan tidak melarang kalian berpesta seperti jalang pada umumnya, tapi pikirkan image kalian! Gaun kalian, minuman kalian dan cara kalian berpesta sungguh benar-benar! Ouh!"
Luhan memijit kecil keningnya karena menahan kesal. Jujur saja, kepalanya sudah sakit dari tadi. Ia berusaha menahannya dihadapan Angela karena tidak ingin wanita itu ikut stress karenanya. Ia tahu Angela tidak akan tega melihatnya marah.
"Maafkan kami nona muda!"
Ucap Joy dan Seulgi yang terlihat benar-benar menyesal saat ini. Sementara tiga temannya tampak menunduk dengan wajah memerah menahan amarah. Mereka mengepalkan tangannya karena emosi. Dari awal mereka tidak benar-benar berniat berada diposisi ini, akan tetapi keadaan memaksa mereka. Mereka ingin bertindak masa bodoh pada Luhan yang kini menjadi direktur, akan tetapi melihat Luhan yang bertindak mengatur membuat mereka jengah. Mau bagaimanapun mereka tetaplah seniornya disekolah.
"Jangan bertindak seakan kami ini adalah bonekamu! Kami juga manusia yang membutuhkan hiburan! Jangan hanya karena masalah kecil tersebut kau menjadi bebas memaksa kami Kim Luhan!"
Ujar Irene yang sudah jengah pada Luhan. Ia tahu semua yang dikatakan Luhan memang benar, akan tetapi gengsinya jauh lebih besar dari pada otaknya. Ia benar-benar tidak suka Luhan memperlakukannya seenaknya.
"Irene-ssi, ingatlah, kau sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan ini. Kau sudah bersumpah diatas kertas dengan tanda tanganmu akan menuruti rule dari perusahaan ini sampai kontrakmu berakhir. Jadi aku bebas mengaturmu dan teman-temanmu! Irene-ssi, perusahaanku berniat mencetak idola bukan jalang!"
Ujar Luhan sambil menatap dingin Irene, yang tentu saja dibaas dengan sama dinginnya oleh wanita tersebut. Dan Luhan tidak lagi menerima sanggahan dari Irene. Membuat gadis tersebut tersenyum miring sambil bergerak menyandarkan tubuhnya pada sandara sofa.
"Aku sudah menutupi skandal kalian dengan comebacknya senior kalian, hingga kini natizen fokus pada mereka. Akan tetapi, kalian harus menerima sanksi dari perusahaan. Mulai sekarang kegiatan kalian akan dipantau 24 jam oleh manager kalian yang saat ini bertambah menjadi tiga orang. Dan lagi, kalian tidak bisa melakukan kegiatan apapun selama satu bulan kedepan. Kecuali berlatih dan membuat lagu. Dan untuk comeback stage kalian, aku undur menjadi musim panas mendatang, bersiaplah!"
Dan keputusan akhir Luhan meleset jauh dari saran yang disampaikan Angela dan beberapa pemegang saham lainnya. Hingga setelah gadis-gadis tersebut pergi barulah Angela menatap Luhan dengan kesal.
"Kau terlalu memperlakukan mereka dengan baik Lu! Tiga manager? Heol, mereka hanya berlima dan kau menambah satu lagi, itu keuntungan untuk mereka! Dan apa itu, kenapa hanya satu bulan? Kita sepakat kalau mereka akan dihukum tidak tampil hingga jadwal comeback stage mereka di musim panas mendatang!"
"Hah, sudahlah bi! Kita tidak boleh terlalu keras pada mereka. Bagaimanapun mereka sudah cukup banyak mencetak uang untuk perusahaan dalam beberapa bulan ini. Dan lagi, kalau kita menghukum mereka terlalu lama, itu hanya akan buang-buang waktu. Lebih baik persiapkan comeback mereka saat ini dengan lebih matang. Block semua berita yang masih tersisa dan report semua video yang tersebar."
"Dasar anak ini!"
Dan Angela hanya dapat tersenyum pasrah menghadapi gadis didepannya. Bagaimanapun apa yang dikatakan Luhan ada benarnya juga. Ah, kapan gadis ini bicara hal yang salah? Kekeh Angela dalam hatinya.
"Istirahatlah, sebentar lagi kita ada pertemuan dengan crew penyedia jasa untuk konser. Konser seonyosidae sudah dekat."
"Eung!"
Luhanpun berdiri untuk berpindah ke sofa panjang di sisinya. Membaringkan tubuhnya hingga ia tertidur di atas sofa karena kelelehan. Membuat Angela menatap iba sosok mungil tersebut. Tangannya terulur mengusap sayang rambut halus Luhan. Ia tersenyum sedih melihat gadis kecil yang seharusnya bersenang-senang dengan teman-teman seusianya justru terjebak dalam keadaan yang mengakibatkan dirinya terlihat jauh lebih dewasa dari usianya. Bukan dari segi wajah, akan tetap dari segi sifat dan pola pikirnya. Ditambah lagi ia memimpin perusahan tempat ratusan orang bergantung padanya.. membawa beban tersendiri bagi tubuh mugil tersebut.
"Bibi menyayangimu sayang, sangat menyayangimu!"
Ujar Angela sambil mengecup lembut kening Luhan.
Ø
Ø
Ø
Minggu kedua setelah Sehun datang ke mansionnya waktu itu. Akan tetapi, pria tersebut menghilang lagi entah kemana. Membuat Luhan merasa kesal dan direndahkan oleh pria tersebut. Seenaknya datang dan menghilang sesuka hati. Membuat Luhan jengah dan semakin membenci sosok Oh Sehun.
Sementara itu, hari-hari Luhan ditemani oleh teman barunya bernama Jin Boran. Seorang pria tampan asal Tiongkok, yang merupakan adik tiri dari Seungjoong. Setelah melewati berbagai macam tes dan dan wawancara, Boran lulus diterima menjadi manager marketing diperusahaan Luhan. Dan itu membuat sosok Boran dan Luhan semakin dekat dari hari kehari, terutama karena mereka tinggal di satu atap. Pergi bersama dan pulang bersama.
"Luhan-ah, ayo makan siang!"
Boran yang baru saja memasuki ruangan Luhan langsung disambut senyuman manis gadis tersebut. Walau tidak banyak bicara, Luhan cukup sering tersenyum pada Boran. Bahkan dengan gerak-geriknya semua orang tahu bahwa Luhan tidak menolak keberadaan Boran, justru sebaliknya. Gadis tersebut terlihat senang saat bersama Boran.
Dan saat Luhan sudah berjalan kearahnya barulah Boran sedikit mengusak rambut tersebut.
"Jangan berwajah datar terus, wajahmu bisa kaku!"
Kekeh Boran melihat ekspressi datar Luhan. Dan sambil mereka berjalan kekantin, Boran terus saja menggoda gadis tersebut. Walau hanya dibalas beberapa kata atau senyuman saja, Boran juga tetap tidak menyerah membuat gadis tersebut tersenyum. Karena menurutnya, senyuman Luhan sangat cantik dan indah.
Baru saja Luhan menikmati setengah dari makan siangnya, akan tetapi kegiatannya harus terhenti karena telfon dari sekretaris barunya yang memberi tahu bahawa ada seseorang yang datang ke kantornya. Dan mengakibatkan Luhan harus segera kembali. Bagaimanapun ia memang memiliki janji dengan salah satu calon pemegang saham yang berniat menjadi penyuntik dana bagi resort yang sedang dibangunnya beberapa waktu lalu. Resort yang direncakan ayahnya, akan tetapi belum rampung karna perginya beberapa pemegang saham.
Cklekk~
"Saya mohon maaf untuk keterlambatan saya tuan, sayang janji hal ini tidak-"
Dan perkataan Luhan terhenti saat melihat siapa yang tengah duduk dihadapanna. Membuat Luhan berkali-kali mengerjapkan matanya karena tidak percaya.
"Anda..."
T B C
Lagi mager editing. Maafkeun typo sayang sayanggg.. jangan lupa Review yaaaa~ dan yang bilang Jeongkook peran ganda, gak kok, Jeon Jongkook (BTS) itu temen sekolah Luhan, terus Kim Jongkook (Running Man) itu kepala bodyguard Luhannn~ :*
