Ada yang ngikutin drama Siwon 'She was Pretty'? ya ampuun. Oh my god. I can't describe what i feel. Di situ, dia jadi anak yang punya perusahaan, tapi pura-pura gembel, ngingetin ff sebelah yang belum rampung. Nah, tingkah dia rada nyebelin juga, mirip ama yang di sini. saya baper jadinya.

.

.

Title : Desir

Chap : 7

Genre : Yaoi, Drama, Smooth kecut

Rate : M

Length : ± 2500 words

.

Asumsikan Kibum yang ada di sini adalah waktu jaman sorry sorry. Jaman dia masih kurus dengan rambut (bukan tembolok) yang ikal.

.

바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락

.

.

Mual memaksa Kibum membuka mata. Ia buru-buru turun dari ranjang, mengitari ruangan untuk mencari toilet lalu berlari ke pintu terbuka di pojok ruangan. Mengabaikan bahwa kamar ini terlalu asing baginya, ia langsung berjongkok di depan closet lalu mengeluarkan isi perut yang sudah sampai kerongkongan.

"Huek, uhuk uhuk uhuk"

"Kibum ssi, kau tidak apa-apa?"

Kibum melirik orang yang berdiri di sebelahnya, Cho Kyuhyun, Presiden Direkturnya, atasannya. Kenapa bisa ia bertemu dalam keadaan seperti ini. Mata Kibum mengitari ruangan, benar-benar tidak paham ini di mana. Sial, semakin mual perutnya membayangkan apa yang telah terjadi.

"Hei, kau tidak apa-apa?"

Kibum tidak sanggup menjawab pertanyaan yang dibarengi dengan pijatan kecil di leher. Ya ampun, istilah 'tidak apa-apa' sangat jauh dari kondisinya sekarang. Mual, pusing, berantakan, beraroma alkohol.

Desahan napas terdengar "Sebaiknya kau mandi dengan air hangat, nanti menyusul ke ruang makan"

Kibum mengangguk pelan sambil melirik cermin besar di dinding. Ia berjongkok di depan closet, muntah-muntah dengan seorang pria ada di belakangnya. Mirip seorang perempuan hamil muda sedang ngidam. Tragis.

Kyuhyun keluar dari kamar mandi lalu menutup pintu meninggalkan Kibum yang sedang berusaha keras mengingat kejadian semalam. Hasilnya? Nihil. Kibum tidak ingat apapun.

"Baju gantimu kutaruh di atas ranjang" suara Kyuhyun terdengar di luar.

Sial, Kibum menjawab dalam batin.

바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락

.

Alunan musik Song Kwangsik berjudul Dream menyambut telinga Kibum begitu keluar dari kamar. Apartemen ini termasuk sederhana untuk ukuran seorang Presdir. Hampir selevel dengan milik Kibum kira-kira. Bedanya, lebih banyak peralatan elektronik mahal yang terlihat berjejer, home theater yang masih kinclong, misal.

Cho Kyuhyun terlihat sedang menata meja makan. Sebenarnya Kibum ingin menyusup keluar seperti maling selesai operasi, tapi berhubung masih ingat bahwa yang dihadapi adalah boss nya yang besok sudah pasti ditemui, ia urungkan niat.

"Duduk, makan dulu"

Kibum merapikan kaos dan jaket (pinjaman) nya. Syukur ukuran tubuh boss nya ini hampir sama dengannya. Ia lalu menarik kursi, duduk patuh dengan posisi tegak lurus. Menatap meja makan kecil itu hampir sesak oleh mangkuk bubur, sup, lauk kimchi, ditambah berbagai macam botol kecil.

"Jika tidak bisa minum, tidak seharusnya kau mencoba semua isi botol" Kyuhyun menaruh mangkuk sup di depan Kibum, kemudian duduk.

Kibum hampir protes. Ingin mengatakan bahwa dulu, sebelum negara api menyerang ladang gandum –bukan. Dulu memang ia tidak kuat minum, tapi waktu stress berat diputuskan itu, setiap hari yang masuk perutnya hanya alkohol, ia baik-baik saja, berharap mabuk, atau hilang ingatan sekalian tapi masih tetap sadar sepenuhnya. Siapa sangka itu hanya sementara. Berharap mabuk malah terus sadar, dikira kebal mabuk, malah teler. Yah, kadang Tuhan memang suka bercanda.

"Dimakan Kibum ssi, dipandangi begitu tidak akan membuatmu lebih baik" Kyuhyun membuka satu persatu botol di hadapannya, mengeluarkan kapsul-kapsul lalu menaruhnya di atas piring kecil "sebaiknya kau minum vitamin ini juga"

Kibum memandang ngeri 4 kapsul yang tergeletak di depannya. Vitamin atau aphetamin(1)? Perasaan Kibum hanya mabuk, bukan sakit mental "Anu... Presdir..." ia hampir mengucap sesuatu namun urung.

"Apa?"

Kibum meraih gelas, membasahi tenggorokanya yang kering seperti hutan jati musim kemarau. "Terima kasih sudah membawaku ke sini, Presdir"

"Terpaksa kok"

JLEB

"Sialan" lirih Kibum menggenggam sendok sampai hampir bengkok. Sarkastik sekali. Ucapan Presdir ini tidak baik untuk kesehatan telinga, jantung, hati dan otak yang mendengarnya.

"Aku tidak menemukan card key di tasmu, apalagi mengerti kode pintu apartemenmu. Ya akhirnya kubawa kau ke sini"

Syukurlah, syukurlah. Jika mungkin, Kibum ingin rasanya sujud syukur.

"Semalam..." mati-matian Kibum menelan ludah, berniat bicara "tidak ada yang terjadi_ kan?" Kibum tidak berani menatap mata presdir nya ini.

Kyuhyun menatap Kibum seperti sedang memancarkan sinar X, membaca isi otaknya. Kemudian ia menyendok isi mangkuknya sendiri "Menurutmu?"

Pertanyaan sederhana sebenarnya, diajukan dengan nada santai. Begi...tu santai. Hingga Kibum tidak tahu harus menjawab apa. Ya ampun, kubur saja aku jika sampai terjadi hal-hal aneh lagi, Kibum berdoa.

"Kau benar-benar tidak ingat?" mata Kyuhyun terus mengintimidasi Kibum.

Kibum pernah dengar berita orang mati karena tersedak. Sumpah, ia tidak ingin bernasib sama. Kaget mendengar kenyataan, kemudian tersedak.

"Tidak tahu kondisimu bagaimana?" tanya Kyuhyun, Kibum memandangnya bingung "Mabuk, berantakan, bau alkohol, entah itu gin whiskey atau vodka, tidak jelas. Kau pikir akan ada yang mau menyentuhmu?"

JLEB

'Ada kok, Choi Siwon' hampir saja Kibum mengatakan itu. Untungnya ia sudah tidak mabuk, tidak akan bicara sembarangan.

"Gara-gara ada orang mabuk terus mengigau tidak jelas di kamar, aku jadi tidak bisa tidur. Akhirnya malah menyelesaikan pekerjaan di kamar sebelah"

Mendengar ucapan Kyuhyun, entah kenapa Kibum jadi teringat caranya berbicara. Sarkastik? Iya semacam itu lah. Jangan-jangan... cocok? Duh jangan sampai. Membantu mengusir firasat negatif, ia mulai menyuap isi mangkuknya. Rasanya lumayan untuk ukuran bujangan.

Teringat sesuatu, Kibum mengedarkan pandangan. Menemukan tas dan blazer nya tergeletak di atas sofa, ia menghabiskan makananya lalu langsung beralih ke sofa. Ia rogoh saku blazer dan... benar. 16 panggilan tidak terjawab, 5 pesan dan beberapa notifikasi media sosial. Semua panggilan dan pesan berasal dari satu kontak, Choi Siwon yang menanyakan keberadaannya. Ada apa kira-kira? Sebelumnya memang ia tidak punya janji dengannya.

"Anu, Presdir Cho" Kibum menghampiri meja makan lagi "terima kasih atas sarapan dan bajunya, akan kukembalikan jika sudah kucuci. Maaf telah merepotkanmu semalam, saya permisi dulu" ia menggumpal baju-bajunya, membungkuk lalu beranjak.

"Kibum ssi" panggil Kyuhyun.

Oh, iya. Aku belum cuci piring setelah makan. Kibum berbalik badan, merapikan mangkuk dan gelas yang tadi digunakan, tapi gerakannya diinterupsi tangan Kyuhyun.

"Sudah biarkan saja, biar aku sekalian nanti" Kyuhyun menyingkirkan tangan Kibum dari meja makan "ada yang ingin kutanyakan"

"Ya?"

"Kau... dekat dengan Siwon hyung?"

Mata Kibum menerawang memandang langit-langit ruang makan. "Tidak juga" Dekat? Memang kriteria dekat seperti apa?

"Aku mendengarmu memanggil namanya semalam"

Serius? Memanggil namanya? Dalam rangka apa? Apa semalam aku mimpi basah dengannya? Kibum mengingat dalemannya yang sudah ia rapikan di pojokan, tidak basah kok.

Kibum melirik Kyuhyun yang terus menatapnya "Aaah itu? Oh yang itu ya? Emmm... mungkin karena saya sedang sangat kesal padanya. Hahahaha...iya, begitu"

"Begitu? Berarti kau juga kesal padaku? Semalam namaku kau sebut juga"

Kibum terkesiap. Tercengang. Entah harus bagaimana lagi menggambarkan situasi ini. "Permisi" Ia buru-buru membungkuk lalu keluar.

"Tapi... ia tidak mungkin mencium orang yang dibencinya kan?" gumam Kyuhyun ditinggal sendiri dengan musik Last Carnival mengalun.

바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락

.

Setelah akhirnya kembali ke Oxygen untuk mengambil mobilnya yang ditinggalkan, Kibum menaruh ponsel pada sandaran di atas dashboard. Ia menekan salah satu kontak sebelum keluar dari tempat parkir. Kontak Siwon.

Tidak dijawab. Hingga panggilan ketiga pun panggilannya tidak dijawab. Okay, bukannya khawatir atau bagaimana, ia hanya... penasaran. Sebenarnya ada apa semalam Siwon menelponnya lalu sekarang malah tidak bisa ditelpon balik.

.

.

"Siwon ge, dari tadi ponselmu berdering"

Siwon menarik bangku lalu duduk. Sambil menghisap rokok, ia mengecek ponsel. Nama Kibum yang muncul di semua panggilan tak terjawab.

"Tadi aku tidak mengangkatnya"

Siwon tidak menjawab, malah meremas puntung rokoknya ke asbak kemudian menghabiskan espresso dalam gelas "Luhan ah, terima kasih untuk kopinya" ia bangkit dari bangku "aku harus pergi"

"Gege, tidak ingin mengubah keputusan?"

Siwon berbalik badan, menatap wajah sosok cantik di depannya "Justru keputusanku sudah berubah kan? Lain kali aku yang akan mentraktirmu"

Sambil berjalan ke tempat parkir, Siwon menekan kontak Kibum. Tidak lama hingga terdengar nada telpon diterima.

"Kibum ah, kau di mana?"

"Aku di jalan. Kau yang di mana? Dari tadi kutelpon tidak diangkat"

Siwon tertawa ketika menekan remote mobilnya "Sorry. Mau makan siang? Kutraktir makan seafood"

"Call. Bertemu di sana saja ya" Kemudian telpon diputus.

Entah kenapa, setiap mendengar suara Kibum, Siwon selalu tersenyum.

.

.

"Aku ingin makan yang pedas-pedas" kata pertama Kibum waktu menghampiri meja Siwon yang sedang bicara dengan pelayan restoran. Kepalanya masih agak berat, pasca kejadian semalam.

"Jangan-jangan kau ngidam? Kau hamil?" tanya Siwon begitu pelayan pergi.

Sambil menarik bantal duduk, mata Kibum memutar kesal "Siwon ah, please..."

"Aku serius. Siapa tahu kan kau hamil. Aku tidak pernah pakai pengaman" ucap Siwon agak berbisik. Bagaimanapun juga, ini restoran keluarga

"Kau pikir aku hermaprodite(2)? Punyaku asli, kau pasti bisa memastikan itu saat memegangnya"

"Aku tahu. Aku bukanya meragukanmu, tapi apa saja bisa terjadi di dunia ini"

"So? Kau mau aku bagaimana? Periksa ke dokter kandungan?"

"Sudah ditemukan teknologi bernama test pack Kibum ah. Sudah lama sebenarnya" Siwon semakin nonsense, membuat Kibum ingin menghantamkan kepalanya sendiri ke meja "eh semalam kau ke mana? Sulit sekali ditepon, aku ke tempatmu pun sepi"

Kibum menatap Siwon, teringat bahwa dia tidak lagi merahasiakan kode pintu padanya "Aku meeting, kemudian bertemu... teman" Kibum menunduk, pura-pura mengecek ponsel. Bohong, padahal ibunya selalu mewanti-wanti bahwa bohong itu tidak baik, dan Kibum bukan orang yang gampang bohong. Tapi dalam kasus ini, ia sendiri tidak mengerti kenapa harus bohong pada Siwon.

Kibum berjengit, ketika tanpa ijin, tangan Siwon meraih dagu Kibum hingga terangkat, lalu menatapnya "Kau habis minum?"

Mereka bertatapan. Siwon bisa melihat bayangan diri di retina mata Kibum yang sayu hampir merah. Dan Kibum? Ia memilih mengalihkan pandangan begitu bisa menangkap refleksi diri di mata bening Siwon.

Hanya pelayan restoran yang menginterupsi mereka.

.

.

"See? Aku hanya ingin makan pedas, pencernaanku bermasalah akhir-akhir ini" ucap Kibum sambil mengisi lagi gelasnya. Gelas air mineral kedua, setelah menghabiskan semangkuk sup seafood.

"Are you okay?"

"Choi Siwon, please" mata Kibum berputar lagi "Aku hanya kurang serat"

"Apa sebaiknya kita mulai menggunakan pengaman? Maksudku, aku" raut wajah Siwon berubah serius.

"Terserah kau juga sih" Kibum mengisi lagi gelas kosongnya.

"Aku hanya berpikir tentang_"

"I used it"

"Hm?"

"Pertama dan terakhir kali melakukanya dengan Hankyung, dia pakai pengaman"

"Jadi karena itu?"

"Bukan, bukan. Ini hanya karena... entah karena tanpa pengaman, atau teknikmu, atau karena milikmu..."

Siwon tersenyum lebar, bangga.

"I'm enjoy without it more"

"Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu"

Kibum melirik Siwon. Sungguh, tidak suka raut wajah serius itu. Tidak cocok dengannya.

.

바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락

.

Pagi yang sibuk di kantor Blame.

Mata Kibum menyipit, sambil tubuhnya terus condong ke layar komputer. Jaejoong di sebelahnya sudah mendesah, melipat tangan di dada entah sudah berapa lama.

"Kita hari ini harus sudah beres" Jaejoong metenteng, hampir mirip ibu kos nagih uang bulanan. Hampir.

Kibum mengangguk, memijat hidung mancungnya kemudian berfokus pada layar lagi. Berusaha mengamati design njlimet tanpa kacamata minus nya. Sayangnya gagal.

"Typo itu" jari Jaejoong menunjuk-nunjuk layar PC Kibum. Walau lebih mirip dengan mendorong, supaya jatuh. Buktinya hampir terjengkang ke belakang layar flat itu, untung Kibum buru-buru menahannya "makanya, punya barang jangan sembrono. Sampai hilang tidak sadar begitu"

"Tuan Jaejoong, bisa tinggalkan meja saya sebentar? Laporannya akan segera saya selesaikan sejam lagi. Anda di sini hanya merecoki" Kibum tersenyum sok manis pada Jaejoong.

"Sejam loh ya" kemudian Jaejonng keluar ruangan. Meninggalkan Kibum yang berkaca-kaca, karena matanya perih sih, bukan karena sedih.

"Tahu lah, yang mendadak mau jadi model. Antusias sekali dia" gumam Kibum memijat matanya sendiri. Iya tidak mungkin mata Jaejoong yang dipijat "barang siapa menemukan kacamataku, akan kuberi ia hadiah" gumamnya kesal.

"Kacamatamu hilang?"

Kibum berhenti memijat mata, ia mendongak melihat Siwon di depannya "Iya. Dan aku baru sadar waktu meeting bersama team tadi. Apa mungkin kau tahu?"

"Tahu sih" Siwon mengangguk "mau beri aku hadiah apa?"

"Serius kau tahu? Mana? Sini kembalikan padaku"

"Ayo ikut aku ke optik"

"Optik? Sudah kau jual? Itu aku design sendiri, Choi Siwon" jika bisa, Kibum ingin menggigit hidung Siwon saking geregetanya.

"Ini kan jam makan siang, kita ke optik, pesan baru lagi" santai Siwon menjawab sambil cengengesan.

"Kupikir betulan" Kibum menghela napas antara lega tapi belum lega juga. Jadi maunya apa dia sebenarnya?

Siwon menyender di meja Kibum, tidak peduli dilirik sinis yang punya meja "Jadi apa hadiahku? Seminggu menginap di rumah Kim Kibum? Atau perlu kubooking hotel?"

"Jangan bicara aneh-aneh. Seminggu apa? Lusa kan team sudah berangkat ke Bali"

"Oh" Ada jeda sejenak sebelum Siwon menjawab pertanyaan Kibum "Ya sudah, kita makan siang, sekalian ke optik, tidak mungkin kau mengurus ini tanpanya"

"Tapi laporanku perlu direvisi ini sejam lagi diserahkan ke Jaejoong"

Siwon menghela napas, lalu tanpa ijin menarik tangan Kibum untuk bangkit dari kursi "Bagaimana mau menulis laporan? Menatap layar pun tidak bisa. Ayo"

Kibum berpegangan pada mejanya "No. Jaejoong bisa ngamuk"

"Ah, mungkin jika yang kupegang bagian lain, baru kau bisa menurut?" tangan Siwon sudah mulai naik ke bahu, menuju leher Kibum.

Kibum menatap Siwon horror, ia melihat sekeliling yang jelas masih ramai karyawan lain "OKAY!" baru ia bangkit sambil melepaskan tangan Siwon kemudian jalan buru-buru menuju lift.

"Nah begitu" Siwon menjejeri langkah Kibum "besok kan tanggal merah, berhubung kau akan pergi lama, bagaimana jika hari ini aku menginap di rumahmu?" bisik Siwon tepat di telinga Kibum.

Bukannya merinding dibisiki begitu, Kibum malah tertawa terbahak di depan pintu lift "Kupikir kau ingin mengatakan apa" tangannya tanpa etika mendarat di pipi Siwon, menepuk-nepuk sadis.

Siwon tidak tinggal diam, ia menarik tangan Kibum berniat untuk...

TING

Kyuhyun muncul di depan mereka ketika pintu lift terbuka. Tepat di saat Siwon akan menggigit jari Kibum.

Kibum buru-buru menarik tanganya, lalu membungkuk "Oh, Presdir"

"Manager Choi, Kim Kibum ssi" Kyuhyun keluar dari lift "kebetulan bertemu di sini, tadi aku ingin menyerahkan ini padamu" ia menyerahkan sebuah kotak pada Kibum.

Kibum mengernyitkan kening, tidak familiar pada kotak itu. Tapi ekspresinya langsung berubah begitu membukanya "Kacamataku! Kupikir hilang betulan"

"Kau benar-benar tidak ingat yang terjadi waktu itu?" tanya Kyuhyun.

Siwon melirik Kibum.

"Jika ingat, saya tidak akan kehilangan ini. Di mana Presdir menemukannya?" Kibum menjawab begitu sumringah.

"Tertinggal di mobilku. Jatuh mungkin"

"Terima kasih Presdir, terima kasih" Kibum menunduk berkali-kali, bahkan ketika Kyuhyun sudah beranjak.

"Aigoo, beruntung sekali kau" gantian tangan Siwon yang mendarat di pipi Kibum. Tapi mencubitnya.

"Iya dong" Kibum menepis tangan Siwon lalu memakai kacamatanya untuk memandangi wadah kacamatanya yang baru "berhubung sudah ketemu, jadi tidak usah ke optik. Aku akan menyelesaikan laporan saja. Tapi kau tetap boleh kok, datang ke tempatku" tersenyum lebar, ia meninggalkan Siwon di depan lift.

"Minum dengan teman?" Siwon tersenyum. Entah apa arti senyuman itu.

.

바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락바스락

.

Jika boleh menyesal, Kibum akan menyesal amat sangat, tapi ia benci menyesal. Jadi, walaupun sekarang nyaris menangis, tidak ada yang perlu disesali. Iya tidak ada yang perlu disesali walau Siwon terus menggempurnya dari belakang. Keras, dalam, kuat.

Kaki Kibum gemetar, tidak lagi sanggup menopang. Desahan sudah berubah menjadi erangan, dan beberapa kali jeritan tapi Siwon masih tidak melambatkan ritme gerak pinggulnya.

"Lihat cermin" bisik Siwon di telinga Kibum.

Kibum menoleh ke kanan, tempat cermin menggantung di dinding kamarnya. Terlihat jelas bagaimana tubuh polosnya didekap tubuh berotot Siwon dari belakang, berbalur keringat saling berkejaran dengan birahi. Tidak pernah ia melihat sesuatu yang lebih erotis dari ini sebelumnya, bahkan di video sex manapun.

Menolehkan kepala ke belakang, Kibum berusaha meraih bibir Siwon. Namun usahanya gagal karena Siwon mengelak.

"Siwon ah, aku_" ucapan Kibum dibarengi dengan rectum nya yang menyempit dan berkedut hebat. Sudah hampir mencapai puncak.

Tanpa aba-aba, Siwon melepaskan diri dari Kibum. Menarik tubuh itu ke atas ranjang, ia menyatukan lagi tubuhnya yang sudah licin keringat dari depan, sekali sentak hingga Kibum menjerit kering.

"Siwonh, aku hampir_" tangan Kibum meraih miliknya, berusaha mengeluarkan apa yang sudah di ujung.

Namun Siwon meraih kedua tangan Kibum, menyatukannya di atas kepala hingga si empunya belingsatan tidak terima.

"Lepash Siwon ah! Lepas!" Kibum berontak, namun tidak digubris.

"Bagaimana jika kita biarkan keluar dengan sendirinya?"

Kibum tidak pernah melihat tatapan Siwon begitu dingin seperti sekarang. Sembari terus menyentak keras, Siwon mencium bibir Kibum yang sudah begitu merah, menyesap lalu menggigitnya tanpa ampun. Tidak peduli Kibum terus berusaha mengelak.

Satu hentakan dalam. Rectum Kibum basah. Tubuh Kibum meregang, napas tersengal, kesadaran di awang. Sperma tercecer di atas perutnya. Klimaks.

Perlahan, wajah Siwon nampak jelas di hadapannya.

"Ingatkan aku untuk tidak lagi mempersilakan kau masuk rumahku" Kibum kesal setengah mati.

.

.

TBC

Glossary :

Amphetamine : obat golongan stimulansia (dengan resep dokter) biasanya digunakan untuk mengobati gangguan hiperaktif pada pasien dewasa dan anak-anak.

Hermaprodite : makhluk berkelamin ganda.

Andrea Hirata : di seri Laskar Pelangi, ibu Ikal nyebut ada 44 versi penyakit gila.

.

.

Maap bagi yang ngarep banget Kibum bisa iya-iya ama Kyuhyun, di sini gak kejadian. Kyuhyun anak baik-baik sih –bercanda sih. Seenggaknya belum (mungkin). Gantinya adegan terakhir itu lah, yang ketik tanpa edit.

Oh iya, Ricky roman itu artis gay blue film dari US, dia punya pacar namanya Levi Michael makanya foto dia begonoh. Ketauan kan, tulisanku bisa begini mesum, kan referensi nya dari sono. Jangan cari lebih jauh ding ya, entar susah mau move on.

One thing, please banget jangan tagih saya untuk ff sebelah yang belum beres di sini. Agak gimana gitu, kalo kasih komen gak pada tempatnya. I'm still on it. Udah gitu aja.